Yaaa jumpa lagi dengan author kalian tercinta~ #dilempar sabun mandi
Maaf yaa~ update kali ini lama ya? Soalnya author banyak tugas dari sekolah... ini aja nyuri-nyuri waktu... XD
Oke, ngg... apa ya? Lupa mau ngomong apa... gak jadi deh... :D
Selamat membaca!
A/N : Sebenernya chapter ini nanti ada 2 part (untuk yang kesekian kalinya) dan chapter ini sebenernya terinspirasi oleh review readers lho! Mau tau siapa?! Tunggu di chapter berikutnya!
A/N (2) : PROMOSI! Saya punya LINE, KakaoTalk, We chat, dan Whatsapp... oke buat We chat, berhubung saya belom kasih ID nya, nih, LacieH-C02. #ya ampun, saya promosi lagi!
Pairing : Natsu D. & Lucy H.
Genre : Adventure-Hunter
Disclaimer : Hiro Mashima
Warning : OOC, Genre ganti-ganti setiap chapter, alur kecepetan, dan lain-lain.
ZRAAAAAAAASH
Suara ombak mulai menggelegar di pagi hari. Natsu dkk, dengan tambahan Juvia, Jellal, dan Zeref, sedang terombang-ambing di atas perahu kecil dan tak tentu arah.
"Jeez... " Gumam Juvia. "Juvia capek kalo musti mendayung terus! Bantuin kek!" Protesnya.
Ya, sejak mereka pergi dari pulau tanpa nama itu, Juvia lah yang telah berjasa mendayung perahu mereka dengan sihirnya. Sementara yang lain sibuk sendiri dan malah leha-leha. Woi! Orang juga bisa capek kali!
"Ya abis gimana? Dayungnya di makan sama hiu... " Kata Lucy yang lagi membersihkan kukunya.
"Udah dayung aja terus... sampe kita nemu pulau... " Kata Mavis yang lagi main air di samping perahu.
Juvia makin nge-down mendengar perkataan dua wanita itu. Jellal pun menghampirinya, dan menepuk bahunya.
Juvia mengerti apa maksud Jellal. Kemudian mereka bertukar posisi dan Jellal mulai mencelupkan tangannya ke dalam air. Dia mulai mengibas-ngibaskan tangannya dengan perlahan.
"LU NGAPAIN JELLAL FERNANDES!?" Teriak Erza sambil menarik kerah Jellal dengan kasar. Jellal hanya terdiam dengan wajah innocence.
"Kenapa sih?" Tanya Lucy. Yang lain juga ikut menengok. Oh—kecuali Natsu yang sedang menatap permukaan laut. Entah kenapa, mungkin karena dia sadar kalau dia mabuk.
"INI NIH! Masa mau ngedayung perahu pake tangan doaang?!" Kata Erza sambil menunjukkan telapak tangannya di depan Lucy. Erza pun geleng-geleng. "Udah, Juvia aja... " Lanjut Erza.
Juvia pun kembali dengan lesunya. Tidak terpikirkan oleh mereka kalau di dalam rombongan mereka telah hadir seorang penyihir yang bergelar Master. Sementara Mavis hanya cekikikan di belakang.
Semua menengok saat mendengar suara cekikikan itu.
"Ma-vis." Panggil semuanya. Mavis menengok dengan mata membulat.
"Oh tidak."
Oleh Erza, Mavis dipaksa duduk di tempat Juvia dan dia dipaksa untuk mendayung.
"Ayo buktikan kalau gelar Mastermu itu bukan karena kau cantik dan pintar merayu! Masa gelar Master, goyangin ombak dikit aja gak bisa!?" Kata Erza dengan tegas.
Mavis cuma ngelus dada dikatain kayak gitu. Sabar, sabar, pikir Mavis. Dia pun mulai menatap ke depan, dan setelah itu, gelombang ombak mulai terjadi kembali tanpa sentuhan ataupun gerakan tubuh dari Mavis. Orang seperti inilah yang pantas dengan gelar Master.
Ya, namanya juga Master. Bukan Master dong namanya kalo gak 'wow'? alhasih, perahu itu pun bergerak cepat ala Speed Boat yang sedang melaju dengan kecepatan maximum. Ingat! Hanya perahu!
