.

Oh, apa aku pernah bilang kalau Komori itu laki-laki?

Aku sedang mengumpulkan banyak bukti untuk satu teori, dengar, aku ingin memberitahu sesuatu.

Aku rasa Komori,.. dia... dia punya kelainan. Saat ini aku sedang menyelidiki orientasi seksualnya.

Karena Aku belum pernah, melihatnya punya pacar atau minimal menyukai seseorang. Paling tidak seorang gadis datang dan menyatakan perasaan padanya. Tapi ini tidak ada. Satupun. Padahal wajah Komori itu...err bisa diterima.

Tapi sepertinya aku belum mempunyai bukti yang cukup. Suatu hari akan tiba waktunya, dimana Aku berhasil memecahkan semua ini. Tunggu ya.

Hmm satu lagi, tapi ini rahasia kita ya.

Errm kurasa kalau itu bukan Komori, aku bisa saja jatuh cinta padanya.

.

.

.

Absorbed

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Warn: AU/Typo/OOC/Bahasa yang lebay.

SasoSaku a.k.a Flaming cherry blossom

.

.

.

.

.

.

.

Seorang wanita dengan kisaran umur 39-43 tahun menduduki bangku didepan air mancur raksasa taman kota dengan wajah tertekuk seperti origami salah lipat. Di tangan kirinya ada tas jinjing, di tangan kanannya ada paper bag berisi oleh-oleh makanan manis seharga 7000 yen.

Duduk disana hampir setengah jam, sudah putus asa menunggu sahabat baiknya yang datang dari kota jauh. Mereka janjian disini, tetapi orang yang dinanti-nantinya tidak kunjung dia temukan. Ponselnya tiba-tiba rusak, tidak bisa digunakan untuk menelepon, mengirim pesan, atau mengakses internet.

Sebuah kesempatan yang langka kalau bisa berjumpa, karena sahabatnya itu selalu berada di luar negeri. Sekarang dia sangat menyesal kenapa tidak memberikan alamat, kenapa tidak janjian dirumahnya saja?.

Mata wanita berambut pirang itu berkaca-kaca, sudah lama sekali sejak terakhir bertemu, dia sangat merindukan orang itu, rindu sekali.

"Ano, maaf kalau lancang, tapi kenapa Bibi kelihatan sangat bersedih?"

Seorang anak laki-laki berambut merah yang ditubuhnya banyak bertengger burung gereja tahu-tahu menyapanya. Wanita itu sebenarnya tidak mudah percaya dengan orang asing, tetapi anak laki-laki ini memberinya kesan 'Aku anak baik lho' dari sorot matanya, apalagi dari caranya memberi makan burung-burung. Terlihat seperti pawang pembela hak kebinatangan.

"Ponsel Bibi tiba-tiba rusak, padahal harus menghubungi seseorang yang penting."

Jarak mereka yang hanya tiga meter membuat anak laki-laki berambut merah bisa berjalan mendekat ke wanita itu dalam sekejap. burung-burung yang bertengger di bahunya pun langsung beterbangan.

"Kalau tidak keberatan, apa boleh aku pinjam sebentar ponselnya?"

Entah tipu muslihat apa yang digunakan anak laki-laki berwajah seperti err anak SMA itu, atau mungkin kuliah? Hingga tidak ada sedikitpun ragu yang terbesit dalam benak sang wanita bercardigan hijau muda. Dengan mudahnya percaya menyerahkan alat komunikasi miliknya yang berharga. Padahal bisa saja ponselnya itu dibawa lari.

Tapi pikiran buruk yang bahkan tak pernah singgah dikepalanya langsung disapu bersih, baru dua puluh detik ponselnya sudah dikembalikan lagi. Wanita itu menerima ponselnya setelah berkedip tiga kali.

"Bibi pasti tidak sengaja menghidupkan mode air plane, ini, cobalah, pasti sekarang sudah bisa melakukan panggilan."

"Ha? iyakah...duh..itu...itu..."

Wanita berambut pirang bicara terbata-bata, membuat kening anak laki-laki yang memakai sneakers hitam itu berkerut.

"Bibi cari toilet? Di taman ini ada satu, tinggal ikuti jalan setapak—"

"—Oh, bukan Bibi itu.."

"Ini" anak laki-laki itu menyerahkan selembar uang 500 yen" ongkos pulangkan? Uang Bibi habis? Ambil lah saya ikhlas"

Wanita itu menyodorkan kembali uang yang diberikan kepadanya "Ya ampun, bukan begitu, Bibi mau berterimakasih, karena terharu jadi lupa mau ngomong apa."

"Ahaha, jangan dipikirkan, sekarang cepat telepon seseorang yang sangat penting itu, aku permisi."

Setelah membungkuk, anak remaja itu pergi, menyisakan wanita berambut kepirangan yang menatap punggungnya menjauh. Tanpa menunggu lebih lama lagi, wanita itu langsung menelepon sahabatnya—yang ternyata berada dekat sekali dengannya, di sisi lain air mancur. Apa selama ini dia rabun ayam ya. Kan udah sore ini.

Setelah cipika-cipiki penuh histeria, peluk sana peluk sini, acara temu kangen mereka selesai, keduanya kemudian berniat menyinggahi café dekat taman kota untuk makan siang. Wanita berpakaian casual itu ingat belum melakukan satu hal yang penting, jadi sesampainya di toilet café langsung ia tekan speed dial nomor dua di ponselnya.

"SAKURAAA, KAA-SAN KETEMU CALON MENANTU IDEAL."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

POK!

"Oi anak SMA, ada pelanggan tuh. Coba kau lihat."

Suara berat disertai tepokan di jidat dari laki-laki bertampang seram dengan gigi hiu membangunkan Uchiha Sasuke dari tidur siangnya yang berharga. Pasalnya tadi malam dia begadang sampai setengah empat pagi. Biasa lah, malam minggu. Sasuke pikir, mengumpat kosakata warna-warni untuk siapapun yang membuat matanya terbuka dalam hati itu tidak jantan, ck tapi dia malas beradu mulut.

