Balada Password Wi-Fi

Disclaimer : Hetalia Axis Powers memang masih punya Om Himaruya Hidekaz kemudian Fairytale masih punya abang(?) saya yang ketjeh yaitu Alexander Rybak /Ragrow digiles tank sama fansnya Alexander/ terus Solayoh juga masih punya Alyona Lanskaya lalu qaqa (oke ini alay banget) Ott Lepland juga masih punya lagunya yaitu Kuula sementara KUFAKUBAND juga masih memiliki lagu Hanya Kamu, Eurovision punya Marcel Bezençon, Der Untergang juga berasal dari om Oliver Hirschbiegel, In Darknes berasal dari Agniezska Holland, Rising Star Indonesia juga berasal dari RCTI, Gangnam Style dari PSY dan barang-barang yang ada disini kembali pada penciptanya karena saya hanya meminjam. (WOI RAMAGROCHOWSKA YANG KAMFRET, INI DISCLAIMER, BUKAN CERITANYA!)

Summary : Tentang anak-anak Hetalia Gakuen yang berusaha merayu, memaksa bahkan ngacangin sang Hacker yaitu Eduard von Bock agar mendapatkan password Wi-Fi sekolahnya dengan berbagai cara.

Rate : T

Warning : OOC, lebay, jayus, kata-kata yang bikin naik darah, OC yang jb-jb.

A/N: Male!Indonesia human name versi aye adalah Rafi Wicaksono dan OC yang numpang narsis disini namanya Rama.

.

.

.

Ketika jam kosong lebih tepatnya karena pak Romania (masih) ada pemaparan di tempatnya pak Zimbabwe, anak-anak kelas yang terkenal nista di Hetalia Gakuen ini malah sibuk dengan urusannya masing-masing seperti selfie, main C**king M*m* via N*tendo DS, ngerjain tugas, bikin lelucon, bahkan ada beberapa anak yang main Truth or dare.

Sebuah botol berputar ditengah-tengah permainan Truth or Dare.

Berputar dengan cepatnya.

Lalu berhenti dengan perlahan.

Ujung botol yang berwarna biru itu mengarah pada sebuah anak albino beriris mata merah yang bernama Gilbert Beilschmidt.

Gilbert hanya menatap ujung botol itu dengan datar "Lah ini gue yang kena?"

"Iyalah, *munch* siapa lagi *munch* kalo bukan *munch* lo?" gumam Alfred sambil mengunyah burger terobosan terbaru dari tempatnya Kiku yaitu burger Ramen.

"Lagian dari tadi lo juga belum kena, Gil" ucap Antonio dengan nada santai, "Pilih Truth or Dare?"

Gilbert pun meletakan tangan pada dagunya, kalo dia pilih Truth pasti pertanyaannya engga jauh-jauh dari : Sekarang suka sama siapa?, Masih sayang sama Elizabeta?, Mendingan Awesome Trio apa Bad Touch Trio?, Straight apa LGBT? dan pertanyaan aneh-aneh lainnya.

Tapi kalo dia pilih Dare juga pasti aneh-aneh kayak : Ajakin Elizabeta balikan, Cium Tiina, Peluk Matthew, Bilang Ich Liebe Dich sama Niklas, Ganti bio-nya jadi : ELIZABETA AKU MASIH SAYANG KAMU, Nyanyi lagu dangdut koplo dan dare-dare aneh lainnya.

"DARE DEH, DARE!"

Dia menerima resiko dari 'dare' yang ia ucapkan.

Oke, Gilbert malah melirik mantannya yaitu Elizabeta. Ia berharap tidak ada dare yang melibatkan dirinya dengan Elizabeta.

"Apa ya dare buat si Asem?" tanya Tino bingung sambil menelan Salmiakki yang merupakan permen kesukaannya, "Gimana kalo lo nyanyi Solayoh sama Natalia?" sambungnya sambil melirik ke arah Natalia.

