.
.
Diriku hanyalah seorang makhluk yang hidup berbaur di tengah-tengah masyarakat vampir. Memiliki darah garis keturunan kerajaan menuntutku menjadi kuat. Namun, apa yang harus aku lakukan ketika mengetahui pertumbuhan sihirku sangat lambat?
.
.
Arc II : Uzumaki Kushina
.
.
Naruto mencebik dengan kening yang mengkerut. Matanya menajam, mulutnya sesekali melontarkan kata-kata umpatan.
"Naruto, belajarlah dengan benar," pesan Naira dengan tegas.
Gadis itu sedang mengawasi dari pagar gazebo. Naruto mempelajari strategi strategi baru dari buku yang diberikan Naira. Tapi dikarenakan suasana hatinya yang kacau, pola pikir Naruto turut terpengaruh.
"Kau masih memikirkannya?" Tanya Naira disaat angin sejuk menyapa permukaan kulitnya.
"Hn," jawab Naruto dingin.
Naira menghela nafas berat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa kesal dengan suasana hati Naruto.
"Mungkin dia ada alasan dibalik itu semua, Naruto."
"Aku sudah tidak peduli lagi, senpai."
Lagi. Naira kembali menghela nafas. Kali ini helaannya lebih panjang daripada sebelumnya. Naira memilih mengeluarkan novel kesukaannya dari dalam tas ransel yang tadinya ia sandang.
"Ibu baik mana yang tidak mengakui putranya sendiri?"
.
.
.
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
KAZEHIRO TATSUYA
PRESENT
.
Title :
Why Not Both?
The Beginning
.
Disclaimer :
Masashi Kishimoto
.
Created By :
Kazehiro Tatsuya
.
Assisted By :
Ryuga Yamikato
.
Pair :
Naruto X OC
.
Warning :
Segala ide cerita, latar, dialog, narasi, sifat, sikap, dan settingan lainnya murni ide Author sendiri. Jika ada kesamaan dengan fanfic Author lain, maka hanya sebuah kebetulan. Mohon dimengerti.
.
Penulis tidak meraup keuntungan apapun dari fanfic ini. Isi cerita berdasar imajinasi penulis. Kevalidan informasi yang disajikan bukan 100%. Fanfiksi ini sebatas hiburan. Kesalahan kepenulisan berupa TYPO(S) dan EBI yang belum benar bukan sengaja.
.
[Latar Tahun 2017] My First Vampire Fic, OOC, OC, AU.
.
Rated :
M
(Untuk pembunuhan, darah, maupun unsur lainnya)
.
Genre :
Action, Romance, Fantasy, Supernatural, Vampire, Friendship, and Adventure.
OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
.
.
.
Sore hari yang terkesan mendung, sebuah mobil memasuki kawasan mansion Uzumaki. Mobil tersebut dipersilahkan memasuki kawasan klan Uzumaki ini setelah mendapat izin dari sang putri ketua klan, Uzumaki Kushina.
"Klan Uzumaki memang mempertahankan budaya khas Jepang seperti halnya klan kekaisaran Hyuuga," ujar Jiraiya saat mendapati betapa kagumnya Naruto dan Naira menatapi bangunan besar khas tradisional Jepang tersebut.
Jiraiya memarkirkan mobil di tempat yang sudah disediakan. Menjadi klan pemimpin desa Uzushio ini tentu saja membuat Uzumaki memiliki kawasan mansion yang terbilang paling luas di desanya.
"Naruto, kau sudah memasang wigmu?"
"Iya, iya!"
Naruto dengan perasaan tidak rela mulai mengenakan rambut wig berwarna hitam sepanjang punggungnya. Ini dilakukan agar klan Uzumaki yang merupakan bagian dari Black Guard tidak menganggap Naruto sebagai musuh.
Saat semuanya sudah selesai, Jiraiya, Naruto, dan Naira membuka pintu lalu menuruni mobil yang mereka tumpangi. Naruto terlihat gusar dengan rambut panjangnya.
"Jiraiya-sama, Naruto-sama, dan Naira-sama,"
3 objek yang dipanggil langsung memutar badan dan mendapati seorang gadis yang mengabdikan hidupnya untuk melayani klan Uzumaki.
