Title : DISORDER HEAVEN

Chapter : 7/?

Author : Shiro-Rukichii or Shiro Usagi or Shiro_Usachii

Genre : romance, sci-fi, friendship, angst, tragedy, crime, gore, comedy crack

Warnings : SEX SCENE, language, abal dan gaje, typo everywheeerrreee, a wee bit of Yaoi, bloody hell of goreness, blood, dan beberapa gangguan jiwa.

Rating : M

Pairing/characters : Reita aka Suzuki Akira(The GazettE)/Violet Fragnance (OC), Ruki aka Matsumoto Takanori (The GazettE), Uruha or Takashima Kouyou (The GazettE), Aoi or Shiroyama Yuu (The GazettE), Kai or Uke Yutaka (The GazettE), Miyavi (solo), Hizaki (Versailles or Jupiter), Leda (DELUHI), GACKT (solo), Kamijou (Versailles), Sujk (DELUHI), Takeru (SuG), Shinpei (SuG), Maya (LM.C), Aiji (LM.C) and many more of Vi-Kei's artsists

Disclaimer : aku Cuma punya cerita ama konsepnya sama OC ._.v yang lain bukan punyaku, begitu pula perusahan besar kendaraan Suzuki, dan para J-rockernya

Synopsis : people call it Tragedy, but for them, that's the true mask of Fate.

Comment : saya udah pindah ke medan, semenjak tinggal di sini entah kenapa males banget buat nulis. Mungkin karena terlalu banyak pekerjaan atau berbagai masalah yang selama ini tidak saya temui di Kisaran (kampung halaman, kota tempat saya tinggal dari lahir hingga lulus ini) jadi, yaaah... mungkin beberapa project saya akan memakan waktu dari biasanya.. mohon maaf (_ _)

Dan ada karakter baru yang modelnya saya ambil dari SnK atau Shingeki no Kyojin atau Attack On Titan, yaitu Levi dan Eren Jaeger, di sini saya beri nama Eden, karena dia menjadi wanita :D

Yak, ini dia, mungkin agak sedikit dari biasa. Disorder Heaven chapter 6! ^^

Hizaki mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tidak ingin membuang waktu sedikitpun untuk menjemput gadis itu, satu malam sudah cukup untuk membuat otaknya fresh, mau tidak mau ia harus mengikuti apa yang di katakan Hizaki, mesti harus dengan kekerasan, firasatnya tentang kasus kali ini benar-benar menyebalkan, ia menjadi kesal karena terlahir dengan bakat seperti ini.

"goddammit bitch!" sekali lagi ia mendial nomor Violet yang sama sekali tidak di angkat oleh pemiliknya, membuat kemarahannya mencapai ubun-ubun saja. Dan dengan kesal ia menginjak pedal gas.

"hei GACKT" Maya yang sedang berada di dalam mobil bersama GACKT yang menyetir membuka pembicaraan di tengah keheningan mereka. "ada apa?" tanya GACKT dengan tenang, pandangannya tidak lepas dari jalanan yang masih lengang ini.

"apa sebenarnya Cercopes itu?" GACKT menghela nafas dan merilekskan badannya sebentar. "seperti biasa, kau tidak membaca laporan dengan serius" gumam GACKT dan lelaki manis di sebelahnya hanya tertawa garing saja sambil menggaruk tengkuknya.

"dulu sekali aku pernah menangani cracker bernama Jenell, dia benar-benar membuat aku dan Utada kewalahan dengan kemampuannya, dia telah berhasil menjebol beberapa website serta komputer agensi/perusahaan/dan sebagainya yang terkenal di berbagai negara, mencuri informasinya dan menjualnya kepada orang underground. Bahkan ia pernah di sewa pemerintah secara diam-diam. Tetapi tetap saja ia telah melanggar berbagai peraturan berat yang menyebabkan suasana menjadi runyam" GACKT memulai ceritanya dan Maya mendengarkannya dengan seksama, ia melihat jam yang menunjukkan waktu masih pagi menjelang siang. Terlalu awal untuk mendapatkan kasus dan sibuk dengan keadaan sangat tegang begini, tapi apa yang bisa ia katakan sebagai seorang enforcer dan bekerja di agensi kemanan internasional? Ketengangan akan selalu menghantuimu.

