Halo
Saya update lagi nih
Chapter sebelumnya ada 6 review. Uwaaaah, saya senang sekali… :terharu:
Ah, nggak tahu mau ngomong apa lagi. Hahahaha
Here You Go
The Possessed
Chapter 7: Twins' Promise
Dalam alam sadar Roxas. Dia melihat Sora ketakutan dan dia juga mendengar suara tawa hebat namun dia tidak tahu siapa yang sedang tertawa...
'Semuanya akan mati! Mati!"
"Hentikan!"
Dalam dunia nyata, tangan Roxas yang tadi hendak membacok wajah Sora berhenti bergerak. Sora menatapnya dengan mata basah.
"Dia kakakku… jangan… sakiti dia…"
"R-Roxas…" rintih Sora.
Tubuh Roxas bergetar hebat. Dari sudut matanya meleleh butiran-butiran air mata. Tangannya bergetar sangat hebat. Pisau itu terjatuh dari genggamannya.
"Sora…" tatapan zombie-nya kembali ke semula. Dia senang melihat Sora tapi juga takut melihat Marluxia yang sudah terbunuh. "Maafkan… aku…"
"Roxas, a-apa yang…" rintih Sora lagi. Roxas ambruk ke depan, ditangkah oleh Sora. "Roxas!"
Perasaan aneh menyelubungi diri Sora. Ditatapnya wajah Roxas yang bernoda darah. Dia pasti tidak bermaksud melakukannya. Dia pasti punya alasan untuk melakukan itu. Setahunya Roxas adalah anak yang baik dan lugu. Dia tidak pernah melakukan hal buruk. Sora tahu itu dan dia tidak mau mempercayai pikiran bahwa Roxas telah membunuh Marluxia.
Sora membawa Roxas ke kamar mandi untuk membersihkan noda darah di wajah dan pakaiannya supaya tidak ada orang curiga. Dia membuang pisau itu ke tempat sampah. Saat mengusap wajah Roxas dengan air, Sora berpikir,
'Apakah, ini ulah roh jahat?' batinnya, mengusap dahi Roxas dengan banyak air, 'Roxas dirasuki lagi? Terakhir kali itu terjadi empat bulan yang lalu di gudang garam itu… kenapa bisa terjadi di sini juga? Roxas… malang sekali nasibmu… kau punya kemampuan yang tidak biasa… dan aku tahu, kau tersiksa olehnya… apakah ini ulah Ventus?'
Sora selesai membersihkan wajah Roxas. Dia kemudian mengambil air lagi untuk membersihkan pakaian Roxas. Walau masih terlihat samar-samar, noda darah itu sudah tidak mencurigakan. Roxas masih tak sadarkan diri. Sora menggendongnya di punggung lalu berdiri agak terhuyung.
'Ayo pulang.' Batinnya. Dia berjalan perlahan. Berat tubuh Roxas membuat punggungnya terasa sakit namun, Sora tidak mau meninggalkan adiknya di sekolah itu.
Hujan turun lebat. Angin kencang berhembus. Sora berjalan dalam hujan sambil menggendong Roxas. Terpaan air hujan dan angin tidak membuatnya goyah. Dia terus berusaha sampai ke rumah.
Setelah berjalan cukup jauh, Sora melihat rumahnya. 40 menit dalam guyuran hujan membuat tubuhnya menggigil hebat. Roxas juga menggigil walau tidak sadarkan diri. Sora mempercepat langkahnya setelah berada sekitar 9 meter dari rumahnya.
"Mama!" seru Sora begitu sampai di teras rumahnya. Aqua datang dan terkejut.
"Oh, Sora.. apa yang terjadi pada Roxas?" tanyanya agak histeris.
"D-dia sakit. Mana Mama?"
Aerith datang tergesa-gesa mendengar teriakan Aqua dan suara Sora.
"Sora? Roxas? A-apa yang terjadi?"
"Aku akan menjelaskannya nanti setelah Roxas mendapat perawatan."
