By : Red Flower Iki-chan

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Pairing : SasuSaku

Genre : Romance, Humor

Rated : T

Warning : OOC tingkat tinggi, Gaje

Oh, My Princess!

Chapter 6

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore saat murid-murid Konoha Gakuen yang merupakan wakil dari kelas mereka masing-masing berkumpul di hutan kecil belakang sekolah mereka guna melaksanakan acara lomba mencari harta karun yang merupakan acara puncak HUT sekolah mereka.

Begitu mendengar aba-aba dari panitia acara, murid-murid langsung berbaris rapi satu-satu memanjang sesuai dengan kelas yang mereka tempati. Tak terkecuali kelas 11 C, kelas dari Sakura.

Di barisan paling depan dari kelas mereka, berdiri Shikamaru dengan tampang malas karena terpaksa tak bisa melaksanakan ritual rutinnya – tidur sore. Pemuda berambut nanas ini mau tak mau harus menjadi ketua kelompok gara-gara didesak angggota kelompoknya. Sakura sendiri berbaris di barisan ketiga.

Perlahan Sakura mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian hutan. Dan ia langsung terpaku ketika pandangannya bertemu dengan sebuah mata onyx kelam yang juga sedang menatapnya. Sepersekian detik kemudian, Sakura merasakan pipinya memanas. Segera saja, gadis berambut merah muda ini langsung mengalihkan pandangannya, tak mau si empunya mata onyx mengetahui jika kini wajahnya sudah memerah.

Sementara itu, si pemilik mata onyx – Sasuke hanya menyunggingkan sebuah senyum tipis saat melihat tingkah gadis yang selama ini selalu mengalihkan perhatiannya itu. Hingga ia tak sadar jika ia masih senyum-senyum gaje. Naruto yang merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu, langsung mengangkat sebelah alisnya.

"Oi, Teme… kenapa kau?"

"…."

"Hey…," ucap Naruto sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Sasuke.

"…."

Tak ada jawaban. Mendadak Naruto merinding.

"Hiyy… ja-jangan-jangan Teme kerasukan hantu penunggu hutan ini… makanya dia senyum-senyum sendiri…," ucap Naruto pada diri sendiri yang kini sudah berkeringat dingin gara-gara phobia-nya pada hal-hal mistis sedang kumat.

Sasuke yang mendengar kalimat Naruto barusan, langsung membalikkan badannya kebelakang – ke tempat Naruto berbaris dengan tatapan horror yang membuat Naruto semakin berkeringat dingin.

"Am-ampun… maafkan kelancangan saya… dan saya mohon keluarlah dari tubuh teman saya itu…," ucap Naruto yang masih menganggap tubuh Sasuke kerasukan penunggu hutan ini sambil sujud-sujud segala dan telapak tangannya disatukan di depan dada seperti orang sedang memohon.

Otomatis ini membuat semua murid-murid lain yang berbaris di sampingnya, menoleh kearah mereka berdua dengan bingung. Sasuke yang merasa risih menjadi pusat perhatian, langsung mengambil tindakan.

"Hn. Dobe. Cepat bangun. Kau membuat semua orang melihat kesini," ucap Sasuke dengan nada dingin sedingin es di Antartika *lebay*. Naruto pun berdiri dan menatap Sasuke dengan background bling-bling dan bintang-bintang. Melihat itu, Sasuke langsung ngeri.

"Yokatta… akhirnya kau kembali seperti semula, Teme," ujar Naruto tanpa lihat banyak orang yang melihat ke arah mereka berdua. Dan dengan gerakan slow motion, Naruto merenggangkan kedua tangannya, hendak memeluk Sasuke. Yang berbuah duren, eh maksudnya berbuah jitakan di kepala rambut duren milik Naruto.

'BLETAAK'

"Hei, Teme. Apa-apaan kau menjitakku seperti itu?" gerutu Naruto sambil mengelus kepalanya yang sedikit benjol.

"Seharusnya aku yang bilang begitu, Dobe," balas Sasuke dengan nada datar. Naruto hendak membalas, namun sebuah suara menghentikannya.

