Kau adalah yang berharga

Disclaimer : Kuroko no basuke ©Fujimaki Tadoshi

Summary : saat tokoh KnB menjadi Tokoh yg dipenuhi bahaya, ada kisah Romantis dalam kehidupan mereka.

Chapter 7 : Aomine Daiki x Kisaragi Enkai (OC) Chapter 1

Kisaragi P.O.V

Luar biasa…itu yang bisa kukatakan untuk malam ini. Bintang dan langit malam begitu indah jika dilihat dari ketingian gedung pencakar langit yang aku pijaki sekarang. Aku tak henti – hentinya menatap langit dan mengabaikan disekitarku, begitu terpesona dengan keindahan malam yang dihiasi bintang, seperti terasa jika aku bisa meraih bintang itu. Namun, bagaimana yang dibawah? Apa mereka juga bisa melihat bintang sepertiku dengan terhalang gedung – gedung tinggi seperti ini? Tak mungkin bukan? Memasuki gedung pencakar langit itu tidak sembarang orang, bisa – bisa mereka ditarik oleh keamanan dan menendang mereka dari gedung. Lalu, para perusahaan yang selalu berlomba – lomba untuk memperindah dengan mempertingkat gedung lebih tinggi dan tinggi lagi sehingga menutupi cahaya matahari dan memperhalang bintang yg sedang memancarkan pesonanya, seperti tak ada puasnya mereka bersaing termasuk bisnis mereka, yang begitu dibanggakan.

Ah~dunia ini semakin kacau. Aku tak tahan jika melihat kampungku terbangun bangunan tinggi seperti ini, itu terlihat seperti batu – batu tajam yg menjulang tinggi. Puk! Seseorang menyentuh pundakku yang tak terbaluti kain, aku menoleh kebelakang dan melihat pak tua sudah agak beruban dan ber jaz yang kutebak harganya bisa membeli satu sepeda motor. Kedua tangannya juga membawwa dua gelas minuman yang sudah kupastikan itu adalah milikku.

"apa yang kau lakukan sendiri nona?" ucapnya sambil meraih tanganku dan mengecupnya. Eww! Menjijikkan, rasanya ingin menamparnya atau mungkin..- ah sudahlah!

"ah tidak apa –apa Tuan." Ucapku sambil tersenyum manis. Ah dia tersenyum baknya pedofil yang ingin menerjang anak kecil, tapi aku tak terlalu peduli. Aku menatap sekitarnya, ada beberapa bodyguard, Sepertinya ia tidak datang sendiri. Jika kalian ingin mengetahuiku bisa masuk kedalam gedung dan memasuki pesta ini, sangat mudah. Cukup jadi pelacur professional dank kau langsung bisa memasuki gedung yang paling atas dan sudah dipesan untuk pesta ulang tahun sebuah pengusaha kaya.

"begitu. Bisakah aku menemanimu disini?" oh! Ayolah pak tua. Aku bukanlah pelacur seperti mereka – mereka yang kini sedang menggoda teman – temanmu itu. Aku disini hanya mengincar satu orang dan pekerjaan 'pelacur' ini hanya berlaku 5 jam, mengerti? Jadi jangan coba mengangguku dan berharap jika aku ingin menjadi istri simpananmu. Ingin sekali aku berbicara begitu, tapi Sayang sekali aku tak bisa menolak ini dan berbicara itu.

"Douzo.."ia tersenyum dan memberikan satu gelas kepadaku. Aku menerimanya dengan lembut. Bisa kulihat jika ia memandang dan menatap setiap inci tubuhku dengan mesum. Longdres hitam yang hanya menutupi dari atas dadaku sampai kaki, disana juga terdapat belahan paha dengan hiasan bunga dan renda hitam, dan rambut pirang lurus yang digerai dan sisi rambut disisipkan ke telinga, sudah cukup menggoda para tua Bangka itu. Ia mengelus pundakku dengan jarinya, orang tua ini begitu menyebalkan! Rasanya aku ingin memata-..! sudah lupakan.

