Pertunangan sahabatnya Sasuke pun akan diadakan malam ini. Naruto saat ini sedang bingung. Naruto mundar mandir diruanganya memikirkan hal bagaimana cara nya mengajak sekretarisnya itu menemani dia ke pertunangan sahabatnya itu.

Disaat Naruto yang sedang mundar mandir itu. Suara ketukan pintu pun menggema diruangnya. Sehingga suara ketukan pintu itu membuatnya tersentak kaget dan langsung berpura pura duduk dikursinya dan fokus ke laptop kerjanya.

Tok..tok..tok..

"Eh ma-masuk"

Pintu itu perlahan terbuka dan menampakkan sesosok sekretaris yang menbuatnya bingung sedari tadi.

"Permisi Namikaze-sama" ucap Hinata berdiri diambang pintu ruangannya, lalu masuk dengan menutup perlahan pintu dan mendekat ke meja kerja Naruto.

"Oh iya Hinata. Ada apa ?" jawab Naruto dengan berpura pura masih melihat laptopnya.

"Jadwal untuk bertemu client akan segera dilaksanakan sebentar lagi Namikaze-sama" ucap Hinata dan memberikan secarik kertas berisi kontrak kerja perusahaan dengan perusahaan lain.

"Oh iya" jawab Naruto kemudian mengambil kertas itu dan membacanya.

"Aku akan segera bersiap" sambung Naruto lagi setelah melihat isi kertas tersebut.

"Kalau begitu saya permisi dulu Namikaze-sama" ucap Hinata kemudian berojigi didepan Naruto dan perlahan membelakangi Naruto untuk segera pergi dari ruangan itu. Tapi kemudian dicegah Naruto kepergian Hinata itu.

"Tu-tunggu dulu Hinata"

Langkah Hinata yang hampir diambang pintu pun terhenti dengan panggilan Naruto kepadanya. Dan membalikkan badannya lagi menghadap bossnya.

"Iya Namikaze-sama" jawab Hinata dengan kepala yang sedikit dimiringkan.

"Ehm begini..ehm..kau mau..hmm..itu..menemaniku pergi ke acara pertunangannya i?" ajak Naruto sedikit ragu takut Hinata menolak ajakannya.

Hinata tertegun dan tak bergeming mendengar ajakan Naruto. Hinata seoarang bawahannya diajak Naruto pergi ke acara pesta pertunangan. Tapi bagaimana bisa. Pikir Hinata begitu.

"Kau tidak mau ya?"

"Bu-bukan begitu Namikaze-sama sa-saya..."

"Kau harus ikut. Tidak ada penolakkan" ucapan Naruto yang memotong omongan Hinata. Dan sudah menjadi keputusan telak yang dibuat Naruto.

Memang kalau atasannya ini sudah membuat keputusan tidak bisa diganggu gugat lagi. Jadi mau tidak mau Hinata harus menurutinya.

"Ba-baik Namikaze-sama" ucap Hinata gugup.

"Bersiaplah, nanti malam aku akan menjemputmu jam 8 malam" ujar Naruto.

"I-iya Namikaze-sama. Kalau begitu saya permisi dulu" Hinata pun berojigi lalu pergi meninggalkan Naruto diruangan.

Naruto menatap kepergian Hinata dengan menyunggingkan senyumannya. Naruto sangat senang kalau Hinata menerima ajakannya pergi bersamanya.

Flasback On

Satu hari sebelum acara pertunangan Sasuke, Naruto datang kerumah sahabatnya itu. Naruto banyak berbicara tentang hubungannya yang semakin lama semakin dekat dengan sekretarisnya itu

Dan Naruto juga menceritakan tentang kejadiannya dengan Gaara itu. Sasuke pun mengerti tentang perasaan yang dilanda sahabatnya sendiri dari ceritanya.

"Aku tau bagaimana perasaanmu Dobe" ujar Sasuke yang telah mendengar semua cerita sahabatnya itu.

"Kau tau Teme?" Naruto bingung. Tau perasaan Naruto apa yang dimaksud sahabatnya ini.

"Iya. Aku tau bagaimana perasaanmu dengan sekretarismu itu"

"Maksudmu bagaimana ?" Naruto memasang wajah bingungnya melihat Sasuke.