Segera dia mencelupkan jari ke gelas bening berisi air mineral di atas buffet mini, lalu mencipratkannya ke mata dan wajah.

Tetap tampan dan efisien.

Hanya berbatas satu ruangan kecil dari sofa tempatnya berbaring ke bagian depan toko, dengan langkah gontai ia berjalan sambil menggaruki belakang kepala.

Sesaat kemudian pandangannya tidak disuguhi apa-apa. Mana? Katanya ada pelanggan. Kok sepi sih.

Apa ini lelucon? Hanya kejahilan semata?. Dia bersumpah demi patung monumen kakeknya didepan kantor pos, kalau hanya karena bohong dia dibangunkan, akan dia masukkan pelembut pakaian ke semua minuman teman-teman kakaknya.

"Ii lucuu.."

Tiba-tiba suara perempuan terdengar. Sasuke melirik kekanan kekiri, masih tidak ada orang. Apa toko ini jadi angker ya. Dia mengusap-usap tengkuk penasaran, nggak merinding kok. Mungkinkah ini jin versi terbaru.

"Mauu, tapi uangnya cukup tidak ya, huhu."

Ada lagi. Ini suara sepertinya datang dari bawah, di lihat dari atas meja rak tidak di jumpai seekor makhluk pun soalnya. Sasuke berjongkok, dari rak-rak transparan untuk menyusun barang dagangan itu dia dapat melihat sesuatu.

Warna merah muda.

"Kau?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dua buah es krim batangan rasa mint dan melon tampak di jilat dengan elegan oleh sepasang muda-mudi yang duduk di lantai depan etalase salahsatu toko pakaian mall konoha. Toko itu tutup sampai waktu yang tidak diketahui.

"Hmm..ngomong-ngomong, kenapa kita jadi makan es krim disini?"

"…"

Sambil menjilati es krim warna biru muda, pikiran Uchiha Sasuke terus berkelana, dia tidak bisa melupakan betapa kesumat dendamnya pada Kisame. mentang-mentang dia kerja di toko elektronik punya kenalan kakaknya, dia terus menerima pembullyan. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Mereka tahu Sasuke tidak akan mengadu. Lelaki jantan bukan tukang ngadu. Beh.

Ya cara lain ada kan. Es krim Kisame di freezer nganggur, ambil saja. Tapi kalau di buang kurang greget, makan saja. Es krim rendah lemak yang belinya harus pesan dan nunggu seminggu dulu, mahal kan. Udah nggak apa-apa.

"Terus ini es krim siapa?"

"…"

"Kenapa tidak di jawab."

"…"

"Kok diam terus."

"…"

"Hh, dasar bolot."

"Aku nggak bolot."

"Jadi ini es krim darimana?"

"Udah makan aja."

Sakura mencontreng pilihan 'diam' yang disuguhkan kepalanya. Setelah membeli anti gores baru, Sasuke yang ternyata pegawai toko tempatnya servis ponsel, tidak ada angin hujan tiba-tiba menyeretnya makan es krim di pojokan mall. Ekhm di lantai. Dingin lagi. Untung tempatnya agak sepi.

Dengan pose yang tetap elegan dan bermartabat ia menjilati lelehan es krim melon batangan. Es krim yang sangat lembut dan punya citarasa persis seperti melon asli, bahkan ada potongan kecil-kecil buahnya. segar, manis dan sedikiit gurih. Enak. Beli dimana ini ya.

"Slrp...jadi kau bekerja di situ, hmm pantas. " layaknya profesor pencetus defenisi-defenisi, Sakura mengangguk penuh kepastian sambil memegangi janggut transparannya.

"Pantas?"

"Ini..." Sakura mengambil ponselnya di tas dengan tangan kiri, membuka gallery dan menunjukkan beberapa foto. Ralat, banyak sekali foto. Gambar seorang laki-laki berambut hitam kebiruan yang memakai baju kaos tanpa lengan. Ada berbagai pose, semuanya di ambil oleh orang itu sendiri. Bersudut pandang dari atas biar terkesan misterius. Ini, tentu mengingatkan kita pada trend foto bertema emo sok-sok galau awal tahun 2000-an. Iya, yang ada tulisan 'Aku ingin berjalan ditengah hujan agar tidak ada yang tahu aku sedang menangis' dan rangkaian kata frustasi lainnya.

Onyx Sasuke melebar karena menyadari sesuatu. Itu...itukan foto dirinya sendiri yang dia ambil minggu lalu. Kenapa bisa ada pada gadis ini. Waduh.

"Sasuke, telingamu memerah."

Uchiha bungsu merasa sangat malu sampai ke sum-sum tulang belakang. Hobi foto-foto ini, tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan Ibu dan kakaknya. Lihat betapa cerobohnya dia. Berfoto di ponsel orang yang sedang di perbaiki di toko dan lupa menghapusnya. Astaga, nama keluarga Uchiha bisa tercoreng hanya karena foto-foto alay .

"Ce-cepat hapus itu." Ia memindahkan es krim ke tangan kiri agar lebih leluasa merebut ponsel putih yang berada dekat dengannya, tetapi nasib berkata lain, gadis itu seperti punya jari-jari terlatih, cepat sekali mengangkat tinggi-tinggi alat komunikasi itu supaya jauh dari jangkauannya.

"Eii, tunggu. Kasihtahu dulu alasannya. Untuk apa kau foto-foto di ponselku? hm?." Sakura memajukan kepala, menampilkan wajah penjahat 'beritahu atau kusebar'.

"Ponsel itu...harus di tes kameranya. Y-ya. Hn." Untuk beberapa detik Sasuke lupa caranya memasang ekspresi cuek jangan-lihat-lihat-nanti-matamu-kucolok, karena sedikit grogi. Dia membayangkan bagaimana gadis itu berhari-hari memandangi fotonya. Asal tahu saja, Uchiha tidak pernah grogi.

"Oo...jadi kau selfie-selfie, gitu?"

Tidak perlu waktu lama bagi Sakura untuk mengartikan gejala-gejala janggal padatubuhSasuke, laki-laki itu sedang menahan malu. Aneh, kenapa harus malu, foto-foto ini...oke, dia kan tampan. Well, agak mengejutkan karena datang dari tuan Uchiha yang biasanya untuk ngupil ditempat tersembunyi saja sungkan. Kalau ternyata ada CCTV merekamnya lalu video itu beredar di internet, bisa gawat kan.