"lama ia menjadi buronan pemerintah, hingga Kamijou memintaku untuk mengejarnya, waktu itu aku bekerja berdua dengan Utada, butuh waktu untuk mengejar orang itu, hingga pada suatu hari ia menciptakan sesuatu yang begitu menakutkan di mata siapapun, pemerintah ataupun kriminal, benda itu benar-benar mengerikan. Bagaikan ciptaan dewa" mereka terdiam beberapa saat. GACKT melihat jalanan dengan tenang, ia benar-benar ingat bagaimana damage yang di sebabkan Jennel sendiri waktu itu. Dan itu benar-benar menguras otaknya saat itu. Ia menghela nafas dan melirik ke arah Maya yang sepertinya tidak sabar untuk mendengar cerita selanjutnya.

"benda itu hanya sebuah software berisikan data tidak sampai 100MB untuk installernya, tetapi jika kau sudah menginstall dan menjalankan software itu, aku rasa bisa-bisa Tokyo di ambang kehancuran" dan mata Maya terbelalak mendengarnya, begitu berbahayanya kah Cercopes itu?

"virus dengan kode gila yang bahkan Utada dan agen FBI serta hacker terkenal tidak bisa memecahkannya, kau bisa menghancurkan sebuah bandara dengan sampelnya saja, dan benda itulah yang di namai Cercopes oleh pembuatnya sendiri, Jennel. Alasan ia membuat itu karena ada seseorang yang meyakinkannya untuk membuat itu, dan sampai sekarang kami tidak tahu siapa itu. Ia tidak ingin membicarakannya. Dan kau tahu siapa Jennell itu sendiri?" GACKT menoleh kepada Maya sebentar sambil tersenyum kecil, lelaki manis itu menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana ia tahu? Ia baru saja bekerja di agensi ini 3 tahun lalu. dan kejadian Jennell sudah lama sekali.

"dia temanmu sendiri, Leda" dan rasanya Maya mengerti istilah petir di siang bolong.

"jadi, kau sudah yakin mereka bertemu di sana?" tanya Leda sambil menghisap rokoknya yang kesekian pagi ini, ia sedang menatap layar komputernya dengan pandangan datar.

"tidak seratus persen, tetapi tidak ada salahnya kita mencoba"

"setelah apa yang terjadi, seharusnya kita harus yakin" Aiji mendecak mendengarnya, ia meregangkan tubuhnya yang kaku dan meminum kopinya yang sudah mendingin.

"Leda, kau tahu betapa liciknya mereka, aku yakin hotel satu ini akan meledak"

"you don't say" Leda tertawa pelan dan memutar kursinya sambil menghela nafas panjang. "wait, kita ini sebenarnya orang jahat atau bagaimana? Bagaimana kita bisa membuat lelucon seperti itu?" tanyanya begitu menyadari kalau baru saja ia menertawakan keamanan beratus-ratus orang. Aiji hanya mengangkat kedua bahunya dan menunjukkan deretan gigi putihnya.

"jika inspektur atau presiden mendengar ini kita akan di beri detention"

"you don't say" dan mereka berdua tertawa ringan sekali lagi.

"ahn! Yes! Faster!" ke 5, sudah ke 5 kalinya mereka berdua melakukan ini, 3 di kamar mandi, dan setelah itu mereka melanjutkannya di atas tempat tidur, orang ini seberapa besar staminanya? Violet sendiri merasa sudah sangat kelelahan dan tidak bisa bergerak lagi. Tetapi monster satu ini...

Reita menggeram kuat dan menenggelamkan wajahnya ke leher Violet, ia mencapai klimaksnya dengan beberapa dorongan kasar. Nafas mereka semakin lama semakin tenang setelah beberapa saat, Reita terbaring di sebelah Violet sambil menyisir rambut panjangnya dengan jarinya.