"Saya diamanahkan Kushina-sama untuk membawa kalian ke tempatnya."
"Dimana Kushina sekarang?"
"Kushina-sama sekarang berada di depan gedung perpustakaan klan Uzumaki. Mari saya antar."
"Baiklah. Mohon bantuannya."
Gadis berambut hitam tersebut melangkahkan kakinya diekori oleh Jiraiya, Naruto dan Naira. Sepersekian kalinya Naruto dibuat takjub. Bahkan luas mansion ini dapat menyaingi luasnya bangunan istana kerajaan vampir. Bahkan perpustakaan klan terletak di bangunan yang berbeda dengan bangunan utama yang hanya diisi oleh tempat peristirahatan, pangan, dan lain-lain.
Naruto mendapati seorang wanita cantik berambut merah panjang melambaikan tangan dengan senyuman cerianya. Jiraiya balas melambaikan tangan.
"Kaa-sama?" Gumam Naruto tanpa sadar dan dapat didengar oleh Naira yang berada di sampingnya.
Mereka berempat berhenti tepat di depan Kushina. Naruto sampai sekarang masih membaku menatapi sosok wanita berambut merah tersebut.
"Okaa-sama," kata Naruto berhasil membuat si pelayan perempuan tadi terkejut. Pasalnya Naruto baru saja memanggil sang majikan dengan sebutan 'okaa-sama'.
"Okaa-sama? Siapa yang kamu maksud? Aku tidak mengenalmu, enggg.." Ujar Kushina menatap Naruto membuat pemuda pirang itu tersentak.
Bukan Naruto saja yang shock. Tapi Jiraiya dan Naira juga turut merasakannya. Apa mereka baru saja mendengar bahwa Kushina mengatakan bahwa ia tidak mengenal Naruto?
"Ah.. Benarkah? Hahahaha maafkan aku. Aku salah orang ternyata," kata Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah," balas Kushina dengan senyumannya lalu mengalihkan perhatiannya ke si pelayan.
"Kerja bagus. Kau boleh pergi," kata Kushina dibalas anggukan olehnya.
Si pelayan yang mengantarkan Naruto, Jiraiya, dan Naira tadi membungkukkan badannya sekilas lalu pergi dari hadapan Kushina dan tamunya.
"Perkenalkan, namaku Uzumaki Kushina. Kalian boleh memanggilku obaa-san jika kalian mau, eto..."
"Naira dan Naruto, desu," timpal Naira.
"Naira-chan dan Naruto-kun," kata Kushina mengulangi nama panggilan 2 makhluk berbeda gender itu.
"Jika kalian merasa letih, aku pribadi bisa mengantarkan kalian menuju kamar tamu. Tentu saja kamar Naira-chan terpisah."
"Hahahaha kau baik sekali, Kushina. Baiklah. Ayo, Naruto, Naira-chan!"
Jiraiya, Naruto, dan Naira kembali mengekori jalan seseorang. Kali ini mereka menjadi ekornya Kushina. Wanita cantik itu mengantarkan ketiga tamunya ke kamar yang telah disediakan.
Di tengah-tengah percakapan antara Jiraiya dan Kushina bagaikan kawan lama itu, Naira menyadari ekspresi lesu yang diperlihatkan Naruto. Pemuda itu terlihat tidak begitu bersemangat.
"Naruto?"
"..."
Naruto hanya diam disaat Naira menyebut namanya. Gadis itu menyikut pelan lengan Naruto agar pemuda itu menyadari eksistensinya.
"Ada apa, senpai?" Akhirnya Naruto menyahut setelah disikut 2 kali. Naira memijit pelipisnya.
"Kenapa denganmu?" Tanya Naira berbisik.
"Aku hanya bermenung tanpa tujuan. Aku tidak apa-apa," jawab Naruto.
Jawaban tadi tidak memuaskan rasa penasaran Naira. Saat gadis berambut putih itu akan mengajukan pertanyaan kedua, tiba-tiba saja Jiraiya dan Kushina menoleh ke arah Naira dan Naruto.
