Sepasang mata berwarna seperti madu itu menatap kembali ke arah mata berwarna biru cemerlang. Anak laki-laki di hadapannya seperti mengingatkan wanita itu pada masa lalu dan alasannya datang ke tempat ini. Sementara anak yang bersangkutan hanya terpaku di situ. Entah ia harus pergi atau malah berbicara dengan wanita di hadapannya. Kaa-san selalu bilang jangan bicara pada orang asing. But, hey! Sejak kapan Ryuu pernah cukup sadar dan innocent untuk mematuhi kata-kata Kaa-san-nya?
Dan hal yang membuat Ryuu terganggu adalah,'orang ini dadanya seperti mangkuk sup. Besar banget.'
Sayangnya wanita cantik (menurutnya) berambut pirang di hadapannya itu seperti tidak memiliki 'celah' untuk dijadikan nama panggilan. Mungkin, satu-satunya yang bisa dijadikan panggilan adalah...
"Dada Mangkuk..."
Dan dengan itulah pikiran Tsunade tentang anak laki-laki bagai malaikat yang manis hancur berkeping-keping. Ternyata bocah ini lebih menyebalkan daripada Naruto! Aura gelap kembali memancar dari Hokage Konoha itu. Dan kerusakan dalam rumah malang itu bertambah lebar dan memanjang sepanjang koridor yang bagai labirin.
A/N: nami mohon maaf sblumnya cuz dah terlmbt publish. Bagi yg udh tau knapa n komen di status, nami ucapkan trima kasih. Bwt yg blm tau, nami kmaren tu lagi kena flu yg parah bngt =_=" ampe mampet dua2nya tu hdung. Dan, HAPPY (belated) SASUNARU DAY! Sbgai pmintaan maaf, nami beri fan-service chpter yg lbh pnjng. Y udah, langsung aja, ACTION!
Aku masih merasakan suaramu saat kau tidur di sampingku. Aku masih merasakan sentuhanmu dalam mimpiku. Maafkan kelemahanku, tapi aku tidak tahu mengapa. Tanpamu sangatlah susah bagiku untuk tetap bisakah kau merasakan hatiku berdetak—aku tidak mau melepaskanmu. Aku menginginkanmu dalam hidupku(Everytime We Touch-Cascada)
KIZUNA – chapter VII – Life is sorrow, overcome it
Naruto mengedipkan matanya. Ia memang tidak mengharapkan kata-kata lain selain yang sudah ia dengar beberapa menit yang lalu. Matanya yang biru bertatapan dengan oranye gelap yang memancarkan harapan. Ia tahu Tsunade sangat menginginkannya kembali. Mungkin karena ia sudah seperti keluarga bagi sang Hokage. Seperti adiknya. Tapi, ia masih punya cukup alasan mengapa ia tidak bisa meninggalkan tempat ini. Dan lagi...
'Kami akan menikah.'
Hatinya selalu sakit mengingat kata-kata itu. Bukankah dia sudah melupakan Sakura sebagai cinta pertamanya? Dan Sasuke? Naruto tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.
"Naruto," panggil Tsunade.
"Huh?"
"Gaara merindukanmu. Jiraiya, Iruka, Konohamaru, semua teman-temanmu. Bahkan Kakashi juga."
Naruto hanya bisa melihat dinding saat mendengar Gaara. Bagi orang-orang Gaara memang menakutkan apalagi dia adalah Hokage termuda dari Suna. Kedekatannya dengan Gaara membawa banyak keuntungan bagi Negara Api dan Angin, begitu juga untuh Konoha dan Suna. Ia tidak tahu bagaimana respon Gaara saat ia meninggalkan Konoha. Setelah ia menang melawannya saat ujian Chuunin, keduanya bagaikan saudara. Hanya Naruto yang bisa meletakkan tangannya di bahu sang Kazekage tanpa mendapatkan tatapan kematian.
Tsunade melihat reaksi Naruto sejenak dan meneruskan, "Dia sangat khawatir, meski tak banyak orang yang tahu. Dia sangat marah saat kau pergi dari Konoha. Dia menyalahkanku dan dewan Konoha. Apa kau tahu itu?"
Naruto menggelengkan kepala, "Aku tidak bermaksud seperti itu."
"Aku tahu. Karena itu, pulanglah sekarang."
Naruto berjalan menjauh darinya, "Maaf, baa-chan. Aku tidak bisa. Ada sesuatu yang tidak bisa aku tinggalkan."
Tsunade membuat garis datar di lekukan bibirnya. Tak terlihat senyuman atau pertanda emosi. Sejujurnya ia tidak pernah paham benar dengan jalan pikiran Naruto. Terkadang apa yang dilakukan pemuda yang dulunya humoris itu tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. Dan melihat pemuda yang kini tumbuh menjadi seorang pria. Ada sesuatu yang tak bisa Tsunade lihat dalam diri Naruto yang ada di hadapannya.
"Kau berubah."
Naruto melihat ke arahnya dan tersenyum. Senyuman yang sedih dan seperti kesepian. Tapi juga bahagia.
"Aku memang berubah, baa-chan. Aku bertambah tua. Mungkin aku harus minta jurus awet muda milikmu?" ujar pria itu sambil tertawa kecil.
Tsunade hanya tersenyum tipis.
"Naruto."
"Ya?"
"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Ini tentang Konoha," kata Tsunade.
Naruto terdiam sejenak. Ia tidak tahu kemana pembicaraan ini akan berakhir. Ia hanya berharap bukan pada satu topik yang ia tak ingin bahas.
"Apa itu?"
Tsunade menghela nafas berat, "Tentang jabatanku sebagai Hokage."
Sang Uzumaki merasa kepalanya bertambah berat. Ia memijit keningnya tanpa ia sadari. Tepat pada topik yang ia pikirkan beberapa detik lalu.