"my phone.." bisik Violet lemah, dan lelaki berambut pirang itu mengernyitkan dahinya. "kenapa?" dengan lemas Violet menunjuk ke arah tasnya yang berada di atas meja kecil di dekat mereka. "handphone ku tadi bunyi, aku rasa itu bos ku" katanya dan Reita sedikit terkejut, selama made love tadi ia sama sekali tidak mendengar suara handphone ataupun suara apapun, apa karena ia terlalu menikmatinya.

"ambilkaaaan" keluh Violet yang menarik-narik rambut Reita, menyebabkan lelaki itu meringis kesakitan. "ouch! Okay! Okay!" serunya sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman kuat Violet, gadis ini benar-benar tidak tanggung untuk menjambak Reita. Menurut Reita yang termasuk berpikiran sedikit waras, ia berpikir kalau menjambak adalah serangan terkakhir dan mematikan wanita. Lelaki itu berdiri dan mengambil handphone yang berada di tas Violet, ia tidak terkejut menemukan sebuah pistol kecil di dalamnya, dan ia tidak akan menanyakannya pada Violet juga agar keadaan aman.

"wow... 40 missed calls, dari Hizaki semua" dan saat itu juga Violet bangkit dari tempat tidur dan menyambar handphone nya, Hizaki panik, ada sesuatu yang terjadi.

"VIOLET! Open the damn door now!" mereka berdua terkejut mendengar suara ketukkan kasar dan teriakkan Hizaki dari luar sana, dengan segera mereka memakai baju mereka dengan terburu-buru, karena di setiap detiknya ketukkan dan hinaan serta teriakkan Hizaki semakin kuat.

"Hizaki! Calm the fuck down!" teriak Violet saat ia membuka pintu villa itu. Bukan di jawab atau di sahut Hizaki, lelaki cantik itu malah mendorong Violet ke dalam, membuat gadis itu protes kebingungan dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman kuatnya. "Aku harus berbicara denganmu sekarang" bisiknya, dan saat ia melewati Reita yang sedang beridir di lorong dengan bingung, ia berhenti dan tersenyum manis padanya.

"Reita-san, maaf atas gangguannya, tetapi saya harus berbicara dengan anak ini, bisa tunggu sebentar dan beri kami privasi?" Hizaki bertanya dengan nada yang manis, walaupun matanya memancarkan ancaman mara bahaya yang akan datang jika menentang lelaki dengan pakaian wanita, bagaimanapun juga menentang orang seperti ini, sama saja bunuh diri, Reita tidak takut, ia malah tidak peduli dengan ancaman diam dari Hizaki, tetapi ia tetap mengangguk dan tersenyum padanya. "Silahkan" kata Reita dengan pelan dan Hizaki langsung mendorong Violet ke dalam sambil terus tersenyum pada Reita hingga mereka menghilang di dalam kamar tamunya.

Dan dengan cepat Reita berjalan ke kamar pribadinya dan mengambil handphonenya, dengan cepat ia mengirim pesan pada Aoi.

"what the fuck!? Mereka sudah tahu!?" Aoi tiba-tiba saja sudah menelepon bosnya begitu ia menerima pesan dari Reita, lelaki pirang itu menghela nafas panjang dan mengertakkan giginya, ia juga sama sekali tidak percaya.

"Jennell, ini pasti ulah orang itu! Fuck! Kita tidak bisa membiarkan Vio masuk ke dalam misi secepat ini-" "Reita! I'm leaving!" tiba-tiba saja suara Violet menggema dari luar sana, dengan cepat Reita berlari keluar dan menemukan Violet telah menutup pintu rumahnya.

"wait! VI!" teriak Reita yang cepat-cepat berlari keluar menyusulnya, saat ia membuka pintu ia sudah melihat Violet sudah masuk ke dalam mobil dan Hizaki sudah menyalakan mesinnya.

