Desclaimer: Naruto's characters belong to Masashi Kishimoto.

A Way

o

o

o

o

Chapter 7

Pesan-pesan dari Sasuke berdatangan, namun tak sekali pun Sakura membalasnya meski ia tergoda. Adalah sebuah kebohongan jika ia berkata bahwa ia sudah tak memiliki perasaan sama sekali pada pria itu, tapi kejujuran lain juga tak dapat dipungkiri. Kenyataannya adalah masih terlalu menyakitkan dan menakutkan baginya untuk kembali berhubungan dengan Sasuke. Barangkali Sakura tak siap dengan apa pun yang mungkin hendak disampaikan oleh mantan tunangannya itu.

Delapan pesan itu berisi sama meski berbeda kata-kata; Sasuke ingin bicara. Sakura mendecih. Bahkan satu kata maaf saja tak pernah ia utarakan atau mungkin ia memang tidak merasa bersalah.

"Sudah seminggu sejak rapat dewan redaksi diadakan. Apa ada perkembangan?" Ino bertanya, membuyarkan lamunan Sakura.

"Sejauh ini semua masih terkendali. Semoga tidak ada hal buruk," jawab Sakura.

Ino memandangi sahabat satu-satunya itu dengan tatapan sedih. "Apa yang bisa kulakukan untukmu, Sakura?"

"Jagalah kandunganmu. Itu saja. Masalah pers dan tetek bengeknya, serahkan saja padaku. Kau fokus saja pada proses perceraian kak Itachi, okay?"

Selain membuat lekas marah, hormon progresteron yang dihasilkan saat wanita hamil untuk menciptakan lapisan dinding rahim dan mencegah kontraksi juga menyebabkan suasana hati Ino tak menentu. Hormon itu memperburuk suasana hatinya yang memang sedang buruk. Ia menjadi sangat sentimental, ditambah dengan perasaan sedihnya ketika melihat Sakura seperti ini.

"Apa kau tidak terlalu memaksakan dirimu?" tanya Ino.

"Ino, mereka sudah banyak berjasa bagi keluargaku, terlebih aku. Aku akan menjadi manusia paling jahat jika aku mengabaikan mereka hanya karena Sasuke. Apa kau mengerti?"

Dengan jemari lentik yang kukunya sudah tak pernah lagi dipoles dengan kuteks, Ino mengusap air matanya yang tak tertahankan. Di ruangan itu, hanya ada mereka bertiga yang bekerja satu tim, jadi orang-orang dari tim lain tidak akan ada yang menyaksikan apa pun yang terjadi di antara mereka.

"Kau tahu, Dekorin? Aku semakin yakin bahwa Sasuke tidak pantas mendapatkanmu. Jangan balas pesannya! Ya?" pintanya.

Sakura tersenyum. "Itu sangat menghiburku."

Wanita berambut pirang panjang itu ikut tersenyum sebelum ia terdiam memikirkan beberapa hal. Ino memandangi sahabatnya yang sedang menuliskan sesuatu di atas kertas yang ia duga berhubungan dengan rencana-rencananya terkait dengan pers dan semacamnya.

"Sakura?"

"Ya?"

"Apa kau... Maksudku kalau ada yang kau..." Ino menggantung kalimatnya karena tak yakin untuk meneruskannya.

Belum sempat Sakura membalas, pintu ruangan kerja mereka terbuka dan seorang pria muncul dari balik pintu kayu tebal itu. Sakura dan Ino melambaikan tangan untuk menyambut kedatangan Itachi. Pria jangkung berumur 31 tahun itu berjalan mendekati mereka, kemudian duduk di depan meja kerja Ino.

Hari itu, Itachi dan Ino akan membahas tentang langkah mereka selanjutnya, mengingat bahwa Madara ikut campur dalam permasalahan ini. Tak ada yang mengerti mengapa kepala klan Uchiha itu begitu menentang keputusan Itachi. Pembicaraan yang sepertinya akan sangat serius membuat Sakura merasa ingin tahu lebih banyak, tapi ia memilih untuk mengabaikannya. Bagiannya bukan itu dan ia tak berniat untuk memberitahu Itachi.

