Tidak ada satupun yang berani buka suara di dalam mobil yang tengah melaju itu. Di kursi depan Ravi sibuk memeriksa dokumen yang ia bawa, memastikan tak ada satu pun yang tertinggal. Selain tangan kanan, Ravi juga merangkap sebagai sekretaris Kai dikantor. Disampingnya Pak Lee menyetir dengan konsentrasi yang tinggi. Seperti biasa daerah hutan kawasan tempat tinggal Kai terkadang diselimuti oleh kabut yang mengurangi jarak pandang.
Kai duduk di kursi belakang sendirian, memperhatikan kabut lewat jendela mobil dengan angan melayang, teringat kembali pada pertemuan pertama dengan Kyungsoo. Masih terekam jelas dalam benak, hari itu pun berkabut seperti sekarang.
Memikirkan gadis yang ia tinggal, Kai jadi ingin melihatnya. Sedang apa Kyungsoo di basement? Apa menulis di kardus lagi? Mungkin baru satu jam mereka berpisah namun rasa rindu itu tetap saja ada.
Dia hendak merogoh ponsel di dalam saku jas untuk memeriksa aplikasi yang langsung tersambung dengan cctv namun, tiba-tiba mobil mendadak oleng dan hampir tergelincir.
"Ada apa?" tanya Kai dengan alis berkerut. Merasa terganggu.
Sang supir menoleh kebelakang dengan mimik yang ketakutan, jika Kai kesal maka nasibnya dalam bahaya. "Maaf tuan jalanan licin."
"Berhati-hatilah" kata Kai singkat, sepertinya dia sedang dalam mood yang baik. Biasanya Kai akan marah atau mengamuk jika ada pegawainya yang melakukan kesalahan sekecil apapun.
"Semoga bukan pertanda buruk" gumam Ravi pada dirinya sendiri. Dia melirik Kai yang memasukan smartphonenya kembali ke dalam saku jas. Tuannya itu memilih fokus ke arah jalanan yang mereka lewati, berhati-hati jika hal buruk terjadi lagi.
.
,
Held Hostage
© Shinkyu
.
.
Kaisoo fanfiction
,
,
,
"Biarkan aku menghajarmu untuk terakhir kali." Nancy mendekati dengan tatapan bengis dan penuh dendam.
Tubuh Kyungsoo yang lebih mungil dari Nancy bergetar ketakutan. Wajahnya sudah babak belur, seluruh tubuhnya bagaikan mati rasa menahan segala nyeri yang tak terkira. Dia bahkan kesulitan untuk berdiri karena patah kaki yang Kai sebabkan belum sembuh benar. Kini Nancy belum puas juga?
Kyungsoo khawatir, bagaimana jika dia terlebih dahulu mati sebelum bisa keluar dari rumah ini?
"Ampuni aku" dia menggapai Nancy dengan jemarinya yang lemah namun Nancy langsung mendorong tubuhnya menjauh bagaikan dia adalah kotoran menjijikan.
"Lihat dirimu" Nancy menarik rambut Kyungsoo ke atas sehingga kepalanya mendongak secara paksa. Nadi dileher Kyungsoo tampak tegang menunjukan seberapa keras dia menahan nyeri tak terkira. Seberapa sakit yang dia rasakan tak membuatnya menangis atau meringis lagi. Dia hanya terdiam dengan tatapan hampa.
"Mengapa orang sepertimu harus seberuntung itu? Mendapatkan semua cinta dan kasih sayang tuan Kai?!" cibir Nancy penuh rasa iri.
Air mata mengalir sepi di pipi Kyungsoo saat diingatkan mengenai Kai. Pria yang paling mencintainya dan juga menyakitinya hingga sekarang.
Hantaman keras di wajahnya datang sepersekian detik kemudian, membuat penglihatan Kyungsoo menjadi buram. Dia menggelengkan kepala dan terus berkedip berusaha mengembalikan fokus dengan jelas. Mimik wajahnya bagaikan orang linglung. Sorot matanya mencoba memfokuskan penglihatan pada sosok Nancy yang tengah tertawa puas sebelum kegelapan datang menelan kesadarannya.
.
.
.
.
.
Suara tangisan itu sangat menyayat hati menarik simpati Kyungsoo untuk bangun dan mencari. Di tengah kegelapan gadis itu mengulurkan tangan berharap menggapai sesuatu yang mungkin tubuh orang yang ingin ia temukan.
