Plak plak plak... suara tamparan menggema disebuah ruangan. Si pelaku dengan santai menopang kedua tangan setelah memberikan cap tangan merah di pipi ketiga lelaki itu. Hinata masih melihat intens ketiga korbannya. Nara Shikamaru, Sai, dan tentu saja Uchiha Sasuke.

"Apa yang kau lakukan?" Hanya Uchiha Sasuke yang berani memprotes atas tindakan Hinata yang menampar mereka bertiga. Lelaki itu maju satu langkah ke depan Hinata. Tak gentar, kilat mata Hinata masih kuat.

"Itu hukuman kecil. Aku bisa saja melaporkan kalian bertiga atas rencana penculikan," ucap Hinata sambil mendelik pada Shikamaru dan Sai. Keduanya dengan siaga mundur menghindari tatapan Hinata. Siapa yang sangka rencana penculikan tiba-tiba Hinata akan mensukseskan pagelaran ini. Keduanya senang, tapi mereka tidak bisa mengelak kalau perbuatan mereka salah. Makanya keduanya hanya bisa diam dan menunduk. Bagai anak sekolah yang ketahuan bolos dan dihukum guru BP-nya.

"Aku tidak merencanakan penculikan. Itu semua ide Shikamaru."

"Tapi kau setuju dengan ideku itu Sasuke. Dan hasilnya juga baik." Shikamaru tidak terima dirinya harus salah sendiri.

"Tapi aku tidak bilang kalau model itu harus Hyuuga Hinata." Sasuke kembali dengan pembelaannya.

"Hanya dia yang menurutku cocok dengan baju utama kita. Jadi aku yang memilihnya. Sudahlah, kita ini memang komplotan. Sekarang kita hanya perlu minta maaf." Sai menimpali dengan tepat hingga Sasuke kehabisan kata-kata untuk membela diri.

Memang sih, karena Hinata yang menjadi pengganti modelnya, hasil yang didapat menjadi lebih baik. Tentu saja, dia seorang desainer, sangat mengerti dengan kelebihan busana yang dikenakannya. Hingga dia bisa mengeksplor busana itu dengan baik. Dia juga cantik, dan Sasuke juga setuju Hinata akan cocok dengan semua itu. Tapi, Sasuke sudah menjelaskan dari awal bahwa dia kepepet, dan tidak punya cara lain. Saat Hinata menyetujuinya, dia pikir wanita itu akan mengerti, menerima semuanya dengan ikhlas. Ternyata kenyataan tidak semanis ekspektasi.

"Jika kalian memang butuh bantuan, kenapa tidak langsung bicara baik-baik. Dalam kamus bahasa, ada kata mohon dan tolong. Kalian bisa menggunakan kata itu jika butuh bantuan."

"Sasuke bilang, kau tidak bisa diajak bicara baik-baik." Hinata menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan Sai.

"Apa?" Hinata bertanya sekali lagi agar ia benar-benar tak salah dengar.

"Ya, Sasuke bilang kau pasti akan menolak jika diminta baik-baik. Makanya kami membuat rencana menculikmu paksa dan membawamu ke acara fashion show ini."

Lavender itu mendelik tajam pada mata hitam didepannya. Sementara Sasuke sudah tidak bisa berkelit untuk membela diri lagi.

Sadar akan posisi Sasuke yang terpojok karena mereka, Sai dan Shikamaru saling melempar tatap mata dan berbisik pelan.

"Sepertinya aku harus menemui Tuan Fugaku untuk melaporkan semuanya." Shikamaru berjalan keluar dengan cepat. Sedangkan Sai buru-buru mengeluarkan ponselnya, berpura-pura menerima sebuah telpon.

"Halo sayang? Yah, aku merindukanmu juga... haha. Maaf Sasuke, aku harus keluar. Semoga beruntung," ucapnya terakhir kali sembari menepuk bahu lelaki itu. Sedetik kemudian, Sai pun menghilang.