"Naira-chan, ini kesempatan yang bagus. Kupercayakan padamu untuk melatih Naruto mengenai strategi dalam bertarung. Kalian boleh menggunakan pekarangan bunga di belakang mansion ini," ujar Jiraiya dengan cengirannya.
"Baiklah," jawab Naira.
"Aku akan meminta pelayan untuk membawa kalian berdua ke perkarangan bunga yang dimaksud."
Naira membungkukkan badannya sekilas saat mendapatkan tawaran Kushina tadi. Ia juga memaksa Naruto untuk membungkuk.
Kushina memanggil salahsatu pelayan yang berada di sekitar jalan menuju rumah. Kushina terlihat berbincang sebentar dengan si pelayan laki-laki tersebut sebelum si pelayan membungkukkan badan hormat. Setelah itu si pelayan mulai menghampiri Naira dan Naruto untuk digiring menuju perkarangan bunga yang terletak di belakang mansion.
"'Anggaplah seperti rumah sendiri'. Itu pesan dari Kushina-sama," ujar si pelayan yang namanya tidak diketahui itu.
"Baiklah jika itu yang dikatakan Kushina-san. Aku tidak akan segan-segan," kata Naruto tampak tidak acuh.
Naira hanya bisa geleng-geleng kepala. Sedangkan si pelayan hanya bisa tersenyum dengan keringat dinginnya. Entah kenapa si pelayan mulai berfirasat buruk. Apa yang akan terjadi setelah klarifikasi yang diucapkan Naruto?
Lama memutari gedung mansion yang terbilang 'wow' itu, akhirnya Naira dan Naruto berada di halaman belakang mansion yang dipenuhi bunga-bunga. Di tengah-tengah taman, terdapat sebuah gazebo dengan diameter 10 kaki.
"Kalian bisa menggunakan gazebo itu sebagai tempat latihan kalian. Saya pamit undur diri dulu. Jaa."
Si pelayan membungkukkan badan sekilas dan dibalas oleh Naira. Lagi-lagi Naira menggunakan tangannya agar Naruto turut membungkuk sekilas.
"Terima kasih."
Si pelayan tersenyum ramah. Ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan Naruto dan Naira. Tiba-tiba saja, suasana mendadak sepi membuat jantung Naruto berdebar sendiri.
"Naruto, ikuti aku."
Naruto tersentak. Ternyata Naira sudah melangkahkan kakinya menuju gazebo yang terbuat dari beton dan emas itu. Warna putih dan emas menghiasi tempat yang nyaman ini.
Naruto pun mengikuti Naira. Mereka berdua duduk di tengah-tengah gazebo. Naira mengeluarkan 10 buku dengan ketebalan +100 lembar yang membuat Naruto tercengang.
"Kau harus memahami 10 buku yang mencakup srategi ini. Setiap buku memiliki strategi yang berbeda-beda karena dibuat oleh penulis yang berbeda pula. Salahsatu penulis tersebut adalah Jiraiya-sensei dan juga Uchiha Madara."
Naruto takjub. Ternyata orang kaku seperti Madara mau meluangkan waktunya untuk membuat sebuah buku strategi perang. Tidak mengherankan sebenarnya mengingat pria keturunan Uchiha itu merupakan jenderal besarnya ras vampir di Jepang.
"Di setiap buku memiliki perbedaan yang signifikan. Buku pertama dan kedua merupakan strategi dasar. Buku ketiga dan keempat merupakan strategi bertarung dalam perang besar. Buku kelima dan keenam merupakan strategi sederhana jika si petarung lebih memilih bertarung tanpa berpikir panjang. Buku ketujuh dan kedelapan merupakan buku yang berisi strategi bertarung yang memegang konsep kelicikan. Dan buku kesembilan dan kesepuluh adalah strategi menyelesaikan pertarungan dengan cara singkat."
Naruto mengangguk paham. Ada 2 buku yang punya konsep sama namun ditulis oleh pengarang yang berbeda. Setiap buku juga punya strategi yang berbeda-beda walaupun memiliki konsep yang sama. Perbedaan tersebut sudah terjamin karena telah diberi standar hukum hak cipta.