"Nej, mending nyanyi Fairytale bareng gue" sambar Lukas sambil membenarkan jepitannya yang berbentuk Nordic Cross tersebut. "Gitu-gitu itu lagu gue yang paling laris, paling keren, paling amazing dan paling awesome tau"

"AWESOME? ITU KATA-KATA GUE, ANAK TROLL!" bentak Gilbert yang tidak terima kalo sufix-nya diucapkan oleh orang lain yang mendadak OOC seperti Lukas. Oke abaikan dia.

"Lagu lo? LAGU LO?! itu lagunya Alexander Rybak, kali." desis Natalia sambil mengasah koleksi pisau dapur dari Chef A*nl*d yang ia dapatkan waktu jumpa fans dengan chef terkenal tersebut.

"Ya begitulah si Lukas, karena di anime-nya dia sendiri belum dapat jatah nyanyi. Jadi harap dimaklumi" desis Lovino pada teman-temannya.

"Heh gue dengar itu, Lovinomblo!" desis Lukas sambil mengeluarkan buku mantranya, lalu mengucapkan : Lovinomblo, Lovinomblo, Lovinomblo hingga troll-troll-nya sudah berada disebelah Lovino Vargas, tetapi Lovino sendiri tidak menyadarinya.

"Tapi daripada Gilbert nyanyi lagu jaman bahuela punyanya Lukas, mendingan lo joget Gangnam Style gue yang keren ini, Da-zeeeeeeeee"

"Hmpfttttt. Lukas, Yong Soo, plis jangan promosi" gumam Monika pelan.

"WOI JANGAN OOT, FANGIRL-FANBOY JANGAN NGUMPUL NAPA! GILBERT ENGGA BAKALAN NYANYI KOK!"

Tino pun bingung ketika Narator yang bernama Rama mulai berteriak, kemudian Tino penasaran lalu bertanya pada Rama (yang datang dengan tiba-tiba) itu. "Lah terus apa, narator?"

"Minta password Wi-Fi sama Eduard von Bock, tapi dengan cara halus kayak : 'Eduard, minta password Wi-Fi-nya dong, nanti gue bakalan bla bla bla bla, deh' gitu!" Ujar Rama pelan.

"Engga asik banget sih" sewot Niklas sambil menggigit ujung lidahnya.

"Heh ini FF-nya Ragrow, tau! jangan protes karena gue selaku narator hanya membacakan saja!" Ketus Rama pada Niklas yang merupakan Personifikasi perempuan dari Denmark "Gue tusuk lo pake golok, mau?" ancam Rama sambil mengeluarkan sebuah golok dari sakunya.

"Ih naratornya kok mirip sama Natalia?" desis Feliks pelan sambil menatap narator dengan sinis.

"Iya nih, gue cabut ah" ucap Alfred sambil menjauhi narator.

"CABUT, CABUT! CABUT, CABUT!"

"Pendukungnya dikit, Woooo"

"WOI ITU CHANTS-NYA KELASNYA RAGROW TAU! LO MAU OS INI KAGA JADI DIPUBLISH SAMA DIA APA?" bentak Rama yang mulai kesal.

"EH KAGA DEH, MAAF RAGROW"

Oke, Ini Gaje. Kembali ke Gilbert, anak itu menerima dare gaje dari Narator dan anak itu langsung mendatangi anak laki-laki nerd tapi kenyataannya dia keren yaitu Eduard von Bock. "Heh Hacker, lo tau kata sandi Wi-Fi sekolah ga?" Tanya Gilbert sambil memegang bahunya Eduard von Bock dan Rafi Wicaksono. "Kalo lo tau, nanti aku kasih CD Mein Gott yang awesome ini"

Kemudian Mathias dan Antonio malah ketawa ngakak karena Gilbert malah promosi CD-nya yang asem itu. "Tidak tau" gumam Eduard sambil membantu Rafi membuat slide dari pelajaran IPS tentang konflik Indonesia dan Belanda.

