Arakafsya Uchiha Mempersembahkan :

"Anthem Of The Angels"

Genre : Hurt/Comfort/Romance

Characters : Sasuke U. & Sakura H.

Rate : M

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

Don't like? Don't read!

.

.

Sepeninggalan Uchiha Itachi dalam kecelakaan bersama Sakura Haruno membuat gadis itu cukup menderita dan sempat mengalami gangguan kejiwaan. Akankah Sasuke Uchiha mampu menyembuhkan semua luka Kakak Iparnya? Lalu, bagaimana dengan status Hinata yang berdiri sebagai calon Tunangan Sasuke?

.

.

Uchiha Mansion, Konohagakure

BRUK

Sasuke Uchiha menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk miliknya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, bahkan untuk menarik nafas saja rasanya sudah susah. Ia memejamkan matanya sejenak demi menetralisirkan rasa lelah yang ia terima. Bayangan akan masa lalu selalu saja kembali terputar, entah kenapa ia sendiri sudah begitu lelah hidup dibayang-bayangi akan rasa bersalah.

Flash Back

"Apa kau mengenal Hyuuga Hinata, Teme?" Naruto— si pewaris restaurant Tosca itu membuka suaranya dengan satu pertanyaan yang cukup membuat pemuda berambut emo itu tercengang. Dari mana sahabat pirangnya ini mengenal kekasihnya? Juga untuk apa ia bertanya demikian?

"D-Dobe— kau mengenalnya dari mana?" Sasuke menarik nafasnya sejenak dan mengatur detakan jantungnya, sebisa mungkin agar debaran itu tidak sampai di telinga pria rubah itu.

"Dunia memang sesempit ini, Teme—" Naruto memberi jeda dalam kalimatnya, "Kami bertemu memang belum lama, kalau tidak salah...saat terakhir kali kau kesini sendirian,"

Sasuke menarik nafasnya dan mengusap pelan wajahnya, "Lalu...kau bertanya demikian—"

"Aku bahkan tidak tahu apa hubunganmu dengan gadis itu, ia begitu mencintaimu dan berniat akan membocorkan rahasia yang sudah dipendam dengan rapih oleh kalian— para Uchiha." Sela Naruto sembari menatap dalam mata Sasuke.

"Maksudmu..." Sasuke menatap curiga Naruto yang saat ini tengah menyeringai. "Hinata tidak mungkin benar-benar membeberkan masalah itu, aku percaya padanya. Ia tidak mungkin mau kehilangan diriku,"

"Mau atau tidaknya ia kehilanganmu, yang jelas aku benar-benar melihat tatapan matanya saat itu. Ia benar-benar serius dengan ucapannya, Teme. Awalnya aku juga tidak tahu kalau Sasuke yang ia maksud adalah dirimu, tapi dengan cepat ia menyebutkan nama margamu. Aku memang sudah mencegahnya, tapi niatnya sudah benar-benar bulat. Teme, kau harus hati-hati karena apa yang perempuan lakukan sangat merepotkan dibanding dengan dokumen-dokumen berhargamu." Sela Naruto lagi dengan menggebu-gebu.

"Tidak ada jalan lain, aku yang akan menghadapinya." Sasuke segera bangkit dari duduknya dan hendak menarik tangan puteranya kalau saja ia tidak mendengar suara kursi yang bergeser, menandakan sang pemilikinya tengah bangkit.

"Kenapa kau tidak ambil jalan simple saja sih? Kembali pada Hinata dan kau tidak akan kehilangan Sakura!"

Sasuke mendecih, "Kau pikir aku akan menyerah hanya karena hal seperti ini hah?! Aku tidak akan pernah menyerah dan aku sudah tahu cepat atau lambat semuanya akan terbongkar! Mulai dari sinilah, AKU AKAN BERJUANG DENGAN KEMAMPUANKU SENDIRI!" ujarnya dengan meninggikan suara diakhirnya.