"Nona Muda ini, kenapa ada disini?" tanyanya. Aku hanya tersenyum sambil menahan kesalku.

"aku hanya melihat bintang – bintang dilangit Tuan." Ucapku. Jari telunjuknya menyentuh bibirku. Bibirnya, akan ku incar bibirnya! Ia mendekatkan dirinya kepadaku.

"jangan panggil 'Tuan' dong. Panggil saja Kak Mitomo." Ucapnya. Aku mengerjapkan mataku dan tersenyum.

"jangan – jangan tuan ini-..ah! maksudku Kak Mitomo ini seorang pengusaha pertambangan emas terkenal dan orang ke dua yang terkaya di jepang, Shigesota Mitomo ya?" Tanya ku. Ia mulai merangkulku.

"tentu nona." Ucapnya. Aku terkekeh senang. Bisa kubaca pikirannya 'jika masalah uang perempuan pasti menyukaiku.' Atau 'perempuan ini bisa kutiduri" atau yang lain semacam itu.

"soudesuka..untunglah saya bertemu anda. Saya kesini-.." Ia lagi – lagi mnyentuh bibirku sambil tersenyum dan menyentuh pipiku.

"hehe…aku tahu masalahmu nona." Ucapnya santai. Aku tersenyum gembira.

"ah! Yokata! Tuan-..ah maksudku Kak Mitomo sangat pengertian sampai tahu masalahku padahal belum kuberitahu." Ucapku.

"kalau begitu bisa kita mulai?" Tanya sambil menarik daguku. Aku tersenyum namun menambahkan sikap gugup.

"Baiklah Kak." Ia mulai merangkulku dan menarikku kesuatu tempat. Dengan dikawal beberapa bodyguard yang langsung mengelilingi kami. Sesekali ia menggodaku disaat perjalanan, menarikku, merangkulku dan mengelus – ngelus yang selalu kuhentikan dengan berkata "disana saja. Akan kuberikan servis terbaik." Dan ia menanggapinya dengan positif dan membiarkan waktu yang bergulir.

Disinilah kami berdua, dikamar 543 di lantai 14, berada dibawah lantai. Para bodyguardnya berjaga diluar, tak mungkinkan ia melihat adegan tuannya, bisa – bisa dia dibunuh.

"Nah..nona saatnya-.." aku menyentuh bibirnya dengan telunjukku.

"bagaimana jika kita melakukannya dikamar mandi? Apa kak Mitomo setuju?" tawarku. Ia tersenyum puas dan mengangguk. Aku menuju kekamar mandi sambil berjalan mundur dan menggoda om – om itu. Aku duduk di sisi bathroom tak lupa sambil menggodanya dan saat masuk ia langsung menyergapku dan lumpuh. Tunggu, kenapa ia lumpuh? Bruk! Tubuh dan wajahnya menabrak marmer kamar mandi. Aku hanya diam dan datar, berbeda dari yang tadi yang mudah tersenyum dan ramah. Ia menatapku tak percaya dan sepertinya ingin berbicara padaku. Aku berjongkok

"aree~ doushitano Mitomo – Oniichan? Bukankah kau ingin menyentuhku?" ucapku sambil memainkan jariku dipipinya. Aku melihat serum yang kutancapkan tadi dipahanya terserap sempurna dan bekerja dengan baik. Lagi – lagi aku hanya diam dan tak berekpresi. Aku mencabutnya.

"ah~ tak bisa ya. Benar sekali, ini adalah obat pelumpuh seluruh sel. Kau tak bisa menyentuhku karena kau lumpuh, kau bahkan takkan bisa mengeluarkan suaramu~, hebat bukan?" ucapku datar sambil menggeretnya keluar dari kamar mandi menggunakan rambut miliknya. Aku melemparnya kekasur dan oops! Sepertinya aku salah sasaran karena ia malah menabrak ranjang keras yg terbuat dari kayu mahoni. Ah kepalanya mengeluarkan darah.

"ara..ara..Mitomo – oniichan kenapa?" ia hanya diam dan menatap shock apa yang telah terjadi padanya. Akupun mematikan lampunya agar suasananya lebih terasa.

