.
Chapter 6: DANGEROUS SIGHTINGS
.
.
.
.
.
scarletrosee present
.
.
.
.
.
.
Author : fliuor
Translator: scarletrosee
Length : Multi chapter series
Genre:Romance, Fluff, Adventure, Mystery
Rate: PG-13
Cast : Baekhyun, Chanyeol, Jongdae, Kyungsoo, Jongin, Luhan, Minseok, Joonmyun, Yifan, Yixing, Sehun, Tao
Pairing: ChanBaek, KaiSoo, XiuHan, FanXing, SuChen
.
.
.
.
.
A/N: By the way, kalian bisa membaca cerita asli dari kak Fliuor disini: wewewe(titik)asianfanfics(titik)com/story/view/684033/spare-the-rod-and-spoil-the-child-baekyeol-kaisoo-xiuhan-ot12-fanxing-suchen-hogwartsau. Sorry for typo(s) and hope you like it. Chuu~
.
.
.
.
.
The casts belong to God, parents and their agency (except Chanyeollie is mine nghahahaw) the plot and story belong to Fliuor! Don't be silnet reader please
.
.
.
.
.
THIS IS YAOI ! I TOLD YOU BEFORE ! DON'T LIKE DON'T READ !
.
.
.
.
.
Untuk kesekian kalinya hari itu, Joonmyun mendesah.
Untuk menghindari kerumunan menyesakkan yang biasanya berkumpul di Three Broomsticks, Joonmyun memilih salah satu meja yang paling terpencil, duduk di samping jendela yang memberinya pemandangan siswa berkeliaran di luar dan memungkinkannya untuk mengawasi mereka. Salju turun lebat tahun ini, gang Hogsmeade benar-benar putih.
Lonceng berdentang di pintu, dan Yifan masuk ke dalam, mencondongkan kepalanya yang membuat rambutnya bergoyang, wajahnya dibenamkan ke dalam syal. Joonmyun melambai padanya, dan Yifan menuju mejanya.
"Apa yang kau punya?"
"Sirup cherry." Joonmyun menjawab dengan senyum.
Yifan memelototinya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Yifan lalu pergi ke meja dan meminta Butterbeer hangat.
"Bagaimana di luar?" Tanya Joonmyun ketika ia kembali.
"Tidak banyak, anak-anak mencari hadiah Natal, sebagian besar. Aku melihat Minseok berjalan-jalan di dekat The Magic Neep. Dia akan mengurus daerah itu."
"Baiklah."
"Jadi ... apa yang terjadi denganmu?"
Joonmyun menyaksikan langit-langit, mengingat memori dan mengerutkan kening.
"Tidak ada yang besar, tapi ... ingat ketika aku bilang aku menangkap Chanyeol di tengah-tengah tugas patroliku, terakhir kali?"
"Eh, ya?" Yifan mengangguk.
"Dia mendapat detensi."
Yifan mengangkat alisnya, tapi tidak tampak terkejut.
"Apa yang dia lakukan kali ini?
"Aku tidak tahu, jujur ..." kata Joonmyun terus terang. "Dan itu mengkhawatirkan."
"Apa maksudmu, kau tidak tahu?"
"Maksudku, aku benar-benar tidak tahu apa yang dia lakukan malam itu."
"Tapi dia mendapat detensi."
Joonmyun mengangkat bahu. Chanyeol telah dihukum, ya, tapi untuk apa? Dia sungguh-sungguh tidak tahu. Situasi sudah cukup aneh, dan ia menginterogasi Chanyeol disana malam itu, ketika ia menemukannya. Tapi Chanyeol bersikeras bahwa ia hanya berjalan di sekitar kastil karena ia memiliki kesulitan tidur. Sekarang, yang jelas Chanyeol telah berbohong, tapi Joonmyun tidak pernah mencecar orang dengan baik. Jadi pembicaraan itu berlangsung lama sedangkan Chanyeol hanya mengoceh.
"Aku mendengar kau berbicara dengan seseorang." Kata Joonmyun sangat serius, masih menggunakan tongkatnya untuk mencari bayangan orang lain di lorong. "Apa ada siswa lain yang bersamamu disini?"
"Tidak ada," Chanyeol mengangkat kedua tangan. "Aku bersumpah! Tidak ada orang disini bersamaku, aku hanya...berbicara pada diri sendiri."
"Apa kau benar-benarber harap aku percaya itu?"
"Iya.Ini kebenaran." Chanyeol tersenyum malu-malu. "Ayolah, Joonmyun. Kau tidak akan menghukum siswa innocent."
"Siswa innocent tidak berkeliaran di sekitar kastil pada dini hari. Itu melanggar aturan, dan kau tahu itu."
"Aku ...aku punya gangguan pencernaan," kata Chanyeol, memegang perutnya. "Ini jamur yang aku makan semalam...mereka tidak tercernad engan baik."
"Jadi, kau mencoba untuk berjalan pergi?"
"Tepat!"
Joonmyun menggigit bibirnya, tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, ia hampir yakin bahwa ia mendengar Chanyeol berbicara dengan seseorang tepat sebelum dia menggunakan mantra Lumos di koridor, dan juga positif bahwa ada lebih dari satu langkah kaki turun dari tangga lantai enam. Di sisi lain, siapa pun orang itu, dia sekaran gsama sekali tak terlihat, dan Chanyeol tidak membawa apa-apa di tangannya yang bisa digunakan. Chanyeol tersenyum bersalah, dan Joonmyun ragu-ragu, lalu menurunkan lengannya, siap untuk membiarkan anak itu pergi.
Wajah Chanyeol cerah segera.
"Terima kasih, Joonmyun."
Si Prefek mencoba untuk membalas sesuatu, tapi sebelum dia bisa, suara ketiga berbicara dalam kegelapan.
"Evening, boys."
Mereka berdua mengangkat mata mereka untuk mencari sumber suara dan Joonmyun tersentak, melihat Profesor Jung bersinar dengan cahaya tongkatnya sambil melenggang ke arah mereka dengan senyum membingungkan. Pada awalnya Joonmyeon terkejut melihat seorang guru dan mencoba untuk mencari ucapan yang tepat. Tapi kemudian ia melirik Chanyeol, dan melihat wajah siswa Gryffindor itu perlahan berubah menjadi pucat, terlalu pucat untuk seseorang yang seharusnya tidak bersalah. Profesor Jung berhenti di depan mereka dan menatap Joonmyun meminta penjelasan.
"Jadi, apa arti pertemuan ini?"
"Chanyeol mengatakan bahwa ia mengalami kesulitan tidur, Profesor."
"Oh, bukankah itu disayangkan?" Profesor Jung mengangguk, kemudian mengamati Chanyeol dengan sangat hati-hati. "Anda terlihat sedikit sakit, Chanyeol. Anda sedikit pucat. Sangat pucat, sebenarnya. Anda harus kembali ke tempat tidur."
"Saya ... saya akan melakukan itu,Profesor. Terima kasih."
"Sebelum anda melakukan itu, apa itu di saku anda?"
Joonmyun melihat ekspresi Chanyeol yang ketakutan dan panik. Guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam itu tersenyum.
"Berikan," katanya lembut.
Chanyeol ragu-ragu, matanya melesat ke sekitar untuk mencarib antuan. Tapi Profesor Jung hanyamembuka telapak tangannya lagi.
"Ayo sekarang. Berikan pada saya," ulangnya sangat lambat.
Chanyeol menggali tangannya ke dalam saku jubahnya, menarik keluar sepasang kunci perunggu dan menyerahkannya pada Profesor dengan berat hati. Profesor Jung hati-hati mempelajari kunci itu untuk sementara waktu, kemudian menunjukkan seringai kecil.
"Ini terlihat familiar."
"Itu kunci bagasi saya." Chanyeol tergagap, sedikit menantang. "Saya membutuhkannya untuk mendapatkan buku-buku saya."
"Benar." Profesor Jung mengangkat alisnya, "saya yakin anda tidak akan keberatan jika kita mencobanya bersama-sama, kan? Membuka bagasi anda dengan ini?"