Ia berpikir bahwa masalah Itachi sudah berat, ia hanya tak ingin menambahi beban pikirannya. Terlebih, ia mengetahui bahwa saat ini Itachi sedang menjalankan tugas untuk mengungkap sebuah kasus sampai ia harus mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu.

"Hm... Aku harus mencetak beberapa surat. Bersantailah, Kak," kata Sakura.

Kedua bola mata hijau laut Ino bergerak mengawasi gerak-gerik kedua orang di hadapannya; Itachi dan Sakura. Ia yakin bahwa sahabatnya berusaha menyembunyikan rencananya dari Itachi, tapi sepertinya pria itu cukup menyadarinya. Tak biasanya Sakura langsung pergi saat ia datang, tapi ia memiliki hal yang lebih penting daripada mencari tahu.

"Jadi bagaimana?" tanyanya.

Ino mengehela napas sambil mengangkat kedua tangannya. Ini memang terasa seperti jalan buntu. Sebenarnya Ino merasa agak heran terhadap keteguhan Itachi akan pendiriannya untuk bercerai.

"Sebelum kita lanjutkan, aku ingin bertanya padamu dan kuharap kau menjawabku dengan sebenarnya," kata Ino.

"Baiklah."

Pengacara muda yang merupakan kakak iparnya itu menangkupkan kedua tangan dan menumpukan siku-sikunya pada permukaan meja. Ia menatap Itachi penuh selidik, membuat pria di hadapannya menaikkan alis.

"Mengapa kau sangat ingin bercerai?"

Alis Itachi semakin tinggi mendengarnya. "Bukankah sudah jelas?"

"Hanya itu?"

"Memangnya apa lagi?"

"Itachi," katanya sebelum ia menurunkan kedua tangannya. "Aku tahu kalian belum memiliki anak untuk dijadikan pertimbangan lebih jauh, tapi apakah kau benar-benar menginginkan ini?"

"Ini yang terbaik."

Oh, jawaban ini lagi. Ino melipat bibirnya ke dalam. Ia merasa akan segera kehabisan kesabaran. Entah mengapa pria-pria Uchiha sangat sedikit berbicara. Ia jadi bertanya-tanya, apakah mereka tidak kaya kosakata atau mereka memiliki permasalahan dengan tenggorokan.

"Alasanmu sangat kubutuhkan untuk membalikkan pernyataan mereka, Itachi. Tolong jangan ikut-ikutan mempersulit keadaan! Baik kau maupun Izumi sama-sama keras kepala, kau tahu?" lanjutnya.

"Menurutmu, jika dua orang yang sama-sama keras kepala berjalan bersama, apa mereka akan berhasil?"

"Lalu mengapa kau menikahinya?"

"Aku mencintainya."

Ino hampir saja menyerah dengan semua jawaban Itachi. Menurutnya, jawaban-jawaban itu masih lemah untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi pengadilan memutuskan perceraian mereka. Itachi harus memiliki alasan yang lebih kuat daripada masalah perselingkuhan Izumi.

Permasalahannya, Itachi tak ingin orang-orang mengetahui dengan siapa Izumi berselingkuh. Kalau perlu, kisah perselingkuhan itu tak perlu diajukan. Memang sulit hingga Ino harus memutar oraknya, tapi ini tidaklah aneh, mengingat tentang pemberitaan yang mungkin akan muncul. Media tidak akan diam saja dan pasti mencari tahu lebih jauh. Mungkin saja Itachi sudah mengantisipasi hal itu.

"Sebenarnya, Itachi, apa kau pernah mencoba untuk bicara dari hati ke hati dengan Izumi tentang alasannya berselingkuh?" Ino bertanya.

Itachi tetap bungkam.

"Seberapa besar kau mencintainya?"

Pria itu masih tak menjawab. Jujur saja, ada rasa bersalah di dalam hatinya, tapi pernikahan itu memang tak boleh berlanjut.