Sontak, semuanya kaget dan berpegangan erat pada sisi perahu. Mulut mereka berkibar lebar karena angin yang masuk. Juga air mata yang terus keluar saking takut nabraknya. Sementara Mavis, dia santai aja tuh.
Perahu itu terus berputar dengan kecepatan tinggi tak tentu arah. Belok sana-belok sini, loncat sana-loncat sini, puter sana-puter sini, dan akhirnya sampai Mavis pusing, perahu itu berhenti.
"Hweeeaaaeee...aaaeeeee..eee... " Gumam Lucy sambil terhuyung-huyung.
"Bwaaah... puwiing... " Gumam Gray sambil memegangi kepalanya.
Erza hanya duduk diam sambil menutup matanya. Lalu ia menarik nafas dan membuka matanya. Pusing juga sih.
Natsu apalagi, dia udah gak tau mental kemana.
"Adooh! Natsu mana?!" Tanya Lucy sambil berdiri tiba-tiba. Semua menengok mencari pria dengan rambut pink.
Mavis melihat ke sampingnya. Ada pink-pink ngambang gitu.
"Apaan ya?" Gumam Mavis. Ia pun menusuk benda itu dengan jarinya. Benda itu pun berguling dan tampaklah Natsu!
"Natsu!" Teriak Lucy sambil mengangkatnya ke atas perahu.
Perahu mereka terus berjalan maju. Sebuah goa besar, dalam dan gelap telah menanti mereka. Perlahan mereka masuk ke dalam goa itu.
Natsu yang sudah agak membaik menyalakan api dari tangannya. Dan mereka bisa melihat jelas, deretan perahu yang sama seperti mereka, terparkir rapih di sisi goa.
"Perahu siapa itu?" Tanya Jellal.
"Kita ambil aja perahunya! Ganti sama punya kita!" Kata Mavis sambil menepuk tangannya.
"Emang apa bedanya perahu kita sama perahu itu?" Tanya Zeref yang duduk di pojokan.
Perahu terus berjalan dan secerca cahaya terlihat dari ujung. "Ada cahaya?" Gumam Lucy sambil memicingkan matanya. Mavis mempercepat gelombang ombak. Dan mereka pergi menuju cahaya itu.
Dan mereka berada di dalam cahaya itu sekarang.
CRIIIIIIING
Lucy menurunkan tangannya yang sempat melindungi matanya tadi. Kemudian ia mulai membuka matanya.
"WHOOAAA!" Teriak semuanya sambil melihat sekeliling.
"I-ini!?" Tanya Natsu tidak percaya.
"A-a-a-a... " Mavis tergagap-gagap melihat sekelilingnya.
"Apa maksudnya semua ini!?" Tanya Gray.
Erza terus memperhatikan sesuatu di depanya.
Ya, goa lagi.
Tapi goa kali ini lebih banyak. Ada 14 lubang goa menganga dan siap untuk dimasuki kapan saja. Uniknya, di setiap lubang goa itu terpasang papan dengan huruf abjad yang berbeda. A sampai M.
"Apa maksudnya huruf-huruf itu?" Tanya Lucy.
"Apa game-nya sudah di mulai sekarang?" Tanya Erza.
"Entahlah... " Jawab Mavis.
Mereka semua masih melihat ke-14 lubang goa itu dengan penasaran.
"Kita harus pilih salah satu nih?" Tanya Gray.
Semua saling bertatap-tatapan. Lalu mereka memutuskan untuk memilih satu. "Apa ini sebuah jebakan?" Tanya Lucy. "... Kalau ini jebakan gimana ya?" Tanya Mavis sambil melihat teman-temannya bergantian. "Coba aja dulu! Kita pasti bisa melewatinya!" Kata Gray. Yang lain mengangguk.
"Kita pilih yang mana nih?" Tanya Mavis.
"Pilih huruf 'E'." Kata Natsu dengan wajah yakin sambil menyilangkan tangannya.
"Gaya lu!" Ledek Gray.
"Gak, gua serius. Setiap huruf ini pasti mewakili suatu kata. Dan 'E' mewakili 'EXIT'." Jelas Natsu.