"hmm…jika Mitomo – chan tak bisa menyentuhku. Bagaimana jika aku yg menyentuh Mitomo – Oniichan? Ah bukan! Lebih tepatnya si pelanggar hak asasi anak di bawah umur." Ia membulatkan mata. Aku mengeluarkan pisau lipatku dan membuka kedokku. Aku bukan pelacur, dan aku tidak berambut pirang dengan manik mata blue ocean. Aku hanya menatonya datar dan mendekat kearahnya. Ia menatapku horror.

"bagaimana…jika kita mulai…permainan yang ingin kau mainkan tadi atau permainan yang ingin…..KUMAINKAN?"

.

.

.

.

.

.

Set! 2..3..7…10..25..berhasil membuat 25 tusukan di tubuhnya tanpa menusukkan ke jantungnya. Cairan kental itu mengalir menurun seperti air terjun yang tenang.

Krek! Cairan merah itu mengalir, 1 kuku jari terlepas..

Krek! Lagi – lagi cairan merah itu mengalir dari mulutnya, 1 gigi terlepas..

Krek duagh! Terdapat tonjolan di kaki bagian kanan yang dipastikan itu tulang yang patah.. Tulang kering juga berhasil dihancurkan.

Ah lihat! Dia membuka mulutnya, mungkin ia menginginkan lidah terpotong…set! Lidahnya terpotong dengan sempurna sampai – sampai darahnya mencuat keluar dari mulutnya. Ah, itu bukan sempurna, itu gagal. Aku harus melakukannya dengan baik. Matanya mengeluarkan air mata.

"wah wah… ada apa? Kau terharukah? Aduh! Aku senang jika kau begitu menikmatinya. Kalau begitu bagaimana jika aku mencongkel matamu? Air mata itu menganggukan?" Krrt..kedua jariku memasuki lubang itu, yang kurasakan adalah basah dan hangat. Luar biasa! Aku meraih bola mata itu dan secara pelan, menariknya keluar, kadang memainkanya dengan menarik keluar dan memasukinya. Mulutnya terbuka lebar dan air matanya mengalir deras.

"hmm..enakkah? kalian juga sukakan memaju mundurkan seperti ini ke para pelacur murahan itu." aku tersenyum, aku sangat ingin mengabadikan momen ini, berharap waktu berhenti. Namun sayangnya, kenyataannya waktu terus berputar dan berputar.

Drrt..Drrt..drrt..hapeku bergetar dikasur yang berada didepanku. Kulihat sejenak dan menghela nafas, 'Alarm Jam 23.58'.

"ah menyebalkan. Padahal aku masih ingin bermain denganmu." Ucapku tanpa melepaskan bola mata yg masih terpasang itu.

"Kalau begitu.." set! Aku menariknya dengan kuat sampai urat matanya (yang menghubungkan mata ke otak) terlihat. Mata itu terpelas karna permukaanya yang Licin, aku pun sekali lagi melakukannya dan menariknya kebawah. Pts! Bola mata itu terlepas dengan sempurna. Aku melihat ekspresinya, ia begitu kesakitan dan menangis deras.

"baiklah, Tinggal satu lagi.." Set!Pts! aku menariknya dan langsung terputus. Aku melihat kedua bola mata miliknya, aku hanya diam.

"Ini kelimaksnya sayang!" Dengan satu tangan, aku menebas kepalanya yang langsung terpotong, darahnya menciprat keseluruh ruangan dan tak lupa juga kewajahku.

"hmm…klimaks yang menyenangkan." Tak sengaja aku merasakan darahnya yang melewati bibir.

"Pweehh! Pahit! Menjijikkan!" aku langsung membuangkan air liurku yg tercampur darahnya.