"Demi Tuhan, apa kau sungguh merasa sakit saat mengetahui mereka bermain belakang?" Ino bertanya lagi dengan nada yang meninggi.

"Kecelakaan itu adalah bukti bahwa aku merasa kecewa di samping karena saat itu aku sedang terburu-buru, Ino," balas Itachi.

Ino mengerutkan dahi sambil terus memandangi Itachi. Ia dapat membaca pikiran orang lain dengan mudah, tapi ia merasa kesulitan untuk mengetahui isi kepala pria itu. Pada akhirnya, ia hanya bisa bermain dengan dugaan dan prasangkanya.

"Baiklah. Sekarang tujuan utama kita adalah tuan Madara. Dia..." Ucapan Ino terputus. Ia tak tahu harus berkata apa sebab Sakura sendiri memintanya merahasiakan hal ini.

"Kenapa?"

Bibir Ino masih terbuka. "Aku mau membuat susu kehamilanku dulu. Kau mau kopi?"

Itachi mengangguk dan Ino langsung beranjak dari kursinya menuju pantry kantor. Sementara wanita itu tak ada di sana, Itachi jadi mengingat tentang sikap aneh Sakura dan barusan saja, Ino juga bersikap aneh dengan membatalkan niat awalnya untuk menyampaikan sesuatu. Ia sangat yakin bahwa apa yang akan Ino katakan mungkin dapat menjadi kunci yang menyebabkan segalanya menjadi sulit.

Ia melirik meja Sakura yang terletak cukup dekat di depan meja kerja Ino. Dengan tenang, ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja kerja Sakura. Ada beberapa lembar kertas di sana, namun perhatiannya seketika tertuju pada selembar kertas yang berisi coretan yang agak berantakan. Sudah menjadi keahliannya untuk membaca dengan cepat meski jika itu tulisan seorang dokter sekalipun.

Tatapan matanya tetap saja datar saat ia membaca namanya sendiri di atas kertas itu. Ia rasa cukup baginya untuk mencuri-curi kesempatan selagi Ino tak ada di sana dan sebelum wanita itu kembali, ia juga harus kembali ke tempat semula.

Namun, bukannya Ino yang masuk ke ruangan itu, tapi Sakura-lah yang datang. Itachi memandangi wanita itu. Tak ayal sikapnya membuat Sakura bingung sekaligus curiga kalau-kalau Ino baru saja membocorkan rahasianya. Tak ada yang dikatakan pria itu, ia malah beranjak dan berdiri di hadapannya.

"Kak, apa yang..." Sakura tak sampai menuntaskan kata-katanya saat mata tak terbaca milik pria itu mengarah lurus tepat pada matanya.

Sakura semakin heran dengan tingkah Itachi yang tiba-tiba mengulurkan tangan kanan ke arah wajah cantiknya. Untuk sesaat Sakura terperangah, sementara bola matanya kadang mengikuti ke mana tangan itu akan menuju, kadang kembali menatap wajah Itachi yang selalu menampakkan raut tenang dan datar. Ia berpikir kalau Itachi akan menyentuh wajahnya, namun di detik berikutnya, tangan pria itu mendarat di pucuk kepalanya. Ia tersenyum tipis, lalu keduanya saling menatap.

Kalau Sakura sedang tidak berhalusinasi, ia merasa kalau jari-jari Itachi bergerak seperti mengusap puncak kepalanya dengan pelan dan lembut.

Mereka tersadar dari ketertegunan saat pintu kembali dibuka. Sakura menelan ludah melihat Ino kembali dari pantry dengan segelas susu dan secangkir kopi panas, sedangkan Itachi masih bersikap biasa saja. Menit-menit berikutnya, Sakura tak dapat begitu menangkap apa saja yang mereka bicarakan sebab kepalanya penuh dengan pertanyaan.

