Disclaimer : Tite Kubo.
A/N : Pertama-tama …aqu ucapin rasa terima kasih yang sebesar-besarnya bagi yang udah review..thx banget sangat membantu qu memberi semangat..hehehe maaf kalo seandainya lama.. seperti yang kalian tahu kemaren kemaren aqu sedang menjalani MOS. Dan yang terakhir semoga Maria-san udah kembali sehat seperti biasanya dan cepat keluar dari rumah sakit ^^. Maaf kalo mengecewakan T.T. Dan maaf juga buat Dini-san aku bener-bener gak bermaksud untuk gak menghormatin qmu, qmu tau alasannya . sekali lagi maaf banget. *membungkuk dalem-dalem*. Selamat membaca, Arigatou.
A Night Under White Moon.
Chapter 7
The Explanation
Nel dan Orihime berjalan di koridor menara 4, dalam diam. Orihime masih begitu terpaku dengan Halibel.
'Apa aku salah menolongnya?' Hal itu selalu dipikirkan Orihime di sepanjang perjalanan. Sedangkan, Nel diam seribu bahasa, Nel sendiri masih terkejut dengan hal yang dilakukan Ulquiorra kepada Halibel.
"Nel." Sebuah suara mengagetkan Orihime dan Nel dari pikiran mereka. Kedua perempuan itu segera menoleh ke sumber suara. "Kenapa kau tidak mengajak ku?" Tanyannya. Grimmjow muncul dihadapan Nel.
"G-Grimmjow." Ucap Nel kaget. Sontak Nel memalingkan wajahnya. Grimmjow mengangkat sebelah alisnya melihat kelakuan Nel.
"Hei, ada apa dengan mu? kenapa kau tidak menatap ku seperti biasanya?" Grimmjow pun mendekatkan wajahnya dengan wajah Nel. Orihime hanya menatap kedua Espada itu dengan tatapan bingung.
"Eng..tidak ada apa-apa." Jawab Nel dengan sedikit ragu.
'Bagaimana ini? Aku tidak dapat menymbunyikan rasa malu ku, karena kejadian kemaren.' Batin Nel.
'Ada apa dengan Nel? Dia begitu..gugup..tidak biasanya dia seperti ini. Apa yang terjadi antara Nel dan Grimmjow?' Pikir Orihime dalam hati.
"Kalau begitu lihat aku." Pinta Grimmjow, Nel hanya diam, dia semakin memalingkan wajahnya. "Hei, hei." Grimmjow menyentuh dagu Nel, sehingga Nel menatap Grimmjow.
"Itu jauh lebih baik." Grimmjow berseringai. Melihat hal itu Nel segera memalingkan wajahnya lagi.
'Ada apa ini? Tenang Neliel, tenang.' Nel menarik nafas panjang dan mencoba menenangkan dirinya kembali. ' Tapi aku tidak bisa tenang, bagaimana ini?' Teriaknya dalam hati. Sedangkan, Orihime tersenyum melihat tingkah laku Nel.
"A-ano N-Nel." Nel terkejut melihat Orihime.
'Astaga aku lupa kalau masih ada Orihime-chan.' Orihime tertawa kecil melihat tingkah Nel yang begitu gugup dihadapan Grimmjow. Hal ini semakin membuat Nel malu.
"G-Grimmjow tolong kau antarkan Orihime-chan ke kamarnya, aku ingin mengunjungi Halibel." Grimmjow pun manatap Orihime.
"Hoi Nel." Saat Grimmjow berbalik Nel sudah menghilang dari sana. "Tch.." Grimmjow berdecak kesal, dan segera berjalan didepan Orihime.
"Akh." Tiba-tiba Orihime mengerang dan memgang telapak tangan kanannya. Espada berambut biru itu langsung berbalik dan menatap Orihime.
"Ck..kau kenapa, onna?"
"Tidak apa-apa, hanya tiba-tiba aku merasa nyeri di telapak tangan ku." Jawab Orihime dengan senyuman manisnya.
"Tangan mu bengkak, Onna." Ucap Grimmjow setelah melihat telapak tangan Orihime. "Apa yang kau lakukan barusan, onna? Hingga tangan mu bengkak begitu?" Tanya Grimmjow.
"Aku hanya…" Orihime kembali mengingat hal terakhir yang ia lakukan.
"PLAK."
"Akhh." Orihime menutup mulutnya. Grimmjow mengangkat sebelah alisnya. "Aku..aku menampar Ul..qu..ior..ra." Grimmjow terkejut mendengarnya.
"Apa? Kau menampar Ulquiorra?" Grimmjow bertanya dengan antusias.
"I-iya." Jawab Orihime pelan.
"Kenapa kau menamparnya?"
"Mungkin..karena..Halibel.." Jawab Orihime lirih.
"Halibel?" Grimmjow menatap Orihime.
"Tadi Ulquiorra memberikan hukuman pada Halibel." Grimmjow memutar tubunya dan melanjutkan jalannya, Orihime pun mengikuti dari belakangnya.