"Kai?"
Langkahnya menjadi lebih cepat saat tangisan itu terasa dekat. Kyungsoo memancingkan mata saat melihat bayangan punggung lebar yang familiar. Walau diliputi keraguan Kyungsoo tetap menyentuhkan jemarinya di punggung itu pelan dan seketika isak tangis itu berhenti.
"Kamu bilang mencintaiku"
Bisikan itu tertiup angin, tanpa intonasi menuntut namun mampu menggores organ terdalam Kyungsoo.
Air mata mengalir membentuk aliran sungai di pipi pucat Kyungsoo, rasa bersalah dan kerinduan membuatnya tak bisa mengeluarkan suara hanya mampu ikut menangis bersama suaminya.
"Lalu mengapa kau ingin pergi?"
.
.
Byuur!
Kelopak mata Kyungsoo terbelalak secara paksa merasakan guyuran air datang menerpa seluruh tubuhnya hingga ia basah kusup. Mulutnya terbuka untuk bisa mengais oksigen.
"Bisa-bisanya kamu pingsan disaat aku tengah bersenang-senang!" suara Nancy yang melengking menarik kesadaran Kyungsoo, bayangan wajah sedih suaminya kini sirna menyisakan rasa sesak tak terkira.
"Bangun! Kita pergi dari sini sebelum matahari terbit!"
Dibawah basement tidak ada ventilasi apalagi jendela untuk bisa melihat matahari. Kyungsoo tidak tahu sudah berapa lama Kai pergi dan berapa lama dia disiksa Nancy. Jika Nancy mengatakan matahari sudah mau terbit berarti saat ini sudah malam menjelang pagi.
"Bangun! Kau tuli?" Nancy memerintah lagi, tak peduli dengan tubuh Kyungsoo yang mengigil hebat dan wajah babak belurnya yang pucat. Sebelum Nancy kehilangan kesabaran dan melukainya lagi. Jemari mungil yang lemah itu mencari sebuah topangan untuk berdiri.
Dia berpegangan pada tembok dan berusaha untuk bangkit dan saat itu jutaan nyeri menyerang seluruh tubuh yang penuh luka seolah-olah meronta meminta bahwa diri tak sanggup untuk memaksa. Kyungsoo mengigit bibir hingga dirasa cairan karat mengalir dari bibir keringnya. Air mata bagaikan sudah tak tersisa. Wajahnya sudah pucat pasi bagaikan tak ada lagi pembuluh darah yang mengalir disana.
Terengah-engah Kyungsoo melangkah menyeret tubuh rapuhnya. Mungkin jika ibunya melihat keadaannya saat ini, beliau bisa pingsan akan penderitaan putri tunggalnya.
"I-ibu.." tanpa sadar dia memanggil dengan putus asa, sosok malaikat yang selalu ada melindunginya sejak kecil. Teringat dengan orangtuanya yang menunggu kepulangannya disana membuat kekuatan Kyungsoo yang tinggal sedikit kembali terpacu. Dia menyeret kakinya menyusul Nancy yang mulai menaiki tangga. Gadis bersurai hijau itu melenggang begitu saja meninggalkannya tanpa repot-repot menoleh, apa lagi membantu memapah.
Tangga dihadapannya Kyungsoo tatap ngeri, bagaimana bisa dia membawa tubuhnya naik keatas sana? Entah Kyungsoo harus memuji Kai atau malah memakinya yang menghancurkan sebelah kaki Kyungsoo sehingga dia benar-benar tak bisa beranjak untuk berdiri apalagi lari dan menaiki tangga ini.
Dari lantai atas sebuah kayu dilemparkan, mengenai dada Kyungsoo. Dia menekan dadanya dan terbatuk hebat.
"Pakai itu" sang pelaku berkata dingin.
Kyungsoo masih terbatuk namun tetap menuruti Nancy, setidaknya Nancy masih berbaik hati memberi Kyungsoo topangan berdiri untuk menaiki tangga ini.
Kyungsoo mengambil kayu itu kemudian mulai membawa tubuhnya menaiki tangga dan keluar dari sana dengan tubuh basah kuyup juga berurai air mata, menahan nyeri dan sesak tak terkira.
.
.
.
Nafas Kyungsoo bagaikan terengut paksa, dia terengah hebat ketika telah berhasil keluar dari basement. Pandangannya mengeledah sekeliling lantai satu kediaman Kim. Masih lah sama, mewah dan hampa. Diluar sana gelap gulita bagaikan tak ada satupun nyawa, hanya dia dan Nancy saja.