"Baiklah, anak-anak… karena acara perlombaan akan dimulai sebentar lagi, silahkan kalian bersiap-siap dan jangan lupa untuk selalu mengikuti tanda panah berwarna kuning yang kami pasang di batang pohon yang akan kalian lalui nanti," jelas seorang panitia pada peserta-peserta dan dibalas dengan anggukan para peserta lomba ini.

++ oh ++ my ++ princess! ++

"Oh, ya Teme, tumben kau mau ikut ke acara seperti ini. Biasanya kau lebih suka berdiam di rumah," tanya Naruto saat rombongan kelas mereka sudah memasuki area hutan.

"Hn. Hanya ingin saja," jawab Sasuke dengan tidak jelas dan tidak terpercaya.

"Oh, begitu," gumam Naruto yang entah karena kepolosannya – kebodohannya – tak merasa curiga sedikitpun dengan penuturan Sasuke barusan.

"…."

"Padahal kukira karena kau ingin berdekatan dengan sahabat Hinata-chan yang berambut pink itu. Ehm… siapa ya namanya? Chakura… Sa-…, ah entahlah aku tak tahu namanya," ucap Naruto sekenanya sambil menatap ke atas dengan kedua tangan yang dilipat di belakang lehernya. Tanpa disadari Sasuke, Naruto tengah mengerling jahil kearahnya.

"Namanya Sakura, DOBE!" ucap Sasuke dengan penekanan penuh pada kata 'Dobe' barusan. Entah, mungkin karena dia kesal pada Naruto yang mengucapkan nama orang yang err… disukainya dengan tidak benar.

Beberapa saat kemudian terdengar tawa Naruto yang membahana di hutan kecil itu.

"GYA… HA… HA… HA…"

"Kenapa kau?" tanya Sasuke sambil memicingkan matanya kearah sahabat berisiknya itu.

"Hmph… wah, Teme. Ternyata kau benar-benar menyukainya ya… Tak kusangka… Sebenarnya aku sudah tahu, karena Hinata-chan bilang padaku kalau kau kemarin sore menjemput Sakura di Konoha Mall," ucap Naruto dengan memasang wajah tak berdosa. Sasuke yang mendengarnya, hanya memberikan deathglare andalannya ke bocah berambut kuning jabrik itu.

"Terserah," gumam Sasuke dingin sambil berjalan meninggalkan Naruto.

"Hi… Hi… Hi…Hi…," terdengar kikikan geli dari Naruto yang lebih mirip kikikan menyeramkan dari nenek lampir penunggu gunung Fuji. Wah, kelihatannya hobi sahabat kuning jabrik kita itu – selain makan ramen tentunya – adalah penggemar berat serial 'Misteri Gunung Fuji'.

"Diam, Dobe!" teriak Sasuke dengan sebal, sambil menoleh ke Naruto yang berjalan di belakangnya.

++ oh ++ my ++ princess! ++

"Itu tanda panahnya!" tunjuk Tenten dengan semangat kearah batang pohon yang tak jauh arah kelompok mereka berjalan. Segera saja rombongan yang berisi 8 orang itu, mempercepat langkah kaki mereka kearah batang pohon yang lumayan besar itu.

"Hmm… berarti tak lama lagi kita akan sampai ke tempat harta karun itu," beritahu Neji pada seluruh anggota kelasnya sambil memperhatikan peta yang dipegangnya.

"Wah, bintangnya banyak sekali… indahnya…," gumam Hinata sambil mengedarkan pandangannya ke arah langit, menatap bintang-bintang yang bertaburan.

"Iya, ya. Pemandangannya bagus," ucap Sakura yang ikut menatap langit. Yeah, memang pemandangan langit malam hari di hutan ini lebih indah di bandingkan dengan di luar hutan. Dikarenakan pencahayaan di hutan ini yang minim, membuat cahaya bintang terlihat lebih jelas dan indah. Apalagi bagi Sakura yang sangat suka memandangi bintang, menurutnya malam ini adalah malam yang menyenangkan.