Tidak sadar tatapan bocah kecil Aoi yang menatapnya ketakutan, Sasuke tetap menarik tangan bocah itu dan segera menjauh mengikuti dirinya yang beranjak dari tempatnya.

Flash Back Ends

"Sasuke-kun,"

Sasuke membuka matanya dan memperlihatkan iris obsidiannya saat sebuah suara merasuki indera pendengarannya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati seorang wanita bersurai merah muda panjang baru saja menutup pintu kamarnya dan berjalan menghampirinya. Wanita itu duduk di samping kepala Sasuke dan mengusap rambut ravennya dengan lembut.

"Ini sudah hampir waktunya makan malam, kau bahkan belum mandi." Suara wanita itu begitu lembut, secercah rasa hangat memasuki ruang hatinya. Entah kenapa ia bisa begitu tenang kalau mendengar suara wanita itu.

"Aku sedang tidak enak badan, Sakura."

Sakura, wanita yang saat ini sedang mencoba untuk menerima kehadiran Sasuke di hidupnya. Ia mengusap pelan dahi pemuda itu sembari tersenyum, sedangkan pemuda berambut raven itu hanya memejamkan mata demi menikmati sentuhan tangan kekasihnya.

"Kau sedang sakit, Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan suara pelan.

"Tidak, aku hanya kurang sehat. Aku kurang istirahat," jawabnya tanpa membuka matanya.

"Kalau begitu aku akan siapkan air hangat untukmu,"

"Tidak usah." Sakura mengerutkan dahinya dan menghentikan usapan tangannya, "Memangnya kenapa? Kau tidak mau mandi?"

"Biar para maid saja yang menyiapkannya," jawab Sasuke dan langsung pada posisi duduknya. Ia menatap Sakura dalam diam, semakin ia melihat senyuman Sakura, akan semakin sulit jika membayangkan bahwa kebenaran tentang mendiang suaminya terbongkar secara terang-terangan. Senyuman itu akan terganti dengan tangisan, jeritan pilu seperti kemarin-kemarin.

"Kau kenapa, Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan wajah bingung.

"Hn, tidak. Kau sudah selesai masak?"

Sakura menggeleng, "Belum. Aku akan kembali ke dapur dan menyuruh maid untuk menyiapkan air hangat, sesudah mandi turunlah ke bawah untuk makan malam."

Sasuke segera mengangguk pelan dan membiarkan Sakura pergi dari kamarnya. Sepintas bayangannya akan masa lalu, janji yang tak sengaja terucap pada sang kakak untuk menjaga Sakura-nya kembali terputar. Kenapa? Kenapa jadi serumit ini? Kenapa tidak sebahagia dulu? Bukankah seharusnya ia sudah tahu sejak awal kalau wanita yang ia cintai adalah Sakura? Lalu siapa Hinata? Hmm, dia hanya wanita biasa yang begitu 'mirip' dengan Sakura, yang membedakan hanya iris matanya dan juga warna rambut— walaupun keduanya sama-sama terbilang unik.

==oOo==

Hyuuga Mansion, Konohagakure

"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, silahkan coba beberapa saat lagi."

Hyuuga Hinata membanting BlackBerry hitamnya ke atas kasur. Perasaannya benar-benar cemas, pasalnya nomor sang kekasih tidak bisa ia hubungi. Sejak kemarin ia tidak mendapat kabar sedikitpun dari pemuda bermarga Uchiha itu. Ingin menangis juga percuma, karena ia sudah tahu kalau Sasuke sedang menghindar darinya. Satu-satunya jalan terbaik untuk menemui dan mengancamnya hanya satu.

"Aku akan pergi ke kediaman Uchiha." Katanya dengan penuh penekanan.