"Ada apa dengan itu? Bukankah kau masih Hokage dan tidak ada yang bisa menggantikanmu?" balas Naruto seraya melipat tangannya.
Tsunade menatap sepasang mata sapphire, "Kau dan aku tahu, aku tidak bisa selamanya memegang jabatan itu."
"Bukankah masih ada Jiraiya? Atau Kakashi? Atau sang Uchiha Tera—"
Tsunade mengepalkan tangannya dan menghantamkannya ke tembok terdekat, "NARUTO UZUMAKI!"
Naruto hanya terdiam.
"Kenapa kau selalu menyebut nama brengsek itu? Orang itu hanya membawa kesedihan! Pembunuh, pemberontak! Aku tidak cukup bodoh untuk memberikan jabatan Hokage untuknya!"
Naruto kembali berbicara dengan nada rendah, "Bukankah dewan Konoha akan lebih senang daripada Kyuubi yang memerintah Konoha?"
"KAU BUKAN KYUUBI! Aku tidak peduli apa yang para tua bangka itu katakan! Aku ingin kau menjadi Hokage! Karena itu aku mohon, pulanglah, Naruto."
Pria berambut cerah itu melihat ekspresi memohon sang Hokage. Ia tidak ingin melihatnya seperti itu. Ia hanya tidak ingin kembali. Apakah itu sangat sulit untuk dilakukan? Dia hanya ingin menjadi egois untuk pertama kalinya. Ia tidak peduli jika ia terlalu pengecut untuk tidak menghadiri pernikahan Sasuke dan Sakura nantinya. Lagipula dunia tidak tahu tentang kebenaran Ryuusuke dan Hikari. Dan dunia tidak perlu tahu.
"Aku tidak bisa, baa-chan."
"Naru—"
Naruto menatapnya tajam dan menggelengkan kepalanya. Dalam sekejap pria itu meninggalkan ruangan dan Tsunade yang masih menatap kosong ke arah pintu.
I am chocolate line break. Mmm, dark chocolate is the best. White chocolate too.
Di suatu sudut jalan berdiri kedai minum. Hari beranjak sore sekarang. Para gagak bernyanyi menyambut langit merah. Cahaya temaram sore itu menembus jendela kayu. Kedai itu tidak terlalu ramai karena tempatnya yang tidak strategis. Yang ada di dalamnya hanyalah para pelanggan setia kedai. Pemilik kedai sudah tua dan hanya memiliki dua orang anak perempuan yang ikut membantu di kedai itu.
Dua sosok yang saling berhadapan di salah satu sisi kedai adalah Kakashi dan Kiba. Mereka kini mencari petunjuk. Chakra Hokage yang menembus paksa pintu gerbang rumah besar Aozora tidak terlewat bagi mereka. Pasti ada sesuatu yang salah hingga Hokage-sama harus turun tangan dan pergi ke desa terpencil ini.
Kakashi tetap tidak beranjak dari tempat duduknya ketika pedang tajam saling bersentuhan dengan lehernya.
"Ara, Ran-san memang menakutkan," ujar Kakashi sambil tersenyum.
Wanita berambut gelap itu menyipitkan matanya yang hijau, "Tidak mungkin kau yang melakukannya."
Kiba yang posisi Kakashi hanya membuka menutup mulutnya. Ia tidak tahu bagaimana Ran datang dan menghunus pedang itu tanpa mereka rasakan kehadirannya. Dan komentarnya adalah, "Kau bukan manusia!"
Ran mengembalikan pedang itu kedalam tempatnya dan mengangkat bahu, "Kalau begitu, aku vampir saja."
"Hahaha, lucu sekali, Ran-san," tambah Kakashi.
Kiba memutarkan bola matanya. Memangnya vampir itu ada? Kiba menatap wanita itu sejenak, "Lalu kenapa kau kemari?"
Ran menghela nafas, "Ada yang ingin kukatakan pada kalian. Kalian boleh bertanya. Tapi, aku akan menjawab apa yang perlu aku jawab dan tidak menjawab yang tidak perlu aku jawab."
Kedua pria di hadapannya mengangguk dan Ran kembali menghela nafas.
"Aku mengenal Naruto dari dulu. Bahkan saat ia masih seorang bayi mungil. Aku selalu mengawasinya dari jauh. Karena—"
Kiba mengedipkan matanya, "Kau benar-benar vampir?"
Ran merasa ingin mencekik pemuda itu, "Aku bercanda tentang vampir itu. Aku bukan vampir. Aku hanya sesuatu yang seharusnya tidak diciptakan di dunia ini."
Kakashi terdiam sejenak, "Lanjutkan."
"Masa laluku tidaklah penting. Tapi, sedikit banyak itu ada hubungannya dengan Naruto. Kalian pasti tahu tentang Kyuubi?"
Keduanya mengangguk.
"Kyuubi-sama adalah seorang siluman yang hebat*. Seperti Jinchuuriki yang lainnya dia memiliki kekuatan yang kalian sebut Chakra. Dan karena tingkatannya yang ke sembilan membuatnya memiliki Chakra tak terbatas*. Aku benar-benar terkejut saat mendengar seorang Uchiha mengendalikan Kyuubi-sama dengan Sharingannya. Ia pasti memiliki suatu kekuatan yang tidak berasal dari dunia ini. Karena aku tahu Kyuubi-sama tidak semudah itu ditaklukan. Aku juga melihat ketika Kyuubi-sama disegel dalam tubuh Naruto.
"Kyuubi-sama selalu hidup dalam tubuh Uzumaki itu. Dan dia selalu ingin keluar dari segel itu berkali-kali. Tapi, aku tidak selalu berada di Konoha—"
Kali ini Kakashi yang memotong, "Karena ada seseorang yang membutuhkanmu?"
Ran tidak berkomentar dan mengangguk, "Aku bertemu lagi dengan Naruto bertahun-tahun lalu setelah kehancuran istana melayang itu."