"Kau harus memahaminya sebelum matahari terbenam."
Perkataan Naira membuat Naruto memeriksa jam pada ponsel pintarnya. Ternyata sudah pukul 4 sore. Hanya tersisa waktu sebanyak 2 jam sebelum pukul 6. Naruto menganga lebar tak percaya. Apa dia bisa membaca 10 buku dengan ketebalan di atas 100 lembar dalam waktu 2 jam?!
Naira terlihat tidak peduli dengan keterkejutan Naruto. Gadis berambut putih ini kembali berdiri dan melanjutkan duduk di atas pagar gazebo.
Sejam pertama berlalu. Naruto menjalaninya dengan serius. Tapi, sebuah pemikiran menyeruak di otaknya. Naruto mulai merasa terganggu.
Naruto mencebik dengan kening yang mengkerut. Matanya menajam, mulutnya sesekali melontarkan kata-kata umpatan.
"Naruto, belajarlah dengan benar," pesan Naira dengan tegas.
"Kau masih memikirkannya?" Tanya Naira disaat angin sejuk menyapa permukaan kulitnya.
"Hn," jawab Naruto dingin.
Naira menghela nafas berat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa kesal dengan suasana hati Naruto.
"Mungkin dia ada alasan dibalik itu semua, Naruto."
"Aku sudah tidak peduli lagi, senpai."
Lagi. Naira kembali menghela nafas. Kali ini helaannya lebih panjang daripada sebelumnya. Naira memilih mengeluarkan novel kesukaannya dari dalam tas ransel yang tadinya ia sandang.
"Ibu baik mana yang tidak mengakui putranya sendiri?"
Naira hanya diam disaat Naruto melontarkan pertanyaan yang lebih tepatnya pernyataan itu. Naira berdiri dari duduknya dan menghampiri Naruto.
Tuk
"Ittai," rintih Naruto pelan saat Naira menimpuk kepalanya dengan novel kesukaan Naira.
"Jangan pikirkan sekarang. Kau harus fokus agar bisa menghabiskannya sejam lagi. Jika kau tidak menyelesaikannya, aku akan menemui Jiraiya-sensei dan mengatakan bahwa aku tidak akan mengajarimu lagi."
Ancaman Naira berhasil menohok Naruto. Pemuda pirang yang menyamarkan pirangnya dengan hitam itu kembali fokus dan kembali memahami maksud buku tersebut.
Naira tersenyum. Ternyata sangat mudah membuat juniornya itu untuk mematuhinya. Tanpa disadari Naira, ia mulai menyukai sisi lain dari Naruto itu.
.
.
OOOOOO
_ooO- The Beginning - Ooo_
OOOOOO
.
.
"Bisa kau jelaskan, Kushina?!"
Jiraiya mengajukan pertanyaan yang terkesan penuntutan saat dirinya berada di ruang tamu di dalam mansion Uzumaki. Kushina menghela nafas berat. Ia sudah memastikan bahwa tidak ada orang yang akan menguping pembicaraan mereka.
"Alasan kenapa aku berpura-pura tidak mengenali Naruto?"
"Hn."
Kushina sudah memprediksi pertanyaan Jiraiya yang akan keluar. Wanita cantik ini menjentikkan jarinya. Seketika mereka berdua berada didalam sebuah kubus tak kasat mata yang mampu meredam suara didalam.
"Jadi?" Kata Jiraiya langsung saat Kushina tengah memantapkan hatinya.
"Sebenarnya..."
"Sebenarnya?"
"Aku..."
"..."
"Aku hanya melakukannya agar Naruto terlindungi."
Jiraiya menaikkan sebelahnya. Ia masih belum mengerti dengan alasan Kushina. Tapi ia memaklumi. Setiap makhluk memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan sesuatu. Termasuk kepedulian.
"Terlindungi dari apa?"
"..."
"..."
"Akan kuberitahukan kepadamu, sensei."
Kushina berdiri dari duduknya. Ia melangkahkan kaki mengitari kubus yang melindungi pembicaraan mereka. Fokus Jiraiya selalu mengikuti kemana arah wanita itu berjalan.