"Hhhh… ternyata sudah cukup gelap, sebaiknya kita harus cepat bergegas," ucap Shikamaru sambil melanjutkan perjalanan. Di sampingnya, Chouji sedang berjalan sambil asyik memakan kripik kentangnya.

Mereka berdelapan pun langsung melanjutkan mencari tanda panah yang berikutnya. Sementara tujuh orang teman kelompoknya sudah berjalan jauh, Sakura justru tak sadar jika ia berjalan sangat lambat karena terlalu asyik melihat bintang-bintang.

"Ino? Teman-teman?" gumam Sakura saat ia sadar jika di sekelilingnya sudah tak ada satu orangpun.

Kegelisahan langsung merayapi hati gadis berambut merah muda itu. Ia pun langsung berlari agar bisa menyusul teman-temannya. Namun, larinya langsung terhenti saat yang ada di hadapannya hanyalah pohon-pohon besar dan kegelapan.

Yah, ia tersesat.

++ oh ++ my ++ princess! ++

"Karin, kenapa kita pergi ke hutan ini sih? Kita kan tidak ikut dalam acara perlombaan ini," tanya Ami pada gadis berambut merah yang berjalan di samping kirinya.

"Ya, benar. Asal kau tahu saja ya, tadi sebenarnya aku akan pergi kencan dengan Yahiko-kun. Tapi akhirnya malah tidak jadi gara-gara kau meneleponku untuk datang kesini," gerutu Konan sambil memasang wajah ditekuk.

"Hahh, kalian berdua tidak bisa diam apa?" ucap Karin dengan nada yang menyebalkan membuat kedua temannya itu memajukan bibirnya menahan jengkel.

"Ya, ya, ya, ya,… terserah apa maumu! Yang penting beritahu alasanmu menyuruh kami untuk datang ke hutan ini!" ucap Ami dengan nada memerintah sambil memutar bola matanya bosan.

"Yah, karena kudengar kalau Sasuke ikut perlombaan ini, makanya aku pergi ke hutan ini. Apalagi gadis pinky itu sepertinya juga ikut. Jadi aku tak akan membiarkan gadis itu merebut 'Pangeran'-ku," Karin menoleh ke arah kedua temannya sambil menampilkan senyum liciknya.

Ami dan Konan yang mendengar alasan Karin tersebut, langsung melotot. 'Huh, jadi hanya gara-gara ini, dia mengganggu acaraku malam ini. Sialan', batin Ami dan Konan.

Tiba-tiba sesuatu menghentikan langkah mereka. Mereka melihat seorang gadis berambut merah muda – Sakura – sedang berjalan sendirian dan kelihatan gelisah. Namun sepertinya Sakura tak menyadari keberadaan mereka bertiga, sehingga terus melanjutkan jalannya. Karin yang melihat Sakura sedang berjalan sendirian, langsung berjalan mendekati Sakura dengan langkah tanpa suara. Yah, sepertinya sebuah rencana licik sudah tergambar jelas di otak busuk gadis berambut merah itu.

"Heh, Karin… kau mau apa?" tanya Ami takut-takut.

"Karin, jangan berbuat yang tidak-tidak," ucap Konan, memperingatkan. Namun Karin tak menggubrisnya, justru dia terus berjalan mendekati Sakura.

Hingga akhirnya Sakura sampai di depan jurang yang tak terlalu dalam. Sakura yang tahu di depannya ada sebuah jurang, langsung berjalan memutar. Namun, belum satu langkah ia berjalan, ia merasakan ada sesuatu – atau seseorang – yang mendorongnya ke dalam jurang itu. Belum hilang rasa terkejutnya, ia kini merasakan tubuhnya melayang dan angin yang terasa menerpa tubuhnya. Sampai akhirnya ia merasakan tubuhnya terbentur tanah dengan keras dan membuat dirinya kehilangan kesadaran.

.

.

.

