Langkah kaki Jaehyun terhenti saat netra legam miliknya mendapati Taeyong yang tengah berdiri di depan cermin dengan pakaian kerja. Lelaki jangkung itu mematung sesaat, sedangkan Taeyong langsung memperhatikan dari pantulan cermin.

"Kau akan pergi kerja?" Taeyong menganggukkan kepalanya mantap, sedangkan disisi lain Jaehyun mengernyit tak suka.

"Cutimu masih tersisa satu hari lagi, istirahat saja."

"Uh, tidak. Hari ini akan ada anak baru di kantor. Aku punya jadwal untuk membimbing salah satunya jadi,... aku akan pergi." Lelaki kurus itu menggigit bibirnya pelan, lalu memasang senyuman simpul saat Jaehyun memberikan anggukan kecil sebagai jawabannya.

"Shit! Sedang apa kau di sini huh?!" Sebuah umpatan kasar baru saja terlontar ketika Mark mendapati seorang remaja yang tengah berdiri di samping pintu apartemen.

"Pagi-pagi tidak boleh mengumpat."

"Bagaimana aku tidak mengumpat kalau kau muncul tiba-tiba? D—dan bagaimana bisa kau tahu apartemenku? Kau mengikutiku?!"

Si lelaki kecil itu menyeringai, memasang ekspresi aneh yang membuat Mark kesal setengah mati.

"Aku punya banyak koneksi."

"Uh uh! Lalu?"

"Lalu apa tentu saja aku akanㅡ Oh! siapa hyung yang sangat tinggi ini?"

Laki-laki manis bernama Haechan itu menaikkan nada bicaranya hingga menarik perhatian Johnny yang kebetulan baru saja akan keluar. Lelaki jangkung itu mengernyit, kemudian menatap Haechan mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Temanmu, Mark?"

"Oh yang benar saja?" Mark mengerling, menekuk wajah sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Aku Hoobae-nya Mark hyung. Namaku, Lee Donghyuck tapi... tolong panggil aku Haechan."

Yang lebih pendek membungkukkan tubuhnya, kemudian memasang senyuman simpul yang membuat Mark muak hingga langsung pergi dari hadapan semua orang.

"Hei hyung! Ayo pergi bersama!"

Oke, ini sedikit aneh.

"Apa ada orang lain di luar?" suara khas milik Ten terdengar dari balik punggung Johnny, mengalihkan perhatian pria itu dengan cepat.

"Temannya Mark."

"Tidak biasanya, bagaimana orangnya?"

"Uhm... Menurutku dia terlalu hiperaktif, "

"...dan sedikit gelap."

Seperti yang dikatakan Taeyong sebelumnya, beberapa orang dengan wajah yang cukup asing dan kebanyakan dari usia yang lebih muda sudah berkumpul di beberapa sudut tertentu, bahkan bisa dibilang semakin menambah kapasitas karyawan di kantornya.

"Kau benar-benar datang ternyata." Sebuah suara yang terdengar dari arah belakang Taeyong berhasil membuat Jaehyun ataupun Taeyong berbalik badan, mendapati Minhyun, selaku teman dekat Taeyong selama bekerja.

"Sudah merasa lebih baik?"

Taeyong memberikan anggukan pelan, kemudian memasang senyuman tipis sebagai tambahan. Lelaki bermarga Hwang itu segera merangkul Taeyong, kemudian mengajak yang lebih kurus untuk membicarakan masalah anak-anak magang di tempat kerja. Mengacuhkan Jaehyun tentu saja.

"Kau bisa pulang, aku dan Taeyong akan sangat sibuk."

"Aku bahkan belum sempat berbicara dengan hyung, tapi hyung sudah mengusirku duluan."

Jaehyun mendengus, sedangkan Minhyun tertawa pelan, diikuti dengan Taeyong yang terkekeh sambil menghampiri Jaehyun, meminta pria itu untuk pulang ketimbang menunggu Taeyong selesai dengan pekerjaannya.

