Disclaimer : BLEACH by Tite Kubo
Rated : T
Never Let You Go
By
Poppukoo
Matahari begitu terik. Hawa panas begitu menyeruak dari pori-pori kulit. Langitpun tersapu biru bersih mempersilahkan sang matahari menyinari makhluk hidup di muka bumi.
"Slurp… em, nyem nyem"
'glek'. Ichigo hanya bisa menelan air ludahnya dalam dalam begitu melihat Rukia dengan asyiknya menjilat es krim dingin dari kedua genggaman tangannya.
"Aku baru tahu kalau hantu tidak bisa makan es krim" ucap Rukia dengan mulut blepotan. Ichigo hanya bisa berdecak kesal. Melihat fakta bahwa ia tidak bisa memakan makanan apapun dari dunia nyata. Ya, karena dia adalah roh. Tidak bisa merasakan lapar dan haus.
"Bukan Cuma es krim, tapi semuanya"
Ichigo tidur melayang-layang begitu pelan diatas air sungai. Menikmati decikan air dari ikan-ikan kecil yang melompat-lompat .
"Boleh aku tanya sesuatu, Ichigo?" tanya Rukia sambil menyamankan diri didekat pohon rindang besar di tepi sungai. Bersandar dengan santai.
"Hm" Ichigo berdehem sambil memejamkan mata.
"Sebenarnya...benda apa yang menancap di dadamu itu, Ichigo?"
Seketika mata Ichigo terbelalak kaget mendengar pertanyaan Rukia yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Pertanyaan yang berhasil membuatnya terbangun.
"A-Ada apa Ichigo?" Rukia ikut terbangun dari acara bersandarnya.
"Ah-tid-"
"YO! RUKIA!" suara serak-serak basah yang keras terdengar dari atas jembatan. Jembatan di sebelah barat Rukia. Ichigo menoleh ke arahnya.
"Kaien Shiba?"
Pria itu turun dari jembatan. Berlari menyusul Rukia yang masih dalam posisinya. Duduk manis dibawah pohon. Buru-buru gadis ini merapikan diri demi menyambut pria yang ia sukai itu. Lagipula sudah lama ia tidak mengobrol dengan Kaien sejak saat itu.
Kaien terengah-engah lelah.
"Yo!" sapa Kaien.
"A-Apa kabar?" tanya Rukia berdiri sambil merapikan roknya. Berusaha bersikap normal. Walau ada dentuman keras menerpa hatinya saat ini.
"Haha … baik. Kau tidak sibuk kan nanti malam?" hati Rukia terasa tersapu lembut begitu mendengarnya.
Rukia menggelengkan kepalanya. Walau faktanya ia ada acara membantu Ibunya memasak nanti malam.
Ichigo bersila santai menonton kedua orang itu dengan bosan. Seakan ia melihat sinetron ABG dengan ratusan episode yang biasa adiknya tonton di TV. 'Masa-masa yang indah' batin pria ini sambil kembali tiduran memejamkan mata. Berusaha menikmati sepoi angin diatas air. Tapi entah kenapa ia tidak bisa merasakan ketenangan saat ini.
Kaien menghla nafas lega begitu mendengar jawaban Rukia.
"Syukurlah …. Ini"
Kaien menyodorkan dua buah lembar kertas persegi panjang pada Rukia. Mata Rukia membulat sempurna. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu berteriak "INI KAN!?" Rukia mengalihkan pandangannya ke arah Kaien.
"Iya … Chappy"
"BENARKAH!?" teriak gadis ini lagi. Rukia tidak bisa menahan kegirangan yang luar biasa yang meluap-luap dihati kecilnya. Akhirnya ia bisa melihat Chappy show yang ia idam-idamkan selama ini. Yang ia rela bekerja di pom bensin demi mendapatkan lembar itu. Tapi ia tak menyangka kalau Kaien yang berhasil mendapatkannya.
"Kau mau menonton denganku kan?" Kaien memastikan.
"TENTU SAJA!" sepertinya Rukia tidak bisa berbasa-basi lagi. Karena ia terlalu senang.
