THE PRINCE 7th

Based on MERUPURI THE MARCHEN PRINCE By Matsuri Hino

.

.

Kugenggam erat cermin kesayanganku. Semua berawal darinya, dari cermin ini.

Cermin ini...

"Sudah cukup!"

Kulempar cermin itu dengan sekuat yang aku bisa. Aku...sudah tidak mau lagi terlibat...

Mianhae haelmoni...

Mianhae Kyuhyunnie...

.

.

.

The Prince 7th

.

.

Ryeowook membuang cermin kesayangannya. Padahal hati kecilnya berteriak kencang mengatakan kalau Kyuhyun tidak jahat. Ryeowook hanya takut, karena semua tidak sesuai dengan impiannya.

'mianhae, Kyuhyunnie'


...


Cahaya putih berpendar menyilaukan dari seonggok cermin yang tergeletak begitu saja di atas guguran daun-daun maple kering berwarna merah dan kuning. Tanpa mampu diikuti oleh mata manusia, sesosok namja dengan pakaian panjang beruraian muncul dari dalam cermin itu.

"Kenapa cermin ini ada di sini? Dimana pangeran Kyuhyun?" gumam namja itu.

Dengan lirih namja tampan bergigi kelinci itu menggumam, sembari tangannya membentuk gerakan yang gemulai. Tak lama tampak pusaran udara dihadapannya, dan menunjukkan dimana sosok Kyuhyun berada.

Namja itu, Eukarista Sungmin harus segera menemui sang pangeran yang saat ini terlihat sangat tidak baik.

...

Sementara, setelah kepergian Sungmin, cermin itu kembali memendarkan cahaya, kali ini semburat merah. Secepat kilatan cahaya, namja tampan dan tinggi memakai pakaian berjuntai-juntai berwarna hitam, muncul.

Namja itu menyeringai. Dipandanginya sekeliling tempat itu. Hidungnya yang tajam dengan cepat merespon aroma yang baru saja ditinggalkan dua orang berbeda dari tempat itu. Satu aroma namja yang membuatnya mengernyit tak suka, aroma Sungmin. Namun bibirnya kembali menyungging senyum saat aroma lain memenuhi pikirannya, aroma calon permaisurinya, gadis desa dari Korea yang diketahuinya bernama Kim Ryeowook.

Siwon mengendus udara, menghisap semua aroma Ryeowook yang tertinggal samar di tempat itu. Rasanya manis, lembut dan memabukkan, seperti campuran aroma berbagai macam bunga dan buah. Paru-paru Siwon terasa sesak, aroma Ryeowook sungguh membuatnya gila.

"Calon permaisuriku ke 25, Kim Ryeowook, pangeranmu ini datang menjemputmu..." desisnya seraya menghirup udara panjang, menghabiskan sisa aroma Ryeowook yang masih tertinggal.

.

.

.

Sosok tampan berwajah semanis kelinci memandangi sosok kecil yang duduk di lantai yang dingin sambil memeluk kedua lututnya di tempat yang disebut manusia Korea dengan sekolah.

Namja kecil itu tahu kedatangan pengawal setianya, tapi tetap mengacuhkan namja itu. Pikirannya sedang kacau. Dia...merasa bersalah.

"Pangeran Kyuhyun sedang apa?"

Kyuhyun memeluk lututnya semakin erat hingga menekan dadanya.

"Berisik!" sahutnya pada Sungmin.

Matanya kembali sayu, pikirannya kembali menerawang. Dihelanya nafas panjang.

"Sungmin-ah, aku tidak mengerti..."

"..."

"Entah kenapa rasanya aku mengacaukan sesuatu yang sepertinya sangat berharga bagi Wookie..."

"..."

"Apa aku ini memang sangat menyebalkan? Aku memang payah!"