Joonmyun melihat perjuangan si bocah Gryffindor untuk tetap tenang, menutup matanya erat-erat saat ia mundur.
"Baiklah, baiklah ... Anda menang. Saya berbohong."
"Berbohong di depan guru bukan hal yang cerdas untuk dilakukan, Chanyeol," kata Profesor Jung saat ini, ia berbalik, "Saya akan menyimpan ini hingga penggunaannya telah diidentifikasi, jika anda tidak keberatan."
"Saya keberatan," Chanyeol tiba-tiba membalas. "Itu ... itu penting bagi saya. Uh ... Saya mendapatkannya dari teman!"
Profesor Jung menyipitkan matanya,
"Seorang teman?"
"Ini antik!" Chanyeol berseru, memegang tangannya. "Karena saya tidak bisa pergi ke Hogsmeade terakhir kali, teman saya membelinya di toko antik Shrieking Shack sebagai souvenir. Saya bersumpah itu kebenaran, anda bisa pergi ke sana sendiri dan memeriksa toko jika anda ingin, di-disana anda bisa menemukan banyak barang kuno yang berkilau. Benar-benar kuno, tapi sangat cantik untuk dilihat ... haha."
Joonmyun mengangkat alis, tidak terlalu yakin kemana arah pembicaraan ini. Tapi Profesor Jung tampak sedikit skeptis, masih memegang kunci di tangan kirinya, cengkeramannya melonggar. Chanyeol menggenggam tangannya, seolah-olah sedang tertekan.
"Please, Profesor Jung... Ini hadiah romantis."
Dengan tertawa kecil, guru itu memiringkan kepalanya dan menjatuhkan kunci ke telapak tangan Chanyeol.
"It's a bit of a wobbly story, if you ask me," katanya akhirnya. "Oke, saya tidak ingin dituduh menghancurkan kisah cinta siswa muda."
Chanyeol tersenyum cerah.
"Terima kasih banyak, Profesor Jung."
"Jangan berterima kasih begitu cepat. Anda berbohong kepada Profesor dan berkeliaran di sekitar kastil di luar jam yang diizinkan." Profesor Jung tersenyum, hampir sedikit puas. "Saya pikir anda layak setidaknya mendapat detensi."
Chanyeol membuka mulutnya, kunci masih di tangannya.
"Apa?!"
"Aku pikirmu maksud 'Maaf'," Joonmyun mengerutkan kening.
"Terima kasih, Mr Kim." Profesor Jung tertawa lembut. "Dan ya, anda mendengar saya, Chanyeol. Saya akan menjadwalkan sesuatu yang menyenangkan bagi anda tentang syarat detensi nanti. Saya rindu memiliki anda, ini adalah kesempatan yang sempurna."
"T-tapi ... Profesor!"
"Sampai jumpa di kelas pada hari Senin." Profesor Jung tersenyum dan berbalik.
"Dan dia tidak pernah bertanya apa yang Chanyeol lakukan, pada akhirnya?" Tanya Yifan yang menggunakan gelas Butterbeer untuk menghangatkan tangannya.
"Tidak," Joonmyun menghela napas. "Aku mencoba untuk membuat Chanyeol bicara setelah itu, tapi ia menutup mulutnya erat dan mengklaim bahwa ia harus kembali ke tempat tidur segera."
"Bau-baunya mencurigakan."
"Aku tahu ..." Prefek Ravenclaw itu meletakkan cangkir ke bawah, menggapai ke dalam saku. "Ingin es tikus?"
"Dalam cuaca seperti ini?" Jawab Yifan.
Joonmyun mengangkat bahu dan menarik es nya keluar. Es tikus Honeyduke ini selalu menjadi favoritnya.
"Jadi, itulah yang aku khawatirkan minggu ini," kata Joonmyeon, menggigit, sebelum mengunyah dengan gigi gemeletuk. "Kau?"
"Err ... Aku tidak tahu. Waktuku tampaknya cukup membengkak untuk saat ini."
"Bagaimana dengan Baekhyun?"
"Oh, ya, benar." Yifan bergumam. "Itu sesuatu yang bisa dibicarakan ..."
"Bloody hell, no. Lepaskan ini dariku."
Chanyeol menatap ngeri refleksi dirinya di cermin, sementara Jongdae masih memegang baju pesta berwarna merah di depannya dengan cemberut meragukan.
"Aku pikir itu terlihat baik-baik saja."
"Baik? Aku terlihat seperti monyet, sialan!"
Di belakang mereka, Sehun, Tao dan Jongin sedang membolak-balik rak yang berbeda di Gladrags Wizardwear, bingung mencari baju yang bisa mereka pakai.
"Pergi dan cari sesuatu yang gelap." Kata Sehun, "Lebih gelap dari itu. Seperti, benar-benar, benar-benar gelap; warna kehitaman cocok."
"Kau pikir begitu?" Tao mengernyitkan hidungnya, tidak yakin, "Aku berpikir jas putih ..."
Jujur, Jongin tidak peduli. Dia mengeluarkan sebuah baju kehijauan dengan embel-embel berwarna krem dan melemparkannya ke arah teman-temannya.
"Bagaimana dengan yang satu ini?"
"Hell no, itu memuakkan," Sehun memukul Jongin, seolah-olah takut bahwa anak itu mungkin mencemarinya dengan keburukan. "Jika kau mengenakan sesuatu seperti ini untuk Christmas Ball, aku menolak untuk berhubungan denganmu."
Jongin tertawa dan menempatkan pakaian kembali ke tempatnya.
"Baiklah, aku akan berhenti berkontribusi."
"Ya, aku pikir itu yang terbaik," Sehun terisak melalui hidungnya yang tersumbat, mengangkat kepalanya untuk melihat jalan-jalan di luar. "Dan kenapa salju turun begitu deras di luar? Ini hampir Desember."
"Musim dingin awal," Tao tersenyum, matanya berbinar dengan kegembiraan. "Langit bersiap-siap untuk Natal!"
"Seseorang yang terlalu bersemangat ..."
"Berbicara tentang Natal," Sehun tiba-tiba melompat, "apa rencanamu untuk liburan?"
Tao berkedip. "Aku? Aku hanya akan kembali ke rumah. Biasa."
"Sama," Sehun merenung, menatap Jongin. "Bagaimana denganmu?"
"Bagaimana denganku?"
"Kau akan datang dengan ke rumah kami tahun ini atau tidak?" Tanya Sehun, "Kau tahu, Ibuku katanya sudah menyiapkan tempat tidur untukmu. Kau dipersilakan untuk tinggal."
"Oh." Gumam Jongin, merasa sedikit tidak pasti. "Eh, aku belum yakin."
Mata Sehun melebar sedikit.
"Apa kau akan pulang?"
"Tidak. Maksudku, aku tidak tahu." Jongin tersendat, ia memutar matanya. "Aku ragu. Aku tidak berpikir orangtuaku benar-benar ingin aku ada disana ngomong-ngomong. Mungkin aku akan tinggal di Hogwarts."
"Atau, kau bisa ke tempatku," Sehun mengerutkan kening.
"Aku sudah menghabiskan Natal di rumahmu selama tiga tahun berturut-turut, aku tidak bisa terus melakukan itu."
"Ya kau bisa."
"Tidak bisa."
"Kau bisa." Sehun bersikeras. "Kau hanya tidak ingin."
"Guys ... Jangan mulai berdebat," Tao mendesah dan mengangkat matanya ke langit.
Tapi Jongin menggeleng dan memegang bahu Sehun, berusaha keras untuk mempertahankan wajah lurus.
"Look. You're still my special snowflake," ujar Jongin seperti sungguh-sungguh, berusaha untuk tidak tertawa terkekeh-keekeh. "Ini bukan karena aku menolak tawaranmu untuk tinggal tahun ini."
Sehun menatapnya, senyumnya berdetak di sudut bibirnya.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Sebenarnya, kau tahu? Aku sangat mencintaimu. Kau dan aku harus pergi ke Christmas Ball bersama, jika tak satu pun dari kita menemukan pasangan lain."