Kyungsoo sudah hafal betul, tak akan ada pelayan yang keluar jika sudah jam tidur, mereka dikamar masing-masing kecuali jika Kai atau dia memanggil namun akan ada beberapa bodygruad Kai yang berpatroli di taman.
"N-nancy, b-agai.. Ma-na..." Kyungsoo merintih, mencoba memanggil Nancy dan menayakan perihal bodygruad itu tetapi sulit sekali mengeluarkan suara dan gadis keji itu tampaknya tak peduli, terus saja melangkah mendahului menuju pintu belakang di dapur tempat biasa para koki membuang sampah. Mungkin mereka akan keluar lewat sana.
"Sudah kuberikan obat tidur." balas Nancy pada akhirnya. Kyungsoo menghembuskan nafas lega.
Nancy sudah berada di dalam dapur sementara Kyungsoo masih menyeret tubuhnya menyusul dengan langkah dipaksakan. Beberapa kali dia jatuh dan tersungkur namun Kyungsoo menolak untuk menyerah begitu saja. Dia mencoba merangkak dengan mengandalkan dengkulnya yang masih kuat.
Sebuah pajangan foto besar dirinya dan Kai yang tengah tertawa di taman mawar mereka menghentikan pergerakan Kyungsoo. Dia mencoba kembali berdiri dan memperhatikan foto itu dengan sorot rindu yang tersirat. Perhatiannya sepenuhnya tercurah pada foto itu dimana disana mereka terlihat begitu bahagia dengan saling berpelukan.
Kyungsoo tidak bisa melupakan saat itu, dimana mereka saling mencintai satu sama lain. Kai dulu sangat menjaganya bahkan takkan membiarkan seincipun dirinya terluka.
Kini yang tersisa hanya air mata, cinta masih terasa namun akal sehat Kyungsoo untuk bisa terbebas dan pulang mengusai dirinya.
Jikalau Kai benar-benar cinta dia akan menemuinya lagi dan mengejarnya saat ini. Hati kecil Kyungsoo berharap Kai datang dan membawanya kedalam pelukan. Kyungsoo ingin Kai merengkuhnya dan mengusap pipinya seperti biasa.
Hati meronta ingin tinggal namun kakinya tetap melangkah meninggalkan. Kyungsoo tidak bisa mengorbankan keluarganya dan membiarkan fisiknya tersiksa karena cinta.
"Hei cepatlah!"
Susah payah Kyungsoo menghapus air mata, menguatkan hati dan kembali melangkah.
Setiap langkah yang Kyungsoo tapaki dengan kaki terlukanya dan juga kayu yang ronta. Jutaan maaf dia bisikan untuk suaminya.
Semoga Kai baik-baik saja, tanpa kehadirannya kelak. Nama Kai takkan pernah Kyungsoo hilangkan dalam kenagan. Walau seberapa keras Kai menyakiti hingga tubuh ini remuk redam rasa cinta itu terus saja ada dan tak hilang.
Pintu belakang itu Kyungsoo buka dengan jantung berdentum keras, sebentar lagi dia akan pulang. Kyungsoo akan terbebas. Senyum samar terukir dibibir berdarahnya. Dia menoleh terakhir kali, memperhatikan kediaman Kim yang mewah dan sepi, saksi cintanya yang begitu besar untuk sang suami. Kyungsoo membuang muka lalu menutup pintu itu dengan kepala menunduk kebawah. Satu tetes air mata lolos, terjatuh bersamaan dengan hatinya yang hancur.
.
.
.
Kai menoleh waspada dengan mata elangnya yang memincing. Sekeliling bandara ramai seperti biasa namun perasaannya mengatakan ada sesuatu yang akan hilang.
"Tuan?" Ravi memandangnya bingung karena Kai tiba-tiba berhenti berjalan.
"Kyungsoo?" panggil Kai hampa dengan nada suara melamun.
"Nyonya Kyungsoo di mansion tuan"
Kai tetap tak bergeming, masih terpaku dan tak bergerak hingga Ravi dengan sopan menepuk pundaknya.
"Sebaiknya kita segera pergi."
.
.
.
Gonggongan anjing menyambut tatkala kaki Kyungsoo menapak pada rumput. Dia telah sepenuhnya keluar dari mansion berkat bantuan Nancy yang membius semua penjaga.
