Baekhyun sepertinya harus bersyukur karena Tuhan tidak kunjung menambah tinggi badannya. Ia hanya perlu bergeser sedikit untuk menutupi diri dari pandangan orang-orang. Dan sekali lagi ia harus bersyukur karena ia bertemu dengan Tao. Walaupun kadang-ralat, sering-mengesalkan, pria tinggi itu berguna juga dalam kondisi seperti ini.

"Happy birthday Kim Yerim! Happy birthday Kim Yerim!"

Tunggu. Marganya Yeri itu… Kim?

Tapi-

"Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga."

Baekhyun daritadi hanya ikut bertepuk tangan dengan tempo yang tidak beraturan. Ayolah, berbagai macam pikiran berlalu lalang di kepalanya. Apa mungkin tamu spesial itu pacar Yeri? Mantan pacar? Atau seseorang yang telah dijodohkan dengan Yeri? Tidak, itu ide yang buruk. Tapi itu masuk akal! Tapi tetap saja! Yeri itu-

"Kepada siapa kau akan memberikan first cake-mu, Yeri?" MC di acara tersebut kembali bersuara.

"Tentu saja oppa-ku." Yeri tersenyum lebar sambil mengambil garpu untuk menyuap kue. "Chanyeol oppa."

Title:

Faith

Main Cast:

Byun Baekhyun - EXO Baekhyun

Park Chanyeol - EXO Chanyeol

Supporting Cast:

Red Velvet Yeri, EXO Tao

Genre: Romance, Drama

Rating: M

.

.

.

CHAPTER 7

Chanyeol merasa aneh. Entah perasaannya saja atau memang benar bahwa seseorang memperhatikannya sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini. Apalagi saat Yeri sedang memotong kue ulang tahunnya. Chanyeol merasa diawasi dengan intens oleh seseorang.

Chanyeol berusaha berpikir positif. Mungkin saja orang-orang di sekitarnya memperhatikannya karena Yeri menyebut namanya, kan? Ah, iya. Pasti itu alasannya.

"Chanyeol oppa, mengapa sudah lama tidak ke rumahku?"

Pria jangkung yang ditanya itu menoleh, lalu terkekeh kecil. "Maafkan aku cantik, banyak hal yang aku urus akhir-akhir ini."

"Tapi Yeri kangen oppa."

Chanyeol mengelus rambut Yeri dengan lembut. "Bukannya katamu sahabat-sahabatmu menyenangkan, ya?"

"Tapi tetap saja…" Yeri memainkan jemarinya. "Sering-seringlah main ke rumah Yeri."

"Aku juga ingin, Yeri-ah…" Chanyeol tersenyum lembut pada Yeri. "Tapi oppa harus mengurus perusahaan appa. Kalau nanti oppa tidak sibuk, oppa janji akan berkunjung lagi ke rumah Yeri."

Senyum Yeri mengembang. "Yaksok?"

Chanyeol mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Yeri yang sudah duluan teracung di udara. "Yaksok."

"Ngomong-ngomong…" Yeri berbisik pelan pada Chanyeol. "Terima kasih sudah memesankan soju untukku."

Chanyeol tertawa renyah sebelum mengusak rambut Yeri yang sebelumnya tertata rapi. "Dasar anak kecil!"

Ehm. Yang seharusnya berterimakasih pada Chanyeol bukan Yeri, tapi Baekhyun.

"Baek, makanlah sedikit. Jangan terlalu banyak minum."

Bukannya mengikuti kata-kata Tao, Baekhyun malah mengambil satu botol soju dari atas meja. Botol keempatnya malam ini. "Akuuu m-mau minum, Tao. Sedikiiit saja."

Tao menghembuskan nafasnya kasar. "Aku tidak mau repot membawamu ke villa dengan kondisimu yang mabuk berat, Byun Baekhyun."

"Malam iniii saja. Please?" Baekhyun memasang aegyo demi mendapat simpati Tao.