Sungmin mengelus dagunya pelan. Rupanya sang pangeran sedang patah hati, mungkin. Tiba-tiba Sungmin merespon aroma yang seharusnya tidak berada di sini, di dunia manusia, walaupun rasanya aroma itu berasal dari tempat yang sangat jauh. Mungkin Kyuhyun tidak bisa merasakannya karena sihirnya yang sedang kacau.

"Emmm... itu... Pangeran Kyuhyun, sepertinya pangeran Siwon mendatangi yeoja itu." Ujar Sungmin sedikit ragu.

Kyuhyun terkesiap. Siwon, hyungnya mendatangi Ryeowook? Tidak!

Kyuhyun membelalakan matanya pada Sungmin, lalu secepat yang dia mampu, Kyuhyun berlari, mencari Ryeowook.

"Kenapa tidak bilang dari tadi, Sungmin-ah!"

Sungmin terdiam, tapi kemudian mengikuti kepergian pangeran kecilnya itu. Bukannya tadi namja kecil itu mengatainya berisik? Jadi ya Sungmin lebih baik tidak banyak bicara.

.

.

.

Siwon memandangi tubuh mungil yang kini terbaring di ranjangnya yang besar dan bertabur bunga. Mawar, lillac, lavender, verbenna, dan berbagai macam sense musk yang pernah ditemukan, membuat aroma di kamar itu sungguh wangi.

Diranjangnya?

Ya. Siwon kini memang berada di kamarnya, di ruang pribadinya, di istananya, di negeri sihir Gulliver. Tapi mengapa ada seorang gadis terbaring di ranjangnya?

Tentu saja itu Kim Ryeowook yang diculiknya secara halus dari dunia manusia. Siwon memantrainya, membuat gadis itu tak sadarkan diri hingga memudahkan Siwon membawanya kemari.

Matanya beralih menatap cermin segi tujuh yang tergeletak di samping gadis itu. Tentu saja Siwon juga membawanya. Karena menurut legenda, cermin segi tujuh itu adalah pemilik kekuatan tertinggi yang mampu melintasi ruang dan waktu. Siwon sendiri sudah membuktikannya. Di usianya yang masuk ke 124 tahun di negeri sihir, di dunia manusia dia baru masuk ke hitungan 20 tahunan, hal itu bisa membuatnya memiliki masa hidup yang lebih lama jika dia melarikan diri ke dunia manusia.

Namun bukan hal itu yang membuat Siwon tertarik. Gadis pemilik cermin itulah yang telah menyita perhatiannya. Membuat Siwon benar-benar ingin memiliki gadis itu, gadis dengan aroma paling kuat dari semua gadis yang ditemuinya selama 124 tahun eksistensi pangeran tertua itu.

Dipandanginya lekat wajah manis yeoja yang tengah tak sadarkan diri dihadapannya. Ingin rasanya Siwon menghisap semua aroma gadis itu, hingga gadis itu bisa menjadi miliknya, seutuhnya. Tapi hal itu tidak bisa jika sang gadis tidak mengijinkannya. Menghisap aroma akan menyatukan jiwa dan raga mereka, tapi jika salah satu pihak tidak menghendaki maka hal itu bisa membunuhnya.

Pandangan Siwon menelusuri garis wajah gadis itu. Begitu manis, membuatnya gila. Tapi sejak kedatangannya di negeri sihir, bersentuhan dengan gadis itu membuat tubuh Siwon bagai tersengat kecil. Tidak menyakitkan memang, hanya saja tidak nyaman.

Mulut pangeran itu menggumamkan sesuatu, membuat cahaya keemasan menari-dari diwajah Ryeowook. Siwon ingin gadis itu segera membuka matanya.

.

.

.

Ryeowook mengernyit pelan. Matanya tetap terpejam, tapi irisnya mulai bergerak, merasa tidak nyaman.

Aroma bebungaan menguar mengusik indera penciumannya. Wangi sekali. Ryeowook mencoba membuka matanya yang terasa berat. Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka, menampakkan iris sewarna coklat caramel yang terpaku pada hal pertama yang dilihatnya.