Apa maksud perlakuan Itachi barusan? Seumur hidupnya mengenal Itachi, pria itu hampir tak pernah menyentuhnya kecuali ketika ia sedang menolongnya. Ia juga tak mengerti kenapa pria itu menatapnya seperti tadi. Tatapan itu belum pernah ia lihat dari seorang Uchiha Itachi.

XxX

Siang itu, setelah Sakura menyelesaikan urusannya dengan Deidara, ia pergi menuju kantor Naruto. Keduanya sudah membuat janji untuk bertemu dengan semua anggota dewan redaksi. Hal pertama yang ia lihat saat memasuki gedung dengan tiga lantai itu adalah sebuah ruang lobi yang luas dan di depannya ada sebuah meja resepsionis memanjang. Ia berjalan menghampiri meja itu.

Dengan menunjukkan kartu identitas, Sakura menyampaikan kepada seorang wanita muda yang duduk di belakang meja resepsionis itu bahwa ia ingin bertemu dengan Naruto. Kemudian, seorang pegawai mengantarkannya ke ruang Naruto yang berada di lantai paling atas. Beberapa pasang mata tertuju padanya. Mereka adalah para pegawai dan wartawan dari berbagai media yang sedang berkumpul di sekitar meja oval yang cukup besar.

Sesaat sebelum ia membuka pintu, pegawai yang mengantarnya tadi menganggukkan kepala, lalu meninggalkannya. Ia melihat Naruto yang sedang duduk dengan seorang wanita yang sebaya dengannya. Wanita itu terlihat tak kalah mencolok darinya. Ia memiliki rambut semerah darah dengan kacamata yang membingkai mata lebarnya.

"Karin," sapa Sakura.

Wanita yang ia sebut namanya tadi beranjak dari kursi sebelum memeluknya. Karin adalah sepupu Naruto yang menjabat sebagai pemimpin redaksi. Dengan kata lain, ia adalah salah satu anggota dewan redaksi yang akan mengikuti rapat nanti.

"Aku sungguh tak tahu harus bilang apa. Aku sudah mendengarnya," ujar Karin saat mereka masih berpelukan.

Bukan Karin yang mengusap punggung Sakura, tapi justru sebaliknya. Wanita berambut merah itu menatap dengan pandangan mengiba dan Sakura menggeleng, meminta kawan lamanya untuk tidak mengasihaninya.

"Kau tahu, Sakura? Aku bersyukur karena aku tak mendapatkan Sasuke," katanya.

Tawa geli sekaligus miris lepas dari bibir Sakura. Pertemanan mereka memang terbilang aneh. Pada awalnya, mereka adalah saingan yang mencoba mendapatkan Sasuke sejak di sekolah menengah pertama, tapi pada akhirnya, pria itu memilih Sakura. Hal itu tak lantas membuat mereka bermusuhan sebab Karin bukan wanita picik yang tidak bersikap sportif.

Sungguh, Karin tak pernah membenci Sakura meski ia kalah. Ia justru menjadi teman baik. Memang tak seakrab dengan Ino, tapi wanita itu cukup kerap membantunya.

"Kapan Kakashi akan menikahimu?" Sakura bertanya, bermaksud menggoda.

Karin mendengus sebelum menjawab, "Mungkin menjelang kiamat. Cih, laki-laki!"

"Kau seharusnya bertanya, bodoh! Laki-laki terkadang tidak peka kalau kau cuma memberinya kode. Kau pikir kami ini pembaca pikiran?" sahut Naruto.

Itu memang benar. Alam semesta memang aneh. Ia tahu bahwa laki-laki dan perempuan terlahir dengan banyak perbedaan yang mencolok, tapi tetap saja menarik keduanya untuk bersatu.

"Baiklah, kita mulai saja. Ayo," ajak Naruto.

Ketiganya meninggalkan ruangan dan berjalan menuju sebuah ruangan luas dengan meja persegi panjang. Di sana, sudah duduk lima orang yang akan terlibat dalam rapat. Dewan redaksi terdiri dari pemimpin umum, pemimpin redaksi dan wakilnya, redaktur pelaksana, dan orang-orang yang dipandang kompeten menjadi penasihat bagian redaksi. Tugas mereka adalah mengawasi dan memberi masukan pada jajaran redaksi terkait dengan permasalahan redaksional, terutama mengenai berita-berita sensitif.