"Apa?!" Tao berteriak, tapi Sehun menggenggam tangannya dengan gembira.
"Oh, Jongin!"
"Deal?"
"Deal." Sehun mengangguk, menautkan janji kelingking.
Kemudian mereka kembali mencari baju yang berbeda dari toko, Tao memutar matanya dan menggeleng.
"Kalian gila."
Jongin tertawa lembut dan merangkul bahu Sehun, menggoyangkan kakinya. Kemudian, saat ia melihat keluar jendela, sosok familiar terlihat sedang berjuang melalui salju. Membuat Jongin menurunkan lengannya dari bahu Sehun, dan berjingkrak langsung menuju pintu.
"Tunggu, aku akan segera kembali."
"Tunggu apa?"
Sehun berkedip.
"Oi, Jong-!"
Jongin keluar dari toko, berjalan untuk mengejar sosok kecil yang melenggang melewati Gladrags Wizardwear, rambutnya ditutupi oleh salju dan syal hijaunya terbang dalam angin. Jongin berhenti beberapa langkah di belakang, ia mengambil napas dan berseru sekeras yang dia bisa.
"Do Kyungsoo!"
Siswa Slytherin itu terpaku, berbalik dengan mata bulat besar, dan menatapnya heran. Sudah lama sejak ia bertemu Jongin, tapi ia masih ingat bagaimana ia merasa nyaman terakhir kali di ruang bawah tanah, membuat ramuan Girding bersama-sama. Jongin mencoba tersenyum, tapi kemudian, menyadari bahwa Kyungsoo tampak gugup, bibir merahnya bergetar dalam angin musim dingin yang keras. Jongin merasa senyumnya lenyap.
"Ada apa?"
"Um," Kyungsoo ragu-ragu, menelan kata-katanya kembali, seakan siap untuk berbalik dan meninggalkan Jongin tanpa penjelasan apapun. Lalu ia melirik perhatian anak muda itu, dan akhirnya menyerah dengan ekspresi kecewa. "Aku hanya ... kehilangan Baekhyun."
Baekhyun melenggang ke jalanan bersalju, melompat dan mengayuh dengan kakinya, terkekeh pelan pada dirinya sendiri. Lima belas menit yang lalu, ia dan Kyungsoo bertemu di toko buku di dekat jalan utama, bertanya pada Kyungsoo 'kau siap untuk pergi?'. Yang mengejutkan, Kyungsoo membalas pertanyaannya dengan sederhana 'pergi ke mana?', membuat Baekhyun cemberut.
"Knockturn Alley, tentu saja." Baekhyun mengatakan.
"Apa kau serius masih memikirkan itu?" Kyungsoo melotot. "Tepat setelah detensimu?"
"Itu minggu lalu. Sekarang saatnya untuk bersenang-senang!"
"Aku tidak ikut." Kyungsoo menggeleng. "Juga, kau tidak harus melakukannya. Jika seseorang menemukanmu di Knockturn Alley, bukan hanya detensi sederhana yang akan kau dapatkan."
"Tidak akan ada yang menemukanku."
"Apa kau ini benar-benar keras kepala?" Kata Kyungsoo. "Baek, kau mungkin akan diskors!"
"Aku mengerti, kau menarik diri dari rencana brilianku hanya karena kau tidak cukup percaya padaku?"
"Baek, sekarang bukan waktunya untuk-"
"Aku kecewa, kau berbeda!" Baekhyun berteriak, menertawakan ekspresi khawatir Kyungsoo dalam hati. Baekhyun kemudian berpura-pura stres, dan tiba-tiba menunjuk tempat di belakang bahu Kyungsoo. "Apa itu, by the way?"
"Apa?"
Kyungsoo berbalik untuk melihat ke belakang, dan Baekhyun merebut kesempatan itu untuk menyelinap melalui kerumunan mahasiswa, lalu keluar dari toko. Ketika Kyungsoo kembali berbalik, Baekhyun sudah hilang dari hadapannya.
"B ... Baekhyun?" Baekhyun mendengar Kyungsoo berteriak gugup. "Baekhyun!"
Melompat melalui salju, Baekhyun dengan cepat berjalan ke tepi desa, mencari tempat dimana tak seorang pun akan melihatnya ber-Disapparate. Jika Kyungsoo tidak mau ikut, itu bukan masalah. Sejauh yang Baekhyun ingat, Kyungsoo selalu lebih halus dan cermat daripada dia ketika melanggar aturan sekolah, dan Baekhyun sendiri sering bertanya-tanya apakah Kyungsoo pernah melanggar peraturan. Baekhyun tidak keberatan pergi Knockturn Alley sendirian.
Tapi ia harus melakukannya di tempat rahasia, dan pada saat ini, ada terlalu banyak siswa di seluruh Hogsmeade, terlalu banyak mata yang akan melihatnya. Lagipula, kenapa mereka semua menatapnya? Kemudian, Baekhyun menyadari dengan sentakan sedikit bahwa ia masih mengenakan lencana Prefek nya.
Dia harus menyingkirkannya.
Dari gang yang berdekatan, François Putieux muncul dengan salah satu siswa tahun ketujuh yang Baekhyun tahu berada di Slytherin juga -Markus Hargraves- jika dia ingat dengan baik.
Inilah yang ia butuhkan.
"Hai, François!" Baekhyun memanggil keras, menghalangi jalan mereka dan membuat mereka berdua melompat, "Hari yang indah, bukan? Hai juga, Hargraves. Aku Baekhyun by the way, teman sekamar François."
"H-hai ..."
"Biarkan aku menghias jubahmu." Baekhyun menyambar lencana Prefek dan memakaikannya ke jubah Markus. Baekhyun kemudian menepuk bahu siswa itu dan tersenyum berseri-seri. "Simpan untukku, ya?"
"Apa yang kau lakukan?" François mengerutkan kening.
"Hanya berbelanja beberapa." Baekhyun berlari. "Sampai jumpa nanti!"
Ia akhirnya berhenti setelah mencapai Shrieking Shack, yakin bahwa tidak ada orang untuk memata-matai dirinya. Kehabisan napas, ia mundur di balik pohon cemara dan mundur pelan-pelan dengan mata tertutup.
"Three D's." Ia mengucapkan kata-kata Kakaknya pelan. "Destination. Determination. Deliberation."
Baekhyun harus pergi ke Knockturn Alley untuk belanja Natal. Dia harus ber-Apparate disana, ia bertekad untuk melakukannya, dan ia akan melakukannya dengan sengaja, tanpa tergesa-gesa.
Baiklah.
Baekhyun mengambil napas.
Dia bisa melakukannya.
Dia pasti bisa melakukannya.
Dengan suara retakan yang keras, Baekhyun memejamkan mata dan membiarkan sensasi memutar merebut tubuhnya pergi.
"-dan bak mandi meluap. Dimana-mana. Kamar mandi Prefek, bisa kau bayangkan?" Yifan menghela napas, menyelesaikan tegukan terakhir Butterbeer nya. "Terkadang aku bertanya-tanya, apakah Baekhyun melakukan semua ini agar lencana Prefek nya dicabut?"
"Ngmong-omong, apa kau melihatnya hari ini?" Joonmyun mengangkat matanya. "Aku tidak melihatnya di jajaran Prefek ketika kita meninggalkan Hogwarts pagi ini."
"Tidak. Aku juga tidak. Tapi aku berharap dia melahap permen atau membeli sesuatu di Zonko, bukannya menonton dan jalan-jalan ... Mengulur-ulur waktu, seperti biasanya."
"Yah, aku setuju."
"Benar." Mereka menatap gelas kosong mereka dan menghela napas. Yifan menjatuhkan diri dari bangkunya. "Ayo bersulang."
"Hmm. Cheers."
Lonceng berdentang lagi, dan kali ini, Luhan masuk, pipinya babak belur oleh angin, hidungnya memerah dari balik syal merah nya.
