BIAS
Chapter 7
YoonMin; Dom!Yoon, Sub!Min. Indonesia!AU. Entah, ini nonbaku atau semibaku
Slight!VKook & NamJin
Malam ini, sesuai dengan arahan Bang PD, JTS beserta para buddy-nya bakalan ngejalanin misi pertama mereka. Ho-oh, ini bakal ditayangin di VLive juga. Nama misinya, Dating Your Idol.
Jadi, disini, semua buddy harus nebak kepribadian dan semua hal yang bersangkutan dari salah satu member. Nah, buddy yang bisa nebak dengan benar, bisa menghabiskan waktu dengan member JTS yang ia tebak itu seharian.
"Jadi, enggak tentu kalian dapet buddy masing-masing," ucap Bang PD, mengakhiri penjelasannya tentang misi ini.
"Hoo~~..."
"Hah? Apa?!" Yoongi tersentak ketika mendengar bahwa dia blom tentu dipasangin sama buddy-nya, Jimin. Jelas, yang lain pada kaget. Kaget karena ngeliat Yoongi kaget.
Heh.
"Lu kenapa, Bang Yoon?" tanya Namjoon, "ada masalah, ya?"
"Ah, iya ... enggak, kok, enggak pa-pa," sanggah Yoongi, berusaha berkelit dari Namjoon. Dia menyembunyikan gurat kekecewaannya, berusaha steikul es olweis.
"Ya ... terus ... pokoknya, jangan lupa kalau misi ini bakal ditayangin di channel VLive JTS," tutup Bang PD final, disambut dengan helaan napas kecewa Yoongi.
.
.
.
"Ah elah, kenapa musti dipisah, sih?" gerutu Yoongi pada Namjoon ketika mereka berada di ruang latihan JTS. Namjoon awalnya cuma mengernyitkan dahi, terus menghela napas.
"Kayaknya, lo enggak suka banget, sih, Bang, sama misi ini," kata Namjoon, "dari tadi, pas Bang PD jelasin, lo kaget sampe segitunya. Aneh, enggak biasanya. Sekarang, malah ngedumel kayak begini. Lo kenapa, Bang?" tanya Namjoon.
"Ya ... gue gak suka aja, gitu. Belom terlalu akrab sama buddy sendiri, eh, malah dipasangin sama buddy orang lain. Padahal, buddy sendiri aja masih berasa kayak orang asing, enggak seakrab lo sama Jinnie, atau Hoseok sama Allana. Gimana mau dipasangin sama buddy lu berdua? Gak like, nih, gue kalo begini ceritanya."
"Yaudah lah Bang, anggep aja kita lagi berbagi buddy. Lagian, kan, asyik kalo kita bisa kenal satu sama lain," tutur Namjoon. "Kenal satu sama lain aja udah cukup, enggak perlu terlalu akrab juga."
Asyik, sih, tapi rela dibagi-bagi?
E kok ngiklan.
"Tapi ... Jimin masih terlalu polos, Joon. Polosnya, tuh, polos banget sebanget bangetnya! Lu enggak bakal ngert—..." belum sempat Yoongi selesai bicara, ucapannya dipotong oleh Namjoon. Namjoon terlalu cepat menangkap hal, jadi omongannya disela seperti ini bukanlah hal yang baru atau biasa untuk Yoongi.
"Maksud lu, Bang, kalo Jimin dipasangin sama ..." Namjoon mengecilkan volume suaranya, lalu menggeleng, "ah, lupain."
"Ya, lu tau, kan, maksud gue apa," celetuk Yoongi setengah berbisik, saat ia melihat Hoseok masuk ke dalam ruang latihan, membawakan mereka minuman dan snack beraneka rupa.
.
.
.
Sementara itu, di sisi lain ...
"Oooh, Bang Hoseok, tuh, suka banget sama nasi goreng pake acar. Bang Hoseok suka jus alpukat, tapi gapake susu cokelat—lah, dimana-mana, kan, just alpukat enakkan pake susu kental manis cokelat—ah, bodo. Trus—..."
Ya, Jimin lagi berusaha buat ngehapalin segala sesuatu tentang biasnya. Mulai dari hobi, makanan favorit, sampe hal yang paling enggak penting dari biasnya—kayak fobia Hoseok. Jaman sekarang, sih, ya, informasi gampang dicari lewat internet. Jadi, kalau ada beginian, tinggal buka mesin pencari, terus, tada!11!