"Haha, kalau begitu … aku tunggu disana nanti malam" ucap Kaien sambil mengelus halus rambut Rukia. Rona merah muncul ke permukaan kedua pipi gadis ini.
"Tapi … darimana Senpai mendapatkannya. Jangan bilang kalau Senpai juga Chappylicious"
"Oh … Tentu saja bukan"
'Jleb'. Rukia kecewa mendengarnya.
"Ya…anak bos ku memberikan ini padaku. Lalu aku ingat kalau kau mempunyai gantungan kunci seperti kelinci ini. Dan aku pikir kau menyukainya, dan ternyata benar"
"Oh… Arigatou Senpai. Aku pasti datang" balas Rukia memberikan senyuman terbaiknya.
"O-Oh. Kalau begitu kau saja yang bawa tiket ini. A-Aku pergi dulu, jaa ne!" pamit Kaien berlalu meninggalkan Rukia.
Rukia melambaikan tangan sambil memegang erat kedua tiket itu. Ia senang sekali.
"Ichigo! aku-… Ke-kemana dia? Padahal aku juga ingin mengajaknya, kan kalau hantu masuknya gratis"
.
Berlenggak-lenggok didepan cermin menatap diri dari ujung kaki hingga ujung kepala. Berusaha mempercantik diri dengan balutan baju-baju anggun layaknya Cinderella yang akan pergi ke pesta.
"Ah, jelek"
"Jelek"
"Tidak bagus"
Hisana menatap bosan tingkah laku Rukia dari ambang pintu.
"Kau mau kemana?" tanya Hisana sembari duduk ditepi ranjang Rukia bagai lautan yang sudah dipenuhi baju-baju yang telah adiknya coba. Rukia sepertinya tak menggubris ucapan kakaknya. Ia terus mengambil dan membuang baju itu di atas ranjang bila tidak cocok dengannya.
"Ini bagus!" pekik Rukia. Senyam-senyum melihat pantulan dirinya yang begitu cantik. Dengan gaun warna merah cerah sebatas lutut tanpa lengan. Dengan sweater berwarna putih bersih yang tak terkancing membalut dirinya.
Rukia sudah siap untuk pergi. Tapi Hisana sudang bersiap mencegat adiknya tersebut dari ambang pintu.
"Eits, mau kemana?" tanya Hisana sambil me-lencang kanankan lengannya agar adiknya mau berhenti.
"Ke Chappy Show, hihi" terang Rukia sambil cengar-cengir tidak jelas. Hisana menghela nafas panjang.
"Jangan pulang kemalaman, kau tahu sendiri kan? Byakuya akan siap memarahimu" ujar Hisana sembari memencet hidung Rukia pelan.
"Siap!" Rukia memberi hormat pada Hisana lalu berlalu pergi.
"Masih lama ya?" tanya Ichigo bersandar bosan di kursi taman.
"Sebentar lagi kok" jawab Rukia sambil melihat jarum pendek di jam tangan yang di kenakannya. Menilik kanan kiri depan belakang dengan khawatir. Khawatir jika Kaien tidak menepati janjinya pada gadis ini. Rukia akan kecewa jika pria ini benar-benar tidak datang.
"Kenapa kau mengajakku juga? Aku benci kelinci tidak jelas itu"
"Kalau hantu kan gratis"
"Aku pulang ya" ujar Ichigo sambil tidur melayang seperti biasa. Gadis ini langsung memelototi pria itu dengan tajam. Tidak akan membiarkan Ichigo meninggalkannya sendirian di taman yang sepi seperti ini. "Tapi aku bosan" imbuh Ichigo.
Ichigo mengedarkan pandangannya pada para pengunjung yang antre di seberang jalan sana. Lautan manusia yang ingin menyaksikan aksi Chappy yang menggemaskan di dalam gedung bertingkat itu. Menilik satu persatu, mencari pengunjung yang tercantik disana.
"Jaga mata mu itu. Dasar pria genit. Seperti om-om" sindir Rukia pada Ichigo yang masih menyibukkan diri melihat para pengunjung. Pria ini berhasil tersindir. Menatap tajam Rukia dari ekor matanya.
"Apa?" tanya Rukia.