"Hah tidak tau? Payah lo" sambar Feliks dengan nada kesal sambil membenarkan rok/? diatas lutut yang ia pakai, Ya sekarang Feliks lagi menjalankan dare dari Antonio yaitu crossdress dan ia menjalankan dare tersebut dengan senang hati.

"Masa sih seorang Eduard von Bock engga tau password Wi-Fi Hetalia Gakuen?" ucap Antonio sambil menghitung uang jajannya, kali ada sisa buat beliin Eduard sebuah jajanan sebagai penawaran. "Nanti gue beliin Churros sepuluh biji deh"

"Heh jangan Churros, kesannya murahan amat" gumam Lovino yang merespon perkataan Antonio sambil melipat lengannya didepan dadanya. "Kasih aja pulsa modem 5 Euro buat satu bulan"

"Lo gatau apa di Estonia sana tuh Internetnya kenceng banget, bisa dibilang ngebut kali. Jadi Eduard gabutuh modem 5 Euro dari lo" desis Rafi pada teman-temannya.

"KAMPRETTTTTTTT!" teriak Lovino dengan salah satu kata-kata mutiaranya.

Arthur pun mulai ikut andil untuk hal ini, dia kan punya banyak strategi karena pekerjaan sampingannya adalah seorang mata-mata atau bahasa kerennya adalah spy (apa hubungannya?). "Naikin tawaran, lo kasih tau password Wi-Fi-nya ke gue terus gue bikinin Scone special buat lo"

"Masih enakan Lussekkat atau Pirakkaa buatan pacarnya daripada Scone busuk buatan lo" semprot Alfred sambil membuka bungkus hamburgernya yang ke 53-nya (ehbuset).

"ANJIR LO HAMBURGER GIT!" umpat Arthur pada Alfred yang membuat burgernya Alfred menjadi jatuh dan terjadinya pertikaian.

Kemudian Francis melempar bunga mawar merah yang dari tadi ia pegang ke arah lain, "Ah kalian ini, gue ini selalu punya cara keren buat urusan kayak gini. Mon ami beri aku password Wi-Fi sekolah ini, nanti malam kamu tidur sama abang Francis, ya?" godanya sambil memegang dagunya Eduard, tetapi Eduard malah ketakutan. "Mau di kamar kamu apa di kamar a-AW!" ucap Francis yang tiba-tiba terputus karena kakinya diinjak oleh Gilbert dan Antonio.

"GILA LO FRANCIS! KALO LO PAKE CARA KAYAK GITU, BISA-BISA LO DISNIPER SAMA TIINA!" bentak Gilbert sambil menampar Francis berkali-kali.

"TAU LO FRANCIS, BISA-BISA LO DIGAMPARIN SAMA NONA VÄINÄMÖINEN, DAH!" Antonio juga ikut-ikutan membentak Francis lalu menonjok laki-laki Perancis itu dengan kesalnya. "CARA LO MURAHAN BANGET, B*GO! MALU GUE PUNYA SOHIB KAYAK LO" umpatnya pada sohibnya sendiri, sementara anak-anak yang lain pada diem dan membatin : Sadis nih Gilbert sama Antonio.

"Udah sih selow aja, kan gue bercanda" lirih Francis dengan wajahnya yang memar dan bonyok akibat perbuatan kedua sohibnya sendiri.

"Bercanda tapi bikin gue jiji, git" desis Arthur dengan tampang : ilfeel gue sama Francis.

Sementara itu Natalia yang berada disampingnya mbak Niklas pun juga mendengar kata-kata menjijikan itu. "Gue yang denger tapi kenapa pengen muntah, ya?"

"Sama" respon Niklas dengan singkatnya.

Ivan pun tersenyum melihat semua itu, "Sudahlah, da. Kalo misalnya kamu tidak mau kasih tahu password Wi-Fi-nya nanti kamu harus bersatu denganku, da?" ucapnya dengan nada polos kepada Eduard.