Kelambu sutera berwarna coklat emas adalah pemandangan pertama yang mampu dicerna oleh Ryeowook. Beralih pada ujung-ujung kelambu itu yang disangga empat tiang berbingkai emas. Sepertinya dia berada di kamar putri Viona atau peraduan Cleopatra. Suasana klasik begitu kental menghiasi langit-langit ruangan yang terlihat samar olehnya. Begitu tinggi.

Tubuhnya berbaring nyaman di suatu tempat yang begitu halus, selembut awan. Apakah dia berada di kamar seseorang?

Ryeowook merasakan hembusan nafas hangat di sekitar lehernya. Yeoja itu menoleh. Matanya membulat lebar saat bertemu dengan sepasang mata lain yang memandangnya begitu dekat,lekat dan tajam.

"Kyaaaaa!"

.

.

.

Kyuhyun menyusuri setiap jalanan yang ada di sekitar sekolah Ryeowook. Tak juga menemukan gadis itu, membuat Kyuhyun memutuskan kembali ke rumah yeoja itu. Mungkin saja Ryeowook telah kembali ke rumahnya.

Sungmin yang terus mengikuti namja itu tak banyak berkata-kata. Firasat kurang baik menghantuinya. Tapi namja itu tidak mengatakannya pada Kyuhyun, takut membuat namja itu semakin cemas dan khawatir. Jujur saja Sungmin memang sudah tidak merasakan keberadaan Siwon di dunia manusia ini.

"Wookie!"

"Wookie!"

Kyuhyun membuka setiap ruangan di rumah itu seraya meneriakkan nama Kim Ryeowook. Tapi tak ada sahutan.

Kyuhyun keluar dari rumah itu. Dengan nafas memburu ditelusurinya gang-gang kecil di sekitar rumah Ryeowook.

Tak mendapatkan hasil, Kyuhyun menjelajah lebih jauh lagi. Harapannya semakin tipis.

Pencariannya nihil.

"WOOKIE!"

.

.

.

Ryeowook menatap ke sekeliling ruangan itu dengan kagum. Perpaduan kemewahan, unik, antik, anggun dan klasik begitu kental. Rasanya seperti berada di negeri dongeng.

"Jangan menatapku seperti itu!" seru Ryeowook, mengingatkan Siwon yang terus saja memandanginya. Ryeowook merasa risih dipandangi seperti itu. Kan bukan salahnya kalau Siwon tidak bisa menyentuhnya saat dia sadar.

Siwon POV

Ah, sial sekali! Ternyata saat gadis manis ini membuka mata, aku malah semakin tidak bisa menyentuhnya. Tubuhku seperti terkena sengatan seribu lebah saat aku mencoba melakukan kontak fisik padanya. Penasehat istana mengatakan kalau hal itu terjadi karena pangeran yang lain, Pangeran Kyuhyun telah menyatakan kepemilikannya atas gadis ini.

Argh! Sialan. Aku telat satu langkah!

Kupandangi wajahnya yang manis, memperhatikan tingkahnya yang terus saja menjelajahi peraduanku dengan matanya yang membulat lebar, lucu dan manis sekali.

Bibirnya yang tipis dan merah, semerah plum masak, sesekali bergumam kecil mengekspresikan kekagumannya. Padahal aku ingin sekali merasainya. Sial!

"Jangan menatapku seperti itu!" serunya padaku.

Huh! Tidak bisakah dia bersikap manis sedikit saja padaku?

Kim Ryeowook! Kau benar-benar membuatku gila!

Aromanya begitu menenangkan, nyaman sekali, memenuhi seluruh rongga paru-paruku. Pantas saja Kyuhyun begitu jinak padanya. Kyuhyun...

Anak itu tidak pernah mau mendengarkan orang lain, menyebalkan dan selalu berkata lancang padaku. Memang sih, dia tidak pernah berbuat sesuatu yang mengecewakan, ayah kami setidaknya. Tapi mulutnya benar-benar membuatku kesal.