"Baiklah, sepertinya Minhyun hyung juga tidak menyukai kehadiranku. Aku pulang, Taeyong hyung. Jangan lupa untuk menelpon lima belas menit sebelum pulang." Taeyong mengangguk, lalu Jaehyun berlari kecil menjelajahi lobi. Pekerjaannya juga masih cukup banyak, ia juga perlu ke kantor.

Mungkin.

"Ayo kemari!" saat teriakan lantang Minhyun menggema ditelinga Jaehyun, salah satu dari sekumpulan karyawan magang itu berlari dari sisi berlawanan, berhasil menarik perhatian Jaehyun hingga ia menghentikan langkah.

Rambut hitam, tubuh tinggi dan terbilang kurus, lalu wajahnya yang bisa dibilang sangat manis itu terlihat tak asing. Jaehyun rasa ia mengenal lelaki itu, atau mungkin hanya salah satu dari masyarakat yang melapor ke kantor polisi?

"Aku tidak mengerti,"

Ten bersuara, membuat Johnny mengecilkan volume musik yang mengalun dari radio.

"Apanya?"

"Kau akan pergi ke kantor, kan?"

"Uh uh.."

"Jadi apa untungnya membawaku ke kantor?"

Johnny langsung mengernyit, merespon pertanyaan Ten dengan sebuah tarikan napas sekaligus lirikan tajam.

"Apa yang salah dengan itu? Dengar, teman-temanku ingin bertemu denganmu. Mungkin kalau aku membawamu ke kantor, kau bisa dapat teman baru. "

Sebuah anggukan kepala Ten berikan sebagai respon atas pertanyaan yang diajukan oleh yang lebih tua.

"Tenang saja, kita bisa bertemu Jaehyun di sana."

"Lantas apa kaitannya?"

"Mungkin... Uh, entahlah. Apa kau juga bosan mendengar suara Jaehyun setiap hari?"

Perkataan Johnny memang benar, begitu Johnny datang membawanya masuk, orang-orang di sana langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan klasik bagi orang yang baru pertama kali bertemu. Bahkan tak jauh berbeda ketika seorang pria baru saja memperkenalkan kekasihnya di sebuah acara keluarga.

"Wajahmu jauh lebih manis ketimbang di foto."

"Bukankah dia terlalu polos untuk tinggal bersama Johnny?"

"Apa kau sedang memperkenalkan istri barumu dengan teman satu kantor?"

"Apa Johnny sering menganggumu setiap malam, Ten?"

Setiap mendengar pertanyaan yang diajukan oleh rekan kerjanya, Johnny akui ia sedikit geram. Bagaimana tidak jika semua orang mengatakan yang tidak-tidak kepada Ten? Citra baiknya akan tercoreng nanti.

"Dia lumayan." Salah seorang temannya, Rowoon, menyikut tangannya pelan. Sedangkan Johnny langsung menaikkan alis, menatap pria yang lebih tinggi dengan tanda tanya.

"Apa kau yakin dia hanya seorang "homemate?" di apartemen?"

"Jika bukan, lantas apa?"

"Yah, semacam punya hubungan dekat mungkin? Atau— pacaran?" Johnny nyaris saja tersedak ludahnya sendiri ketika Rowoon mengatakan kalimat akhirnya dengan sedikit keras. Mengundang Johnny untuk segera membekap mulut pria jangkung itu agar tidak ada yang salah paham.

"Apa kau mau dihajar, huh?!" kali ini giliran Johnny yang menaikkan nada bicaranya, sedikit bersyukur karena posisi keduanya jauh lebih sepi ketimbang posisi awal.

"Apa yang salah? Kau tahu apa yang dikatakan orang-orang di luar sana? Sering bertemu dengan lawan jenis bisa menjadi faktor ketertarikan." Bisik Rowoon, diiringi dengan lirikan mata yang sedikit menggelikan.

Johnny terkekeh sejenak, lalu kembali memasang wajah datar seraya membuka belah bibirnya, "Apa dia terlihat seperti lawan jenis?" ucap Johnny, menunjuk kearah Ten dengan dagunya.