"Jadi dia sudah memberi hukuman bagi Halibel?"
"Iya."
"Apa ynga dia lakukan?" Tanya Grimmjow lagi.
"Dia hampir membunuh..Halibel.." Orihime menundukkan kepalanya.
"Lalu, kenapa kau menampar Ulquiorra?"
"Aku ingin menyembuhkan Halibel, tapi Uqluiorra melarangnya."
"Apa yang Halibel katakan?"
"Dia bilang..dia tidak membuthkan..belas kasihan ku…" Ucap Orihime pelan
"Ulquiorra mengenal Halibel, dia tahu jika kau menolognya Halibel tidak akan menyukai itu." Orihime terkejut mendengarnya.
'Sedekat itukah hubungan mereka berdua?' Pikirnya.
"Apakah dulu mereka sangat dekat?" Tanya Orihime. Espada bertato 6 di punggungnya itu menghentikan langkahnya.
"Mereka itu...sama." Orihime menatap Grimmjow yang masih menghentikan langkahnya.
"Ma-maksud mu?" Tanya Orihime, Grimmjow kembali melanjutkan jalannya.
"Tidak dapat diungkapkan, tapi kami sesama Arrancar tau kesamaan mereka, mungkin hal itu yang membuat mereka saling mengerti dan dekat." Mendengar jawaban Grimmjow, Orihime kembali menundukkan kepalanya.
'Aku tidak sama dengan Ulquiorra, pantas saja kami tidak saling mengerti.' Orihime terkejut. 'Ke-kenapa aku sedih?'
"Kenapa kau bertanya hal ini?" Tanya Grimmjow mendadak. Orihime tersentak mendengarnya.
"A-aku hanya…" Lalu Orihime mendapat sebuah ide. "kau sendiri ada masalah apa dengan Nel?"
"Aku tidak punya masalah apa-apa." Jawabnya santai.
"Tapi Nel sangat aneh."
"Iya, entahlah aku tidak mengerti dengan pikirannya itu. Kita sudah sampai, tugas ku selesai, aku mencari Nel dulu." Grimmjow berbalik dan mulai bejalan.
"Tu-tunggu Grimmjow." Tahan Orihime.
"Apa?"
"Kau dan Nel sangat dekat ya?"
"Maksud mu?"
"Ha-habis kalian selalu bersama."
"Hemm mungkin begitu."
"A-apa kau menyukai Nel?" Grimmjow terkejut.
"Suka?" Grimmjow membalikan tubuhnya dan menatap Orihime.
"Haha..tidak perlu dijawab. Sampai jumpa Grimmjow." Orihime melambaikan tangannya, Grimmjow pun berbalik dan berjalan pergi.
'Suka? Aku? Menyukai Nel?' Pikirnya.
Sementara Orihime masih berdiri di depan pintu kamarnya. Dia menatap pintu besar yang berhadapan dengan kamarnya.
'Apakah itu kamar Ulquiorra?' Tanyanya dalam hati. Pintu besar itu, pintu biasa tidak ada yang istimewa. Hanya polos tidak ada hiasan dan ornament yang menghiasi pintu itu.
'Kosong.' Itulah yang dipikirkan oleh Orihime. Pintu itu terasa hampa, bagi Orihime. Tanpa disadari Orihime, dia berjalan menuju kamar itu. Saat, merasa dekat Orihime menyentuh pintu itu.
'Dingin, seperti..' Orihime kembali mengingat saat dia bersentuhan dengan Ulquiorra. 'Ulquiorra.' Orihime menundukkan kepalanya. Perlahan Orihime mendorong pintu besar itu, dan melangkah masuk. 'Kamar ini…' Kamar Ulquiorra tidak berbeda jauh dengan kamar Orihime, hanya saja kamar ini lebih luas. Perabotan di kamar Ulquiorra hanya perabotan standard. Hanya tempat tidur, sofa, meja, dan lemari. Tapi yang membuat Orihime kagum dengan kamar Ulquiorra adalah jendela besar yang mengelilingi dinidng kamar Ulquiorra sehingga sinar bulan benar-benar menerangi kamar Ulquiorra. 'Kamar ini..hampa.' Ya, Orihime merasa betapa hampanya kamar ini, walaupun menurut nya kamar ini sangat indah, tapi dia merasa kamar ini hampa, layaknya pemandangan padang pasir yang hampa dari jendela besarnya.
Tes..tes..
Ulquiorra berjalan menuju kamarnya, tangannya yang masih berlumuran darah Halibel menetes di lantai. Ulquiorra tidak ingin memasukkan tangannya kedalam sakunya seperti biasa, karena hal itu dapat menodai bajunya. Saat berjalan dia bertemu dengan Grimmjow.
"Ulquiorra..bagaimana dengan Halibel?"
"Begitulah."
"Aku dengar kau ditampar perempuan itu?" Ulquiorra menatap Grimmjow dengan tajam. "Haha..tidak perlu dijawab. Apa kau melihat Nel?" Tanya Grimmjow.
"Dia bersama Halibel sekarang."
"Kau tetap membiarkan Halibel hidup?"