"Sudahlah. Ini sudah waktunya." Aku meraih kepalanya dan menuju ke arah jendela. Aku menatap bintang – bintang dilangit. Indah, ini begitu Indah. Moment ini..aku tak ingin ada yang- BRAK! Suara dobrakan pintu terdengar keras mengalihkan perhatianku. Aku melihatnya dari pantulan jendela, mereka ada 2..5..10..ah tidak 20 orang memasuki kamar iini. Bisa kulihat ekpresi mereka 'tak percaya', 'ketakutan', 'mengerikan'. Ah! Wajah yang lucu, mereka bisa melihat jelas pandangan yang kuberikan pada mereka walau lampu sudah kumatikan. Berlebihan sekali sih, padahal mereka hanya melihat cairan hangat bosnya yang melukis dinding – dinding ini. Aku memakai topeng Megitsuneku, dan melemparkan kepala bos mereka yang sudah mendingin dan mengerikan itu. Salah satu anak buahnya menangkap dan berteriak seolah ia seorang perempuan. Ayolah, itu hanya sebuah kepala tanpa mata dan mulut menganga.

"kau..Megitsune! kurang ajar!" ia mengacunkan senjatanya yang besar kearahku. Aku hanya diam dibalik topengku ini.

"semua tembak." aku meremas kedua bola mata itu sampai pecah dan melemparkan ke mereka. Cairan mata yang busuk itu mengenai mata mereka yang berada didepan dan tak jadi menembakku.

Dor! Aku menembak kaca itu hingga pecah keseluruhan, yang bisa membuatku terjun diri dari sini. Aku melompat tanpa menggunakan alat apapun kecuali pisau lipat dan senjataku. Bisa kulihat mereka membairkanku begitu saja. Bisa kutebak jika mereka berkata 'dia bunuh diri' atau 'wanita gila' atau 'dia pasti mati!'. Aku hannya menatap datar

"benarkah itu Tuan – tuan yang berpijak pada gedung yang akan hancur dalan 25 detik?" aku meluruskan tubuhku dan befokus kebawah.

DUUAARRR! BTOOM!1 lantai 13, lantai 14, lantai 15, lantai 16. Lantai 17 hancur dan menumbangkan 13 lantai yang diatasnya. Aku melihat keatas, melihat bintang – bintang itu yang sudah ditutupi oleh runtuhan bangunan yang jatuh.

"Menyebalkan.." ucapku. Tanpa sengaja Kulihat pantulan diriku berada di kaca bangunan sebelahku, menyedihkan. Ada apa ini? Manikku yang asli berwarna biru muda terlihat seperti ikan mati yang membusuk, bibirku juga tak pernah berubah menjadi kurva, wajahku tak berekspresive. Dimana diriku yang mudah tersenyum tanpa paksaan? Dimana diriku yang pastinya ketakutan disaat melihat ini semua. Aku menutup mataku, saat ini tak boleh memikirkan hal tak berguna. Aku memakai sarung tanganku, kuambil handphoneku dan mengetik sesuatu.

To : Satsuki - chan.

Aku sudah selesai.

Ku ketuk tanda 'send' di layarku. Aku melihat keatas, cahaya rembulann yang tadi berderang, kini menjadi gelap karena setengah bangunan yang runtuh itu, aku mengarahkan lenganku keatas, seperti ingin meraih bintang. Aku harus meraih sesuatu. Grep! Dengan cepat ada yang meraih dan menarikku kedalam gedung dengan cepat. Aku menabrak sesuatu dan terasa aku terbungkus sesuatu, lebih tepatnya dipeluk oleh seseorang. Hangat, badannya besar dan hangat. Manikku melihat siluet bangunan yang runtuh itu melewati lantai ini. Aku sudah aman...

Orang itu melepaskan pelukannya.

"Yare..yare.." aku kenal suara ini, dia..

"kau ini bodoh ya? Apa yang kau harapkan dari gedung yang terbuat dari kaca ini? Apa kau berharap ada sesuatu yang bisa kau raih hah?" ah kata – katanya tepat sasaran.

"Aomine – san…gomennasai." Ucapku datar. Aomine – san menggaruk tengkuknya.

"mattaku..bagaimana jika aku tadi tidak ada, dasar." Ucapnya kesal aku menundukkan kepalaku.