"Iya, kalo kamu pelit berarti kamu harus mau jadi kacung abangku!" desis Natalya pada Eduard sambil mengasah kedua buah pisau miliknya, mungkin pisaunya mau dipakai sama Rafi dan Kirana buat menyembelih hewan kurban di Masjid yang terletak ditempatnya.

"Bukan kacung, tapi uke-ku, da?" ucap Ivan tanpa rasa bersalah sambil memeluk Eduard dari belakang (seperti biasanya yang Ivan lakukan pada laki-laki Estonia tersebut), sementara keringat dingin telah mengucur dengan deras dari kening dan tangannya Eduard.

Natalia pun malah memegang syal berwarna pink milik abangnya. "ABANG KAMU JAHAT! KAMU ITU LEBIH PANTAS BERSAMAKU DARIPADA BERSAMA EDUARD!"

"NYETTTTTTTTTTTT" jeritnya yang kemudian ia keluar dari kelas dengan terbirit-birit untuk menghindari kejaran adiknya sendiri.

"Ih berisik banget sih, gue kan jadi engga bisa nonton In Darkness!" teriak Feliks yang daritadi sedang memantengi layar laptopnya untuk menonton film yang berasal dari tempatnya tersebut.

Monika yang berada disebelahnya Feliks pun menghela nafasnya, "Udah mending lo nonton Der Untergang sama gue aje deh" desisnya sambil memegang sebuah DVD Original dari film yang merupakan film berbahasa Jerman dan Rusia itu.

Kemudian Tino dan Rafi mendatangi kedua orang itu, "Sudahlah, Mendingan kita nonton Rising Star Indonesia deh"

"Ah gaya lo, Tino. Ngikutin aja kaga" desis Rafi sambil menatap Tino dengan datar.

.

.

.

Kemudian anak-anak mulai berusaha mengutak atik password Wi-Fi sekolah tanpa bantuan dari Eduard. "Coba lo pake password yang satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh dan delapan"

"Oke" respon Gilbert sambil mengetik delapan digit angka yang disebutkan oleh Antonio. "Kok engga bisa sih!"

"Coba 'Ancient rome'" gumam Mathias sambil memegang dagunya.

Lalu Gilbert mengetik nama kepsek pada kolom Wi-Fi password tetapi hasilnya tetap nihil. "Kaga bisa"

"Coba pakai inisial selingkuhannya, dammit!" usul Lovino pada Gilbert tetapi anak itu malah gagal paham sama maksud dari si Lovino.

"Hah?" sahut Gilbert yang memang sudah gagal paham dengan maksudnya si Lovino.

Kemudian Tino kembali menghampiri Eduard dengan ekspresi bingungnya. "Eh Eduard manko, emangnya lo engga tau password Wi-Fi sekolah apa?" tanya Tino pada Eduard dengan ekspresi : kok tumben ya?

"Kasih tau atau ga lo gue cekokin sama lagu-lagunya Ott Lepland" Ancam Lovino pada Eduard sambil mengeluarkan I*od dari sakunya. "Mau lagunya yang Kuula atau yang lain?"

"Eeh jangan, itu penyanyi dari tempatnya Eduard tau!" desis Ludwig pada Lovino, sementara Lovino malah sibuk nyari lagu lain. Mungkin lagu Hanya kamu dari Kufakuband (dan lagu ini bisa bikin anak-anak pada mabok, loh) bisa menjadi pilihan lain yang terbaik atau yang menakutkan (bagi telinganya Eduard dan telinga anak-anak yang lain).

Kemudian seorang guru yang berpenampilan seperti bangsawan dari negeri antah barantah yang kebetulan jadi guru piket untuk hari ini pun memasuki kelas nista ini. "Iya jangan, mending lagunya Conchita Wurst aje" ucap Roderich Edelstein dengan nada semangatnya. Weh diakan guru SBK, ngapain dia jbjb? "Eh siapa yang hari ini engga masuk?" tanya pak Roderich pada anak-anak satu kelas.