Sasuke mengusap wajah sambil menghembuskan napas berat. Hati ingin sekali meneriaki sikap teman-temannya, tapi apa daya situasinya tak mampu untuk melakukan semua itu.

Sasuke mengangkat kepala. Masalah tidak akan selesai walau dia terus menunduk.

"Oke, baiklah. Aku minta maaf karena sudah menculikmu dari kamar mandi."

"Lalu fashion show-mu ini?"

"Aku akan membayarnya secara profesional. Katakan saja berapa harga jasamu."

"Jasa modelku tidak dibayar dengan uang."

Sasuke hampir frustasi. Sebenarnya, apa yang diinginkannya? Perlukah dia bersikap seperti itu? Berbelit-belit dan memancing emosinya. Sungguh, dia berhasil.

Menarik napas, Sasuke mencoba menenangkan diri.

"Baik, katakan apa maumu. Aku tidak pernah berhutang pada siapapun."

Hinata meletakan tangannya di dagu. Terlihat berpikir tapi seperti mengejek di mata Sasuke.

"Biar kupikir. Hmmm... tidak ada yang kuinginkan sekarang."

"Lalu? Kau ingin aku bagaimana? Bersujud di depanmu?"

Hinata tersenyum, "Ide yang bagus. Tapi sayang aku tidak tertarik." ucapnya. Dia kembali berpikir, "Hmmm... Berikan aku semacam Black Card."

Sasuke menaikan alisnya. "Black Card? Semacam kartu yang bisa mewujudkan impianmu?"

"Bukan impian, tapi keinginan. Berikan aku itu agar suatu hari saat aku menginginkan sesuatu, aku akan memintanya padamu."

Sasuke memikirkan ide itu. Tidak buruk sih, tapi...

"Aku tidak punya black card—" jedanya. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan dompet dan mengambil sesuatu dari dalam. "—hanya kartu nama. Tapi kau bisa memakai ini untuk menagih hutangmu nanti."

Hinata mengambil kartunya, "Baiklah." Kemudian Hinata mengambil pulpen dari tasnya. Lalu ia memberi tanda tangan pada kartu itu. Setelah selesai, ia pun memberikan pulpen itu pada Sasuke dan menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama.

"Apa kau takut aku kabur?"

"Tidak, ini hanya agar perjanjiannya legal saja. Aku tidak suka melakukan sesuatu yang ilegal."

Sasuke memandang heran pada wanita di depannya. Dia tidak pernah menyangka bahwa si tetangganya itu punya sikap yang agak aneh juga. Menghela napas, Sasuke setuju untuk tanda tangan.

Terserah saja lah.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: TYPO, AU, OOC, CRACK PAIR, dll.

Enjoy!

.

.

Hampir dua pekan acara amal keluarga Uchiha berakhir, namun pemberitaannya tak menghilang dengan cepat. Mungkin karena berita ini berhubungan dengan keluarga Uchiha, atau Black Couple yang mencuri perhatian di pagelaran itu. Iya, sekarang mulai banyak artikel yang menulis bahwa pasangan itu terlihat sangat serasi. Walaupun mereka bekerja sama secara profesional, tapi ada pandangan lain yang senang melihat mereka diluar hal itu. Semakin hari, semakin banyak orang yang membicarakan keduanya.

Di jalan, orang-orang sibuk dengan artikel di media sosialnya tentang berita ini.

"Kau tahu Black Couple? Mereka sangat populer akhir-akhir ini."

"Yah, siapa yang mengira Uchiha Sasuke akan menjadi model seperti itu. Aku baru pertama kali melihat model wanitanya. Tapi dia tidak buruk."

"Katanya dia adalah anak dari keluarga Hyuuga yang baru pulang dari luar negeri."

"Itu luar biasa! Mungkin akan menjadi semakin heboh jika mereka benar-benar menjalin hubungan."

.

Berita tentang mereka tidak hanya tersebar luas di internet. Di televisi pun, ramai pewarta yang memberitakan tentang ke populeran pasangan ini.