"Ka-Karin… ap-apa yang ka-kau lakukan?" ucap Ami dengan terbata-bata, ia begitu kaget dengan apa yang baru diperbuat oleh Karin. Sementara itu, Konan hanya berdiri membatu dengan wajahnya yang sudah sangat pucat.

Karin yang baru tersadar akan apa yang baru saja diperbuatnya, langsung menutup mulutnya – shock.

"A-aku…" gumam Karin sambil berjalan mundur menjauhi jurang itu. Ekor mata ruby-nya melirik ke arah Ami dan Konan dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Beberapa detik kemudian, ia langsung berlari menjauhi hutan itu.

"Karin!" teriak Konan dan Ami bersamaan sambil berlari mengejar Karin, meninggalkan Sakura tergeletak di sana. Sendirian.

++ oh ++ my ++ princess! ++

"Sakura! Kau dimana?" teriakan Ino memecah keheningan.

"Sakura!" teriak anggota kelompok mereka lainnya, dan teriakan-teriakan guna memanggil si empu-nya nama pun terus menggema di dalam hutan kecil itu.

Saat ini, anggota kelompok dari kelas Sakura sedang mencari keberadaan gadis berambut merah muda itu, begitu mereka menyadari jika Sakura sudah tidak ada bersama mereka.

"Teman-teman, aku dan Temari akan melapor ke panitia jika Sakura menghilang," beritahu Shikamaru yang disusul dengan anggukan kepala teman-temannya.

"Ya, hati-hati," balas Tenten sambil terus melakukan pencarian.

Beberapa saat kemudian…

"I-itu bukannya dari kelas Naruto-kun?" ucap Hinata sambil menunjuk ke arah rombongan kelas 11 A yang berjalan ke arah mereka.

"Hinata-chan?" gumam Naruto saat melihat Hinata sedang berdiri tak jauh dari mereka dengan wajah yang menggambarkan kecemasan. Pemuda blonde ini pun langsung berlari kecil kearah kekasihnya itu. Sementara Sasuke berjalan ke arah mereka.

"Ada apa, Hinata-chan? Lalu kenapa kau terlihat cemas?" tanya Naruto, setelah sampai di hadapan Hinata.

"Sa-Sakura-chan hilang," jawab Hinata lirih, namun masih bisa didengar oleh Sasuke. Pemuda itu langsung berlari kecil ke arah mereka berdua begitu mendengarnya.

"A-apa? Sakura hilang?" gumam Sasuke, wajahnya menyiratkan kecemasan.

.

"I-iya. Tadi waktu kami berjalan mencari anak panah, tiba-tiba Sakura-chan sudah tak ada bersama kami. Lalu sekarang Shikamaru dan Temari-chan sedang melapor ke panitia," jawab Hinata. Tak ada lima detik, Sasuke langsung berlari meninggalkan mereka.

"Aku akan mencarinya," ucap Sasuke sebelum ia pergi.

"Teme!"

.

.

.

"Sakura!"

"Sakura!"

Teriakan Sasuke menggema di sudut hutan yang gelap.

Yang ia inginkan sekarang adalah menemukan gadis yang dicintainya itu. Nafasnya mulai tersengal-sengal karena sedari tadi ia berlari tanpa berhenti sedikitpun.

Pemuda berambut raven ini sudah sampai di pinggir sebuah jurang yang tak terlalu dalam. Hingga akhirnya ia hendak beranjak meninggalkan tempat itu – mencari Sakura di tempat lain – sebelum ia melihat sesuatu di dasar jurang yang temaram itu.

Rambut panjang berwarna merah muda.

Mata Onyx-nya membulat. Sasuke langsung berjalan mendekati jurang itu, melewati bagian tanah yang landai dan sampailah ia di dasar jurang.

"Sakura? Apakah kau disana?" panggilnya sambil mendekati sosok itu.

"Saku-," panggilannya terhenti. Dan ia langsung membeku di tempat saat ia mendapati Sakura dalam keadaan tidak sadarkan diri, dengan bagian pelipis, siku bagian kiri dan lututnya yang terluka dan mengeluarkan darah hingga menembus jaket dan celana jeans yang dipakai sang gadis.