"Paham pak, yang kemarin negaranya menang Eurovision, cukup tau" ucap Mirja Oxenstierna dengan nada pelan, "SAKITNYA TUH DISINI, PAK!" batin Mirja sambil memegang jidatnya (karena pegang hati sudah terlalu mainstream)

Abaikan Mirja yang mulai galau. Kembali ke anak-anak yang sedang mengerubuni Eduard yang melihat kenampakan pak Roderich di kelasnya. "Nihil pak"

"Dih dirasa" desis pak Roderich sambil menandatangani jurnal kelas yang tergeletak diatas meja dengan kondisi sampul yang telah robek dibagian depan. "Eh bapak nanya kenapa dikacangin?"

"KAN KITA UDAH BILANG NIHIL PAKKKKK" koor anak-anak yang merespon pak Roderich dengan suara lantangnya.

"WOI SELO AJA KALI, GUE BELOM BUDEG!" Respon pak Roderich dengan kesalnya, sementara anak-anak pada ketawa-ketawa gajelas. "Jangan berisik, ya?" ucap pak Roderich lalu guru itu keluar dan seorang anak yaitu Ludwig pun menghampiri Mirja.

"Sebenarnya Swedia dapat peringkat ke tiga di ESC aja udah bagus kok, emangnya gue"

"Emang lo kemarin nyanyi apa?" tanya Mirja pada Ludwig dengan penasarannya.

"Aku Rapopo" respon Ludwig pelan sementara Mirja mulai ketawa ngakak begitu mendengar jawaban dari Ludwig.

Kemudian Eduard mulai panas dingin gara-gara teman-temannya mulai membahas Eurovision Song Contest. "AH SUDAHLAH! GUE TAU LAGU GALAU DARI TEMPAT GUE KALAH PAMOR SAMA LAGU DARI TEMPAT KALIAN!"

"Eduard dirasa ih" desis Rafi dengan nada pelannya sementara Kirana mulai tertawa kecil.

Alfred pun berdenyit begitu teman-temannya (termasuk Rafi yang gaul dewa itu) pada membahas ESC. "Please, kalian jangan bahas Eurovision, udah tau gue pengen ikutan tapi kalian kaga ngizin gue"

"Lo siapa? Orang Eropa bukan?" sewot Lovino pada Alfred, kemudian Alfred mulai menulis ditangannya yaitu 'Alfred engga keren' dengan siletnya (ehbuset) "Eh kenapa jadi bahas Eurovision?"

"Lah kan lo yang bahas" desis Ludwig pelan.

Kemudian Antonio juga ikut-ikutan berdesis, "Tau, lagian ESC 2015 masih lama tau"

"Lagian kalo mau bahas Rising Star Indonesia juga kalian pada engga tahu" gumam Tino, tuh kan diam-diam Tino ngikutin Rising Star Indonesia juga.

"Itu acara apa ya, Tino?" tanya Antonio bingung.

"Kok gue kudet ya sampai engga tau hal begini?" gumam Feliks yang juga ikut-ikutan bingung.

Antonio sama Feliks yang berasal dari tempat yang keren aja bingung, apalagi Alfred yang sudah membuat berbagai macam kontes yang keren, If you know what I mean. "Iya, gue juga baru dengar acara itu. Emang itu sejenis kontes kah?"

Kemudian Kirana tersenyum nista "Gatau, pokoknya acara dari tempat gue keren-keren semua"

"KEREN? KEREN DARI JAKARTA?!" semprot anak-anak pada Kirana yang mulai mendadak narsis, sementara si Kirana mulai kicep.

Kirana yang mulai kicep gara-gara disemprot sama anak-anak satu kelas dan si Ludwig mulai merasakan sesuatu yang hilang, iya dia dari tadi tidak mendengar suara temannya yaitu Feliciano. "Ngomong-ngomong si Feliciano kemana, ya?"