Kakashi mengedipkan matanya, "Kau tahu?"
Ran mengangguk lagi, "Aku bisa mendengar panggilan Kyuubi-sama saat itu. Aku tidak tahu apa yang direncanakannya saat mempertemukanku kembali dengan Naruto. Tapi, aku mengerti sebulan setelah kejadian itu."
Kiba menutup matanya dan berpikir, "Hmm, kemudian Naruto pergi—Ja-jadi selama ini Naruto—"
Ran menghela nafas, "Ya, dia bersama kami selama delapan tahun ini."
"Kenapa kau tidak memberi tahukannya pada kami secepatnya?" teriak Kiba.
Ran menatapnya dengan pandangan kosong, "Dan membuat semua jerih payahnya meninggalkan Konoha dan mengubur kenangannya menjadi sia-sia? Aku rasa tidak. Aku bahkan tidak peduli bila harus membunuhmu sekarang karena membuatnya sedih. Kyuubi-sama mungkin tidak sensitif terhadap emosi manusia, tapi dia peduli pada Naruto. Begitu juga aku."
Kiba merasa benar-benar marah. Ia sudah bersiap mengumpulkan Chakra di kepalan tangannya dan mengambil kunai saat Kakashi mencegahnya, "Kiba duduklah. Kita belum selesai mendengarkannya."
Ran mengangguk ke arah Kakashi, "Aku ingin memberi tahu bahwa 'ayah' Ryuusuke dan Hikari adalah Sasuke Uchiha."
"Hmm, ternyata memang benar. Ini bisa menghentikan para dewan itu dan pernikahan mereka. Kau sengaja menyewa kami karena kau memiliki rencanamu sendiri? " timpal Kakashi.
"Ya. Aku memiliki rencanaku. Dan sayangnya, seseorang sudah menghancurkan rencana itu dengan memberitahukan keberadaan Naruto kepada Tsunade," ujar wanita itu sambil mengerang. Mengingat kembali lengannya yang nyaris patah dalam genggaman maut sang Hokage.
"Kau kenal Hokage-sama?" tanya Kiba.
Ran melihatnya dengan tatapan 'kau bodoh? Tentu saja aku mengenalnya'. "Aku memang mengenalnya, " ujarnya.
"Kalau kau bukan vampir, lalu kau apa? Jangan-jangan kau salah satu pengikut Orochimaru?" tanya Kiba sekali lagi.
Ran mendesis, "Maaf saja, aku bahkan tak sudi melihat wajah ular tak bergender itu. Dan untuk pertanyaan yang pertama aku sudah menjawabnya."
"Lalu bagaimana Naruto bisa 'memiliki' Ryuu dan Hikari?"
Ran menoleh ke arah Kakashi, "Untuk itu aku akan menjawab yang sejauh aku tahu. Saat fetus (bayi) mulai berkembang ia akan di tempatkan dalam rahim ibunya dan dilindungi di sana. Tapi, ada juga kehamilan yang terjadi di luar rahim*. Kehamilan ini terjadi di rongga tubuh sang ibu. Pada umumnya bayi akan mati setelah atau kurang dari tiga bulan karena dalam rongga tubuh ibu mereka tidak mendapatkan asupan gizi.
"Tapi, Kyuubi-sama selalu memiliki jalan untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin. Dengan Chakranya dia membuat tempat untuk fetus itu berkembang di dalam rongga tubuh Naruto. Aku yakin pasti sangat tidak mudah baginya. Karena resiko yang ia tanggung lebih besar. Jika bayi itu berkembang dalam rongga tubuh, mereka akan mendesak organ dalam Naruto. Itu bisa membuatnya meninggal karena sesak. Kyuubi-sama berhasil membuat ruang untuk bayi itu tanpa memaksa organ dalam Naruto berpindah. Meski begitu, aku masih mengingat saat dia berusaha menahan rasa sakit setiap Kyuubi-sama 'menata ulang' bagian dalam tubuhnya."
Ran menghela nafas panjang, "Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa dia mau mempertahankan bayi itu. Aku masih mengingat betapa keras kepalanya dia."
Kakashi tertawa mendengar itu, "Hmm, kau benar."
"Lalu bagaimana kita membuktikannya? Kalaupun Naruto mau pergi ke Konoha aku yakin dia tidak mau ada orang yang tahu bahwa si kembar itu adalah seorang Uchiha," kata Kiba dengan nada khawatir.
"Aku tahu bagaimana caranya. Tapi, kalian harus meyakinkan Hokage kalian itu terlebih dulu. Aku tidak mau mati sia-sia ditangannya, " jawab Ran.
"Baiklah," Kiba mengangguk.
Ran berdiri dan meninggalkan kedai itu. Hanya satu orang yang bisa melakukan itu. Kiba dan Kakashi tidak cukup bodoh untuk memberi tahukan keberadaan Naruto begitu saja pada Tsunade. Apalagi si Uchiha, dia terlalu 'sibuk' dengan usahanya. Orang berambut merah jambu itu...
I am KAITO line break. I like blue. I like ice cream.
Wajah muda itu penuh dengan keringat. Nafas anak perempuan itu menderu seperti kuda saat berlari. Matanya terbuka dan biru cemerlang di bawah bayangan pohon. Tangan kanannya mengusap rambutnya ke belakang telinga. Ia menoleh ke atas saat orang yang sangat ia kenal memberikan botol air minum.
"Minum. Kau sudah berlatih dengan keras," ujar laki-laki itu seraya mengusap kepala anak itu.
Hikari tersenyum lebar mendengar itu. Setiap latihannya dengan Kaa-san memang juga akan berakhir seperti ini. Duduk di bawah pohon dengan air minum dan mendapat pujian atas kerja kerasnya. Tapi, entah kenapa, ada perasaan bangga yang lebih saat ia mendengar pujian itu keluar dari mulut Sasuke. Sentuhan tangan yang hangat dan besar di kepalanya seolah membuatnya teringat dengan Kaa-san. Seandainya saja Kaa-san berteman baik dengan Sasuke.