Kyungsoo melupakan Alpha, anjing siberian husky milik Kai yang jago mencium bau seseorang. Kai pernah menjagak Kyungsoo bermain dengan Alpha namun Kyungsoo terlalu takut untuk menyentuhnya. Anjing itu sangat besar hampir menyamai tubuh mungilnya.
Tubuh Kyungsoo mengigil ketakutan, dia menyeret kakinya mengikuti Nancy ditengah kegelapan. Alpha terus saja mengongong seolah memanggil Kai untuk datang dan memberitahukan ada seseorang yang mencurigakan.
Semoga Alpha diikat sehingga tak bisa menerkamnya. Kyungsoo berharap dalam sanubari tak mengurangi kecepatan kakinya. Dia baru bisa bernafas dengan benar saat gerbang besar telah terlewati.
Kyungsoo tak perduli bagaimana Nancy mendapatkan semua kunci, sepertinya dia benar-benar memiliki tekad kuat untuk bisa mengusirnya dari sini.
"Aku hanya mengantarmu sampai sini." ucap Nancy ditengah kegelapan hutan pinus.
Kyungsoo mengangguk, tak tahu lagi harus berkata apa. Dia mulai menyeret kaki menapaki tanah hutan dengan kakinya yang telanjang. Beberapa kali ranting menusuknya namun Kyungsoo sama sekali tak peduli. Dia harus secepatnya pergi sebelum seseorang datang dan kembali menangkapnya lagi.
.
.
,
Gadis bersurai pirang itu terbatuk hebat, dia mengalami flu setelah memaksakan diri hujan-hujanan saat mengambil jemuran. Tangannya terulur untuk menggapai segelas air di meja nakas namun batuk kembali datang hingga tanpa sengaja jemarinya menyengol gelas itu hingga pecah berserakan.
Wendy mengumpat, terpaksa bangkit untuk mengambil air baru di dapur.
Memang mansion selalu sepi saat malam hari namun entah mengapa malam ini terasa begitu mencekam. Wendy mengusap pundaknya sendiri mempercepat langkah kaki menuju dapur tetapi tetesan air bercampur dengan darah menghentikannya.
Tubuhnya tersentak hebat dan tak bisa lagi menahan diri untuk tak berteriak. Bagaikan merasakan hal sama di luar sana Alpha kembali mengoggong bersamanya.
.
.
.
Kai hampir memasuki jet pribadinya jika saja Ravi tak menarik lengannya paksa. Tubuh pria itu bergetar dan ekspresi wajahnya begitu ketakutan.
Tanpa buka suara Kai mengeluarkan smartphone yang sedari tadi tersimpan dalam saku jas. Dia menghubungkan dengan cctv dan mulai memeriksa waktu mundur, beberapa jam sebelumnya.
Waktu menunjukan saat Kai memeluk Kyungsoo terakhir kali kemudian meninggalkan gadis itu sendiri. Kyungsoo melamun dengan ekspresi menggemaskan hingga sosok pelayan yang Kai kenali muncul dan mulai memberikan Kyungsoo pukulan dan siksaan beruntun.
Di sampingnya Ravi sesekali memekik, terkejut luar biasa akan tindakan berani Nancy sedangkan Kai hanya diam. Tatapan mata pria itu tak terbaca. Waktu bergulir begitu lambat Kyungsoo hampir sekarat dan basah kuyup tiba-tiba Nancy pergi disusul dengan Kyungsoo yang tertatih, Kai menduga bahwa kedua gadis itu sudah menaiki tangga dan meninggalkan basement.
"Tuan bagaimana ini?" Tanya Ravi cemas. "Kita harus mengejar nyonya sebelum dia jauh"
Kai hanya tersenyum.
.
.
.
Desiran angin berhembus menimbulkan suara-suara dedaunan dan gesekan ranting. Ditengah kegelapan dan keheningan hutan sosok gadis berpakaian dress yang sudah kotor oleh injakan kaki penyiksaan dan darahnya sendiri terus saja susah payah berlari walau dalam sekali pandang melihat keadaannya sekarang dia pasti akan pingsan.
Tanpa kenal lelah gadis itu terus saja menyeret tubuhnya sendiri, susah payah, dengan nafas berat dan keringat yang mengalir dikeningnya.