"SAKURA!" teriaknya sambil memeluk tubuh Sakura.

"Teme? Kau sudah menemukan Saku-," pertanyaan Naruto langsung terpotong begitu melihat Sasuke sedang memeluk Sakura yang tak sadarkan diri. Sementara Hinata – yang berdiri di belakang Naruto – hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, sedangkan bulir-bulir air mata mulai muncul di sudut mata lavender gadis berambut indigo itu.

++ oh ++ my ++ princess! ++

Emerald itu pun terbuka setelah membiasakan diri dengan intensitas cahaya yang menyelimuti ruangan serba putih dan terkesan berbau obat-obatan, khas rumah sakit.

Sakura berusaha menggerakkan anggota tubuhnya namun ia rasakan justru rasa perih dan nyeri di bagian pelipis, siku dan lututnya. Kemudian ia meraba bagian pelipisnya yang ternyata sudah diperban melingkari kepala.

'Oh, kejadian itu…,' batinnya, saat teringat kejadian di hutan tadi yang – mungkin – hampir merenggut nyawanya. Membuat Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan peristiwa mengerikan itu dari otaknya.

Gadis itu mengedarkan pandangannya menjelajahi ruangan serba putih itu dan mendapati ibunya sedang tertidur di sofa pojok ruangan. Kemudian ia mengalihkan pandangannya menuju jam dinding yang tergantung di atas pintu masuk. Pukul 3 malam.

Sakura pun mencoba kembali untuk tidur, dan mulai menutup matanya. Namun saat ia hendak menggerakkan jari tangan sebelah kirinya, ia merasa seperti ada yang menggenggam tangannya itu. Segera ia membuka kedua matanya dan ia melihat seseorang sedang menggenggam tangannya dengan erat sambil tertidur.

"Sasuke…"

Dan seulas senyum pun mengambang di bibir gadis itu.

.

.

.

"Sakura," sapa Ino saat memasuki ruangan tempat Sakura dirawat. Saat ini Ino, Tenten, Hinata dan Temari sedang menjenguk Sakura di rumah sakit.

"Teman-teman…," gumam Sakura saat melihat sahabat-sahabatnya sambil menampilkan senyumnya ke arah keempat sahabatnya.

"Siang, bibi," sapa mereka berempat saat melihat Saki ada di ruangan itu.

"Siang. Nah, karena kalian ada di sini, bibi mau kembali ke rumah dulu untuk mengambil pakaian Sakura. Tolong kalian temani Sakura sebentar," pinta Saki.

"Baik, Bi."

Setelah Saki keluar dari ruangan itu, Ino, Tenten, Hinata dan Temari langsung berlari ke arah ranjang Sakura.

"Oh, Sakura. Untung kau sudah baikkan," ucap Ino.

"He'em… kau tahu kami semua sangat khawatir padamu," tambah Temari.

"Terima kasih teman-teman kalian sudah mau mengkhawatirkanku," ucap Sakura.

"Tentu saja Sakura. Itulah gunanya teman," ucap Tenten sambil menaruh sekeranjang buah-buahan di buffet pinggir ranjang Sakura.

"Wah, Sakura. Kepalamu juga terluka ya? Bisa-bisa dahimu tambah lebar. Ha… ha… ha…," gurau Ino.

"Ino!" Sakura memajukan bibirnya, kesal.

"Ckckck… Tuan putri kita sedang kesal rupanya," ujar Temari.

"Padahal tadi malam kan pangeran datang menolongmu," ucap Tenten sambil mengerling jahil.

"Pangeran?" Sakura memandang sahabatnya itu dengan tampang bingung.

"Yah, Pangeran… Tadi malam Pangeran Sasuke datang menolong Putri Sakura…," goda Ino membuat wajah Sakura sedikit merona.

"Wah, Sakura… jangan-jangan kau sudah tahu kalau yang menolongmu itu Sasuke," ucap Tenten sambil memincingkan matanya saat melihat perubahan ekspresi wajah Sakura.