Sementara itu Sasuke segera duduk setelah memberikan minuman. Ia melihat Uchiha kecil di hadapannya. Ya, dia memang seorang Uchiha. Sejujurnya Sasuke masih kaget saat pertama kali melihat mata biru itu berubah menjadi merah. Ya, waktu Hikari diteriaki oleh bocah-bocah itu. Ia tidak tahu apakah setiap kelahiran tanpa mata abu-abu seperti miliknya bisa memunculkan Sharingan. Tapi, buktinya anak perempuan ini memilikinya. Dan sifat, penampilan, apalagi senyumnya mirip dengan Naruto. Mungkin, dia terlalu berharap tapi, ia benar-benar yakin sekarang bahwa anak kembar menyebalkan ini darah dagingnya.
Yah, hasil dari 'kegiatan' malam hari bersama Naruto bertahun-tahun silam. Dia mengerang dengan suara rendah saat mengingat itu.
"Sasuke?" Hikari memanggilnya. "Kenapa? Mukamu sedikit merah."
Dia ingin menendang dirinya sendiri sekarang. Meski malam itu sudah berlalu sejak lama, sesuatu dalam dirinya berteriak ingin melakukannya lagi. Setelah bertahun-tahun memburu kakaknya ia tidak pernah tertarik pada manusia lain seperti ini. Dan sekarang tubuh dan otaknya bereaksi karena telah menemukan target yang harus ia kejar. Ada saatnya ketika dia memiliki mimpi yang sangat 'menyenangkan'. Dia melihat ke arah Hikari sejenak dan mengatur pikirannya kembali.
Sasuke baru saja menerima kepercayaan anak perempuan itu. Ia juga terlepas dari nama julukannya. Hanya saja itu berlaku hanya saat Hikari menyelinap berlatih dengannya. Ia membiarkan Hikari memanggilnya dengan nama kecilnya. Toh, hubungan ayah-anak mereka berdua belum terbukti. Jika saja Naruto mau menjawab pertanyaannya.
"Aku tidak apa-apa, Hikari."
Hikari mengerucutkan bibirnya dan mengangguk, "Ya sudah. Ne, ne, Sasuke."
"Hmm?"
"Aku hanya ingin tahu. Kenapa Kaa-san sangat tidak suka denganmu. Dia bahkan melarangku dan Ryuu-chan dekat-dekat denganmu."
Yang ditanya hanya menghembuskan nafas panjang, "Kau sudah tahu 'kan? Aku punya masalah dengan Kaa-san-mu itu."
Hikari mendekatkan jari telunjuknya di bibir, "Iya sih. Tapi, tapi, tinggal minta maaf saja selesai, 'kan?"
"Hmm, seandainya saja memang semudah itu aku sudah lakukan sejak dulu, Hikari," ujar Sasuke sambil mengelus rambut ana itu sekali lagi.
"Memangnya Kaa-san sangat-sangat marah ya?"
"Dia bahkan tidak mau mendengar ucapanku."
Sasuke melihat ke arah Hikari. Anak itu terlihat berpikir keras dengan jari telunjuk yang tidak turun dari depan bibirnya. Laki-laki itu tidak ingin Hikari ikut-ikut memikirkan masalahnya. Lagipula, apa yang akan terjadi seandainya mereka memang benar-benar ayah dan anak? Hmm...
"Hikari," panggil Sasuke.
"Ng?"
Sasuke menutup matanya sejenak, "Seandainya saja kau punya keluarga yang lengkap—"
Hikari melihat ke arah Sasuke, "Maksudnya juga punya Tou-san?"
Sasuke mengangguk pelan.
"Yeiy! Tentu saja aku mau. Tapi, tidak boleh sembarang orang bisa jadi Tou-san-ku," ujar Hikari sambil bermuka serius.
"Kenapa?"
Hikari melipat tangannya seraya tersenyum bangga, "Kaa-san sangat kuat! Syarat pertama orang itu harus bisa mengalahkan Kaa-san. Karena orang yang lebih lemah dari Kaa-san itu tidak berguna."
Entah harus senang atau tidak. Mungkin Sasuke menang dalam pertarungan Ninjutsu dengan Naruto. Tapi, kalau dengan tangan kosong, dia tidak terlalu yakin. Hey, dia tidak mungkin bisa kalah. Dia seorang Uchiha 'kan? Yap, pasti bisa!
Hikari mengangkat telunjuk dan jari tengahnya, "Kedua, dia harus sayang dan bisa membuat Kaa-san senang. Kalau tidak, orang itu akan Ryuu-chan jahili habis-habisan."
Okeh, aura agak gelap mulai merambah. Ternyata memang yang paling penting adalah bocah laki-laki itu. Bagaimana caranya Sasuke mendekatinya? Belum satu meter saja baik Ryuu atau Sasuke sudah saling mendesis.
Kali ini Hikari menambahkan satu jari, "Yang terakhir dan ketiga, orang itu bisa membuat aku dan Ryuu-chan senang."
Syarat yang sedikit sulit. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang Uchiha. Ya 'kan? Sasuke sudah mendapatkan hati Hikari. Tinggal bagaimana caranya mendapatkan hati Ryuu. Itupun kalau dia bisa –minimal- berbicara dengan si bocah. Dia ingin mendapatkan satu keluarga sebagai miliknya sendiri. Jadi, apapun yang menjadi syarat akan dia lakukan. Apa yang Uchiha inginkan pasti dan harus dia dapatkan.
Mata abu-abu gelapnya menata langit dengan tajam. Tangannya juga mengepal seraya dia mengucap janjinya itu kepada sang langit biru.
