Title: Mermaid
Summary: Yang namanya musim kawin mereka, ya, yang seperti ini.
Pairing: Roppi/Tsuki~! Dan berbagai pairing lainnya~! (Pokoknya para Heiwajima itu uke-nya para Orihara) :D
Rate: Strictly M. Anak baik, baca aja dan kasih ripiu ke saia biar saia seneng~! :D
Disclaimer: Sampai nanti saia jadi millionaire juga, Narita Ryohgo-sensei ga mungkin rela nyerahin durarara! ke saia.
Bacotan: Saia tahu saia molor bukan main. OwO Maaph~! Jangan marah~!
Ya, pokoknya, enjoy the mermaids in heat~! XD *ketawa mesum*
Dan, seperti yang Shizuo bilang, dia akan membuat Izaya tidak bisa melupakan bahwa tiap bulan purnama baru kedua tiap musim panas adalah musim kawin duyung.
Dia tidak menghiraukan Izaya yang dari tadi mengingatkannya untuk merenggangkan dirinya dulu. Dia langsung menduduki pinggul Izaya, menggesekkan sedikit lubangnya dengan ujung ereksi Izaya, mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi, memegang milik Izaya agar tidak bergerak, lalu dengan cepat menduduki kembali pinggul Izaya tepat pada ereksinya yang langsung menelusup dalam sekali ke tubuhnya.
Shizuo meraung kesakitan, tapi juga menggeliat nikmat karena ereksi Izaya bisa dengan sangat tepat menyentuh 'titik' dalam tubuhnya itu.
"Tuh, kan! Apa kubilang! Kau harusnya merenggangkan lubangmu dulu!" Izaya memarahi Shizuo.
Si pirang itu hanya tersenyum kecil menanggapi bentakan Izaya. "Habis… aku sudah tidak tahan lagi…" desahnya pelan dan manja sambil mengangkat tubuhnya dengan lamban sekali. Dia membuka kedua kakinya lebar-lebar, membuat Izaya bisa melihat dengan jelas ereksinya yang berada dalam tubuh Shizuo perlahan keluar. "Hahh… Izaya…" dia mendesah lagi sambil merasakan tubuhnya yang tadi terisi penuh mulai agak kosong dengan perlahan.
Izaya menelan ludahnya. Pemandangan yang disuguhkan Shizuo untuknya terlalu panas. Kulitnya merona, matanya setengah tertutup, mulutnya sedikit terbuka dan sesekali kedua rahang itu terkatup ketika pemiliknya merasa sakit, napas memburu, putingnya mengeras, dan, yang paling membuat Izaya terpana, ereksinya yang masih setengah jalan dari keluar sepenuhnya.
Shizuo benar-benar tahu bagaimana cara menyiksanya dengan penyiksaan paling indah di hidupnya.
Dia ingin berada di dalam tubuh Shizuo yang panas dan ketat lagi, dia ingin sekali rasanya mendorong Shizuo agar berbaring telentang dan tinggal menunggu untuk dipenuhi olehnya. Dia ingin sekali kembali ke dalam tubuh Shizuo. Sekarang!
Shizuo bergerak agak cepat mengangkat tubuhnya sampai hanya ujung penis Izaya saja yang berada di dalam tubuhnya. "Izaya~…" panggilnya dengan suaranya yang menggoda. Dia menaikan sedikit lagi tubuhnya, tapi tidak cukup kuat atau tinggi untuk membuat Izaya keluar sepenuhnya dari dirinya.
"Shizu-chan… jangan lakukan. Jangan…"
Sebuah senyum menggoda menghiasi wajah Shizuo. Dan Izaya terlena pada senyum itu sampai Shizuo tiba-tiba mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi dan ereksi Izaya keluar sepenuhnya.
"Shizu-chan…" keluh Izaya. Angin dingin dari jendela yang tidak tertutup rapat membuat dirinya menggigil. Padahal bagian dalam tubuh Shizuo begitu nyaman dan panas. Izaya merasa tidak rela keluar dari panas itu.
"Habis… kau ingin melihat aku merenggangkan lubangku, kan?" tanya Shizuo. Senang sekali dia bisa menjahili Izaya seperti ini.