"Sudah dua minggu, dan berita tentang Hinata masih saja dibicarakan." Neji berbicara dengan mata fokus pada televisi yang memberitakan adiknya dan Uchiha Sasuke. Neji bingung, kenapa media begitu menyukai hal ini. Padahal, saat ia menanyakan langsung pada Hinata, dia hanya membantu mereka saja karena model utamanya tidak ada. Siapa sangka akan seviral ini. Lelaki berambut panjang itu mendecih, media terlalu melebih-lebihkan hal ini. Black Couple? Apa itu?

Berbeda dengan Neji, Hiashi malah terlihat lebih tenang dengan pemberitaan ini. Ia mengambil cangkir berisi teh hijau hangat di dalamnya. Menghisap aromanya, lalu meminumnya perlahan. Walaupun pemberitaan tentang anaknya begitu gencar, tapi dia tak terlalu khawatir karena media memang selalu seperti itu. Setelah lama, berita ini akan menghilang dengan sendirinya. Selama hal ini tidak mengganggu putrinya, dia akan diam saja.

.

Ada yang tenang, ada yang bereaksi lain. Wanita berambut pirang itu meremas pinggiran koran yang dia baca. Dia sangat tidak suka dengan berita akhir-akhir ini. Sangat berlebihan dalam memuji Hinata. Memuakkan!

Pintu terbuka, seorang pria masuk ke dalam. Buru-buru wanita itu menyembunyikan korannya di bawah bantal.

"Kau sedang apa?"

"Aku? Tentu saja menunggumu. Aku sangat merindukanmu, Toneri." ucapnya sambil merengkuh pria berambut putih itu. Toneri balas merengkuhnya.

"Kau sudah siap, Shion? Kita akan pulang sekarang dari rumah sakit. Aku sudah berbicara dengan dokter."

"Tentu saja, aku siap untuk pulang."

Senyuman itu berhasil menjadi topeng yang baik untuk menyembunyikan perasaannya.

.

Sementara di kediaman Uchiha. Seorang asisten menerima telpon dari seseorang. Ia berbicara sebentar lalu menutupnya lagi.

"Dari wartawan lagi Pak," ucapnya pada Fugaku. Lelaki paruh baya itu menghela napas. Semenjak Black Couple viral, jumlah wartawan yang mengejar keluarganya bertambah. Sebenarnya tidak masalah jika mereka hanya ingin mengetahui soal bisnis. Tapi untuk sekarang, dibanding bisnis, mereka lebih mengejar soal gosip-gosip yang tidak jelas. Ampun, Fugaku cukup jengkel juga dengan para paparazi itu.

"Kenapa kau terlihat tegang begitu, sayang?" Nyonya Mikoto datang menghampiri suaminya. Tangannya membenarkan dasi abu yang sedikit miring di kerah prianya.

"Para wartawan itu benar-benar menyukai love line yang dibuat anakmu."

"Anakmu juga." Selesai dengan dasinya, Mikoto beranjak duduk di sofa. "Aku suka kok dengan love line itu. Kau tahu, aku bahkan menjerit seperti fangirl saat melihat interaksi langsung mereka di atas panggung waktu itu. Aku sungguh menyukainya. Mereka sangat serasi," ucapnya berapi-api.

Fugaku menghela napas. Sifat anggun yang begitu cepat berubah pada istrinya tidak lain adalah akibat love line itu. Luar biasa, banyak sekali perubahan.

Sebenarnya, dia tidak mengalami kerugian akibat love line anak bungsunya itu. Justru karena hal itu semakin banyak perusahaan-perusahaan yang mau berbisnis dengannya. Tapi bagaimanapun, hal ini terasa aneh baginya. Karena begitu aneh, dia jadi tidak tahu harus menghadapinya seperti apa.

"Selamat pagi ayah, ibu." Dari jauh, Itachi mengucapkan salam. Berjalan ke arah mereka.