Ia mengganti pakaiannya dengan kaos putih polos dan celana jeans yang hanya menutupi tujuh centi di atas lututnya. Ia memang cantik bukan? Wajar saja kalau Sasuke Uchiha pernah terpikat padanya. Ia meraih handphonenya dan kunci mobil yang berada di atas meja belajarnya, bagaimanapun ia masih mahasiswa. Wajar saja kalau ia masih menggunakan meja belajar. Merasa semuanya sudah cukup, ia segera turun ke bawah dan memakai sepatu slop berwarna putih.

"Hey, mau kemana kau?"

Gadis itu mengembungkan pipinya saat mendengar sebuah suara di belakangnya. Ia membalikkan tubuhnya dan mencoba tersenyum semanis mungkin pada pemuda di hadapannya.

"Hey, Nii-san. Apa kabar?" tanya gadis lavender itu saat menatap pemuda bersurai cokelat panjang itu tengah melipat kedua tangannya di dada.

"Hn, ku tanya kau mau kemana? Kau sudah tahu 'kan ini jam berapa?"

"A-aku ada perlu sebentar dengan Sasuke-kun. Ada masalah yang harus ku selesaikan dengannya," jawab Hinata sembari melengkungkan senyumannya menjadi wajah yang cemberut.

"Hn. Seperti tidak ada hari esok saja, dan lagi untuk apa kau mengejar-ngejar bocah Uchiha itu? Kalau memang ia mencintaimu, ia akan kemari dan menyelesaikan masalahnya denganmu." Sela pemuda itu sembari menyeringai.

"Terserah apa pendapatmu, kalau bisa dihubungi juga ia akan ku suruh kesini." Jawab Hinata lagi.

"Hn, seharusnya tanpa kau hubungi juga ia akan datang sendirinya dan—"

"Berhenti mengajakku bicara! Aku mau pergi!" Hinata segera membalikkan tubuhnya dan keluar dari pintu, ia berjalan dengan terburu-buru dan masuk ke dalam mobilnya.

.

.

.

Jalanan besar utama Konoha tidak begitu ramai dan juga tidak terlalu sepi. Jam masih menunjukkan pukul 19:16, masih banyak waktu untuk menghampiri pemuda Uchiha itu.

"Kalau memang ia mencintaimu, ia akan kemari dan menyelesaikan masalahnya denganmu."

Cih. Hinata mendecih kesal mengingat semua perkataan kakaknya. Cinta ya? Jadi selama ini Sasuke tidak mencintainya? Ah— ia baru ingat, bahkan selama mereka berpacaran saja Sasuke tak pernah sekalipun datang berkunjung ke rumahnya. Ia hanya mengantar dan menjemput Hinata jika sekolah atau ada acara yang mungkin Hinata sendiri yang meminta untuk diantar dan dijemput. Pemuda itu juga tidak pernah menawarkan diri untuk mengantar-jemputnya.

"Kuso! Apa sebenarnya hubunganku dengan Sasuke-kun?!"

Deruman mesin mobil itu semakin terdengar, jarum kilometer semakin ke atas dan laju mobil semakin cepat saat jalanan mulai terasa kosong. Baginya, saat ini bertemu dengan Sasuke adalah prioritas utama yang harus ia tuntaskan.

==oOo==

Uchiha Mansion, Konohagakure

"Aoi kenyang, Aoi mau bobo."

Seorang bocah laki-laki tengah menghentakkan peralatan makannya dengan kasar, sementara pemuda yang ada di hadapannya mendelik marah pada bocah itu.

"Bisa tidak kau berkata lebih pelan lagi?" pemuda itu memicingkan matanya menatap anak kecil yang saat ini sedang mengerucutkan bibirnya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Sasuke-kun, jangan memarahinya. Kalau sudah mengantuk, Aoi memang sedikit sensitif." Ujar Sakura saat menyadari tatapan dingin kekasihnya. Tangan putih itu terangkat untuk menyentuh tubuh kecil Aoi dan membawanya ke dalam rengkuhan hangat seorang ibu. Tangan yang satu lagi menepuk-nepuk pelan punggung puteranya, kemudian pergi menuju lantai dua.