"ada urusan mendadak! Nanti akan aku sms! Bye! I love you!" serunya dari jendela pintu mobil sambil melambaikan tangannya, dan Reita tertinggal di sana, berdiri seperti idiot.

"Aoi, cepat kau peringatkan yang lain. Aku akan kesana sekarang" Reita memutuskan sambungannya dan masuk ke dalam villa dengan berbagai sumpah serapah, paginya yang indah telah di hancurkan, dan ia tidak bisa menyalahkan siapapun karena ini memang salahnya, dan juga Violet, ia berharap sekali kalau ia bukan dirinya sekarang.

-hotel Athena's ballroom-

Reita berdiri di antara beberapa para pejabat yang sedang berbincang dan memegang segelas champagne, ia berpakaian formal, dengan tuxedo hitam, kemeja putih, dan cravat, seperti biasanya, ia menstyle rambutnya dengan fauxmohawk. Perusahaan Suzuki merayakan pesta untuk keluarnya produk baru mereka, orang mengenal dia dengan Reita, si wakil direktur Suzuki corp. dengan membuat mereka percaya bahwa direktur Suzuki benar-benar tidak bisa datang, di tempat ini Reita juga mengundang para pembelinya, dan salah satu anak buahnya akan menuntun mereka.

"ah… cantik sekali mereka, apakah anda mengenal siapa mereka?" Tanya salah satu direktur muda pada Reita, lelaki pirang itu terlihat bingung lalu menoleh ke arah tangan rekan kerjanya itu menunjuk, dan ia terkejut mendapat seorang wanita berambut hitam gelombang yang di hiasi dengan pita berlian hitam, matanya berwarna caramel yang jelas-jelas adalah contact lens, ia memakai dress tube yang panjang dan simple, yang membelit tubuh sintalnya dengan sempurna, ia juga memakai sarung tangan fingerless hitam yang sampai ke sikunya, make upnya terpusat di bagian mata, membuat matanya semakin tegas dan bibirnya di poles dengan lipstick merah. Membuat bibirnya terlihat penuh dan sensual. Reita menarik nafas panjang, Violet. Ia langsung tahu di mana transaksinya, jaringan apa yang mereka gunakan?

"ah… mereka kenalan sekertaris saya, Yuu. Sebentar ya, saya akan menyapa mereka" kata Reita yang menepuk bahu kenalannya itu dan berjalan kea rah Violet serta 2 temannya yang memakai pakaian formal.

"mereka telah datang" bisik Reita di mic kecilnya yang tersembunyi di balik cravatnya, dari headset kecilnya yang terpasang di telinganya, ia dapat mendengar Aoi mengumpat pelan.

"aku perlu kau memisahkan mereka. Panggil Kai" bisiknya. "baiklah, tungggu kami" kata Aoi dari seberang sana. Reita berjalan dengan mantap kea rah Violet dan kedua temannya. Gadis itu memunggunginya.

"hei Vio" panggilnya, dan gadis itu berbalik, memasang wajah bingung. "who are you?" tanyanya dengan aksen british yang berat. Reita terkejut mendengarnya, ia yakin sekali gadis ini adalah Violet, tubuh dan pandangannya benar-benar mirip dia. Tapi aksen dan suaranya, berbeda, Violet memiliki suara lemah lembut bagaikan gadis yang rentan, tetapi berbicara dengan tegas dan jelas. Tetapi gadis ini suaranya sensual, dan sedikit berat.

"Reita, ternyata kau benar-benar di sini, sudah kami duga.. perkenalkan, dia adalah nona Swann. Teman kami dari London. Miss Swan, this is Reita, he is the headmaster representative. Violet's lover" Leda memperkenalkan antara temannya dan Reita, Reita sedikit termangu dan menjabat tangan wanita itu dengan pelan. Sesuatu mengatakan kalau dia adalah Violet, Reita yakin itu.

"pleasure to meet you Mr. Reita. I can't belive you stole that girl's heart" katanya dengan aksen inggris dan suara yang sama, Reita tersenyum canggung dan mengangguk pelan.