Sepanjang sore itu Hikari terus bertanya dan dengan sabar menunggu jawaban Sasuke tentang tempat tinggalnya di Konoha. Sasuke berharap dengan itu Hikari akan tertarik dan bisa meyakinkan Naruto untuk mengunjungi atau bahkan kembali menetap di Konoha. Setiap kata-kata pendek yang keluar dari mulut ninja Konoha itu membuat mata biru Hikari semakin girang dan berkilau. Di dalam pikiran anak kecil itu adalah betapa indahnya Konoha. Ia tidak pernah sekalipun meninggalkan desa kecil ini. Mungkin hanya untuk kali ini saja, ia akan memohon Kaa-san-nya agar diijinkan pergi.
I am Earth line break. Every living things lives in me. But humans always hurting me...
Seperti biasa. Malam yang sibuk setelah makan malam. Sejak kedatangan tim Konoha, Naruto selalu tinggal di dapur untuk makan malam. Dia sudah punya cukup alasan kenapa dia tetap di dapur. Dan setelah pernyataan Sakura, ia kini memiliki alasan yang lebih banyak lagi kenapa dia harus tetap duduk di dapur. Dia bukan pengecut. Dan selama ini dia selalu menghadapi apapun yang terjadi. Tapi, baru kali ini dia mengerti kenapa terkadang seseorang harus sembunyi daripada menghadapi situasi sulit.
Mungkin, tumbuh besar dan tua tidak terlalu buruk. Mata birunya melihat ke arah jendela. Ia tidak melihat Hikari atau Ryuu sepanjang sore. Sebenarnya dia sangat khawatir. Naruto beranjak dari tempatnya duduk dan menaruh mangkuk di meja. Dia berjalan menyusuri lorong besar rumah itu. Berjalan perlahan dan memerhatikan keberadaan Chakra yang harus ia hindari. Seseorang mendekat ke arahnya dan Naruto segera menoleh.
"Ne? Naruto?" ujar Ageha.
"Ah, Ageha-chan."
Ageha menaikkan alisnya, "Kenapa? Mencari si kembar lagi?"
Naruto tersenyum, "Begitulah. Mereka selalu menghilang."
"Aku melihat Hikari di danau tadi sore. Tapi, aku tidak tahu dimana Ryuu," ujar Ageha.
Naruto mengangguk dan masih tersenyum, "Terima kasih."
Melihat Naruto bergegas pergi Ageha tersenyum jahil dan menutup mulutnya, "Ups, aku lupa memberi tahu tentang Sasuke-kun."
Sayangnya Naruto tidak mendengar kata-kata itu karena dia terlalu sibuk dengan pikirannya. Yang ia pikirkan hanya menemukan si kembar pembawa masalah yang tak lain adalah anaknya.
Perjalanannya tidaklah lama ketika kilau air danau berkelip di bawah sinar bulan. Di sekitar danau itu memang banyak pohon besar. Tak ada cukup penerangan di sana. Tapi, ketika bulan sedang terang benderang keadaan sekitar terlihat lebih jelas. Juga sosok mungil yang berlari ke arahnya.
"Kaa-san!" teriak sosok itu.
Mata birunya terlihat senang mendengar suara itu. Hikari menghempaskan tubuh kecilnya ke Naruto dan memeluk pinggangnya. Naruto mengangkat wajah anaknya dan mencubit kedua pipinya.
"Kau membuat orang khawatir saja. Kemana saja kau, hmm?" ujarnya dengan suara rendah dan terlampau 'manis'.
"Awwh—"
Suara lain menjawab Naruto, "Dia bersamaku."
Mata berwarna sapphire bertemu dengan obsidian. Naruto menyipitkan matanya ketika melihat Sasuke. Dan segera melihat ke arah Hikari, "Kaa-san sudah bilang jangan dekati dia lagi, Hikari."
"Tapi, Kaa-san—"
Sasuke menghela nafas, "Dia membutuhkan seseorang untuk melatih Sharingan-nya, Dobe."
Yang dipanggil melemparkan tatapan dingin, "Kita pulang, Hikari."
Belum sempat berjalan jauh sang Uchiha menggenggam lengannya, "Aku belum mendapatkan jawabanku, Naruto."
Pria itu terdiam dan membuka mulutnya, "Hikari cari kakakmu."
Anak perempuan itu benar-benar bingung sekarang. Kenapa situasinya jadi begini? Kaa-san kelihatan sedang menahan dirinya. Bagaimana kalau Sasuke terluka gara-gara amukan Kaa-san-nya? Sasuke adalah orang baik yng mau membantunya dengan 'mata'nya itu. Tapi, mungkin lebih baik dia pergi menjauh. Hikari mengangguk dan berlari menuju rumah besar.
Hening lagi-lagi terasa. Tekanan atmosfir di sekitar kedua orang itu terasa berat. Sejak pengakuan Sakura, Naruto menjadi lebih dingin padanya. Meski dia hopeless tentang cinta dan kasih sayang, tapi instingnya mengatakan si Uzumaki yang ada di hadapannya masih memiliki rasa sayang padanya. Entah hanya sebagai teman atau lebih. Mungkin lebih.
Sang Uchiha sedikit bingung jika sudah seperti ini, karena dia selalu menjadi pendengar dan pemberi respon pada apa saja yang Naruto katakan. Untuk mengawali pembicaraan terasa sedikit sulit jika lawan bicaramu bahkan tak mau melihatmu. Dia benar-benar terlihat tidak peduli pada Sasuke.
"Naruto—"
"Aku tidak ada urusan lagi denganmu, Uchiha. Meski kau panggil Tsunade sekalipun kesini aku tidak akan mau kembali dan tidak akan pernah kembali."
"Tapi, mereka juga bagian dariku."
Naruto terdiam mendengar itu.
"Ryuu dan Hikari. Mereka adalah seorang Uchiha. Mata Hikari membuktikan itu—"
Naruto melihat kearahnya, "Siapa bilang mereka 'Uchiha'? Mereka milikku! Mereka adalah Uzumaki. Uzumaki Ryuusuke dan Uzumaki Hikari."