"Kejam" balas Ichigo. Sekilas pria ini menangkap objek yang tak terasa asing baginya. "Sepertinya disana seru" lanjut Ichigo seraya beranjak pergi. Terlihat anak-anak sampai dewasa berkumpul menikmati permainan yang sering Ichigo mainkan dengan adiknya. Menangkap ikan-ikan kecil dengan jaring tipis yang biasanya ada saat festival.
"Mau kemana kau?"
"Ck, kalau kau mau ikut saja" saran Ichigo.
"Tidak mau. Nanti Senpai tidak tahu keberadaanku!" jawab Rukia sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada. Bersikukuh dengan ucapannya. Tetap setia menunggu Kaien.
"Ya sudah. Terserah" ujar Ichigo berlalu pergi seperti angin.
Mungkin beberapa menit tanpa Ichigo dia tidak apa-apa menunggu Kaien disini. Jika 15 menit lagi Kaien tidak datang, ia akan meyusul pria berambut orange itu.
"Yah … hanya beberapa menit" ujar Rukia meyakinkan dirinya. Memberanikan diri.
To : Kaien Shiba
'Aku menunggu Senpai di taman depan gedung :). Jangan lupa :)'
Send!. Pesan Rukia berhasil terkirim pada orang yang di tuju.
"Uwah! Sendirian ya? Ugh… perutku sakit sekali" bau alcohol tercium tajam dari mulut pria ini. 'glek glek glek' pria ini meneguk minuman yang tergenggam erat ditangan kirinya dengan keras sampai terdengar Rukia yang duduk tepat disampingnya.
Rukia mulai berdiri meninggalkan bangku itu.
'Greb'. Tangan Rukia tercengkram erat oleh tangan pria berbadan besar itu. Degub jantung Rukia tidak terkendali lagi ia begitu takut.
"Lepaskan aku!" teriak Rukia memukul-mukul lengan pria itu dengan keras.
"No-Nona"
"LEPAS SIALAN!" teriak Rukia lagi.
Tangan pria tetap mencengkram erat dirinya. Dari ujung jalan terlihat sosok Ichigo yang baru keluar dari kerumunan orang-orang yang masih ramai disana.
"ICHIGO!" pekik Rukia dengan sekuat tenaga.
"Nona cantik" ujar pria ini lagi .
"Ichigooo!"
Akhirnya pria ini mendengar teriakan Rukia. Mata Ichigo membulat, mencoba berlari menyusul gadis ini. Tapi dari arah barat terlihat seorang gadis berambut hijau berjalan sambil berlari ke arah pria ini. Terlihat raut wajah yang tidak menyenangkan dari mimik gadis itu.
"Nel?" gumam Rukia.
'BUGH'. Neliel menendang keras perut Ichigo hingga pria ini jatuh terpental. Ichigo terbelalak kaget melihat Neliel yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Ugh… ap-apa yang kau lakukan!?" pekik Ichigo kesakitan.
Neliel mengangkat kerah baju Ichigo dengan kasar. Membuat Ichigo berdiri kembali. Neliel menarik kerah pria ini agar Ichigo mengikuti kemana ia pergi. Sekejap, mereka menghilang.
"Ichigo!" teriak Rukia lagi. Ia sama sekali tidak bisa mencerna apa yang terjadi dihadapannya. Ia pikir Neliel adalah sahabat kenapa gadis itu malah bersikap kasar seperti itu.
"Nona…" pria ini tak hentinya mengatakan kata'nona' pada Rukia yang masih berusaha melepaskan genggaman pria ini dari pergelangan tangannya.
'BUGH'.
Genggaman erat pria itu tiba-tiba terlepas perlahan dari Rukia. Gadis ini menoleh melihat apa yang terjadi dibelakangnya. Pria itu sudah terbujur tak berdaya memegangi perutnya.
"Ishida!?"
"Kau tak apa Kuchiki?" tanya Ishida sembari merapikan letak kacamatanya yang agak miring.
"I-Iya"
"No-Nona" ucap lagi pria itu dengan nada gemetar. Rukia semakin geram dengan pria besar tersebut yang daritadi memanggilnya dengan kata 'nona'. Rukia merasa risih.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan ha! Dasar genit! Kurangajar… kau ingin merampokku?"