"Kau menyukainya Dobe" ucapan frontal itu keluar dari mulut Sasuke. Dan Naruto yang mendengarkan membulatlan matanya tidak percaya. Apa mungkin ?

"Ap-apa. Ha-hahaha. Ti-tidak mungkin Teme. Aku saja tidak tau bagaimana caranya menyukai seorang gadis dan kau tau itu bukan jadi itu tidak mungkin" Naruto tertawa kikuk dan mengkilah pernyataan dari sahabatnya itu. Naruto memang merasa tidak tau cara menyukai seorang gadis.

"Kau ini payah sekali Dobe. Aku bisa tau perasaanmu dengan gadis itu. Terlebih lagi aku sudah bisa mengerti dari semua cerita yang kau katakan padaku. Dan memang kau menyukainya dengan apa yang dia lakukan denganmu yang perhatian dan mengerti tentang pekerjaanmu. Namun karena kebodohanmu kau tidak menyadarinya. Karena yang kau tau semua perempuan itu sama, mereka hanya menginginkan uangmu. Dan kau juga terlalu sibuk dengan pekerjaanmu" ucap Sasuke menjelaskan panjanga lebar mengenai argumen yang dia buat untuk menasehati sahabatnya yang tak mengerti tentang menyukai seorang gadis.

Naruto tertegun mendengar semua pernyataan yang disampaikan oleh sahabatnya. Baru kali ini Sasuke berkata panjang lebar. Yang Naruto tau Sahabatnya ini hanya akan berkata seperlunya saja. Tapi ini tidak.

Sasuke yang melihat Naruto hanya terdiam mendengar ucapannyapun mendecih lalu bangkit dari duduk.

"Cehh kau ini Dobe. Aku yakin dia gadis yang baik Dobe. Percayalah padaku. Kau pikirkan kata kata ku tadi" ucap Sasuke meninggalkan Naruto yang masih terdiam tanpa bergeming.

Naruto memandang kepergian sahabatnya itu yang meninggalkannya sendirian di ruang tamu keluarga sasuke dengan raut muka bingung dan berpikir.

Naruto berpikiran tentang kata kata yang diucapkan sahabatnya itu. Bagaikan terngiang ngiang kata kata Sasuke itu diatas kepalanya. Dan Naruto pun sudah mengerti dan bergumam sendiri di ruanganya itu.

"Kau benar Teme. Aku ini bodoh. Aku selalu berpikiran bahwa perempuan itu semua sama dan aku juga terlalu sibuk dengan pekerjaanku"

"Aku akan menyatakan perasaanku ke dia. Tapi bagaimana caranya.."

Naruto berpikir bagaimana cara menyatakan perasaanya kepada Hinata. Lalu dia teringan bahwa besok adalah hari pertunangan Sasuke dan sakura.

"Oh iya. Aku akan mengajaknya besok. Lalu disitu aku akan nyatakan perasaanku ke dia"

Tanpa Naruto sadari Sasuke mengintip Naruto yang sedang bergumam sendiri itu dengan menyunggingkan senyumannya menatap Naruto.

"Kau memang bodoh Dobe. Tapi aku tau kalau kau akan melakukannya" gumam Sasuke yang mengintip dibalik dinding pembatas ruang tamu.

Flasback Off

Saat ini Hinata sudah berada diapartemennya. Setelah bertemu dengan client terakhir tadi dengan bossnya, Hinata langsung pulang karena dia harus bersiap siap untuk pergi ke acara yang diajak oleh bossnya.

Setelah masuk ke apartemenya Hinata langsung bergwgas menuju kamarnya dan membuka lemari pakaiannya.

Hinata melihat satu persatu gaun miliknya. Dan mencocokannya didepan tubuhnya dengan gaun yang masih disangkutkan dihenger.

"Ini jelek" gumam Hinata sambil melihat pantulan dirinya yang sedang mencocokkan gaun itu didepan tubuhnya.

Karena tidak sesuai dengannya Hinata melempar sembarang gaun itu dan mencoba gaun yang lain.

"Ini juga tidak bagus"

"Ini membuatku tampak gendut"

Hampir 10 gaun yang dia punya Hinata coba satu persatu dan semuanya berakhir dengan lemparan sembarang Hinata karena merasa tidak ada yang pas untuk dia pakai.

"Huaaa, aku tidak punya gaun yang bagus. Bagaimana ini" Hinata merengek sendiri karena dia tidak punya gaun yang bagus menurutnya.