Ha~~ paling tidak saat ini aku bisa membuatnya jengkel dengan membawa gadis ini kemari, ke dunia kami. Aku bisa sedikit tertawa sekarang...

tapi andai saja ada cara agar aku memiliki kesempatan merebut Ryeowook darinya...

Kami, anggota kerajaan, penerus darah bangsawan, memiliki keistimewaan, yaitu mendapatkan apapun yang kami mau, bahkan memiliki seorang manusia sekalipun. Hanya kami yang bisa melakukannya. Tapi ada aturan mainnya. Kau tidak bisa merebut sesuatu yang telah dimiliki oleh saudaramu, kalau kau berani mencoba maka akan ada yang harus menjadi korban, entah itu kau, saudaramu maupun seseorang yang kalian perebutkan.

Sesungguhnya mudah saja kalau orang itu sama seperti kami, penduduk negeri sihir. Tapi, gadis ini, Kim Ryeowook, adalah manusia biasa yang tidak memiliki sihir apapun. Hal ini membuat Ryeowooklah yang akan menjadi pihak yang hancur kalau kami memperebutkannya. Karena dia manusia, dan dia lemah.

Ryeowookku yang manis, masihkah aku punya kesempatan untuk memilikimu?

.

.

.

Kyuhyun mengusap kedua sudut matanya kasar. Dia cemas, cemas sekali. Ryeowook belum juga ditemukannya, padahal hari sudah gelap, malam telah menjelang. Kyuhyun takut sekali terjadi sesuatu pada gadis itu. Kyuhyun tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai Ryeowook terluka sedikit saja.

"Sungmin-ah, bagaimana ini... aku cemas sekali..." bisiknya lirih. Ryeowook, bagaimana keadaannya saat ini?

Sungmin menghela napas panjang. Dia juga tidak tahu apa yang harus mereka lakukan saat ini. Pulang ke Gulliver juga tidak mungkin, cermin Ryeowook satu-satunya jalan kembali ke negeri tersebut. Mereka hanya bisa menunggu. Ya, menunggu.

.

.

.

Ryeowook berdecak kagum memandangi berbagai macam hidangan yang baru saja dibawa masuk oleh beberapa orang yang menurutnya adalah pelayan di istana itu.

Sesekali Ryeowook melirik Siwon yang masih saja memandanginya, seakan tak bosan. Apa ada sesuatu yang aneh dengan wajahnya?

Siwon mendesah dan berdiri untuk mendekatinya, tapi pangeran itu cukup sadar diri untuk tidak menyentuh gadis itu.

"Makanlah." Ujarnya lembut sembari menyodorkan sepiring penuh hidangan yang serba lezat.

Ryeowook menatapnya ragu. Tapi sepertinya Siwon tidak memiliki niat jahat.

Siwon mendesah. Dia tahu Ryeowook tidak percaya padanya. Sikap yeoja itu begitu jelas, mengungkapkan perasaan yang dirasakannya.

"Makanan itu tidak akan menyakitimu. Lagi pula selama ini aku kan tidak pernah berusaha menyakitimu," bujuknya lagi.

Ryeowook tersentak. Mungkin Siwon memang menyebalkan dan menyeramkan, tapi yang dikatakannya tadi benar, dia tidak pernah melakukan sesuatu yang mungkin akan menyakitinya.

"... kalaupun aku bersalah, kesalahanku padamu adalah karena aku menyukaimu, itu saja" tandas Siwon.

Ryeowook tidak mampu berkata apa-apa. Siwon, dengan mudahnya mengatakan rasa suka. Tentu saja dia malu... bagaimanapun dia yeoja dengan perasaan yang lebih sensitif.

"Setelah ini kau akan kembali ke dunia manusia. Baginda Raja menyuruhku mengembalikanmu, jadi jangan curiga lagi."