"Kau akan menghapus semuanya?"

"Maaf Nona, tapi ini aib." Sasuke yang kini menggenggam ponsel touch screen putih milik Sakura, menandai hampir semua foto-fotonya di gallery. Setelahnya bila diperlukan, dia ingin bernegosiasi dengan damai, kalau-kalau ternyata gadis ini punya backu-up foto dan kemudian memerasnya. Harga diri membuatnya seolah-olah telah berpose bugil.

"Aib apa, kau ini tampan, tidak berdosa foto-foto begini." Kalau ini bukan Uchiha Sasuke, Sakura ingin mencolek nakal dagu lawan jenis yang duduk disebelahnya itu. Dia tahu ini bukan isu tentang kurang percaya diri, tetapi lebih kompleks. Ergh, orang ini terlalu serius menjalani hidupnya. Santai sedikitlah.

Sasuke berhenti sejenak dari kegiatan menandai puluhan foto, ia mencocokkan arah pandang onyxnya dengan emerald yang jernih "Lebih tampan mana, aku atau Sasori?"

"Ya jelas kau lah," jawab Sakura spontan, tanpa pikir dua kali. Sebelum akhirnya dia memandangi gerai toko penyuplai kosmetik salon didepannya yang juga tutup, baru mencerna betul-betul pertanyaan barusan "eh, kenapa jadi Sasori?"

Sasuke mengangkat bahu, tiba-tiba saja ingin menanyakan ini. Ketampanan yang dimilikinya, belum pernah diragukan oleh siapapun, termasuk dirinya. Tapi hari ini dia merasa tak pasti, merasa tiba-tiba butuh pengakuan. Entahlah, sejak kapan dia jadi senarsis ini.

"Tapi...Sasori itu," mata Sakura kehilangan fokus pada satu tempat, terus berganti-ganti sampai ke setiap sudut mall "manis. Lebih manis darimu." Tanpa di sadari, bibirnya yang terkatup membentuk lengkungan keatas. Cuplikan wajah Sasori yang sering berkeliaran di benaknya muncul.

Semakin hari semakin banyak, makin bertambah waktu yang disisihkan Sakura untuk memikirkan Sasori. Entah buat apa. Bagaimana laki-laki itu mendengus, tertawa tanpa alasan, kesal, menarik sebelah sudut bibir, menggigiti pucuk ibu jari, memegang pulpen dengan cara aneh, menyikat gigi sampai kesat, memakan sayur dulu baru lauk. Semuanya.

Err…apalagi pe-pelukan mereka.

Kalau dia ingin memikirkannya, maka akan terpikir. Kalau dia tidak ingin memikirkannya, pasti kepikiran juga. Ini diluar kehendak.

"Ah ah, lupakan, percakapan ini tidak pernah ada, oke?" Sakura mengibas kantangan. Pembicaraan ini membuatnya merinding, karena sekarang dia jadi ingin...bertemu dengan Sasori. Padahal hampir setiap hari jumpa.

Tetapi, disaat yang sama, sisi lain dalam dirinya marah dan tidak memberikan persetujuan. Perasaan apa ini, dia tidak suka.

Apakah ini efek terlalu lama menjomblo.

Lelehan es krim batangan yang semakin banyak, memaksa mereka berdua untuk terus menjilat, menjilat dan menjilat, tetapi es krim itu tidak kunjung habis. Saat Sakura ingin mengeluh kenapa es itu begitu besar dan tebal, dua buah koin 100 yen mendarat di telapak tangannya. Tidak, bukan dari Sasuke. Itu dari Ibu-ibu yang baru saja lewat. Dia mengerutkan kening.

"UANG? Lah dikira lagi ngemis apa..." lubang hidung Sakura reflek mengembang dan mengempis fleksibel. Ia menaruh koin itu di atas paha, lalu menggaruki kepala. Apa mereka yang duduk di depan etalase ini terlihat seperti tukang minta-minta 'pak kasihan pak', gitu?. Ngh, ini penghinaan terhadap leluhur Haruno. 'Nenek moyang, maafkan aku.' Dalam hati Sakura mengheningkan cipta.

Sambil meneruskan gelengan kepala, Sakura mengambil telapak tangan anak bungsu dari keluarga Uchiha di sampingnya, dan meletakkan satu koin hasil simpati masyarakat barusan" Ini, kita bagi dua. Kau satu aku satu." Karena dia pernah mendengar kalimat bila kumati, kau juga tidak ingin jadi pengemis seorang diri.

Sementara itu, yang diserahi koin masih bengong, walau harga diri membuatnya tidak bisa menunjukkan wajah bodoh, dalam hati ia ragu apa harus diterima atau tidak. Gadis itu terus memaksa dan menutup rapat-rapat telapak tangannya, supaya koin itu pindah kepemilikan.

"Hn." Gumaman ambigu dari mulut Sasuke mengiringi uang logam yang akhirnya dimasukkan ke dalam kantong. Laki-laki itu mengabaikan betapa silaunya sinar kebahagiaan dari wajah Sakura, dan menjilat eskrim mintnya lagi dengan gaya anak dari keluarga ningrat. Jujur dia kurang suka yang manis-manis, tapi kali ini tidak apa lah.

"Aku belum pernah makan es krim mint. Aku pikir rasanya mungkin tidak en—"

"—Waduh..." suara berat khas om-om memotong curhatan Sakura "asyik juga ya, makan es krim siang-siang." Dari arah barat daya(?) datanglah seorang laki-laki dewasa berbadan tinggi besar dengan pigmen kulit kebiru-biruan, memergoki sepasang muda mudi yang duduk di lantai bagai gelandangan. Matanya berapi-api, giginya runcing seperti hiu, siap mengigit siapa saja.

"UCHIHA BANGSAT, BERANINYA KAU!"