"Aizen-sama tidak memerintahkan ku untuk membunuh Halibel."
"Tapi kau membunuh Loly dan Menoly, kau tidak adil. Hanya karena Halibel."
"Mereka berdua hampir membunuh perempuan itu, aku rasa itu adalah hukuman yang setimpal."
"Terserah." Grimmjow kembali berjalan, saat melewati Ulquiorra, Grimmjow teringat kata-kata Orihime.
"Hei, Ulquiorra." Ulquiorra mengehntikan jalannya.
"Apa lagi?"
"Apa kau tahu apa itu suka?"
"Aku harus kembali ke kamar ku, aku tidak memiliki waktu menjawab pertanyaan aneh mu." Ulquiorra mengacuhkan pertanyaan Grimmjow begitu saja dan mulai melangkah pergi.
"Tch." Grimmjow langsung bersonido kehadapan Ulquiorra.
"Menyingkirlah dari sana." Grimmjow berseringai.
"Tidak akan sampai kau menjawab pertanyaan ku."
"Tch, suka itu abstrak Grimmjow, saat kau selalu merasa senang melakukan sesuatu atau bersama siapapun. Dapat diartikan kalau kau suka dengan orang itu." Grimmjow mengangkat alisnya.
"Apa maksud mu Ulquiorra?"
"Tch..Kau membuang-buang waktu ku." Ulquiorra mulai kesal.
"Ayolah, jelaskan dengan contoh yang lebih singkat." Ulquiorra pun memejamkan matanya sejenak.
"Yang terakhir, Kenapa kau bertarung?" Tanya Ulquiorra.
"Karena aku menyukainya." Jawab Grimmjow.
"Apa kau senang melakukannya?" Grimmjow mengerutkan keningnya.
"Tentu saja."
"Aku sudah menjawab pertanyaan mu, menyingkir dari hadapan ku, Grimmjow."
"Hei..kau belum menjawab apa-apa."
"Kau masih belum dapat mengerti apa itu suka?" Ulquiorra semakin kesal menghadapi Grimmjow yang berdiri dihadapannya itu. Grimmjow berpikir sejenak.
"Ah..iya aku mengerti, baiklah kau boleh pergi." Grimmjow segera menyingkir dari hadapan Ulquiorra.
"Aku membenci mu Grimmjow." Ulquiorra melangkah melewati Grimmjow.
"Haha..begitu juga aku." Grimmjow berseringai mendengar perkataan Ulquiorra dan melangkah pergi.
Ulquiorra pun kembali berjalan santai menuju kamarnya. Setelah, 15 menit, dia sampai di lantai paling atas menara 4, saat dia menginjak kan kakinya di lantai itu dia mersakan reiatsu Orihime berada di kamarnya.
'Kenapa reiatsu perempuan itu ada di kamar ku?' Ulquiorra langsung berjalan lagi menuju kamarnya, dan membuka pintu besarnya itu. Saat dia masuk ke kamarnya, dia menemukan Orihime menyentuh kaca jendela kamarnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Orihime terkejut mendengar suara Ulquiorra dan menoleh ke belakang.
"Ul..qui..orra." Orihime menatap tangan Ulquiorra yang berlumuran darah.
"Aku tidak suka mengulangi pertanyaan ku."
"A-aku…hanya…"
"Apa aku memerintahkan mu untuk masuk ke kamar ku?" Ulquiorra berjalan mendekati Orihime.
"Ti-tidak."
"Kenapa kau masuk ke kamar ku?" Ulquiorra semakin mendekati Orihime. Orihime hanya diam dan menundukkan kepalanya. "Aku bertanya pada mu."
"Aizen-sama mengizinkan kami untuk menghukum siap pun yang masuk ke kamar kami tanpa izin." Ucap Ulquiorra dingin. Orihime terkejut mendengarnya. Ulquiorra semnakin dekat dengan Orihime. Orihime mundur kebelakang, dia takut menatap Ulquiorra dan tangannya yang berlumuran darah itu. Saat Ulquiorra semakin dekat dan Orihime ingin mundur kebelakang tapi jendela kaca itu menahan Orihime.
"Kau tidak ingin menjawab?" Ulquiorra berhenti dihadapan Orihime.
"A-aku.." Orihime menggerak-gerakkan bola matanya.
"Kau takut pada ku?" Orihime menatap Ulquiorra.
"A..ku.." Orihime ingin berjalan dan menghindari Ulquiorra, tapi Ulquiorra segera menghalangi Orihime dengan tangannya. Sehingga, tangan kanan Ulquiorra yang berlumuran darah mengalir di kaca jendelanya.
"Aku belum mendapatkan jawaban dari mu."
"Aku…" Kini Orihime sangat dekat dengan Ulquiorra, jantungnya berdegup kencang menatap mata hijau emerald Ulquiorra.
'Apa yang harus aku katakan? Aku..aku…' Orihime pun memejamkan matanya sejenak. Mata abu abu Orihime menatap mata hijau Ulquiorra dengan yakin.
"Aku..tidak takut."
