Yeyy chapter baru sukses diupdate cepet wkwwk. Maaf ya kalo agak membosankan, tapi bagian ini dibutuhkan buat lanjutin alur ceritanya hehehe. Happy reading ^^

.

.

.

Kurang lebih lima langkah setelah meninggalkan kompleks apartemen, Seonho merosot ke bawah. Sekujur tubuhnya lemas ketika segala kejadian sore ini akhirnya terproses oleh otaknya. Ia tak bisa percaya. Guanlin menggandengnya. Guanlin mengundangnya ke rumah. Guanlin memberinya minuman dan makanan enak. Guanlin mengacak rambutnya, dan mencubit pipinya. Demi Tuhan, Guanlin tahu namanya.

! Seonho menutupi wajahnya yang merah panas dengan kedua tangannya. Kenapa perasaanya bisa tergonjang-ganjing seperti ini? Hal-hal yang ia sebutkan sering dipraktekkan teman-teman dan saudara kepadanya, tetapi giliran Guanlin yang melakukan, gestur-gestur biasa itu memacu jantungnya begitu kencang. Ini sungguh tidak baik. Padahal Seonho baru saja beristirahat, tapi ia merasa seperti sehabis menyelesaikan lari marathon.

Getaran handphone di saku celananya menghentak Seonho dari posisi jongkoknya. Panggilan dari Justin. Buru-buru diangkatnya untuk memastikan bahwa ya, ia sudah di jalan, dan tidak, mana mungkin ia diculik orang. Begitu naik ke dalam bus, Seonho memotret kakinya sebagai bukti untuk dikirimkan ke group chat yang terus-menerus berbunyi. Hampir saja ia melewatkan pemberhentiannya saking sibuknya membalas pesan.

"Akhirnya dateng juga," hela Justin sambil mengunyah kentang goreng yang dicuri dari piring Samuel.

Seonho menaruh tas di samping tumpukan barang dan duduk di kursi kosong yang tersisa. "Maaf, maaf, aku juga gak nyangka udah mau malem."

"Ngapain aja? Daritadi ditanyain kamu belom jawab." Dengan pose tubuh yang tidak santai meskipun raut wajahnya dibuat netral, Seonho tahu Samuel sedang mengaktifkan mode interogasi. Ia sudah hafal gerak-geriknya.

"Gimana ya, aku juga bingung jelasinnya kalo di chat. Sebenernya ngomong pun bingung. Aku beneran masih bingung," ucapnya ragu. Ketika melihat ke depan, keduanya sudah memutar badan mereka, siap mendengarkan dan menagih penjelasan. Seonho menarik napas dan memulai ceritanya dari awal setelah mereka bertiga berpisah.

Tidak tanpa interupsi, tentunya.

"Jadi dia main hajar si tukang softlens gara-gara liat kamu nangis?"

"Aduhh, nggak dihajar kok, cuma ditarik gitu tangannya… Tetep sakit sih kayaknya." Ia mengingatkan diri menyampaikan permintaan maaf Guanlin kepada Hyunbin yang entah bagaimana sekarang mendapat julukan tukang softlens oleh teman-temannya.

"Habis itu gimana?"

"Ya, kita jelasin. Terus Kak Guanlin minta maaf. Terus pulang."

"Udah gitu aja?"

Seonho mengibaskan tangannya, mengambil jeda waktu untuk membasahkan tenggorokkannya dengan air minum. "Kunci kartu apartemennya Kak Guanlin jatoh. Aku susul dia biar bisa kembaliin, trus pas udah ketemu diajak ikut ke rumahnya."

"WHAT!?" Samuel ini kalo udah heboh emang yang keluar otomatis jadi bahasa inggris. Untungnya Justin gak ikutan nimpal pake bahasa cina. "Buat apa?"

"Kaget aku, kalian kenapa sampe teriak? Aku disuruh minum air, supaya gak dehidrasi katanya. Dikasih cemilan lagi. Enak-enak kuenya, aku makan banyak. Hehehehe." Seonho tidak tahu apa yang salah dari perkataanya sampai Samuel meremas kepalanya putus asa.

"Kamu ya, waspada dikit napa. Gampang banget ngikutin orang asing. Kalo makanan ato minumannya dikasih macem-macem gimana?"