DRRTT DRRT

Sasuke menyipitkan matanya saat melihat Iphone5 milik Sakura bergetar di atas meja. Ia meraih benda putih nan tipis itu dan menemukan nama 'Naruto is calling...' pada layarnya. Pemuda itu menggeser layar Iphone5 Sakura dengan ibu jarinya dan menjawab panggilan sahabat pirangnya.

"Sakura-chan, kau sedang bersama Teme? Dari tadi ku hubungi handphonenya tidak aktif terus,"

Ah— Sasuke juga baru ingat kalau ia memang menonaktifkan Iphone5nya. Ia menyandarkan punggungnya dan menghela nafas, "Hn. Kenapa dobe?"

"Whoaah~ ternyata kau yang mengangkatnya. Kau dimana, Teme? Aku sudah ada di depan rumahmu. Aku ingin main~"

Sasuke terkikik pelan mendengar celotehan sahabat pirangnya itu. Bukankah belum lama ia kemari kesini? Tapi, tidak ada salahnya 'kan sahabatmu berkunjung ke rumahmu? Sasuke masih tetap menempelkan handphone di telinganya, ia bangkit dari duduknya dan menuju pintu keluar. Sebersit bayangan Naruto muncul di pantulan kaca rumahnya. Ia tersenyum dan membuka pintu utama kediaman keluarga Uchiha.

"Dobe, I'm here..." katanya seraya memutuskan sambungan telefon. Naruto menatap jijik pemuda Uchiha itu seolah-olah mereka dalah pasangan seme-uke yang baru saja bertemu dan bersiap untuk melakukan adegan-adegan romantis dengan background air laut yang meninggi dan kelopak-kelopak bunga yang malayang-layang di udara.

"Kau menjijikan. Kau tahu?" cercahnya pelan dan hanya dapat evil laugh dari pemuda emo itu.

Sasuke menekan sebuah tombol yang menempel di dinding rumahnya sehingga pintu pagar terbuka secara slowmotion. Setelah pagar yang menjulang tinggi itu terbuka, ia berjalan menghampiri Naruto yang masih sibuk mengunci pintu mobilnya.

"Aku tidak mengganggumu 'kan, Teme?" tanya Naruto sembari menutup pintu mobilnya. Sasuke hanya menggeleng menanggapi pertanyaan basa-basi itu. Mereka baru saja akan masuk ke dalam rumah kalau tidak melihat cahaya putih dari lampu mobil sedan hitam yang hendak menuju kemari. Perasaan kedua pemuda itu menjadi tidak enak saat mengetahui siapa pemilik mobil hitam tersebut.

'Hinata.' Batin keduanya harap-harap cemas.

Benar saja, saat mobil itu berhenti tepat di depan mobil Accord putihnya, sang pengemudi mobil keluar dari mobilnya. Deru mesin mobil sedan hitam itu berhenti sebelum sang pengemudi turun dari mobilnya, gadis itu melipat kedua tangannya di dada dan menatap kesal pada pemuda Uchiha di hadapannya.

"Kau kemana saja Sasuke-kun?! Aku menghubungimu dan nomormu selalu saja mati!" cercah gadis itu lagi.

Sasuke menghela nafas, "Aku lupa mengatifkannya kembali."

"Kau mencoba menghindariku ya? Apa perlu aku mengatakan kalau—"

"Kalau apa?! Kau mau bilang apa hah?!" sela Sasuke setengah berteriak.

"Kau benar-benar mengibarkan bendera perang ya, Sasuke-kun? Baiklah kalau itu maumu, aku akan mengatakan pada Sakura bahwa beberapa bulan yang lalu suaminya, Uchiha Itachi berhasil menghamili perempuan lain dan ia tidak—"

"Menghamili perempuan lain?"

DEG.

Sasuke dan Naruto membalikkan tubuhnya kearah pintu masuk saat mendengar sebuah suara yang sangat familiar bagi mereka. Sedangkan Hinata hanya melongokkan kepalanya dan tersenyum sinis mendapati raut wajah cemas dari kedua pemuda ini. Ya, Uchiha Sakura baru saja tiba dan mendengar semuanya dengan jelas.