"Baiklah. Satu lagi. Jangan lebih." Tao menjauhkan Baekhyun dari meja di pojok ruangan itu, menghindari Baekhyun mengambil botol lebih.

Jadilah sepasang teman tinggal itu kini duduk di area belakang villa yang ditinggali Yeri bersama teman-temannya. Semilir angin pantai berhembus menyapa Baekhyun yang kesadarannya tinggal setengah, sementara Tao malah sibuk memperhatikan Baekhyun yang sesekali berbicara ngelantur.

"Kyungsoo hyung jahat, sepertinya ia anak setan."

"Pantat Sehun besaaar sekali. Aku sering tak tahan untuk meremasnya seperti ini."

"Jongdae edan, bisa-bisanya aku diturunkan di tempat mangkal banci."

Tao sudah menepuk jidat berkali-kali. Setelah menepuk jidat, Tao kembali menutup wajahnya dengan sebelah tangan, berusaha menyembunyikan wajahnya dari tatapan aneh orang-orang yang lewat di sekitar mereka. Ayolah, ini pesta Yeri dan Baekhyun dengan tidak tahu malu untuk mabuk seenaknya seorang diri. Baekhyun dan Tao bahkan baru kenal Yeri kurang dari seminggu yang lalu.

"Mengapa yoda itu datang lagi? Servis Kyungsoo hyung kurang oke? Hahahahaha..."

Siapa itu Kyungsoo? Dan siapa itu Yoda?! Bukannya itu karakter Star Wars?

"Kalau dia butuh lubang sempit, dia salah orang."

Bicara apa kau Byun Baekhyun?!

"Aku ini lebih muda, lebih fresh, lebih sempit, lebih hmpph-"

Tao membekap mulut Baekhyun dan menyimpan sebelah tangannya lagi di sekeliling bahu Baekhyun, membawa lelaki setengah sadar itu pergi dari villa Yeri. Bisa-bisa Baekhyun semakin meracau tidak jelas.

Ayolah, Tao! Kau atlit wushu, kau pasti bisa menyeret Baekhyun sampai villa! Kau pasti bisa! Kau pasti bi-

"Hei! Berhenti!"

oOo

Semilir angin pantai berhembus meniup tirai putih yang menutupi jendela. Sinar matahari mencari celah untuk merasuki ruangan yang butuh kehangatan. Kicau burung memanggil manusia yang masih ingin terlelap dalam tidurnya.

Termasuk sepasang manusia yang sedang berbaring di atas ranjang putih dengan ukuran queen size.

Lelaki yang lebih jangkung perlahan bangkit untuk menyandarkan dirinya di kepala ranjang. Kepala lelaki yang lebih kecil ia taruh secara perlahan di dadanya. Sebelah lengannya memeluk kepala lelaki itu, mencoba memberinya kehangatan.

"Ngh…"

Lelaki itu tersenyum melihat lelaki yang kini berada di pelukannya menggeliat kecil. Senyumannya kian lebar ketika menyadari bahwa tangan mungil itu bergerak untuk melingkari pinggangnya.

"Mau tidur sampai kapan, anak manis?"

Mata si lelaki mungil tiba-tiba terbuka. S-Suara t-tadi kan

"ASTAGA!"

Lelaki mungil itu, Byun Baekhyun, seketika bangun dan mendudukkan dirinya di atas kasur. Matanya menatap horor lelaki yang kini sedang tersenyum idiot padanya. "Kau sedang apa di sini, hah?"

"Kau lupa tentang semalam?"

Baekhyun melebarkan mata ketika lelaki itu mengucapkan kata 'semalam'. Biasanya, yang terjadi malam-malam itu aneh-aneh, seperti…

"Tenang saja, aku hanya menemanimu tidur."

Tuh, kan.

"Aku tidak memintamu untuk menemaniku, jadi lebih baik kau keluar sekarang juga."

"Sejak kapan kau menjadi sekasar ini, Baekkie?"

Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar. "Jangan panggil aku dengan nama itu lagi! Keluar!"