Dia menjilati jemarinya, lalu memasukkan ketiganya ke dalam mulutnya, kembali menjilati, dan lalu menumpahkan liurnya pada tangannya. Kali ini, dia bertumpu pada kedua lututnya dan sebelah sikunya. Perlahan, dia mendorong telunjuknya memasuki lubangnya. Dia tidak menemui sedikit pun kesulitan, maka dia langsung memasukkan kedua jarinya yang lain. Tentu saja tidak akan begitu banyak kesulitan. Dia sudah memasukkan ereksi Izaya terlebih dahulu tadi.
"Shizu…"
"Kau tidak punya pelumas, ya?"
"Ha? Terakhir kali juga, kita tidak menggunakannya. Kau tidak pernah protes."
"Kita melakukannya di air. Kalau begini, aku takut aku bisa luka."
"Tapi tadi kau sudah memasukkan semuanya dan kau baik-baik saja!" protes Izaya.
Shizuo merengut sedikit. "Izaya tidak mengerti…" gumamnya. Dia lalu menundukkan kepalanya, menciumi ereksi Izaya yang sudah agak basah karena tadi, lalu dengan cepat, Shizuo memasukkan seluruhnya ke dalam mulutnya, dan hampir tersedak ketika ujung ereksi Izaya menabrak bagian belakang mulutnya.
Izaya mengerang keras. Ya, dia tidak menduga ini yang akan datang.
Shizuo menghisap penis dalam mulutnya dengan keras, lalu menaik-turunkan kepalanya, menggigit sedikit, lalu melepaskannya.
Ketiga jarinya masih sibuk merenggangkan lubangnya sendiri. Shizuo kembali memasukkan ereksi Izaya ke dalam mulutnya.
Setelah berapa lama merenggangkan, dia menarik keluar jari-jarinya dan juga mengeluarkan milik Izaya dari mulutnya.
Sambil memposisikan dirinya di pinggul Izaya lagi, dia menarik napas. Dia langsung memasukkan ereksi Izaya sepenuhnya ke dalam lubangnya. "Hyah~!" pekiknya ketika ereksi Izaya kembali memenuhi tubuhnya.
"Shizu-chan!" raung Izaya.
"Izaya… Izaya…" Shizuo merintih sambil terus bergerak naik turun sambil menyempitkan lubangnya.
Dia menunduk dan mencium Izaya, meminta untuk dibiarkan masuk. Izaya dengan senang hati memberikan jalan untuk lidah Shizuo masuk ke dalam mulutnya. Lidah mereka bertaut, lagi-lagi saling mendominasi.
Sebelah tangan Izaya bergerak ke bagian bawah tubuh Shizuo dan meremas bokong Shizuo dengan keras sementara yang satu lagi memainkan puting si pirang.
Keduanya mendesah keras.
Dalam hitungan menit, Shizuo melepaskan semennya sambil mengerang lantang. Tubuhnya menegang, lubangnya mengetat dan meremas ereksi Izaya kuat-kaut.
Izaya tidak lagi tahan. Dia juga mengeluarkan semennya ke dalam tubuh Shizuo.
Keduanya diam, mencoba untuk mengatur napas. Lalu, Shizuo memecah kesunyian itu. "Izaya… bualnnya masih tinggi…" gumanya sambil menunduk dan menjilati telinga Izaya.
"Aku tahu, Shizu-chan. Kali ini, kau berbaring saja. Aku yang kan memuaskanmu."
"Seks?"
Delic tersenyum lemas. Tubuhnya sudah sangat panas dan dia tidak lagi tahan. "Ya? Kumohon… aku tidak tahan…" pintanya dengan wajah memelas. Dia memang rasanya ingin mengutuk musim kawin yang datang dengan teratur tiap tahun.
Hibiya tertawa kecil. "Kau memintaku yang baru pertama kalinya kau temui untuk melakukan itu padamu?"
"Apa boleh buat. Musim kawin selalu membuatku gila."
"Kalau aku sudah melakukannya, aku mungkin akan mengklaim dirimu sebagai milikku. Kau masih mau?" tanyanya dengan seringai yang lebar. Dan menggoda bagi Delic.
Delic tersenyum pada Hibiya. "Boleh, kok."