Kakinya bergetar hebat, wajahnya hampir membiru namun sorot mata Kyungsoo tak melemah sedikit pun. Panjatan doa terus terlantun walau dia hampir putus asa.
Kyungsoo tak tahu berapa lama dia berada dalam hutan dan kini mentari mulai datang. Sinarnya membantu memberikan penerangan. Hati Kyungsoo yang tadinya dingin dan tak memiliki harapan bertahan kini mulai menghangat seiring dengan cerahnya cuaca yang seolah-olah menyemangati.
Matanya memincing begitu samar melihat jalan yang di aspal. Bahagia bukan main yang ia rasakan andaikan bisa Kyungsoo pasti melompat sekarang.
Dia mempercepat gerakan namun kebahagiaannya membuatnya sedikit sembrono. Tak sengaja dia menginjak ranting tajam hingga kakinya kembali terluka.
Kyungsoo meringis dan berusaha keras untuk tak menangis. Di tengah kesibukannya mengurusi luka baru suara langkah kaki terdengar terbawa semilir angin. Kepalanya dengan cepat menoleh kesana-kemari, kewaspadaan meningkat menjadi beberapa tingkat. Gadis itu mencoba bangkit lagi tak memperdulikan darah yang mengalir dikaki.
Setelah perjuangan keras, Kyungsoo berhasil menapak di aspal. Tidak bisa di deskripsikan lagi bagaimana keadaan tubuhnya sekarang namun semua rasa sakit yang ia rasakan terbayar. Untuk pertama kali setelah penyekapan Kai tangisan bahagia mengalir.
Keberuntungan tak berhenti disana saat sebuah mobil muncul dan berhenti di sampingnya.
Kyungsoo tak bisa mengeluarkan suaranya, dia begitu lemah dan hanya bisa tersenyum paksa.
"Astaga, kau tak apa?" sosok wanita cantik keluar dari mobil itu dan membawa tubuh Kyungsoo kedalam pelukan. Disusul dengan pria yang menyetir mulai ikut melihat keadaannya.
Kyungsoo tak bisa menjawab, kelegaan yang membanjiri dada membuatnya dikuasai rasa lelah tak terkira. Akhirnya dia menutup mata dan membiarkannya terlelap.
Tanpa diketahui, dari balik pohon sosok berpakaian serba hitam memantau mereka dan menyampaikan setiap pergerakan pada seseorang lewat earphonenya.
.
.
.
Goncangan pada tempat yang ia tiduri mengembalikan kesadarannya. Kyungsoo membuka matanya paksa dan menemukan dirinya berada di dalam sebuah mobil yang melaju.
"Hei, kau sudah sadar?" sosok wanita yang Kyungsoo ingat menemukannya menyapa.
Susah payah Kyungsoo bangkit, menyapu sekeliling bingung.
"Kami akan membawamu ke rumah sakit" kata pria yang sedang menyetir. Dia menoleh sekilas pada Kyungsoo yang berada di bangku kedua.
"Namaku, Jaejoong" wanita disamping Kyungsoo memperkenalkan diri dengan senyuman teduh. "dan dia suamiku Yunho" pria yang mengemudi mengangguk.
Kyungsoo ingin sekali menjawab namun yang keluar dari kerongkongan hanya erangan. Jaejoong langsung memberinya air mineral dan Kyungsoo langsung meminum air itu hingga tandas.
"T-erim..a ka-si-h.. aku m-au pulang" gumam Kyungsoo susah payah.
"Sebaiknya kita obati lukamu, lapor polisi baru kami akan mengantarmu pulang" Yunho menyampaikan rencananya namun Kyungsoo tak setuju. Prioritas utamanya saat ini adalah kembali ke rumahnya yang aman bersama keluarganya. Kyungsoo takut Kai segera datang dan berhasil membawanya kembali.
Gadis mungil itu terisak lemah, bahunya bergetar. "Ak-u ingi-n pula-ng"
Jaejoong tanpa kata menarik Kyungsoo kedalam pelukan. "Ssstt baiklah" sahutnya iba. Sementara Yunho menoleh tampak tak setuju tetapi tatapan ancaman Jaejoong membuatnya terpaksa mengikuti keinginan gadis mengenaskan yang mereka tolong.
Perjalanan dari Busan menuju Seoul membutuhkan waktu beberapa jam, ditambah mereka harus menepi untuk makan. Kyungsoo tetap tak mau diobati atau diganti baju kotor dan penuh darahnya dia bersungguh-sungguh tak mau membuang waktu kecuali untuk mengisi perut.