"oh? I'm the one who had fallen head over heels to her actually" katanya dan wanita itu memasang senyum lebih lebar, dan tertawa pelan.

"good evening" tiba-tiba suara berat yang agak ringan terdengar di sana, Hizaki menoleh dan menemukan seorang lelaki berambut hitam kelam yang seluruh rambutnya di beri gel dan di tarik ke belakang, terlihat rapi dan dandy, matanya tajam, bibirnya tebal dan penuh, rahang yang tinggi dan badan yang tegap, senyum yang ramah. Memakai kemeja hitam dan tuxedo beige.

"Mr. Shiroyama, it's been a while" kata Swann dengan ramah saat melihat Yuu atau Aoi. "ah.. Miss Swann, you made it. I'm so happy you came" katanya dengan ramah sambil menjabat tangan Swann dan menempelkan pipinya.

"this is Hizaki and Leda, everyone, this is Mr. Shiroyama Yuu. My co-worker. Mr. Reita's secretary" Swann memperkenalkan Leda dan Hizaki. Mereka berdua berjabat tangan di sertai senyum dengan Shiroyama.

"dan ini adalah Uke Yutaka, teman dekatku" seorang pemuda berpakaian jas putih dan kemeja hitam muncul di depan mereka, ia berbadan tinggi tegap dan berambut coklat, begitu ia tersenyum terlihat lesung pipi yang dalam, membuat wajahnya semakin manis.

"do you enjoy the party Miss Swann?" Tanya Reita dengan sopan dan Swann mengangguk dengan mantap, matanya yang di dominasi dengan warna hitam itu berkedip dan tersenyum pada lelaki pirang ini. "it's great. I love it"

"excuse me, would you mind to dance with me?" Tanya Aoi yang tiba-tiba saja mengulurkan tangannya, dan dengan gemulai Swann menerimanya. "I'd love to" katanya dengan pelan dan mereka berdua berjalan ke lantai dansa yang sudah di siapkan.

"kemana Violet?" tanya Reita pada Hizaki, lelaki cantik itu hanya mengangkat kedua bahunya. "tidak mau ikut" jawabnya dengan santai, dan Reita mengerutkan dahinya. Benarkah Violet tidak mau ikut? Jika ia ada di sini dengan pasti Violet akan ikut, ia yakin gadis itu tidak akan melewatkannya.

"hei, mau berdansa?" tanya Kai pada Hizaki, ia mengulurkan tangan kanannya di sertai dengan senyum ramah. Dan dengan senang hati Hizaki menyanggupinya, mereka berdua berjalan ke lantai dansa mengikuti para tamu yang berdansa dan meninggalkan Leda dan Reita berdua.

"benrkah dia tidak mau ikut?" tanya Reita yang masih ragu, ia menaikkan satu alisnya dan memandang Leda dengan curiga. Lelaki cantik itu mengangguk, ia memakai suit formal yang sangat cocok dengan dirinya. "aku tidak bohong, dia bilang kalau dia terlalu capek, aneh.. padahal dia sudah kami berikan liburan" gumam Hizaki sambil mengerutkan dahinya, mendengar itu akhirnya Reita mengerti kenapa, ia hanya meng-oh dan mengganti topik pembicaraan mereka.

Seadangkan di sisi lain, di atas lantai dansa, Swann dan Aoi berdansa dengan anggun sekali, rambut panjang wanita itu melambai seiring dengan gerakkan tubuhnya, mereka tersenyum satu sama lain, tanpa berkata apapun, dan di sisi lain ada Hizaki dan Kai yang juga memiliki gerakkan dan ekspresi yang sama. Tetapi mereka mulai berbicara, dan Hizaki memandang Kai dengan nakal.

"kau memiliki senyum yang manis sekali dan mata yang indah" kata Hizaki yang memperhatikan wajah Kai. Lelaki itu semakin tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. "Terimakasih, anda juga sangat cantik" dan ia memutar tubuh Hizaki, lalu merapatkan tubuh mereka kembali, memegang pinggang kurus itu dengan erat dan menuntun langkah mereka bedua.

