Sakura dengan wajah sayunya hanya menatap kosong kearah langit di balkon kamarnya, tatapan mata Sakura seakan mencerminkan jiwa dan hatinya yang redup akan kehidupan yang telah dia jalani. Semenjak kejadian semalam Sakura seolah tak mempercayai lagi dengan yang dinamakan cinta, hatinya lelah terus disakiti. Baginya pernikahanya dengan Naruto hanyalah omong kosong belaka. Hanya penjara yang membuat hatinya bahkan tak bisa merasakan apapun. Tapi Sakura tak bisa membohongi dirinya bahwa dia mencintai Naruto, Sakura tak bisa membohongi perasaanya. Seburuk apapun perlakuan Naruto, sekejam apapun Naruto,tetap saja dia tak bisa menghapus cintanya yang telah mengakar kuat dihatinya. Sangat sulit bagi Sakura untuk bisa lepas dari Naruto. Pernah suatu kali Sakuta mencoba pergi, tapi akhirnya dia sendiri yang memilih untuk kembali ke rumah Naruto. Semakin Sakura ingin pergi, justru semakin Sakura ingin kembali pula kepada Naruto. Naruto benar-benar "sempurna" memenjarakan dirinya, terlebih hatinya. Sakura bingung, fikiranya kacau. Pernikahan yang dia bayangkan bisa membahagiakanya justru memenjarakanya. Memilukna hatinya, Sakura hanya bisa menangis sekarang. Sakit hatinya oleh sikap Naruto, jiwanya seakan dikungkung oleh apa yang Naruto lakukan kepadanya

"Sakura.."

suara itu terdengar begitu pelan dan terasa serak seakan ada rasa sakit ketika megucapkanya.

Sakura masih diam dengan wajah sembabnya. Apa dia sedang berhalusinasi? Sakura mendengar Naruto memanggilnya?

"Sakura"

suara itu lagi-lagi terdengar dan derap suara langkah kaki mendekat. menampilkan sosok pria pirang beriris saphire blue mendekati dirinya dengan siluet cahaya yang remang berasal dari kamarnya kemudian cahaya matahari menampilkan dengan jelas sosok yang memanggil namanya. suaminya sendiri Namikaze Naruto. kini Naruto menunduk mendapati Sakura yang tak bergeming dari posisinya. menyentuh lembut bahu Sakura, mengusir keraguan untuk mencoba menyentuh kulit Sakura, melihat ruam-ruam merah yang masih tercetak jelas dikulit Sakura akibat dari pemaksaanya yang brutal kepada Sakura.

"maaf..maafkan aku"

"..."

Jawabnya pelan seolah berbisik. Sakura masih diam

"maafkan aku sakura-chan... aku tak bermaksud menyakitimu"

Setetes air mata mengalir dipipi Sakura. Naruto dengan lembut menghapusnya kemudian dengan perlahan mendekatkan dirinya dan mencium kening Sakura. Sakura masih dengan diamnya. Sakura yang Naruto lihat sekarang adalah sosok Sakura yang begitu rapuh dan kehilangan cahaya hidupnya

"aku mohon maafkan aku Sakura. Aku.. aku akan memperlakukanmu dengan baik. Aku mohon maafkan aku"

Bernarkah apa yang Sakura dengar? Benarkah Naruto meminta maaf padanya? apakah ini hanya ilusi atau mimpinya disiang hari? . sebulir air mata jatuh membasahi pipi Sakura, disusul buliran yang lain seolah semuanya meluap dan mengalir deras begitu saja. muncul kepermukaan begitu saja. rasa sakit, penderitaan yang seakan mencekik rongga dadanya kini muncul kembali

"ssstttt.. jangan menangis, Jangan menangis lagi"

Naruto semakin mempererat pelukanya kepada Sakura. Menghentikan guncangan tangis istrinya, Naruto juga ikut merasakan pedih dihatinya. tangisan Sakura terdengar begitu memilukan dan penuh kesakitan. Naruto terdiam, masih dalam posisi memeluk Sakura. mengusap lembut punggung Sakura, menenggelamkan wajah Sakura dalam dada bidangnya. membiarkan Sakura melampiaskan segala kesakitanya karena perbuatan yang telah Naruto lakukan kepadanya. Naruto menyesali perbuatanya, tangisan Sakura, penderitaan Sakura menjadi cambuk baginya. Namun akankah Naruto melupakan dendamnya kepada Sakura? Yang Sakura sendiri tidak tau hubungam dia dengan masa kecil Naruto?