"Pagi sayang," balas Mikoto berdiri, lalu mencium pipi anaknya. "Tidak biasanya datang sepagi ini. Mau sarapan bersama?" tawar sang ibu.

"Tentu saja. Tapi sebelum itu—" Itachi memberi jeda pada ucapannya, lalu ia mengarahkan pandangan pada sang Ayah. "Aku membawa tamu yang ingin bertemu denganmu, ayah."

Fugaku mengerutkan dahi, lalu pandangannya dapat melihat sosok lain di belakang Itachi. Seorang wanita.

"Perkenalkan, saya Mei Terumi."

.

.

Kantin sangat ramai pada jam istirahat kantor. Tapi ocehan Naruto lebih ramai dari hal itu. Sasuke berdoa semoga telinganya tidak tuli karena Naruto terus saja berbicara mengenai beritanya bersama Hinata. Dia baru pulang 30 menit yang lalu dari bulan madunya, dan dia langsung bergosip ria disini. Bersyukur Sakura tidak ikut, jika tidak, MATI!

"Kau benar-benar luar biasa dalam menciptakan skandal. Cantik lagi wanitanya. Kau menang banyak Sasuke, hahaha."

Dengar cara Naruto berbicara? Dia berbicara seolah dirinya seorang playboy kacangan. Dan ada apa dengan Shikamaru dan Sai yang sibuk tertawa dan meladeni kegilaan si Naruto? Mereka terbawa sinting yah.

"Dengar Naruto, tidak ada yang namanya skandal. Skandal ini dibuat oleh mereka yang terlalu melebih-lebihkan."

"Dan oleh mereka yang menyukainya. Ayolah Sasuke, jika tidak ada yang suka dengan Black Couple, tidak akan ada skandal ini."

"Tutup mulutmu sialan!" Hampir saja Sasuke melempar gelas yang dipegangnya.

"Sudahlah Naruto, berhenti mengejek Sasuke. Kau tidak tahu apa yang terjadi pada kami sebelum Black Couple menjadi viral." ucap Shikamaru dengan wajah malasnya.

"Memang apa?" tanyanya penasaran.

"Hinata menampar kami bertiga, secara bersamaan. Plak-plak-plak, suara itu masih terdengar kejam di telingaku," jelas Sai sedikit ngilu.

"Aku melihat beberapa fancam di Chu-tube, dia sepertinya wanita yang anggun."

"Kau bisa ikut ke apartemenku jika ingin tahu rasanya tamparan wanita anggun itu," tawar Sasuke senang hati. Naruto menengguk ludahnya dan mundur teratur.

"Baiklah, aku percaya pada kalian. Tapi, bukankah dengan viralnya hal ini membawa dampak bagus buat perusahaan. U.X semakin terkenal kan?" Naruto mengutarakan pendapatnya yang disambut anggukan setuju dari Shikamaru.

"Memang benar, klien kita semakin bertambah dan tawaran bisnis semakin banyak. U.X semakin populer dan kuharap hanya sebatas itu saja." Ucapan Shikamaru membuat semua orang di sana menaikan alis keheranan.

"Apa maksudmu hanya sebatas itu, Shikamaru?" Sasuke yang bertanya. Shikamaru menatap onyx itu, seperti memberi peringatan.

"Kau tahu? Ayahmu cukup agresif tentang bisnis. Dia begitu marah saat kita gagal mengalahkan H!rZ. Dan sekarang dia mungkin senang dengan kembalinya U.X seperti dulu."

"Aku tidak mengerti ucapanmu, Shika. Cepat jelaskan!" pinta Naruto yang bingung. Sementara Sai tersenyum, mulai mengerti pikiran Shikamaru.

"Intinya, apa mungkin paman Fugaku akan membiarkan hal ini cepat berlalu? Love line ini menguntungkan dirinya dan perusahaan. Mungkin saja bukan?" Sai mengedip ke arah Sasuke, dan hal itu cukup membuatnya mengerti tentang maksud mereka berdua.