Sengaja setelah mendengar suara menggelegar yang masuk ketelinganya, Sasuke mengulas senyum miring tanda kemenangan, menarik cepat gadis disebelahnya untuk bersiap lari, kabur dari sana sebelum mereka berdua berakhir jadi pepes tahu.

Kisame—si laki-laki berpigmen kulit biru berlutut di lantai hingga suara gdbum terdengar, ia menatap dua buah pembungkus plastik bekas es krim yang sudah tidak benyawa lagi.

Buah cintanya, belahan jiwanya.

Ia merangkak dramatis mendekati bungkus-bungkus itu dengan mata berkaca-kaca. Merangkul 'mereka' kedalam pelukan hangat. Hatinya tercabik, tidak bisa menelan semua kepahitan ini.

"Maafkan Papa nak...papa tidak bisa menjaga kalian, papa telah menjadi...orangtua yang buruk." Kisame menggigit bibir bawahnya, walau tidak menangis hatinya tetap sakit. Anak-anaknya yang dia besarkan sepenuh hati seperti kedelai hitam berkualitas bernama malika, terbunuh mengenaskan. Kriminal juga si Uchiha itu.

"Papa tidak akan melupakan kalian, anak-anakku"

Kisame yang berlari kesetanan menuju elevator membuat Kakuzu—pegawai toko yang sama tempat dimana Sasuke bekerja—berhenti sebentar untuk menaruh kardus-kardus persediaan power bank di lantai "Mau kemana dia?." Tanyanya pada Zetsu hitam, laki-laki berambut hijau dengan kulit yang gelap, yang tengah membuat laporan keuangan toko elektronik itu.

"Biasalah, paling ngubur bungkus es krim."

"Sinting."

"Iya, plastik kok ditanam." Zetsu bicara sambil membagi sedikit fokusnya dari dokumen dalam software pengolah angka di laptop.

Kakuzu mendecak-decakkan mulut sambil memungut kardus-kardus power bank itu kembali, lalu meletakkannya di sudut ruangan. Cepat-cepat ia melangkahkan kaki ke elevator terdekat.

"Lho, kau sendiri mau kemana?"

"Mau ngebantu nguburin.."

"Jiaahh. Golok mana golok,"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Iya Kaa-san, kau sudah mengulangnya ratusan kali…iya, akan kulakukan, sekalian lewat jalan ini…oke okee aku mengerti!."

Rasa geram menggerogoti jari Sakura saat dirinya menekan tombol pengakhir panggilan. Ibunya itu bukanlah seorang yang cerewet, atau tukang cerita, Ibunya wangi, bersuara lembut dan penyabar. Tapi sejak minggu kemarin Sakura seperti tidak lagi mengenal siapa wanita berambut pirangitu. Pasalnya setiap keluar rumah, entah ke sekolah, atau kemanapun, Ibunya akan berteriak, berpesan padanya untuk singgah ke taman kota. Katanya disana ada calon suami ideal.

Apa maksudnya.

Sakura menganggap semua itu bahan joke sitkom TV pada awalnya, sampai setiap hari Ibunya terus mengatakan hal yang sama. Akhirnya dia jadi penasaran, sialnya sang Ibu lupa bagaimana calon menantu idealnya terlihat.

'Pokoknya seumuran. Minimal kau bertemu dengannya, satu kali saja.'

Dia dengar itu. Sepanjang waktu. Apakah ini karakter fiksi atau memang ada sungguhan?. Sakura mulai sangsi. Memang se-(masukkan kata sifat yang bagus-bagus disini) apa sih yang diceritakan Ibunya itu.

Setelah Sasuke 'mengusir'nya dari mall dan mengingatkan jangan datang dulu untuk beberapa minggu, mereka berpisah. Kalau tidak ingat pesan Ibunya, dia pasti sudah pulang dan menulis postingan web. Yah dikarenakan jalan pulangnya melewati taman kota, sekalian aja deh. Sekalian lewat dan sekalian cuci mata, kan lumayan kalau ternyata laki-laki itu hmm (silahkan jilat bibir masing-masing) ganteng, alias tamvhan.

Sakura menghentikan jalannya sebentar di depan area masuk taman kota. Memasang kuda-kuda.

tinung...tinung...

Radar penangkap sinyal kegantengan: aktif.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bukan hanya hari jumat ternyata yang membuat Shimura Sai selalu merasa butuh ekstra tenaga dan kesabaran, tetapi setiap hari. Kini selama menjadi siswa kelas XII ia sudah jarang merasa err, bahagia dan tenang, merasa sehat. Bugar dan aktif seperti di iklan susu. Ia khawatir apa ini fase awal gangguan jiwa atau flu burung?. Sai punya perasaan yang sama, saat seekor ayam eropa disuntik, diberi banyak cairan kimia supaya gemuk, dan berakhir di Mcdonald. Perasaan itu, kau tahu kan.

Kehilangan semangat hidup.

Mungkin karena ketidakikhlasannya menjalani peran, merasa terjerat dalam siklus pelajar, semua hal jadi sulit dan melelahkan. Seperti sekarang, hari minggu pun harus pergi ke bimbingan belajar, harus mengerjakan banyak contoh soal. Sebenarnya ingin menyerah saja dan tidak mau melanjutkan semuanya. Tetapi bagaimanapun, Sai bukan orang yang bisa mengerjakan sesuatu secara parsial. Kebulatan suatu tugas harus jelas, biar apapun yang di emban.

Salah satu, oh mungkin satu-satunya tempat untuk menenangkan diri bagi Sai adalah area khusus walk climbing di salahsatu taman kota yang paling terkenal, Aki garden. Mereka punya perpaduan unsur alam yang lembut, yang sangat 'bumi' dan unsur modren; mural.

Ah, betapa Sai menyukai mural.

Mural terbesar di taman Aki adalah buatan Sai dan Kakaknya beberapa tahun silam. Itulah alasan tempat ini jadi favoritnya. Saat itu dia tidak perlu memikirkan alasan kenapa harus tetap bernapas, dan hidupnya baik-baik saja. Kalau sekarang kebalikannya.

Baru kenangan dalam memori Sai muncul satu, suara kocokan dan semprotan kaleng aerosol mengusiknya.

