[A Secret Splendor ― Sandra Brown]
DON'T LIKE! DON'T READ!
pichaa794 present
remake novel HunHan ver
A Secret Splendor
Chapter 7
.
.
Rupanya Sehun ingin diyakinkan. Luhan tahu itu. Ia begitu gelisah dan tegang saat mereka meninggalkan pantai dan kembali ke suite mereka. Ia tidak bisa berdiri diam. Sementara Luhan membilas pasir dari tubuh Minguk, Sehun terus melangkah mondar-mandir di dalam kamar mandi.
"Aku tidak yakin aku sudah siap."
"Mungkin memang belum."
Kalau Sehun mencoba membesarkan hatinya, Sehun hanya akan bersikeras mempertahankan pendapatnya sendiri serta menyanggah setiap usulan positif yang akan diajukannya. Nanti kalau ternyata ia kalah, ia akan menyalahkan Luhan karena telah mendorongnya bermain.
"Di pihak lain," ujar Sehun, menyanggah pendapatnya sendiri, "aku tidak akan pernah tahu, sampai aku mulai bermain lagi."
"Betul."
"Tapi... masa besok! Kenapa tidak minggu depan?"
"Sayang, memang. Kau akan punya waktu sepanjang minggu untuk memikirkannya."
Sehun tidak betul-betul menyimak rupanya, karena kalau tidak tentu ia sudah menangkap nada sinis ucapan Luhan. Ia berjalan sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke mulutnya. Alisnya mengerut.
"Tapi kalau aku punya waktu seminggu untuk memikirkannya, bisa-bisa aku malah menarik diri."
"Mungkin," sahut Luhan, sambil menyembunyikan senyumnya.
"Ya, mungkin."
Ia membuntuti Luhan, yang menggendong Minguk masuk ke dalam kamar tidur untuk dipakaikan baju.
"Sebaiknya aku menelepon Junmyeon. Ia sudah mengejarku selama beberapa bulan supaya aku mulai main, bahkan dalam turnamen-turnamen yang tidak berarti. Tapi aku khawatir ia akan menganggap bahwa pertandingan ekshibisi ini bukan suatu ide yang bagus."
"Ya, mungkin saja."
"Tapi sebaiknya aku bicara dengannya,"
Ujar Sehun sambil melangkah menuju pesawat telepon.
Sang manajer ternyata antusias sekali dan menyatakan bahwa ia akan mencoba mencari pesawat dari Los Angeles, supaya ia dapat sampai di tempat Sehun bertanding esoknya.
"Kenapa harus si RapMonster?"
Sehun sudah memesan masakan daging iga yang lezat, tapi belum disentuhnya sama sekali. Luhan memesan sesuatu untuk dirinya dan Minguk ketika ia menyadari bahwa Sehun sedang terlalu sibuk untuk melakukannya.
"Terakhir kali aku bermain dengan dia, ia menertawakanku. Si brengsek itu berpaling ke arah penonton, sambil membentangkan lengannya lebar-lebar seakan ia tidak berdaya, kemudian ia tertawa."
Jika ia memang menghendaki simpati, ia harus mencarinya di tempat lain. Sedangkan hal terakhir yang ia butuhkan adalah diberi hati.
Ujarnya sambil menusukkan garpunya pada sepotong daging, untuk kemudian diayun-ayunkannya di muka Luhan seakan untuk menegaskan maksudnya.
Matanya bersinar sengit. Tapi ketika ia melihat senyum Luhan, ekspresi di wajahnya melembut, dan ia menurunkan garpunya ke atas piringnya.
"Jam berapa temanmu akan menelepon?" tanya Luhan dalam suara pelan.
"Jam delapan."
"Kalau begitu sebaiknya kita kembali ke kamar."
Luhan membersihkan mulut Minguk dari sisa pure kentang. Mereka makan lebih awal untuk menyesuaikan diri dengan jam tidur Minguk.
Begitu mereka berada kembali di kamar masing-masing, Minguk sudah capek dan siap untuk naik ke atas tempat tidur.
Sehun masih terus sibuk dengan dilemanya, bahkan saat ia membantu Luhan untuk mempersiapkan Minguk. Telepon berdering saat mereka kembali ke ruang duduk setelah mematikan lampu kamar tidur Minguk.
Sehun terkejut ketika mendengar dering telepon.
Sesaat, sebelum dengan langkah-langkah mantap melintasi ruangan itu untuk menjawabnya, ia hanya berdiri sambil memandangi telpon.
"Halo," serunya. "Oh, halo, Mrs. Laani."
Luhan melihat pundak Sehun lebih santai. "Bagus sekali. Kami betul-betul kehilangan Anda, meskipun Luhan bisa mengontrol Minguk dengan cukup baik."
Ia menoleh melalui pundaknya kemudian mengedipkan mata.
