"Apa yang kau pilih?" tanyaku sambil berjalan dari kamar tidur ke ruang tamu. Aku baru keluar dari kamar mandi, akhirnya merasa normal kembali dengan pakaian bersih, rambut yang sudah dikeramas, dan perut yang sudah kenyang karena sup dari BooBoo, tempat makan favoritku yang berada di ujung blok, Chanyeol membelikannya untuk makan malamku.
Dia pacar yang perhatian.
Dia menekan tombol pause saat film di TV akan dimulai.
"Ini, Film James Bond yang baru." Dia menyengir lebar padaku dari sofa, kemudian aku duduk di sampingnya. "Merasa lebih baik?" Tanyanya.
"Tentu, itu berkat dirimu. Terima kasih." Dia mencium dahiku penuh kasih.
"Tidak pakai t-shirt XXX lagi?" Tanyanya dengan alis terangkat setelah melepaskan kecupannya.
Aku menatap bajuku dan kembali memandangnya dengan senyum centil. "The Goo Goo Dolls-adalah favoritku."
"Itu tidak seperti yang kau katakan tadi malam." Sepertinya dia cemburu. Aku tertawa seperti berbisik.
Dia menekan tombol play pada remote dan suara Adele mulai terdengar, menyanyikan lagu pembuka dari film.
Aku memainkan tanganku menoel dagunya dengan manja. " Apa semalam aku mengatakan aku menyukai XXX? Mungkin Aku mengigau karena demam". Gumamku, menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Dasar." Bisiknya sambil terkekeh dan mencium keningku.
Aku senang bisa bersamanya di sini, sebelumnya aku tidak pernah berpikir akan merasa sangat nyaman dengan seseorang. Biasanya mereka membuatku merasa jengkel.
Apa mungkin Chanyeol dan aku sudah selaras? Percakapan kami menarik. Dan Kesunyian tidak membuatku merasa tak nyaman jika didekatnya. Intinya ketika bersamanya, semua akan terasa baik-baik saja.
Dan aku senang karena ia juga senang berdekatan denganku, membuatku nyaman, bukan hanya karena rasa kasihan ketika aku sedang sakit saja.
Aku menautkan jemari kami, mengusap tato di kulitnya dengan ibu jariku. Aku menyukai tatonya. Aku tidak bisa berhenti untuk melihatnya. Sebenarnya ada makna apa dari tato di tangannya?
Apa dia akan memberitahuku jika aku bertanya?
Chanyeol berdehem, dan aku menyadari aku sudah tenggelam dalam pikiranku. Aku menatap mata Cokelat besarnya sambil tersenyum. "Apa?"
"Filmnya tidak dimainkan di tanganku, sayang." Sindirnya. Mengingatkan bahwa aku harus menaruh fokus pada Filmnya, bukan dirinya.
"Maaf." gumamku dan berpura-pura menonton film.
"Kau tidak suka James Bond?" Tanyanya.
"Aku menyukainya."
"Kenapa kau tidak menontonnya?"
Aku naik ke pangkuannya dan membungkus lenganku di lehernya. "Kau tahu." Aku memulai dan mencium dagunya. "Aku tidak pernah lagi bercumbu didepan TV sejak Im Hwan mengajakku menonton Toy Story saat SMA."
"Bajingan macam apa yang mengajak kencan dengan menonton Toy Story?" Chanyeol menjawab, membungkus lengannya di punggungku.
"Tidak masalah, karena Aku naksir berat padanya." Jawabku sambil tertawa dan mencium pipinya. "Aku tidak peduli film apa yang akan ditonton saat dia mengajakku."
"Apa dia berhasil malam itu?" Chanyeol bertanya, matanya terlihat bahagia dan tertawa. Apa dia tidak cemburu atau apa, mungkin?
Dasar!
"Jelas tidak, tapi dia mendapat 'second base'. Jadi, Bermainlah dengan benar maka aku akan membiarkanmu mencetak 'home run'."
"Di mana Im Hwan sekarang?"