Ternyata tepat di depan mural buatannya, tampak seorang anak laki-laki kecil tengah menyemprotkan cat warna merah dengan tangannya yang gemetar, kesulitan untuk menyemprot sekaligus menekan bagian atas kaleng. Apa-apaan ini.

"Bocah! Kau kira apa yang kau lakukan?!" Sai tidak dapat berpikir banyak selain berlari ke arah anak itu dan merampas kasar kaleng cat semprotnya, memberi terapi syok pada anak yang diperkirakan masih SD itu.

"A-aku…cuma…catnya sudah pud-pudar."

"Jangan pernah berpikir untuk merubah apapun yang kau lihat disini," untuk dua detik jemari Sai mencengkram bahu kecil anak di hadapannya "atau kucongkel matamu.." dengan senyum palsu, Sai menghempaskan anak laki-laki berambut coklat itu sampai keseimbangannya hilang.

Tepat sebelum tubuh anak itu jatuh dengan keras ke lantai batu alam, seorang wanita menangkapnya "Astaga! Kau apakan anakku! Dasar gila!"

Sai menatap pasangan ibu dan anak itu penuh amarah. Sampai matanya tidak dikedipkan. Vandalisme itu kejahatan. Mural? Itu seni. Sangat mudah dan tidak ada yang mengerti. Seperti juga dirinya, tidak ada yang mengerti akan dirinya, keinginannya, alasan dibalik semua perilakunya. Tidak ada yang peduli. Sekarang ketentraman dan kesukaannya pun ingin direbut? Dihancurkan? Oleh manusia yang tidak bisa mendidik keturunannya? Jadi dia pun harus diam saja? Begitu?.

"Kau! Dasar wanita mur—mff"

Tahu-tahu telapak tangan yang penuh wangi-wangi ceri dari seseorang yang tidak dikenal membungkam mulut Sai, menghentikannya untuk bicara lebih sadis lagi. Padahal banyak kosakata kejam yang disimpannya untuk saat genting.

"Aaa, maafkan kami Bibi, kami memang salah. Tetapi tolong ajarkan anak Bibi untuk tidak mengecat sembarangan, terutama di tempat publik. Dan lagi, cat semprot berbahaya untuk anak-anak. Terimakasih."

Sai mengidentifikasi dengan sekasama siapa orang yang telah lancang itu, lancang memenggal kalimatnya, lancang menarik lengannya dan pergi, jauh-jauh dari area walk climbing, seakan-akan memang dirinya yang mutlak salah. Untungnya dia memiliki tubuh tinggi, maka itu dengan capat ia tahu, orang yang menariknya punya helaian rambut merah jambu. Ck, si Jidat lebar. Bagai jamur di musim hujan, ada dimana-mana

"Aku benci kau." Sai lelah menyaring kata-katanya. Bahkan sudah berhenti sejak setahun yang lalu. Semua orang terpaksa memakluminya, dan tidak ada yang berani melayangkan keluhan. Apalagi memotong ucapannya. Berani sekali.

"Wuuh, aku juga Senpai. Tetapi berbuat dan memaki kasar seseorang hanya akan memperburuk keadaan. Dan kau melakukannya setiap saat."

"Apa urusannya denganmu?"

"Tidak ada, tapi…aku terganggu, tolong jangan terus mengulangnya. Anak itu ketakutan, bicara baik-baik kan bisa, ingatkan kalau tindakannya salah. Itu sangat mudah kalau kau mau mencobanya."

"Kau itu tahu apa?" Sai mulai tidak sabar. Tidak ada yang tahu seperti apa dia menjalani tahap itu, dimana dia mencoba bicara pelan-pelan dan di injak-injak. Dia sudah sampai ke titik diamana tidak mau peduli lagi dengan perasaan orang lain.

"Tidak ada, yang aku tahu kalau banyak marah-marah, bisa migrain, gangguan pencernaan, sakit jantung—"

"—Sebenarnya apa maumu, huh?" Oke, awalnya memang dia ikut andil dalam masalah ini, tetapi sekarang yang diinginkan Sai adalah ketentraman. Haruskah dia mengemis untuk sore hari yang tenang? Bahkan setelah lelah dari tempat bimbingan, dia harus menghadapi ceramahan lagi?.

"Mauku, Senpai jangan begini lagi, berubahlah. Untuk menahan diri. Karena aku…ingin memukul wajahmu setiap kali kau bicara."

What the,…Gadis itu berhasil membuat Sai menekuk alis, melunturkan topengnya untuk membuat ekspresi heran. Memukulnya? Jangan bercanda. Yang ada juga dia yang mukul si jidat lebar ini. Kenapa dia jadi geram ya.

"Kau tak akan berani.." Ancam Sai dengan nada remeh.

Hooh. Mesin pengarti intonasi dalam kepala Sakura menerjemahkan ini sebagai singgungan dan juga tantangan, jari-jarinya otomatis membuat kepalan yang kuat "Siapa bilang?!"

BUG!

Tanpa aba-aba, Sakura memukul kuat tulang pipi Sai dengan kekuatan super yang terpendam selama ini. Sangat kuat sampai laki-laki itu mundur beberapa langkah.

Ini lah yang dinamakan, kekuatan dari dalam.

"Aw…shh…Apa kau gila?!" Sai memegangi pipinya kesakitan. Rasanya seperti kena hantam bola bowling . Gadis ini benar-benar memukulnya, yang benar saja.

"Aku memang. Supaya kau sadar!." Sakura menjulurkan lidah sedikit. Indra pengacapnya merasa tak asing, rasanya dia pernah mendengar ini, oh Sasori pernah mengatakan yang seperti ini juga.

Tentang 'aku memang (gila)' ini membuatnya semakin ingin berjumpa dengan laki-laki itu. Untung besok hari senin. Apa ini semacam…kangen? Ah entahlah. Betapa sebenarnya dia berharap bisa tersesat ke rumah Sasori. Tiba-tiba bertemu dengannya, dan mengatakan 'Hai', bertemu dengan Sasori yang tidak pakai seragam, dan mengerjakan sesuatu yang lain, yang dia tidak pernah dia lihat. Hal-hal sederhana seperti itu, sangat menyenangkan kalau bisa jadi nyata.