"Oke, kalau Anda yakin bahwa Anda sudah kuat. Anda tidak perlu buru-buru hanya demi kami...Tidak, baiklah. Sebenarnya aku akan main dalam suatu pertandingan besok, jadi akan lebih mudah kalau ada yang mengawasi Minguk... Oke... Beristirahatlah malam ini dan sampai ketemu besok."
Ia menutup pesawatnya. "Mrs. Laani bilang bahwa ia bisa kembali besok. Ia akan kemari pagi-pagi untuk mengajak Minguk pergi berbelanja. Adiknya yang akan mengantar mereka."
Luhan merasa sedikit kecewa. Sebetulnya ia ingin ikut belanja. Memilih pakaian untuk anaknya, yang belum pernah dapat ia lakukan sebelumnya, pasti akan sangat menyenangkan baginya.
"Aku mau bilang selamat malam, Sehun."
Sehun berhenti melangkah, kemudian menatapnya dengan bengong.
"Sekarang? Kan belum..."
"Aku tahu, tapi kau butuh waktu untuk berpikir. Sendirian."
Sehun mendekat lalu melingkarkan lengannya di pinggang Luhan.
"Ulahku seperti orang gila sejak bertemu GD tadi siang. Maaf. Bukan maksudku untuk menelantarkanmu. Kau tidak marah, kan?"
"Tentu saja tidak! Ayolah. Kau sedang mencoba membuat suatu keputusan yang penting. Kegalauanmu bisa dimaafkan."
"Tapi aku tidak ingin kau merasa tersisih," bisiknya, sambil mengendus leher Luhan. "Aku butuh saran dan dukungan darimu. Tinggallah bersamaku."
"Tidak. Tidak ada seorang pun yang dapat membantumu dalam mengambil keputusan ini."
Luhan betul-betul berpengalaman dalam mengambil keputusan-keputusan vital. Saat ia kebingungan memutuskan apakah ia akan berpartisipasi dalam rencana Jonghyun atau tidak, merupakan salah satu malam yang paling meresahkan dan sepi dalam kehidupannya.
Ia harus bertanggung jawab sendiri untuk keputusannya. Tak seorang pun dapat mengambil keputusan itu baginya. Dan kali ini ia harus memberikan kesempatan kepada Sehun untuk berdiri sendiri, atau ia tidak akan pernah dapat bangkit lagi.
"Apa yang harus kulakukan?"
Tanya Sehun sambil membenamkan wajahnya di dalam rambut Luhan.
Luhan menarik dirinya. "Kau mau main tenis secara profesional lagi?"
"Ya, sampai aku bisa beristirahat setelah meraih peringkat paling atas dan bukan karena sudah tidak mampu lagi. Aku ingin mengakhiri karierku kelak dengan cara yang terhormat, bukan sebagai bulan-bulanan"
"Kalau begitu ku rasa kau tahu apa yang harus kau lakukan."
"Aku harus main." Seulas senyum lebar membayang di wajahnya. "Aku akan main."
Telepon berdering lagi, dan kali ini tidak perlu diragukan lagi siapa si penelepon itu.
"Selamat malam,"
Ujar Luhan, sambil menyelinap ke dalam kamar tidurnya dan menutup pintu di belakangnya.
Ia tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Sehun, namun ia dapat menangkap nada antusias dalam suaranya. Ia tersenyum saat ia meraih notes dan penanya dan mulai membuat catatan-catatannya untuk sebuah artikel yang akan dikirimkannya ke The Los Angeles Times, mengenai resep-resep sederhana daerah Polynesia.
l..l
l..l
l..l
Ketika ia bangun, tempat tidur Minguk sudah kosong. Ia duduk tegak, mengerjapkan matanya dengan cepat, sambil mencoba mengorientasi diri di dalam ruangan yang baginya terasa asing.
Ia melemparkan selimutnya, kemudian menghampiri jendela untuk mengintip keluar melalui celah gordennya. Matahari baru akan terbit, dan permukaan laut yang tenang sedang merefleksikan nuansa langit yang berwarna merah muda keunguan.
Pintu kamar tidurnya dalam keadaan terbuka. Dengan berjingkat ia melintasi ruangan duduk menuju ke pintu kamar yang satu, terbuka. Ia melongokkan kepalanya ke dalam ruangan yang bernuansa merah muda.
Tidak seperti kamar tidur yang ditempatinya bersama Minguk, yang ini tidak memiliki dua buah tempat tidur melainkan hanya satu yang besar. Minguk sedang meringkuk di samping ayahnya. Dua-duanya sedang tidur nyenyak sekali.
Didorong oleh sesuatu yang lebih kuat daripada akal sehat dan prinsip-prinsip moral, Luhan masuk lebih dalam ke ruangan itu. Minguk tidur di sisi lain dari tempat tidur besar itu. Ia berada di dalam pelukan ayahnya dan mendengkur pelan melalui bibirnya yang sedikit terbuka.