"it's a pity that Reita's girlfriend didn't come, i wished to see her actually"

"or in fact, you want to trap her" kata Hizaki yang membuat Kai mengerutkan dahinya. "don't folish me pyromania-boy" lanjut Hizaki dan Kai memasang senyum palsu andalannya. "you knew" gumamnya dengan pelan. "hmm.. yes" kata Hizaki yang mendekatkan wajahnya ke samping kepala Kai. "in fact, i already know your leader" bisiknya lagi dan pegangan di tangannya menguat dengan drastis, dan ia tidak peduli. Malah memasang penuh kemenangan. "kalian benar-benar membuat kami kebingungan, kalian memang hebat, dan aku yakin kau lah di balik semuanya"

Kai tidak mengatakan apapun untuk sesaat, ia hanya tersenyum dan membelai pipi Hizaki dengan punggung tangannya. "tidak, aku tidak di baliknya, Akira lah yang membuat keputusan" kata Kai dan Hizaki tersenyum kembali.

"dirty little slut" Aoi membuka mulutnya, ia memecahkan keheningan antara dirinya dan Swann dengan itu, perempuan berbaju hitam itu hanya tertawa pelan saja. "i didn't sleep with you or anything Mr. Shiroyama"

"but you slept with anyone. Am i right?"

"no you don't darling, i'm not cheap, i'm priceless"

"you sell your soul to satan"

"oh no, i give myself to him, you foolish man" dan Aoi tersenyum, di balik dari pikiran mereka, masing-masing orang sudah tahu apa yang terjadi, siapa orang-orang ini,dan apa mereka, tapi hanya satu orang, satu pengetahuan, satu kepribadian. Tidak lebih, hanya mereka yang tahu, dan diri orang yang sedang berdansa dengan mereka. Tidak ada yang lain.

"jangan membohongiku Leda, aku tahu Violet ikut" kata Reita yang sedang menyesap anggur merahnya, sedangkan Hizaki menghisap rokoknya dengan santai, mereka di tengah pesta, benar, tetapi bukan berarti Hizaki tidak bisa menyesap rokoknya. Awalnya tubuhnya menegang ,tetapi tetap rileks juga, dan itu tidak terlewat oleh mata terlatih Reita.

"miss Swann, atau aku bilang miss Fragrance?" Leda tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya, mencoba meyakinkan Reita kalau Violet tidak ikut dengan mereka, tetapi, saat ia akan membuka mulutnya, tiba-tiba saja terjadi ledakkan di ujung ruangan itu, menyebabkan para tamu yang lain termasuk Reita dan Leda terkejut, asap mengepul dari sana, sangat banyak, para tamu berteriakkan dan beralarian keluar, menyelamatkan diri. Sedangkan Leda terpaku melihat ledakkan itu bersama Reita.

"hei! Where are you going!?" Aoi berteriak kepada Swann yang pergi meninggalkannya, mengikuti arus kemana arah tamu berlari, lelaki berwajah tampan itu terheran, ia memang mendengar suara ledakkan, tapi setahu dia, Miss Swann adalah anggota Purgation juga. Tidak mungkin ini terjadi. Dengan instingnya, ia mengejar Miss Swann

"jelaskan apa yang kau lakukan" perintah Kai dengan pelan, ia menahan Hizaki dengan cara merangkulnya dari belakang, tangan kanannya menodongkan pistol kecil di balik punggung Hizaki. Lelaki cantik itu tidak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya. "maaf Yutaka-kun, tapi temanku membutuhkanku" katanya dengan pelan dan dengan mudah melepaskan diri dari Kai dengan menyikut rusuknya, membuat Kai secara reflek melepaskan Hizaki dan memegangi bagian yang sakit. Mengambil kesempatan yang ada Hizaki melarikan diri ke tempat Leda.