Waktu menujukan pukul tujuh malam saat mereka tiba di kediaman keluarga Do. karena terhambat beberapa kendala, seperti ban yang tiba-tiba bocor atau kemacetan parah.
Seorang penjaga keamanan menghampiri begitu melihat mobil asing. Kyungsoo dituntun turun dari mobil oleh Jaejoong. "Nona Kyungsoo?" Teriak pria paruh baya itu.
"Paman" Kyungsoo tersenyum lemah.
Yunho turun dari mobil menjelaskan keadaan pada sang penjaga keamanan takut dia salah paham dan mengira bahwa pelaku yang membuat Kyungsoo babak belur sekarang adalah ulahnya dan Jaejoong.
"Paman Kangin, kemana ayah dan ibu?" Kyungsoo bertanya setelah menyadari rumahnya kosong dengan lampu yang dimatikan.
Kangin terlihat merasa bersalah untuk menjawab. "Mereka sudah tak disini lagi nona, keluarga nona sudah pindah ke Sanghai tempat nenek anda"
Air mata merembes menuruni pipi Kyungsoo, kesedihan kembali mencengkram dadanya. Dia tak bisa melihat keluarganya padahal dia telah berharap banyak. "Kenapa?" bisik Kyungsoo lagi sambil terisak hebat.
"Saat anda tak kunjung kembali, mereka terlalu sedih untuk tinggal disini. Karena rumah ini penuh dengan kenangan anda"
Hati Kyungsoo mencelos. "A-pa paman menyimpan nomor keluargaku di Sanghai?"
Kangin menggeleng dengan menyesal.
Bahu Kyungsoo menurun dengan lemas. Harapannya kini tinggal keluarga Park karena Kyungsoo tak memiliki sanak saudara lagi di Seoul. Memikirkan keluarga Park membuat senyum harapan muncul. Mereka menyayanginya tanpa syarat apa lagi eomma Yuri dan Chanyeol pasti mereka akan mengambutnya dengan bahagia. Dada Kyungsoo membuncah oleh rasa tak sabar, dia tersenyum lebar.
"Saya akan membayarkan taksi jika anda ingin ke rumah tuan Chanyeol" Kangin menawarkan bantuan bagaikan bisa membaca apa yang dipikirkan Kyungsoo. Mengenai hubungannya dengan Chanyeol tentu penjaga keamanannya itu tahu karena Chanyeol selalu mengunjungi rumahnya dan mengantar jemput Kyungsoo sejak kecil.
"Kami saja yang mengantar" disisi lain Yunho kembali menyarankan. Tampak belum tega melepas Kyungsoo.
Kyungsoo menggeleng sungkan, Yunho dan Jaejoong sudah berbaik hati memberinya tumpangan dari Busan menuju Seoul. Kyungsoo sudah cukup merepotkan. "Aku naik taksi saja"
Jaejoong menghela nafas sedih. "Kau yakin?"
"Iya terimakasih atas bantuan kalian" Kyungsoo memeluk Jaejoong menyampaikan terimakasihnya dengan tulus dan hanya tersenyum singkat pada Yunho yang memandangnya hangat.
Kedua orang dewasa itu melambai tak rela pada Kyungsoo sebelum memasuki mobil mereka dan ketika mobil itu melaju meninggalkan Kyungsoo. Kyungsoo berdoa semoga kebaikan mereka dapat terbalaskan suatu saat nanti.
.
.
.
Pintu taksi itu Kyungsoo tutup dengan bersemangat, dia membungkuk singkat pada sang supir saat taksi itu melaju meninggalkannya di depan kediaman Park. Ketika tubuhnya kembali tegak kumpulan bunga dan kumpulan cahaya lilin indah disekitar rumah itu menghapus senyumnya.
Kakinya yang pincang, berdarah dan penuh luka kembali Kyungsoo seret memasuki kediaman itu. Banyak sekali orang-orang mengenakan dress dan jas mahal tengah berbincang dan tertawa elegan.
Pancaran gembira itu kini hilang berganti dengan sorot yang kosong seolah tak bernyawa. Kumpulan bunga mawar dan lantunan biola romantis seakan mencemoohnya.
Ditengah tamu-tamu yang berpakaian resmi Kyungsoo berdiri rapuh, gemetaran, dan penuh luka. Menyentuh salah satu bunga dengan telunjuknya yang lemah, tak menyangka. Apakah ini mimpi?