Lengan Sehun tersampir di atas tubuh anaknya.
Tangan yang ramping dengan jari-jarinya yang panjang dan terawat rapi. Cahaya pagi yang lembut memantulkan nuansa keemasan bulu-bulu halus yang menutupi permukaan lengannya. Bahkan dalam keadaan santai, lengan itu kelihatan kuat dan mampu mengerahkan tenaga yang luar biasa.
Mata Luhan berkaca-kaca menahan emosi saat menelusuri lengan itu menuju pundaknya yang lebar. Laki-laki itu sedang membelakanginya, tapi ia betul-betul menikmati keindahan permukaan punggungnya. Suatu bentangan mulus dengan kontur otot-otot yang membuat dirinya ingin menyentuh dengan ujung jari-jarinya.
Tulang punggungnya meliuk ke arah bawah. Luhan menyusuri dengan pandangannya sampai ke lembah batas pinggangnya. Ia hanya dapat melihat bayangan bokongnya di balik selimutnya.
Rambutnya tampak berantakan di atas sarung bantal berwarna kuning mentega. Luhan mengitari tempat tidur itu untuk mengamati wajahnya, untuk mengagumi bentuk hidungnya yang cukup panjang, mulutnya yang menyingkapkan pembawaannya yang sensual, dan dagunya yang mengekspresikan otoritasnya sebagai seorang laki-laki. Bulu matanya lebat dan lentik, dengan nuansa yang lebih gelap di bagian pangkalnya. Wajah yang membuat seorang wanita duduk lebih tegak untuk memandang dirinya, baik ia mengenalinya atau tidak.
Setiap kali mereka pergi keluar, Luhan selalu merasakan tatapan iri wanita-wanita lain. Luhan tahu bahwa kebanyakan di antara mereka akan mengira bahwa ia, Sehun, dan Minguk merupakan sebuah keluarga. Secara biologis, mereka memang sebuah keluarga. Tapi kenyataannya...
Begitu ingat kembali bahwa ia telah begitu saja masuk ke kamar itu, pelan-pelan ia memutar tubuhnya. Ia baru mengambil dua langkah ketika tiba-tiba ia merasakan tarikan pada gaun tidurnya yang menjuntai sampai ke lantai.
Dengan panik ia berpaling, dan melihat bahwa Sehun sudah bangun, dan menggulirkan tubuhnya ke tepi tempat tidur dan mencengkeram bagian bawah gaun tidurnya.
Ia masih belum benar-benar bangun dan gerakannya amat pelan saat ia memilin ujung gaun itu di seputar tangannya, dan dengan demikian semakin memperpendek jarak di antara mereka.
Luhan merasakan lututnya menyentuh matras tempat tidur. Cengkeramannya membuat Luhan tidak berdaya untuk melepaskan diri, apalagi tatapan matanya selagi ia menyingkapkan secara perlahan selimut yang menutupi tubuhnya.
Irama napas Luhan menjadi lebih cepat. Suara degup jantungnya yang keras dan tidak teratur terdengar bergemuruh di telinganya. Ia merasa seperti terperangkap, meskipun sesuatu mulai membara di dalam dirinya.
Dalam satu gerakan sigap, Sehun bergulir ke dalam posisi duduk di tepi tempat tidur itu, tanpa merisaukan tubuhnya yang telanjang. Matanya masih tertuju pada Luhan, dan mereka sama-sama saling menatap.
Ia menempatkan Luhan di antara lututnya yang terbuka. Paha mereka saling menyentuh. Dan akhirnya, mengikuti dorongan hati yang timbul sejak mereka bertemu untuk pertama kali, Luhan menaikkan tangannya untuk membiarkan jari-jarinya menelusuri rambut Sehun yang acak-acakan bekas tidur. Sehun membiarkannya melakukan itu untuk sesaat, sebelum ia meraih tangan Luhan untuk dibawa ke bibirnya.
Kecupan pada awalnya ringan-ringan saja, bak usapan lembut yang membelai permukaan telapak tangan Luhan. Kemudian Sehun menciumi ujung jari Luhan, pergelangan tangannya, hingga suatu perasaan hangat mulai menjalari lengannya yang terus merambat ke arah buah dadanya.
Melalui bahan renda halus gaun tidurnya, dengan hati-hati Sehun menyentuh tubuh Luhan. Suatu gelenyar melanda diri Luhan. Lututnya bergetar, sementara tangannya sudah sedari tadi sampai di pundak Sehun. Kini Sehun mencengkeram rambut Luhan, sementara tangan yang lain mulai membelai-belai tubuh Luhan.
Dalam sekali angkat, Luhan digendong melintasi ruangan duduk menuju ke kamar tidur yang lain. Dan Luhan tahu ke mana arah permainan mereka kini. Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak dapat membiarkan hal itu sampai terjadi.