"Hei," Luhan mengangkat satu tangan memberi hormat. "Apa kalian memiliki pertemuan Prefek sendiri?"
Joonmyun tersenyum. "Kau bisa bergabung jika kau mau."
"Minum apa?" Yifan bertanya.
Luhan tersenyum.
"Firewhisky, please."
Alis Joonmyun berkedut sedikit. Yifan kembali minum tanpa berkomentar.
"Yifan hanya memberitahuku tentang keunikan Baekhyun." Joonmyeonn menggerutu ketika ia menenggak minumannya.
"Seperti?"
"Ingat ketika keran kamar mandi Prefek tidak bisa berhenti berputar tidak peduli mantra apa yang kita gunakan pada mereka? Dan seluruh tempat menjadi banjir?" Yifan berkata, alisnya terangkat.
Mata Luhan melebar marah.
"Itu ulahnya?!"
"Kau harus belajar hal-hal baru setiap hari ..."
"Masalahnya, Byun Baekhyun berada di luar kendali. Jika anak itu terus seperti ini, suatu hari ia akan mengalami kesulitan besar." Yifan berkata, melirik cemas pada Butterbeer-nya. "Kesulitan yang sangat besar."
"Dia tahu apa yang dia lakukan. Kau tidak perlu khawatir padanya," Luhan merenung, memutar minuman dalam gelas sambil berpikir. "Ayahnya sangat berpengaruh di Kementerian, kan? Baekhyun memiliki koneksi dari orang-orang penting, yang akan mendukungnya kemanapun ia pergi. Dia tidak akan mendapat kecelakaan buruk, bahkan jika ia mendaratkan kakinya dimanapun."
"Dia juga memiliki kekayaan di belakangnya." Joonmyun mengangguk. "Keluarga Byun sangat kaya."
"Lebih kaya dari keluargamu?" Yifan mencibir.
"Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu," Joonmyeon mengerutkan bibirnya. "Lagipula, keluargaku tidak kaya, kami hanya-"
"Konglomerat."
"Oke oke sudah," Joonmyun menyatakan damai. Yifan bersandar ke belakang, menyeimbangkan posisi duduknya sebelum mengangguk pada mereka.
"Ada rencana untuk Christmas Ball?"
"Aku tidak berpikir untuk membawa pasangan." Kata Joonmyeon dengan tenang. "Sebagai Prefek, kita mungkin akan disuruh mengawasi anak-anak selama pesta, lebih mudah bergerak jika kita tidak membawa pasangan. Aku pikir aku akan pergi sendiri."
"Sama, itulah apa yang aku pikirkan." Yifan setuju, mengangguk sambil merenung. "Luhan?"
Mereka berbalik menatap Luhan, dikejutkan oleh wajah keputusasaan Luhan. Prefek Gryffindor itu tampak akan menangis.
Jongin menatap keseriusan di wajah Kyungsoo, bertanya-tanya apa yang harus dia katakan.
"Apa maksudmu, kau kehilangan dia?" Jongin akhirnya bertanya setelah beberapa saat.
Kyungsoo hanya memberinya tatapan tak berdaya, dan Jongin tiba-tiba menyadari pertanyaannya mungkin kurang tepat. Maka dia memperbaikinya.
"Apa kau tahu dimana biasanya Baekhyun pergi? Mungkin dia sudah selesai berbelanja dan kembali ke kastil."
"Tidak." Jawab Kyungsoo.
"Um ... apa kau yakin? Lalu ... bagaimana dengan toko-toko utama? Apa kau ingat Baekhyun pernah kesana?"
"Tidak, tidak." Kata Kyungsoo singkat, wajahnya berubah suram. "Dia akan kembali sendiri."
"Oh."
Dari matanya, Jongin merasa bahwa Kyungsoo tahu persis dimana Baekhyun menghilang, tapi ia tidak berniat berbagi informasi dengannya. Samar-samar rasanya sakit, tanpa tahu kenapa. Jongin menendang salju di sekelilingnya dan menatap mata besar Kyungsoo. Siswa Slytherin itu tampak tegang hari ini. Jongin menyukai saat mereka berdua mengobrol tentang ramuan di bawah tanah. Ia berdehem.
"Apa kau sudah selesai berbelanja Natal? Kita bisa melakukannya bersama-sama."
Kyungsoo mengerutkan kening dengan lembut.
"Kenapa kau tidak melakukannya dengan-"
"Mereka sedang memilihkan baju untuk Chanyeol." Jongin tersenyum.
Tapi Kyungsoo tidak tersenyum kembali.
"Dengar, hanya karena Baekhyun tidak ada disini, bukan berarti aku perlu-"
"Aku tidak meminta karena Byun Baekhyun, aku hanya berpikir kita bisa ..." Jongin berhenti sejenak, meringis. "Sudahlah. Lupakan."
"Aku sudah selesai berbelanja Natal."
"Benar. Bagus kalau begitu."
Kyungsoo mengangkat alisnya, dan Jongin tersipu. Kadang-kadang Jongin berharap bisa mengungkapkan kekecewaannya tanpa terlihat seperti anak nakal berusia lima tahun. Jongin sudah akan berbalik dan meninggalkan tempat itu, ketika Kyungsoo memanggilnya kembali.
"Tunggu." Kata Kyungsoo lembut. "Aku tidak keberatan membantumu memilih hadiah, jika kau ingin."
Jongin melihat kembali, tersenyum lebar.
"Benarkah?"
Martabat, Kim Jongin. Demi Tuhan, martabat.
Kyungsoo meliriknya kemudian menyeringai kecil. "Yeah," katanya. "Aku tidak keberatan. Daripada harus mendengar ocehan tak berujung Baekhyun sepanjang waktu."
"Aku tidak membeli banyak. Hanya hadiah untuk Tao, itu saja."
"Itu seharusnya tidak lama."
Mereka berjalan menyusuri jalan utama bersama-sama, dan Kyungsoo mengerutkan bibirnya meminta maaf ketika mendengar nama Tao.
"Ngomong-omong, aku minta maaf tentang apa yang aku lakukan terakhir kali dengan Baekhyun... Itu ... itu sedikit konyol, aku akui."
"Itu bukan salahmu," Jongin meyakinkan dengan tegas, menggelengkan kepalanya. "Itu ide Baekhyun."
"Aku juga ikut terlibat dalam pertengkaran."
"Oh, benar."
"Lagipula," Kyungsoo mendesah, melindungi wajahnya dari angin dingin, "apa kau punya ide tentang apa yang harus kita berikan untuk Tao? Atau kita hanya mencarinya begitu saja?"
"Uhhh, Tao suka Ramalan ... Jadi aku pikir sesuatu seperti jimat keberuntungan akan baik."
"Sebuah jimat keberuntungan?" Kyungsoo merenungkan. "Aku tahu dimana untuk mendapatkan itu."
"Benarkah?"
"Ikut denganku."
Jongin mengikuti Kyungsoo yang membawanya ke gang di belakang Darwis & Banges, kaki mereka gemetar untuk menendang salju dari sepatu mereka. Tampaknya, sangat sedikit siswa yang berkeliaran di daerah itu, jauh lebih tenang dan lebih kosong daripada bagian lain dari Hogsmeade. Toko-toko disini jauh lebih sederhana, terletak berhadapan satu sama lain seperti potongan puzzle bengkok. Toko yang Kyungsoo pilih berada di sebelah Apotek, sedikit mewah dan berbau ginseng bahkan dari luar. Toko itu memiliki kain ungu besar yang menutupi kaca jendela, dan nama "Delina's Delusions" ditulis di atas dinding dalam huruf emas besar.
Jongin menatap toko dengan sedikit keraguan.
"Masuklah," Kyungsoo membuka pintu, dan Jongin patuhi setelah merasa ragu-ragu.