"Hampir, dia cukup cantik. Kalau kau tidak tertarik, boleh ku ambil?"

BUGH!

Rowoon menahan napas begitu perutnya disikut dengan keras oleh Johnny. Dengan tubuh yang sedikit membungkuk —menahan rasa sakit— Rowoon tak lupa untuk mengumpati Johnny dengan kata kasar.

"Kalau memang kau tidak tertarik padanya, aku bersumpah akan menggunduli rambut sampai satu tahun ke depan!"

Teriakan Rowoon hanya dianggap angin lalu oleh Johnny. Lelaki jangkung itu lebih suka menjauhi pria yang lebih tinggi, mendekati lelaki kecil yang tengah mengobrol dengan beberapa rekan sekantornya. Ah, melihatnya saja sudah berhasil membuat perasaan Johnny menghangat. Selama ini ia tidak pernah melihat Ten bicara banyak sekalipun mereka sudah tinggal di apartemen yang sama selama hampir dua bulan lamanya. Mungkin pengaruh lingkungan tempat tinggal ataupun kondisi apartemen yang selalu sepi membuat Ten berpikir jika tinggal di flat kecilnya ataupun apartemen besar Johnny tidak ada bedanya.

"Apa tidak masalah kalau kau tinggal disini sebentar? Aku punya sedikit urusan, satu jam lagi aku akan kembali. Tidak masalah kan kalau aku menitipkan Ten dengan kalian?" Ujar Johnny seraya memiringkan kepalanya dengan kepala yang sedikit menunduk. Menatap seorang wanita yang tengah berbincang dengan Ten.

"Tentu, aku akan menemaninya. Dia cukup manis, tidak masalah kan, Ten?"

"Baiklah, aku akan menunggu hyung. Cepat kembali."

Johnny langsung mengangguk mantap, memberikan jawaban yang sudah pasti tak bisa dilihat secara langsung. Saat Johnny benar-benar lenyap dari pandangan, Chungha— selaku wanita yang tengah bersama Ten langsung menggenggam pergelangan tangan lelaki kecil itu dengan erat, membuat si empunya tersentak kecil.

"Kau mau makan sesuatu? Ah, apa kau mau makan cake cokelat? Kita bisa membicarakan banyak hal, kebetulan aku sedang tidak ada jadwal. Jadi bagaimana?"

Mungkin ini yang dikatakan tidak tepat waktu. Seharusnya Johnny kembali tepat satu jam setelah kepergiannya tadi, tapi sialnya entah waktu atau urusannya yang tidak bisa berkompromi, membuat Johnny terlambat setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Saat Johnny baru saja tiba di lobi, lelaki jangkung itu berhasil menemukan Ten disana, tengah menyeruput Iced Americano sambil menggoyangkan kedua kakinya yang menjuntai ke bawah.

"Apa kau terus duduk disini selama satu setengah jam?" Johnny langsung membuka suara seraya duduk bersimpuh tepat dihadapan Ten. Menyentuh punggung tangan Ten dengan sekali tepukan halus.

Menjauhkan sedotan dari mulutnya, lalu Ten merespon "Oh, hyung sudah kembali? Bagaimana pekerjaanmu?"

"Aku dan Ten baru kembali dari cafe di seberang." Chungha bersuara, entah muncul darimana Johnny sendiri tidak ingin mengetahuinya. Tapi setidaknya Johnny benar-benar bersyukur karena Ten tidak menunggunya di lobi selama satu setengah jam.

"Ayo pulang."

"Secepat ini? Uh, maksudku— tidak bisakah kita terus berada diluar sebentar? Rasanya sudah lama aku tidak keluar sejak tinggal di apartemen hyung." Johnny mengangguk, mengiyakan perkataan Ten karena sejujurnya ia memang tidak punya waktu untuk sekedar membawanya jalan-jalan, bahkan di taman apartemen sekalipun.

"Baiklah, ayo pergi."