"Brak." Tangan kiri Ulquiorra menabrak kaca jendelanya.
"Kau tidak takut pada ku? Apa kau yakin? Aku bisa membunuh mu sekarang." Ulquiorra berkata pelan seolah berbisik.
"Tidak, aku tidak takut."
"Aizen-sama tidak akan melindungi mu."
"Aku tahu." Jawab Orihime tanpa ragu. Ulquiorra pun menurunkan tangannya. Orihime hanya dapat memejamkan matanya. Lalu, Ulquiorra membalikkan badannya.
"Pergilah." Printahnya. Orihime membuka matanya.
"Ulquiorra."
"Pergi." Orihime berjalan melewati Ulquiorra.
"Maafkan aku tadi menampar mu dan masuk ke kamar mu." Orihime segera membuka pintu kamar Ulquiorra dan keluar dari sana. Ulquiorra sendiri segera mencuci tangannya dan merebahkan dirinya di tempat tidurnya. dan memikirkan perkataan Orihime.
'Aku yakin di matanya tadi terpancar sinar ketakutan terhadap ku, tapi hal itu hilang dalam sekejap.'
Hal yang sama di lakukan Orihime ketika sampai dikamarnya dia segera merebahkan diri di tempat tidurnya.
'Tadi aku sangat dekat dengan Ulquiorra.' Wajah Orihime memerah. 'Apakah dulu Halibel dan Ulquiorra sedekat itu?' Orihime memejamkan matanya dan tertidur.
Di kamar Halibel.
"Wow..kamar mu jadi jauh lebih besar, Halibel." Nel masuk ke kamar Halibel. Halibel langsung menoleh dari tempat tidurnya.
"Iya begitulah." Nel segera berjalan dan duduk ditepi tempat tidur Halibel.
"Bagaimana keadaan mu?"
"Darahnya sudah berhenti, tapi lukanya belum menutup."
"Begitu, bagaimana perasaan mu?"
"Biasa saja."
"Bukan itu maksud ku, bagaimana perasaan mu hampir mati di tangan Ulquiorra?" Halibel mengalihkan pandangannya dan menatap langit-langit kamarnya.
"Menyebalkan sekaligus menyedihkan." Nel tersenyum mendengar jawaban Halibel. Halibel langsung melirik Nel. "Dimana Grimmjow? Biasanya kalian bersama, ada apa?" Wajah Nel seketika berubah, dia sedikit malu.
"Kami.." Nel langsung menceritakan kejadian kemarin.
"Kau menyukainya?" Tanya Halibel.
"Hah? Ti-tidak mungkin." Jawab Nel gugup.
"Kalau kau tidak menyukainya, kenapa harus malu?"
"Aku hanya.." Perkataan Nel terhenti saat Grimmjow masuk ke kamar Halibel. "Grimmjow!" Teriak Nel kaget.
"Ada apa dengan mu, Nel?" Nel segera bangkit dan mendorong Grimmjow keluar. "Hei, hei apa-apaan ini?"
"Keluar! Tidak sopan kau masuk ke kamar perempuan." Nel segera menutup pintu. Seketika terdengar pukulan keras di pintu itu.
"Hei Nel!" Teriak Grimmjow dari luar.
"Ada apa dengan mu? kau tidak menyukainya kan? Tenang saja."
"Entahlah, aku juga tidak tau kenapa? Akh sudahlah, aku disini dulu ya, hingga Grimmjow pergi." Pinta Nel.
"Iya." Halibel pun memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar. Nel hanya duduk disofa dan membaca buku kecilnya. Setelah beberapa jam Nel sudah merasa kantuk menyerangnya.
"Hoamm, aku harus kembali, sudah malam. Sepertinya Grimmjow sudah pergi." Nel berjalan mendekati pintu kamar Halibel. Saat dia keluar dia terkejut melihat Grimmjow tertidur didepan kamar Halibel.
"Grimm~" Nel segera menutup mulutnya takut membangunkan Grimmjow. Nel pun langsung berjalan cepat sebelum Grimmjow terbangun. Namun, saat melewati Grimmjow, Nel tergelitik untuk menyentuh wajah polos Grimmjow saat dia tertidur.
'Wajahnya begitu polos, mungkin jika ku sentuh dia tidak akan bangun.' Nel tersenyum dan mengulurkan tangannya. Saat, beberapa inch lagi menyentuh pipi Grimmjow, tangan Nel langsung ditahan oleh tangan Grimmjow.
"Akhirnya kau keluar juga, Nel." Grimmjow langsung berseringai.
"Ah.." Nel terkejut. 'Rupanya dia tidak tidur.'
"Apa yang ingin kau lakukan, Nel?" Nel segera melepaskan tangannya.
"Aku hanya ingin membangunkan mu." Nel segera berjalan lagi.
"Hei Nel, ada apa dengan mu? kau sungguh aneh." Grimmjow langsung menyusul Nel.
"Tidak ada apa-apa." Nel berbicara dingin dan terus berjalan dengan cepat.