Tak lama suara bel apartemen Hinata berbunyi dan membuat Hinata terpekik. Siapa yang datang pada saat yang tidak tepat begini pikir Hinata. Hinata pun bergegas membukakan pintu bagi orang yang memencet bel apartemennya.

"Permisi nona. Apa benar ini apartemenya nona Hinata" ternyata seorang kurir barang.

Kurir barang itu membawa sebuah kotak besar dengan corak bunga bunga berwarna ungu muda dan juga dengan ikatan pita besar yang juga berwarna ungu. Hinata melihat bingung dengan kedatangan kurir itu dengan membawa sebuah kotak besar.

"Iya. Saya sendiri. Ada apa ya?"

"Ini nona. Ada kiriman untuk anda" kurir itu memberikan Hinata kotak besar cantik itu.

Hinata terkejut. Kiriman dari siapa pikir Hinata.

"Kiriman dari siapa ya ?" tanya Hinata dengan raut muka bingung.

"Maaf nona saya tidak tau. Mungkin pengirimnya sudah menaruk surat didalam kotaknya" ucap kurir itu dengan ramah.

"Oh begitu ya. Terima kasih ya"

Kemudian kurir itu pun pergi. Hinata membawa masuk kotak besar cantik itu menuju kamarnya. Yang pertama Hinata lakukan dengan kotak itu yaitu mengoncang goncangkan isi kotak itu.

"Kira kira apa ya isinya?" gumam Hinata sambil mengguncang guncang kotak itu.

Lalu Hinata pun perlahan membuka pita yang mengikat kotak tersebut. Dan membuka penutup kotak itu. Hinata membulatkan matanya saat melihat isi dari kotak itu.

Ternyata ada sebuah gaun Hitam seukuran selutut berlengan pendek berwarna hitam. Serta sepasang sepatu high heels dan tas tangan kecil yang senada dengan gaunnya.

"Waaah, ini cantik sekali" Hinata menatap binar gaun itu.

"Tapi siapa yang mengirimnya ya?" Hinata mencari cari sebuah tanda tentang siapa pengirim kotak yang berisi gaun itu.

Dan dapatlah secarik kartu berisi pesan yang menunjukkan si pengirim.

"Pakailah gaun ini. Berdandanlah yang cantik. N.Naruto" isi kartu itu ternyata pengiriman dari bossnya.

Hinata terpekik mengetahui bahwa bossnya yang mengirimi dia gaun. Lalu semburat merah pun memancar dipipi putihnya. Tanpa menunggu lagi Hinata langsung bersiap siap dengan gaun pemberian dari bossnya.

Manshion Namikaze

Saat ini Naruto sedang dikamarnya dan sedang bersiap siap untuk pergi ke acara pertunangan sahabatnya itu. Naruto merapikan setelannya dengan pantulan cahaya seukuran tubuhnya. Sesekali senyuman tampak diwajahnya.

Naruto yang sedang tersenyum senyum itu dilihat ibunya yang kebetulan melewati kamarnya yang terbuka. Ibunya menatap aneh Naruto yang tersenyum senyum sendiri.

Karena penasaran ibunya langsung menyampiri Naruto yang terlihat senang itu.

"Hey Naruto kenapa kau tersenyum senyum sendiri" ucap ibunya dengan menepuk bahu Naruto.

"Astaga Kaa chan, Kaa chan mengagetkanku" Naruto terkaget dengan kedatangan ibunya yang tadi tidak disadarinya.

"Haha, kau tersenyum senyum sendiri sampai tak menyadari ibu datang" kilah Kushina dengan cengiran.

"Ti-tidak kok. Apa apaan sih Kaa chan ini" Naruto mengkilah dengan merapikan dasi kupu kupunya.

"Hey kau mau kemana, sudah rapi begini ?" Ibunya baru menyadari bahwa Naruto sudah terlihat rapi seperti ingin pergi kesuatu tempat pikir Kushina.

"Kaa chan ini bagaimana sih. Bukankah kemarin aku sudah mengatakannya. Bahwa hari ini pertunangan Teme dan Sakura" jawab Naruto.

"Astaga. Ibu lupa. Bagaimana ini. Sepertinya ibu tidak bisa pergi, kau tau bukan ayahmu sedang sakit sekarang"

Memang ayahnya Naruto sedang sakit sekarang, maka dari itu Naruto sering pulang ke manshion agar bisa melihat keadaan ayahnya.