"apa itu?" tanya Reita yang terheran, ia melihat kepulan asap dengan seksama, ia yakin itu bukan ledakkan biasa, dan tiba-tiba saja ia mendengar suara thud dari sampingnya, membuat ia menoleh. Dan terkejut melihat Leda yang terduduk, wajah pucat bagaikan mayat, memeluk tubuhnya sendiri yang bergetar. Memandang kejadian ini dengan ketakutan yang asli. "n-no.. bukan.. ini bukan salahku... tidak.." gumamnya secara pelan, ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, dan Reita dapat melihat air mata mulai bertumpuk di hujung matanya.

"Leda.. apa itu?" tanya Reita setenang mungkin, melihat Leda bereaksi seperti itu, perasaannya mulai tidak enak. Dengan spontan Leda menoleh ke arah Reita, dan menatapnya dengan mengerikan, membuat lelaki ini terkejut sekali. "cepat lari! Sebelum ini bertambah buruk!" serunya. "Leda! Kau baik-baik saja!? apa ini? Apa kau tahu sesuatu?" tanya Hizaki yang berlari menghampiri Leda dan berjongkok di sebelahnya, tidak memperdulikan Reita. "a-aku tidak tahu.. ini bukan aku yang melakukannya.. tapi.." Leda mulai menangis dan menundukkan kepalanya. "ini adalah bagian cercopes.. sample sebelum benda itu sempurna, aku menyebutnya Succubus" kata Leda dengan suara bergetar, membuat Hizaki dan Reita terkejut. Dengan segera Reita meninggalkan mereka, ia tahu mereka akan bisa menjaga diri sendiri, tapi yang lebih penting ia harus segera menghubungi anak buahnya.

"cepat lari!" teriak Leda. "tidak, kau ikut" kata Hizaki dengan tegas. "ini hanya sample, kau pasti bisa menyelesaikannya. KAU YANG MEMBUAT INI! KAU HARUS MENYELESAIKANNYA ATAU HAL YANG SAMA AKAN TERJADI!" teriak Hizaki tiba-tiba sambil memegang bahu Leda dengan erat sekali. Leda menatapnya dengan tidak percaya, benar juga, dia yang menanam ini semua, dia yang harus menuainya sekarang, atau akan semakin parah.

"Reita! Cepat kau kejar Swann!" Aoi tiba-tiba menghubungi Reita, ia sekarang berada di mobil van bersama para anak buahnya yang sedang menahan serangan virus succubus, dari monitornya ia dapat melihat percikan listrik dan sesuatu yang aneh mulai muncul dari dalam gedung. "apa? Jangan bilang kalau itu Violet!" teriaknya dengan terkejut. Harusnya ia tidak menghiraukan Leda tadi, brengsek.

"aku tidak tahu! Tapi ia terlihat mencurigakan! Aku akan mengurus ini! Kau cepatlah!" seru Aoi dan tanpa jawaban Reita mematikan hubungannya, ia mengganti jasnya dengan cepat menjadi jaket kulit, dan mengambil slayer hitam yang ada di kantungnya, sambil berjalan cepat ia memakai slayer itu dan berjalan kembali ke dalam gedung.

Di dalam saluran bawah tanah, yang gelap, lembab dan berbau tidak sedap, terdengar suara derapan langkah dan suara yang nafas yang terburu-buru, dan rintihan dari seorang lelaki yang berlari dari sesuatu. Wajahnya terlihat begitu ketakutan, bagaikan ia sedang di kejar oleh setan. Di belakangnya terdapat seorang wanita berambut gelombang dengan dress tube hitam, stiletto sexy dan sarung tangan hitam terbelit di tangannya yang ramping, dari dalam gelap itu, warna violet dari mata wanita itu menyalak bagaikan mata iblis yang memandang mangsanya.

Setelah memperdekat jaraknya dengan buruannya, Violet mengangkat pistol kesayangannya, sambil berlari ia membidik lelaki itu, pembeli Akira Suzuki, orang yang akan memegang cercopes. Hyde dan Aiji telah melacak Tora.