Sasuke benar-benar ingin membenturkan kepalanya sendiri. Naruto memang keras kepala.
"Lalu bagaimana kau jelaskan Sharingan itu? Apa mereka itu 'milik' Itachi? Aku tahu kau tidak akan melakukan itu dan Itachi—"
"Kalau iya kenapa? Kalau tidak kenapa? Itu bukan urusanmu!" potong Naruto.
Sasuke membuka mulutnya, "Mereka itu anakku, ya 'kan?"
"Kalaupun memang iya, kau tidak berhak lagi atas mereka. Dulu kau tidak peduli. Kau tidak tahu. Apa bedanya dengan sekarang? Lagipula 'ayah' mereka sudah mati bagiku," ujar Naruto dengan tatapan dingin.
"Tapi, aku tidak tahu—"
Naruto memotong kata-kata Sasuke lagi, "Kau memang selalu tidak tahu. Atau mungkin tidak mau tahu."
Keduanya kembali terdiam dan genggaman di lengan Naruto merenggang. Naruto menarik kembali lengannya dan berjalan pergi meninggalkan Sasuke. Sekali lagi pertemuan mereka hanya berlalu dengan pertengkaran. Usahanya terasa sia-sia sekarang. Tapi, jika dia menyerah, selamanya dia tak akan pernah memiliki 'keluarga' yang ia idamkan. Keluarga yang Itachi rebut begitu saja demi dirinya. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Sasuke menatap punggung itu semakin samar dalam gelap malam. Ya, dia tidak akan menyerah.
I am ramen line break. You know who is the one that really-really likes me, ne?
Makan malam berikutnya Naruto tetap menyendiri di dapur dan menyuruh orang lain yang mengantarkan makan ke ruang makan. Dia tahu semua orang akan ada di sana. Dan seperti anak yang baik, Hikari menemani Kaa-san-nya. Dan Ryuu kembali menghilang. Mungkin sedang berlatih atau apa.
Sementara itu di ruang makan yang cukup besar itu semuanya memang sedang berkumpul. Bahkan Paman Ageha yang kebetulan baru pulang dari Suna bersama dengan anak laki-lakinya juga berada dalam ruangan itu. Aozora Kantarou adalah kepala keluarga klan Aozora saat ini. Sebenarnya sedikit banyak dia tahu tentang masalah apa yang disembunyikan 'keponakan'nya, Ageha. Tapi, ia tidak menyangka kalau masalah itu menyebabkan Hokage dari Konoha hingga repot-repot datang ke rumahnya.
"Jadi, di sini saya hanya akan menarik kembali ninja Konoha yang sudah di sewa untuk mengantar Ageha-san pulang," ujar Tsunade.
Pria berambut biru tua itu menghela nafas, "Ya, saya mengerti. Maaf sudah merepotkan."
Tsunade melihat masing-masing ninja Konoha. Baik Kakashi, Kiba, Sakura, atau Sasuke masih terdiam dan memasang wajah datar. Tapi, di antara mereka berempat Sakura terlihat terlalu 'banyak' bergerak. Tsunade menghilangkan kecurigaannya dan kembali menatap sang kepala keluarga.
"Dan saya ingin Naruto Uzumaki kembali bersama kami ke Konoha."
Kantarou terlihat tidak senang dengan nada Tsunade, "Kenapa?"
"Karena dia adalah ninja Konoha."
Mata emerald gelap Kantarou menyipit, "Sejauh yang aku tahu dia bukanlah ninja Konoha ketika pertama kali dia tiba di sini."
Mata amber Tsunade juga menyipit dan menatap tajam Ran yang duduk tak jauh dari kepala klan Aozora. Sedangkan wanita berambut gelap itu tidak bereaksi apa-apa dan tetap memandang kosong ke arah Tsunade.
"Setelah semuanya berlalu dan anak itu mendapatkan kebahagiaan di sini, kau ingin mengambilnya kembali bersamamu?" ujar Kantarou.
Tsunade tidak menjawab ketika pria tua itu melanjutkan, "Mungkin aku tidak tahu masa lalunya. Tapi, aku tahu dia menderita saat pertama kali menginjak pintu depan rumah Aozora. Meski kalian adalah para ninja aku tak akan segan mengangkat pedangku demi pemuda itu. Seharusnya sebagai seorang pemimpin kau bisa lebih melindungi rakyatmu."
Tsunade tidak sempat angkat bicara saat Kantarou menangkat tangannya. Isyarat untuk tidak memotong pembicaraannya, "Aku tahu kau lebih mendahulukan rakyat luas daripada satu individu. Tapi, aku tidak bisa membiarkan dia kembali karena perintahmu, Tsunade-sama. Biarkan dia memilih."
"Dia bahkan tidak mau membiarkan kami bicara padanya, " ujar Kiba.
Ran membuka matanya yang beberapa saat lalu di tutup dan memandang ke arah Sasuke kemudian ke arah Sakura, "Tapi, aku rasa itu masalah kalian para ninja Konoha kenapa 'mantan' teman kalian, Naruto, tidak mau mendengarkan kalian. Kami tidak bisa menyuruhnya pergi begitu saja karena dia sendirilah yang telah meninggalkan Konoha dan kalian semua."
Sasuke merasakan pandangan dingin itu. Matanya menoleh ke arah wanita berambut merah jambu di sebelah Tsunade. Amarahnya kembali hidup ketika mengingat apa yang sudah Sakura katakan pada Naruto. Kini Kiba dan Kakashi juga melihat ke arah Sasuke. Sudah pasti mereka juga mengetahui apa masalahnya. Seandainya saja Naruto bisa kembali terbuka dan memaafkannya. Tapi, memaafkan apa yang sudah dia lakukan tidaklah mudah. Sasuke berpikir, seandainya saja dia berada dalam posisi Naruto mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama.