Toko itu jauh lebih besar daripada kelihatannya. Permadani menggantung di atas dinding bunga, tebal dan berwarna-warni, mengingatkan Jongin pada sarang Trelawney di kelas Ramalan. Puluhan keranjang anyaman melayang di udara di sekitar ruangan, beberapa berisikan bunga dan tanaman ajaib, lainnya berisikan batu mulia dari berbagai ukuran dan nuansa. Di tengah ruangan terdapat meja bundar kecil dengan bola kristal tunggal di atasnya. Burung hantu bertengger di balik itu, memiringkan kepala hitamnya pada mereka acuh tak acuh, dengan tanda yang tergantung di lehernya:
"Let your stars choose for you"
Jongin mencari seorang pemilik toko, tapi entah bagaimana ia tidak menemukannya.
"Apa-"
"Gunakan bola kristal," Kyungsoo menjelaskan, "bola itu akan menampilkan item berbeda yang mungkin sesuai dengan kebutuhanmu, tergantung pada apa atau siapa yang kau pikirkan."
Siswa Gryffindor mengerutkan hidungnya.
"Serius?"
"Serius. Hanya letakkan tanganmu pada bola kristal dan pikirkan jimat keberuntungan. Pergilah."
Sedikit curiga, Jongin meletakkan telapak tangannya pada kristal dingin dan mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan menilai burung hantu itu. Ketika dia melirik bola kristal lagi, ia hampir mengeluarkan teriakan. Gambar sepasang anting-anting plum baru saja muncul entah dari mana, dengan tulisan kecil "item 869" di bawahnya. Jongin setengah kagum, setengah khawatir.
"Itu luar biasa!" Jongin berteriak kagum.
"Lihat?" Kyungsoo tersenyum kecil. "Aku bilang itu akan menampilkan item yang kau butuhkan."
"Yah, aku tidak akan mengatakan bahwa itu tebakan yang sangat akurat ..." Jongin mengerutkan kening pada anting-anting, berkedip ragu. "Aku tidak mungkin memberikannya pada Tao. Dia feminin, memang, tapi pasti ada batasan yang-"
"Kebanyakan pelanggan yang datang ke sini adalah anak perempuan, sebenarnya." Kyungsoo menghela napas.
"Serius?" Jongin berbalik menatapnya. "Lalu, bagaimana kau bisa menemukan toko ini?"
"Aku biasanya pergi ke Apotek sebelah," kata Kyungsoo dengan sentuhan pembelaan. "Aku datang ke sini hanya untuk mencoba. Aku sedang mencari hadiah untuk ibuku."
"Benar."
"Kita bisa menemukan toko lain, jika kau ingin, aku hanya menyarankan ini untuk bersenang-senang ..."
"Tidak tidak. Aku akan mencoba ini lagi. Um ... Aku bisa mengubah item tidak?"
Kyungsoo mengawasinya diam-diam untuk beberapa saat, lalu mengangguk pada bola kristal. "Hanya pikrikan sesuatu yang berbeda, seperti yang ingin kau berikan pada Tao."
Jongin melakukan yang terbaik untuk membayangkan wajah Tao di pikirannya, senyum kucing Tao, sosok Tao di asrama, wajah gembira Tao setiap kali mereka memenangkan pertandingan Quidditch. Tak lama, gambar di bawah telapak tangannya berubah dan item yang berbeda muncul, nomor 536, membuat Jongin tersenyum geli.
"Kurang lebih seperti ini."
"Apa kau puas?" Tanya Kyungsoo.
"Ya, aku pikir begitu. Bagaimana cara membelinya?"
Jongin baru saja menyelesaikan kalimatnya ketika burung hantu di bar berkukuk, mengepakkan sayapnya dan terbang ke arah belakang toko, menghilang di balik permadani gantung. Ketika burung itu kembali beberapa saat kemudian, ia membawa sebuah kotak di cakarnya bersama keranjang kecil yang terbuat dari jerami. "Untuk uang," Kyungsoo menjelaskan.
Jongin melihat label harga di bawah keranjang, meringis, dan menjatuhkan empat galleon dan tujuh sickles ke dalamnya. Burung hantu itu terbang lagi dan menghilang ke belakang toko, meninggalkan Jongin dengan item yang baru dibelinya, dan uang di dompetnya mulai menipis. Jongin berpaling ke arah Kyungsoo saat mereka berjalan keluar dari toko.
"Sialan, kau tidak memberitahuku kalau itu itu mahal. Aku bangkrut."
"Maaf," Kyungsoo berkedip, malu. "Kisaran harga disana cukup lumayan, aku lupa menyebutkan."
Jongin mendesah. "Setidaknya, aku pikir Tao pasti suka."
"Apa kau menyukainya?"
"Tempat itu?" Jongin menatap, menyadari bahwa Kyungsoo tampak sedikit cemas. "Ya, aku menyukainya. Terima kasih sudah menunjukkannya padaku."
Kyungsoo tersenyum, ia tampak benar-benar lega.
"Sama-sama."
Jongin tersenyum dan mengangguk ke arah apotek tersebut.
"Apa kau ingin ke sana?"
"Apa kau mau?" Tanya anak yang lebih tua.
"Aku ingin tahu jenis toko yang biasanya kau kunjungi."
"Ini toko biasa. Aku pergi ke sana untuk membeli akar Aconite untuk ..."
Dia berhenti, membuat Jongin cemberut.
"Untuk apa?"
"Draught of Living Fire."
Jongin berhenti, dia belum pernah mendengar tentang jenis ramuan itu sebelumnya. Ia bertanya-tanya apakah Kyungsoo membuat resep sendiri. Dengan nama seperti itu, mungkin bukan ramuan cinta. Hal ini membuat Jongin penasaran. Kyungsoo jelas tampak cukup ambisius dan mampu menciptakan ramuan sendiri, bukan demi masyarakat, tetapi demi dirinya sendiri. Pada saat yang sama, Kyungsoo tampak sadar diri tentang bakatnya, seolah-olah itu adalah sesuatu yang harus disembunyikan. Jongin tertarik. Ia ingin belajar pada Kyungsoo diam-diam dan kemudian tersenyum gembira.
"Ajari aku."
Kyungsoo melebar matanya, benar-benar tercengang.
"Apa?"
"Ajari aku cara menyeduh ramuan itu. Aku ingin belajar."
"Aku ... kau ... aku ..."
"Ayo, aku belajar dengan cepat dan aku seorang siswa yang patuh ... jadilah guruku."
Kyungsoo akhirnya berkedip terkejut.
"J-jadilah guruku ..." gumam Kyungsoo lemah.
Ketika Jongin akhirnya mengerti, dia tersenyum lagi dan mengangguk.
"Iya. Jadilah guruku, Do Kyungsoo."
"Aku punya dua kondisi," kata Kyungsoo serius, tatapannya berubah tegas.
"Tentu. Jadi apa itu?"
"Pertama, aku hanya akan mengajarimu tentang ramuan itu menurut teori, aku menolak untuk melakukannya untukmu atau harus praktek pada setiap tahapan, dan aku melarangmu untuk mencobanya sendiri di lapangan."
"Kenapa tidak?"
"Kedua," Kyungsoo terus berbicara tanpa mendengarkan. "Kau tidak boleh memberitahu siapapun tentang hal ini. Aku ingin ini tetap menjadi rahasia antara kau dan aku. Rahasia kecil kita. Milik kita sendiri."
Jongin berkedip, dan melihat warna merah perlahan merayap ke pipi Kyungsoo. Apakah ia malu, atau kedinginan? Jongin tidak tahu. Pada akhirnya, dia tersenyum dan mengangguk.
"Aku berjanji."
Baekhyun membuka matanya ketika sensasi memutar berhenti, berkedip cemas beberapa kali, tidak berani menggerakkan anggota tubuhnya. Apakah dia masih utuh? Baekhyun menyentuh lengannya, hidungnya, pantatnya. Dan segala sesuatu tampak dimana mereka seharusnya. Ketika Baekhyun memandang sekelilingnya, ia melihat papan bengkok, reyot dan tua, tergantung di dinding di atas kepalanya. 'Knockturn Alley' tulisannya.