Ia mendambakan kebersamaannya dengan Sehun. Ia merindukannya untuk mengisi kekosongan yang selama ini menderanya. Namun waktunya masih belum tepat. Kalau mereka bercinta sekarang, akibatnya tidak baik untuk mereka berdua.
Sehun, yang tidak menyadari keraguannya, sudah ingin mencumbunya kembali. Insting Luhan menghendaki ia meleburkan dirinya dalam kenikmatan itu, namun akal sehatnya menolak.
Ada begitu banyak alasan baginya untuk tidak membiarkan hal itu terjadi sekarang.
Bagaimana kalau ia sampai teringat kepada Yoona? Kalau bercinta dengan Luhan ternyata tidak sebaik bercinta dengan istrinya, apakah ia tidak hanya akan merasa jijik padanya setelah itu?
Dan kelak, bila tiba saatnya baginya untuk mengungkapkan siapa dirinya, ia tidak akan percaya bahwa semua itu dilakukannya bukan hanya sekadar untuk dapat bertemu dengan anaknya. Tidak, Luhan merasa yakin bahwa ia tidak dapat bercinta dengannya Sebelum segala sesuatu mengenai dirinya diketahui Sehun.
Sekali ia bercinta dengan Sehun, lalu bagaimana? Katakanlah bahwa Sehun menang sore itu setelah bercinta dengannya. Sehun akan berterima kasih padanya untuk membantunya memulihkan rasa percaya dirinya kemudian mengucapkan selamat berpisah. Atau kalau ia kalah, mungkin ia akan menyalahkan dirinya. Apa pun jadinya, Luhan toh akan kehilangan dirinya. Dan ia akan kehilangan Minguk.
Tidak. Tidak. Ia tidak dapat mempertaruhkan semua itu, meskipun ia amat mendambakan Sehun.
"Cantik,"
Gumam Sehun di dekat lehernya saat melepaskan tali bahu gaun tidur Luhan.
"Aku sedang memimpikan dirimu, dan begitu terbangun aku mendambakan dirimu. Aku melihat kau mendekatkan tubuhmu ke arahku, mengamatiku selagi aku tidur. Oh, Luhan..."
"Sehun... j-jangan..."
Luhan mencoba menahannya dengan mendorong pundak Sehun dengan tangannya. Tapi percuma.
"Manisnya," desah Sehun, sambil mencoba menurunkan gaun tidurnya. "Aku tahu kau cantik. Biarkan aku mengagumimu."
"Sudah!"
Jerit Luhan sambil mengentakkan dirinya dari pelukan Sehun. Dengan tangan gemetar ia mencoba untuk memasang tali bahu gaun tidurnya kembali.
"Sudah,"
Ulangnya dengan lebih lembut, sambil menatap Sehun dengan pandangan waswas.
Dari cara berdirinya yang agak sempoyongan dan matanya yang berbinar-binar ia tahu bahwa Sehun belum menangkap pesan yang ingin disampaikannya.
"Sudah? Apa maksudmu?"
Luhan membasahi bibirnya kemudian meremas tangannya di muka dadanya. Ia sudah pernah menolaknya sekali, dan akhirnya betul-betul kurang menyenangkan.
"S-sebaiknya kita... k-kau... sebelum pertandingan itu. Aku dengar kurang baik untuk para atlet...ehm, kau tahu kan... sebelum..."
Sehun tertawa kemudian mendekat. Jarinya mengusap lekuk pipi Luhan.
"Kalau memang begitu, tentunya tidak akan ada begitu banyak atlet lagi. Luhan..."
"Sudah Sehun, kumohon,"
Ujar Luhan, sambil berusaha menampik tangan yang diletakkan Sehun di atas pinggulnya.
"Ada apa denganmu?"
Untuk pertama kali Luhan mendengar suaranya meninggi. Nadanya kecewa.
"Jangan bilang padaku bahwa kau sedang tidak mau." Wajah Luhan memerah. "Untuk apa kau menyelinap ke dalam kamar tidurku kalau kau tidak sedang ingin bercinta denganku?"
Luhan merasa tidak dapat menerima cara arogan Sehun mengangkat dagunya dan nada sok otoriter suaranya.
"Aku mau memeriksa Minguk. Aku khawatir ketika aku terbangun tadi tidak melihatnya di tempat tidurnya."
"Kau tahu bahwa ia dapat turun sendiri dari tempat tidurnya. Selain itu, kau cukup melongok, dan kau akan tahu bahwa ia sedang tidur bersamaku. Kau tidak perlu berdiri di sisi tempat tidurku selama lima menit untuk memastikan bahwa Minguk ada bersamaku."
"K-kau... a-aku...", sahut Luhan terbata-bata.