"Aku tidak tahu." Aku mendengus, sejak kapan memperbincangkan Im Hwan menjadi semenarik itu untuknya. Aku bergeser, jadi aku mengangkanginya sekarang, lututku bertumpu di sofa. "Intinya adalah, Kita harus bercumbu sekarang." Aku tidak main-main dengan kata-kataku. Aku ingin dia menyentuhku sekarang. Aku Haus akan dirinya. Tapi Chanyeol hanya tersenyum.
"Kau belum sembuh benar." Katanya, lalu mencium hidungku, ia mengangkatku dengan hati-hati dari pangkuannya dan menurunkanku kembali ke sofa. "Tonton saja film-nya."
"Kubilang Aku ingin bercumbu denganmu!" Aku cemberut dan menyilangkan tanganku di depan dada, Chanyeol tertawa terbahak melihatku marah.
"Kau ingin bercumbu, sweetheart?" Dia bertanya dan bergeser ke arahku, mendorongku hingga terlentang di sofa.
"Ya." Aku mengangkat bahu acuh tak acuh. "Aku tahu kau juga menginginkannya."
"Kau sangat keras kepala." Gumamnya dan menatap bibirku. "Aku akan bercumbu denganmu jika itu yang kau inginkan."
"Oh, bagus, karena aku sudah berencana akan mencari Im Hwan jika kau tetap menolak."
"Akan kupatahkan kemaluannya jika dia menyentuh milikku. Aku tidak berbagi, ingat?" Tindikannya mengkilap didepan bibirku dan mataku siaga mengawasinya."Aku satu-satunya pria yang akan melakukan hal ini padamu, sayang." Tambahnya.
Dia menyandarkan sikunya disamping kepalaku, lalu mencondongkan tubuhnya ke tubuhku dan memberikan kecupan di dagu, rahang, lalu menggosokan hidungnya ke leherku, membuatku menggigil dan menggeliat.
"Kau memiliki bibir yang indah." Bisikku dan merasakan dia sedang tersenyum di telingaku. Aku mengusap punggungnya yang kokoh dengan tanganku, menarik t-shirtnya sehingga aku bisa merasakan kulitnya yang hangat di bawah tanganku. Tapi dia menahanku.
"Tidak sayang. Kita harus tetap berpakaian." Bisiknya mengingatkan, lalu melanjutkan kegiatannya dengan memberiku kecupan-kecupan lembut, ciuman yang manis.
"Kenapa?" Aku bertanya dan terkesiap ketika dia menggigit telingaku.
"Kita hanya bercumbu..." Nafasnya terengah, begitu juga denganku. "Untuk saat ini." Lanjutnya.
"Aku tidak mau." Kataku keras kepala.
Dia menarik diri, menahan tubuhnya dengan kedua tangannya dan menatap ke arahku dengan mata cokelatnya yang berbinar. "Kau masih sakit dan aku tidak akan melakukan apapun melebihi second base."
"Uh, Chanyeol, apa kau tahu jika hanya Minseok satu-satunya Gadis yang patuh dengan aturan hubungan sex setelah 3 kali kencan? Dan aku tidak seperti itu."
Dia tersenyum geli.
"Dia memiliki aturan seperti itu?" Tanyanya semangat.
"Ya, dia hampir saja membunuh Luhan ketika Luhan ingin bercinta dengannya dikencan pertama mereka."
"Bagus. Itulah kakakku." Ia tersenyum bangga. "Dan kau sudah membuatku menunggu untuk melakukannya di lima kali kencan." Oh Tuhan apa dia menghitungnya sejak kami Lari dari hari senin-Jumat, dan hari terakhir kami habiskan untuk melakukan Sex. Apa dia berpikir begitu?
Chanyeol menjilat sekitar leherku dan aku meremang merasakan lidahnya yang basah ada di kulitku. "Lari bukanlah kencan." Kataku dengan susah payah, Demi Tuhan, jika dia menjilati leherku seperti itu lagi, aku akan merobek bajunya dan menyerangnya.