"Masa segampang itu keluar dari sini... ?" Gumam Lucy.
"Jangan bercanda!" Teriak Erza. "Masa gampang gitu?" Gumamnya pada dirinya sendiri.
"Jelas kan? Game ini membutuhkan otak yang sangat pintar. Bayangkan saya kalau tidak ada aku di sini, mungkin kalian sudah memilih huruf 'A' atau yang lainnya... " Kata Natsu bangga.
"Cih, ya sudah, kita coba saja dulu!" Kata Gray.
"Eh-Eh! Enak aja! Jangan sembarangan! Kalo di dalem situ ada apa-apanya gimana?!" Tanya Erza khawatir.
Gray, Lucy, dan Natsu berbalik menghadapnya.
"Coba dulu... " Jawab mereka bertiga, dan Erza hanya bisa pasrah. Mavis pun kembali mendayung perahu itu memasuki goa yang mewakili huruf 'E'.
"'E' artinya Exit... mungkin itu benar... " Gumam Erza sambil meletakkan telunjuknya di bawah mulut.
"Aah... ngomong-ngomong kita belum makan nih... kita juga belum ganti baju... " Protes Mavis sambil bersandar dan memegangi perutnya. Mendengar perkataan Mavis, semua jadi berpikir dan ikut mengiyakan. Perut mereka pun berbunyi bergantian.
"Exit... Exit... EH! Mungkin 'E' itu 'Enak'!" Kata Natsu tiba-tiba.
"Gak mungkin banget... " Gumam Jellal.
"Di depan ada cahaya... " Kata Zeref sambil menunjuk ke depan. Semuanya menengok. Perahu terus berjalan memasukki cahaya itu.
"Apa? Nanti ada goa lagi?" Tanya Lucy. "Udah jam berapa nih belom makan, belom mandi!?" Lanjutnya. Erza melirik ke arah jam tangannya. "Jam 7 pagi... " Gumamnya.
TET TOT TREEET TOT TET TOT TET~
Lantunan musik dari tempat di balik cahaya itu membuat Natsu dkk membulatkan matanya saat melihat objek di depannya.
Sebuah kota besar seperti dunia fantasi atau kasino dengan air sebagai jalan transportasi kini telah berada di depan mata mereka. Di kota yang mereka tidak tau namanya ini sangatlah ramai. Orang-orang berteriak, bekerja, dan mengobrol, semuanya asli. Perahu Natsu dkk mulai memasuki kota besar nan meriah itu. mereka disambut hangat oleh penduduk kota.
"Aah... i-ini?" Tanya Mavis bingung.
Perahu mereka pun berhenti di depan anak tangga yang menghubungkan jalur air dengan jalur darat. Mereka semua pun turun dari perahu dan menginjakkan kaki mereka ke daratan berupa keramik bermodel batu bulat.
"Ini kota? Kota di dalam goa?" Tanya Lucy heran sambil melihat sekeliling. Di dalam sana memang seperti kota. Langit yang biru, matahari di atas, ya, tidak ada yang bisa menduga kalau ini ada di dalam goa.
"Hebat... " Gumam Juvia.
"Hey lihat!" Teriak Gray. Semua berjalan ke arah Gray yang sedang berdiri di sebuah restoran.
KRIIIIUUUUK
"Ayo masuk." Ajak Natsu. Mereka pun melangkahkan kaki mereka ke dalam restoran itu.
Di dalam restoran mereka disambut hangat oleh pelayan restoran. Membuat lelah yang sudah menempel lama hilang sejenak. Mereka pun memilih tempat untuk 8 orang.
"Waaah! Makanannya enak-enak! Murah lagi! Jellal?! Kau bawa uangnya kan?" Tanya Lucy sambil melihat-lihat buku menu dengan mata berbinar-binar. "Ini..." Jellal pun mengeluarkan kantung berisi 21 M Yen kepada Lucy yang duduk di sebrangnya. Lucy dengan cepat langsung mengambil kantung itu dan mengangkat tangannya.