"Ya. Akui saja. Percayalah, kalau aku menemukan kau dalam keadaan telanjang di tempat tidur, reaksiku juga akan begitu. Kukira kita tidak perlu menyembunyikan fakta bahwa kita saling tertarik secara seksual. Jadi apa masalahnya?"
"Aku sudah bilang padamu. Rasanya bukan ide yang baik untuk melakukannya kalau kau akan menghadapi pertandingan hari ini."
"Kenapa? Kau khawatir untuk mengikat dirimu sebelum kau dapat memastikan apakah kau akan tidur dengan seorang juara atau seorang pecundang?"
Rasa marah yang melanda dirinya membuat rambut di kuduk Luhann berdiri. Dengan keras telapak tangannya melayang ke pipi Sehun.
Suasana hening mencekam meliputi seluruh ruangan itu, sampai akhirnya ia berhasil menguasai dirinya untuk berkata,
"Kau tidak adil padaku, Sehun. Kejam, egois."
"Yah, tapi kau sendiri juga tidak bermain dengan adil, Nona Xi," desis Sehun. "Muncul seperti dewi cinta sebentar, lalu tahu-tahu berubah wujud menjadi perawan sok suci—sampai dua kali."
Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan marah.
"Oke, jadi kau rupanya tidak menikmati permainan ini, sama sepertiku."
"Rupanya cuma begitu kau memandang ini semua. Sebuah permainan saja. Apa sebetulnya yang kau pertaruhkan untuk semua ini?"
Ia sudah begitu mendekati zona yang berbahaya itu, sehingga Luhan tiba-tiba panik. Ia ketakutan menatap Sehun, seakan entah dengan cara bagaimana tahu-tahu segalanya akan terbongkar.
Baru setelah beberapa lama ia menyadari bahwa suara yang terdengar menggema ke seluruh ruangan itu berasal dari pintu dan bukan suara deburan jantungnya.
Sehun memutar tubuhnya, merenggut sebuah handuk dari rak kamar mandi untuk ia lilitkan di pinggangnya sebelum pergi membuka pintu. Ternyata Mrs. Laani.
Luhan segera masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya sebelum si pengasuh sempat melihat dirinya. Dalam waktu lima menit ia berhasil mengumpulkan semua miliknya yang ada di dalam kamar Minguk.
Mrs. Laani sedang sendirian di ruang duduk menonton televisi menunggu Minguk bangun. Luhan dapat mendengar suara air mengalir di kamar mandi Sehun.
"Aku senang Anda sudah merasa lebih enak,"
Tegur Luhan, sambil tersenyum kaku saat melangkah menuju ke pintu. Mrs. Laani biasanya ramah dan suka ngobrol, tapi Luhan tidak merasa yakin bahwa ia ingin berbasa-basi dengannya pagi itu.
"Tolong sampaikan pada Sehun, aku berharap bahwa ia akan sukses dalam pertandingan nanti."
"Tapi Nona Xi, ia..."
"Sampai nanti."
Luhan segera menyelinap ke dalam kamarnya sendiri untuk mengamankan diri. Cepat-cepat ia mandi dan mengenakan gaun santainya, meraih topi jerami dan kacamata gelapnya, kemudian menghilang dalam waktu kurang dari lima belas menit.
l..l
l..l
l..l
Sepanjang pagi ia menghabiskan energinya untuk artikel yang sedang ia siapkan, dengan mewawancara para ahli masak dari berbagai restoran terkemuka. Sementara itu berkali-kali ia melihat arlojinya.
Apa yang dikatakan Sehun memang benar. Apa yang ia lakukan tadi pagi memang tidak adil. Tidak seharusnya ia membuat Sehun begitu marah sebelum menghadapi pertandingannya itu. Yang tidak diketahui laki-laki itu sejauh ini adalah bahwa ia telah berlaku tidak adil padanya sejak awal.
Setelah pertemuan mereka yang pertama. Seharusnya ia jujur padanya, dengan mengungkapkan siapa ia sebenarnya. Yang malah ia lakukan adalah membiarkan dirinya memasuki kehidupan Sehun, kehidupan pribadi dan kehidupan profesionalnya. Padahal ia tidak berhak untuk itu.
Tapi ia telah begitu terlibat dengan Sehun. Dan itu merupakan faktor yang betul-betul berada di luar perhitungannya.
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? tanyanya pada dirinya.
Ia berhenti di sebuah kafe untuk beristirahat, dan memesan roti yang diisi dengan salad telur, yang pada akhirnya tidak ia sentuh sama sekali, dan segelas es teh, yang kemudian menjadi hambar oleh larutan es batunya.
Ia tidak memiliki pilihan lain selain pergi. Dengan meninggalkan Sehun. Dengan meninggalkan anaknya. Buat apa sebetulnya ia tinggal?
