Disclaimer: seluruh karakter dalam fanfic ini adalah milik Yamaha dan rekan-rekannya. Fic ini terinspirasi dari fanfic Cardcaptor Sakura: Wild Things dan Queen of the Wolves dari Little Wolf LOVER.


Sudah seminggu berlalu dari kejadian luar biasa yang dialami oleh tokoh utama kita ini. Semuanya akhirnya berjalan seperti hari-hari biasa yang membosankan, seperti hari-harinya sebelum adanya Len dan kawan-kawan. Kini, dengan mengenakan seragam sekolahnya dan juga rambut yang tertata rapi dengan empat jepit rambut menahan poninya dan pita putih besar diatas kepala (tidak seperti seminggu yang lalu, rambutnya acak-acakkan dan poninya menutupi hampir seluruh wajahnya hingga dia tidak bisa melihat ke depan dengan jelas.) dan juga tas yang siap untuk dibawa, dia bersiap untuk pergi ke sekolahnya.

Seharusnya begitu...

"Rin, untuk terakhir kali. Bisakah kau mematikan ponselmu dan sarapan dengan tenang? Atau aku yang harus mematikannya untukmu?"

Rin melihat ke depan, ibu tirinya melihatnya dengan tatapan berang dan dia memegang sendok sup dengan erat. Tidak diragukan lagi sendok sup itu akan melayang ke kepalanya jika dia tidak menurut. Rin segera mematikan ponselnya dan menunduk.

"Maafkan aku."

Haku menghembuskan nafas sebal, lalu kembali menyiapkan supnya yang seharusnya selesai sepuluh menit yang lalu. Dia tidak bisa mengerti dengan sikap anak tirinya ini. Sejak menghilang seminggu lalu, Rin selalu melamun dan terus menerus menatap layar ponselnya dengan tatapan sendu. Jika suaminya mengetahui apa yang terjadi pada anak kesayangannya, dia pasti akan dapat masalah besar.

Selain itu, Tei dan Mayu juga melihat Rin dengan khawatir. Apa yang menyebabkan adik bungsu mereka menjadi murung begini? Tei yang paling dekat dengan Rin mengelus kepala adik kecilnya dan bertanya dengan nada selembut mungkin.

"Ada apa Bunny-chan? Akhir-akhir ini kau kelihatan murung sekali. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Rin melihat kakaknya, sebelum akhirnya menutup mata dan menghembuskan nafas pelan. "Tidak ada apa-apa Tei-neechan. Hanya saja..." Dia tidak ingin membahas ini, terutama dengan kedua kakak tirinya, tapi jika tidak mengatakannya pada seseorang, dia mungkin akan menjadi gila karena khawatir. "Temanku tidak menghubungiku sejak aku kembali ke rumah."

"Ya tuhan. Apa kau hamil Rin-chan?!" seru Mayu dengan wajah horor. Tubuh Tei membeku mendengar kata-kata Mayu. Seketika wajahnya menggelap dan segera menggenggam erat pisau selai yang ada diatas meja. "Akan kubunuh orang itu!"

Lihat? Inilah sebabnya Rin tidak ingin membicarakan ini dengan kedua kakaknya. Mungkin mereka akan membuat semua cowok dan cewek yang dekat dengannya menjauhinya lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Mayu-neechan, Tei-neechan, kalian salah paham."

Rin memijit keningnya. Kenapa dia tidak bisa memiliki kakak-kakak yang biasa saja? Bukan yang overprotective dan psikopat? Hik, bahkan kakak-kakak tiri yang kejam di dalam dongeng Cinderella mungkin lebih baik dari ini.

"Aku tidak hamil. Aku bahkan belum pernah melakukan itu!" wajah Rin memerah saat mengucapkan kata 'itu'. Kenapa wajah Len malah terbayang olehnya? "Aku hanya kecewa karena mereka tidak menelponku, itu saja."

"oh." Gumam mereka berdua dan Tei kembali menaruh pisau yang tadi digenggamnya di atas meja. Tepat sebelum ibu mereka datang dan membawakan tiga mangkuk sup hangat.

"Uh, sebaiknya kita habiskan sarapan kita dan pergi." Ucap mayu dengan canggung.

o0oo0o0oo0o

Ada yang aneh dengan kelasnya hari ini.

Rin melihat semua siswa siswi kelasnya yang saling berkumpul dan mengobrol. Bukan hal yang tak biasa melihat mereka menggosip satu sama lain, yang membedakan adalah wajah ketakutan yang terpasang diwajah mereka. Bahkan aura tak menyenangkan juga bisa dirasakan dengan jelas di kelas ini.

Apa yang membuat mereka sangat takut? Apa bakal ada ulangan dadakan nanti? Gawat. Aku belum belajar!

Untuk memastikan kekhawatirannya, dia memanggil sahabat baiknya yang sepertinya terpaku pada ponsel miliknya.