"Bohong, ada apa dengan mu, Nel?" Tanya Grimmjow lagi.
"Jika kau tidak percaya, untuk apa kau bertanya lagi pada ku?"
"Tapi kau sungguh aneh Nel, tidak mungkin jika tidak ada apa-apa."
"Apa itu urusan mu, Grimmjow Jeagerjaques?" Nel berhenti dan memutar kepalanya menatap Grimmjow dengan dingin. mendengar hal itu Grimmjoew terdiam dan berhenti ditempatnya. Nel melirik Grimmjow yang masih terdiam lalu dia pun melanjutkan jalannya kembali.
Saat Nel sampai di kamarnya dan ingin membuka kamarnya. Seseorang menahan tangannya, Nel langsung menoleh kebelakang.
"Grimmjow!"
"Iya, itu urusan ku, sekarang katakan ada apa dengan mu?" Nel terkejut mendengar nya. Namun, dia segera melepaskan tangan Grimmjow dan berbalik.
"Tidak, kau salah, itu bukan urusan mu." Ucap Nel lalu dia masuk ke kamarnya.
"Tch." Grimmjow berdecak kesal, dia pun segera berbalik dan berjalan pergi
Keesokkan harinya.
Diruangan Aizen.
"Kaname panggil semua Espada, termasuk Orihime." Kaname pun merentangakan tangan kanannya dan kedua benda seperti koin kecil menggambar tato bergaris di tangan kanan Tousen. lalu, disamping Tousen terbentuk dua buah persegi.
"Bakudou no nanajuunana, Tenteikuura."
"Kepada semua Espada dan Inoue Orihime, setelah jam makan siang, Aizen-sama mengadakan rapat dan memerintahkan kalian semua untuk hadir di rapat itu." Ucap Tousen.
"Terima kasih, Kaname." Aizen tersenyum. Tousen hanya menundukkan kepalanya.
"Apa kau yakin hal ini akan berhasil, Aizen taicho?" Gin bertanya.
"Begitulah." Aizen memejamkan matanya. "Apakah menurut mu, tidak akan berhasil?" Aizen melirik Gin.
"Sedikit ragu."
"Kita akan pastikan nanti. Apa kau tidak ingin ikut dalam misi kali ini?"
"Tidak perlu." Gin tersenyum.
"Apa kau tidak ingin bertemu Matsumoto Rangiku lagi? Dan menanyakan keadaannya setelah ditusuk oleh mu?" Gin kembali tersenyum.
"Tidak perlu, Aizen-taicho. Jika kau memerintahkan ku pergi, aku tak akan kembali lagi." Senyum rubah Gin kembali melebar.
"Kalian boleh pergi." Tousen dan Gin segera pergi dari sana.
Gin langsung bershunpo menuju kamar Orihime. Sedangkan, Tousen kembali ke kamarnya seperti biasa.
Hanya dengan beberapa menit saja, Gin sudah sampai di kamar Orihime. Gin langsung membuka pintu kamar Orihime.
"Ara..dia masih tidur." Gin tersenyum, dia langsung duduk di sofa dan menunggu hingga Orihime bangun dari alam mimpinya. Sembari menunggu Orihime, Gin bersandar di sofa itu.
"Hari ini, ulang tahunnya." Gin kembali mengingat saat dia memberikan tanggal ulang tahun kepada Rangiku.
"Hey, kapan ulang tahun mu, Rangiku?" Tanya Gin. Rangiku langsung mengalihkan pandangannya.
"Entahlah, aku tidak pernah menghitung hari, sampai aku bertemu dengan mu." Gin menatap Rangiku dengan bingung.
"Kalau begitu, hari dimana kau bertemu dengan ku adalah hari ulang tahun mu, bagaimana?" Rangiku memandang Gin sejenak, Gin hanya tersenyum melihat pandangan Rangiku.
"Berarti, tanggal ulang tahun mu.." Gin menghitung menggunakan jari-jarinya. "Tanggal 29 september, kau menyukainya?" Rangiku masih menatap Gin dalam-dalam, namun perlahan sebuah senyum menghiasi wajahnya.
"Iya, aku menyukainya."
"Otanjobi omedeeto, Rangiku." Gin bergumam. Orihime terbangun mendengar suara Gin.
"Unghh." Orihime bangkit dan mengucek matanya.
"Ohayou, Hime-chan." Orihime terkejut dan membelalakkan matanya.
"Gin-sama!" Seru Orihime kaget melihat Gin ada di kamarnya. Sedangkan, Gin yang diteriaki hanya melambaikan tangannya.
"A-ada apa?"
"Haha..aku hanya ingin berkunjung, tidak boleh?" Orihime buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan.
"Bo-boleh."
"Hari ini kau akan menghadiri rapat bersama para Espada." Gin bersuara.
"Baiklah."
"Apa aku membangunkan mu?" Gin menepuk sofa yang ia duduki sebagai pertanda menyuruh Orihime duduk disebelahnya.
"Tidak, hanya saja sayup sayup saya mendengar nama Rangiku-san." Orihime berjalan dan duduk disebelah Gin.