.

.

.

Naruto tidak ingin menyiksa nuraninya lagi meskipun sebenarnya dia masih menyimpan dendam kepada Sakura. Tapi Naruto sudah memutuskan untuk melupakanya, setidaknya dia ingin memperlakukan Sakura lebih baik dan lebih manusiawi. Dia bahkan selalu menyempatkan waktunya untuk makan malam dan sarapan bersama Sakura. Meskipun potongan lain hatinya mencoba menolaknya. Naruto kini mencoba berinteraksi lebih intens dengan Sakura.. mencoba mendekatkan dirinya kembali dengan Sakura, dengan tujuan yang lain. mendekatkan dirinya dengan Sakura dalam artian lain, tanpa mengingat lagi dendam, tanpa mengingat kembali masa kecilnya yang begitu menderita karena kehilangan sosok ibunya yang begitu dicintai Naruto.

"Sakura-chan.."

Sakura menoleh dan langsung menatap Naruto kedalam irish blue saphirenya.

"hari ini kita makan keluar ya"

Sakura tersenyum, sedikit demi sedikit dia bisa merasakan perubahan akan sikap Naruto kepadanya. Naruto menjadi lebih hangat kepadanya, dan selalu menyempatkan waktu luang untuk bersamanya. Sakura mematut dirinya didepan cermin, memastikan penampilanya tampil dengan baik didepan Naruto setelah sekian lama mereka berumah tangga akhirnya Naruto bersikap hangat kepadanya. Sakura keluar dari kamarnya menuruni tangga dan dia melihat Naruto yang mematung memandangi Sakura. terdiam ditempatnya seolah terhipnotis akan penampilan Sakura.

"Naruto.."

Naruto diam, masih memandanginya dengan intesns

"apa penampilanku aneh?"

"eh.. tidak Sakura-chan. kau tampak cantik"

Naruto terssenyum

"ayo"

Naruto seolah mengisyaratkan Sakura untuk memegangi lenganya. Sakurapun menuruti Naruto, hatinya begitu hangat setelah penderitaan yang dia alami, dan sikap dingin Naruto kepadanya. kini semua telah berakhir, Sakura berharap ini adalah titik awal kebahagiaan dari pernikahanya. Naruto menjadi pribadi yang hangat dan perhatian. Naruto memilih restaurant tempat mereka pertama kali bertemu dulu. Naruto dengan perhatian mengambil kursi untuk Sakura, mempersilakan Sakura untuk duduk terlebih dulu. Sakura melihat sekeliling restauran. tampak sepi kecuali mereka berdua dan pelayan yang lewat. seolah mengerti dengan tatapan bingung dengan tatapan Sakura, Naruto tersenyum.

"aku telah menyewa restaurant ini.. khusus untuk kita berdua"

Sakura merona merah seakan tersentuh. kemudian Naruto menyentuh dan mengenggam jemari Sakura. menciumnya dengan rasa sayang dan tatapan mata yang lembut.

"aku harap kita bisa memperbaiki kesalahan... maksudku.. aku harap aku bisa memperbaiki sikap buruku kepadamu Sakura-chan, menjadi suami yang baik untukmu"

'dan aku harap aku bisa melupakan dendamku padamu Sakura...' Naruto melanjutkan kata-katanya didalam hati. meskipun masih ada rasa sakit dihatinya.

"ya Naruto.."

Sakura berkata dengan tulus. Naruto memetik jarinya seolah memberi isyarat, lalu muncul beberapa pelayan dengan pakaian rapi dengan biola dipundaknya.

"maukah kau berdansa denganku.. Sakura?"

Naruto dengan elegantnya meminta kebersediaan Sakura untuk berdansa denganya. Sakura menyetujuinya, dia menyambut uluran tangan Naruto dan bangkit dari tempat duduknya. Naruto membawa sakura menuju ballroom dengan suasana restaurant yang sedemikian rupa begitu romantis tersaji hanya untuk Sakura seorang. Lilin-lilin yang menambah romantis dan bunga-bunga yang dipajang dengan indahnya. Sang violinistpun mulai menggesek dan memainkan alunan biolanya. Memainka lagu yang begitu romantis menyentuh hati. Naruto dengan gerakan perlahan berdansa dengan Sakura, mereka saling bertatapan. Irish blue saphire bertemu dengan emerald bumi, Sakura menenggelamkan wajahnya dalam dada merasakan suasana malam yang begitu syahdunya malam ini. Sakura bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Naruto. Menyesap wangi tubuh Naruto yang begitu lama dia rindukan, merasakan kembali cintanya yang menghangat sehangat musim semi yang dia rasakan

.