"Aku pernah mendengar suatu kabar dari satu-satunya pelayanku yang sangat kupercaya."
"Kabar apa?"
"Kabar bahwa klan Uzumaki memiliki suatu ambisi rahasia yang bahkan aku sendiri tidak mengetahuinya," ujar Kushina sambil memandangi foto yang terpajang di dinding dengan ukiran bingkai yang terbuat dari kayu jati berkualitas.
"Kau sendiri bahkan tidak mengetahuinya, heh? Kau yakin pelayanmu itu tidak mengada-ngada?" Tanya Jiraiya dihadiahi tatapan tidak dapat diartikan dari Kushina.
"Sehari setelah pelayan terpercayaku itu memberitahukannya kepadaku, ia ditemukan tewas tenggelam di dalam sumur."
Jiraiya membulatkan matanya.
"Berita mengatakan bahwa pelayanku terjatuh ke sumur karena kecerobohannya sendiri. Tetapi, berdasarkan hasil penyelidikan yang aku lakukan sendiri secara diam-diam, pelayanku itu telah dicelakai oleh seseorang yang sepertinya utusan dari klan Uzumaki karena pelayanku telah mengetahui sebuah 'rahasia'."
Jiraiya manggut-manggut. Ia mulai mengerti arah pembicaraan Kushina. Jiraiya menyesap teh hangat yang tergeletak di depannya.
"Jadi, kau menyimpulkan bahwa klan Uzumaki sedang dalam gerak-gerik mencurigakan?" Tanya Jiraiya dibalas anggukan oleh Kushina.
"Maka dari itu aku turut menyembunyikan identitas Naruto seperti yang kau lakukan sekarang, Jiraiya-sensei. Kita tidak pernah tahu apa yang klan Uzumaki rencanakan," jawab Kushina dengan senyum mantapnya.
Jiraiya menatap mata Kushina. Ia berusaha menemukan sinar kebohongan dari mata indahnya. Namun Jiraiya hanya bisa tersenyum. Ia tidak menemukannya.
"Tapi...hiks!"
Jiraiya tersentak. Apa ia baru saja mendengar Kushina terisak? Sekarang wanita itu sudah kembali duduk dengan kedua tangan menangkup wajahnya.
"Tapi kenapa?"
Kushina menghapus air mata yang bersarang di ekor matanya. Ia merasakan matanya memanas dikarenakan air yang menggenang di mata.
"Aku...sangat ingin memeluk Naruto, menciumnya dengan kasih sayang, berbicara dengannya dan bahkan bersikap layaknya seorang ibu yang menyayangi anaknya sendiri. Hiks! Hiks!" Ujar Kushina terisak lalu meraih selembar tisu yang diberikan Jiraiya.
"Aku bisa membantumu, Kushina."
"Itu tidak mungkin, sensei. Karena Naruto sudah terlanjur membenciku. Tapi itu tidak apa. Dengan begini, aku tidak perlu khawatr karena Naruto tidak harus ikut berakting di depan seluruh klan Uzumaki dan pelayan-pelayannya seperti yang kulakukan sekarang," ujar Kushina serius namun membuat Jiraiya terkekeh.
"Kau sungguh sangat tidak jujur dengan perasaanmu sendiri, Kushina."
Kushina menoleh ke arah guru dari Minato itu. Ia menatap pria paruh baya itu dengan pandangan bertanya-tanya.
"Besok persiapkan dirimu, Kushina. Aku akan mempertemukanmu dengan Naruto."
"Tapi, bagaimana caranya?"
"Hmmm...entahlah. Tapi, kau tunggu saja," kata Jiraiya dengan cengiran seperti biasanya.
.
.
OOOOOO
_ooO- The Beginning - Ooo_
OOOOOO
.
.
Naruto baru saja menyelesaikan ujian yang diberikan Naira. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
Pertanyaan-pertanyaan bertubi dilontarkan oleh Naira. Naruto harus bisa menjawab setelah berpikir selama semenit. Jika tidak bisa, maka 1 huruf pertanyaan sama dengan 1 batangan es dimasukkan ke dalam pakaian Naruto. Batangan es akan dikeluarkan setelah ia dapat menjawab pertanyaan selanjutnya.