Hibiya langsung menahan bahu Delic ke tempat tidur dan mencium rahang pemuda berambut pirang itu. Lagi-lagi, Hibiya merasa kesal atas alasan yang sama. Kenapa Delic yang baru dia temui bisa membuatnya seperti ini? Langsung membuatnya melangkah keluar dari zona nyamannya dimana dia tidak harus terlalu banyak berinteraksi dengan emosi atau perasaan orang lain?
"Hibi-chan…" rintih Delic lemah ketika dia menggigit kulit leher Delic setelah melihat ada bekas merah kecil disana.
Kenapa dia harus merasa kesal?
"Apa in, Delic?" tanyanya sambil menekan bekas merah pada leher dan bahu Delic.
"Aku diperkosa." Singkat, padat, jelas, dan datar cara Delic menyampaikan kalimat pendek yang bisa membuat orangtua manapun berteriak kesetanan kalau diucapkan oleh anak mereka itu.
Dilihat dengan cara apapun, terlihat sekali bahwa Hibiya tidak suka mendengar jawaban itu. Dia langsung menarik Delic keluar dari tempat tidur dan menyeretnya ke kamar mandi. Sesampainya disana, dia langsung memaksa Delic bersimpuh di kaki bath tub dan menumpukan tangan si pirang disana. "Angkat pinggulmu," perintahnya dengan suara yang dingin.
Delic menurut. Dia bersimpuh sebentar, lalu menaikkan pinggulnya agak tinggi. "Hibi-chan…?"
Hibiya tidak menjawab. Dia hanya mengambil shower dari penahannya di tembok di atas bath tub, menyalakan airnya, lalu menyiram Delic yang langsung memekik kedinginan. "Aku harus membersihkanmu dulu, kalau begitu, Delic," ujarnya dengan seringai.
Jubah mandi yang dari tadi menutupi tubuh Delic lepas, tergeletak begitu saja di lantai kamar mandi.
"Hibi—" Delic tidak pernah punya kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya karena Hibiya sudah terlebih dulu membuat dia mendesah dengan lantang dengan jemarinya yang dia masukkan ke dalam tubuh Delic dan mulai merenggangkan lubang pemuda berambut pirang itu.
Lalu Delic merasakan air dingin masuk ke dalam tubuhnya.
Hibiya dengan kasar membuka, merenggangkan, dan mengaduk-aduk dirinya. Delic bisa melihat sisa-sisa 'apapun yang dimasukkan oleh Viscount gila ke dalam tubuhnya' keluar bersama dengan air yang Hibiya masukkan ke dalam tubuhnya dengan paksa. "Hibiya…"
Pemuda yang dipanggil sedikit tersentak. Ini pertama kalinya Delic memanggil dirinya dengan benar.
Dengan sebuah seringai, Hibiya menarik keluar jari-jarinya. "Delic… kau sebaiknya siap sekarang,"ujarnya sambil menurunkan celana panjang hitamnya. Dia memang belum benar-benar merenggangkan Delic. Tapi, memangnya dia bisa peduli akan hal itu sekarang?
Dengan satu gerakan, Hibiya mendorong ereksinya melalui lubang Delic yang langsung memekik sakit. Musim kawin atau bukan, ini pertama kalinya dia membiarkan orang selain dirinya untuk memuaskan dirinya.
Yang dengan viscount itu sih… lain lagi ceritanya. Tapi, itu tidak lagi penting sekarang.
Delic butuh Hibiya untuk bergerak sekarang atau dia akan terus diam merasakan sakit itu lebih lama!
"Hibiya…" erang Delic sambil memandang ke belakang, ke Hibiya yang dari tadi tidak bergerak.
"Ya, Delic?"
"Bergerak. Aku tidak tahan…"
Tidak akan semudah itu bagi Hibiya untuk melakukan permintaan Delic. "Kalau aku tidak mau?"
"Hibiya…"
Pemuda berambut hitam itu hanya diam menyeringai sambil menarik keluar ereksinya, sementara Delic menyempitkan lubangnya, berharap hal itu bisa menahan agar bagian tubuh Hibiya itu tetap berada di dalamnya. Ya, setidaknya ujung ereksi Hibiya masih berada di dalamnya sekarang.