Sehun ingin menidurinya namun ia masih mencintai istrinya. Luhan tidak dapat menerima itu. Sudah bertahun-tahun ia tinggal bersama seorang lelaki yang tidak mencintai dirinya. Kalaupun ia akan tinggal dengan seorang lelaki lain, maka ia akan memastikan bahwa dasarnya adalah bukan keterlibatan sepihak. Pokoknya ia sudah kapok.
Minguk adalah seorang bocah yang lincah dan sehat, yang tumbuh dengan penuh kasih sayang dan dapat menemukan sosok seorang ibu di dalam Mrs. Laani. Sehun seorang ayah yang baik untuk putranya. Kehadiran Luhan hanya akan menjadi duri dalam kehidupan mereka.
Pokoknya mereka tidak cocok.
Luhan meninggalkan kafe itu dengan hati bulat. Ia akan kembali ke Maui. Tinggal menyelesaikan sebuah artikel lagi, ia bisa pulang ke California dalam waktu seminggu. Ia melirik arlojinya, kemudian memanggil taksi. Masih ada satu hal lagi yang harus ia lakukan.
"Waialee Country Club," ujarnya cepat sambil masuk ke dalam taksi.
l..l
l..l
l..l
Semua terdiam. Semua menahan napas. Suasana tegang dan mencekam terasa semakin memuncak. Matahari bersinar terik, namun tak seorang pun sepertinya memperhatikan. Konsentrasi mereka yang hadir tertuju ke lapangan tenis.
Kedua pemain itu tidak memedulikan panas, pakaian yang basah oleh keringat, maupun kerumunan penonton. Mereka hanya mengonsentrasikan diri pada pertandingan itu. Mereka berada di babak ketiga, yang juga merupakan babak terakhir setelah masing-masing memenangkan satu set.
Kedudukan saat itu adalah lima-empat untuk RapMonster. Sekarang gilirannya. Kalau ia berhasil, ia akan keluar sebagai pemenang.
Sehun memasuki arena pertandingan dengan sambutan meriah dari penonton. Ketampanannya yang bergaya Latin diaksen sebuah senyuman lebar dan menarik.
Ia berdiri di atas, ujung jarinya kemudian memukul bola pertamanya. Bola itu mendesing balik. Suatu pertandingan seru menyusul. Ia menghajar bola itu ke pojok belakang lawannya dan mendapat angka.
"Lima belas-kosong," seru wasit.
Luhan menelan ludah sambil mengeringkan tangannya pada gaun santainya. Keringatnya mengalir turun ke sekujur tubuhnya, meskipun hanya sebagian yang disebabkan panasnya cuaca, selebihnya bisa dikatakan karena ia sedang tegang.
Begitu turun dari taksi, ia disambut GD yang dikirim Sehun untuk mengantarnya ke tempat duduk yang sudah disediakan.
flashback on...
"Ia sedang bersama manajernya," ungkap GD antusias padanya, tanpa ditanya.
"Ia persis seperti dulu. Tenang tapi siap. Itu pertanda bagus. Setidaknya, ia ingin memastikan bahwa kau duduk di sini. Kalau kau butuh sesuatu, mintalah pada salah seorang petugas untuk memanggilku."
flashback off...
Sehun kembali memasuki lapangan dengan penampilan yang betul-betul keren dalam setelan tenis putih yang ditempeli logo perlengkapan olahraga terkenal di saku dada dan celana pendeknya. Bandananya, yang menjadi ciri khas dirinya, melilit di kepalanya.
Para pencinta tenis itu rupanya tidak begitu terkesan oleh kehadirannya. Ia disambut dengan tepukan basa-basi.
Apakah ini hanya akan menjadi salah satu ajang pembantaian lagi bagi Sehun?
Sehun rupanya tidak terpengaruh oleh sambutan yang kurang antusias itu. Ia melayangkan matanya ke arah penonton sampai ia melihat Luhan. Ia mengangguk dengan tenang. Setelah itu ia tidak menoleh lagi ke arahnya.
Sehun memperoleh angka berikutnya, dan Luhan menutup matanya. Tinggal dua lagi, Sehun, lalu kau menang. Dua lagi. RapMonster membuatnya tidak berkutik pada pukulan serve berikutnya.
"Tiga puluh-lima belas."
RMonster menjadi terlalu percaya diri. Ia sama sekali tidak memperhitungkan bahwa Sehun akan menggunakan pukulan backhand-nya yang mematikan. Ia melompat, tapi bolanya melesat ke arah yang berlawanan.
"Tiga puluh, seri."
Para penonton menjadi resah dan mulai bertepuk tangan. Luhan mendengar seruan-seruan bernada mendukung ditujukan pada Sehun. Hati Luhan berbunga. Permainannya betul-betul spektakuler sepanjang pertandingan itu. Andai kata kalah sekalipun, ia toh telah bermain dengan baik.