"Yaelah Sam, kontrol itu jalan pikiran, jangan yang serem-serem mulu. Lai Guanlin kan anak sekolah kita, meskipun gak kenal bukan orang asing kali."

"Um, nggak bisa bilang gak kenal juga sih," koreksi Seonho dengan polosnya. Samuel dan Justin langsung memicingkan mata.

"Maksudnya?" "Kamu kenal sama dia?" "Kapan kenalannya?" "Kapan ketemu?" "Aku gapernah liat kalian interaksi." "Kok gak bilang-bilang—"

Seonho mengangkat kedua tangannya, berharap bisa menghentikan laju serangan verbal. Cukup sukses untuk beberapa detik, sebelum dilanjutkan lagi karena ketidakpuasan kedua temannya atas keheningannya. "Iya iya aduh bentar tunggu satu-satu dong," protesnya kewalahan. Hanya setelah mereka kembali duduk manis di tempatnya masing-masing baru ia mau mulai bicara. "Jadi gini…"

.

Percepat waktu setengah jam kemudian, makanan di meja menjadi dingin tak tersentuh saking fokusnya mereka mendengarkan cerita. Tentunya terkecuali piring Seonho yang sudah tuntas bersih berkilap sejak duapuluh menit yang lalu. "…Aku ijin pamit trus langsung jalan. Udah deh habis itu nyusul kalian."

Justin—dengan dagu ditopang tangan, mulut yang sedikit terbuka dan mata yang berbinar-binar—tampak berbeda 180 derajat dari Samuel yang melipat tangannya di depan wajah dan mengerutkan dahinya berpikir panjang. Seonho tak tahu mana yang harus lebih ia khawatirkan.

"So you're saying, dia nyari kamu selama sebulan tapi gak ketemu-ketemu? Dan pas banget hari ini, habis kamu bikin kantin hampir rusuh, akhirnya dia tau namamu dan nyamperin kamu? Yeah right. Sangat bisa dipercaya."

Sarkasme tajam terbang melayang melalui kepalanya, yang justru memfilter bagian yang tidak penting. "Hah? Emangnya tadi kantin rusuh ya? Kok aku nggak tau?"

Dengan prihatin Justin menepuk punggung Samuel yang meringkuk lemas karena kelemotan seorang Seonho. "Kamu memang kalo lagi laper gak konsen sama apapun selain makanan, jadi mungkin gak sadar kalo tadi siang tuh anak-anak pada ngumpul di meja kita buat ngeliatin kamu. Ada yang nyolong foto malahan. Aku gabakal heran kalo senen depan juga banyak yang pada tau namamu. Yah, intinya, Samuel tuh ngerasa si Lai Guanlin cuma deketin kamu gara-gara kamu mulai terkenal. Tapi aku sih gak setuju."

Samuel yang sejak tadi mengangguk-angguk mendelik saat mendengar kalimat terakhir Justin. "Maksudmu?! Sebulan lho, sebulan. Kalo emang bener-bener mo nyari dia bisa aja mampir ke tiap kelas nanyain murid satu-persatu."

"Ekstrim amat. Kamu lupa ya kita lagi ngomongin siapa? Kalo beneran dilakuin, bisa bayangin bakal seberapa heboh murid-murid cewek satu sekolah jadinya? Chaos, bro. Lagian, kalo emang baru tertarik sekarang, buat apa dia nyimpen handuk butut Seonho yang lebih mirip punya anak TK daripada anak SMA."

"Iih itu handuknya masih bagus tau! Kak Guanlin aja bilang anak ayamnya imut!" Seonho yang daritadi diam menyimak tidak bisa tidak membela barang yang dulu adalah kesayangannya. Alhasil Samuel semakin merengut sementara Justin menyeringai lebar.

"Aku gabisa bayangin orang bermuka datar itu bilang sesuatu imut," ujar Samuel sambil melipat lengannya.

Sekarang giliran Seonho yang dahinya mengerut, tidak memahami pendapat Samuel. Meski baru dua kali bertemu, ia sudah melihat beragam ekpresi ditunjukkan oleh Guanlin baik yang sengaja maupun tidak. "Kak Guanlin orangnya ramah kok. Sering senyum. Aku inget jelas waktu pertama kali ngomong, habis dia payungin aku ke sekolah, dia ketawa terus."