Aerith mengangguk kemudian bersama Sora dan Aqua, membawa Roxas ke dalam. Mereka membaringkan Roxas di sofa yang ada kemudian Aerith menyeka wajahnya dengan handuk. Sora memperhatikannya dengan cemas walau dirinya masih basah kuyup.
"Kenapa bisa sampai begini?" tanya Aerith sambil menyeka lembut wajah Roxas.
"Tadi…. Kami hendak pulang tapi…" Sora berhenti sejenak. Dia berpikir. Tidak mungkin dia bilang pada ibunya bahwa Roxas baru saja membunuh salah satu guru sekolah. Dia memutar otaknya. Dia ingin berbohong.
"Tapi apa, Sora?" pertanyaan Aerith membuat Sora berhenti berpikir.
"Dia tiba-tiba pingsan.. sepertinya dia sangat kelelahan."
"Karena kejadian tadi pagi. Aku rasa begitu." Sambung Aerith. Wajahnya yang tadi berkesan sangat cemas, berubah menjadi tenang. Sora menggigit bibir bawahnya.
"Ya, aku rasa juga begitu."
Setelah itu, Aerith menelpon Cloud dengan mengatakan bahwa hal tidak diinginkan terjadi. Dengan segera, Cloud bergegas pulang. Aerith sudah memandikan Roxas, membaringkannya di tempat tidurnya dan menungguinya hingga Cloud datang. Sora juga ikut menunggui Roxas karena dia merasa bertanggung jawab atas segala yang terjadi pada adik kembarnya. Dia sangat khawatir dan kenyataan yang dia lihat tadi, membuatnya menjadi semakin khawatir.
Cloud datang, memeriksa Roxas yang dia diagnosa baik-baik saja. Kemudian para dewasa turun ke bawah dan Sora sendirian menjaga Roxas.
"Roxas," dia menatap lekat wajah adiknya. "kenapa bisa begini?" tangannya bergerak ke dahi Roxas, menyingkirkan rambut yang menutupi sedikit matanya. Roxas menggeliat sedikit.
"Sadarlah, Roxas…" kata Sora, membelai wajah Roxas. Roxas kembali menggeliat. Dia merintih pelan, kemudian membuka kedua matanya. Bola mata biru sapphire itu menatap bola sapphire Sora. Begitu banyak kesedihan tersirat padanya.
"Roxas?" seru Sora, kurang percaya.
"Sora…" Roxas cepat-cepat bangkit untuk memeluk Sora. Sora menerima pelukan itu, mengusap punggung Roxas. "A-aku…"
"Syukurlah kau sudah sadar, Roxas."
Roxas melepas pelukannya, menatap Sora lekat-lekat. "Aku tadi… aku sangat takut.."
"Sudah tidak apa-apa sekarang." Balas Sora, membelai rambut Roxas yang masih agak basah. Dia tersenyum. Manis sekali. "Aku akan memberitahu Mama dan Papa bahwa kau sudah siuman, ya?" Sora baru saja hendak pergi ke pintu namun, Roxas meraih tangannya.
"Tunggu…" bisik Roxas. Sora berbalik. Dia melihat ketakutan dan kesedihan luar biasa dalam mata Roxas. Bibirnya bergeming, tubuhnya bergetar. Sora kembali pada posisinya saat menjaga Roxas.
"Ada apa?" tanyanya heran.
"Aku…" Roxas menunduk lesu, "K-kau melihat… apa yang sudah kulakukan, kan?"
DEG
Jantung Sora berdegup keras. Dia menelan ludah, agak terkejut. Ternyata Roxas sadar saat dia membunuh Marluxia. Apakah dia melakukannya bukan karena ada pada pengaruh roh jahat? Atau dia melihat roh jahat itu mengendalikan tubuhnya juga? Sora tidak mengerti.
"L-lihat apa?" Sora berbohong. Roxas menenggadah padanya.
"Jangan bohong. Tadi, aku hampir membunuhmu…" dia kembali menunduk, "Maafkan aku…"
Sora merasa agak lega setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulut Roxas. Dia tahu bahwa Roxas adalah anak yang baik. Hal semacam itu, tidak mungkin dilakukannya dengan sadar.