"ba... baiklah"

Ryeowook meraih sepiring makanan yang dia tidak tau entah apa namanya, melihatnya pun belum pernah. Sesekali ekor matanya melirik Siwon yang terus saja memperhatikan segala sesuatu yang kini dilakukannya.

"I... itu, sudah berapa lama aku disini?" tanya Ryeowook lirih.

"... dua hari dan satu malam"

Ommo... rupanya cukup lama juga Ryeowook berada disini. Bagaimana keadaan rumahnya? Bagaimana keadaan kucingnya, Kiki? Lalu, bagaimana dengan... Kyuhyun?

Kyuhyun...

Mengingat Kyuhyun membuat Ryeowook merasa bersalah. Dia ingat dengan baik, dia telah mengucapkan kata-kata kasar pada pangeran kecil itu. Apa yang harus dilakukannya nanti saat bertemu Kyuhyun? Dia merasa menjadi orang yang jahat.

"Kau memikirkan Kyuhyun?"

Pertanyaan Siwon menyadarkan lamunannya. Apa dia memang begitu mudah ditebak?

"Kau tenang saja. Mungkin saat ini Kyuhyun sedang jengkel dan sebal sekali padaku. Dia selalu begitu, tidak pernah menghormatiku. Tidak punya sopan santun"

Benarkah itu? Rasanya Ryeowook tidak perlu diberitahu kalau Kyuhyun memang sedikit kurang sopan, tapi disaat seperti ini...

Ryeowook teringat saat pertama kali dia meminta Kyuhyun menginap di rumahnya, namja kecil itu cemas pengawalnya akan mencarinya.

Ryeowook teringat saat dia dan Kyuhyun pergi ke istana mainan dan bertemu Donghae. Namja kecil itu mengkhawatirkan perasaannya.

Terngiang pula saat Yesung menyatakan cinta padanya, Kyuhyun berteriak dengan lantang bahwa dia miliknya, milik pangeran Kyuhyun.

Bagaimana mungkin kali ini akan berbeda?

Kyuhyun... pasti sedang sangat mencemaskannya.

"A...aku ingin kembali... se...sekarang juga..."

Ya, Ryeowook yakin dengan perasaannya saat ini. Dia ingin bertemu Kyuhyun, meminta maaf dan berkata padanya agar tidak cemas, karena dirinya baik-baik saja.

Siwon memandangnya tajam. Tangannya terkepal erat.

"Kenapa semua orang hanya peduli pada Kyuhyun Kyuhyun dan Kyuhyun! Apakah aku berbeda dengannya? Tidak kau, Baginda Raja, Ibu Ratu, bahkan ibundaku sendiri! Dia telah mencuri perhatian dari orang-orang yang ku miliki. Aku membencinya! Sangat membencinya!" serunya dengan nafas memburu.

Selalu saja dia yang dinomorduakan. Selalu saja Kyuhyun yang mendapat perhatian. Selalu saja Kyuhyun...

"Si...Siwon-ssi..."

Siwon memejamkan matanya erat, berusaha menenangkan diri. Dia tidak mau Ryeowook merasa takut karena kemarahannya.

"Dia hanya pangeran tanpa ibu, tapi kenapa sepertinya aku yang telah kehilangan ibuku?" suara Siwon bergetar, hampir tidak sanggup mengatakan hal ini dengan jelas. Setetes cairan bening lolos dengan mudah dari sudut matanya yang biasanya memandang tajam.

Ryeowook tersentak. Pangeran sombong itu menangis?

Ryeowook mengacuhkan piring-piring makanan lezat itu, menarik selimut sutra lembut dari peraduan Siwon. Perlahan didekatinya pangeran yang sedang tertunduk itu. Tangannya terjulur...

Dengan berlapis selimut tebal, tangan lembut Ryeowook menyeka air matanya...

.

.

.

"Baginda permaisuri meninggal sesaat setelah melahirkan Kyuhyun. Sejak itulah ibundaku yang merawatnya. Baginda Raja pun tidak bersedia mencari pendamping lagi. Kini kami tidak mempunyai Baginda permaisuri, hanya ibundaku yang mendampinginya, sebagai selir utama."