Foto Chanyeol dan Baekhyun yang terpajang diluar menampar Kyungsoo kembali ke dalam realita. Air mata mengalir sepi, rasa sakit itu menusuk dada dengan panah kasat mata.
Seluruh tubuhnya sakit dan hatinya kini hancur berserakan, berada di dalam pesta tunangan dan sahabatmu sendiri setelah kau berusaha menyelamatkan diri setengah mati.
Para tamu memandangnya jijik bahkan ada yang terang-terangan mengusirnya dan mengatainya orang gila. Mungkin karena penampilannya? Kyungsoo tak peduli lagi.
Di seretnya kakinya yang berdarah itu menuju lantai dansa. Bagaikan belum cukup rasa sakit yang ia terima. Disana pria yang biasa menyambut Kyungsoo dengan tawa dan senyuman ceria, merengkuh Kyungsoo kedalam dekapan hangat tengah memeluk orang lain dan dia adalah sahabat Kyungsoo sendiri, Byun Baekhyun.
Baekhyun mengalungkan lengan ke sekeliling leher Chanyeol. Pasangan itu menggoyangkan tubuh mereka yang nyaris menempel mengikuti lantunan irama biola. Tubuh Kyungsoo gemetar hebat dia mendekati dan tanpa sengaja oleng menyengol sebuah vas bunga hingga menarik semua perhatian padanya.
"Kyungsoo!" Luhan lebih dulu yang menyadari, dia berlari ke arahnya setelah melepaskan diri dari dekapan Sehun. Reflek Kyungsoo memundurkan diri tak mau bersentuhan karena seluruh tubuhnya kotor, dia tak mau mengotori gaun indah Luhan.
Luhan berteriak tak percaya, dia mulai menangis keras. Hatinya begitu sakit akan keadaan Kyungsoo dan rasa bersalah atas pesta Chanyeol saat ini.
Kelopak mata Chanyeol terbelalak dia menelan salivanya susah payah dan segera melepaskan pelukan Baekhyun dilehernya.
"K.. Kyungsoo?" panggilnya memastikan penglihatannya tak bermasalah.
Kyungsoo tersenyum remeh pada semua orang.
"Ja-di disaat aku m-enghilang, kalian berpesta seperti ini" celoteh Kyungsoo dengan air mata yang menurun deras.
Sosok pria memakai pakaian serba hitam hadir dibelakang Kyungsoo tanpa Kyungsoo sadari.
"Saat aku tak ada, kalian dengan mudah membuangku dari hidup kalian begitu saja." lanjut gadis bermata bulat itu lagi sembari mencengkram gaun kotornya.
Yuri menangis. "Nak bukan begitu." dia melangkah mendekati namun lagi-lagi Kyungsoo memundurkan diri sambil menggeleng menolak didekati.
Kyungsok menoleh pada Chanyeol, menatap pria itu penuh rasa sakit. "Diluar sana aku mencoba bertahan hidup, aku berharap banyak padamu oppa. Tapi lihatlah kau sedang asik bermesraan, bertunangan dengan temanku sendiri."
Dia teringat akan hari-hari penyekapan Kai, juga saat dimana dia berusaha keluar dari hutan yang gelap sendirian selain orang tua hanya nama Chanyeol yang ia harapkan dan ia sebut dalam doa.
"Kyungsoo biar aku jelaskan." potong Chanyeol.
Susah payah Baekhyun mencoba menahan diri tetapi melihat kondisi saat ini, dimana ibu Chanyeol menangis merasa bersalah, Luhan ikut menangis dipelukan Sehun juga Chanyeol... Tunangannya itu kini memusatkan perhatian pada Kyungsooo, sejak kedatangan Kyungsoo Chanyeol bahkan tak meliriknya sama sekali.
Kyungsoo datang dan Baekhyun kembali terlupakan, dia benar-benar muak. Mengapa Kyungsoo malah datang disaat semua akan menjadi miliknya? Mengapa Kyungsoo kembali mengacau?
"Hidup tak selamanya berpusat padamu! Memang kami harus peduli padamu terus apa?" sindir Baekhyun.
"Baek!" Chanyeol berteriak tak terima.