"Aku sangat lelah," gumam Naruto lalu merebahkan badannya di atas lantai gazebo. Naira hanya memerhatikan gerak-gerik juniornya itu.
Naruto memejamkan matanya. Mencoba mengistirahatkan badan. Berpikir dengan logika turut membuat fisiknya letih. Naruto tidak tahu mengapa itu bisa terjadi.
Perlahan ia mulai terlelap. Walaupun ia seorang vamphuman yang notabene tidak membutuhkan tidur, tapi ia tetap butuh mengistirahatkan raga dan merilekskan sekujur tubuhnya. Itulah guna tidur bagi vamphuman.
"Dia tertidur," batin Naira yang duduk bersimpuh di samping Naruto.
Naira memandangi Naruto lekat-lekat. Pemuda itu selalu berusaha melakukan yang terbaik. Semangatnya menyadarkan dirinya. Bahwa usaha itu akan semakin berwarna dengan adanya semangat. Naira tersenyum karena dirinya merasa yakin. Suatu hari nanti, Naruto pasti akan melampaui dirinya dan bahkan guru mereka, Jiraiya.
Naira mulai merebahkan tubuhnya di samping Naruto. Jarak lengannya dengan lengan Naruto hanya 2 jengkal. Ia ingin merasakan kebebasan seperti yang dirasakan Naruto. Perlahan, kelopak matanya mulai menutupi bola mata. Perlahan, Naira sudah terlelap di samping pemuda yang tanpa ia sadari mulai berharga bagi hidupnya.
.
.
.
.
.
Sinar mentari mulai terlihat di ufuk timur. Matahari terlihat malu-malu menunjukkan jati dirinya. Hawa hangat yang dihantarkan matahari mulai menyentuh kulit 2 makhluk berbeda gender yang tengah terlelap di atas lantai keramik gazebo.
Si pemuda merasakan sinar matahari menganggu matanya yang padahal ditutupi kelopak. Perlahan kelopak mata berwarna sama tan seperti kulitnya yang lain itu mulai terbuka memperlihatkan netra safir yang indah.
Naruto merasakan sesuatu menghimpit perutnya dengan pelan. Ia pun melirik dan menemukan sebuah tangan berkulit putih yang mulus. Naruto mencaritahu siapa pemilik tangan tersebut. Naruto pun menoleh ke kanan. Pemuda pirang itu tersentak saat menemukan wajah Naira berada 1 cm disampingnya. Bahkan bibir mereka hampir saja bertemu.
Naruto menyadarinya. Posisi mereka saat ini terlihat bahwa Naira menghadap ke samping dengan tangan kanan yang melingkar di atas perut Naruto seakan tengah merangkul.
Wajah Naruto mendadak memerah. Entah kenapa ia nyaman dengan posisi seperti ini. Hal ini membuat Naruto tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dengan cara beranjak dan berdiri.
"Kau menikmatinya, heh?"
Naruto terkejut lalu menoleh dengan cepat ke asal suara. Ia menemukan Jiraiya sedang duduk santai di tepian gazebo. Ia menyeringai jahil kepada Naruto sehingga wajah pemuda pirang itu semakin memerah.
"A-apa maksudmu, sensei?! Aku tidak melakukan apapun dengan Naira!" Ujar Naruto lalu bangkit dari posisinya.
Naira yang mendengar kebisingan akhirnya mulai tersadar. Kelopak matanya mulai terbuka memperlihatkan netra ungunya.
"Ugh..."
Naruto dan Jiraiya langsung menoleh ke arah perempuan satu-satunya di lokasi. Naira sudah dalam posisi duduk bersimpuh. Gadis itu mencerna suasana di sekitarnya. Ternyata ia masih berada di lokasi yang sama dengan semalam.
"Ohayou!" Sapa Jiraiya dengan cengirannya sehingga Naira menoleh ke Jiraiya dan Naruto.