"Haha..pendengaran mu cukup bagus, rupanya."
"Jadi, anda benar-benar memanggil nama Rangiku-san?"
"Begitulah."
"Anda mengenalnya?"
"Sangat mengenalnya." Gin tersenyum. "Kau tahu? Hari ini adalah ulang tahunnya." Orihime menatap Gin.
"Bagaimana anda tahu?"
"Karena aku yang memberi tanggal itu." Gin tersenyum.
"Kalau anda sangat mengenalnya, lalu kenapa anda meninggalkannya?" Gin langsung menatap Orihime.
"Itu rumit." Gin kembali mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar Orihime. "Bagaimana pendapat mu tentang Rangiku?"
"Rangiku-san? Dia wanita yang baik, cantik dan walaupun terkadang dia sedikit kekanak-kanakan." Orihime tertawa kecil. "Tapi dia juga sangat dewasa di saat tertentu." Seketika raut wajah Orihime berubah menjadi sedikit sedih. "Dan terkadang dia terlihat begitu..rapuh."
"Begitu."
"Kenapa anda bertanya tentang ini?" Tanya Orihime, dia terkejut saat menatap Gin, dia melihat ekspresi sedikit kesedihan disana.
"Hanya bertanya." Jawab Gin singkat.
"Maaf, jika saya lancang, apakah anda menyukai Rangiku-san?" Gin menatap Orihime dan senyuman rubahnya kembali keluar. Gin mengacungkan jari telunjuknya didepan mulutnya.
"Ssssst..sudah waktunya kau makan." Setelah berkata begitu pintu kamar Orihime terbuka, Ulquiorra datang membawa sarapannya. Orihime terkejut melihat Ulquiorra datang, Orihime pun menatap Gin yang masih tersenyum disebelahnya.
"Gin-sama." Ulquiorra menundukkan kepalanya.
"Baiklah, aku kembali dulu sampai jumpa di rapat nanti." Gin bangkit dari sofa dan berjalan keluar.
"Sarapan mu." Perintah Ulquiorra dingin. Orihime berjalan mendekati Ulquiorra untuk mengambil sarapannya, saat jarak mereka semakin dekat, jantung Orihime berdegup kencang.
'Ada apa dengan ku?' Tangan Orihime sedikit bergetar saat ingin mengambil makanannya.
"Ada apa dengan mu?" Tanya Ulquiorra tepat di dekat telinga Orihime. Suara Ulquiorra yang datar dan dingin membuat jantung Orihime semakin berdegup kencang.
"A-aku tidak apa-apa." Orihime segera mengambil makanannya dan berjalan cepat menuju meja kecil didekat tempat tidurnya.
"Cepat selesaikan sarapan mu, Aizen-sama memanggil mu."
"Bukannya rapat diadakan setelah makan siang?"
"Ini perintah."
"Ba-baik." Orihime segera memakan makanannya.
"Otanjobi omedeeto, Rangiku-san." Hinamori muncul dari belakang Rangiku yang sedang duduk di koridor divisi 10.
"Ah, iya, terima kasih." Rangiku menoleh dan tersenyum simpul.
"Ayo, aku ajak kau minum-minum, aku yang traktir sebagai kado ulang tahun." Hinamori menarik tangan Rangiku.
"Tidak perlu Hinamori." Rangiku melepas tangan Hinamori.
"Kenapa?"
"Aku sedang tidak ingin saja."
"Tapi Kira-kun dan Hisagi-san sudah menunggu." Hinamori duduk disebelah Rangiku.
"Katakan pada mereka, minum saja aku sedang tidak ingin." Rangiku menatap langit yang sedang hujan.
"Ada apa dengan mu, Rangiku-san? Kami semua mencemaskan mu." Hinamori menyentuh bahu Rangiku.
"Tidak apa-apa." Rangiku tersenyum kecil. Hinamori lagsung memeluk Rangiku. Rangiku terkejut dengan perlakuan Hinamori.
"Sudahlah, menangislah sepuas mu, dan setelah itu kembalilah menjadi Rangiku yang ceria." Hinamori menepuk pundak Rangiku dan berkata dengan lembut. Perlahan bahu Rangiku bergetar dan tangisannya tumpah.
"Tumpahakan kesedihan mu, Rangiku-san."
"Huwaaaaaaaaa.." Hujan kali ni terasa pilu, karena alunan rintik hujan yang terkadang menenangkan kini alunan itu menyatu dengan tangisan Rangiku.
"Daijobu..daijobu.." Bisik Hinamori pelan.
Setelah 30 menit akhirnya tangisan Rangiku berhenti.
"Terima kasih, Hinamori." Rangiku tersenyum, kini senyum itu sungguh ceria.
"Sama-sama, aku ke kedai minum dulu, kau yakin tak ingin datang?" Hinamori berdiri dan bersiap berjalan.
"Iya, aku ingin kembali ke kantor dulu."
"Baiklah kalau begitu." Hinamori segera pergi. Rangiku pun bangkit dan berjalan menuju kantornya.