Jimin juga nontonin ulang interview-interview yang menanyakan hal-hal personal ... ng, bukan personal juga, sih. Mungkin semi personal. Tujuannya Cuma satu, biar malem ini, Jimin bisa menangin misi Dating Your Idol dengan biasnya.
"Apa gue coba ngomong sama Bang PD aja, ya, Joon?" tanya Yoongi pada Namjoon. Sekarang jam empat sore, dan itu berarti, misi Dating Your Idol akan dimulai empat jam lagi. Mereka memang belum siap-siap, kalau misi-misi beginian, mah, dijalani dengan bare face juga jadi. Yoongi sama Namjoon lagi di studio, membuat beat baruuntuk tracks mereka di album baru nanti.
"Terserah. Gue gak mau ikut campur, lah," celetuk Namjoon. "Tapi kalo emang itu mau lu, kejar, Bang. Lo kayaknya sayang banget, ya, sama Jimin. Sampe-sampe enggak rela dibagi-bagi begitu, hahahaha."
"Mo gimana lagi? Dia terlalu polos buat dunia, sih," celoteh Yoongi, "hngg, yaudah, gue ngomong ke Bang PD dulu. Beat gue jangan diacak-acakkin."
"Siap bosqu. Semangatz."
"Ewh alay."
Yoongi keluar dari studio. Ruangan Bang PD ada di lantai satu, jadi, Yoongi musti jalan ke lorong timur, satu-satunya lorong yang ada lift-nya di lantai dua. Melewati kamar dorm-nya. Melewati kamar Jimin ...
Yoongi dapat mendengar suara Jimin yang tengah berbicara sendiri. Awalnya, Yoongi ragu, ni anak kenapa—kok ngomong sendiri, serem. Tapi, wajahnya langsung berkerut kesal saat dia mengetahui bahwa Jimin sedang menghapalkan hal-hal yang berkaitan dengan Hoseok.
Mau marah, tapi gak punya hak buat marah.
Mau cemburu, tapi—heh, emang kamu siapa? Pacar bukan, gebetan bukan ...
Mau—ah, sudahlah.
Yoongi langsung cabut ke ruangan Bang PD. Keinginannya untuk membatalkan misi —atau memasangkan buddy sesuai dengan member—makin kuat. Ayo, semangat 45!
Yoongi juga menyiapkan jiwa dan raga karena Bang PD ini susah banget buat dirayu. Kalo kebijakannya iya, ya, iya. Kalo keputusannya A, ya, harus A. Gak bisa B, C, D, atau Z. Enggak bisa dibantah.
Kamu hebat kalo bisa mematahkan kebijakan Bang PD.
"Bang PD, gak bisa, ya, buddy-nya dipasangin sama kita sendiri?" tanya Yoongi, sesampainya dia di Ruangan Bang PD. "Bisa, ya, bisa, ya? Plis~..." ujar Yoongi sekali lagi, memohon dengan amat sangat ke Bang PD.
"Waduh, Yoon," tukas Bang PD, "kamu, tuh, kenapa, sih? Jatuh cinta, ya, sama Jimin?" tanyanya, entah tujuannya untuk bercanda atau apa, tapi dari nadanya, kalimat barusan terdengar seperti tengah menginterogasi.
"B-Bukan ... bu-bukan itu ... tapi—ah! Plis, lah, Bang PD, boleh, lah ... kasih aja gue satu kesempatan buat minta sesuatu kali ini," kata Yoongi, "abis ini, gue gak minta apa-apa lagi, deh. Seriusan."
"Serius? Bukannya kemarin, kamu pengen banget nge-upgrade alat compose musikmu, ya?" tanya Bang PD memastikan. Setahunya, Yoongi bakal menempatkan hal-hal yang berbau musik di urutan pertama dalam wishlist-nya. Tapi sekarang berbeda, yang tentu membuat Bang PD cukup terheran-heran.
"Masalah itu enggak penting. Alat compose masih bisa gue talangin. Gue masih punya tabungan. Cuma ini doang, Bang, gue mohon. Gue mohon dengat sangat ... jangan adain misi ini ..." Yoongi memelas.
Tawaran Yoongi sebenarnya cukup menarik di mata Bang PD—yaitu menukar permintaan upgrade alat compose musik dengan membatalkan misi ini dengan cuma-cuma. Dari kemarin, Yoongi terus memintanya untuk meng-upgrade alat tersebut, sementara seluruh total biaya upgrade cukup mahal, dan juga semua dana sedang dialirkan untuk keperluan comeback mereka.