"Bu-Bukan" jawab pria itu. Rukia mengerutkan kedua alisnya. Bukan? Lalu?.
"Aku hanya… ingin memberitahumu. Ka-kalau tas mu ke-ketinggalan dibangku taman" imbuh pria itu. Rukia terbelalak tak percaya. Beberapa menit kemudian pria itu pingsan.
Rukia dan Ishida masih terpaku.
"I-Ini salahmu Ishida" ujar Rukia menelan ludahnya perlahan. Mengingat kesalah pahaman yang terjadi.
"Ini salahmu Kuchiki. Salah siapa kau berteriak minta tolong" jawab Ishida. Berjalan lurus meninggalkan Rukia yang masih memandangi sang korban yang tak bersalah.
"I-Ishida! Tu-Tunggu!" Rukia menyusul Ishida dari belakang.
Sama sekali tidak bertanggung jawab.
"Kenapa!? Masih mau melakukannya!?" tanya Neliel sambil berkacak pinggang.
"Aku harus menolongnya, Nel" jawab Ichigo berusaha memberi penjelasan pada gadis berambut hijau itu. Ichigo melangkahkan kakinya. Ingin kembali dan menolong Rukia. Tapi Neliel tidak semudah itu membiarkannya pergi.
"Nel!"
'PLAK'. Pipi sebelah kanan Ichigo memerah akibat telapak tangan Neliel yang mengayun ke arahnya. Ichigo terdiam.
'PLAK'. Nel melakukannya lagi. Ichigo tetap terdiam. Kini kedua pipinya semakin memerah akibat tamparan Neliel. Gadis ini berkaca-kaca menatap Ichigo.
"Kau lihat ini!?" tunjuk Neliel pada benda yang menancap didada Ichigo. Benda yang ditanyakan Rukia tadi siang. Ichigo hanya menunduk.
"A-Aku tahu Nel, tapi-"
'PLAK'. Ichigo kembali terdiam.
"Rantaimu tinggal dua Ichigo. Dan kau ingin menggunakannya lagi demi gadis itu!?" air mata Neliel mulai mengalir dari ujung matanya menuruni pipinya yang pucat pasi. Ichigo tidak tega melihatnya.
"Nel … kau-"
"Dia itu sama sekali bukan siapa-siapa mu, Ichigo. Kau rela memberi rantai kehidupanmu demi gadis asing itu!? Apa kau begitu tolol sampai tak bisa berfikir jernih ha!?"
"…."
"Kau rela kesakitan dan membuang waktumu untuk sekedar bertemu Ibumu demi orang itu?"
"Dia temanku Nel" jawab Ichigo.
"Teman!? Teman yang akan membunuhmu perlahan-lahan!?" ujar Neliel dengan nada semakin meninggi.
"Hentikan Nel!"
"SADAR ICHIGO! KAU ITU SUDAH MATI! KAU ITU HANYA ROH! TIDAK ADA ORANG MATI YANG BERTEMAN DENGAN ORANG YANG MASIH HIDUP!" teriak Nel.
Tangis Nel pecah begitu saja setelah mengatai Ichigo dengan kata-kata tajam itu. Bahkan Nel sendiri tidak bisa menahan kekesalannya pada pria itu.
"NEL!" pekik Ichigo yang sedaritadi berusaha menahan amarah. Tapi kata-kata Nel kali ini benar-benar keterlaluan. Membuat Ichigo geram atas sikap Nel hari ini.
"Dia … membuatku merasa hidup kembali, Nel" terang Ichigo. Sejenak Neliel terdiam.
"Tapi dia bisa membunuhmu Ichigo" Neliel angkat bicara.
"Berkorban demi teman bagiku tak masalah" jawab Ichigo.
"Demi teman?"
"Sudahlah Nel, kau tidak akan mengerti" ucap Ichigo sembari melangkah pergi.
"Kau menyukai gadis itu kan? Ichigo" ucap Nel menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Sukses membuat langkah Ichigo terhenti. Pertanyaan yang berhasil membuatnya tidak berkutik.