"Ohayou," balas Naira lalu Naruto melambaikan tangannya sekilas agar eksistensinya disadari ketika Jiraiya telah membelakangi mereka untuk memerhatikan seseorang dari kejauhan sana.
"Ohayou, senpai!" Sapa Naruto dengan senyumnya membuat Naira merona tipis.
...Aneh.
Naira pun bangkit dari duduknya lalu meregangkan badan sehingga kaos yang dikenakannya terangkat ke atas memperlihatkan perut putih indahnya.
"Indahnya," gumam Naruto kagum lalu menggelengkan kepala dengan cepat saat Naira menatapnya dengan bingung.
"Menma?"
Naruto dan Naira mendengar sebuah nama lolos dari mulut Jiraiya. Mereka berdua mendapati Jiraiya tengah memerhatikan sesuatu.
"O-onii-sama?" Gumam Naruto saat ia dan Naira mendapati seorang pria tampan berambut hitam melangkahkan kakinya dengan santai menghampiri mereka.
Pria berambut hitam yang dimaksud Jiraiya dan Naruto adalah sosok sang kakak sepertalian darah. Ia adalah Namikaze Menma yang resmi berubah menjadi Uzumaki Menma setelah menyatakan kesetiaan terhadap ras manusia.
"Ohayou!" Sapa Menma sambil menopang tubuhnya pada pondasi.
Naruto membulatkan matanya atas kehadiran Menma. Walaupun sebenarnya Naruto sudah diberitahukan bahwa Menma juga berdomisili di Uzushio, tapi tetap saja. Naruto masih terkejut.
"Apa kabar, Jiraiya-san, Kishiki-san, otouto?"
"Kami baik. Bagaimana dengan kau, Menma?" Tanya Jiraiya sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyuman tipisnya.
"Kurang lebih keadaanku sama seperti kalian," jawab Menma lalu membalikkan badannya membelakangi Naruto dan Naira.
"Kedatanganku hanya ingin mengatakan bahwa aku akan ikut bersama kalian dalam menangkap sekelompok bandit yang berulah di desa Uzushio ini. Jaa."
Menma melangkah menjauh dari lokasi Jiraiya, Naira dan Naruto sambil melambaikan tangan. Jiraiya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang terasa gatal.
"Oh aku ingat," batin Jiraiya tersentak lalu menoleh ke Naruto.
"Hm?" Gumam Naruto saat Jiraiya menatapnya.
"Naruto, temui aku di atas bangunan tertinggi sekarang juga. Bye!"
Jiraiya langsung kabur tanpa ba-bi-bu membuat Naruto menganga bingung. Naira menepuk bahu Naruto membuat pemuda itu tersadar.
"Aku akan menemanimu ke sana. Ayo."
Naruto menganggukkan kepalanya. Mereka pun melangkahkan kaki menuju bangunan tertinggi yang ada di desa Uzushio ini.
.
.
OOOOOO
_ooO- The Beginning - Ooo_
OOOOOO
.
.
"Apa kau yakin, senpai?" Tanya Naruto memandangi menara yang merupakan bangunan tertinggi jika mereka perhatikan.
"100%"
"Baiklah."
Naruto langsung berjongkok membelakangi Naira. Naira yang menyadari niat Naruto langsung merona tipis.
"Naiklah. Aku akan membantumu."
Dengan ragu, gadis manis itu mulai menerima bantuan Naruto. Tanpa membutuhkan waktu lama, Naira sudah berada dalam gendongan Naruto. Kedua telapak tangan Naruto yang menyentuh paha putih Naira membuat kedua empunya merona.
"Ikuzo!" Seru Naruto mengambil posisi kuda-kuda sehingga teras yang ia pijaki menjadi retak. Naruto pun melompat dengan kuat.
Lompatan Naruto sangat ampuh membuat mereka sudah berada di puncak menara. Hal ini membuat Naira terkagum sekaligus terkejut. Ternyata ada kemampuan fisik seperti ini.
"Oka- maksudku Kushina-san?" Kata Naruto saat mendapati keberadaan Kushina.
Bukannya Jiraiya namun Kushina yang ada. Naruto menurunkan Naira dari gendongannya. Kushina menatap Naira seolah berpesan melalui tatapan tersebut.