"Setiap kali aku membelikanmu makanan dan kita sarapan bersama, itu disebut kencan." Bisiknya dan bergerak ke sisi lain dari leherku.
"Chanyeol?"
"Hmm?"
"Cium aku."
"Aku sedang melakukannya."
Aku mencubit punggungnya saat dia menggigit telingaku lalu melotot ke arahku.
Aku berjengit karena merasa bersalah, dan tersenyum kekanakan kearahnya. "Kumohon."
Mataku menatap bibirnya, aku bersumpah tidak pernah merasakan yang namanya menginginkan orang lain menciumku seperti aku menginginkannya saat ini.
Dia menenggelamkan jemarinya di rambutku, memiringkan kepalanya, dan dengan lembut bibirnya mencium bibirku. Aku mengencangkan tanganku di punggungnya, memeluknya dengan erat, dan mendesah saat ia mulai menggerakan bibirnya. Dia menggigit dan menghisap sudut bibirku dari satu sudut ke sudut yang lain, hingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh olehnya.
Tanganku mulai bekerja di punggungnya, lengannya, hingga ke wajahnya, dan dengan lembut menjelajahinya,. Aku sangat menikmatinya sampai tidak mendengar bunyi-bunyi bising dari film. Yang aku rasakan hanya Chanyeol .
Aku mengaitkan kakiku padanya, tetapi dia menghentikan apa yang ia kerjakan dibibirku dan berbisik di telingaku.
"Baek, Aku tidak akan bercinta denganmu malam ini. Kita hanya akan bercumbu, paham?"
Aku tahu dia sedang berusaha keras untuk menahan hasratnya. Seharusnya aku bisa bekerja sama, tapi aku benar-benar menginginkannya menyentuhku dan aku merasa aku sudah kuat untuk melakukannya lagi malam ini.
Bibirku bertemu dengan bibirnya lagi, mendesah, dan kali ini ia memperdalam ciumannya, menggoda ujung lidahku dengan miliknya.
Aku tidak pernah dicium seperti ini selama hidupku.
Salah satu tangannya meninggalkan rambutku dan menelusuri wajahku, bahuku, dan ketika aku berpikir dia akan menangkup payudaraku, ternyata tangannya hanya meluncur ke pinggulku, dan meletakkan tangannya di sana.
Apa dia benar-benar hanya ingin mencumbuku saja?
Aku mengerang lagi, menjalankan jari-jariku di wajahnya. Chanyeol bukanlah pria yang suka merawat janggut, kulit wajahnya halus karena rajin dicukur, dia juga memiliki bau yang sangat harum dan jantan.
Dia memperlambat ciumannya, menggigit bibirku lagi, kemudian menggosokan hidungnya ke hidungku.
"Kau membuatku lupa bagaimana caranya bernapas." Bisiknya.
"Aku menyukai caramu menciumku." Balasku.
"Bagus..." Katanya dan memberiku sebuah senyuman yang manis, matanya yang tajam terlihat sayu dan mengantuk. "...Itu, Karena aku berencana untuk sering menciummu."
"Aku tidak bisa menolaknya." Aku setuju dengan malu-malu.
Tiba-tiba, ia berdiri dan menarikku ke dalam pelukannya, menggendongku, dan membawaku ke kamar tidur.
"TV nya masih menyala." Aku mengingatkannya.
"Aku akan menlanjutkannya nanti."
.
.
.
-CHANYEOL-
Dia cantik saat tidur.
Bodoh.
Dia bahkan selalu terlihat cantik. Meski ketika ia sedang kacau dan berkeringat karena demam, dia tetap menjadi pemandangan yang indah untukku lihat.
Kami tidur terlambat pagi ini, aku tidak ingin segera bangun dari kasur, jadi aku memutuskan untuk berbaring di sampingnya, menikmati pemandangan wajahnya yang Ayu.