"Pelayan!" Teriak Lucy girang. Tak perlu menunggu lama, pelayan pun datang dengan catatan kecil di tangannya. Padahal saat itu restoran itu sedang ramai. What a perfect town!
"Aku pesan ini, ini, ini, ini, ini, dan ini!" Pesan Lucy dengan mata yang bercahaya. Tidak jauh berbeda dengan Lucy, Natsu, Gray, dan yang lain pun melakukan hal yang sama. Dan karena jumlah orang yang banyak, meja merekalah yang paling banyak dihiasi oleh makanan.
Mereka makan dengan lahapnya. Ambil sana-ambil sini, lalu terus bertambah. Sampai perut mereka merasa puas, mereka pun berhenti makan.
"A-ah... kenyang... " Kata Lucy dengan saus yang masih menempel di sudut bibirnya.
"Fuah!" Mavis pun juga sudah selesai dengan minumannya.
Natsu dan Gray sedang bersandar pada kursi karena kekenyangan setelah lomba makan.
"Astaga, pasti harganya mahal... " Kata Lucy. Ia pun meminta bill pada pelayan. Dan betapa terkejutnya dia melihat nominal pada bill nya itu.
"Ti-tiga Juta?!" Teriak Lucy dengan tangan yang sudah berada di dalam kantung.
"Wih, murah, makan untuk 8 orang dengan porsi besar, belum lagi Natsu dan Gray nambah... benar-benar kota yang perfect! Beli rumah di sini ah... " Kata Jellal.
"Anak lu gimana?!" Tanya Erza. Jellal kembali terdiam.
"Lucy-san, dan yang lain, selanjutnya kalian akan ke mana?" Tanya Juvia.
Lucy, Mavis, dan Erza menengok.
"Toko baju."
"Aduh Lucy! Ini udah kotak yang ke 12!" Kata Natsu yang wajahnya sudah tertutup oleh tumpukan kotak yang berisi baju-baju Lucy. Lucy pun tak menggubrisnya. Ia terus berjalan dari satu toko ke toko lain. Tidak akan pernah mereka mendapatkan pakaian kualias tinggi di Magnolia.
Sementara Zeref dan Jellal yang sedang menunggu di luar, tampak sedang memperhatikan sesuatu.
"Kira-kira itu tempat apa ya?" Tanya Jellal.
"Kerajaan... kalau tempat seperti itu pasti kerajaan... " Jawab Zeref. Mereka sedang memperhatikan sebuah bangunan megah dan mewah di ujung kota itu.
"Sepertinya itu pusat kota atau pemerintahannya ya... " Kata Jellal. Zeref tidak menjawab. "Hey, mau ke sana? Siapa tau warga sipil boleh masuk..." Kata Jellal. Tak lama, Mavis dan Erza keluar dari toko.
"Toko berikutnya." Kata Erza. Erza dan Mavis pun berjalan di depan dengan Jellal dan Zeref yang mengikuti di belakang.
TENG TONG TENG TONG
Kedua jarum jam di menara jam raksasa yang berdiri di tengah kota itu sudah berada tepat diangka 12. Jam itu pun berdentang.
TENG TONG
"Lihat Erza? Kau menghabiskan 4 jam hanya untuk berbelanja..." Gumam Jellal. Erza mendelik horor ke arahnya. Dan lagi-lagi, Jellal terdiam.
"Hey lihat! Lihat!"
"Ayo ke sana!"
"Ada apa sih?"
"Ayo cepat!"
Erza dan rombongan menengok ke arah kerumunan orang yang sedang berkumpul di alun-alun kota. Dengan cepat, mereka berbaur ke dalam kerumunan orang. Beberapa orang di kerumunan itu tampak bersemangat dan tidak sabar. Dan ada juga yang merasa heran. Sama seperti mereka.
Tiba-tiba tanah di depan mereka terbuka dan muncul-lah sebuah panggung besar dengan seorang laki-laki yang berdiri di atasnya.
"Apa itu?" Tanya Natsu.
"Siapa orang itu, hah?" Tanya Gray.
"Selamat datang di Game Island, bagi para pendatang baru, dan selamat berjuang untuk peserta yang gagal tahun lalu. Aku Hibiki, akan menjelaskan permainan tahun ini... " Ujar laki-laki bernama Hibiki itu.