Sisa waktu makan malam itu terasa kembali membawa aura gelap dan berat. Tak ada seorang pun yang berani angkat bicara. Satu persatu orang dalam ruangan itu pergi karena merasa tidak lapar setelah apa yang mereka bicarakan. Tsunade sendiri terlalu sibuk berpikir apa yang harus dia lakukan. Karena dia tidak bisa berlama-lama tinggal. Kakashi dan Kiba juga sibuk memikirkan rencana untuk membantu masalah itu agar cepat selesai.
Sementara Sakura?
Dia berjalan ke arah kamarnya di rumah itu. Bibirnya menggigit ujung jarinya. Dia sedang berpikir keras. Kini masalah Naruto semakin membuatnya pusing. Terlalu banyak orang yang peduli dengannya. Bahkan Tsunade hanya melemparkan pandangannya satu kali kepada Sakura saat makan malam tadi. Dan Sasuke juga menjadi lebih dingin padanya. Kenapa jadi seperti ini?
Sakura terlalu sibuk dengan pikirannya. Dia tidak sadar seseorang mengikutinya dan mendorongnya. Orang itu mengeluarkan pedang dan mengarahkan sisi tajamnya ke leher pucat sang kunoichi Konoha. Mata hijau Sakura tidak fokus sesaat sebelum akhirnya kembali berkonsentrasi. Suaranya seperti tercekat saat mengetahui siapa penyerangnya dan kunoichi itu menunjukkan wajah tidak senang.
"Kaulah orangnya", suara itu terdengar sedikit lebih rendah dari biasanya.
Sakura menatap sepasang mata yang tak sama warna pupilnya, "Apa maksudnya ini, Ran-san?"
"Kau yang memberi tahu Tsunade tentang Naruto."
Sakura membuat wajah datar saat mendengar kata-katanya. Dia tetap diam.
"Padahal Naruto menganggapmu sebagai teman. Dia sangat menyayangi teman-temannya. Termasuk kau. Dan Uchiha itu!" desis Ran seraya dia mendekatkan mata pedangnya ke leher Sakura.
Wanita di hadapannya tetap diam dan akhirnya bersuara, "Kau tidak tahu apa-apa. Kau tidak tahu apa pun tentang perasaanku."
Ran serasa meledak amarahnya mendengar itu, "Kau sangat egois. Kenapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Dan kau menyebut dirimu sebagai 'teman' Naruto?"
Sakura menatap tajam Ran, "Egois? Kau menyebutku egois? Naruto lah yang pertama kali suka padaku waktu aku masih genin! Dan saat Sasuke pergi, dia selalu berlatih untuk mengembalikan Sasuke! Sejak saat itu—"
Ran menjatuhkan pedangnya dan menggenggam leher Sakura," Dengarkan aku! Aku tahu semuanya. Tentang cinta monyet Naruto, juga cinta monyet milikmu terhadap Uchiha itu. Tapi, meski dia bodoh. Selalu bertindak sebelum berpikir. Selalu mengedepankan kepentingan 'teman-teman'nya daripada dirinya sendiri. Dia tidak pernah menginginkan balasan apapun. Dia menyayangi kalian semua!
"Dia bahkan sangat menyayangi orang yang sudah membuatnya seperti sekarang! Dan kau! Kau merusak semuanya. Rencanaku. Usaha si bocah Uchiha itu. Kau sangat egois. Kau selalu memikirkan masalah dalam sudut pandangmu sendiri, Sakura Haruno."
Wajah pucat kunoichi itu memerah karena amarahnya memuncak. Dia menggenggam erat pergelangan tangan Ran. Berharap bisa meretakkan atau mematahkannya.
"Kau tidak mengerti! Harusnya Sasuke menikah denganku! Bukankah dia pulang karena—"
Ran tidak membiarkan kata-kata itu selesai, "Apa? Karena apa? Karena dirimu? Kau sebut dirimu teman, tapi membiarkan temanmu menderita. Kau sebut dirimu partner tim, tapi memecah belah tim-mu sendiri? Kau sebut dirimu wanita, tapi kau tidak mau mengerti perasaan orang lain?"
Sakura menutup matanya dan berusaha memfokuskan Chakranya. Suara sesuatu yang retak membuat Ran melepaskan pergelangan tangannya. Wanita berambut gelap itu mendesis dan menatap marah pada lawannya. Kunoichi Konoha itu segera pergi saat melihat Ran memegangi pergelangannya.
Ran menatap koridor kosong seraya berbisik, "Aku tak akan membiarkan Kyuubi-sama atau Ageha kecewa. Permainanmu akan berakhir Haruno."
I am Rapunzel line break. I have very very long hair and I like painting!
Malam tidak begitu larut saat Ryuu mengendap-endap masuk ke dalam dapur. Sebenarnya bukan karena lapar atau apa. Hanya saja, pintu belakang terdekat dan yang jarang di pakai adalah pintu dekat dapur. Daripada pintu lebih tepat di sebut lubang. Anak laki-laki itu sedang dalam mood yang tidak enak.
Langkahnya yang ringan tidak membangunkan siapapun yang kamarnya dekat dengan dapur atau koridor yang ia lewati. Beberapa kamar memang masih menyalakan lampu. Meski beberapa sudah gelap, yang artinya mereka sedang tertidur.
Ryuu berlatih sendirian seperti biasa sejak sore. Dia terlalu ingin tahu sehingga setelah berlatih dia menjelajah hutan dekat gunung. Meski dia tidak ingin mengakuinya, dia sempat tersesat sebelum akhirnya menemukan jalan yang ia kenal dan menuju ke arah danau. Semuanya baik-baik saja sebelum dia melihat Kaa-san-nya, Hikari, dan si Pantat Bebek itu. Ryuu tidak terlalu bisa mendengar percakapan mereka. Tapi, ia bisa melihat Hikari di suruh pulang terlebih dahulu. Ryuu berniat mengikuti adik kembarnya untuk pulang ketika melewati Naruto dan Sasuke yang sedang berbicara.