"Hibiya… masuk sekarang…"
"Mohon padaku."
Delic hanya memandangi Hibiya dengan mata memelas. Dia sudah tidak tahan dan sekarang Hibiya sedang bermain raja-rajaan dengannya? Ayolah, harusnya pemuda berambut hitam itu tahu betapa Delic sekarang membutuhkannya di dalam tubuhnya! Masa Delic harus meraung-raung memintanya untuk melakukan hal itu?
"Kumohon… masuk…
Ya, itu memang bukan yang terbaik yang bisa Delic katakan. Biar saja, coba lihat siapa tahu Hibiya cukup puas dengan itu.
"Hm? Kau kira yang segitu cukup?"
Tidak cukup?
"Ayo, mohon yang benar Delic…"
Wajah Delic
Wajah Delic bertambah merah. Dia harus benar-benar berani mempermalukan dirinya di depan—atau di bawah?—Hibiya. Dia menarik napas dalam-dalam dan memandang Hibiya sekali lagi. "Hibiya… kumohon. Aku membutuhkan penismu di dalam tubuhku dan tolong lakukan dengan keras dan cepat sekarang. Aku benar-benar membutuhkannya, jadi sebaiknya kau lakukan sekarang."
Dan dia bisa merasakan wajahnya yang panas bertambah panas. Oh, ya. Hebat.
Hibiya memegang pinggul Delic. "Baiklah, kalau itu maumu."
Dia mendorong dirinya masuk dalam-dalam dengan keras, berhasil membuat Delic meraung kesakitan dan nikmat sekaligus.
Tangannya mulai menggerayangi tubuh Delic. Dia memeluk Delic erat-erat. Tangannya yang satu bergeerak ke bawah, mulai bermain dengan ereksi Delic sementara tangannya yang satu lagi bergerak bermain dengan puting Delic yang mengeras.
"Hyah!" Delic menjerit ketika Hibiya mendorong ereksinya dengan keras lagi, tepat mengenai prostatnya dengan lebih keras dari sebelumnya. Hibiya lansgung menekan titik itu dengan ereksinya, menjadikan tampat yang sama sebagai sasaran tiap kali dia bergerak masuk dan keluar.
Dia pandangi tubuh Delic yang ternyata dipenuhi dengan bekas-bekas berwarna merah. Tiap tanda dia timpa dengan tanda baru dengan mulutnya. "Ah…" Delic merintih sedikit ketika Hibiya menggigit bahunya dengan keras.
"Delic… kau milikku."
Dengan itu, Hibiya bergerak lebih cepat lagi sementara Delic di bawahnya hanya bisa merintih dan mengerang penuh kenikmatan tiap Hibiya menyerang terus-menerus titik yang sama dalam tubuhnya itu. "Hibiya… ah… jangan terlalu… uh… cepat… hyah… Hibi-yah~!"
Delic melepaskankan semennya, membasahi tangan Hibiya dan dinding luar bath tub, jugalantai. Dia meremas ereksi Hibiya kuat-kuat dalam tubuhnya dan Hibiya juga mengeluarkan cairan putih kental ke dalam tubuh Delic, yang ikut kelua sedikit ketika dia menarik penisnya keluar.
"Hibi-chan…" panggil Delic sambil berbaring lemas di lantai, tidak peduli bahwa rambutnya terkena semennya sendiri.
"Hm?" tanya Hibiya sambil mengecup kening Delic.
"Kita lakukan sambil mandi, ya?" tanya Delic dengan wajah yang cerah oleh senyuman puas. Ya, kalau Hibiya memang menginginkannya sebagai miliknya, berarti Hibiya harus berani memenuhi keingintahuannya tentang hal-hal seperti ini, kan?
Hibiya terkekeh sedikit. "Shower atau bath tub, Delic?"
Tsugaru menyandar pada tembok di belakangnya dengan kaki yang terbuka lebar dan ereksi yang sudah mulai basah. Kedua tangannya menarik, meremas, memainkan ereksinya dan buah zakarnya. Sebuah desahan panjang keluar dari mulutnya ketika dia memutuskan untuk membiarkan tangannya yang satu berganti tugas.