"Hei, hei, Neru. Apa nanti ada ulangan?"

Gadis berambut panjang itu melihat ke arahnya dan Rin sedikit terkejut melihat Neru. Matanya bengkak dan memerah, pipinya bengkak di kedua sisi, dan dia kelihatan letih dan mengantuk. Bukannya Neru tidak pernah mengantuk, justru sebaliknya dia selalu mengantuk di kelas. Tapi ini pertama kalinya dia melihat Neru seperti ini.

"Setahuku tidak." Jawabnya dengan suara serak dan hampir tak terdengar.

"Kau kenapa, Neru?" tanya Rin, melupakan apa yang ditakutkannya beberapa detik lalu. Tangannya menyentuh pipi Neru tapi Neru segera menepisnya dan menoleh ke arah lain.

"Tidak ada. Hei, Momo menuju kesini."

Rin melihat dan benar saja, gadis pinkette itu menuju ke kursi mereka. Ekspresinya juga sama dengan teman-teman sekelasnya, ekspresi ketakutan yang tidak bisa dijelaskan.

"kalian sudah tau? Dua siswa dari kelas E akan pindah ke kelas kita." Sahutnya tepat setelah dia sampai.

"Ke, kelas E? Kelas anak-anak nakal yang ada dibelakang sekolah itu?" gumam Neru.

Rin terkesiap. Kelas E berisi kumpulan anak-anak nakal dan suka membuat keributan. Karena takut akan mencoreng nama baik sekolah dengan kelakuan mereka, kelas E ditempatkan di bangunan yang letaknya jauh di belakang sekolah dan kelas mereka tidak pernah mengikuti kegiatan apapun yang dilakukan kelas-kelas lain kecuali ujian.

Bagaimana bisa dua siswa kelas E masuk ke kelas ini?

Rin masih sibuk membuat kemungkinan di kepalanya saat seseorang membuka pintu dan berteriak dengan nyaring.

"Rin-chan!"

Dan sesuatu dengan cepatnya menubruk tubuhnya hingga punggungnya terhempas ke dinding.

Rin kaget, menatap tidak percaya pada mahluk yang saat ini memeluknya dengan erat. Teman-teman sekelasnya juga kaget, menunjuk-nunjuk mahluk pink yang memeluknya seraya berbisik-bisik tak percaya.

"I, IA? Kenapa kau disini?" seru Rin dengan ekspresi tidak percaya. Apa yang IA lakukan disini?

"Ehehe, mulai sekarang aku pindah ke kelas ini. Lihat? Nero juga bersamaku." Jawabnya sambil menunjuk pemuda yang berdiri di pintu kelas. Mata Rin menyipit melihat si wajah monyet itu.

Eh, tunggu.

"Kalian murid kelas E itu?" kata Rin. IA mengangguk senang.

"Mulai sekarang mohon bantuannya, Rin-chan." dan IA pun tertawa.

Rin melihat IA, lalu Nero, lalu seluruh teman-teman sekelasnya yang melihatnya dengan tatapan takut dan jijik. Bagus. Hidupnya benar-benar berubah dimulai dari sekarang.

o0oo0o0oo0o

Rin berharap dia ditelan lubang yang gelap dan dalam sekarang juga.

Sejak kejadian pagi tadi, tak pernah IA maupun Nero meninggalkannya sendiri. Teman-teman sekelas, bahkan seluruh siswa sekolah (kecuali Neru dan Momo) menatapnya sinis dan menggosipi dirinya. Jika saja kedua kakaknya bersekolah disekolah yang sama, pastilah mereka akan berbuat sesuatu tentang ini.

Rin menghela nafas dan mengambil kotak bekalnya. Berharap siang ini semuanya akan menjadi lebih baik.

"Neru, ayo-"

"Maaf, Rin..." Neru segera memotong perkataan Rin. Gadis dengan rambut golden blonde itu melihat Rin dengan tatapan terluka, membuat Rin merasa takut. Ini pertama kalinya dia melihat Neru seperti itu. Dia terlalu terpaku hingga tidak bisa mencegah Neru yang melangkah keluar kelas.

Rin hanya bisa melihat lantai dimana Neru berpijak sesaat yang lalu.

"Neru, apa yang terjadi padamu?" gumamnya. Dia ingin mengejar langkah Neru jika saja sepasang tangan yang tadi pagi memeluknya tidak mencengkram kedua bahunya. Rin memutar kepalanya melihat pemilik tangan itu.

"Hei, Rin-chan! Ayo kita makan siang bersama di bawah pohon besar disana!" ajak IA dengan wajah berseri-seri.