Dengan langkah gemetar, Sakura menghampiri Hinata yang masih menyeringai pada mereka semua, "Jelaskan padaku apa yang terjadi, Hinata-san."

Hinata semakin memperlebar seringainya, "Kau benar-benar mau tahu? Apa Sasuke-kun tidak memberitahumu sama sekali? Hey— dia bahkan lebih mengetahui ini daripada aku. Dia menutupi aib ini dengan sangat baik rupanya,"

Sasuke mengepalkan kedua tangannya menatap Hinata. Sedangkan Sakura sudah menatapnya penuh tanya— terlebih lagi, pandangan dari iris emerald itu begitu dingin dan menusuk.

"Kau...aku membencimu, Sasuke Uchiha!" Sakura membalikkan tubuhnya dan meninggalkan ketiga manusia yang saat ini masih menatap kepergiannya. Hatinya begitu sakit mendengar separuh dari pengakuan Hinata. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang ditutupi dan kenapa hanya dia yang tidak tahu masalah ini? Sebenarnya Itachi pergi meninggalkan teka-teki apa saja?. Sakura menggeleng lemah dan membiarkan air mata mengalir deras di pipinya, ia tetap berjalan meninggalkan Sasuke disana.

"Kau puas sekarang hah?! MULAI SEKARANG KITA AKHIRI HUBUNGAN INI! JANGAN PERNAH TEMUI AKU LAGI! CEPAT PERGI SEBELUM AKU BUNUH KAU!"

Sasuke berteriak sekuat tenaga di hadapan Hinata. Naruto yang melihat tatapan mata sahabatnya itu hanya mampu mengusap punggung Sasuke dan menarik tangannya menuju ke dalam rumah— menjauhi Hinata. Ia tidak habis pikir, gadis itu benar-benar berbahaya. Ia juga tidak pernah melihat sasuke semarah ini sebelumnya.

"Teme, sudahlah. Ayo masuk ke dalam dan jelaskan semuanya pada Sakura, kita tidak punya banyak waktu." Ujar Naruto sembari menarik tangan Sasuke.

Sasuke menghempaskan dirinya di atas sofa, sementara sahabat pirangnya itu pergi ke dapur untuk mengambil segelas air untuknya. Emosi benar-benar menguasai dirinya, bagaimanapun ini adalah kesalahannya juga. Tidak bagus memang menutupi semua kebohongan ini, ia tahu cepat atau lambat juga Sakura akan mengetahuinya.

"Teme, minumlah dulu. Kau terlihat berantakan," ujar Naruto yang baru datang sembari membawa segelas air. Sasuke meminum air itu sampai habis, setidaknya ia tidak sepanas tadi. Pemuda itu mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak, sampai tiba-tiba datang Sakura dengan koper besar yang ditarik oleh tangan kirinya.

"Kau mau kemana?!" tanya Sasuke sembari menatap Sakura. Merasa diacuhkan, pemuda itu bangkit dan menarik tangan Sakura— mencengkramnya dengan erat. Ia emosi, sangat emosi. Jadi, tolong siapapun agar tidak menyulutnya lagi.

"Lepaskan aku! Sshh..." Sakura mendesis merasakan sakit di pergelangan tangannya. Sepertinya akan tercipta luka memar.

"Ku tanya kau mau kemana malam-malam begini hah?!" teriak Sasuke lagi.

Naruto menggeleng pelan dan menepis tangan Sasuke sehingga melepas tangan Sakura, "Jangan saling membentak! Kalian bukan anak-anak lagi 'kan? Selesaikan dengan baik-baik. Sasuke, jangan pakai kekerasan. Sakura, hargai seseorang yang ingin bicara padamu."