Bunyi yang keluar dari mulut Justin hanya bisa dideskripsikan dengan suara orang tercekik bahagia. "Denger nggak?" Dia menyenggol Samuel, lalu melirik ke arah Seonho. "Kamu tau apa julukannya? Ice prince. Gak pernah aku liat dia senyum lebih dari sekedar basa-basi, dan itupun keliatannya terpaksa. Dan si ice prince ini, yang terkenal cuek dan paling jarang ngeladenin fans, rela repot-repot kebasahan mayungin Seonho ke sekolah, kalap marah waktu ngira dia disakitin orang, dan ketawa—bayangin Sam, ketawa—waktu ngomong sama Seonho. Aku gatau kurang bukti apa lagi."

"Tetep aja," bantah Samuel yang masih tidak rela melepaskan kecurigaannya. "Sebulan di gedung sekolah yang sama. Kecil kemungkinannya kalo gak pernah papasan. Berati dia gak bener-bener merhatiin Seonho sebelomnya."

"Deh, kamu tuh ya—"

"Memang nggak pernah sih…" Seonho memotong sebelum mereka bisa berdebat. "Soalnya aku selalu ngumpet kalo lagi ada Kak Guanlin di sekitar."

"Hah, kenapa?"

Ia menunduk, ragu mengutarakan rahasia yang sudah sebulan lamanya tersimpan. Tetapi setelah berdiskusi sampai ke tahap sejauh ini, kalau tidak sekarang, Seonho tak tahu kapan lagi ia berani jujur kepada teman-temannya. "Malu. Kak Guanlin kan populer, banyak yang suka dan, uh… ganteng. Kalo dibandingin dia, aku gaada apa-apanya."

"Seonho…" Justin dan Samuel saling bertukar pandang. "Liat sini."

Seonho perlahan mengangkat wajahnya. Tak terkira, ia mendapatkan dua ketukan di masing-masing sisi kepalanya. Ia menatap kedua temannya dengan bingung.

"Kamu tau apa yang bikin aku paling marah?" tanya Samuel, dijawab dengan gelengan takut oleh Seonho. "Bukan karena aku curiga sama Lai Guanlin, atau karena kamu nyembunyiin sesuatu dari kita. Yang aku paling gasuka itu kalo kamu ngejelek-jelekin diri sendiri."

Justin mengusap bekas jitakannya dan Samuel, membelokkan muka Seonho ke arahnya. "Kamu tuh pinter. Berbakat, ramah, sopan, gak egois, baeknya sampe keterlaluan. Lola, nggak tau bahaya dan nilai diri terlalu rendah. Sering rasanya aku pengen nyubit dan teriakin kamu supaya sadar. Aku dan Samuel tuh beruntung. Kamu temen terbaik yang orang lain cuma bisa harapkan."

Mendadak bola matanya terasa panas dan penglihatannya memburam. Air matanya menetes begitu cepat, ujung bibirnya basah terkena imbas. Asin.

"Wakh! Kok malah nangis!? Ni pasti gara-gara Samuel nih mukanya serem, iya kan? Gapapa gausah takut dia nggak bener-bener marah kok," pekik Justin panik sambil mengusap pipi Seonho dengan tissue yang ada di meja. Samuel menelan ludah, tegang seperti anak kecil yang ketahuan memecahkan vas mahal.

Seonho mendenguskan tawa pendek di sela-sela isakannya. "Bukan kok. Aku cuma... seneng aja." Ia mengedipkan mata dan menampilkan senyuman lebar nan hangat, sehangat perasaan yang semerbak di dadanya. "Aku yang lebih beruntung punya teman seperti kalian."

Pernyataannya mengundang jutaan 'aww' dan elusan rambut dari Justin, sementara Samuel menggosok hidung mencoba menutupi tarikan senyum bibirnya. Tak tahan berdiaman terlalu lama, dia membunyikan tenggorokkannya.