Tanpa menunggu jawaban lagi IA menarik tangan Rin dan berjalan cepat menuju pintu yang berada di belakang kelas. Disana Nero telah menunggu dengan kotak bekal susun tiga di kedua tangannya. Wajahnya mengerut dan dia mengeluhkan tentang Rin yang bergerak lambat sekali. Rin menoleh ke pintu di depan kelas dimana Neru pergi tadi sementara IA menarik tangannya lebih keras.

'Aku akan bicara padanya nanti.'

Mereka duduk dibawah pohon yang paling besar di belakang sekolah dan menikmati makan siang bersama. Sesekali IA berceloteh tentang berbedanya kelas reguler dengan kelas lamanya, kelas E, dan hanya ditanggapi Rin dengan anggukan dan sesekali gumaman. Setelah menghabiskan seluruh makanannya IA menyandarkan diri di batang pohon besar itu dan mendesah panjang.

"Huhm... pohon ini mengingatkanku pada pohon-pohon di kelas E. Disana lebih terlihat seperti dikelilingi hutan dibanding disini sih..." Gumamnya dengan senyum tipis. Rin menaikkan alis.

"Ada yang ingin kutanyakan. Kenapa kalian bisa masuk ke kelas reguler? Kukira siswa kelas E tidak boleh dipindahkan ke kelas lain..."

IA melihat Rin yang kebingungan dan tertawa kecil. "Oh, kami bukannya tidak dibolehkan pindah. Tapi kelas E adalah kelas terbaik untuk kami." jawabnya. Rin menautkan kedua alisnya.

"Kelas terbaik? Kukira-"

"Semua yang kalian perkirakan itu salah." Nero memotong. "Kelas E adalah kelas yang dikhususkan untuk para Yakuza, Assassin, FBI, CIA dan organisasi-organisasi khusus seperti kami. Disana kami mendapat pelajaran tambahan tentang segala hal mengenai pembunuhan, racun dan segala hal yang kami butuhkan dalam pekerjaan kami." Jelasnya dengan tenang.

Rin menganga. Dia berharap dia tidak pernah bertanya.

o0oo0o0oo0o

"Ja, jangan bercanda..."

Rin melihat sekelompok pengendara motor di depan gerbangnya. Mereka mempunyai tampang sangar dan begitu juga penampilan mereka yang seperti preman. Dan tepat di hadapannya, ada Len. Rambutnya yang biasa diikat ponytail kini tergerai hingga bahu dan jaket hitamnya yang tebal membuatnya tubuhnya terlihat lebih besar. Dia berdiri di samping motornya dengan tangan terlipat dan wajahnya yang tersenyum dengan angkuhnya. Senyumnya makin melebar saat menyadari Rin menatapnya dari atas hingga bawah.

IA yang tadinya berada di belakang Rin berlari dan memeluk Len singkat sebelum duduk di belakang motor Nero yang telah terparkir tak jauh dari Len. Len sendiri tetap melihatnya dengan senyumnya yang menyebalkan itu.

"Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Rin dengan nada tinggi.

Len menaikkan sebelah alisnya dan mengisyaratkan Rin untuk mendekat, tapi tentu saja Rin tidak mau. "Apa maksudmu? Tentu saja kami datang untuk menjemput tuan putri." Jawabnya sambil menarik tangan Rin hingga Rin hanya berjarak beberapa senti saja darinya.

Rin berkedip dan pipinya merona sedikit. Tentu saja dia merasa sedikit terkejut dan malu dengan tindakan Len. Ini di sekolah! Apa yang dikatakan orang-orang nanti? Reputasinya sebagai siswa baik-baik bisa hancur!

Tidak. Tanpa kemunculan Lenpun reputasinya sudah hancur dengan absen panjangnya seminggu lalu dan kedekatannya dengan IA. Gosip tentang dirinya sejak pagi sudah membuktikan hal itu.

Rin sudah bisa melihat apa yang akan menjadi berita klub koran minggu ini. "Siswa Teladan Kini Menjadi Siswa Preman" atau "Kegelapan yang Kini Menaungi Sekolah Kita" atau semacam itulah.

Rin mendesah. Lebih baik dia menyelesaikan apa yang ada didepannya dulu. Dengan suara serendah mungkin dia bertanya balik pada pria blonde kita ini. "Siapa yang bilang aku akan ikut bersamamu?"

"Jangan banyak bertanya, Rin. Diam dan naik saja."

Rin tidak percaya apa yang baru saja Len katakan. Setelah seminggu tanpa kontak sama sekali dan kini dia menyuruh Rin mengikutinya seperti anjing setia? Dia bukan Nero! Dengan menggunakan kedua tangannya dia mendorong dirinya menjauh dari Len.

"Aku tidak mau! Lagi pula kakak-kakakku akan menjemputku. Jadi kalian lebih baik pergi dari sini."

Len tentu saja tidak senang dengan jawaban yang Rin berikan. Dia merengut. Rin tidak mempedulikannya dan melihat jam di ponselnya. Seharusnya mereka akan datang sebentar lagi...