"Kurasa waktu kita terbatas, jadi kita akan langsung pada intinya." Naruto membuka rapat. "Ini adalah sahabatku, Haruno Sakura. Kalian pasti sudah tahu siapa dia dan sebelum ini, aku sudah sempat menjelaskan inti permasalahan kita."

Semua orang di sana mengangguk-angguk dalam diam. Semuanya memandang Sakura sebelum Naruto memberi isyarat untuk menyampaikan maksudnya.

"Aku berterima kasih karena kalian sudah menyediakan waktu untukku. Seperti yang telah Uzumaki-san sampaikan dalam rapat kalian sebelumnya, kalian pasti sudah mengetahui ke mana arah pembicaraan ini." Sakura membuang napas. "Di sini, aku memohon kepada kalian agar pengawasan pemberitaan apa pun tentang keluarga Uchiha, khususnya Uchiha Itachi, nantinya dilaksanakan secara ketat. Aku membutuhkan filtrasi yang baik agar tidak ada pemberitaan yang tidak perlu."

"Jadi, sebenarnya dengan siapa istri Uchiha Itachi berselingkuh?" tanya Chouji yang menjabat sebagai pemimpin redaktur pelaksana.

"Untuk itu...aku tak bisa memberitahukannya kepada kalian. Satu-satunya yang bisa kukatakan adalah bahwa mereka memiliki beberapa masalah pribadi. Menurutku, hal-hal pribadi tidak penting untuk dijadikan bahan berita," jawab Sakura.

Seperti beberapa ekor lebah, semua orang di sana kecuali Naruto dan Karin menggumamkan kata-kata yang menunjukkan kekecewaan. Naruto melemparkan pandangan pada Sakura yang seolah ingin meyakinkannya.

"Pengacara Haruno, jujur saja kami sudah mencurigai satu nama selama ini. Sebelum ini, kami sering menjumpai Uchiha Sasuke pergi berduaan dengan Uchiha Izumi. Bukankah Uchiha Sasuke adalah mantan tunanganmu? Kudengar kalian berpisah tak lama setelah isu perceraian ini muncul. Maaf, tapi sulit rasanya bagi kami untuk tidak mengaitkan kedua hal tersebut," tanya Kakashi, penasihat dewan redaksi sekaligus kekasih Karin.

Sakura dapat merasakan semacam pusaran air yang mengaduk-aduk ulu hatinya. Ia merasakan kesakitan saat nama itu disebut dan ia sama sekali tak menyangka bahwa ia yang paling terlambat menyadari hal itu. Mata mereka bahkan lebih terbuka.

Kalimat-kalimat desakan, provokatif, bahkan ancaman secara halus tentang mereka yang tak akan mau bekerja sama jika ia hanya memberikan isu dan alibi yang kabur pun meluncur bersamaan dari mulut mereka. Ternyata Naruto benar. Mereka memiliki keyakinan yang kuat terhadap dugaan-dugaan mereka.

Pengacara muda itu membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. "Tuan Hatake, kurasa memang tidak ada yang bisa kusembunyikan lagi. Kecurigaan kalian benar adanya dan sekarang kalian sudah paham, bukan, mengapa aku ada di sini?" jawab Sakura.

"Berita yang ada akan jadi sangat tidak proporsional ketika kau memasukkan kepentingan pribadimu dalam hal ini," sahut yang lain.

Sakura melemparkan pandangan tak percaya pada wanita yang sebaya dengan Kakashi itu. Apa katanya? Berita tidak proporsional karena ada kepentingan pribadi? Yang benar saja! Semua berita pasti mengandung unsur kepentingan; pribadi maupun kelompok.