Sakura merogoh tas jinjingnya dan mengeluarkan sesuatu "Ini satu pack permen susu, isinya 70 butir, setiap kali kau marah, kau ingin mengucap kata kasar ke orang lain, makanlah satu. Kalau habis bilang, akan kubelikan lagi, oke?"

".….."

"Senpai?"

"Kalian ini…sebenarnya apa mau kalian! Memperlakukanku seenaknya!, yang satu memberikanku satu kantung makanan burung, yang satunya memukulku dan memberikanku sebungkus besar permen, APA MAU KALIAN? HAH?!"

Pecah, amarah Shimura Sai pecah, tidak terbendung lagi. Gadis ini terlalu banyak mulut, dari awal mereka berjumpa bicaranya sudah berbelit-belit dan membuat kepalanya panas.

Sementara itu, Sakura menyilangkan tangan didepan wajah, takut-takut Senpainya melempar sebungkus permen itu kearahnya, biar permen kan sakit juga.

Eh…tunggu, tadi, apa tadi katanya?

"Kalian? Kalian siapa maksudnya?" tanya Sakura tidak yakin.

"Ya kau lah! Dan si Akasuna itu. Kalian sama gilanya!."

Perlahan tapi pasti setelah mendengar penuturan Senpainya, bagian putih dari bola mata Sakura semakin terlihat "Maksudmu? Dia ada disini? Di taman ini?"

"Iya, pergi sana!. Berkumpul lah dengan spesiesmu.." Sai melipat tangan di dada. Tidak mengetahui segirang apa Kouhainya itu. Bahkan saat gadis itu pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan basa-basi, Sai masih tidak tahu. Masih tidak paham kenapa langkah gadis itu lebih ringan hanya kerena dirinya mengucap satu marga; Akasuna.

Tapi belum sepuluh meter si rambut merah muda pergi, dia kembali lagi.

"Ah, Senpai."

"APA LAGI?!" bentak Sai tidak sabar.

"Itu…Resleting celanamu terbuka."

"UGH, Kau—ha? apa?."

"…" gadis itu memusatkan mata ke arah pinggul-kebawah milik Sai dengan seksama, menaik-naikkan kedua alisnya seduktif.

"Jangan ngintip! dasar mesum!" seakan baru tahu garasinya terbuka, Sai membalikkan badan lalu menaikkan resletingnya lagi.

'Jadi dari tadi…' darahnya berdesir untuk memikirkan bagaimana celana boxernya terekspose sepanjang waktu dan dilihat banyak orang. Ish bikin malu. Samar-samar rona kemerahan timbul di pipi Sai.

"Telat, udah lihat kok. Motif biru kotak-kotak kan, ciyeee…kotak-kotak ciye."

Ketika Sai mengangkat tinggi-tinggi bungkusan besar permen susu ke udara dan membuat gestur akan melemparnya dengan sakit, barulah Haruno Sakura berhenti menggodanya dan berlari pergi. Kencang seperti rusa kutub.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pegal-pegal mulai terasa di sekujur tubuh Sakura, terutama bagian paha dan betis, seharusnya dia meminum obat pelumas tulang dan sendi milik ayahnya. Lututnya sakit, dibawa berputar-putar ke taman Aki yang luasnya hampir 5 hektar itu. Tanpa hasil apa-apa.

Desisan perih keluar dari mulutnya, ternyata kakinya juga lecet, padahal pakai flat. Ya flat baru sih. Antusiasme yang tinggi membuatnya jalan terus tanpa istirahat. Uh, tahu begini pakai sneakers saja dari awal.

Ia menghabiskan setengah jam hanya untuk berputar-putar di tempat yang sama dan tidak menemukan Sasori. apa benar dia berada di sini? mungkinkah, Senpai sepucat zombie itu berbohong padanya?. Sedikit rasa sesal kini terbersit. Maklum, kalau dengar sesuatu yang berkaitan dengan Sasori dia langsung...meluap-luap, bersemangat sampai lupa semuanya.

Sakura mengesampingkan semua tentang Sasori-Sasori ini sebentar karena bosan mencari, dan mengingat untuk apa sebenarnya dia di taman ini. Seketika wajah sang Ibu menyambut memorinya. Seperti memukul kepalanya secara virtual.

"Aku kan kemari untuk mencari calon suami ideal. Ih, blarghh."

Lidah Sakura di julur-julurkan, belum bisa mengeluarkan kata-kata yang biasa di ucapkan janda kurang kasih sayang. Ia lalu berinisiatif untuk menelepon Ibunya, meminta arahan satu kali lagi. Jangan sampai dia tidak menemukan orang yang dimaksud itu juga. Jauh-jauh datang, bikin capek nggak jelas.

"Halo Kaa-san, orang yang Kaa-san bilang itu, aku tidak tahu dimana dia. Tolong katakan bagaimana bentuknya, karakteristiknya, tinggi badannya—ah jadi masih lupa?, lalu...aku...ha? oh tingginya sama denganku? Lalu rambutnya berwarna oranye?...eh ungu tua? Mana yang benar, oranye atau ungu tua?"

Sakura bersandar sebentar di monumen berbentuk anjing sheppard jerman karena kelelahan, melepas sepatu flatnya yang menyiksa kulit.

"Oranye ya, oke. Satu lagi, dimana terakhir kali Kaa-san bertemu dengannya?...Aa?... issh, kenapa tidak bilang, baiklah disana. Sudah ya."

Setelah mengakhiri panggilan Sakura memutuskan untuk tidak memakai sepatunya dulu karena iritasi kulit, jadi flat itu dia jinjing. Tujuannya sekarang adalah satu, air mancur.

Demi ketimun laut, dia sudah melewati air mancur besar itu dua kali. Pengunjung taman hari ini cukup banyak, mana dia tahu yang mana. Jujur kalau bisa berjumpa, dia tidak ingin berkenalan atau apa, cukup tahu saja. Minimal bertemu walau satu kali. Begitukan?.