"Hm ... okelah kalo gitu. Bisa saya alihin," ujar Bang PD, yang tak ayal memberikan secercah gurat kebahagiaan di wajah Yoongi.
"Makasih banyak Bang PD," syukur Yoongi saat itu juga. Dia bener-bener seneng, mungkin dia bisa lompat jumpalitan dengan enggak elitnya di depan Bang PD—tapi namanya juga Yoongi. Enggak pandai mengekspresikan perasaannya sendiri. Walaupun hanya dengan mengucapkan kata-kata terimakasih sederhana, Yoongi berusaha memastikan Bang PD bahwa ia benar-benar bahagia dengan keputusannya untuk menghapuskan misi itu.
.
.
.
Semenjak kejadian dikunciin dari dalem kamar, Jimin dan Jinnie pun menjadi lebih akrab dan sering meluangkan waktu bersama untuk sekedar hangout kalau idol mereka lagi sibuk dengan pekerjaannya. Seperti saat ini, JTS lagi pamit buat fitting baju yang akan digunakan mereka untuk performance besok.
Alhasil, mereka janjian untuk ngobrol sambil makan cake dan minum kopi di kafe yang ada di sebelah dorm, namanya 'TaeTae's Cafe'.
"APA?! Misinya dibatalin?!" teriak Jimin heboh di hadapan Jinnie yang sedang asyik menyantap cheesecake-nya.
"Sssht ... jangan kenceng-kenceng, ah," sahut Jinnie, "iya, misinya dibatalin."
"Jinnie tau darimana, ih, kalo misinya dibatalin?" Jimin terus-terusan membuat Jinnie berhenti makan dengan pertanyan-petanyaan kepo miliknya.
"Tadi, sore-sore, Bang Namjoon bilang kalo misinya dibatalin. Dan, Bang Namjoon juga sempet nanya mau kemana kita malem ini."
"Ah ... gitu, ya," ucap Jimin lesu.
"Jangan begitu, ah. Semangat, Jimin!"
Jimin menghela napas, "tapi kayaknya, kamu lagi di-pdkt-in, deh, ya, sama Bang Rapmon. Kalian kompak banget, sih," ujar Jimin dengan suara setengah berbisik. Jinnie malah senyum pait.
"Aish, Jimin. Yang ada, aku yang nanya ke kamu. Emangnya, Yoongi lagi pdkt-in kamu, ya?"
"Kok, nanyanya gitu?" tanya Jimin, tak habis pikir.
"Abisnya, Yoongi jadi beda banget kalo udah berhadapan sama kamu. Ih, gak merhatiin, ya? Di depan kamera aja beda. Cara Yoongi ngomong ke Bang Namjoon, dibandingin cara Yoongi ngomong ke kamu, itu beda banget. Seolah-olah, cuma Jimin yang berhasil bikin Yoongi bertekuk lutut," kata Jinnie, asyik berdelusi.
"Hah, apaan, udah lebay, klise lagi," tukas Jimin, yang mulai asyik menyeruput kopi yang ia pesan. Tapi, tidak dapat dipungkiri, sih, Jimin agak terkejut saat mendengar ucapan Jinnie barusan.
.
.
.
Para member JTS pun akhirnya selesai dengan acara fitting baju mereka. Ketiganya lebih memilih untuk menghubungi buddy mereka daripada berkomunikasi atau sekedar curhat dengan apa yang terjadi seharian ini. Well, hal itu juga dilakukan tanpa terkecuali oleh Yoongi. Entah kenapa, perasaan Yoongi kali ini amat lega dan bahagia. Dia pun segera meng-SMS Jimin.
Suga
Jim, malem ini mo kemana?
Chimchim
MAU KE KAMAR JEHOP AJAAA [deleted]
MAU KE KAMAR SUGA AJAA
Di sisi lain, Jimin masih tau tempat dan kondisi. Enggak mungkin dia masih bawa-bawa nama Hoseok di depan Yoongi. Bisa-bisa Yoongi cemburu lagi, dia dikunciin lagi—ah sudahlah.
Uh, tapi Jimin enggak tau, di seberang sana, Yoongi bener-bener mati. Yoongi ngerasa kalo pipinya bener-bener panas, jantungnya berdegup kencang—kayaknya bakal meledak, dan ribuan kupu-kupu serasa mengisi perutnya.