"Bukankah satu-satunya yang abadi di dunia ini adalah kepentingan? Tapi, saat kepentingan pribadi dimiliki oleh mereka yang memiliki kekuasaan, maka hal itu bisa menjadi masalah dengan skala yang lebih besar. Kita tidak bisa begitu saja menutup mata dari hal yang kuyakin kalian juga sudah menyadarinya dan aku tahu kalian pun memiliki kepentingan terkait hal ini. Dari semua hal, kita bisa menyimpulkan bahwa Uchiha Fugaku sama sekali tidak membuat kesalahan di sini, lalu kenapa nantinya beliau harus ikut menanggung imbasnya?" sanggah Sakura.

Dengungan-dengungan kembali memenuhi ruangan. Sebagian besar yang ada di sana terdengar menyetujui perkataan Sakura dan hanya ada dua orang yang tampak masih bersikap terlampau idealis. Ia dapat mendengar kata-kata seperti 'nepotisme' dan semacamnya.

"Semua yang terjadi dalam permainan politik adalah praktik nepotisme!" sergah Sakura dengan suara yang lantang dan tegas.

Wanita itu sudah muak terhadap hal-hal yang ia anggap utopis. Manusia akan terasing jika tidak berpijak pada kenyataan. Idealisme itu cuma cocok untuk mereka yang hidup dalam dunia dengan konsep waktunya sendiri; menjadi berbeda dengan waktu yang melambat dan hidup tenang sekaligus terbuang. Jika manusia memutuskan untuk terjun ke dunia gila ini, maka ia cuma punya dua pilihan: terasing atau melawan hatinya sendiri. Namun, sejak dunia ini adalah kotak pandora di mana zona abu-abu terselip di antaranya, maka manusia bisa menemukan jalan tengah. Mencari kebenaran sekaligus pembenaran.

"Kau harus fleksibel, Hyuuga Neji!" tegur Karin yang tak tahan untuk diam saja. "Kau tidak perlu meninggalkan nuranimu di sebuah museum tua. Kupikir kau cukup cerdas untuk melihat permasalahan ini dengan perspektif lain. Bukankah kau sangat menentang jika Torune menjadi kepala kepolisian negara?"

Semburat merah akibat kegeraman nampak di wajah pria dengan rambut coklat panjang itu. Mata abu-abunya berkilat dengan penuh kejengkelan.

"Kalau kau tidak lupa, Neji, Uchiha Fugaku-lah yang menyelamatkan adikmu, Hinata, yang diculik oleh ketua mafia Killer B selama hampir satu minggu. Beliau juga yang membongkar kasus yang melibatkan ancaman yang menimpa perusahaan paman dan ayahmu. Lagipula, pernahkah kau mendapati beliau tidak taat pada sumpah profesinya?" Kali ini, Naruto ikut angkat bicara.

Hyuuga Neji tak berkutik. Naruto memang benar. Selama ini Fugaku memang bersih dari segala macam catatan buruk, ia bahkan sering berjasa pada banyak orang. Ia juga sama sekali tidak pernah merepresi pers untuk mencari berita tentang kejahatan-kejahatan yang melibatkan beberapa orang penting. Uchiha Fugaku selalu terbuka dan bersikap adil.

"Uzumaki-san pasti sudah memberitahukan kepada kalian mengenai pembicaraan kami dua minggu lalu. Apa yang aku tawarkan sudah pasti sejalan dengan tujuan dan kepentingan kalian, bukan? Aku memang memiliki agenda pribadiku, tapi aku peduli dengan dampak yang kemungkinan besar akan terjadi dan aku tidak akan mundur!" tambah Sakura.

"Bahkan Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke selalu melakukan tugas mereka dengan baik, jadi aku mohon, pinjamkanlah kekuatan kalian!" ujar Naruto sebelum ia melakukan seikirei; membungkukkan badan dengan rendah, membuat orang-orang di sana tercengang.

"Dan aku mohon bantulah kami demi orang baik seperti Uchiha Fugaku." Sakura ikut membungkukkan badan.