Setelah ia berhasil menetapkan bidikkannya, ia menarik pelatuknya, dan partikel hijau neon keluar dengan kecepatan tinggi keluar dari moncong pistol itu, dan tiba-tiba saja tembakkannya terhalang oleh tembakkan lain, menyebabkan ledakan lumayan besar yang membuatnya mundur terhempas beberapa meter, asap mulai mengepul di sana, dan suara yang di sebabkan oleh benturan 2 partikel berbahaya itu menyebabkan tempat itu sedikit terguncang, Violet segera memfokuskan pandangannya pada orang yang bias menghambat tembakkannya itu. Dan matanya melebar saat sesosok lelaki berslayer memgang pistol dengan jenis yang sama menatap luru Violet.

"Akira Suzuki" geramnya, matanya semakin menyala, emosi kemarahan mulai kembali meluap-luap dirinya, kenangan yang bangkit jika mendengar Suzuki, dan kini menatap langsung dirinya, ia tidak sadarkan diri lagi, mata dan hatinya buta oleh amarah dendam ini.

"I finally found you!" serunya, dan berlari ke arah Akira sambil menembakkan beberapa tembakkan padanya, yang dapat di hindarinya. Ia melirik lelaki yang ketakutan dan hamper mengompoli celananya itu dan dengan gerakkan tangannya ia menyuruh lelaki itu pergi. Tanpa berpikir panjang lelaki itu melakukan langkah seribu. Di ikuti Akira.

"Tunggu kau brengsek!" seru Violet yang mempercepat larinya, Akira berbelok ke kanan, berlawanan arah dengan lelaki tadi, tetapi Violet tetap mengikutinya, aksi saling mengejar terus berlanjut hingga beberapa menit, tidak ada yang memperlambat langkahnya dan tidak peduli kemana mereka pergi, hingga akhirnya Violet melihat celah, ia mengangkat pistolnya dan menembakkan pelurunya ke arah lantai di depan Akira, menyebabkan lelaki itu terhenti seketika, dan ia langsung berbalik, menyambut Violet yang mengajak pertarungan hand-to-hand. Akira langsung memegang pergelangan tangan Violet yang akan hampir menghantam wajahnya itu, dan mereka bertarung dengan sengit.

Sesuai dugaan Akira, Violet bukanlah petarung biasa, gerakkannya luwes dan efisien, bahkan pukulannya benar-benar terasa, tetapi Akira tidak bisa membiarkannya begitu saja, ia harus segera lepas dari Violet.

Tapi nasib berkata lain, tiba-tiba saja tangan Violet meraih rambutnya dan ia menjambak rambut Akira tanpa belas kasih, menyebabkannya mengerang kuat dan memegangi tangan Violet agar ia melonggarkan cengkramannya pada rambutnya itu.

"akhirnya!"

"kerja bagus nona Fragnance" terdengar suara berat yang parau dari kegelapan, suara langkah kaki berat akibat sol tebal dari boot militer itu menggema di lorong bawah tanah itu. Violet dan Reita terdiam, mereka melihat asal suara itu, dan menemukan pria pendek berukuran 160 cm. dengan rokok di tangannya, berpakaian formal sekali, bahkan ia memakai cravat, berambut hitam dengan potongan tahun 80-an, dimana rambut bagian bawahnya di cukur, sedangkan atasnya dibiarkan sedikit panjang, matanya berwarna abu-abu, Violet dapat melihat kantung mata yang begitu hitam, membuat mata tajamnya semakin mengerikan. Violet mengeal lelaki ini.

"Agent Levi, what are you doing here?" Tanya Violet sambil menguatkan cengkramannya pada rambut Reita, membuatnya sedikit meringis kesakitan. Orang yang di panggil Levi itu hanya diam saja, memasang ekspresi datar sambil menodongkan pistolnya pada Akira atau Reita.

"Violet Fragnance, you are underarrest" terdengar suara wanita yang merdu dari belakang mereka, mendengar itu Violet dan Reita membeku seketika.