"Emm… i-iya," balas Sakura masih dengan wajah yang memerah.

"Sakura, asal kau tahu tadi malam Sasuke sangat khawatir padamu. Bahkan, saat ia mendengarmu hilang, ia langsung mencarimu dan begitu menemukanmu di dasar jurang dalam keadaan terluka, ia sendiri yang mengantarmu ke rumah sakit," jelas Temari panjang lebar.

"Benarkah?"

"Kalau kau tak percaya, tanya saja ke Hinata. Benar kan Hinata?" tanya Temari sambil menoleh ke Hinata.

"I-iya. Benar, Sakura-chan. Ba-bahkan saat ia menemukanmu di jurang, Sa-Sasuke langsung memelukmu," jawab Hinata sambil tersenyum. Sakura pun langsung menundukkan wajahnya, takut sahabat-sahabatnya melihat wajahnya yang memerah.

"Wah, romantisnya…!" seru Ino dengan menyatukan kedua telapak tangan dan menaruhnya di pipi kirinya sambil mengedip-ngedipkan kedua mata aquamarine-nya – menggoda Sakura.

"Ino!" teriak Sakura yang sudah tidak mampu menutupi wajahnya yang memerah.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, kemudian masuklah seorang pemuda tampan dan berambut raven.

"Ah, Sakura. Maaf, sepertinya kami harus pulang dulu, kami hampir lupa kalau hari ini kami ada urusan," ucap Ino, begitu melihat Sasuke masuk ke dalam ruangan rawat itu.

"Ta-tapi… teman-teman…," tahan Sakura.

"Sudah, ya Sakura. Bye," ucap Ino ketika ia, Tenten, Hinata dan Temari keluar dari ruangan itu. Sebelumnya, Ino mengedipkan sebelah matanya ke arah Sakura.

Hening menyelimuti ruangan itu setelah Ino dan ketiga orang lainnya pergi. Keduanya hanya terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing sampai akhirnya suara langkah Sasuke terdengar mendekati ranjang Sakura.

"Kau sudah baikkan?" tanya Sasuke, setelah ia duduk di kursi di pinggir ranjang Sakura.

"Hm… Su-sudah," balas Sakura, sambil menundukkan kepalanya.

"Baguslah," gumam Sasuke.

"Ehm, Sasuke. Kau datang sendirian kesini?" tanya Sakura.

"Tidak. Aku bersama Aniki, Tousan dan Kaasan. Tapi kenapa mereka lama sekali ya?" jawab Sasuke.

Suasana canggung mulai menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik.

"Sasuke…," panggil Sakura. Sasuke mengalihkan pandangannya kearah Sakura.

"Te-terima kasih," ucap Sakura lirih.

"Terima kasih?" Sasuke menatap Sakura bingung.

"Ya. Terima kasih karena menolongku tadi malam," jawab Sakura, dengan wajahnya yang kembali merona dan jantungnya yang berdebar-debar. Sedangkan Sasuke langsung mengalihkan pandangannya dan entah mengapa wajahnya terasa memanas saat mengingat kejadian tadi malam.

"Hn."

"Sakura…," panggil Sasuke.

"Ya?" Sakura menatap Sasuke.

"Aku… aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Sasuke dengan memasang wajah serius.

"Kau mau mengatakan apa?"

"Aku…," gumam Sasuke. Tiba-tiba tangannya terjulur dan meraih tangan Sakura tak jauh dari tangannya, kemudian ia menggenggamnya dengan erat. Sakura sendiri tak melawan, justru ia merasa nyaman saat Sasuke menggenggam tangannya.

"Aku… aku menyukaimu. Tidak, tidak, maksudku… aku mencintaimu, Sakura," ucap Sasuke dengan wajah memerah. Sakura langsung terperangah saat mendengarnya, sementara wajah gadis berambut merah muda itu semakin memerah dan jantungnya semakin berdegup kencang. Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya yang tadi menunduk dan menatap Sasuke.