Oke, mungkin, ini terlalu lebay untuk mengekspresikan sebuah perasaan. Tapi, baru kali ini, Yoongi ngerasain hal yang namanya jatuh hati. Jatuh cinta—
Dengan seorang pemuda ...
SUGA
Serius
Chimchim
Kita ke taman main aja yuk. Biasanya ada pasar malem.
SUGA
Yauda
Dandan yg cantik y
Chimchim
Dasar pedo
Baru kali ini Yoongi berbalas pesan dengan semangat. Biasanya, Yoongi cuma buka hape buat berkirim pesan dengan rekannya atau sekedar ngecek arahan dan catatan dari Bang PD.
Tapi, chatting dengan pemuda ini ...
Benar-benar membuat Yoongi tidak sabar, menerka-nerka apa kejutan selanjutnya yang akan ia terima dari pemuda tersebut.
Tring!
[Notification from Chimchim]
Suga, Jimin udah di lobby lantai satu ni!
Yoongi yang membaca notifikasi tersebut lantas berlari keluar dari ruangan fitting room dengan tergesa-gesa. Berlari menuju lift, dan langsung turun ke lantai satu.
Sesampainya di lobby, atensi Yoongi langsung tertuju pada seorang pemuda yang tengah duduk di lantai, dengan kedua lutut yang ditekuk dan dipeluk. Jangan lupakan wajah cemberutnya. Yoongi hanya terkikik—woy ga elit banget, sih, lu duduk di lantai, hahaha—mungkin itu yang ada di pikiran Yoongi.
"Oii Jimin," sapa Yoongi, masih menahan hasratnya untuk tersenyum lebar-lebar tatkala melihat Jimin. Pemuda berpipi chubby itu langsung menengok ke arah suara tersebut.
"Suga, ih, lama banget ... Jimin, kan, lama nunggunya," Jimin yang makin memanyunkan bibirnya. Ya, dari Yoongi SMS 'mau kemana', Jimin udah pulang dari TaeTae's Cafe, dan Jimin memilih buat nunggu aja di lobby.
"Ye, iye, maaf. Dah, kuy, buruan jalan."
.
.
.
Selama perjalanan berlangsung, enggak banyak percakapan yang mereka buat. Bukan tanpa alasan, tapi nyatanya Jimin emang udah mulai ngantuk, membuat Yoongi menghentikan percakapan mereka.
"Udah tidur, ya?" gumam Yoongi, saat mendengar Jimin sudah mendengkur kecil. Lucu. Yoongi memutuskan untuk menepikan mobil—hanya untuk menyelimuti Jimin dengan jaket kulit yang ia pakai.
Yoongi pun lanjut mengendarai mobil, ditemani alunan musik dari tape mobil. Sengaja Yoongi memasang lagu yang soothing seperti Lost It To Trying atau Suburbia—ya, kali, dia masang lagu hiphop—dia takut Jimin malah tidak bisa tidur saat mendengar lagu dengan genre hiphop.
Sekarang sudah jam setengah tujuh, dan perjalanan yang ditempuh masih satu jam lagi.
.
.
.
"Waaaaa! Kita udah sampe?!" tanya Jimin dengan heboh, masih kagum dengan betapa megahnya taman bermain malam itu.
"He- eh," balas Yoongi singkat, "JIMIIIN KEPALANYA MUNDURIN! GUE GABISA LIAT KACA SPION INI BANGSUL!" ujar Yoongi panik. Jimin cume cengengesan, lalu kembali bersandar di jok mobil.
Maklum aja, Yoongi baru dapet kartu izin mengemudi dua minggu yang lalu, masih rada kagok kalo disuruh markirin mobil. Udah panik dia, takut nabrak mobil yang parkir di sebelah.
Selepas Yoongi markirin mobil, mereka memutuskan untuk masuk lewat gerbang utara. Soalnya, tadi Jimin liat, disitu banyak yang jualan jajanan manis-manis. Yoongi, mah, nurut aja, ya, kan.
Selama dia bisa menghabiskan waktu sama chimol ini, dia bakal nurutin semua yang buddy-nya mau.
"Sugaaa! Jimin mau itu, dong!" tunjuk Jimin ke arah lapak kecil yang berwarna-warni, memilik plang bertuliskan 'Gulali'. Tangan Jimin juga terus-terusan menarik jaket kulit Yoongi.
