The Mystery of Life
By : Mizu Kanata
Disclaimer : Mashashi Kisimoto
A/N : Untuk fic ini, Mizu nggak bisa pastiin sampai berapa chapter. Tapi, kayaknya masih cukup panjang deh... Well, terimakasih bagi yang sudah menunggu fic ini dengan sabar, maaf kalau update-nya telat.
And, happy reading!
Chapter 7
Dengan cepat, matahari menukik ke arah barat, seolah telah lelah menghadapi dunia ini. Sang rembulan kini telah muncul dengan sinar terangnya, tapi entah mengapa, sinarnya kali ini terasa memilukan. Tenten menatap keluar jendela dan mendapati jalanan yang sepi. Ini… terasa semakin menyesakkan.
"Neji, kau mengerti kan jika aku sangat ingin tahu siapa ibuku?" tanya Tenten tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku mengerti," jawab Neji.
"Tapi, aku rasa, bahkan ibuku tidak ingin aku mengetahui sesuatu tentang dirinya," kata Tenten dengan tatapan nanar.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Neji, tak biasanya Tenten berpikir pesimis atas sesuatu yang diinginkannya.
Hening…
Gadis bercepol dua itu menundukkan kepalanya, "Aku sudah menunggu terlalu lama… hingga akhirnya aku menemukan sesuatu dan sampai disini. Tapi, tak ada yang terjadi kan?" tanya Tenten, membalikkan tubuhnya dan menatap Neji.
"Jangan bilang kau putus asa –"
"Tapi aku memang merasakannya! Aku… benar-benar bodoh, dan tiba-tiba menyangkutkan hantu penasaran café ini dengan ibuku! Seharusnya aku tak pernah menyelidiki ini dan melibatkanmu. Seharusnya sekarang aku ada di rumah dan membantu Tsunade-sama," kata Tenten memotong perkataan Neji.
"Ada apa denganmu? Tenten yang kukenal tak pernah menyerah seperti kau sekarang. Kau tak bodoh karena telah menyelidiki semuanya, tapi kau bodoh jika menyerah saat kau sudah melangkah sejauh ini," kata Neji.
Tenten tetap diam dan masih menundukkan kepalanya, Neji melangkah mendekat ke arah gadis itu, "Percayalah… kau sudah semakin dekat, kau tidak boleh menyerah menyerah sekarang," katanya sambil memegang pundak Tenten.
"Aku… aku tak tahu lagi, tapi maaf aku melibatkanmu, seharusnya ini hanya jadi masalahku," kata Tenten, keputus asaan masih terlihat di wajahnya.
"Itu tak masalah. Sekarang sebaiknya kau tidur, aku tahu kau lelah. Aku akan tetap terjaga."
…
Dengan bingung, Tenten terus berjalan, ia tak tahu sekarang ia ada dimana, namun kaki gadis itu entah membawanya kemana tanpa arah. Tenten melihat sekitarnya dan menyadari sesuatu, ini lorong… rumah sakit? Tapi, suasana ini terasa asing, seperti jauh lebih tua dan kusam, tidak seperti saat Sakura terbaring di rumah sakit akibat surat kosong itu.
Derap langkah kaki dari seseorang yang berlari membuat Tenten menoleh. Seorang pria dengan jas putih yang dipakainya –dokter berlari ke arahnya, ke arahnya? Hey…
"Kyaa!" Tenten berteriak kencang saat pria itu menubruknya. Sementara dokter itu terus berlari tanpa memedulikannya, Tenten menelan ludahnya, merasa tercekat. Ia… tidak jatuh sama sekali,dokter itu tidak menubruknya, tapi menembus dirinya…
"A-apa?" Tenten melihat dengan ngeri pada tangannya yang lagi-lagi berubah menjadi seperti hantu. Oh, tidak, apa Kabuto masih hidup dan menculiknya kembali ke dunia ilusi?
"Apa? Apa yang terjadi?" tanya gadis itu.
"Neji? Neji? Kau dengar aku? Aku kembali lagi ke dunia ilusi…" kata Tenten.
Tak ada jawaban….
"Neji, ayolah, jangan bercanda!"
Lagi-lagi tak ada jawaban….
"Neji! Neji! Jawab aku!" Tenten semakin panik.
Jangan-jangan pikirannya sudah tak tersambung dengan Neji? Bodoh… lagipula, saat itu Jiraiya yang menghubungkan pikiran mereka. Dan sekarang, tentu saja Jiraiya sudah pergi. Tidak… semuanya telah tamat, Tenten tak bisa meloloskan diri kali ini. Tak ada yang bisa membantunya, ia benar-benar sendirian sekarang, di dunia yang tidak dikenalnya.
Di saat pikirannya sedang kacau, Tenten mendengar tangisan seorang bayi. Dan mau tak mau tangisan itu membuat Tenten berpikir. Kenapa dunia ilusi yang gelap dan tanpa cahaya, kini menjadi lorong rumah sakit? Dan bahkan ada suara bayi disini.