Aku tidak pernah mencium seorang wanita saat aku melakukan sex dengan mereka, aku hanya sekedar bermain seks, tanpa ciuman dan oral. Aku jarang mencium wanita. Bagiku Seks lebih baik daripada Ciuman, karena berciuman menimbulkan berbagai macam keterikatan dan perasaan, dan akan lebih baik jika aku tidak melakukan hal itu, mengingat bahwa wanita yang sudah bersama denganku selama sepuluh tahun terakhir telah mencampakanku begitu saja. Baekhyun adalah satu-satunya gadis yang kuperlakukan dengan istimewa. Aku selalu ingin tenggelam ke dalam dirinya dan bercinta dengannya sepanjang malam, tapi semalam aku berniat akan menahannya karena mengingat bahwa dia sedang sakit. Meski dia berkata dia sudah sembuhpun aku tidak akan melakukannya.
Tidak, sebelum dia sehat dan Pulih aku tidak bisa bercinta dengannya.
Baekhyun menggeliat dan menguap, membuka mata sipitnya dan tersenyum lembut padaku begitu melihatku.
"Selamat pagi." Aku mencium lembut pipinya dan menikmati desahan rasa kantuknya.
"Mmm... pagi." Sial, aku menyukai suaranya yang serak, Sangat seksi ketika dia baru bangun tidur dan terlihat apa adanya.
"Apa yang ingin kau lakukan hari ini?" Aku bertanya padanya dan menyingkirkan sehelai rambut dari pipinya.
"Aku ingin cupcake."
"Cupcake?" Tanyaku sambil tertawa, suaraku serak dan besar membuatnya mengerjap merasakan telinganya terganggu. "Ini baru jam sepuluh pagi, manis. Bukankah terlalu pagi untuk memakan cupcake?"
"Aku paham mengapa kau tidak tahu kebiasaan orang korea, mungkin itu karena Kau terlalu banyak menghabiskan waktumu di luar negeri." Dia mengusap rambutku yang berantakan lalu tiba-tiba memberikan sentakan dengan jemarinya, yang segera membuat miliku bangkit. "Cupcake bisa dimakan setiap saat, Chanyeol." Aku mengangguk, menyisiri rambutnya.
"Baiklah, ayo beli apapun yang kau inginkan dan membeli kopi untukku?" Tanyaku.
"Tentu." Dia menyeringai.
Aku hanya mengangkat bahu.
Sial, kenapa aku merasa akan memberi apapun yang dia inginkan?
"Ayo, kita pergi."
"Apa kita harus Jogging dulu, setelah itu baru beli cupcakenya?" Ia bertanya sambil mengerutkan kening.
"Kau belum siap untuk berlari. Kau baru saja sembuh dari demam, Baek." Aku mengingatkannya dan menuruni tempat tidur.
"Rute nya sejalur dengan jalan untuk Jogging. Dengan jogging kita bisa menghemat waktu kan?" Aku memutar tubuhku menghadapnya dan menunggunya turun dari kasur.
"Baekhyun, kau baru sembuh dari sakit dan aku melarangmu untuk melakukan aktifitas yang terlalu menguras tenaga, Lupakan lari paginya... aku tetap akan membelikanmu Cupcake."
"Baiklah." Dia bersemangat kembali, dan aku bersumpah dia sangat menggemaskan.
.
.
.
Kami berpakaian dengan cepat dan aku membantunya memakai jaket hitamnya sebelum mengambil beanie dan memakainya.
"Lepaskan Beanimu." Dia cemberut padaku.
"Kita akan aman jika aku memakainya, sayang. Atau Groupies akan mengenaliku dan membawaku Kabur." Aku mencium keningnya sebelum membawanya menuju pintu keluar.
"Kenapa tak sekalian saja memakai kacamata hitam?" Dia bertanya sinis. "Tarik kupluk mu ke bawah sampai menutupi rambut dan tindikmu, dan tutupi tatomu itu dengan jacket tebal lalu berdoa agar tidak ada yang mengenalimu!"
Aku hanya mengangkat bahu dan merangkulnya.
Aku menekan tombol turun di Lift dan menarik Baekhyun lagi untuk berada dalam dekapanku selama didalam Lift.