"Iya iya yasudah Kaa chan. Kan ada aku yang bisa mewakili kalian berdua" ujar Naruto. Dan dibalas dengan cengiran ibunya.

"Oh iya. Kau pergi dengan siapa ? Apa dengan seorang gadis ? Hmm..hmm" tanya ibunya dengan raut wajah selidik dan menggoda Naruto.

"Ka-kaa chan apa apaan sih" Naruto gugup mendengar perkataan ibunya.

"Pasti iya kan. Ayo mengaku saja. Hehe" tak henti hentinya ibunya menggoda anaknya.

"E-eh sudahlah. Aku pergi dulu Kaa chan aku sudah telat" Kilah Naruto dan membuat ibunya jengkel.

"Hey Naruto kau belum menjawab pertanyaan ibu. Kembali kemari" ujar Kushina dengan wajah garangnya.

Naruto yang sudah berjalan keluar meninggalkan ibunya kemudian balik lagi dan melihat ibunya dengan cengirannya.

"Nanti aku kenalkan dengan Kaa chan hehe. Ja ne Kaa chan" ucap Naruto kemudian mencium kening ibunya tanda pamit dia mau pergi.

Kushina menatap bingung Naruto yang begitu. Apa benar Naruto pergi dengan seorang gadis. Pikir Kushina.

Hinata sekarang sudah siap dengan dandanannya. Gaun yang diberikan Naruto tadi tampak sangat pas melekat ditubuh Hinata. Rambutnya yang indah dibiarkannya tergerai dengan menaruhnya disamping dengan sedikit dibuat ikal. Dan tak lupa make up yang terkesan Natural, juga warna lipstik pink muda di bibirnya.

Hinata tampak kembali memperhatikan penampilannya dipantulan cermin meja riasnya. Dia tersenyum melihat dirinya yang begitu cantik saat ini. Dan tak lama suara ponsel Hinata pun berdering. Dilihat yang ternyata menelepon dia yaitu bossnya.

"Moshi..moshi.."

"Aku sudah dibawah turunlah" ucap disebrang yaitu Naruto.

Hinata terkejut ternyata boss nya sudah sampai. Dilihat Hinata melalui jendela kamarnya yang mengarah keluar. Ternyata memang benar boss nya sudah sampai.

"Baik Namikaze-sama saya turun"

Hinat pun bergegas keluar dari apartemennya dan tak lupa mengkuncinya.

Naruto menunggu Hinata diluar dengan stelan tuxedo berwarna hitam dihiasi dasi kupu kupu berwarna hitam. Naruto tampak tampan dan sangat cocok sekali jika disandingkan dengan Hinata yang warna bajunya senada.

"Maaf Namikaze-sama membuat anda menunggu" ucap Hinata yang sedikit berlari menuju Naruto.

Naruto tak bergeming saat melihat penampilan Hinata sekaarang yang sangat cantik. Beda dengan hari hari biasanya. Memang diakui Naruto Hinata cantik. Tapi kali ini cantiknya beda.

Hinata menatap bingung Naruto yang sama sekali tak bergeming begitu melihatnya.

"Anda kenapa Namikaze-sama" tanya Hinata dengan memiringkan kepalanya melihat Naruto begitu.

"Kau cantik" gumam Naruto yang hampir terdengar Hinata.

"Anda mengatakan apa Namikaze-sama?" tanya Hinata yang seperti mendengar perkataan Naruto. Naruto langsung tersadar dengan ucapannya tadi.

"A-ah ti-tidak..tidak ada kok" kilah Naruto.

"Hmm Namikaze-sama. Terima kasih atas gaun yang anda berikan" ucap Hinata menunduk. Hinata sebenarnya menyembunyikan semburat merah diwajahnya. Hinata juga terpesona dengan ketampannan Naruto sekarang.

"Iya. Anggap saja itu sebagai hadiah" ujar Naruto.

"Yasudah ayo. Kita akan terlambat" ucap Naruto kemudian membukakkan pintu untuk Hinata. Hinata menjadi tersipu malu dengan perlakuan Naruto dengannya.

Lalu mereka pun pergi menuju acara pernikahan sahabat Naruto itu.

TBC