Sebenarnya Naira tidak mengerti. Tapi dikarenakan situasi dan kondisi, Naira perlahan-lahan mulai mengerti. Dia pun mengangguk dan disekelilingnya muncul kubah kasat mata yang hanya dapat dilihat oleh Kushina dan Naira. Kubah tersebut adalah sihir peredam.
"Naruto."
Kushina berjalan mendekat. Naruto terdiam mematung di tempat. Beberapa waktu berlalu, Naruto membulatkan matanya saat tubuh yang hanya setinggi bahunya itu tiba-tiba saja memeluknya.
"Kushina-san?"
Naruto terkejut saat mendengar isakkan keluar dari bibir Kushina. Sedangkan Naira, ia turut terkejut melihat Kushina yang tiba-tiba saja memeluk Naruto.
"Maafkan aku, Naruto. Maafkan aku."
"Anda meminta maaf atas dasar apa, Kushina-san?"
Hati Kushina merasa tersakiti saat mendengar Naruto tidak menyebut dirinya dengan panggilan 'okaa-sama'.
Kushina pun menjelaskan apa alasan sebenarnya kenapa Kushina tidak menganggap Naruto sebagai putranya. Awalnya Naruto marah. Tapi, pola pikir yang mengambarkan kedewasaan membuat dirinya memaklumi apa yang dilakukan Kushina.
"Maafkan aku, Naruto," cicit Kushina kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang Naruto.
"Aku mengerti, okaa-sama."
Kushina membuat jarak di antara mereka. Kushina menjentikkan jarinya sehingga penghalang yang mengurung Naira menjadi hilang.
Kushina tersenyum lalu mengangkat kedua tangannya meraih rambut hitam palsu yang dikenakan putra bungsunya. Tangannya memegang rambut tersebut lalu melepaskannya dari kepala Naruto.
"Kau terlihat sangat mirip dengan Minato-kun jika seperti ini," ujar Kushina dengan senyum penyejuknya.
Naruto memperlihatkan cengirannya. Kedua ibu dan anak itu sama-sama tertawa pelan. Naira tersenyum senang dengan 2 makhluk di depannya itu.
"Oh sudah akrab ternyata. Misi berhasil!"
Naruto, Kushina, dan Naira menoleh ke asal suara dan mendapati Jiraiya tak jauh dari mereka. Jiraiya mendekat ke Naira.
"Jika kalian sudah selesai, maka aku akan menyampaikan kabar."
"Kabar apa, sensei?" Tanya Naruto penasaran.
"Menma sudah menemukan markas bandit. Sekarang ia bersembunyi tidak jauh dari markas tersebut. Kita harus segera ke sana dan akan menyerang markas saat malam hari. Kemampuan vampir akan meningkat jika di malam hari," jawab Jiraiya dibalas anggukan oleh Naruto dan Naira.
"Kerja bagus, Menma!" Batin Kushina merasa bangga.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan dalam menunggu malam hari, sensei?" Tanya Kushina penasaran.
"Menikmati kebosanan."
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
AUTHOR NOTE :
Mohon maaf lahir dan batin, ya :D
Sudah lama tidak berjumpa!
Maafkan diriku yang terlalu sibuk di duta untuk mengurusi urusan administrasi XD
Oke lupakan curcolku.
Kali ini, atau mungkin untuk arc ini, bayangkan Naruto memakai rambut warna hitam dengan panjang sepinggang. Anggaplah 'hampir' menyerupai rambut Madara. Walaupun sudah hitam, aku sendiri kelupaan dengan masih mencantumkan 'pirang' karena sudah terbiasa.
Aku harap kalian mengerti dengan membayangkan 'pirang' pada Naruto adalah warna 'hitam'.
Disini aku ingin mengatakan bahwa Naira dan Irina adalah OC milik Kazehiro Tatsuya. Mereka tidak dari Anime manapun.
Terima kasih atas Reviews, Favorites, dan Follows.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...
Silahkan tinggalkan jejak :v
.
.
.
.
.
.
.
KAZEHIRO TATSUYA