Keduanya terdiam dan saling membuang muka, mengatur nafas masing-masing agar terdengar lebih rilex dan tidak ada acara bentak-membentak disini. Masalah tidak akan selesai tanpa bicara baik-baik.

"Ibu...hiks...ibu mau kemana, bu? Maca ibu mau tinggayin Aoi dicini...hiks...hiks...hiks...Aoi mau ikut ibu~"

Bocah kecil itu terbangun dari tidurnya dan berlari menghampiri sang ibu yang masih diam dalam tangisnya. Hey, wanita mana yang tidak sakit hati? Baru saja menerima kenyataan kalau suamimu sudah pergi, sekarang kau harus terima kalau kematian suamimu meninggalkan begitu banyak teka-teki. Apa arti kata 'isteri' bagi Sakura selama ini? Ia tidak lebih dari boneka bukan?

"Itachi—" Sasuke menggantungkan kalimatnya sembari menatap Sakura.

"Dia memang pernah berselingkuh dengan wanita lain— tapi aku tidak tahu siapa namanya, aku memang tahu sejak lama. Aku ingin bilang padamu tapi aku tidak berani menyakitimu. Aku...sudah mencintaimu sejak lama, bahkan sebelum kamu menikah—"

Sasuke menarik nafasnya dalam-dalam, "Aku sudah menegur Itachi secara langsung, ia juga sadar. Ia memang sudah meninggalkan wanita itu, tapi semuanya terlambat—"

Sakura mengangkat kepalanya dan menatap mata Sasuke, mencoba mencari kebohongan disana walaupun pada nyatanya ia tidak menemukan adanya dusta disana. Pemuda ini jujur, mengatakan apa adanya.

"Itachi benar-benar khilaf, bahkan aku terlambat untuk menasehatinya. Wanita itu hamil, keberadaannya diketahui oleh pihak Uchiha Corp. dan perusahaan kami sempat di blacklist, lalu Akatsuki Corp. menawarkan bantuan dan akhirnya perusahaan kembali bangkit tepat dua bulan yang lalu."

Naruto menghela nafas berat, "Sasuke benar, aku juga menyembunyikan berita ini. Maafkan aku, Sakura-chan."

"CUKUP!" teriak Sakura sembari menangis sesenggukan. Nafasnya terasa berat untuk dihirup, seakan-akan ia sudah siap mati saat ini.

"Kalian sahabatku 'kan?! Kenapa kalian tega menyembunyikannya padaku?! Kalian membahagiakanku dalam sebuah drama yang begitu terasa nyata. Kalian mengecewakanku...hiks..."

Sasuke dan Naruto memijit pelipisnya masing-masing. Ya, ini memang kesalahan mereka. Kalau saja Sakura sudah tahu dari dulu, mungkin masalah ini akan selesai tanpa harus ada yang kecewa— tidak tidak! Yang kecewa itu pasti ada.

"Aku mau pergi, aku akan membawa Aoi!" Sakura mengangkat tubuh puteranya dan menyeret tas kopernya.

"Ini sudah malam! Kau mau pergi kemana lagi hah?! Jangan bersikap seperti anak kecil!" teriak Sasuke sembari menahan kepergian wanita itu. Sasuke menarik tangan Sakura yang menarik koper walaupun wanita itu juga memberontak minta di lepaskan.

"Aku kemanapun bukan urusanmu! Cepat menyingkir dariku, keparat!" teriak Sakura lagi sembari mencoba meloloskan diri.

"Ini sudah malam! Kalian akan kemana?! Aku tidak akan mengizinkan kalian pergi! Jangan bersikap—"

"Kau yang kekanakkan! Jangan campuri urusanku lagi, Uchiha!" Sakura menghentakkan tangannya dan menggoyangkan bahunya agar terlepas dari dekapan pemuda itu. Keseimbangannya goyah, ia tersungkur ke lantai. Beruntung ia begitu kuat mendekap Aoi sehingga bocah itu tidak apa-apa.