"Oke, jadi, balik ke topik sebelomnya. Kalo aku nggak salah nangkep, kamu gak pede ketemu si Lai Guanlin karena… kamu suka sama dia?" Bagian terakhir dia bisikkan dengan hati-hati, tetapi tetap saja Seonho tersentak.

Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya. Jemarinya diketukkan di meja seakan bermain piano. Kebiasannya jika sedang nervous. "Sebenernya aku gak gitu ngerti, tapi… tiap deket Kak Guanlin aku sering deg-degan. Apalagi kalo ada kontak fisik. Waktu dia ngacak rambutku, ato ngelap mukaku, ato gandeng tanganku, perut rasanya kayak dikocok-kocok. Sampe mual gitu. Terus lemes. Terus kalo mikirin dia rasanya jadi sesek. Tapi pengen ngeliatin terus, dari jauh pun. Ini pertama kalinya aku ngerasa begini. Ini… namanya suka kan?"

Justin meremas kemejanya, melempar wajahnya yang tertekuk tidak karuan ke samping. Dia terlihat bahagia dan menderita dalam waktu yang bersamaan. Samuel meremas gelas plastik minumannya, menekuk wajahnya yang terselubung poni ke bawah. Dia terlihat seperti sedang menahan panggilan alam nomor dua.

"Iya anakku, iya. Itu jelas suka. Itu lebih dari suka. Itu namanya cin—"

"Kalian baru ketemu dua kali dan dia udah berani megang-megang muka sama gandeng tangan? Dia pikir dia siapa?"

Tidak senang lagi-lagi dipotong saat bicara, Justin menegur Samuel. "Ih kok malah kamu sih yang sewot? Seonhonya aja seneng-seneng gitu."

"Seneng? Dia mual katanya, lemes. Mana senengnya?"

"Aduh kalian plis deh daritadi brantem mulu!" Seonho mengulur tangan dan menggunakannya sebagai pembatas antara Justin dan Samuel. "Ya, aku memang suka Kak Guanlin soalnya dia orangnya baik. Jadi yaudah. Toh bukannya dia juga s-suka sama aku. Aku rasa sekarang kita udah bisa dibilang temen, dan aku udah seneng banget, gak nyangka malahan. Jadi tolong ya kalian jangan ribut cuma gara-gara soal ini. Ya?"

Keduanya berkomunikasi lewat pandangan mata dan sepakat untuk membicarakan hal ini ketika Seonho tak ada. Samuel mengangguk mundur. Justin memajukan badannya. "Oke, tapi satu hal lagi. Ada yang salah dari omonganmu barusan. Gimanapun aku liat, si Lai Guanlin itu udah jelas banget suka—"

"Suka anak ayam!" teriak Samuel, menghantam meja dengan kedua telapaknya. "Yak! Udah pada kenyang kan? Yok ke bioskop, bentar lagi filmnya mulai." Dia mengangkat Justin dari kerah bajunya dan melirik sinis begitu mereka membelakangi Seonho. Justin hanya membuang muka sambil bersiul, pura-pura bodoh.

Seonho yang sudah memuaskan perutnya dengan sumbangan sisa kentang goreng memutuskan untuk tidak menggubris kelakuan aneh teman-temannya, agar tidak sakit kepala atau lapar lagi.

.

Sesampainya di rumah ia langsung mandi dan bersiap-siap untuk tidur. Karena besok tidak ada sekolah, mereka pulang cukup larut malam. Hari yang menyenangkan, walaupun agak melelahkan. Seonho menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Tangan kanannya memegang handuk untuk mengeringkan rambut, sementara tangan kirinya berkutat dengan ponselnya. Seusai menuntaskan semua chat, sebuah notifikasi baru menunda niatnya untuk mematikan handphone.

Sudah tidur?

Aku Guanlin btw

Belom kak

Tau kok, tadi aku kan juga save nomor kakak hehehe

Iya ya

Gimana tadi perginya?

Seru?

Yep ^^

Kita nonton wonder woman di bioskop

Keren banget lho kak, kakak juga harus nonton![thumbs up][thumbs up][thumbs up]

Ohiya?

Pengen sih

Tapi pengennya nonton sama kamu

Kalau bukan karena tatakan kasur empuk, handphone Seonho mungkin sudah retak selepas jatuh dari tangannya. Ia bengong sebentar, lalu buru-buru mengangkatnya saat nada tanda pesan baru berbunyi.