Dalam hitungan detik, Johnny segera bangkit dari posisinya. Menarik pergelangan tangan milik lelaki yang lebih kecil untuk segera bangkit dan mengikuti langkahnya. Tak lupa sebelum itu, Johnny lebih dulu melambaikan tangannya ke arah Chungha. Berterima kasihlah karena gadis itu mau menemani Ten sejak tadi.

Dua puluh menit setelahnya, laju mobil yang semula membelah jalanan kini terhenti di salah satu taman yang kebetulan dekat dengan apartemen, Seonyudo Park di kawasan Sungai Han. Well, tempat ini cukup bagus untuk jalan-jalan, lagipula sudah terlambat untuk pergi ke tempat lain yang menurut Johnny cukup bagus untuk dikunjungi.

"Aku tidak bisa membawamu pergi ke tempat yang jauh."

"Aku bahkan tidak tahu tempat yang jauh itu terlihat seperti apa. Tempat ini cukup bagus, anginnya sejuk, hyung tahu?" Lelaki kecil itu terkekeh, lalu terhenti tepat di bagian tengah jembatan melengkung yang tengah mereka lalui.

"Karena sudah terlalu sore, kita tidak bisa pergi ke tempat yang agak jauh karena mereka akan tutup jam enam sore. Apa kau mau pergi ke tempat lain?"

Ten terdiam, tengah memikirkan beberapa tempat yang sebenarnya ingin ia kunjungi sejak lama.

"Prancis?" Membuat Johnny terkejut, Johnny kira Ten tidak akan memikirkan tempat sejauh itu.

"Saat usiaku 15 tahun, aku sering mendengar para gadis yang baru pulang sekolah membicarakan Prancis. Mereka bilang tempatnya cukup cantik, makanan disana juga sangat menakjubkan sekalipun ada restoran Prancis di sini," kekehan Ten kembali terdengar, menjeda kalimatnya selama beberapa detik.

"Aku tidak akan meminta hyung membawaku ke Prancis, jadi tenang saja."

Delapan panggilan panggilan tak terjawab sekaligus dua belas pesan masuk diabaikan begitu saja oleh Jaehyun. Lelaki berlesung pipi itu tak pergi ke kantor polisi hingga membuat rekan-rekan kerjanya itu berusaha untuk menghubunginya. Jaehyun tahu ia salah, tapi rasa jengah yang melingkupinya benar-benar membuat Jaehyun nekad mengambil jalan yang lain. Yang penting ia sudah mengabari atasannya dengan alasan yang tak bisa dikatakan secara langsung.

Taeyong sudah menelpon, mengabari Jaehyun bahwa sekitar lima menit lagi ia akan tiba di luar, menunggu Jaehyun untuk mengantarnya pulang. Benar saja, Taeyong sudah ada di luar sambil mengotak-atik ponselnya. Tak menyadari kehadiran Jaehyun yang semakin mendekat hingga berhasil mengejutkan Taeyong yang nyaris saja berteriak.

"Apa ini? Kau tidak ke kantor?"

Jaehyun menggeleng.

"Aku sengaja menunggu hyung selesai. Cukup membosankan ternyata."

Taeyong menekuk wajah, mendekati Jaehyun kemudian menarik lengan kekasihnya itu untuk segera masuk ke dalam mobil.

"Besok, para reporter magang akan berkeliling ke kantor polisi yang berbeda untuk mencari laporan untuk diberitakan. Kau bantu junior-ku ya."

"Tapi, akhir-akhir ini kasus kejahatan sedang minim. Entah para penjahat sudah kembali ke jalan yang benar atau cuma hibernasi saja."

"Tetap saja, pasti ada satu atau dua, kan? Kau sering membantuku saat masih jadi reporter magang, kan?"

"Tapi kau dan reporter magang kali ini berbeda. Uh, pasti akan berisik sekali. Apa aku akan lembur kerja?!"

Suara tawa Taeyong seketika mendominasi, bak alunan musik dari radio yang mengisi kesunyian di dalam mobil SUV kepunyaan Jaehyun. Yah, semua orang punya cerita mereka sendiri.