Dia melipat kedua kakinya ke atas agar pinggulnya agak terangkat dan lubangnya bisa terlihat jelas oleh siapapun yang duduk di depannya. Dalam hal ini, Psyche yang sedang dudukdi lantai dengan memangku dagunya dengan kedua tangannya di tempat tidur dengan sikunya menjadi tumpuan, memandanginya dengan tatapan intens.
"Kau yakin, Psyche?" tanyanya sambil menekan lubangnya sedikit dengan jemarinya. Dia percaya saja kalau kata Psyche hal ini akan lebih menyenangkan daripada stimulasi biasa. Tapi, dia belum berani untuk mencoba hal yang baru ini. Stimulasi anal.
Tidak, dia belum pernah mencobanya.
"Tenang saja. Rasanya nikmat kok, Tsu-chan. Mau aku yang melakukannya untukmu?" tanya Psyche dengan wajah cerianya yang seperti biasa. Hanya saja kali ini ditambah dengan sedikit seringai dalam senyumnya.
Tsugaru menggeleng pelan. "Aku saja…" gumanya seperti berbisik sambil menekan jalan masuk ke dalam tubuhnya dengan lebih keras. Ujung jari tengahnya masuk, ruas pertama, ruas kedua, ketiga, sampai ke pangkal jarinya. Setiap gerakan membuatnya mengernyit kesakitan.
Apa mungkin Psyche berbohong padanya?
Dia memutuskan untuk terus mencoba saja. Jari tengahnya bergerak keluar masuk, makin lama makin mudah.
"Tambah telunjukmu," perintah Psyche sambil menelusuri paha Tsugaru dengan jarinya. Jarinya berhenti sebentar pada kepingan sisik berwarna biru muda pada paha dalam Tsugaru.
"Uhm…" Tsugaru menuruti perintah Psyche. Dia mendorong telunjuknya masuk. Rasanya sedikit lebih sakit daripada yang pertama tadi.
Lalu dia menggerakkan keduanya seperti tadi lagi, kelaur dan masuk. Tapi Psyche menahan pergelangan tangnnya. "Kau salah, Tsu-chan," ujarnya. "Harusnya, kedua jarimu ini bukan hanya bergerak keluar masuk. Coba jauhkan keduanya."
Tsugaru lagi-lagi menurut. Dia menjauhkan jari telunjuknya dari jari tengahnya. Rasanya perih dan seperti terbakar, tapi dia tetap melakukannya. Lubangnya terbuka sedikit dan Psyche merasa celananya mulai terasa makin ketat saja.
"Begini, Psyche?" tanya Tsugaru dengan napas agak berat dan mata yang setengah tertutup.
"Iya. Sekarang jari manismu juga."
Tsugaru memandang Psyche dengan mata yang agak terbelalak. Dua jari saja dia sudah kepayahan seperti ini. Apalagi kalau dia tambahkan dengan satu jari lagi. "Psyche…"
"Ayo, lakukan saja."
Salahkan orangtuanya yang membesarkan dia menjadi anak yang penurut. Tsugaru mendorong masuk jari manisnya sambil merintih panjang.
Psyche mendekatinya dan mencium rahangnya dan bagian belakang cuping telinganya. "Biar aku bantu, deh," bisiknya pelan sambil menyusuri tubuh Tsugaru dari lehernya, turun ke dadanya dan bermain sebentar dengan putingnya, perut, dan dengan cepat jemari Psyche bergabung dengan milik Tsugaru di dalam tubuhnya.
"Psyche!" Tsugaru menjerit ketika lubangnya terasa perih sekali karena tiba-tiba dimasuki oleh tiga jari sekaligus. Airmatanya menggenang di sudut matanya. "Sakit…" rintihnya pelan sambil menggeliat.
Psyche diam dan terus mendorong masuk jarinya. "Ah, pantas saja kau kesakitan dari tadi," gumamnya pelan. "Kau menyentuh tempat yang salah," ujar Psyche sambil menuntun jemari Tsugaru dengan jemarinya yang juga berada di dalam si pirang. "Nah, lain ceritanya kalau kau menyentuh disini," ujarnya sambil memaksa jari Tsugaru menekan satu titik di dalam tubuhnya.