Ryuu masih ingat. Kata-kata si Pantat Bebek tentang 'Sharingan'. Ryuu hanya mengangkat bahu dan berjalan saat itu sebelum terhenti karena hardikan Naruto.
"...Itu bukan urusanmu!"
"Mereka itu anakku, 'kan?"
Kata-kata itulah yang membuat Ryuu serasa membeku di tempat. Dia melihat wajah Kaa-san-nya yang datar. Dia juga mendengar Kaa-san-nya tidak menjawab secara langsung. Tapi...
Ryuu kini mengendap ke dalam kamarnya. Pikirannya masih berkecamuk. Meniti anak tangga kayu dengan perlahan, dia masih mengerutkan kedua alisnya. Seandainya saja si Pantat Bebek itu memang 'ayah'nya, kenapa Kaa-san-nya tidak senang melihatnya? Dan lagi jika memang pernyataan si Pantat Bebek itu benar, kenapa Kaa-san-nya berbohong bahwa Tou-san mereka sudah meninggal?
Apa Kaa-san sangat membenci orang itu? Apa karena itu dia berbohong?
Ryuu masuk ke dalam kamarnya dan melihat ke arah kaca kecil yang tergantung di dinding. Bayangan anak laki-laki berambut gelap dan bermata biru elektrik balik memandang ke arahnya. Ujung jari Ryuu menyentuh permukaan kaca itu. Kulitnya yang tidak sama dengan Kaa-san. Sifat pendiamnya yang berbeda dengan Hikari. Dan rambut gelapnya yang sebagian menjuntai di masing-masing sisinya.
Ryuu mengerutkan alisnya dan bermuka masam. Dia melihat ke sekeliling kamarnya dan melihat handuk kecil yang dilipat rapi di samping tempat tidurnya. Ia meraih handuk itu dan melipatnya. Dia mengikatkan handuk itu seperti hitai-ate* si Pantat Bebek. Mata birunya melebar sejenak sebelum dia secara tidak sadar berjalan mundur. Di terduduk di tempat tidurnya dan membiarkan handuk itu tergeletak di lantai.
Hanya satu dalam pikirannya, 'Kenapa? Kenapa begini?'
Random facts:
- lagu Cascada yg jdulny Everytime We Touch yg nami jadikan Quote kali ini adlh lagu yg di jiplak nada reff-nya ama pembuat lgu dangdut cinta satu malam. Dngarkan nadanya dan liriknya baik-baik. Kemiripan lirik juga ada... =_=" lagu bagus malah jadi dangdut. Miris bngt dngernya, aplgi nadany yg bner2 mrip. Yg bkin CSM ga kreatif. Bwt penggemar dangdut, nami minta maaf aja dah. Tapi, itu kenyataan lho.
*) di sini, Jinchuuriki bkan sembarang 'hewan berkekuatan' tpi mreka semacam siluman. Jadi jgn kaget klo ad perbedaan dng versi aslinya (versi komik).
*) Chakra tak terbatas Kyuubi memang ad. Sayangnya ad yg aneh di 'Naruto'. Mungkin Sharingan mmng hebat karena Uchiha adlh kturunan dr pendeta yg mnyegel Juubi. Tpi, Chakra tak terbatas tu spt Black Hole n mnurut nami sehebat apapun ninja/ Uchiha dgn Sharingan-nya ga mungkin bisa 'mngendalikan' Kyuubi. Cuz para Uchiha itu kekuatannya ga sama dgn pendeta penyegel Juubi. Pemisalannya adalah menggeser Black Hole dengan kekuatan Matahari. Belum bisa menggeser aja mungkin Matahari bkal termakan dluan ma Black Hole.
*) kehamilan di luar rahim itu ADA dan sudah beberapa KALI TERJADI di dunia nyata. Tmen nami pernah tanya, n jwbn guru biologinya persis sperti pnjelasan nami (kecuali ttg Kyuubi-nya, itu rekayasa :P). Bahkan katanya di Amerika sdh mengembangkan suatu teknik supaya cwok bisa hamil. Tpi, itu cm rumor yg nami dpet dri tmen. Entah bner apa ga...
*) Hitai-ate; ikat kepala ninja. Nami ragu ama pengejaannya. Bner apa nggak ya? =_="
Review answer:
Q: gimana caranya naru pregnant?
A: udah dijwb kan? ^^ kalo masih ad yg penasaran, utk lbih jelasny bisa tnya lewat PM.
Q: gimana tampilan naru di fict ini?
A: silakan kunjungi fb nami dgn foto album KIZUNA (bner ga ya? Lupa -,-) disitu ada gmbr naru versi KIZUNA. Ga perlu di-add jg ga apa2. Albumnya ga nami 'hide'.
Q: tulisan yg ditengah itu apa?
A: pertanyaan ini jg agk bkin bingung. Yg dicetak tebal atau yg berhruf miring? Kalo yg bercetak tebal itu utk penanda pergantian scene. Kalo yg bercetak miring itu utk ptongan lagu yg nami rasa satu tema dgn isi chpter yg bersangkutan.
Dan untuk mreka yg log-in, nami berusaha mnjwb pertanyaan klian dgn PM. Jadi, mhon diliat inbox-nya. ^^ dan tamu kali ini adalah: INO!
Ino: ya, ya, trima kasi, tidak perlu bertpuk tangan.
Me: *stare...*
Ino: ahem, yah. Knapa aku juga muncul dsini? Ap q jg jadi antagonis spti si jidat-lebar?
Me: hmm... sbnernya si ga jg. Kau bkal muncul sbgai pihak netral spti Shikamaru atau Neji.
Ino: hoooo *nod nod*
Me: lakukan pkerjaanmu T_T
Ino: ha? Oh, ya! Jngn lupa review, guys!