Suhu udara semakin menurun seiring dengan tenggelamnya matahari di tempat peraduannya. Lampu-lampu cantik yang menghiasi setiap sudut Taman Seonyudo seakan membuat pengunjung menahan diri untuk tetap di sana. Langkah kaki Johnny dan juga Ten masih tak berhenti menyisir setiap sudut taman sejak sore tadi. Bahkan sekalipun orang-orang sudah mulai pergi dari sana, Johnny masih ingin di sana. Rasanya sudah sangat lama sejak ia bisa pergi keluar seperti sekarang.

"Lampu-lampu disini cukup terang, aku bisa merasakannya." Lelaki manis itu membuka suara, membuat Johnny memasang senyuman simpul.

"Haruskah kita makan sesuatu?" tanya Johnny sambil menghentikan langkah, membuat langkah kaki Ten ikut terhenti karena si penunjuk jalan.

"Sandwich punyaku masih belum habis."

Ah, Johnny lupa. Mereka sudah sering membeli beberapa makanan selama perjalanan yang lumayan melelahkan. Mungkin memang sudah saatnya untuk pulang.

"Tapi, Johnny hyung,"

Johnny langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Ten, mengerjapkan kedua matanya dalam waktu kurang dari satu detik.

"Setelah hari ini, bisakah kita pergi keluar lagi lain kali?"

"Tentu, kita bisa pergi dengan Mark, Taeyong, Jae—"

"Bisakah kita pergi berdua saja? Maksudku, aku ingin punya waktu sendiri untuk mengenal hyung."

Ketika Ten selesai dengan ucapannya, Johnny lantas memasang senyuman kecil. Kepalanya yang semula tertunduk demi menyaksikan wajah lugu itu secara langsung kini telah mendongak ke atas. Menatap lurus ke arah langit malam yang dihiasi oleh sedikit bintang. Entah kenapa akhir-akhir ini bintang jarang sekali berserakan di langit.

"Apa ada istilah lain dari kata-katamu tadi?" Kini Johnny yang bersuara, mengerjapkan kedua matanya dengan cepat, mengabaikan Ten yang sedikit mengangkat kepalanya untuk mengikuti arah suara yang ia dengar.

"Apa ya?"

"Tidak ada?"

"Ah, aku mau kita berdua memberi nama untuk hubungan ini. Itu... uh, apa ucapanku terdengar aneh hanya untuk menyebut kata "teman"?"

Kedua netra hazel Johnny langsung memicing, melihat Ten dari ekor matanya selama beberapa detik.

"Sedikit berlebihan." Balas lelaki jangkung itu sambil terkekeh, tak lupa mengacak helaian rambut hitam milik sosok di sampingnya itu.

"Hei Ten,apa kau tahu tentang tahapan hubungan antara dua orang?"

"Apa?"

"Pertama, mereka akan jadi teman, lalu saat perasaanmu semakin nyaman, kau tidak akan menyebutnya teman, tapi seorang sahabat. Lalu yang terakhir, semakin dalam perasaan salah satu dari keduanya atau bahkan satu sama lain, kau tahu akan disebut apa hubungan itu?"

"Keluarga?"

"Hampir!. Tapi aku sedang membicarakan soal cinta."

Selama lebih dari satu menit, tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya kecuali suara napas yang bersahutan dan suara-suara kendaraan yang masih sibuk berlalu lalang. Johnny tak mengatakan omong kosong apalagi berbicara tanpa dipikir dulu. Dari apa yang ia lihat di film ataupun drama romansa, novel -novel yang pernah ia baca, atau bahkan pengalaman dari orang-orang disekitarnya, hal semacam itu bukan lagi hal yang tabu.

Perasaan yang dibangun dalam sebuah hubungan tak bisa dicegah hanya dengan menyadarkan akal sehat, bahkan sekalipun kau bersikeras jika orang yang kau sukai itu adalah sahabatmu sendiri. Memadamkan kobaran api yang semakin besar saat disiram bensin, tak seperti mematikan api yang muncul dari sebuah pemantik api. Salah satu filosofi klasik hasil pemikiran Johnny pribadi untuk menggambarkan perasaan seseorang.