"Taicho." Rangiku masuk.
"Hnn." Jawab Hitsugaya dari balik meja kerjanya. "Kau tidak pergi minum? Bukannya Hinamori mentraktir mu?"
"hem hem." Rangiku menggeleng dan menyiapkan teh untuk Hitsugaya. "Aku ingin menemani taicho." Rangiku tersenyum dan mengantarkan teh Hitsugaya.
"Tidak perlu, kau pulang lah."
"Anda mengusir saya?" Tanya Rangiku sedikit kesal.
"Tidak ada yang dapat kau lakukan sekarang, pulanglah, istirahatkan tubuh mu dan hilangkan mata merah mu itu." Rangiku langsung tertawa.
"Baik, baik, aku pulang, taicho." Rangiku langsung berjalan keluar, saat didepan pintu Hitsugaya bersuara.
"Matsumoto." Rangiku langsung menoleh dan menangkap sesuatu dari Hitsugaya.
"Selamat ulang tahun, cokelat baik untuk memulihkan seseorang yang sedang patah hati." Rangiku tertawa renyah mendengar perkataan Hitsugaya.
"Terima kasih, taicho."
"Hnn." Hitsugaya tersenyum kecil.
"Aizen-sama." Orihime masuk bersama dengan Ulquiorra. Gin yang berdiri dibelakang Aizen melambaikan tangannya.
"Orihime, tolong kau sembuhkan Halibel." Orihime langsunng tersenyum.
"Baik." Jawab Orihime bersemangat.
"Ulquiorra, antarkan Orihime ke kamar Halibel."
"Baik."
"Kalian boleh pergi." Orihime dan Ulquiorra membungkuk hormat dan segera pergi dari ruangan Aizen.
Tak butuh waktu lama bagi Orihime untuk sampai di kamar Halibel karena kamar Halibel tidak terlalu jauh dari ruang Aizen. Akhirnya mereka berdua berhenti di depan pintu sebuah ruangan.
"Halibel." Ulquiorra bersuara.
"Masuklah." Pintu itu pun terbuka.
"Aizen-sama memerintahkan Inoue Orihime untuk menyembuhkan mu."
"Begitu, kemari." Orihime langusng berjalan mendekati Halibel. "Lalu, apa yang akan kau lakukan Ulquiorra?"
"Perempuan ini aman?" Tanya Ulquiorra.
"Tanpa luka." Halibel menjawab.
"Aku akan kemari 1 jam lagi." Ulquiorra segera bersonido pergi.
"Sōten Kisshun." Aura oranye oval langsung menyelimuti Halibel. Suasana saat itu begitu hening, Halibel memejamkan matanya sedangkan Orihime berkonsentrasi menyembuhkan luka Halibel. Namun, tiba-tiba Orihime memcah keheningan. "Maaf." Ucap Orihime pelan.
"Untuk apa?"
"Karena menolong mu saat itu."
"Hnn."
"Boleh aku bertanya pada mu?"
"Apa?"
"Kenapa kau meninggalkan Ulquiorra?" Halibel langsung menatap Orihime.
"Kami ada disini hanya untuk melayani Aizen-sama, begitu juga Ulquiorra, jika aku menolak permintaan Aizen-sama dan menjadi fraccion Ulquiorra itu menandakan, yang aku layani hanya Ulquiorra."
"Begitu juga Ulquiorra?"
"Iya, dia selalu didekatmu bukan karena kau manusia, atau karena dia..menyukaimu, tapi karena peintah Aizen-sama." Orihime menundukkan kepalanya. "Apa menurut mu, jika bukan karena Aizen-sama, Ulquiorra ingin menjaga mu?"
"Kalau bukan Aizen-sama, Ulquiorra tidak akan menolong mu saat hampir mati ditangan Loly dan Menoly." Orihime semakin menundukkan kepalanya. "Kuat..hanya itu yang dapat menolong mu disini." Orihime menatap Halibel. "Jangan bergantung pada Ulquiorra, dia hanya menjalankan perintah Aizen-sama. Jangan berharap pada Ulquiorra jika tanpa perintah Aizen-sama." Orihime menatap dalam Halibel.
'Dia sangat mengerti Ulquiorra.'
"Kau tahu? Aspek kematian Ulquiorra?" Halibel menatap Orihime. Orihime langsung menggeleng. "Kehampaan, dia kosong, jangan berharap banyak pada Ulquiorra."
"Apa kau pernah berharap padanya?" Tanya Orihime.
"Saat itu aku mengharapkan dia berkata, 'jangan tinggalkan menara 4.' hanya itu. tapi tentu saja itu tidak mungkin dia katakan." Orihime menatap Halibel. "Selalu ada yang harus dikorbankan, bukan?" Halibel melanjutkan perkataannya.
'Dia..kecewa.'
"Halibel." Halibel menoleh.
"Sudah kubilang, jangan mengasihani ku."
"Maaf." Halibel kembali memejamkan matanya. "Kamar mu yang dulu sangat indah." Puji Orihime.
"Iya, aku tau itu."
"Apa kau membenci ku?"