"Ha ha ha" Kyungsoo memaksakan sebuah tawa walau suaranya terdengar sumbang. Dia membalikan tubuh kecewa. Tak ada lagi yang bisa Kyungsoo pertahankan, dia salah jika berharap pada semua orang ini. Seharusnya Kyungsoo tak usah pulang jika berada dipelukan Kai lebih baik dari pada bersama mereka yang menyayanginya namun hanya bualan semata.
Chanyeol menahan lengannya dengan panik. "Tunggu Kyungsoo, lain kali kita bertemu dan bicara oke?"
Tanpa mau melihat wajah mantan tunangannya, Kyungsoo menggelengkan kepala. Melepas lengan Chanyeol lemah. "Aku tidak ingin melihatmu lagi, tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah jelas."
"Baguslah kalau kau menyadarinya, Kyung." Baekhyun mencibir tampak puas akan keputusan Kyungsoo.
Kyungsoo meloloskan setetes air mata penuh kecewa, dan hanya bisa mengangguk pada Baekhyun "Selamat tinggal." bisiknya.
Susah payah ia kembali melangkah mencoba keluar dari sana, mengabaikan teriakan Luhan dan nyonya Park. Entah kemana lagi Kyungsoo akan pergi yang penting dia harus keluar dari sini segera. Mungkin dia akan mempertimbangkan kembali kedalam pelukan Kai, itu pun jika lelaki itu masih menerimanya. Jika pun Kai akan membunuhnya Kyungsoo tak peduli lagi, rasa sakit yang ia dapatkan malam ini menyadarkannya untuk tak banyak bermimpi dan berharap pada manusia lagi.
Nyeri tak terkira menyebar begitu cepat, Kyungsoo terengah dan kakinya terlalu lemah untuk berusaha berjalan. Dia terjatuh tak bisa menopang tubuhnya lagi, sosok lelaki memakai jas mewah dan Chanyeol bersamaan memegang lengannya namun Kyungsoo mendorong Chanyeol tanpa pikir panjang. "Jangan menyentuhku."
Dia kemudian menoleh pada lelaki lain yang tengah memandangnya dalam dengan senyuman hangat yang ia rindukan.
"Kita pulang?" bisik Kai dalam. Suara berat Kai menggetarkan perasaan Kyungsoo. Tatapan tajamnya seolah-olah menenggelamkan Kyungsoo larut dalam cinta, menghipnotis Kyungsoo untuk mengangguk begitu saja menyerukan kepalanya ke dada Kai mencari perlindungan juga menahan malu diperhatikan dan dicemooh semua orang.
Kai dengan mudah menggendong Kyungsoo, beberapa bodyguard Kai menahan Chanyeol yang akan mengejar mereka. Samar Kyungsoo mendengar teriakan dan sesuatu yang dipecahkan juga jeritan-jeritan para tamu lain Kyungsoo terlalu takut mengangkat wajahnya dan melihat apa yang Kai lakukan pada mereka yang menjahatinya.
Kyungsoo diturunkan disamping mobil hitam mewah Kai. Pria itu membuka mobilnya mengisyaratkan untuk masuk dan Kyungsoo tersenyum. Tetapi lambat laun paras tampan Kai perlahan menjadi buram.
Gadis bersurai hitam itu berkali-kali mengedipakan mata, berusaha memfokuskan penglihatan namun semuanya terasa sulit. Kyungsoo merasakan semuanya tampak memutar memusingkan.
"T-tuan" Ravi bersuara dibelakang Kyungsoo. "Nyonya berdarah"
Kepala Kyungsoo reflek menunduk untuk mencari darah yang Ravi maksud, kakinya memang sebelumnya berdarah tapi apa memang separah itu?
Ternyata bukan kaki yang ia dapatkan darah namun aliran darah itu merembes di dressnya. Selangkangannya mengeluarkan banyak sekali darah, membentuk aliran sungai deras. Cairan merah pekat itu turun melewati paha kemudian betisnya hingga menggenangi tanah yang Kyungsoo pijak.
Kyungsoo mengangkat wajahnya yang pucat bagai mayat dan melihat Kai yang memandangnya dengan mata terbelalak sebelum semuanya kembali menjadi gelap.
TBC
Maaf karena harus update lama, karena ada musibah di rl :'(
Semoga kalian puas dengan Chapter ini, tolong tinggalkan jejak setelah membaca, entah vote atau komentar. Agar aku merasa dihargai atas kerja kerasku menulis ff ini, xD terimakasih yorobun.