Baekhyun perlahan tersenyum pada dirinya sendiri. "Aku berhasil!" Bisiknya gembira.
Di sekelilingnya, sebagian besar gang tampak sepi, hanya ada satu atau dua nenek sihir tua yang menunggu di depan pintu dengan tampilan menakutkan. Seorang pria yang nampak berbahaya berjalan melewatinya, menyalip Baekhyun tanpa memandangnya sekilas. Pria itu tidak memiliki lengan. Baekhyun menelan ludah dan menegakkan punggungnya, mencoba untuk tidak terlihat terganggu.
Gang itu sedikit lebih gelap daripada yang Baekhyun pikir. Tapi sekarang ia sudah disini, ia tidak boleh membiarkan dirinya terhalang oleh sesuatu yang begitu kecil. Sudah waktunya untuk mengeksplorasi. Dengan menarik napas dalam-dalam, Baekhyun menyesuaikan syal dan terjun ke gang gelap. Toko pertama yang ia masuki adalah sebuah toko kecil yang penuh dengan Shrunken Head bernama Noggin & Bonce, tapi dia tidak tinggal untuk waktu yang lama. Dia ragu Kyungsoo akan senang menerima hal seperti itu sebagai hadiah Natal, lagipula. Shrunken Head juga tidak memiliki estetika, dan Baekhyun tidak berpikir bahwa ia ingin memiliki satu gantung di tiang ranjangnya. Oleh karena itu, tidak ada gunanya berlama-lama disana. Dia berjalan keluar tanpa penundaan.
Berikutnya, Baekhyun berhenti di sebuah toko buku, mengagumi untuk waktu yang lama. Satu atau dua buku membuatnya menggigil, dia menahan hasratnya untuk bertanya-tanya apakah ia harus membelinya atau tidak, sampai pemilik toko tiba-tiba mendesis padanya untuk tidak berlama-lama jika tidak berniat untuk membeli -ini bukan perpustakaan untuk anak nakal, katanya-. Kesal, Baekhyun mendongakkan dagunya dan langsung keluar dari toko.
Baekhyun membeli hadiah untuk Yifan di toko ketiga, Borgin and Burkes, yang entah bagaimana ia berhasil memperoleh bungkusan mata naga dengan harga enam galleon dan sepuluh knuts. Artefak itu diduga digunakan sebagai magnet bagi kekuasaan, kekayaan, dan kemakmuran yang menjamin untuk tahun yang akan datang. Baekhyun sangat meragukan hal itu akan bekerja. Tapi setidaknya, itu akan terlihat cantik di rak buku Yifan.
Toko terakhir bernama The Coffin House, tempat yang remang-remang dengan eksterior hitam dan pintu yang tampaknya telah terjepit di antara dua toko lain. Di dalam, pemilik toko sedang tidur di belakang meja, mendengkur lembut dengan lilin yang menyala menakutkan di sebelah wajahnya.
Baekhyun menutup pintu di belakangnya saat masuk.
"Halo?" Katanya.
Si penjual mendengus. Hanya ada satu pelanggan lain di belakang toko, memegang sebuah buku dengan punggung menghadap ke arahnya. Rak juga diisi dengan benda-benda aneh, kalung terbuat dari tulang, jimat, cairan untuk mumifikasi, dan boneka musang yang ditempelkan ke dinding. Baekhyun mendongak, ada tanda yang tergantung di langit-langit dengan rantai tua berkarat.
"Everything you need on the dead and the otherworld.
Buy at your own risks."
Lucu.
Baekhyun berjalan ke belakang toko, mengambil gelang kecil yang terbuat dari gigi manusia. Pasti ini adalah hadiah Natal yang tidak layak, sama sekali tidak. Tapi ada sebuah kalung yang tergantung di sebelahnya, yang tampak jauh lebih layak. Liontinya adalah logam kecil yang memiliki bentuk busur tebal, dengan telinga memanjang yang tampak seperti sayap di bagian atas, berbentuk gigi kecil penyok di bagian bawah. Sebuah batu hitam legam bertatahkan di tengah, bercahaya remang dalam gelap. Baekhyun mengambilnya. Itu cukup.
Dia menatap pelanggan berjubah yang berdiri hanya beberapa langkah darinya. Pelanggan itu memakai tudung di atas kepalanya. Baekhhyun mengerutkan kening sedikit. Buku di tangan orang asing itu berkilauan di bawah cahaya lilin, dan Baekhyun melihat tulisan disana. 'Necromancy'.
Kemudian, pelanggan itu menoleh ke arah Baekhyun secara tiba-tiba, seakan diperingatkan bahwa ia sedang diawasi. Baekhyun tersentak. Dia berkedip, merasa seperti dia telah melihat orang itu sebelumnya, tapi tidak cukup mengetahui siapa itu, tidak dapat membedakan fiturnya dalam kegelapan. Apakah siswa lain?
"Maaf, aku ..." ia mulai. "Aku tidak bermaksud untuk menatap ..."
Tapi pelanggan itu berbalik dengan kerasa, mengambil bukunya, kemudian melemparkan uangnya di meja dan meninggalkan toko tanpa mengucapkan satu kata. Baekhyun berkedip, sedikit terguncang. Tiba-tiba ia merasa seperti tidak boleh tinggal disini lebih lama lagi.
Pemilik toko akhirnya terbangun dari tidur siangnya karena suara denting uang, dan ia duduk untuk mengumpulkan koin yang tersisa di meja ke dalam kotak uang sendiri. Baekhyun berdeham, mengambil liontin cantik di stand, dan membawanya ke meja.
"Aku ingin memiliki ini, please." Katanya cepat.
Penyihir tua menatapnya.
Kemudian dengan anggukan kecil, ia berhati-hati mengambil kalung itu ke tangannya dan memperhatikannya dengan cermat.
"Pilihan yang bijaksana," dia tersenyum, terlihat ramah dari dekat. "Kau memilih benda yang bagus, Anakku. Kalung ini adalah Seventh Sense."
"Seventh apa?"
"Sense. Ini adalah artefak yang berguna, ini ... memberikanmu rasa kesadaran yang penuh atas lingkungan, lebih hebat daripada yang bisa dibayangkan. Dia akan memperingatkanmu tentang segala sesuatu yang mungkin bisa membahayakanmu dalam jarak lima puluh meter, setidaknya."
"Aku berpikir membelikan itu untuk seorang teman."
"Yah, itu hadiah yang indah." Kata penyihir itu. "Kalung ini akan melindungi temanmu dari bahaya yang paling tak terduga. Ini akan menangkalnya dari kekuatan tak terduga dan tak terlihat."
Baekhyun tersenyum.
"Seperti Teropong-Curiga?"
"Jauh lebih baik daripada Teropong-Curiga," pemilik toko terkekeh. "Tapi ada kemiripan, kukira."
"Berapa harganya?"
"Tujuh Galleon dan lima sickles, please."
Baekhyun mengeluarkan uang tanpa ragu-ragu, dan penyihir tua menatapnya.
"Kau sangat muda," katanya dengan sedikit kecurigaan. "Kau bukan seorang siswa, kan?"
"Aku? Oh uh ..." Baekhyun tergagap. "Tidak, aku hanya terlihat muda. Semua orang Asia terlihat lebih muda dari usia mereka, kau harus tahu, haha."
"Aku mengenal syal itu, tapi." Kata si penjual, menyipitkan matanya di bawah lampu lilin redup, mencoba untuk melihat warna syal zamrud Slytherin. "Ya ... bukankah ini syal dari Hogw-"
"Aku harus pergi," Baekhyun buru-buru memutus. "Sampai jumpa!"
Dia memasukkan hadiah untuk Kyungsoo ke dalam tasnya dan langsung keluar dari toko, hampir membanting pintu di belakangnya dan tergesa-gesa untuk pergi. Dia telah berkeliling cukup lama. Itu lebih dari cukup untuk kembali ke sekolah.
"Luhan, kau baik-baik saja?" Joonmyun berkedip, samar-samar ngeri, menatap Yifan seolah berkata apa yang harus dilakukan. "Apa ini topik sensitif, eh?"