Sakura berjalan dan terus berjalan ke air mancur yang cukup dekat dari posisinya. Sedikit lebih lega karena berjalan tanpa sepatu—walaupun resikonya jadi diperhatikan semua orang, masa cantik-cantik nyeker. Ingatkan dia untuk membeli plester luka nanti.

Hanya memakan waktu dua menit, Sakura sudah kembali lagi ke air mancur raksasa ditengah taman kota, tempat paling padat karena banyak bangku untuk para pengunjung, agar yang lelah bisa beristirahat. Tapi saat ini semua bangkunya penuh, tidak ada secuil pun tempat untuknya bisa menikmati fasilitas itu. Yasudahlah. Masa tiba-tiba nyuruh orang 'Pindah woi, mo duduk ini!.' Biadab itu namanya.

Hitam, hitam, hitam, coklat, ungu, pirang, coklat, coklat, hijau, silver.

Ibaratnya lensa kamera, mata Sakura sudah berada di resolusi terbaik, tetapi memang orang yang memiliki rambut oranye itu tidak ada, mungkin hari ini tidak datang. Atau yang terburuk, mungkin dia sudah mati. Keserempet gerobak abang-abang tukang jualan ubi bakar mungkin?.

Perempuan berambut merah muda sebahu itu memutuskan untuk menyerah saja kalau dalam hitung mundurnya dari 100, calon suami ideal yang di elu-elukan Ibunya itu tidak juga dia temukan.

Tetapi tepat di angka 27, emerald Sakura menangkap sesuatu. Bukan oranye, tapi...

Merah.

'Sasori...' kedua pupil Sakura mengecil otomatis karena banyak cahaya yang masuk saat dia membulatkan mata, berkelap-kelip melihat objek pandangannya. Ternyata Shimura Senpai tidak berbohong.

Akasuna Sasori ada disana, berdiri membelakanginya. Akasuna Sasori tanpa baju seragam, tanpa blazer. Masih dengan rambut merah acak-acakan yang, entah kenapa terlihat seribu kali lebih keren dari biasanya.

"SA—"

Ingin Sakura berteriak sekencangnya, berlari secepatnya, melupakan kakinya yang sakit, dan menceritakan bagaimana hari ini terlewat dengan tidak serunya. Tidak peduli respon apapun yang dia dapatkan. Dia bisa. Sangat bisa.

"—sori..."

Tapi dia tidak lakukan.

Dari depan figur laki-laki yang tidak terlalu tinggi itu, ada sepasang tangan yang melingkar, pelan awalnya, sebelum itu berubah jadi pelukan. Yang sangat erat dan penuh kepercayaan. Jari-jari yang kecil, lentik dan bercat kuku warna turquoise itu meraba-raba punggung si laki-laki berambut merah, meremat belakang kemejanya sampai kusut.

Seperti tidak khawatir apapun yang terjadi pada pakaiannya, laki-laki itu membalas pelukan yang diterimanya, dengan keeratan yang sama persis. Ia meletakkan dagunya diatas leher perempuan itu, kemudian membelai rambut panjangnya dengan hati-hati.

Begitu penuh perasaan, begitu hangat. Seakan...walau ada bencana alam terjadi pun, kalau mereka tidak mau, maka tidak akan dilepaskan.

"Haha..."

Tawa kecil lolos dari bibir Sakura. Tanpa pikir panjang ia mengeluarkan ponsel dan langsung membuat notes baru.

[Aku ternyata salah, Komori dia, dia..sudah punya pacar..aku saja yang tidak tahu...

Aku yang idiot, minna~, Sonna baka na~.]

Tes

Jari Sakura berhenti mengetik, layar ponselnya basah. Dia mendongak ke atas, langit sore masih dengan warna yang sama, tidak menghitam karena hujan. Lalu dia melihat kekanan kekiri, siapa tahu ada yang menjahilinya, menyemprotkan sesuatu atau apalah.

Tapi nyatanya tidak ada.

Yang ada malah pandangannya jadi buram dan penuh, terhalangi sebuah likuid. Dari situ Sakura akhirnya tahu, itu bukan darimanapun kecuali matanya.

"Loh, kok mataku berair...kelilipan apa sih..." dengan kening yang berkerut, Sakura cepat menghapus air matanya dengan telapak tangan. Heran, ada apa sih...taman kota baik-baik saja, oksigen masih banyak meskipun sudah sore. Dan dia juga tidak sedih. Iya kan?.

"...Ha...haha…ha…ha. Iya.." Sakura mulai ngelantur. Dengan sedikit lemas ia memakai sepatu flatnya lagi dan membalikkan badan. Menahan rasa pedih di kakinya. Tiba-tiba ingin cepat pulang. Harus cepat pulang. Pergi yang jauh dari sini.

Tidak lama ponselnya berdering. Sakura menekan tombol hijau, antara sadar tidak sadar menempelkan gadget itu ke telinganya.

'JIDAAT, gila Dat, gila, meet me in the rooftop, udah lanjut lagiiiiiii. Udah 7 bulan padahal nggak ada publish-an baru hue hue hue...'

"…"

'Dat?'

"…"

'...Oi Jidat? halo? Dengar tidak?'

"…"

'…Jidat, kok diam sih...nggak asik'

"...Ino, aku...,"

Di seberang sana Yamanaka Ino cukup terkejut, jarang-jarang di panggil 'Ino' oleh Sakura, karena dalam situasi biasa. Dia mulai berasumsi macam-macam, pasti ada kesalahan.

'Ada apa, Jidat?'

"…aku, tidak tahu. Ini lucu, masa tiba-tiba mataku berair lalu aku menangis, terus dadaku sesak, seperti ada tulang rusuk yang menyempit. Apa yang terjadi padaku, Ino? Aku sakit apa?" Sakura tidak sesenggukan, juga tidak emosional apalagi sampai mengerang. Dia hanya diam tetapi bulir-bulir air mata terus mengalir, turun ke pipinya tanpa disuruh. Yang dapat dilakukan Sakura cuma menyeka dan menyeka, tidak tahu cara menghentikannya.

"Lagi dapet ya? Datang bulan memang membuat hormon tidak stabil"

"Ngg bukann."