"Hiks...hiks...ayah...ibu...hiks...hiks..." Aoi memeluk erat leher ibunya sembari menangis. Ia ketakutan, sangat ketakutan.

"Hentikan, Teme. Kau tidak lihat Aoi ketakutan?" Naruto baru saja membungkukkan tubuhnya dan membantu Sakura untuk berdiri. Tapi, tangan Sasuke langsung saja mendorong tubuh pemuda Namikaze itu hingga tersungkur ke lantai. Sasuke Uchiha sudah dikuasai amarah, matanya merah menyala menatap Sakura dan Aoi yang masih meringis.

"Jangan ikut campur urusanku, Dobe! Aku sudah muak biacara baik-baik." Ujar Sasuke dengan dingin.

"Kalau kau muak, jangan hentikan aku untuk pergi dari sini! Aku ingin pergi kemanapun aku suka sekalipun itu berarti aku akan menyusul Itachi!" teriak Sakura sembari mendekap erat putera kecilnya.

"Aa— kau menyusul Itachi eh? Baiklah, sekarang juga aku akan bunuh kalian!" sela Sasuke dengan nada tinggi. Kedua orang itu saling mendekap erat, si kecil semakin ketakutan dan tidak berani membuka matanya. Sedangkan, si ibu mendekap erat puteranya demi melindungi tubuh kecil anaknya dari rasa sakit yang akan ia terima nanti.

Sasuke mengepalkan tangannya dengan erat, nafasnya memburu, bahkan seringai licik sudah muncul di bibir tipisnya. Tangan itu terangkat, bersiap melemparkan tinjunya kepada kedua manusia yang masih saling mendekap disana.

"Mati saja sanaaaaa!"

GREP.

Sasuke membelalakkan matanya saat mendapati pergerakan tangannya telah ditahan oleh sebuah tangan yang— tembus pandang. Sakura yang menyadari hal itu langsung mendongakkan kepalanya dan mendapati tubuh transparan mendiang suaminya yang saat ini tengah bertatapan dengan mata Sasuke. Perlahan, onyx hitam itu kembali melunak. Naruto yang baru saja mencoba untuk duduk, sama tercengangnya mendapati Sasuke yang saat ini sedang bertatapan dengan—

"I-Itachi..." desis Sakura pelan. Seketika tubuhnya merinding mendapati pemandangan di hadapannya, sedangkan puteranya yang masih kecil itu menoleh dan memekik kegirangan mendapati sang ayah berdiri untuk melindunginya.

"Ayah!" teriak bocah itu girang, Itachi— menatap puteranya sebentar, lalu menatap mata hitam Sasuke lagi.

"Menyakitinya lebih dari ini, kau akan ku giring menuju kematianmu." Ucap roh itu dengan dingin. Perlahan, tangan Sasuke terlepas seiring dengan perginya roh tersebut.

Merasa kurang puas melepas rindu menatap wajah sang ayah, Aoi melepaskan diri dari dekapan ibunya dan berlari keluar rumah untuk mencari ayahnya. Ia harus beterima kasih pada ayahnya yang sudah menyelamatkannya barusan, ia juga akan bercerita banyak pada sang ayah tentang kehidupannya. Intinya, ia harus bertemu dengan ayahnya sekarang juga.

"Ayah! Ayah! Ayah!—" ia terus berlari sembari memanggil ayahnya.

"Aoi kembali! Aoi ini sudah malam!" Sakura, Sasuke, dan Naruto juga turut mengejar bocah kecil yang sudah berlari keluar dari rumahnya.

"Aoi! Aoi! Tunggu, Aoi! Jangan kesana!" Sasuke berteriak sembari mengejar puteranya yang sudah keluar dari mansion dan menuju jalan besar utama Konoha.

"Sial, kakiku tidak bisa berlari!" gerutu Sakura yang masih dipapah oleh Naruto, membiarkan Sasuke yang berlari memimpin acara kejar-kejaran itu.