RMonster memenangkan angka berikutnya.
"Empat puluh-tiga puluh. Match point."
Suatu rangkaian baku hantam yang melelahkan menghasilkan sebuah angka lagi bagi Sehun. RMonster mengumpat sengit dalam bahasa Spanyol.
"Deuce."
Buku-buku jari Luhan sudah putih sama sekali. Bibir bawahnya lecet gara-gara giginya. Pukulan serve RMonster melesat nyaris tak tampak. Luhan bersyukur kepada Tuhan ketika Sehun menyambutnya dengan manis. Namun pukulannya ternyata terlalu jauh. Bola melewati garis yang sudah ditentukan.
"Giliran RMonster. Match point."
Sehun mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya di lututnya. Rambutnya yang basah jatuh menutupi dahinya saat ia menundukkan kepalanya untuk menarik napas.
Kemudian ia menyiapkan dirinya untuk pukulan serve musuhnya. RMonster mengerahkan seluruh tenaganya. Sehun berhasil mengembalikan bola dengan menakjubkan. Mereka menghajar bola itu ke sana kemari sampai para penonton menjadi pusing karena mengikutinya.
Mereka sama-sama tidak membuat kesalahan. Sama-sama mencoba mengakali yang lain, mengelak ke sisi satu, kemudian lari ke sisi yang lain. Kemudian sebuah bola melayang ke arah RMonster yang sedang berada di sudut lapangan. Ia menyambutnya dengan pukulan forehand-nya yang sempurna, dan membuat bola itu melesat ke pojok yang berlawanan.
Sehun langsung bereaksi. Dengan kecepatan seekor cheetah, ia mengejar bola itu. Ketika ia tahu bahwa ia tidak dapat mencapainya, ia melompat.
Tubuhnya bak sebuah anak panah ramping yang melayang secara horizontal di udara, raketnya terulur sejauh yang mampu ia lakukan.
Raket Sehun menyentuh bola. Sayangnya momentumnya tidak pas. Dampaknya cukup kuat untuk melambungkannya ke arah net, menyentuhnya, untuk kemudian jatuh kembali ke sisi Sehun. Ia sendiri meluncur di atas permukaan lapangan sampai siku dan lengannya berdarah.
Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun mengeluarkan suara. Dengan tegar Sehun menghela dirinya, lalu menarik napas dalam-dalam. Sesudah itu, perlahan-lahan, dengan dagu terangkat, ia melangkah ke arah net. Tangan kanannya terulur, siap untuk menjabat tangan lawannya dengan sportif.
Suasananya menjadi gempar. Tepuk tangan mulai terdengar, diiringi oleh suara sorak-sorai. Bukan untuk si juara, tapi untuk yang ditaklukkan. Para fotografer dan pencinta tenis dari segala usia berhamburan turun kelapangan... dan mereka semua datang untuk mengerumuni Sehun.
Mata Luhan berkaca-kaca saat menyaksikannya, sementara ratusan orang mengelu-elukan Sehun. Ia sudah kembali. Ia sudah berada di atas lagi. Upayanya yang terakhir itu membuktikan bahwa apa pun akan ia pertaruhkan untuk meraih kembali posisinya sebagai seorang juara.
Luhan bisa meninggalkannya sekarang. Ia akan menemukan jalannya. Luhan menyelinap di antara orang banyak, naik taksi, yang ia minta menunggu dirinya di hotel sementara ia mengambil tasnya sebelum berangkat ke bandara.
l..l
l..l
l..l
Luhan menumpang pesawat yang sama yang pernah dinaikinya bersama rombongan Sehun. Air matanya turun ke pipi saat ia teringat akan bagaimana Minguk menyandarkan kepalanya di dadanya, dan ciuman Sehun yang memabukkan setelah mereka mendarat. Ia akan selalu mengenang saat di mana ia memiliki si ayah dan anaknya sekaligus.
Tidak sebagaimana biasanya meja resepsionis tempat peristirahatan itu sepi. Kemudian Luhan menyadari bahwa sudah waktunya untuk makan malam.
Seorang wanita muda menegurnya dengan ramah.
"Selamat malam. Bisa saya bantu?"
"Aku Xi Luhan. Aku memiliki sebuah kamar di sini, meskipun selama beberapa hari aku berada di Oahu. Aku mau minta kunci Kamar 317."
Si gadis mengetik sesuatu di atas komputernya.
"Kamar 317?" tanyanya.
"Betul,"
Sahut Luhan, yang tiba-tiba merasa capek sekali setelah apa yang dialaminya hari ini.
"Mohon tunggu sebentar."
Si gadis tampak berbisik-bisik dengan manajernya. Sekali-sekali mereka melirik ke arah Luhan, yang semakin lama mulai merasa semakin dongkol.
"Nona Xi?"