Ryeowook mendengarkan ceritanya dengan cermat, tak ingin melewatkan satu kisah pun.

"Kyuhyun sangat cerdas. Dia menguasai sihir dengan sangat cepat. Dia juga sangat berani. Dia selalu bertingkah laku sebagai anak yang baik, menjadi kebanggaan Baginda Raja dan Ibundaku. Selalu saja aku yang harus mengalah, untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Kyuhyun. Ibundaku selalu mengingatkanku untuk bersikap baik pada Kyuhyun. Selalu saja Kyuhyun!"

Ryeowook tersenyum. Kini dia mengerti.

"Siwon-sii, kau sangat beruntung"

Siwon menatapnya tak mengerti.

"Kau memiliki ibu yang sangat menyayangimu. Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Walaupun ibumu menyayanginya, itu berbeda. Kyuhyun tidak akan merasakan kasih sayang ibumu sama seperti cara kau merasakannya. Mungkin saja kasih sayang ibumu pada kalian berdua adalah sama, tapi kalian menerimanya dengan perasaan yang berbeda."

Siwon mengerutkan keningnya, sebenarnya apa yang ingin dikatakan yeoja ini?

"Berapa banyak pun kasih sayang ibumu untukmu, kau tidak akan pernah merasa cukup, karena bagimu itulah yang seharusnya. Tapi untuk Kyuhyun, sedikit saja kasih sayang ibumu padanya, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan ibumu menyayanginya pun, aku yakin Kyuhyun sudah sangat bahagia. Aku tahu dengan pasti. Ibuku pun tidak pernah menyayangiku. Dia selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Karena itu, jika seseorang menyayangiku, sedikit saja, aku... merasa sangat bahagia."

...

"Kau hanya perlu mengenal Kyuhyun lebih dekat, Siwon-ssi. Kau pasti juga akan menyayanginya, sebagai saudaramu... sebagaimana seharusnya..."

.

.

.

Sungmin tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Hampir genap seminggu pangeran Kyuhyun menolak berbicara. Makan pun sangat jarang. Yang dilakukannya hanyalah duduk merenung, bermuram durja, kadang juga menangis diam-diam.

Selama ini yang mereka lakukan adalah mencari Ryeowook, walau Sungmin yakin Ryeowook tidak berada di dunia manusia, tapi Kyuhyun tanpa banyak bicara menyusuri setiap jalanan ibukota Seoul untuk mencarinya.

Tapi dua hari terakhir ini berbeda. Kyuhyun hanya duduk dan memandangi pintu rumah ini, berharap pintu terbuka dan Ryeowook muncul menampakkan dirinya...

...

Aura keheningan menguar pekat di ruangan itu. Bukannya ruangan yang terang benderang itu kosong, tapi dua orang yang ada disitu enggan membuka suara.

Sungmin menghela nafas.

Kyuhyun masih saja memandang kosong. Matanya tak memancarkan kehangatan dan antusias seperti biasanya.

Dengan enggan Sungmin memutuskan pergi dari sana. Pikirannya kacau melihat kekosongan Kyuhyun. Disaat pangerannya sedang terpuruk, Sungmin tidak bisa melakukan apapun. Dia merasa gagal.

Perlahan Sungmin melangkah mendekat pintu, untuk mencari udara segar di awal malam yang menjelang hari ini.

Saat hendak meraih kenop pintu itu, tubuhnya menegang. Aura ini...

Aura tajam mengusik ketenangannya, aura Siwon...

Tanpa sempat meraihnya, pintu dihadapan Sungmin terbuka lebar dan menampakkan...

KIM RYEOWOOK!

.

.

.

Ryeowook mengernyitkan kening melihat Sungmin yang memandanginya dengan mulut terbuka lebar.

"A...anyeong, Sungmin-ssi" sapanya gugup.