Ada sedikit sentakan dari dalam tubuhnya. Tsugaru menyentuh titik itu lagi. Sentakan itu terasa lagi.
"Itu juga masih tempat yang salah. Itu baru ujungnya, Tsu-chan," bisik Psyche sambil sesekali mengulum daun telinganya. "Punyamu dalam sekali, ya?"
Mendengar itu, Tsugaru memaksa jarinya untuk masuk lebih dalam dan menekan titik yang baru itu.
"Ah~!" Tsugaru menjerit dan tubuhnya tersentak keras. Airmata yang tadi tergenang jatuh ke seprai. Berubah menjadi dua butir batu bening berwarna biru.
"Ah, ya, yang itu."
Psyche juga ikut menekan dan terus menyerang titik itu dengan jarinya. Memang agak susah karena lubang Tsugaru yang masih sempit karena baru pertama kalinya melakukan ini, tapi dia tetap melakukannya hanya untuk melihat ekspresi Tsugaru yang begitu menggoda.
Setelah berapa lama, Tsugaru mengeluarkan semennya dari ereksinya yang tadi terlupakan sambil mengerang lantang.
Psyche menarik keluar jemarinya dan menurunkan retsleting celana panjang putihnya, lalu menarik keluar ereksinya yang terasa sakit karena dari tadi dikekang dari dalam celananya. "Supaya gampang, Tsu-chan, kita bisa menggunakan ini," ujarnya sambil menggesekkan ereksinya pada milik Tsugaru yang agak lemas karena baru saja mencapai puncak.
Tsugaru memandang milik Psyche.
Tidak mungkin! Miliknya itu pasti sangat sakit kalau dimasukkan ke dalam tubuhnya karena ukurannya juga lebih besar dari sekedar enam jari! Lagipula, kenapa dengan tubuh yang tidak terlalu besar, Psyche bisa punya yang seperti itu?
"Terkejut, Tsu-chan?" tanya Psyche sambil melepas headphone-nya dan meletakkannya pada meja kecil di samping tempat tidur Tsugaru. Sebuah seringai menghiasi wajahnya.
"Psyche…" Tsugaru agak sedikit takut.
"Tidak apa-apa, Tsugaru. Aku akan membuatmu merasa nikmat," bisik Psyche sambil menarik keluar jari Tsugaru dari lubangnya dan menekankan ujung ereksinya pada lubang Tsugaru, siap untuk menggantikan perasaan kosong yang sekarang ada karena jari-jari yang sudah di keluarkan.
Dia mendorong dengan keras sampai setidaknya setengah ereksinya masuk ke dalam tubuh Tsugaru yang langsung meraung nikmat karena titik tadi tersentuh dengan keras. "Psyche~!" jerit Tsugaru. Dia tidak menyangka rasa sakit yang ada tidak terlalu terasa seperti ini dan dia tidak menyangka dia bisa mengeluarkan nada seperti itu dalam hidupnya. Baiklah, dia tidak lagi peduli kalau nada suaranya terdengar aneh. Dia hanya ingin Psyche bergerak memenuhinya sekarang walaupun dia sudah menduga dia akan pegal-pegal besok.
"Ya, Tsugaru?" Psyche menanggapi sambil menghisap puting Tsugaru yang mengeras dari tadi, lalu menjilati dengan lahap cairan putih kental yang membasahi perut dan dada Tsugaru.
"Lagi…"
Dengan sebuah seringai, Psyche menarik keluar ereksinya sampai tinggal ujungnya di dalam dan mendorongnya kemabli masuk dengan lebih keras lagi dibandingkan dengan yang tadi, kali ini nyaris sampai ke pangkalnya.
"HYAH~!" Tsugaru lagi-lagi menjerti.
'Tsu-chan itu senang berteriak kalau sedang melakukan hubungan seks,' Psyche membuat catatan kecil dalam otaknya.
Dia menarik lagi ereksinya dan mendorongnya masuk, keluar, masuk, keluar, masuk, terus begitu sampai akhirnya dia sendiri merasa bahwa dia sudah tidak tahan lagi dengan dengan liang Tsugaru ynag ketat dan panas sekali.
"Tsu~ga~ru~, kukeluarkan di dalam, ya?"