"Aa...kau...jatuh cinta? Jatuh cinta juga membuat hormon tidak stabil, tapi lebih parah. Kau bisa panas demam tinggi, lemah lesu, mimisan, nggak napsu makan, muntah-muntah, sakit kepala, keringat dingin, muncul bintik merah dikulit, trombosit turun..."

"Kau ini,...jatuh cinta apa demam berdarah itu Pig," Sakura berjalan pelan-pelan menuju pintu keluar taman Aki yang jaraknya tinggal 200 meter. Tertawa disela-sela tangisan tidak logisnya, mencoba menghibur diri sendiri dari sesuatu yang tidak dapat di defenisikan.

'Tapi benarkan?'

"...Hmn?"

'Jangan katakan siapa. Aku tahu.'

"…"

"…"

"Iya,...mungkin. Tapi sekarang sudah terlambat."

Langit sore tidak banyak bertingkah, hanya terisi warna oranye tanpa burung-burung, tidak seindah dekripsi di lirik-lirik lagu. Awan pun seperti malu untuk singgah. Ternyata, hari ini benar-benar berakhir dengan tidak seru.

Seseorang merasakan rindu, dan telah menjadi kesia-siaan.

"Tidak ada gunanya samasekali…"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara kucuran air dari keran wastafel mendominasi dapur kediaman Sabaku yang sunyi. Tampak putra bungsu keluarga itu sedang membilas piring-piring porselen.

Gaara adalah orang yang kalem, terkadang bisa sangat pemarah. Atau malah diam saja mendengarkan aspirasi orang-orang. Tetapi hanya ibunya saja yang tahu—(Err dan Sakura) ; Gaara suka bersih-bersih, terutama mencuci. Mencuci apa saja yang bisa dicuci. Walaupun sudah dilarang, karena di rumahnya sudah ada yang mengerjakan itu, Gaara tetap lakukan.

Padahal orang-orang tidak tahu, sepuas apa perasaan Gaara membersihkan sesuatu dengan tangannya, mengubah yang kotor menjadi bersih seperti baru lagi. Karena menurutnya membiarkan piring kotor menumpuk di wastafel, adalah dosa besar.

Satu hal lagi, Gaara tidak akan bisa mencuci piring tanpa celemeknya, celemek rilakkuma pink yang sudah dimilikinya dari kelas 5 SD. Dari mulai celemeknya kebesaran, sampai jadi sempit seperti sekarang, masih juga di pakai, rasanya kurang...gimana gitu,ada yang kurang kalau mencuci tanpa celemek rillakuma. Bisa-bisa jadi kurang bersih mungkin.

"EEH, sudah dibilang, piringnya tidak perlu di cuci, habis makan cukup buang sisa-sisanya, piringnya taruh saja di wastafel." Mama Gaara datang dan mematikan keran, mengganggu kesenangan anaknya. Mungkin Gaara sudah mendengar kalimat itu ratusan kali selama dia hidup. 'Eii, jangan cuci, nggak perlu cuci! Sana pergi hush!'

"Tolong ambilkan panci sup dirak-rak atas" Nyonya Sabaku menunjuk rak-rak penyimpanan perkakas dapur di atas wastafel.

Dengan tetap menjaga kekaleman Gaara melepas simpul celemek rilakkumanya. Dia sudah yakin dan percaya, memakai celemek ini tidak akan mengurangi jiwa laki nya, apalagi membuatnya malu—dengan syarat nggak boleh dilihat orang lain.

"Panci besar? Mau masak apa rupanya?"

"Jii-san mu mau mampir untuk makan malam..."

Gaara diam dan berjinjit, penuh kehati-hatian mengeluarkan panci sup berwarna hijau dari rak-rak, dan langsung meletakkan panci itu di atas meja makan. Gaara menggigit bibir atas, tanda-tanda sudah malas berada di dapur. Ia memastikan akan pergi setelah mengelap tangannya di lap kecil bentuk boneka yang digantung dekat kulkas.

Persis dua langkah lagi sebelum pintu, Gaara berbalik. "Dimana Mama terakhir menyimpan racun tikus?"

.

.

.

TBC

Wekekekekekke. Ada yang patah hatiiii (ノД`)・゜・。. Pernah nggak sih, nangis tapi nggak tahu alasannya apa.

Eysha CherryBlossom : riset telah membuktikan, pasangan yang aneh banyak digemari hoho. Makasih ya :)

Mayu Tachibana : nyampah apanya -_- . makasih :*

veronica lodge : Oase? waduh '_', makasih :D

lenrinshipper : Terimakasiihh typonya akan lebih di perhatikan.

Kumada Chiyu : mungkin dia sudah lelah di ikuti *putar lagu sedih.

338 : Hahaha, I-i.. I lo-love yo-you t-too*tergagap gagap

ErinMizuna-Verillisa : 100 buat kamu. Terimakasiihh :*

panda9 : maunya juga nggak lama-lama tapi…gimana yah. Haha

Soom : salam huha. Reverse harem dipertimbangkan.

Akasuna Sakurai : ternyata…kamu, pengen juga makan snack hewan. Ternyata oh ternyata. *Tos

Miss Hyuuga Hatake : kissu sedang dalam proses. Proses mikirin gimana bikinnya, *lah

Topeng Lolli Kura : gracias mi amigo :*

Betty Cooper : Eh, klise terkadang perlu juga. kalo cepet-cepet ntar banyak salahnya haha *insert raisa-serba salah

monalisauchiha : nanti kilat-kilat kesamber haha. Makasiih :*

Light Niel : *kasi minum air, meriview itu adalah hak setiap orang, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus di hapuskan. Karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan—eh keterusan kan. Tidak apa-apa nak, mama membolehkan kamu jadi silent readers, biarin aja mama nggak tahu apa yang kamu pikirkan.*tepuk pundak. *nangis di pojokan

Eh eh ternyata 500 yen (krg lebih Rp.50.000) itu koin! Haha. -_- maafkan saya yang sok tahu. Karena terlanjur anggep aja lembaran ya.

Apa bapak-bapak sekalian berkenan untuk menulis review?

Pak, kasian pak…T.T*bawa cup air minum bekas*lho