.

"jadi dia isteri Naruto?"

Hotaru mengamati dalam mobil, tampak dari kejauhan Naruto dengan dekatnya menggandeng lengan Sakura. Hotaru melihat dengki kearah Naruto dan Sakura, dia menyeringai dibalik kaca mobil miliknya. 'tenang saja, setelah ini tak akan aku pastikan kau kembali padaku Naruto'. Hotaru tersenyum, senyuman yang keji melihat bagaimana kedekatan Naruto dan Sakura yang baru saja keluar dari restaurant

.

.

Pagi-pagi sekali Sakura sudah bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Bukan seperti sarapan yang biasanya menjadi rutinitas Sakura yang selama ini sendiri berada dimeja makan. Tetapi kali ini berbeda karena Sakura menyiapkan sarapan untuknya dan juga suaminya.

"ada yang bisa saya bantu nyonya?"

"ah tidak nek, aku ingin menyiapkanya sendiri"

Nenek Chiyou tersenyum mendapati majikanya yang begitu bersemangat menyiapkan sarapan untuk tuanya, kemudian nenek Chiyou menuju halaman belakang dan meninggalkan Sakura didapur. Sakura masih berkutat didapur, dia hanya perlu menata dan menyajikan semuanya dipiring sebelum dipindahkan ke meja makan. Sakura mencium bau harum dari oven. Dia mengambil loyang dari oven kemudian menatanya dipiring.

"baunya harum"

Sakura menoleh, dia mendapati Naruto mendekat dan melihat tertarik kearah kue dan makanan yang akan disajikan istrinya itu.

"tapi ini belum selesai, sebentar yah aku buatkan kopi untukmu dulu"

"hmm"

Tanpa sadar, Naruto tersenyum melihat punggung Sakura, mendapati istrinya yang begitu telaten mengurus segala keperluanya termasuk sarapanya. Irish bluenya menyiratkan rasa rindu akan sosok almarhum ibunya. Tanpa sadar, Naruto bisa membayangkan bahwa yang ada didapur sekarang adalah sosok ibunya yang sedang menyiapkan sarapan.

"nah sudah siap, ayo kita sarapan"

".."

Naruto terdiam, fikiranya masih melayang akan khayalanya.

"Naru..?"

Sakura mendapati Naruto mematung seolah memikirkan sesuatu

"eeh.. iya Sakura-chan. Ayo kita sarapan"

Naruto dan Sakurapun duduk saling berhadapan. Sakura menuangkan kopi kedalam cangkir Naruto, kemudian Sakura mengoleskan beberapa lembar roti yang telah dia panggang dengan selai cokelat dan meletakanya dipiring Naruto. Naruto mengambil lembaran roti yang telah Sakura siapkan untuknya dan memakanya, Sakurapun ikut memakanya dan menelanya. Sakura merasakan ada yang bergejolak diperutnya.

"kau tak apa Sakura?"

Sakura memegangi mulutnya yang seakan ingin memuntahkan sesuatu, dia segera berlari menuju wastafel kamar mandi. Naruto ikut menyusul lalu memijit leher istrinya yang memuntahkan apa yang telah dia makan.

"kau masuk angin?"

Sakura membasuh mulut dan wajahnya dengan air yang mengalir, sementara Naruto hanya menatap Sakura dengan perasaan khawatirnya.

"entahlah, mungkin karena.. aku sering bekerja diluar"

Naruto dan Sakura kembali menuju meja makan. Naruto mengambil tas kerjanya, kemudian dia menatap Sakura

"hari ini aku akan lembur, maaf Sakura tak bisa menemanimu makan malam"

Naruto berkata kepada Sakura dan memberitaukanya, Sakura mengangguk. Naruto hendak pergi melangkahkan kakinya, kemudian dia menoleh kembali menatap Sakura

"Sakura-chan"

Naruto menatapnya lamat

"beristirahatalah dan jangan bekerja terlalu berat. bila masih tidak enak badan hubungi aku ya"

Sakura tersentuh akan sikap dan kepedulianya Naruto kepadanya. Tanpa disangkanya Naruto mengecup kening Sakura. Kemudian Sakura menahan pergelangan tangan Naruto saat dia aka pergi

"Naruto"

Narutopun menoleh

"cepatlah pulang"

Naruto hanya mengangguk tersenyum tipis kemudian Naruto melangkahkan kakinya dan pergi. Sementara Sakura hanya menatap kepergian Naruto sambil berharap Naruto cepat pulang.