Gak sampe disitu, Jimin juga merajuk untuk dibelikan permen lolipop, dan segala macam jajanan manis disana. Dan, Yoongi hanya bisa mengiyakan segala permintaan pemuda yang akhir-akhir ini terus-terusan membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
"Suga! Naik bianglala itu, yuk!" ajak Jimin untuk kesekian kalinya. Bianglalanya keliatan seru, mereka bisa ngeliat pemandangan Pantura dari atas.
"Kuylah," jawab Yoongi, sambil menarik Jimin ke arah antrean bianglala yang lumayan panjang itu.
Hampir 20 menit mereka mengantri disana, ada hasrat yang tidak bisa Yoongi tahan. "Jimin, lu bisa tunggu disini, enggak? Gue kebelet pipis," ujar Yoongi sambil meringis.
"Emangnya, enggak bisa pipis di botol aja, ya? Antreannya bentar lagi selesai, nih," tutur Jimin, sambil menunjuk kearah antrean yang tinggal beberapa orang lagi.
"Gila, ya, lu. Udah, ya, tungguin gue pokoknya, jangan kemana-mana dulu!" kata Yoongi.
"Eh, tapi tapi, janji, ya, balik sebelum bianglalanya jalan!"
"Hnnng iya, iya, janji," Yoongi langsung berlari menjauh dari antrean tersebut.
"Dasar ..." celetuk Jimin yang masih sibuk meneguk habis cola-nya.
.
.
"Permisi, kakaknya mau naik bianglala, ya?" tanya salah satu pegawai bianglala, yang jujur membuat Jimin hampir tersedak cola.
"Eh, iya, tapi ... Jimin lagi nunggu orang, nih, Mas," jawab Jimin ragu.
"Gak papa, kak, silakan tunggu di dalem bianglalanya. Kita bakal jalan lima menit lagi, kok," kata si Mas-Mas Bianglala. Jimin rada ragu buat masuk ke dalem bianglala, apalagi nunggu Yoongi di dalem sana. Keadannya bener-bener rame dan kecil kemungkinannya Yoongi bisa nemuin Jimin di dalem.
Ditambah lagi, hape Jimin ketinggalan di mobil Yoongi.
Tapi emang kampret, nih, si Mas-Mas Bianglala. Dia tetep maksa—secara halus, tapi Jimin tahu itu sebuah pemaksaan—Jimin buat nunggu di dalem, katanya takut enggak dapet tempat atau apalah, Jimin juga enggak ngerti.
Tiga menit berlalu semenjak Jimin nunggu di dalem bianglala. Yoongi belum nampak juga batang hidungnya. Sisa dua menit, Jimin berharap-harap cemas kalo Yoongi bisa nemuin Jimin di bianglala yang berwarna kuning—warna favoritnya. Karena kalo Yoongi gak dateng, mampuslah Jimin. Dia bakalan nyasar di wahana taman bermain yang luasnya lima kali lapangan bola.
"Cek satu ... dua, tiga ... penumpang harap bersiap karena bianglala akan segera diaktifkan."
Suara Mbak-Mbak Bianglala dari pengeras suara berhasil membuat semua penumpang bersorak. Kecuali Jimin yang terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Mengingat kalau Yoongi enggak menepati janjinya ...
.
.
.
"GILAAA EH BIANGLALANYA UDAH JALAN?!" pekik Yoongi panik ketika bianglala itu mulai berjalan. Jimin, gimana Jimin? Dimana Jimin? Jimin—
"Ini si Jimin dimana lagi, aish," Yoongi makin panik karena enggak nemuin Jimin diantara kerumunan orang-orang yang lagi ngantre buat bianglala kloter selanjutnya.
Alhasil, Yoongi berlari ke ruang staff bianglala. Keringet dingin udah menyelimuti tubuh Yoongi, dia enggak memikirkan apapun, mau identitasnya sebagai member JTS kebongkar lah, apalah, yang ada di pikirannya cuma Jimin, Jimin, Jimin. Bagaimanapun, kan, dia bertanggungjawab atas buddy-nya itu.
Atau, bertanggungjawab atas cinta pertamanya?
Yoongi diminta untuk menyebutkan ciri-ciri Jimin. Yoongi langsung menyebutkannya, sampai hal-hal spesifik termasuk 'tadi dia megang cola', dan sebagainya. Nihil, enggak ada yang tau. Yoongi pun diminta untuk menunggu bianglala selesai, dan mencari orang yang ia maksud di bianglala.