Dengungan yang terdengar saat itu juga adalah dengungan paling keras selama pertemuan mereka berlangsung. Mereka sungguh tak percaya bahwa pimpinan mereka dan seorang pengacara yang dikenal bersikap tegas juga bertangan dingin di pengadilan itu membungkuk sedemikian rendah. Uzumaki Naruto dan Haruno Sakura sendiri yang memohon dengan bulat tekad.

"Sakura..." ucap Karin lirih.

Kakashi yang merupakan dewan penasihat paling dihormati itu mendesah. "Kami mengerti, jadi tegakkan badan kalian."

Mereka berdua melakukan apa yang diminta oleh Kakashi sebelum saling berpandangan. Suasana di ruang rapat mendadak hening, semua orang menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku tak habis pikir denganmu, Pengacara Haruno. Jika aku jadi Anda, aku tak akan peduli dengan keluarga lelaki yang sudah menyakitiku!" saang wakil pimpinan redaksi berkata sambil melirik Neji sekilas. Bagi mereka yang paham, mereka mendengus geli dan berusaha menahan tawa.

"Apa kau sedang ingin bicara dengan seseorang, Tenten?" Karin menggoda.

Suasana yang tadinya tegang menjadi cair berkat candaan Karin. Semua orang akhirnya tak lagi menahan tawa, sementara Neji membuang muka.

"Hm!" Tenten menggeleng. "Okay, I will stand for her. Bagaimana dengan yang lain?"

Satu persatu orang di ruangan itu mengangkat tangan menyetujui usulan ini. Perasaan lega langsung membajiri hati Sakura. Naruto memang bekerja dengan orang-orang baik.

"Baiklah. Hal pertama yang musti kita lakukan adalah mengalihkan perhatian para pencari berita. Beri mereka pekerjaan yang...merepotkan sepeti memusatkan perhatian pada kandidat Danzo dan beberapa orang yang kita curigai sebagai oknum penyelewengan dana pemerintah untuk pembangunan infrastruktur," kata Kakashi.

"Mengapa mereka?" Chouji bertanya.

"Hmm... Firasatku berkata demikian."

Ya, ya... Hatake Kakashi dan segala firasatnya. Mungkin ia lebih cocok menjadi seorang detektif daripada menjadi seorang anggota dewan penasihat dalam asosiasi pers.

o

o

o

o

Bersambung...

A/N: Wow, ini juga berat, ya... Tapi saya tetap memasukkan moment yang menurut saya moment #maksudnyaMbak. Yang pasti cerita ini akan melewati proses dua kali penyaringan (?). Maksud saya ya, semua proses nanti akan membangun perasaan masing-masing tokoh, chemistry, dlsb. Semoga kalian bersabar, ya, Anak-anak hohoho. Saya bisa update cepet karena dua pekerjaan saya selesai hahaha.

Andromeda no Rei: sesama pemikir dilarang saling mendahului huahahahaha. Tenanglah, anak muda. Jangan menatapku penuh curiga khukhukhu...

Chiharu Rainy: Untung saya penggila Madara sama Kakashi yang udah mateng-mateng. Baiklah, Madara tua tapi hnggg... Jadi, kalau mau Sasukehhh ambil aja di kantor pos terdekat #digenjutsu

Sitilafifah989: kok saya jadi ketawa ya bayanginnya?

Ayase Nanjo: entar Saku jadi pelakor dong kalau sama Itachi sekarang #heh

Sina dan Licy: Iya, tapi gak janji ada moment kayak gitu terus. Sama seperti minuman, kebanyakan gula juga susah dinikmatinya...

Sakuracharry10: Ini pas ada ide aja uhuk

Shina14: Adegan percintaaaaaaaan??? #mandimadu

Annis874: yaelah hahaha... Hm... Jangan ngompol dong, itu gak Sakura banget hohoho

Lacus Clyne 123: Amiiin...

Hanazono Yuri: keep reading yaaa...

Pudding Pudding: kamu bikin saya lapar #heh. Iya, saya pasti lanjutkan walau banyak yang musti saya tulis dan kerjakan hahaha.

So, don't forget to leave your reviews and I love you all. Muaaahhhh!