Yifan melambaikan tangannya. "Tidak, itu hanya-"
"Bukan apa-apa," jawab Luhan dan menatap gelasnya dengan sedih sambil mendesah dalam. "Itu hanya mengingatkanku pada Minseok, dan fakta bahwa ini tahun terkahir kami ... dan fakta bahwa aku ayam pengecut ... dan fakta bahwa kesempatan terakhirku akan pergi begitu saja, tanpa ada yang bisa kulakukan untuk meraihnya ... dan hanya ..." dia mendesah dramatis dan menutupi matanya. "Jangan pedulikan aku."
"Kita bisa bicara tentang sesuatu yang lain," kata Yifan dengan terburu-buru. "Seperti ... err, bagaimana cuaca."
Joonmyun menempatkan tangannya di bahu Luhan.
"Apa kau perlu meraihnya, lagipula?"
Yifan membuka mata lebar-lebar pada Joonmyeon dari seberang meja, diam-diam mengucapkan peringatan.
"Tidak, tidak apa-apa," Luhan menatap Firewhisky-nya. "Mungkin akan berakhir seperti ini? Mungkin Minseok dan aku hanya menjadi seperti ini."
"Atau mungkin tidak."
"Ya," Joonmyun menepuk punggungnya, "bagaimana kau bisa yakin sampai kau mencobanya?"
Mata Yifan mengeluarkan sinyal bahaya, tangannya memberi isyarat pada Joonmyun untuk menghentikan omongannya dari bawah meja.
Kau tidak akan selamat mulai hari ini! Yifan melotot.
Joonmyun hanya mengerutkan kening. Memberi sinyal balik pada Yifan.
Bagaimana lagi? Kita perlu membantumya!
"Tidak apa-apa guys," Luhan tiba-tiba berkata. "Aku perlu mengatasinya cepat atau lambat. Mungkin juga melakukannya sekarang sebelum terlambat. Kita tidak perlu berbicara tentang hal itu."
Joonmyun dan Yifan bertukar pandangan ragu-ragu.
"Baiklah, jika itu maumu."
Luhan berhenti, wajahnya tiba-tiba berubah masam.
"Oke, tidak ada. Sebenarnya ..."
"Hai teman-teman."
Mereka semua tersentak, terkejut dengan panggilan mendadak, dan Joonmyun hampir jatuh dari kursinya ketika tangan orang itu tiba-tiba menepuk keras bahunya. Itu Yasmine Abott, rekan prefek nya.
"Yasmine?" Joonmyun berkedip, kemudian menatap minuman kosong yang tersisa di atas meja. "Oh, eh, maaf tentang ini. Kami akan terus berpatroli langsung, haha."
"Tidak, tidak, aku disini bukan untuk itu," katanya dengan senyum geli. "Aku hanya ingin bertanya apa kalian tahu dimana Byun Baekhyun?"
"Baekhyun?" Yifan melompat, meluncur dari bangku. "Kenapa? Apa dia pergi?"
"Uh ... tak satu pun dari Prefek lain melihatnnya untuk dua jam setidaknya."
Luhan dan Joonmyun saling memandang dengan khawatir, dan Luhan cepat melompat berdiri.
"Apa kau sudah mencari di semua toko?"
"Ya." Yasmine mengangguk. "Aku juga bertemu Minseok di jalan. Memintanya untuk mencari di Zonko dan Shrieking Shack. Kami sudah meminta semua orang yang kami temui, tapi... Ini benar-benar aneh."
"Kemana dia pergi kali ini?" Yifan geram, menata ulang syal dan menuju pintu dengan yang lain di belakangnya. "Seseorang harus memanggil guru. Dimana Kyungsoo? Dia harusnya tahu kemana idiot itu pergi, mereka selalu bersama-sama."
Yasmine meliriknya dan berhenti.
"Nah, anehnya," katanya sambil mengernyit, "kami menemukan Kyungsoo bersama siswa Gryffindor yang bernama Kim Jongin di dekat Darwis & Banges. Tidak ada orang lain lagi bersama mereka. "
"Dengan Kim Jongin?" Sekarang giliran Luhan yang terkejut.
"Ya, hanya dia." Yasmine mengangkat bahu. "Baekhyun tidak bersama mereka."
"Merlin ..." Yifan menerobos keluar dari pub, jubahnya berkibar di belakangnya. Yang lain berlari keluar setelah dia, empat Prefek berjalan di salju bersama-sama dan bergegas menuju jalan utama. Sekarang banyak siswa yang mulai kembali ke kastil. Bosan dengan dingin, atau puas dengan belanjaan mereka, mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil dan meninggalkan Hogsmeade, tas berat mereka tergantung di bahu dan obrolan mengisi udara. Di antara mereka, tak ada tanda-tanda Baekhyun. Joonmyun menjatuhkan lengannya ke sisi tubuhnya dan membiarkan suara sedihnya keluar.
"Kemana sih dia pergi?"
Kedinginan merasuk ke bawah tulang Yifan. Dia tiba-tiba punya ide tentang keberadaan Baekhyun sekarang, dan sangat berharap bahwa Baekhyun tidak berada disana. Jika itu terjadi, dia harus mendapatkan Baekhyun sebelum orang lain. Menggerakkan tumitnya, Yifan mencoba untuk mengambil langkah ke depan dan berlari, tapi menabrak siswa yang mencoba berjalan melewatinya dari arah yang berlawanan. Anak laki-laki itu jatuh ke salju dengan suara teredam, tasnya turun ke lutut, mata besarnya berkedip tenang.
Yifan mengenalinya. Itu siswa Hufflepuff yang dipanggil Zhang Yixing.
"Maaf," gumam Yifan, ragu-ragu sejenak, lalu cepat-cepat mengulurkan tangan. "Aku ... aku benar-benar menyesal, aku menyakitimu? Aku hanya…"
"Tidak, tidak, aku baik-baik." Yixing tersenyum bingung, dan mengambil uluran tangan Yifan. "Maaf aku masih di jalan. Ini adalah kesalahanku."
Yifan menariknya ke atas, menyadari bahwa Yixinf cukup berat untuk tubuh rampingnya, dan kedua tangan siswa Hufflepuff itu sangat hangat. Sebelum Yifan bisa mengatakan apa-apa lagi, suara Luhan datang berteriak.
"Yifan! Minseok menemukannya!"
Yifan tersentak, cepat-cepat menyeret Yixing untuk berdiri, kemudian melihat ke arah Luhan. Yixing tampak tenang, tapi sedikit bingung dengan kepanikan para Prefek itu.
"Aku ... eumm sampai jumpa nanti," Yifan tergagap, sebelum lepas landas.
Yixing berkedip ingin tahu dan tersenyum. Dia mungkin akan menjawab, atau mungkin tidak, tapi Yifan sudah berlari menuju gang tetangga, berteriak marah ketika ia melihat Baekhyun berdiri di sana, dengan Minseok yang menanyainya.
Prefek Ravenclaw itu tampak benar-benar marah.
"Apa yang terjadi?" Tanya Yifan, terengah-engah. "Dimana-"
"Aku menangkapnya kembali dari arah Shrieking Shack," kata Minseok sambil melirik Joonmyun, "tapi dia pasti tidak datang dari dalam. Aku ada di dalam gubuk ketika aku melihatnya muncul entah dari mana. Tidak ada alasan dia berada di sana. Dia tidak akan memberitahuku kemana dia pergi."
Terhadap dinding bata, Baekhyun tampak lebih pucat dari biasanya, masih menantang dan pantang menyerah, tapi sedikit ketakutan. Yifan menatap Baekhyun, menuntut jawaban, lalu melirik pakaian anak itu dan melihat bahwa tasnya hilang -mungkin dibuang di suatu tempat, untuk menghindari pencarian- Ini menegaskan keraguan terakhirnya. Baekhyun pasti pergi ke Knockturn Alley.