"Maksudmu perjodohan? Aku dan Hinata?" Naruto bertepuk tangan heboh mendengar itu dari Sasuke.

"Wooow! Mungkinkah sejauh itu? Haha, itu bukan hal yang mustahil kawan." Naruto menepuk-nepuk pundak Sasuke antusias dengan kemungkinan ini. Sementara Sasuke terdiam dengan pikirannya sendiri.

Setelah acara amal itu, ayahnya hanya memberikan selamat atas kesuksesannya. Dia tidak mengungkit-ungkit lagi hal lain. Tentang Black Couple, Love Line, atau Hinata. Tapi, jika memikirkan pola pikir ayahnya, memang tidak mustahil bahwa ayahnya akan melakukan ini untuk meraup keuntungan. Tapi, perjodohan itu sangat—

Drrrt...drrrt...drrrt...

Ponselnya bergetar saat ia fokus memikirkan tentang kemungkinan itu. Dilihatnya layar, itu dari Itachi. Sasuke menjawabnya.

"Halo..."

.

.

"Sekilas, gaun ini memang terlihat seperti gaun pengantin yang digunakan Haruno Sakura, namun jika anda melihat dengan seksama ada detail-detail yang akan membedakannya." Hinata menjelaskan rincian gaun yang dipakai Ino pada kliennya. Ia menjelaskan semuanya dengan baik. Bagian depan, belakang, atas maupun bawah. Dia tak melewatkannya sedikit pun.

"Jadi bagaimana Nona Karui, apa anda suka?" tanya Hinata. Wanita berkulit gelap itu mengangguk senang.

"Aku sangat suka sekali. Aku akan beli model ini."

Hinata tersenyum. "Terimakasih. Setelah proses pengukuran selesai, kami akan segera membuatnya. Sesuai dengan bentuk tubuhmu agar kau nyaman memakainya."

"Kau pasti akan sangat cocok memakainya. Calon suamimu pasti sangat terpesona padamu. Aku yakin itu." Ino menimpali ucapan Hinata. Karui bereaksi.

"Aku harap begitu. Ngomong-ngomong soal pasangan, berita soal kau dan Uchiha Sasuke, apa itu benar?" tanya Karui yang tiba-tiba kepo tentang berita yang sedang viral sekarang.

Hinata menaikan alisnya, "Maaf?"

"Kau tahu kan tentang Black Couple dan love line-mu bersama Uchiha Sasuke. Itu sangat terkenal sekarang, dan aku sangat penasaran. Apa kau punya hubungan dengannya?"

Hinata menghela napas, lalu berdehem. "Kurasa, sekarang kita sedang membicarakan gaun pengantinmu, Nona." Sebisa mungkin menunjukan senyumnya, Hinata mencoba menguasai situasi.

"Aku hanya penasaran saja."

"Aku tahu, tapi sekarang waktunya kau melakukan pengukuran. Ino, tolong antar Nona Karui ke tempat ukurnya."

Dengan segera, Ino mengajak Karui ke tempat lain. Hinata duduk dengan memegang kepalanya. Klien yang datang akhir-akhir ini sepertinya lebih tertarik mengetahui hubungannya bersama Uchiha Sasuke daripada baju-bajunya. Mungkin awalnya tidak masalah, tapi jika kebanyakan rada jengkel juga sih.

Ino kembali dengan pakaian yang sudah diganti.

"Kau baik-baik saja?"

"Hanya sedikit badmood."

Ino duduk di kursi yang berhadapan dengan Hinata.

"Kurasa di luar sana banyak yang menyukai Black Couple dan kau harus menerimanya." Hinata memelototi Ino. "Ma-maksudku, kau terima itu sebagai kesenangan mereka. Lalu kau bersikap acuh saja." Koreksinya.

"Aku sudah melakukannya dari awal, tapi berita dan artikelnya semakin banyak. Sekarang aku mulai berpikir, kenapa aku harus membantu mereka jika hasilnya seperti ini."