Saat situasi semacam itu terjadi, hubungan yang terjalin selama bertahun-tahun akan dipertaruhkan. Jika keberuntungan tengah berpihak, maka hubungan yang lama akan diganti dengan nama yang baru. Tapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, hubungan itu akan tetap diposisi yang sama, atau bahkan turun ke tingkat yang lebih rendah dari hubungan pertemanan.

"Perasaan tidak bisa berbohong Ten, sekalipun perasaan yang miliki itu tidak seharusnya muncul meski hanya sekecil debu. Cinta itu tidak memandang siapa dirimu, apa gendermu, apakah kau manusia, hewan, ataupun benda mati. Kau pernah dengar bahwa ada orang yang menikah dengan Menara Eiffel ataupun hewan peliharaan? Menurut orang mereka tidak waras, tapi cinta memang sering menyesatkan. Hahaha, benar kan?"

Lelaki kecil itu hanya bisa meringis kecil saat membayangkan orang-orang dengan hubungan yang memang terdengar tak wajar. Rasanya Ten baru saja mendengarkan materi tentang alur sebuah hubungan yang tumbuh bak segerombol rumput liar. Arti lainnya, tak mudah untuk dibasmi.

"Sekarang aku mau bertanya,"

Ten refleks membulatkan kedua matanya, memastikan jika telinganya dapat mendengar perkataan Johnny tanpa ada kesalahan sedikitpun.

"Daripada jadi teman, apa kita bisa jadi sahabat saja?"

Oh, cukup menarik jika dipikir lagi hubungan yang Johnny tawarkan ini terletak persis di tengah-tengah.

"Selangkah lebih maju?"

"Hmm, kau tidak mau? Tidak masalah, aku cuma menawarkan."

Kedua kakinya mengambil langkah perlahan hingga menimbulkan suara langkah yang terdengar masuk ke indera pendengaran Ten. Dengan kedua tangan yang mulai meraba udara kosong, lelaki kecil itu menggigit bibirnya saat ia tahu Johnny mengambil jarak beberapa langkah dengan mendahuluinya dengan seenak jidat.

"Hyung!"

Teriakan Ten memperoleh respon dari Johnny yang langsung menghentikan langkah dan berbalik badan. Tak lupa memasang wajah tak berdosanya saat ia berhadapan langsung dengan yang lebih pendek. Lelaki bermarga Seo itu memasang wajah sumringah, menunggu respon langsung yang akan diberikan Ten.

"Aku tidak tahu jalan, jadi jangan pergi seenaknya dong."

"Ah, baiklah..."

Johnny segera menggenggam pergelangan tangan Ten agar mereka bisa segera pulang ke apartemen. Dengan wajah masam, ia menahan napas, sungguh mengecewakan karena harapannya tak sesuai dengan kenyatan yang ada bahwa...

Ten sengaja mengabaikan tawarannya!

Yah, mungkin setelah ini Mark akan menendangnya keluar dari zona tempat tidur karena pulang terlambat.

Dear readersnim yang memang nungguin ff ini update ataupun yang cuma numpang lewat seperti iklan Blackpink. Saya selaku author bener-bener minta maaf karena ff ini masih disini-sini aja dan gak pindah ke alur yang baru. Pertama, saya mau kasih tau kalo saya punya kesibukan pribadi di RL yang jelas gak bisa ditinggalin karena berkaitan dengan pekerjaan :"

Saya rajin buka wattpad, tapi gak ada kesempatan buat ngetik karena capek. So, mohon pengertiannya ya. FF ini gak bakal gercep di lanjutin kalo gak ada readers yang nagih utang di review ffn.

Insya Allah chapter depan udah mulai ngebahas teror yg dialamin Taeyong kemaren. So, tunggu aja kalo mau nunggu. Karena saya bukan tipikal author yang numpukin kelanjutan ff di draft ataupun laptop.

Untuk, fa0107, makasih udah nagih hahaha