"aku mati. Hanya itu saja kan?" Sambungku cepat. Ia hanya menyeryitkan alis. Hening..angin malam melewati kami dari kaca gedung yang pecah, menerpa tubuh kami. Aku menatapnya yang sedang berdiri didepanku. Cahaya rembulan yang tadi terhalangi kini menyinari wajahnya, manik navynya menatapku. Tap, ia mendekatiku dan Tuk!

"Itta." Ia menyentil dahiku. Aku memegang dahiku yang tadi disentil.

"bakaa. Jangan mengatakan hal yang bodoh ah." Ucapnya.

"Lagipula kenapa rencananya jadi menghancurkan gedung sih? Lihat, untung saja gedung ini berada di sisi jurang pantai dan lagi ia jatuh kesisi jurangnya." omelnya

Ia meraih tubuhku dan menggendongnya secara bridal. Aku terkejut dan mendorong dada bidangnya.

"Aomine – san tur-.."

"tidurlah." Ucapnya memotong perkataanku. Aku mendangak melihatnya.

"perempuan tak boleh tidur malam – malam. Tak baik untuk kulit tau. Lagipula kau lelah jugakan?" Ucapnya. Ah benar juga. Tubuh agak lelah, ternyat mahluk dim ini perhatian juga. Akupun menutup mataku.

"baiklah. Aku percayakan kepada orang-yang-suka-merawat-kulitnya-agar-menjadi-putih." Ucapku terakhir.

"hah!? Dasar tak tahu terimakasih! Kau -.." aku menulikan pendengaranku dan mulai tertidur tanpa memikirkan protesan dari Aomine – san.

.

.

.

.

.

Author P.O.V

Sinar matahari kini menyelinap masuk kedalam celah jendela. Kisaragi dengan terpaksa harus membuka matanya, ia pun bangkit dan berusaha mengumpulkan diri.

"Hooaamm~~…" Kisaragi meregangkan tubuhnya, menyegarkan tubuhnya agar bisa lebih cepat mengumpulkan kesadarannya. Puk, seseorang memeluk pinggangnya, matanya membulat sempurna, iapun langsung melihat kesampingnya. Seksi dan imut, itu yang ada dipikiran Kisaragi, jujur saja disampingnya ada mahluk adam berkulit tan yang sedang tertidur pulas dengan muka polosnya. Tunggu..berkulit tan? 98..99..100..%.. kesadaranpun langsung pulih seketika, Kisaragi dengan datar..

"Aomine – san?" Kisaragi hanya deathface. Merasa dipanggil, aominepun membuka matanya.

"NGggg…? pagi Enka. Ayo tidur lagi ini masih sangat pagi." Ucap Aomine sambil mengeratkan pelukannya yang terikat dipinggang kisaragi. Twitch! Cklek! Dorr!Dorr!Dorr!

"HUWAAAAA!...HENTIKAN! AKU MENGERTI! !MAAFKAN AKU!" sepertinya Aomine sudah berolahraga pagi ini.

Di ruang makan

Tuk…wangi daging asap yang dimasak oleh kuroko menyebar ke seluruh ruangan, membuat momoi yang secara resmi tunangannya merasakan lapar. Kuroko menaruh sarapan untuk 4 orang yang berisi telur setengah matang dan 3 daging asap, tak lupa dengan susu juga.

"ah~ wanginya enak.." ucap Momoi sambil memangku kepalanya. Kuroko mengambil duduk disamping momoi.

"Terimakasih." Balas Kuroko dengan datar, Momoi hanya tersenyum. Ah begitu damai, ini adalah pagi yang damai bagi pasangan Kuroko dan momoi, tidak seperti 2 orang didepannya yang pagi – pagi sudah menembak dan ditembak. Momoi hanya terkekeh melihat sahabat kecilnya babak belur, sedangkan tersangkanya hanya diam dan tak merasa bersalah sama sekali kepada korbannya. Kuroko yang juga sahabat Aominepun melihat keadaan Aomine.