"I-Itu tidak benar" balas Ichigo berlalu pergi.
"Ada apa?" tanya Ishida pada Rukia berusaha memecah keheningan diantara mereka. Yang sedari tadi duduk berdua tapi taka da yang bersuara sedikitpun.
Rukia tersadar dari lamunannya. Ia hanya tersenyum kecil ke arah Ishida.
"Tidak … aku hanya bingung dengan Neliel dan Ichigo" ucap Rukia sembari menyeduh teh panas yang sudah menguap harum dihadapannya.
"Ada apa dengan mereka?"
"Tadi … Nel menghajar Ichigo dan membawanya pergi" terang Rukia.
Ishida kembali membetulkan letak kacamatanya. Ia tak tahu bagaimana cara membertahu Rukia dengan benar. Mungkin gadis itu akan merasa bersalah setelah mendengar penjelasannya. Tapi apa boleh buat.
"Aku yang menyuruh Nel untuk membawa Kurosaki" jawab Ishida santai.
Rukia semakin tidak mengerti. "Kau?"
"Agar Kurosaki tidak menampakkan wujudnya demi menyelamatkanmu. Makanya, aku yang datang kesana" lanjut Ishida. Rukia memandang heran ke arah Ishida dengan beribu pertanyaan memenuhi kepalanya. Memangnya kenapa jika Ichigo menampakkan diri?.
"Kau tahu dua rantai yang masih menancap di dada Kurosaki?"
Rantai? Jadi itu adalah rantai?. Rukia menggelengkan kepalanya.
"Itu adalah sisa waktu Kurosaki"
Waktu?. Rukia sama sekali tidak mengerti dan sama sekali tidak mengerti. Ternyata banyak hal yang Rukia tidak tahu tentang Ichigo. Rukia masih terdiam.
"Ketika seorang roh menampakkan wujudnya, maka beberapa saat kemudian ia akan merasakan sakit yang luar biasa. Lalu …. Satu butir rantai akan menghilang" ujar Ishida dengan nada serius.
Rukia menggenggam tangannya erat. Hatinya terasa pilu ketika mendengar kata 'sakit yang luar biasa' dari mulut Ishida. Sekarang ia mulai paham. Berarti ketika Ichigo menampakkan diri, maka pria itu akan merasakan sakit yang luar biasa.
Ichigo rela mengorbankan dirinya demi seorang Rukia yang lemah?.
Berarti jika Ichigo menggunakannya dua kali lagi, maka …
"Ichigo tidak akan menghilang"
"La-Lalu?" tanya Rukia..
"Ketika rantai terakhirnya mengelupas, ia akan berubah menjadi monster. Kami biasa menyebutnya 'Hollow'" ungkap Ishida.
Rukia membulatkan matanya terkejut dengan ucapan Ishida. Ichigo akan berubah menjadi monster?. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit Rukia.
"Maka dari itu, sebelum rantai terakhirnya menghilang … dia harus 'menyeberang'"
Menyeberang?.
"Menyeberang ke tempat berkumpulnya para roh. Soul society"
"Ka-Kalau begitu kita harus menyeberangkannya!" ujar Rukia.
"Dia tidak mau, aku juga tidak tahu apa yang menghambatnya. Untuk itu, aku mohon Kuchiki … buatlah Kurosaki memanfaatkan waktunya dengan baik. Jangan buat dia melakukan itu lagi"
"…"
"Aku pikir, ia mau menyeberang bila rantainya sudah menipis. Maka dari itu, hubungi aku bila sesuatu terjadi padanya" ucap Ishida.
Tok tok tok
Tidak ada suara balasan dari dalam sana. Ichigo masih saja mengetuk jendela agar Rukia segera menjawabnya.
"Rukia!" bisik keras Ichigo dari luar. Masih tak ada sahutan dari sana. Ichigo bertekad masuk, mungkin Rukia sedang tidur. Lagipula Rukia tak akan menyadari keberadaannya.
Ichigo menembus dinding.