"Hei, Rin, ayolah! Kau sudah menjadi bagian dari kami sekarang. Kau harusnya menuruti apa yang Len katakan." Rui berkata dari belakang Rei. Tapi Ring tetap bersikeras dengan pendiriannya.

Rin baru Saja mengecek ponselnya kembali. Saat Len menghidupkan motornya. Dia melihat Rin sekali Lagi dan mungkin untuk yang terakhir Kali. "Kau yakin?"

"Aku ya-"

"Honne-san! Apa yang kau lakukan disitu!"

Suara Rin tercekat. Dia menoleh ke belakang. Seorang guru bertampang seram berjalan cepat mendekati mereka. Rin mengenal guru itu sebagai guru 'killer' dikelasnya.

Tanpa pikir panjang lagi Rin menarik lengan Len yang tadinya akan menggas motornya. Len melihatnya dengan tatapan terkejut saat Rin memberinya tatapan yang mengerikan. Tangannya yang berkuku cukup panjang tanpa sadar meremas Lengan Len dengan kuatnya.

"Aku ikut dengan kalian!" desis Rin seraya duduk di belakang Len.

Len mengernyitkan dahinya. " Bukannya kamu bilang tidak mau ikut? "

"Sudah, pergi saja!" jawab Rin sambil meremas ujung jaket Len dari belakang.

Meskipun heran dengan sikap Rin, Len menurut saja. Toh, tujuannya datang kesini memang untuk menjemput Rin. Len baru saja akan pergi saat tangan yang besar dan kasar menarik Rin dengan kuat hingga Rin terjatuh di pelukan siapapun yang menariknya. Len menoleh, menatap tajam pria paruh baya yang menatapnya dengan tatapan yang tak kalah menyeramkannya.

"Ga, Gakupo-sensei! Mereka ini cuma-"

"Diam Honne! Kita akan bicara setelah aku selesai dengan bajingan disini. "

Rin menjauh sedikit dari Gakupo-sensei dan semakin mendekat pada Len. Hal ini justru membuat urat di kepala sensei semakin terlihat. Tapi yang membuatnya semakin murka adalah kedua tangan Len yang melingkar di leher Rin dan merapatkan tubuh mereka.

"Len, lepas... " bisik Rin tanpa melihat Len.

Kenapa Len selalu melakukan hal-hal aneh dam membuatnya berada dalam bahaya sih? Belum lagi kelakuannya ini selalu membuat Rin merona. Dia gak takut IA bakal cemburu ya? Huh, mungkin dia memang sengaja karena dia ingin melihat IA membunuh dirinya. Bagaimanapun juga dia kan orang kejam dan berbahaya.

"Hei! Lepaskan tangan kotormu dari muridku! "

Tapi Len justru mengeratkan pelukannya. Dan dengan suara yang halus dia berkata. "Eh? Tapi itu tidak mungkin."

"Len..." Rin mendesis.

"Ssh.. Diam dan naik saja." bisik Len balik.

Rin ingin memprotesnya. Tapi saat dia melihat tatapan Len, nyalinya menjadi ciut dan dia hanya bisa menurut. Rin sama sekali tidak menyangka kalau Len bisa terlihat semenakutkan itu.

"Honne! Kembali kesini a-"

"Maaf sensei, tapi aku tidak bisa jauh-jauh dari Rin." Len menghidupkan motornya. Tanpa mempedulikan muka Rin yang merah padam ataupun Gakupo sensei yang akan meledak, dia mengambil kedua tangan Rin dan membuatnya memeluk pinggang Len. Dengan senyum kemenangan dia berkata sebelum melaju.

"Karena Rin itu tunanganku."

Yap. Dia benar-benar ingin melihat Rin dibunuh oleh IA.

Dan mereka semua pergi. Meninggalkan Gakupo-sensei yang cengo bersama asap dan debu.

Tak jauh dari gerbang sekolah, mobil merah yang seharusnya menjemput Rin hanya bisa terpaku melihat gadis yang seharusnya mereka jemput telah pergi bersama orang lain. Belum lagi mereka adalah laki-laki!

"Tei-neechan! Kejar orang-orang itu, cepat! "

"Tidak akan kubiarkan orang-orang itu menyentuh bunnyku!"

Dan mobil merah itu melaju dengan kecepatan tinggi dengan satu tujuan; menghabisi pemuda blonde yang membawa Rin pergi.


Sampai jumpa di chapter berikutnya!


Mikan: Mikan balik lagi! Maafkan fic ini yang sangat jauh dari harapan. Mikan tidak bisa bicara banyak-banyak, jadi tolong berikan saran dan komentar kalian ya!

Ah, dan selamat tahun baru! Semoga readers semua bisa sabar dengan Mikan di tahun ini juga ^Δ^