"Mereka tidak akan mengenaliku jika aku mengenakan ini."
Dia kembali rileks lalu mendesah sementara aku tidak bisa menahan senyum. Perbedaan dalam dirinya dari pertama kali kami jogging bersama sampai sekarang sangat menakjubkan. Sekarang dia membiarkanku untuk menyentuhnya, ini merupakan kemajuan pesat.
.
.
.
"Di mana toko cupcakenya?" Tanyaku saat kami berjalan keluar dari lift dan tiba di lobi gedung.
"Hanya beberapa blok. Kita bisa berjalan ke sana."
"Kau yakin sudah cukup kuat untuk berjalan?" Aku bertanya dan mengerutkan kening ke arahnya, tapi dia hanya menyenggolku dengan sikunya.
"Aku baik-baik saja. Berjalan beberapa blok tidak akan membuatku pingsan."
"Baiklah."
Hari ini langit di Seoul berwarna biru, hari cerah yang jarang terjadi di musim dingin. Aku menautkan jemari Baekhyun dengan jemariku lalu menciumnya, sambil terus mengikutinya ke sebuah toko kecil yang disebut Succulent Sweets. Tercium bau harum kopi dan gula dari dalam. Matanya yang Cokelat terlihat cerah saat melihat ke kotak kaca yang penuh makanan.
Astaga, dia menggemaskan.
"Kau menginginkan Cupcake apa?" Tanyaku.
"Tentu saja Strawberry." Ia tertawa dan membuat perutku mengepal. Aku suka saat dia tertawa.
Dia memesan cupcake Strawberry dengan teh panas, dia juga mengatakan kepada seorang penjaga Toko apa saja yang aku inginkan.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku saat melihat gelagatnya membuka Dompet.
"Membelikanmu cupcake."
"Simpan uangmu, Bukankah aku sudah berjanji akan membelikanmu Cupcake?" Aku memutar mataku dan mendorongnya ke samping sebelum menarik dompetku dari saku belakang celanaku.
Petugas kasir yang berambut hitam mendongak ke arahku dengan santai lalu tiba-tiba matanya membulat dan Memekik dua kali.
"Kau Chanyeol XXX kan? Benar! kau Chanyeol XXX !" Dia menjerti dan aku hanya melihatnya maklum, kupikir dia sudah gila. Untuk apa dia berteriak seperti itu.
Aku tertawa. "Tidak, aku bukan dia. Band itu sangat menyebalkan, aku membencinya jadi tolong jangan kaitkan apapun tentang band itu padaku."
"Benarkah?" Si penjaga toko meneliti wajahku lagi tapi aku hanya mengangkat bahu. "Tapi yah, sekarang aku bisa melihat bahwa kau bukan dia." Katanya.
"Aku lebih tampan, kan?" Aku mengedipkan mata dan dia tertawa lalu memberikan minuman dan kue pesanan kami untuk dibawa ke meja.
Baekhyun menyeringai dan berusaha untuk tidak tertawa.
"Apa?"
"Kau menggagalkan upaya seseorang yang mulai mengenalimu dengan menghina Band-mu sendiri?"
"Itu berhasil kan?" Aku tertawa dan menggigit salah satu cupcake yang berasa Lemon. "Astaga, ini enak."
"Kau punya yang rasa lemon! Bolehkah aku minta satu gigitan? Itu adalah rasa favorit kedua untukku."
Aku memegang kue bekas gigitanku hingga menyentuh bibirnya, dia langsung menggigit kecil Cupcake milikku lalu menutup matanya, mengerang dalam kebahagiaan.
Oh Tuhan, aku seperti remaja yang baru jatuh cinta dan kacau karena melihatnya semenggemaskan ini.
"Boleh aku merasakan punyamu?" Tanyaku.
"Tidak boleh, kau sudah punya sendiri," Dia menarik cupcakenya dan cemberut padaku.
"Dasar. Aku sudah membiarkanmu merasakan milikku."
"Kau Tuan baik hati yang mudah ditipu." Ia nyengir dan terus memakan Cupcakenya.