"Tsk, gue berharap Jimin baik-baik aja ..."
Yoongi enggak pernah merasakan ketakutan yang dahsyat seperti ini sebelumnya. Menunggu bianglala selesai sambil menggigit jari, juga berdoa kalau Jimin melihat penampakannya dari bianglala.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, bianglala itupun akhirnya berhenti. Yoongi langsung menerobos kerumunan orang-orang yang menunggu di pintu keluar bianglala. Memicingkan mata, Yoongi mencoba mengamati semua gerbong bianglala dengan seksama. Mulai dari warna ungu, merah, hijau, pink, biru, kuning ...
Mampus.
Jimin enggak ada.
.
.
.
Di lain tempat, dengan mata berkaca-kaca, Jimin turun dari wahana lewat pintu masuk. Ya, Jimin juga masih gak bisa nemuin Yoongi. Rasanya pengen nangis aja, gak tau ini Jimin harus pulang sama siapa. Jimin hanya bisa terduduk lemas di bangku taman yang berada di dekat wahana bianglala.
Di tengah-tengah kegelisahan Jimin ...
"Jim, kamu ngapain?"
Suara yang enggak asing menyapa telinga Jimin.
"BANG HOSEOK!" pekik Jimin girang saat ia mengetahui siapa yang datang menyapanya.
"Iya, ini Hobi, kamu kenapa disini? Yoongi mana?" tanya Hoseok, sambil duduk di sebelah Jimin.
"Jimin juga enggak tau ... tadi Suga izin ke toilet ... trus, Jimin terpaksa naik bianglala sendiri. Sampe sekarang, Jimin belum ketemu sama Suga ..." jelas Jimin, udah mulai sesenggukan.
"Yah, Jimin, kamu, tuh, ya," tukas Hoseok, yang membuat Jimin penasaran, "Yoongi dipercaya ... kamu polos banget, sih, Jim ..." celetuk Hoseok.
"Maksudnya?" Jimin enggak ngerti. Kenapa pula kalau dia percaya sama Yoongi? Toh, selama ini, Yoongi juga baik-baik aja sama Jimin—kecuali pas insiden dikunciin, itu lupain aja. Ya. Yoongi, kan, baik sama Jimin. Minjemin baju, beliin nasi uduk dan baju, sampai mengajaknya ke taman bermain seperti ini. Jadi, Jimin pikir, enggak masalah, dong, kalo dia percaya sama Yoongi?
Oh, dan juga, mengingat saat dia terbangun di mobil tadi, jaket kulit Yoongi berada di atas tubuhnya—menjadi selimut—duh, soswit sekali. Jimin yakin, Yoongi yang menjadikan jaketnya sebagai selimut Jimin saat ia tertidur.
Yoongi baik ... banget.
Jimin ragu mau percaya sama Hoseok atau enggak.
Hoseok tertawa kecil sebelum melanjutkan perkataannya. Tsk, buddy lu polos parah, Yoongs, batin Hoseok dalam hati, "yah, cukup tau aja, ya. Tipe buddy-nya Yoongi, tuh, yang seksi macem Allana. Bukan kayak kamu, Jimin. Makanya, kamu ditinggal."
Bagai petir di siang hari, ucapan Hoseok cukup membuat Jimin terkejut. Jimin masih enggak percaya dengan apa yang diomongin Hoseok barusan. Yoongi? Kayak begitu?
"Harusnya, dari awal, kamu sama aku, Yoongi sama Allana," sambung Hoseok pada Jimin, berusaha membuat Jimin percaya.
Namun detik ini juga, Jimin enggak tau harus percaya sama siapa. Apa dia harus percaya sama Yoongi—mengingat kebaikan-kebaikan Yoongi pada Jimin, membuatnya rada ragu dengan apa yang diucapkan oleh Hoseok—atau dia harus percaya sama Hoseok, yang notabenenya ... hanyalah biasnya?
Jimin bingung.
Tapi yang pasti,
Jimin kecewa berat sama Yoongi malam ini.
Bersambung, tebeceh!
A/N.
Yes. De real conflict baru saja dimulai kawanQ. Dan disitu, aku mentioned lagu soothing—Lost It To Trying – Son Lux (ost. Paper Towns) dan Suburbia – Troye Sivan—lagunya enak buat tidur, sih, hahaha. Wajib didengerin.
Yaudah.
Dah.
-kodokmeriang.