Becanda haha

Kamu kan udah nonton

Hahaha iya kak

Lain kali klo ada film baru yg kamu tertarik bilang ya

Kita pergi bareng

Seonho yang tadinya sempat merasa sedikit kecewa langsung berdegup keras lagi jantungnya. Ia lanjut mengetik sambil tersenyum.

Oke kak [smiley face]

[simbol tangan ok]

Btw makasih handuknya

Kamu lagi pengen apa? Aku beliin buat gantiin

Hah gausah kak!

Itu handuk udah barang lama [sweatdrop]

Masih bagus kok

Beneran kak jangan, aku yang gaenak nanti ^^;

Tadi kan kakak udah kasih aku snack sama minuman, anggep aja itu gantinya

Udah lebih dari cukup [wajah kenyang jilat bibir]

Kamu doyan?

Banget! Enak-enak hehehe

Makasih ya kak [senyum lebar]

Baguslah

Aku yang makasih udah diambilin kartunya

Sama-sama ^^

Udah malem banget nih

Kamu cepetan tidur

Istirahat yang banyak

[kepala mengangguk]

Kakak juga ya

Ya

Good night

Good night!

[anak ayam tidur]

Cute

Setelah meninggalkan balasan satu kata tersebut, status Guanlin berubah menjadi offline. Seonho meremat ponselnya dan menyumpal kepalanya ke bawah bantal. Sepertinya malam ini ia akan bermimpi indah.

Tak sesuai perkiraan, tidurnya berlalu tanpa mimpi sesaatpun. Mungkin karena saking nyenyaknya. Sayangnya lelapnya yang semestinya bisa memanjang tanpa gangguan alarm sekolah harus terpotong pendek oleh getaran dan bunyi yang amat familiar.

Piya~ piya~ byeongari~ Piya~ piya~ byeonga—

Seonho meraba-raba kasur dan langsung memencet tombol terima panggilan tanpa melihat ke arah layar. Matanya masih tidak bisa terbuka. "Halo?" Suaranya yang serak terbawa kantuk tidak mempan menarik prihatin siapapun itu yang menelponnya di awal hari Sabtu. Orang itu malah berteriak dikupingnya.

"Yah, Seonho, tukang softlensmu itu model ya?"

Otaknya yang masih dalam proses pemanasan butuh waktu cukup lama untuk mencocokan julukan tukang softlens dengan wajah Hyunbin. "Iya kayaknya. Kenapa?"

"Ya ampun, kok kamu gak pernah bilang?"

"Habis gaada yang nanya. Emangnya kenapa sih?" Ia sungguh berharap Justin tidak mengganggu tidurnya hanya untuk mempertanyakan hal ini.

"Foto-fotonya nyebar di forum online!"

"Uh, setauku kalo jadi model memang banyak foto di internet deh…"

"Bukan itu! Maksudku, foto kalian di depan sekolah, udah dipost kemana-mana. Mukamu keliatan jelas banget!"

"HAH!?"

TBC

.

.

.

Back to cliffhanger lol. Dan demi apa, udah seratus lebih review aja *O* Waktu awal buat fic ini sama sekali gak nyangka bakal segini banyak yang baca, saya sangat sangat senang dan terharu sekali wkwkwk maap lebay! Tapi beneran seneng lho, makasih buanyaaakkkkkk ya untuk kalian semua, baik yang dari awal udah ngikutin dan yang baru" nemu, comment" kalian sangat saya hargai dan nikmati *apaan eh* Maaf ya ga sempet bales satu", tapi semuanya saya baca dengan hati riang gembira kok hehehehe ;*** m(_ _)m

Untuk menjawab beberapa pertanyaan/poin yg sering diangkat di komen", duo cube trainee Guanlin x Seonho ini bakal jadi satu-satunya pairing di fic ini. Mohon maaf bagi yang request ataupun mengharapkan pairing lain ^^; Next, soal peran Hyunbin sebagai orang ketiga, mari kita lihat saja di chapter" kedepannya ya *digebukin* wkwkwk that's all! See you next chapter!

*balik camping di fancamnya Seonho*