"Aku memang tidak pernah menyukai siapa pun." Perlahan luka Halibel menutup.
"Aku sudah selesai." Kedua peri Orihime kembali ketempatnya.
"Terima kasih." Halibel bangkit dari tempat tidurnya dan membukakan pintu kamarnya, saat pintu itu dibuka Ulquiorra berdiri didepan pintu itu. "Tugas mu sudah selesai, kau boleh pergi." Ucap Halibel. Orihime segera berjalan keluar. Ulquiorra pun segera berjalan. Saat di jalan.
"Ulquiorra, kenapa kau tidak menahan Halibel?"
"Tidak ada yang perlu di tahan." Ulquiorra terus berjalan.
"Tapi..apa kau..."
"Apa ini masalahmu?" Ulquiorra menatap tajam Orihime.
"Bu-bukan."
"Berhentilah mencampuri urusan orang lain. Kenapa manusia sangat menyukai mencampuri urusan orang lain?"
"Karena..hati."
"Hati? Mata ku dapat melihat segalanya, aku tidak mempercayai hal yang tidak dapat dilihat dari mata ku." Ulquiorra membalikkan badannya. "Dan itu berarti sampah." Ulquiorra berjalan lagi. Orihime terdiam menatap punggung Ulquiorra dengan sedih.
"Mari kita mulai rapat hari ini." Aizen bersuara.
"Winter war semakin dekat, para shinigami pasti sudah menyiapkan segala sesuatu untuk menghentikan kita. Dalam waktu dekat aku harap kalian dapat meningkatkan kemampuan kalian."
"Baik, Aizen-sama."
"Dan untuk meningkatkan kemampuan kalian, aku akan mengadakan latihan sesama Espada." Nnoitora dan Grimmjow langsung berseringai. "Ini tidak digunakan untuk menggeser posisi satu sama lain, hanya sebuah latihan. aku yang akan menentukan lawan kalian masing masing, mengerti.?"
"Baik, Aizen-sama."
"Tapi sebelum itu, Barragan." Aizen melirik Barragan.
"Iya, Aizen-sama."
"Perintahkan Fraccion mu untuk pergi ke dunia nyata."
"Untuk apa Aizen-sama?"
"Hanya untuk memastikan persiapan para shinigami itu, aku mempercayai kemampuan Fraccion mu."
"Baik, Aizen-sama."
"Aizen-sama." Aizen menoleh.
"Iya, ada apa, Orihime?"
"Apakah aku juga ikut berlatih?"
"Tidak, tentu tidak kau hanya bertugas menyembuhkan para Espada ku."
"Tapi, Aizen-sama...aku..aku.."
"Kuat..hanya itu yang dapat menolong mu disini."Tiba-tiba Orihime teringat kata-kata Halibel.
"Ada apa?"
"Aku ingin kuat, Aizen-sama." Ucap Orihime yakin semua yang ada diruangan itu langsung menatap Orihime, Nnoitora terkekeh melihat tingkah Orihime.
"Kau kuat Orihime, kemampuan mu yang memutar balikkan kenyataan itu sungguh kuat dan hebat." Orihime menundukkan kepalanya.
"Aku tidak ingin hanya ada di barisan belakang dan dilindungi terus menerus, Aizen-sama." Ucap Orihime lirih,
"Kami akan melawan para shinigami di perang nanti, apa kau yakin ingin ada di barisan depan melawan teman-teman mu?" Tanya Aizen.
"Aku...aku ada disini untuk memenuhi keinginan Aizen-sama." Ucap Orihime masih menundukkan kepalanya. "Oleh karena, itu aku..ingin kuat Aizen-sama." Ulquiorra menatap Orihime dalam-dalam.
'Dia sudah tidak memikirkan teman-temannya lagi?' Aizen tersenyum dan mengelus rambut Orihime.
"Aku mengerti, Orihime." Aizen melepaskan tangannya, "Barragan berangkatkan Fraccion mu hari ini."
"Baik, Aizen-sama."
"Kalian boleh pergi." mereka semua segera keluar dari ruangan itu, Orihime hanya dapat menundukkan kepalanya.
"Gin." Gin langsung mendekati Aizen.
"Ada apa, Aizen-taicho?"
"Bagaimana menurut mu?"
"Berikan saja apa yang dia inginkan."
"Begitu." Aizen tersenyum. "Aku serahkan susunan latihan padamu, adakan latihan itu setelah Orihime mendapatkan kekuatannya." Aizen beranjak dari kursi rapat itu dan melangkah pergi diikuti Tousen.
"Baik, Aizen-taicho." Senyum rubah Gin mengembang dan dia pun segera bershunpo pergi.
To Be Continued..
A/N: Fiuh..selesai...kepanjangan gak? maaf kalo mengecewakan..
sedikit nyeritain tentang judulnya..
aku milih judul ini soalnya chap ini penuh penjelasan... kalo menurut aqu sih gitu yah..
sory kalo kalian merasa judulnya gak nyambung ama isi chap nya..
hehehehehe
n
review pliss...