"Enka – chan, apa yang dilakukan oleh Aomine – kun tadi malam? Tanya kuroko kepada sepupunya ini. Kisaragi dengan tenang memakan sarapannya.

"Biasa. Pelecehan seksual." Ucap KIsaragi dengan tenang. Twitch! Tidak terima dengan pengakuan Kisaragi, Aominepun protes.

"Hah? Apa katamu tadi? Pelecehan seksual? Aku tadi malam menolongmu, tapi sekarang kau menuduhku yang tidak - tidak. Kau tah-.." Ckrreekk!

"Damare.." Kisaragi dengan cepat menodong Aomine menggunakan shotgun tanpa menggunakan tangan kanannya. Aomine hanya sephecless. Kurokopun mencairkan suasana.

"Hari ini kalian liburkan? Kenapa tidak jalan – jalan saja?" Tanya Kuroko.

"aku harus mengajar Shiroyumi – san beladiri." Jawab Kisaragi dengan singkat. Kuroko hanya mengagguk.

"Lalu.. En-chan apa lukamu baik – baik saja? Tadi malam kau tampak kotor." Jelas Momoi. Kisaragi mengeryitkan alis.

"apa maksudmu?" selidik Kisaragi, entah mengapa Aomine merasakan aura membunuh dari sampingnya.

"loh kau tak tau? Kau datang deng-.." Huap! Huap! Trek! Gluk!gluk! Aomine dengan cepat menghabiskan sarapannya.

"Ah! Aku lupa jika Aku ada janji dengan Akashi! Aku harus berangkat! Ittekimassu!" Aomine langsung bergegas mengambil tas dan pergi dengan cepat. Momoi hanya sweatdrop sedangkan kuroko dan kisaragi hanya menatap datar.

"Bukankah Aomine – kun menemui Akashi itu jam 3 sore?" Tanya Kuroko, Momoi hanya tersenyum aneh.

"entahlah.." ucapnya, Kisaragipun melanjutkan pertanyaan.

"lalu, aku datang dengan…?" Ucap Kisaragi. Momoi memukul telapak tangannya.

"ah! Iya! Kau datang dengan penampilan yang berantakan, tubuhmu dipenuhi warna hitam arang dan kau tau? Kau hanya menggunakan kemeja polos saja, sepertinya yang kau pakai itu adalah kemeja Aomine - kun." Jelas Momoi.

"hanya? Maksudmu?" Tanya Kisaragi, Momoi tersenyum

"Iya. Kau HANYA memakai kemeja Aomine. Saat kutanya dia bilang 'Bukan urusanmu' begitu" Twitch! Krek! Kisaragi langsung mengarahkan snipernya kearah parkiran dari jendela yang terbuka. Momoi sweatdrop dan Kuroko hanya datar.

"a..Anoo, En - chan?"

Deg! Aomine bisa merasakan jika shinigami sudah ada dibelakangnya, Hati Aomine berdetak cepat, ia berlari menuju mobilnya dan parahnya ia memakirnya di parkiran luar.

"Kami-sama Gomennasai! Maaf aku telah berdosa selama ini! Maaf aku telah mengoleksi Majalah laknat! Go-..!" Syung! Duar!

"ARRGGGHHHHHHH!"

.

.

.

.

.

.

.

Rumah sakit Tokyo..

"Mattaku, bodoh sekali. Untung saja Kisaragi tidak menggunakann Bazooka. Appartement kita bisa hancur nanti." Ucap Midorima sambil membaluti luka aomine bagian bahu dan lengan. Aomine yang menjadi korban hanya menggerutu kesal. Midorima membenarkan kacamatanya.

"kalau begini terus kapan mau menikah dengannya? Sepertinya itu adalah hal yang mustahil bagimu Aomine." Jelas Midorima. Aomine hanya mengerucutkan bibirnya.

"Damare. Itu bisa kulakukan dengan mudah tahu. Hanya saja…"

"jika ia menerima dan mencintaimu. Kisaragi –san pasti langsung bisa kau nikahi. Pfft! Pemikiran anak kecil" Potong ! Aomine tambah kesal, Bugh! Iapun melempar bantal kearah midorima dan hal itu sukses membuat Midorima tersungkur.