"Game?" Gumam Mavis.
"Jadi goa itu adalah pulau?!" Kata Erza.
"Pertama, aku akan menjelaskan sesuatu yang harus kalian ketahui tentang pulau ini... " Kata Hibiki. "Sebelum datang ke kota ini, tentu kalian harus memilih satu dari 14 goa yang ada, dengan huruf yang berbeda pula... nah, sekarang aku akan menjelaskan maksud dari huruf-huruf itu..." Lanjutnya.
Lalu munculah layar besar di belakang Hibiki. Layar itu menampilkan sekelompok orang yang sedang melawan sesuatu.
"Ini adalah game yang akan kalian mainkan kalau kalian memasuki goa dengan type A yang artinya AMAZING. Untuk game ini, kalian diminta untuk membuat pertunjukkan yang Amazing sebanyak mungkin, siapa yang mendapat score lebih banyak akan segera keluar dari pulau ini." Jelasnya. Di layar tampak sekelompok orang yang dengan susah payah memamerkan sihir mereka yang indah.
Layar pun berganti lagi. Sekarang tampak orang-orang yang sedang duduk dan berpikir. "Ini adalah Game Type 'B' yang artinya BRAIN. Di game ini kalian diminta untuk menjawab soal sebanyak mungkin. Salah satu, kalian akan gugur." Jelas Hibiki lagi.
Layar pun berganti lagi. Menampilkan sekelompok orang memakai baju tipis dan sedang menahan dingin. "Ini adalah Game Type 'C' yaitu COLD. Seperti yang kalian lihat, kalian harus menahan dingin dengan mamakai baju tipis. Jika kalian tidak kuat, kalian akan mati kedinginan."
"Berikutnya," Layar pun menampilkan beberapa orang yang sedang bertarung dan menghindari benda-benda raksasa dan besar. "Game Type 'D', DANGEROUS. Tentu kalian harus berhasil melewati tantangan berbahaya yang ada di dalamnya." Kata Hibiki sambil tersenyum simpul.
"Game Type 'F', FREEZE. Hampir sama seperti Type C, bedanya kalian harus menyelam di kolam es dan bertahan di dalam sana. Resikonya pun sama."
"Kemudian, Game Type 'G', yaitu GORILA. Di game ini kalian harus menghindari gorila-gorila yang ingin memakan kalian sampai ke pintu keluar."
"Game Type 'H', yaitu HOUNTED. Seperti namanya, berhantu. Kalian harus memasuki mansion besar yang angker dan gelap, dan keluar dengan 'utuh'. Utuh, jangan pikir hantu-hantu di mansion itu tidak bisa menyentuh dan membunuh kalian ya... " Hibiki pun terkekeh.
"Selanjutnya Game Type 'I', mewakili kata IMITATOR. Kalian harus menirukan gaya dan kelakuan dari penguji secara cepat dan akurat tanpa salah sedikit pun."
"Game Type 'J', JAWS. Ya, berenanglah sampai pintu keluar kalau tidak mau dimakan hiu... "
"Type 'K', artinya KNOWLADGE, di sini akan diuji seberapa besar pengetahuan kalian... kalian akan diminta beradu argumen dengan peserta lain."
"Berikutnya Type 'L', yaitu LIMITTED yang artinya terbatas. Di setiap tantangan di dalam game ini akan diberikan waktu yang sangat singkat, jadi cepatlah."
"Yang terakhir Game Type 'M', yaitu MONSTERS. Kalian harus mengalahkan setidaknya 10.000 monster selama 2 hari. Jika gagal, hanya ada 2 kemungkinan. Kalian akan terus bertarung dengan monster-monster itu, atau kalian yang akan tebunuh."
"Lalu mana yang 'E'?" Gumam Natsu.
"Dan di sinilah kalian... Game Type 'E', yang mewakili kata EXTRA..."
To Be Continued
UWAAA! Type 'E'!?
Bukan EXIT tau! Aduh gimana dong! Game seperti apa yang akan mereka dapatkan? Apakah mereka bisa melewatinya?!
Oke! Kalau penasaran,
Jangan lupa review! :D