Ino tersenyum pada sahabatnya. "Itu karena kau baik. Atau mungkin kau berjodoh dengan Uchiha Sasuke."

"Apa?!"

"Tenang Hinata, aku hanya bercanda. Jangan marah, ok? Kau sangat sensitif sekali."

Ucapan Ino benar. Mungkin dia memang menjadi sensitif karena hal ini. Tentu saja, saat dia datang kemari, hanya sedikit orang yang mengenalnya. Dalam dua bulan, dia tiba-tiba jadi viral dan semua orang hampir tahu siapa dirinya. Ini cukup membuatnya stres karena kehidupan tenangnya terganggu.

Hinata menarik napas, mencoba tenang.

"Kau benar Ino. Seharusnya aku tak peduli. Aku menjadi sensitif dengan tidak jelasnya. Maafkan aku."

Ino tersenyum, lalu mencubit gemas kedua pipi Hinata.

"Manisnyaaa... tentu saja kau dapat maaf dariku."

Hinata membalas senyuman sahabatnya, "Terimakasih."

Ponselnya berdering, membuat perhatiannya teralih. Hinata mengambil ponselnya.

"Siapa?" tanya Ino.

"Kak Neji," jawab Hinata. Wanita itu pun mengangkat panggilannya.

"Halo kak."

?

"Pertemuan? Dengan Uchiha?"

Kebingungan terjadi pada Hinata.

.

.

Sasuke mengerem mobilnya. Keluar dari sana. Memberikan kunci pada petugas untuk memarkirkan mobilnya.

Di sisi lain, taksi berhenti. Hinata buru-buru turun dari sana setelah membayar ongkosnya.

Keduanya bertemu di depan sebuah restoran mewah. Kali ini, bukan kebetulan.

Keduanya berjalan terburu-buru ke dalam.

"Masalah apalagi ini, Uchiha Sasuke?" Dalam langkahnya, Hinata bertanya mengenai apa yang terjadi.

"Kali ini aku benar-benar tidak tahu. Jangan bertanya seolah aku adalah tersangka."

"Kau memang seorang tersangka."

Ingin meladeni, tapi Sasuke tahu ini bukan waktu yang tepat. Dia berhenti di depan resepsionis.

"Reservasi atas nama Uchiha?"

Setelah ditunjukan arahnya, keduanya kembali berjalan menuju ruangan yang sudah di pesan.

"Kenapa tiba-tiba ada pertemuan keluarga seperti ini? Apa yang mereka inginkan?" Hinata kembali bertanya-tanya. Sementara Sasuke kembali memikirkan hal lain sebelum ia datang kemari.

"Apa mereka merencanakan perjodohan?"

Hinata berhenti tiba-tiba. Tangannya menarik tangan Sasuke untuk ikut berhenti juga.

"Apa maksudmu dengan perjodohan?"

"Kau tahu berita tentang kita sedang viral akhir-akhir ini. Mungkin saja keluarga kita memanfaatkannya untuk meraih keuntungan lebih."

Hinata terdiam. Dia teringat kata-kata gurauan Ino yang mengatakan bahwa mungkin saja Sasuke jodohnya. Membuang napas lelah. Kegilaan macam apa ini.

"Jangan mengatakan hal gila. Ayo kita masuk dan tanya mereka langsung."

Berjalan lebih dulu, Hinata sudah tak sabar ingin tahu kebenarannya. Di belakang, Sasuke mengikuti dengan perasaan yang sama.

Pintu ruangan ada di depan mata. Tanpa ragu, Hinata langsung membuka pintu. Keduanya dapat melihat keluarga masing-masing duduk saling berhadapan. Uchiha dan Hyuuga.

Situasi formal macam apa ini?

Tidak mungkin.

Perjodohan? Mereka bersama?

.

.

TBC

.

Chu-tube= pelesetan dari Youtube

.

Terimakasih sudah membaca dan review. Maaf jika ada typo. See you next time ^^