Luhan segera melihat Yifan yang mengikuti tatapan Prefek Slytherin itu dan meminta Baekhyun dengan suara keras.
"Dimana tasmu?"
"Uhh ... Kehilangan itu saat di jalan." Baekhyun mencoba dengan senyum malu-malu.
"Kami mencarimu kemana-mana. Kau tidak berada di Hogsmeade, Baekhyun, kami khawatir."
"Kalian hanya tidak cukup keras mencariku."
"Kami sudah memanggil para guru dan mereka akan berada disini sekarang." Minseok memarahi, "Jika kau pergi ke tempat yang tidak pantas ..."
"Aku bersumpah aku tidak."
"Lencana Prefekmu juga tidak ada."
"Aku …"
"Kehilangan itu juga?" Minseok mengangkat alis. "Baekhyun, aku takut kita harus pergi ke kepala sekolah."
"Apa?!" Baekhyun melompat. "Tidak! Tidak! McGonagall, dia akan merobekku dan mencabik-cabikku dengan jepit rambutnya!"
"Aku yakin dia akan senang mendengarmu mengatakan itu," Luhan membuka mata terkesan.
"Tunggu, tunggu, tidak. Ayolah. Mari masuk akal... ini baik-baik saja. Ayo kita tenang. "
"Dengar, Baekhyun, satu-satunya yang tidak masuk akal disini adalah kau sendiri!"
"Mungkin pergi ke kepala sekolah tidak akan diperlukan," Yifan mencoba untuk mengatakan, tapi tatapan Minseok menembaknya. For a five foot seven tall steamed dumpling, Yifan yakin Minseok sangat menakutkan ketika marah.
"Baekhyun. Kecuali kau memberitahu kami sekarang kemana kau menyelinap, kau tidak akan ke kantor McGonagall."
"Tunggu!" Terdengar suara berteriak pada mereka dari belakang.
Baekhyun mengangkat matanya, dan ketika mereka semua berbalik, mereka melihat Kyungsoo bergegas ke arah mereka, terengah-engah, menarik Jongin di belakangnya.
"Aku tahu kemana dia pergi," Kyungsoo menjelaskan. "Dia ingin aku pergi bersamanya sejak bulan lalu, tapi aku menolak karena aku pikir itu adalah hal bodoh untuk dilakukan. Tapi aku akan memberitahu kalian sekarang ... "
"Kyungsoo ... tidak," Baekhyun membuka mata lebar.
"Kemana dia?" Minseok menyipitkan mata.
Kyungsoo mengambil napas, matanya bimbang untuk sepersekian detik, sebelum ia menumpahkan kata-katanya. "Diagon Alley."
Baekhyun membuka mulutnya diam-diam, dan Prefek lainnya saling menatap.
"Benarkah?"
"Ya," ekspresi Kyungsoo gelap, ia tidak melihat mata Baekhyun. "Dia terus mengatakan bahwa Hogsmeade terlalu membosankan baginya dan dia ingin berbelanja di suatu tempat yang lebih besar. Dia tidak ingin ada yang tahu bahwa dia telah menemukan jalan rahasia ke Diagon Alley. Jadi ..."
"Tunggu," kata Minseok, menyipitkan matanya. "Kalian berdua adalah teman baik. Siapa tahu kau bilang seperti untuk menutupi kesalahannya?"
"Aku ... Aku tidak-"
"Dia mengatakan kebenaran," Jongin tiba-tiba melangkah, menarik Kyungsoo ke belakangnya. "Aku bersama mereka ketika Baekhyun mengatakan kalau dia akan pergi. Dia pergi sebelum kami bisa menghentikannya."
Sekarang, Baekhyun sendiri langsung tercengang. Luhan menatap Jongin heran, asli. Apakah dia sudah gila? Setelah beberapa saat ragu-ragu, Minseok melirik sosok bisu Baekhyun, lalu mempelajari ekspresi sungguh-sungguh Jongin dan mengerutkan bibirnya. Sebelum Minseok bisa mengeraskan hatinya lagi, Yifan berjalan maju dengan tangan mendamaikan.
"Dengar," katanya. "Baek, menyelinap keluar tanpa memberitahu siapapun dari kami adalah pelanggaran, peraturan sekolah itu penting. Jika kau pergi ke tempat yang salah, kau bisa di suspensi. Mungkin bahkan diusir. Lebih baik hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi. "
"Aku ... aku tahu."
"Aku tidak bisa menjamin bahwa kau mampu menjaga status Prefekmu. Ini tergantung pada apa yang guru katakan." Yifan berhenti, mengambil napas. "Baek, kau mengerti?"
"Ya." Kata Baekhyun, seperti biasanya malu-malu.
"Baik." Yifan menghirup udara, diam-diam lega bahwa mereka setidaknya bisa menyimpulkan masalah hanya dengan beberapa kata-kata kasar dan hukuman ringan. "Kau Prefek juga, jadi kita tidak bisa mengambil poin darimu sekarang. Tapi kau pasti akan kena detensi lagi. "
"Benar."
"Kau bisa mengucapkan terima kasih pada temanmu juga." Yasmine tersenyum dari samping.
Baekhyun melirik Kyungsoo, mereka berdua bertukar tatapan dalam diam. Baekhyun menurunkan tatapannya lebih dulu, untuk pertama kali.
"Ya, terima kasih."
"Sama-sama," bisik Kyungsoo, masih gemetar sedikit.
"Ayo kita pergi," Joonmyun menghela napas, menempatkan tangannya di dahinya. "Para guru akan mencari kita sekarang."
"Ya, ayo."
Yifan melemparkan satu lirikan terakhir pada Baekhyun dan Kyungsoo di belakangnya sebelum meninggalkan tempat itu. Jongin mencoba untuk berlama-lama disana, tapi ia melihat Kyungsoo memegang pergelangan tangannya, memberinya anggukan dan isyarat untuk pergi. Jongin patuh, dan segera berlari menghampiri Luhan. Sebelum berbalik, Yifan melihat Kyungsoo dan Baekhyun saling berhadapan.
Apakah Yifan melihat atau tidak, Kyungsoo sedang membuka tasnya tanpa kata, menarik keluar tas kulit Baekhyun yang bahan masih basah dari salju, ia menyerahkannya ke Baekhyun dengan anggukan kecil.
Baekhyun menatap tasnya, lalu memandang wajah tanpa ekspresi Kyungsoo. Untuk pertama kalinya sejak mereka berteman, Baekhyun benar-benar kehilangan kata-kata.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
mind to review?
.
.
.
.
The Magic Neep: Pedagang sayur ajaib di Hogsmeade
Disapparate: Teleportasi ajaib, hampir sama dengan Apparate. Bedanya, Apparate memunculkan pemantra sedangkan Disapparate menghilangkan pemantra
Three D's: Instruktur untuk melakukan Apparate atau Disapparate
Zonko: Toko joke yang menjual produk treat atau trol
Darwis & Banges: Toko instrumen dan peralatan sihir
Gaelleon, Sickles & Knuts : Mata uang penyihir
Akar Aconite: Akar tumbuhan yang berbentuk rumput-rumputan yang biasa hidup di daerah yang pegunungan di belahan bumi bagian utara
Shrunken Head: Kepala manusia yang digunakan untuk tujuan trofi, ritual, atau perdagangan
Necromancy: Bentuk divination dimana mereka yang menggunakannya akan memanggil arwah untuk mendapatkan perlindungan atau ilmu pengetahuan (Btw ada yang sudah nonton film Mythica? itu juga bercerita tentang Necromancy. It's so damn damn interesting. Dan series keduanya sudah dirilis tahun ini)
Teropong-Curiga: Sebuah dark detektor. Benda itu akan menyala, berputar dan berdesing bila berada tidak jauh dari seseorang yang mencurigakan
.
.
.
.
.
A/N: Halooo maaf saya update nya ngaret hehehehe. Selain karena wifi di kosan saya bermasalah, tugas sebelum liburan sangat banyak :(( saya sangat berterimakasih pada kalian yg masih sudi membaca ff ini hehehe XD