Lelaki yang dikonsultasi petugas meja resepsi menghampirinya.
Mereka betul-betul menyesal sekali, tapi telah terjadi suatu salah pengertian. Mereka mendapat kesan bahwa ia amat buru-buru saat melakukan check out dari tempat peristirahatan itu. Barang-barang yang ia tinggalkan di dalam kamarnya sudah disimpan sesuai dengan permintaannya di kantor tempat peristirahatan itu.
"Tapi aku belum melakukan check out!" protes Luhan.
"Aku sudah menegaskan kepada pria yang bertugas waktu itu bahwa aku akan kembali. Aku hanya membayar sewa kamarku supaya kalian tidak mengira bahwa aku kabur."
Kekeliruan ini merupakan kesalahan mereka. Tapi mereka sudah memberikan kamar itu kepada tamu lain yang menurut rencana akan tinggal di situ selama dua minggu.
"Aku menyukai kamar itu, tapi kalau kalian sudah memberikannya kepada orang lain, aku memang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku akan ambil yang lain. Aku capek sekali..."
Ternyata sebuah masalah lain kemudian muncul. Tempat peristirahatan itu sudah penuh.
"Apa Anda tidak mempunyai sebuah kamar pun untukku, setelah Anda mengeluarkan aku begitu saja dari kamar satunya?"
Mereka menyesal sekali karena begitulah kenyataannya. Tapi mereka akan mencoba menghubungi hotel dari tempat-tempat peristirahatan lain untuk mencarikan tempat baginya. Dan mereka yang akan mengantarkannya ke sana.
"Terima Kasih," sahut Luhan pendek. "Aku akan menunggu di sana,"
Ujarnya sambil menunjuk ke sofa yang terlihat jelas dari meja resepsionis supaya mereka tidak dapat berpura-pura melupakan dirinya.
Setengah jam berlalu, dan laporan yang diterimanya menjadi semakin mengecilkan hati.
"Semua tempat yang kami hubungi ternyata sudah penuh. Tapi kami tetap akan mencoba."
Ia sedang menyandarkan kepalanya pada punggung kursi sofa yang didudukinya, sambil menimbang-nimbang pilihannya, ketika tiba-tiba ia menegakkan kepalanya.
Sehun tiba-tiba masuk melalui pintu tempat peristirahatan itu dengan tampang geram. Sebagai mana biasanya ia mengenakan celana pendek dan sebuah jaket olahraga yang dibiarkan setengah terbuka.
Rambutnya sudah dikeramas habis pertandingan yang seru itu tampak acak-acakan oleh angin. Ada luka lecet yang tampak cukup parah di lengan dan sikunya. Ia menoleh sekali lagi begitu melihat Luhan.
Ia berhenti persis di depan luhan, kemudian meletakkan tangannya di pinggang sambil menatap tajam ke arahnya.
"Aku mencarimu ke mana-mana, di dua pulau. Ke mana saja kau setelah pertandingan itu?"
"Jawabannya jelas, kan?"
"Jangan sok naif. Kenapa kau kabur?"
"Kenapa? Karena pertengkaran kita tadi pagi." Luhan berdiri kemudian membalas tatapan tajamnya. "Aku tidak bisa menerima caramu yang sok mendominasi dan berang itu."
Sebuah senyum membayang di wajah laki-laki itu.
"Mestinya kau lebih sering marah. Efeknya luar biasa di matamu."
Luhan sudah siap untuk memakinya, tapi ada yang memanggil dirinya.
"Nona Xi!" Si manajer mendekat sambil melambaikan sepotong kertas. "Kami mendapatkan sebuah kamar..."
"Batalkan!"
Potong Sehun, sambil memutar tubuhnya ke arah laki-laki yang kurang beruntung itu, untuk ia pelototi dengan matanya.
Si manajer menengadahkan wajahnya ke arah Sehun dengan tatapan waswas, kemudian melirik ke arah Luhan.
"Tapi Nona Xi bilang ia membutuhkan sebuah kamar dan..."
"Kubilang batalkan!"
Sehun memutar tubuhnya ke arah Luhan kembali.
"Ia akan ikut pulang bersamaku."
Sinar matanya melembut saat pandangan mereka bertemu. Kemudian dalam nada berbisik ia menambahkan
"Ikut aku."
l..l
l..l
l..l
To be continue
l..l
l..l
l..l
15 Desember 2017
Haiiii, hari ini aku update 2 chapter sekaligus. aku tau kalian semua udah mulai greget pen tau reaksi sehun kalau luhan ibunya minguk. aku gak bis komen apa2, aku cuman ngikutin jalan cerita yang ada di novel aslinya.
maka dari itu aku percepat dengan update 2 chap, hoho
oiya kemaren ada reader yg gak bisa buka chap 5, apa kalian juga ada kesulitan?
see ya...