.

.

.

Sakura memijit keningnya yang terasa pening. Akhir-akhir ini dia sering merasa pusing. Hari ini Sakura bebas tak ada jadwal kegiatan apapun, sebenarnya dia ingin pergi berjalan-jalan menikmati hari ataupun menghabiskan waktunya untuk bercerita dengan sahabatnya Ino. Sakura tersenyum lega Ino sudah dilamar oleh Sai seorang fotographer yang tentu pernah bekerja sama denganya. Sakura memutuskan untuk pergi ke cafe sendiri sambil membeli beberapa bahan makanan yang akan dia persiapkan untuk Naruto. Sakura memilih duduk dipojokan caffe sambil menatap ponselnya

"apa anda Sakura?"

Sakura menoleh saat dia sendiri duduk di cafe dan ada seseorang yang memanggilnya. Seorang wanita berambut bergelombang pirang berkulit putih pucat dan manik mata yang berwarna cokelat

"ada yang perlu kita bicarakan, sebelumnya kenalkan namaku Hotaru"

Sebenarnya Hotaru sangat muak untuk bersikap manis pada Sakura. Ingin rasanya dia langsung menyembur Sakura yang telah merebut Naruto dari sisinya. Tapi Hotaru menahan amarahnya. Karena setelah ini dia pasti akan mendapatkan hadiahnya. Hotaru menyerahkan beberapa lembar foto kepada Sakura

"apa ini?"

"kau lihat saja"

Seketika itu Sakura yakin hatinya hancur. Mencelos dipaksa keluar dengan teganya, menyesakan dadanya, meremuk redamkan dirinya. Dan rasa sesak yang menenggelamkanya mencekik seakan membunuhnya

"ini.."

"ya itu fotoku dengan Naruto. Itu foto asli tanpa rekayasa"

Hati wanita mana yang tak sakit saat mengetahui suaminya tengah mencium wanita lain?

"kau fikir Naruto mencintaimu begitu? Heh tentu saja tidak. Naruto itu miliku, dan apa kau tau kenapa Naruto sering pulang malam? Tentu saja dia menemuiku"

Belum sempat Sakura mencerna semua kejadian menghubungkan kejadian yang ada Hotaru semakin mengiris hati Sakura yang sesungguhnya sudah hancur saat mengetahui kenyataan yang sangat menyakiti hatinya.

"kalian dijodohkan karena keluargamu mempunyai hutang pada keluarga Naruto Sakura. Entah hutang maca apa itu yang mengharuskanmu dijodohkan dengan Naruto aku tak peduli. Sejak awal Naruto tidak mencintaimu Sakura! Dia hanya berpura-pura padamu! Bersandiwara didepanmu!"

Cukup sudah! Sakura sudah tak tahan lagi. Wanita dihadapanya ini dengan lancangnya telah merusak dan membunuh hatinya. Dan dengan semena-menanya membeberkan semua yang dia ketahui

"apa maumu?"

"tinggalkan Naruto"

"baik. Kau akan mendapatkan kembali Naruto, tenang saja aku akan memintanya untuk menceraikanku secepatnya. Permisi"

Hotaru tersenyum penuh kemenangan. Sakura beranjak pergi meninggalkan cafe berusaha menahan air matanya didepan wanita arogant itu. Sakura memegang dadanya terasa sangat sesak

"nyonya"

"kita pulang sekarang"

Supir itu khawatir dengan nyonyanya yang tampak mengkhawatirkan. Baru saja Naruto meminta maaf padanya, baru saja Naruto bersikap manis padanya dan tak mengacuhkanya, baru saja Sakura merasa yakin pernikahanya dapat dipertahankan, bisa diteruskan dan yakin Naruto bisa berubah kepadanya. Tapi semua hilang dalam sekejap, hilang sirna ditelan dusta. Cukup, semuanya cukup Sakura sudah tak sanggup lagi. Sakura sudah tak tahan lagi harus mempertahankan pernikahanya yang hanya memenjarakan dirinya

.

.

TBC

.

.

Yosh akhirnya bisa publish juga.. gomene telat maklum shionn mw un :D. mohon tinggalkan jejak reviews kalian yaak ;)

salam hangat shionn akasuna