"Jangan kesana Aoi! Cepat kembaliiii!" Sasuke berteriak saat melihat putera kecilnya sudah berlari ke tengah jalan besar. Saat itu juga, mata Sasuke kembali terbelalak mendapati sosok transparan Itachi yang saat ini sedang berada di seberang jalan dan mengulurkan tangannya pada bocah itu.

"AOIIIIIII!"

TIN TIIIIIIIIIIIN—

BRAK BRAK !

'Tidak...mung—kin...aku terlambat...' ucap Sasuke dalam hati. Matanya semakin terbuka lebar mendapati sosok bocah kecil yang tubuhnya baru saja terpental ke atas dan jatuh di aspal yang keras. Bau anyir darah menguar bersamaan dengan keluarnya cairan pekat itu dari dalam kepala sang bocah. Mobil yang menabrak Aoi sudah pergi saat itu juga.

"AOIIIII!" Sasuke berteriak sekencang-kencangnya, air mata sudah membanjiri kedua pipinya. Suara isak tangis keluar seperti jeritan, pemuda itu berlari menghampiri tubuh puteranya yang tergeletak di jalanan. Kedua tangannya menarik tubuh kecil puteranya agar berada tepat di pangkuannya. Selanjutnya, jalanan sepi itu hanya diisi dengan jeritan pilu pemuda Uchiha itu.

Sakura dan Naruto baru saja berhasil mengejar Sasuke. Betapa kagetnya Sakura mendapati puteranya dalam keadaan naas tersebut, ia melepas rangkulannya dari Naruto dan entah dapat kekuatan dari mana ia bisa berlari untuk memastikan kalau apa yang ia lihat bukanlah mimpi.

"AOIIIII ! Bangun Aoi, bangun! Bangun, Nak! Cepat bangun...hiks..." Sakura menangis sejadi-jadinya menatap keadaan puteranya dengan wajah bersimpuh darah.

Ia menarik tubuh puteranya dan menekan pergelangan tangan puteranya. Nadinya masih berdenyut, tapi lemah. Ia masih bernafas. Naluri kedokterannya kembali muncul, ia memegang beberapa tubuh puteranya dan mendapati patah di tangan kanan dan bahu puteranya. Kaki kiri juga patah, ia menggeleng lemah dan menangis sejadi-jadinya.

'Kami-sama, jangan ambil puteraku...'

-Tbc-

Author's Spam :

Terima kasih atas doanya dari para readers. Mulai chapter 7 saya yang akan update, karena operasi berjalan lancar dan saya juga merasa sudah lebih baik. Ara-chan sudah sibuk dengan kegiatan kelas 3 SMAnya. Hari ini juga dia ujian di salah satu fakultas kedokteran yang ada di Jakarta. Doakan saja yg terbaik untuknya. Amiin.

Saya lihat banyak yang ga sabar ya sama cerita ini. Saya juga bahagia liat reviewsnya yang lumayan banyak. Lemon? Ara emang ga pinter bikin lemon (?) haha. Chapter 8-10 mungkin ada karena saya yang bikin. (ketahuan mesum)

-Buat yang nanya Naruto udah menikah atau belum, jawabannya belum. Kalo dia udah nikah, Hinata gimana? Hahaha.

-Banyakan readers yang benci Hinata ya disini haha, kayaknya saya harus menggaji Hinata 3x lipat karena berhasil memainkan perannya. Eniwey, saya juga enggan dengan pair SasuHina. Ya mau gak mau NaruHina harus terjadi. Kasian juga kalo endingnya tuh cewe sendirian. Haha

-Buat yang nanya kehadiran Mikoto sama Fugaku, mereka udah dijelaskan Ara kan kalo sudah meninggal? apa belum ya?. Oke, ini chapter 10 udah harus ending.

-Gabisa bales review satu-satu ya ==" maaf maaf. Chapter depan saya berjanji akan bales. makanya review lagi ya :p

Sign, Shaskeh Admaja

Mind to review again? Thanks :)