.

.

.

Di...dia sudah kembali!

Pangeran, lihatlah, orang yang begitu kau khawatirkan sudah kembali.

"A...anyeong, Sungmin-ssi"

Ah, dia menyapaku! Jadi aku benar-benar tidak bermimpi.

Dengan segera, kuraih tangannya dan membawanya kehadapan pangeran Kyuhyun.

"Pa...Pangeran! Nona Kim telah kembali!" seruku gembira.

Lihatlah dia pangeran, dan temukan dirimu kembali.

.

.

Apa-apaan dia! Seenaknya saja menyeret Ryeowook-ku untuk menemui bocah manja itu!

Aku rasa bocah itu sedang merengut kesal dan hendak mengata-ngataiku sebentar lagi. Aku tahu betul tabiatnya.

Hey, Sungmin-ah, jangan sentuh Ryeowook!

.

.

Sungmin membawa Ryeowook kehadapan Kyuhyun, yang tengah duduk di sofa ruangan itu sambil memeluk lututnya.

Ryeowook tertegun.

Dihadapannya kini, pangeran kecil yang selalu dianggapnya sombong, angkuh, aneh, manja dan egois tampak murung, dengan pandangan sayu dan kantung mata hitam dan lebar, kurang tidur mungkin.

Ryeowook berlutut dihadapan pangeran kecil itu, mengusap rambutnya lembut dan menangkup pipinya.

"Kyuhyun-ah..."

Kyuhyun bergeming.

Ryeowook membawa wajah murung itu untuk menatapnya. Tanpa sadar, Ryeowook melayangkan kecupan rindu di kening namja itu, melupakan sesuatu...

Cahaya putih menyilaukan mata dalam sekejap menghilang, berganti Kyuhyun dewasa yang tertegun tak percaya. Ryeowook benar-benar dihadapannya kini!

"Wookie..." suara Kyuhyun parau. Setetes airmata sebening embun merayap turun di pipinya, membuat shock seseorang lain disana. Siwon!

...

Kyuhyun...menangis?

Seharusnya Kyuhyun marah.

Mestinya Kyuhyun menantangku dan memakiku.

Biasanya Kyuhyun akan berkata lancang padaku!

Tapi...

Kyuhyun menangis?

Bahkan dia tidak menangis saat dulu aku mengatainya anak yang tidak punya ibu.

Kyuhyun...

Siwon terperangah melihat reaksi Kyuhyun yang sungguh diluar dugaannya. Pangeran tertua itu belum pernah melihat keadaan Kyuhyun yang benar-benar tersiksa seperti saat ini. Hanya karena seorang Kim Ryeowook! Kyuhyun...

Pangeran muda itu terlihat lemah, dan sedih.

Siwon tertegun. Ternyata dia memang tidak mengenal seorang Kyuhyun, adiknya sendiri, setelah selama beratus-ratus tahun hidup bersamanya.

...

Ryeowook tersenyum manis pada Kyuhyun dewasa di depannya. Tangannya terjulur hendak memeluk namja itu, tapi Kyuhyun menolaknya!

Senyuman itu menghilang. Ryeowook terluka dengan penolakan Kyuhyun. Dia memang salah. Dia telah menyakiti Kyuhyun, menuduh Kyuhyunlah yang mengacaukan hidupnya, menyalahkan Kyuhyun atas kegagalan cintanya, berkata kasar dan...

Segala pikiran bersalah Ryeowook menguap saat sesuatu yang lembut menyapa bibirnya.

Kyuhyun menciumnya...

Tepat di bibir!


...


Sungmin menutup mata dengan jari-jarinya.

Siwon membuka matanya semakin lebar.

Tapi Kyuhyun dan Ryeowook tidak peduli. Ciuman adalah sesuatu yang memang mereka butuhkan saat ini.

.

.

.

To Be Continued

.

.

Thanks for all reviewer, miku menghargai semuanya, mian for the very late update ,

.

.