"A-aku… aku ju-juga… mencintaimu, Sasuke," balas Sakura sambil tersenyum manis.

Mendengar itu, Sasuke pun langsung memeluk Sakura dengan erat. Setelah perpelukan cukup lama, mereka pun melepaskan pelukan mereka. Kini, wajah keduanya sudah sangat memerah seperti buah tomat.

Setelah beberapa lama, tiba-tiba tangan Sasuke terjulur dan menyentuh dagu Sakura, mengangkat wajah gadis itu agar menatap ke wajahnya. Kemudian Sasuke semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura dan semakin mempersempit jarak di antara mereka berdua. Sakura sendiri hanya terdiam dengan wajah yang memerah. Setelah wajah mereka berdua sudah semakin dekat, Sasuke menutup kedua matanya dan begitu pula dengan Sakura.

CUP

Bibir mereka akhirnya bertemu. Bibir tipis Sasuke bertemu dengan bibir mungil Sakura. Setelah menekan selama beberapa lama, Sasuke melepaskan ciumannya dan terlihatlah wajah Sasuke yang memerah, sedangkan Sakura kembali menundukkan wajahnya yang memerah. Melihat itu, Sasuke langsung mengelus rambut merah muda Sakura dengan lembut.

Sementara itu…

Terlihat tiga orang sedang mengintip lewat jendela bagian luar ruangan rawat Sakura. Setelah author teropong, ternyata ketiga orang itu adalah Itachi, Mikoto dan Fugaku Uchiha. Kini Trio Uchiha itu sedang senyam senyum sendiri, menandakan jika mereka sudah melihat semua adegan terjadi di dalam ruangan itu. Ckckck…

"Wah, ternyata Otouto-ku hebat juga," ujar Itachi sambil geleng-geleng kepala.

"Anak siapa dulu? Senangnya akhirnya Sasuke punya pacar juga. Apalagi dengan Sakura, Kaasan pasti setuju," ucap Mikoto dengan wajah berseri-seri.

"Tak kusangka, kenapa aku mau ikut-ikutan mengintip seperti ini?" tanya Fugaku pada dirinya sendiri, menyesal telah mengintip anaknya sendiri.

"Sebaiknya kita cepat-cepat masuk ke dalam. Jangan sampai Sasuke curiga kalau kita mengintipnya tadi. Lagipula kan aku ingin menjenguk calon adik iparku. Cepat," ajak Itachi dengan menyeringai sambil berjalan kearah pintu ruang rawat diikuti Mikoto dan Fugaku.

+TSUZUKU+

Finished at

November, 8th 2010

02.37 am.

Ohayou minna…

Gomen Iki lama banget ngupdate-nya, habis Iki lagi kena virus malesnya Shikamaru… *di Kagemane Shikamaru*

Wokeh… balez review dulu, minna…

Thia2rh : makasih udah mau review ama fave fic Iki yaw…gomen update-nya lama, tapi nie udah di-update… review again?

Miss Shifa : hihihi… makasih udah review… review lagi yaw… ^^

Miss Uchiwa 'Tsuki-Chan : makasih Tsuki atas review-nya… pokoknya sip lah… review please?

7color : makasih review-nya… pokoknya beres deh, Iki bakal buat happy ending… tenang aja…^^ review again?

4ntk4-ch4n : hohoho~ thank's atas review-nya… gomen yaw, baru update… hihi.. review lagi?

Just Ana : hehe… makasih Ana atas review-nya… ni udah review… review again?

dindoet : thank's review-nya… gomen baru update… review lagi yaw..?

Yosh.. akhirnya selesai juga balas review…

Nah, minna… gimana chapter ini?

Gomen yaw kalo aneh…

Habis Iki paling susah bikin adegan romance -nya…

Waktu bikin adegan di ruang rawat itu aja, Iki ampe blushing berat… maklumlah Iki kan anak baik *digetok readers pake palu raksasa*

Yaudah minna, daripada banyak omong,,,

R

E

V

I

E

W

Please..