"Kau meledekku ya!? Apa – apaan itu!? Teman macam apa kau ini!? Bukannya membantu malah meledek!" protes Aomine. Midorima bangkit dan mengambil pose membenarkan kacamatanya.

"Aku tidak meledekmu, Tapi jika kau protes seperti itu berarti kau sadar diri. Kita bukan teman, bahkan suatu kemustahilan lagi jika kau bisa berteman dengan orang sepertiku." Jelas midorima menjawab semua pertanyaan Aomine yang ditujukan padanya.

"Itu benar Aomine – kun. Kalau begini kau tak bisa ingat janjimu dulu." Ucap Kuroko yang entah kapan ia berada disamping Midorima. Ternyata tadi Midorima bangkit dengan bantuan uluran tangan kuroko

"Huwwaaaaa! Tetsu! Sejak kapan kau disana!? Dan apa maksudmu 'janji' hah?" Aomine mengeryitkan alis. Kuroko menghela nafas, iapun mendekati Aomine.

"ternyata benar. kau lupa.." ucap Kuroko. Kuroko berda di depan Aomine.

"Kalau begitu.." BUGG! Tiba – tiba Kuroko memukul perut Aomine membuat Midorima dan Aomine tercengang dan kaget. Syung! Kuroko menghunuskan pedang berukuran 60 cm dengan cepat yang siap menusuk tubuh Aomine kapan saja, Kriiet! Dengan Cepat Midorimapun mengeluarkan benang tipisnya dan menghentikan kuroko. Aomine jatuh dan melihat Kuroko dengan aura hitam yang tak biasa. Midorima yang melihat itu hanya mengerutkan alis.

"Aomine – kun. Jawab pertanyaanku dengan jujur." Ucap Kuroko. Aomine hanya menegukkan ludah.

"apa…kau benar – benar melupakan janjimu dengan Enka?" Tanya Kuroko dingin.

"Jan..ji..Janji apa? Aku tak mengerti! Apa yang kau maksud tetsu?" tanya Aomine yang dilanda kebingungan.

"Aomine – kun! " Bentak Kuroko. Midorima hanya menghela nafas melihat pemandangan didepannya. Kuroko berteriak? Pasti Aomine membuat masalah yang besar.

"Cukup Kuroko. Disini Rumah sakit, bukan hutan." Omel Midorima sambil menarik benangnya. Kuroko hanya diam dan masih menatap Aomine.

"tapi jika kalian ingin menyelesaikan masalah disini,lakukan saja. Asal jangan berteriak." Ucap Midorima sambil meninggalkan ruangan itu. Hening, tak ada yang berbicara. Aomine membuang muka, sedangkan kuroko menatap tajam aomine.

"dulu..saat pertama kali kau, ah bukan..saat pertama kali kita bertemu dengan enka..kau membuat janji penting dengannya. Janji yang membuat Enka ingin kembali bertahan hidup dan bangkit dari trauma yang ia alami. Apa kau lupa Aomine – kun?" Aomine Membulatkan matanya. Janji? Janji penting? Aomine tahu jika ia itu bodoh tapi daya ingatnya masih kuat. Tak mungkin ia melupakan sebuah janji sepenting itu. Kuroko berjongkok di depan aomine sambil menghela nafas.

"Yappari..ternyata kau memang lupa." Ucap kuroko sambil tersenyum.

"Kalau begitu akan kuceritakan…kejadian awal dan janji dengan enka."

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung..

Mind to reviews?

Note:

ahahaha Gomen ne…baru update (~0~ )9 sudah beberapa bulan matsu tak update ya? Hahaha lupakan…

Yosh! Karna Matsu baru ada quota dan fanfic sudah tertumpuk beberapa chapter, Fanfic 'Kau adalah yang berharga' dan 'You and I' akan update setiap hari jumat! Selain Fanfic yang baru Matsu sebutkan tadi juga akan update Fanfic Matsu Hari Kamis! (`0 ')9