"Maafkan aku, Sora.. jangan beritahu Mama dan Papa, ya?" ucap Roxas lagi. Sora memberinya tatapan ramah dan hangat.
"Ya, tidak apa-apa. Aku akan merahasiakan ini dari siapapun. Hanya kau dan aku." Sahutnya lembut ditambah sebuah senyum hangat. Sora bangkit, mata Roxas tak bisa lepas darinya untuk suatu alasan.
"Kau mau kemana?"
"Aku akan beritahu Mama dan Papa bahwa kau sudah siuman." Dia melangkah menjauh namun, sekali lagi Roxas menangkap tangan kiri Sora.
"Tunggu… ada yang ingin kubicarakan lagi.."
Sora berbalik dan kembali duduk. "Ada apa lagi?"
"Tadi… saat kita melewati hutan itu.. aku melihat… Ventus."
Sora terkejut lagi. Kepalanya serasa baru saja dipukul dengan palu yang amat besar. Jantungnya kembali berdegup kencang.
"V-Ventus?"
"Iya. Aku melihatnya berdiri di depan sebuah pohon besar."
Sora hanya mengangguk dan mendengarkan Roxas karena kenyataan bahwa dia tidak melihat apapun di hutan itu selain aura aneh yang bergejolak. Mungkin, dia pikir, aura aneh itu berasal dari Ventus yang merupakan… hantu..
"Lalu?" ucap Sora pelan. Roxas mengusap lengannya dengan telapak tangannya. Dia kembali menggigil.
"Padahal, dia tidak masuk sekolah…."
"Tidak masuk sekolah?"
"Iya. Waktu aku mau menanyainya kenapa tidak sekolah, tiba-tiba saja semuanya jadi gelap dan… aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku merasakan perasaan yang sangat aneh. Aku takut.. sedih. Kegelapan itu bagaikan mewakili perasaan seseorang…"
"Roxas," bisik Sora. Dia menatap Roxas iba sedangkan Roxas mulai sesenggukan.
"Perasaan itu.. kegelapan itu… semuanya… menakutkan… mengerikan… aku takut.. takut.. sangat takut…" dia beralih pada Sora. "Sora, apa kau merasakannya?"
Mata Sora terbuka lebar, "A-Aku.."
"Oh," Roxas menghembuskan nafas seolah sudah tahu jawaban Sora. "hanya aku yang bisa merasakannya, ya?"
"…." Sora kehabisan akal. Dia tercegang.
"Sora, apapun yang terjadi," Roxas mempertajam pandangannya pada Sora, membuat Sora agak takut. "jangan tinggalkan aku sendiri…"
Sora terkejut di tempat dan tanpa sadar, kedua tangannya meraih bahu Roxas, memeluknya lekat.
"Tidak akan."
Roxas diam, meresapi kehangatan dari Sora.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu." Suaranya dalam dan serius. Sora merasa seperti orang dewasa sekarang.
"Janji?"
"Aku janji." Jawab Sora, membuat Roxas merasakan kenyamanan dan kehangatan yang lebih besar. Dia tersenyum manis begitu pula dengan Sora. Sora melepas pelukannya, menatap Roxas.
"Terima kasih, Sora. Kau kakak yang baik."
Wajah Sora bergerak ke depan. Bibirnya menempel di dahi Roxas. Terasa dingin di bibir Sora dan basah. Roxas agak terkejut mengetahui kakaknya mencium keningnya namun, tiba-tiba dia merasakan kehangatan lagi. Dia memejamkan mata dan merasakan lebih banyak kehangatan. Rasa sayang pada adiknya sangatlah besar dan dia tidak mau melihat Roxas ketakutan apalagi terluka.
Sora melepaskan bibirnya, "Aku akan beritahu Mama dan Papa sekarang."
Roxas mengangguk.
TBC
What?
It's not sho-ai. Just brotherly love. I love brotherly love~
Yah, begitulah.
Review, ya?
Lots of love
CFS