Terlihat sesosok manusia tengah lelap di alam mimpi. Dengan wajah lelah tertutupi oleh rambut yang tergerai dari samping. Ichigo menatap intens Rukia yang tengah tidur di meja belajarnya. Beberapa kertas dan bolpoin berserakan disekitarnya.
Sebenarnya pria ini ingin meminta maaf pada Rukia yang tak sempat ia selamatkan tadi malam tapi ia urungkan untuk saat ini. Ichigo mendekat.
Tiba-tiba ia terngiang perkataan Neliel beberapa waktu lalu.
'Kau menyukai gadis itu kan? Ichigo'
Masa' seorang Ichigo menyukai gadis seperti Rukia. Yang bahkan berbeda 360 derajat dengan Senna.
Ya. Ichigo masih mempunyai Senna.
Ichigo menggeleng cepat. Berusaha menghilangkan kata-kata itu dari pikirannya. Rukia hanyalah seorang teman baiknya selama ini. Ia tidak mungkin punya perasaan semacam itu pada gadis itu. Rukia hanyalah gadis liar dan keras kepala seperti gorilla. Itulah yang dipikirkan pria ini.
Ichigo mengangguk cepat seraya berkata, "Ya … dia memang gadis yang menyeramkan"
Kalaupun ia menyukai gadis ini, ia bingung. Apa yang ia suka dari gadis berandalan seperti ini?.
Ichigo merunduk. Mencoba melihat wajah lelap Rukia dari dekat. Perlahan Ichigo menyibak beberapa helai rambut Rukia yang menutupi pandangannya. Perlahan wajah Rukia terlihat jelas dimata Ichigo.
Dia punya bulu mata yang panjang. Wajahnya putih dan bersih. Bibirnya kecil dan ….
"Astaga!" pekik Ichigo langsung tegak berdiri. Memukul kepalanya berkali-kali. Sialan! Apa yang sebenarnya Ichigo pikirkan. "A-Aku sudah gila".
"Ayolah … dia seorang gadis gorilla!" ujarnya pada dirinya sendiri. Ichigo menatapnya lagi, semakin berusaha menyakinkan dirinya kalau Rukia bukanlah seorang gadis yang bersikap seperti gadis. Dia adalah seorang gorilla. G-O-R-I-L-A.
Tiba-tiba ada sesuatu yang aneh dari diri pria ini. Jantungnya terasa sesak. Ada apa ini?
Sial!
Apa yang harus kulakukan?
Apa yang harus kulakukan untuk menebus
Dosaku pada Ichigo?
Kenapa dia melakukan itu untukku?
Kenapa dia mau mempertaruhkan waktunya yang berharga
Demi aku?
Aku memang bodoh!
Aku tidak tahu apa-apa tentang Ichigo
Padahal dia selalu membantuku
Tapi, aku malah menjadi beban buat dia
Bahkan aku tidak tahu asal usul Ichigo
Siapa Ichigo sebenarnya?
Dimana rumah Ichigo?
Dan …
Kenapa dia bisa meninggal? Apa penyebabnya?
Lalu ... Kenapa Senpai tidak datang tadi malam?
"Kau tidak makan?" tanya Byakuya pada Ruki yang masih melamun tidak jelas. Pandangannya kosong. Nasi dan lauk yang sudah kakaknya susun rapi di atas piring belum ia sentuh sama sekali. Kantung matanya menghitam, seperti habis ditonjok para preman. Seluruh badannya serasa rontok satu persatu gara-gara ia ketiduran dimeja semalaman.
"Ehem!" pekik Byakuya.
"I-Iya" Rukia tersadar, langsung menegapkan badan dan langsung menyentuh garpu dan sendok yang telah lama ia abaikan.
"Apa nanti orang aneh itu jadi datang?" Hisana angkat bicara.
"Aku tidak tahu, katanya dia akan membawa anaknya juga" jawab Byakuya.
"Siapa itu Nee-san?" tanya Rukia.
"Pamanmu yang dari Kyoto"
TBC
Terimakasih sudah membacanya pemirsah :D
Dan terimakasih buat agan-agan yang sudah me-Review ff saya di chapter sebelumnya
Ditunggu lagi KRITIK, SARAN dan REVIEW nya yah!