Gilbert pun mulai tertawa kecil begitu mendengar adiknya mencari Feliciano. "Kenapa, West? kangen?"

"Engga! gue mau nanya aja!"

"Pasti dia lagi dibelakang, ya tepatnya lagi bikin pasta di ruang kelas memasak" balas Rafi sambil memegang dagunya, sementara Ludwig hanya menganggukan kepalanya.

"Eeh kalian jangan bahas apa-apa dulu kek, ini urusin dulu masalah Wi-Fi-nya!" kata Mathias pada Gilbert "Biar bisa lanjut main lagi, nih!"

"Eh ya gue lupa!" ucap Gilbert sambil memegang dahinya, "Eduard!" panggilnya sambil berjalan menuju mejanya Eduard.

Sesampainya dia dimejanya Eduard, dia menatap Eduard dengan tatapan penuh harapan. "Eh, eh Eduard Manko, buruan kasih tau password-nya, gue mau nyolong foto dari mbah g**gle nih"

"Nyolong foto apaan sih?" desis Eduard tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. "Foto gebetan lo, ya?"

"Heh bukan kok," gumam Antonio pada Eduard, "Palingan foto J*T48 atau A*B48, ya?"

"Jangan sok tau kalian!" ucap Gilbert pada mereka berdua, "Eeh kasih tau aja, Eduard. Ingat orang pelit cocoknya jadi jomblo" sambung Gilbert dengan nada tidak sabar.

"Anjir, parah lu pada. Eduard-kan sohib gue!" sambar Alfred yang membela temannya yang sesama anak pecinta Internet tersebut, "Ya ga Eduard?" ucapnya sambil menatap Eduard.

Kemudian Eduard pun tersenyum nista, teman-temannya mulai curiga karena Eduard ingin ketawa cuma ia tahan. "Kalo soal itu sih, lo tulis aja 'Tidak tau', emang kata sandinya kayak gitu kok"

Krik!

Tick Tock!

Tick Tock!

Tick Tock!

GUBRAK!

"ANJIRRRRRRT" umpat Lovino sambil mengoleskan saus tomat pada wajahnya, mungkin buat maskeran.

"KAMPRETTTTT" Antonio juga ikut-ikutan mengucapkan kata-kata mutiaranya Lovino.

"Woi berisik, kampret" umpat Niklas sambil melempar kaleng soda kearah Lovino dan Antonio.

"WATDESEMPAK, BARU KALI INI GUE-EH MAKSUDNYA KITA DI TROLL SAMA EDUARD VON BOCK!" jerit Mathias, Alfred dan Tino pada anak-anak.

"Cie di Troll, emang enak?" desis Lukas pelan (sambil mentertawakan teman-temannya, cuma tertawa dalam hati hehe).

"Jebakan betmen" desis Kirana pelan sambil tertawa pelan.

"Bukan, inimah Jebakan Eduard von Bock" balas Rafi pada saudaranya.

"PANTES AJA KEMARIN DI EUROVISION LO KALAH MULU!"

"Apa hubungannya sama Eurovision, git?!" desis Arthur pada Toris, Toris hanya bisa Sweatdrop.

"BESOK GUE GUNA-GUNA SI TIINA VÄINÄMÖINEN BIAR CEPET-CEPET MUTUSIN LO, EDUARD VON BOCK!"

Dan Eduard hanya bisa merasakan uratnya yang terputus begitu Kirana dan Rafi mulai mengancam hubungannya dengan Tiina.

.

.

.

THE END DENGAN SANGAT TIDAK AWESOME-NYA

.

.

.


Churros adalah makanan yang berasal dari Spanyol, seperti cakwe tapi kuahnya pake cokelat, karamel dan sebagainya, Lussekatt itu adalah roti dari Finlandia-Swedia dengan nama lain Saffron Bread dan Pirrakkaa itu adalah makanan khas dari Finlandia-Estonia.

A/N : Udah nulis dari jaman jebot tapi belum kepublish. Kiitos.