Aku melirik ke seberang jalan dan tersenyum. "Apa kau tahu, bangunan apa yang di seberang jalan?"
Dia mengikuti tatapanku dan mengangkat bahu. "Hanya sebuah bangunan dengan bata merah."
Tidak ada papan nama, dan penjelasan disana, tentu saja dia tidak tahu.
"Kau tidak akan tahu bahwa itu adalah sebuah studio rekaman." Matanya membulat. Aku tersenyum melihatnya kembali menggemaskan dipagi hari ini. " Pemiliknya sudah membangunnya sejak awal tahun delapan puluhan."
"Kau pernah melakukan rekaman di sana?" Ia bertanya, tetap menaruh minatnya untuk menatap gedung itu.
"Tidak." Aku menggelengkan kepala. "Aku pernah masuk kesana, ketika pertama kali aku pindah ke Seoul, waktu itu aku memenangkan Lomba aransemen lagu di sebuah radio dan mendapatkan kesempatan nonton konser pribadi Pearl Jam di sana. Itu adalah hal paling keren yang pernah kulihat."
"Wow, itu mengagumkan!"
Aku mengangguk. "Aku berencana untuk merekam Album kami disana." Bisikku dan mata Baekhyun melebar.
"Benarkah?" Tanyanya.
"Ya, kenapa tidak. Aku tidak tahu seberapa lama masa reservasi nya, Tapi kami sudah memutuskan untuk menunggu sampai giliran kami bisa rekaman, Jadi karena hal itu pula kami tidak akan kembali Ke Jeju. Lagipula Sebagian besar anggota bandku sedang tinggal di sini."
Aku menyeringai padanya.
"Apa aku boleh melihat kalian saat rekaman?" Dia bertanya.
"Tentu saja." Pikiran melihat Baekhyun di studio, membuat perasaanku menghangat.
"Berapa banyak lagu yang sudah kau tulis?" Dia bertanya lalu menjilati garpunya.
"Aku sudah menulis Tiga Lagu dengan Minseok. Beberapa Lagu sudah ditulis oleh anggota lain. Sekarang aku sedang mengerjakan satu lagi. Kami berencana memiliki banyak daftar lagu dalam album kami." Matanya yang kecil menatapku, mendengarkan dengan penuh perhatian. Hal itu membuatku bangga mengetahui jika dia begitu tertarik, dan dia bertanya dengan pertanyaan yang cerdas, bukan pertanyaan khas penggemar.
Meski sebenarnya dia adalah seorang penggemar juga, tapi dia tidak bersikap berlebihan dan membosankan, mungkin karena beberapa saudaranya juga artis jadi dia terbiasa dengan hal semacam itu, dan itu salah satu hal yang membuatku tertarik padanya.
Tentu saja, aku tetap akan tertarik padanya meski dia membenci bandku sekalipun.
"Ada cream di bibirmu." Bisikku.
Dia menjilati sisi yang salah dan tersenyum penuh arti. "Sudah hilang?"
"Belum."
Dia menjilat sudut bibirnya lagi, dan dia meleset lagi.
"Sekarang?"
Aku mengulurkan tangan dan membersihkan cream dengan jariku, tetapi sebelum aku bisa menariknya, ia mencengkeram pergelangan tanganku dengan tangannya dan memasukan jariku ke dalam mulutnya, menghisap creamnya lalu menggigit ringan pada jariku.
Sial.
Sarafku menegang. Begitu juga dengan milikku.
"Kita harus segera pergi dari sini." Aku menggeram. Merasakan suuaraku yang sarat akan hasrat. Matanya melebar penuh gairah.
"Tapi aku belum meminum teh ku." Dia bergumam naif dan matanya menatap tindikanku dengan wajah tidak bersalah.
"Kau sudah selesai. Sekarang, Pulang."
.
.
.
TBC
*Second base: percumbuan tingkat lanjut tapi tidak sampai terjadi hubungan seks.
*Home run: istilah lain dari berhubungan seks.