Atau mungkin ini hanya jebakan?
Tangisan bayi itu semakin keras. Tapi, meskipun Tenten sama sekali tak ingin mendekatinya, kaki gadis itu tetap melangkah. Tangisan itu semakin keras dan keras saat ia mendekat, dan sebuah pintu di ujung lorong menandakan disitulah asal tangisan itu berasal.
Sebenarnya, apa yang ada di dalam sana?
"Maaf, tolong maafkan saya karena datang telat!"
"Sudahlah dokter, tak apa-apa, yang penting anak saya selamat."
Tenten mengerutkan kening mendengar suara-suara dari dalam, heran. Kenapa bisa ada percakapan seperti ini di dunia ilusi? Apa Kabuto ingin bermain-main dengannya?
"Kalau begitu, kami permisi."
Tenten merapatkan diri saat pintu terbuka, ia bisa melihat dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan itu. Dan setelah mereka menghilang di ujung lorong, gadis itu berjalan mendekat ke arah pintu, mengintip melalui kaca kecil.
Seorang ibu terlihat memeluk anaknya, dari pakaian rumah sakitnya, Tenten tahu jika wanita itu baru saja melahirkan.
"Selamat datang, Tenten-chan, ayah pasti sangat senang jika melihatmu, dia akan pulang sebentar lagi."
Mata gadis itu seketika membulat. Apa katanya? Tenten-chan? Tenten-chan? Ini… ini tak mungkin. Jika bayi itu adalah Tenten maka…
Kring… Kring… Dering telepon berbunyi dari samping tempat tidur di dalam ruangan.
Wanita itu adalah ibunya. Tenten menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia ada dimana sekarang? Apa Kabuto menjebaknya dengan bayangan masa lalu?
Namun, saat Tenten mengintip kembali ke dalam, wanita itu sedang berbalik dengan posisi masih terbaring di tempat tidur.
"Ya? Benar, saya istrinya."
…
"Ke-kecelakaan?"
…
"Tak mungkin."
Sekarang Tenten dapat melihat wanita itu memutus telepon.
"Tenten-chan…" bisik wanita itu.
Tiba-tiba Tenten merasakan lantai yang ada di bawahnya bergetar, semakin bergetar dengan keras sekarang. Gadis itu semakin ketakutan, lantai di sekitarnya mulai pecah dan berjatuhan, kegelapan kelam terlihat saat lantai terjatuh ke bawah. Ini… inilah akhir hidupnya, kepalsuan memudar dan sekarang ia akan kembali ke dunia ilusi yang delap. Tenten menjerit sekuat tenaga saat lantai yang dipijaknya tertarik ke bawah.
…
Derap langkah kaki seseorang melintas menuju ke sebuah bangunan tak terawat, sebuah papan nama di depannya menunjukkan jika bangunan itu adalah panti asuhan.
Tenten membuka matanya dan menyadari ia belum berakhir. Perlahan, gadis itu bangkit dari posisinya yang semula meringkuk di tanah. Tanah? Kemana lagi dunia ilusi yang tanpa cahaya itu? Tempat apa lagi ini?
Tenten segera berbalik, matanya seketika melihat wanita itu dari belakang… berambut cokelat panjang dan tergerai, menggendong sesuatu, yang Tenten tahu pasti jika wanita itu membawa dirinya, ke… panti asuhan.
"Maafkan ibu Tenten, tapi aku berjanji akan kembali. Maafkan ibu karena tak bisa bersamamu beberapa tahun ke depan… Aku, menyayangimu." Tenten bisa mendengar kesedihan mendalam di suaranya.
"Maaf, maafkan aku. Aku… menyayangimu… Tenten-chan." Wanita berambut panjang itu memeluk bayi yang ada dalam gendongannya, dan terdiam untuk merasakan kehangatan bayi itu.
Wanita itu kembali menatap ke depan dan menarik nafasnya. Di saat yang bersamaan ketika ia menyeka air matanya, butir-butir air mata Tenten meluncur saat melihat kejadian itu. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Ibu…"
Jika ini memang jebakan yang dibuat Kabuto, ia menyerah, Tenten tak bisa melawannya, ia tak bisa melawan masa lalunya.
"Tolong! Hentikan! Aku tak tahan lagi! Jika kau memang ingin aku di dunia ilusi selamanya, bawalah aku! Tapi hentikan perjalanan ini!" teriak Tenten, air mata mengaburkan pandangannya sementara tubuhnya yang lemas terjatuh kembali ke tanah.
"Hentikan..." bisik gadis itu.
Pair NejiTen semakin sepi, ; _ ;
Kapan fic NejiTen berbahasa Indonesia bisa menyamai fic NejiTen di Languenge English? (berkhayal)
Ok, terus tunggu update-nya fic ini ya! Bye!