Tsugaru sudah terlalu tenggelam dalam kenikmatan untuk bisa menolak. Dia hanya mengangguk lemas sambil membuka lilitan obi-nya yang sepertinya hanya sebagai penahan agar kimono-nya tidak lepas. Begitu obi tersebut lepas, kimono Tsugaru juga langsung merosot, menunjukkan sedikit lagi kulit yang seputih marmer.
Psyche langsung hilang kendali rasanya. Dia mendorong dan menarik ereksinya dengan cepat tanpa memberikan Tsugaru kesempatan untuk menyelesaikan kalimat apapun yang tadinya mau dia katakan.
"Psy—ah! J-jangan… yah~… Psyche… terlalu… ah… unh… yah~!"
Tsugaru mencapai puncak untuk kedua kalinya malam itu.
Dan Psyche tidak bisa tahan dengan remasan erat lubang Tsugaru di sekeliling penisnya. Dia mengeluarkan semennya dalam tubuh Tsugaru sambil mengerang puas.
Keduanya lalu terbaring di tempat tidur sambil mencoba untuk mengatur napas.
"Psyche… hh… bulannya… hhah…" ujar Tsugaru dengan napas yang terpotong-potong.
"Hm?"
"Bulannya… masih tinggi…"
Psyche menyeringai sedikit mendengarnya. "Jadi, apa itu maksudnya aku boleh melakukannya lagi?"
"Roppi-saaaan~…" desah Tsukishima yang sedang duduk di sofa sambil menggeliat sedikit. Kacamatanya merosot dan sedikit berkabut. Tubuhnya berkeringat dan napsanya memburu. Kedua kakinya terbuka lebar dan kepala Roppi berada di antaranya.
Roppi berusaha untuk tidak terlalu menghiraukan desahan-desahan yang dikeluarkan oleh Tsukihsima. Dia tetap melakukan apa yang sedang dia lakukan.
Membuat Tsukishima mencapai puncak sekarangjuga.
Roppi menjilati pangkal ereksi Tsukishima, lalu mengulum ujungnya, sedikit menggigit, lalu menelan ereksi si pirang ke dalam mulutnya sepenuhnya.
Tsukishima mengerang lantang lagi dan semennya kelaur lagi untuk kedua kalinya.
Roppi berdiri dan memandang Tsukishima yang hanya diam dan balas memandang
Duyung itu tidak terlalu banyak meminta. Dia hanya diam dan menerima apapun yang bersedia Roppi lakukan untuknya agar bisa lepas dari perasaan aneh yang baru pertama kali dia alami ini.
Tapi, sepertinya, sekedar oral saja tidak akan cukup baginya.
"Tsuki. Naik ke tempat tidur," perintah Roppi lembut sambil menunduk dan mencium bibir Tsukishima. Dia mendorong bibir Tsukishima sedikit ddengan lidahnya dan Tsukishima, entah insting atau karena sudah tahu, langsung membuka mulutnya untuk lidah Roppi masuk. Berapa saat, lidah Roppi menelusuri bagian dalam mulut Tsukishima yang tidak melawan balik dengan lidahnya, hanya menautkannya pada milik Roppi sesekali.
"Roppi-san?" Tsukishima belum juga bergerak dari tempatnya.
"Tempat tidur, Tsuki," ulang Roppi. "Sekarang."
End of Chapter 7
Wahaha~! Saia telat banget apdetnya dari hari yang direncanakan~! *bangga* Yea, it's a bit hectic lastly. Saia bingung nyari waktu yang tepat untuk apdet ato publish tanpa dipelototin, haha. Tadinya, chappie ini mau saia apdet kemaren siang setelah 'Curse the Size', tapi saia tiba-tiba harus pergi. Jadi, ga jadi deh. Hehe.
Dan, kayaknya ga terlalu seru ya… =^= Saia sendiri paling suka yang Psyche, soalnya Tsu-chan-nya innocent-innocent gimana~ gitu. Tapi tentang 'ukuran' Psyche itu… jangan tanya. Pokoknya, jangan. Lalu, buat bagian RoppiTsuki-nya, itu di next chap. Hehehe.
Okeh, deh. Sekian dulu, pemirsa. Kita jumpa di chapter selanjutnya~! :D
Minta ripiunya~! XD