"Baekhyun… Aku-" lelaki jangkung itu berusaha meraih tangan Baekhyun yang mengepal.

"Keluar!" Baekhyun berteriak memilukan. "Keluar sekarang juga! Keluar!"

Lelaki jangkung itu, Chanyeol, menatap Baekhyun dengan tatapan iba. Lelaki mungil itu kini terduduk sambil menyembunyikan kepalanya diantara lutut. Kedua tangan mungilnya telah berpindah ke depan telinga, seolah menutup akses getaran udara untuk masuk ke gendang telinganya.

Jadi, dengan berat hati, Chanyeol bangkit dari duduknya. Ia sempat menengok Baekhyun sekali lagi sebelum kaki panjangnya benar-benar melangkah keluar dari kamar itu.

Hatinya sakit, sungguh. Semalam, ia melihat Baekhyun dipapah oleh seseorang yang belakangan ia ketahui bernama Tao. Setelah ia cerita panjang lebar mengenai hubungannya dengan Baekhyun, akhirnya Tao mengizinkannya untuk menemani Baekhyun dan membiarkan lelaki itu melampiaskan kekesalannya pada Chanyeol. Chanyeol berencana untuk memperbaiki hubungannya dengan Baekhyun pagi ini, saat Baekhyun sudah memperoleh kesadarannya kembali.

Itu rencananya.

Tapi hal yang Chanyeol dapati pagi ini sungguh membuat hatinya sakit. Baekhyun terlihat sangat terluka setelah mendapati kehadirannya. Chanyeol memang tidak berekspektasi untuk mendapatkan pelukan hangat dari Baekhyun, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa Baekhyun akan duduk dengan kedua lututnya yang ditekuk dan hampir menangis. Sejahat itukah Chanyeol?

"Hyung."

Chanyeol menoleh pada orang yang memanggilnya. "Ada apa?"

"Kau… Sudah berbicara padanya?"

Chanyeol mendesah keras. "Belum."

"Oh."

Kemudian hening. Baik Tao atau Chanyeol tidak ada yang berinisiatif untuk melanjutkan percakapan mereka. Keduanya ingin bertanya lebih jauh, tapi mereka sama-sama canggung.

Bagaimana tidak? Mereka berkenalan tidak lebih dari dua belas jam yang lalu.

"Tao." Chanyeol akhirnya memecah keheningan diantara mereka.

"Hm?"

"Aku ingin bertanya tentang sesuatu…"

Kedua laki-laki jangkung itu kemudian berpindah tempat. Mereka memutuskan untuk berbicara di bagian belakang villa, tempat Tao dan Baekhyun makan es krim setiap harinya.

"Ada apa?"

"Baekhyun…" Chanyeol tersenyum pahit ketika nama itu keluar dari mulutnya. "Sejak kapan ia jadi kasar begitu?"

Tao mengendikkan bahu. "Entahlah, sejak bertemu dengannya dia sudah begitu. Kupikir sebelum ini dia selalu seperti itu."

Chanyeol menerawang jauh. Ia masih ingat Baekhyun yang manja, manis, dan kikuk di depan orang lain yang baru dikenalnya. Bahkan ia masih ingat puppy eyes Baekhyun yang terlihat sangat imut dan mampu membuatnya luluh dalam waktu kurang dari lima detik. Ia sangat kenal Baekhyun, dan Baekhyun yang saat ini ada di kamarnya bukan Baekhyun yang Chanyeol kenal.

Pain makes people change, itu kata orang-orang. Dan Chanyeol baru percaya itu sekarang.

"Aku hanya ingin meminta maaf sebelum aku pergi."

Tao menolehkan kepalanya pada Chanyeol. "Ke mana?"

"Beijing." Chanyeol tersenyum kecil. "Aku baru mengekspansi perusahaanku ke sana. Aku harus memastikan semua berjalan lancar sebelum aku bisa menyerahkannya pada orang lain."

"Oh, jadi kau… Ng… Apa namanya…"

"CEO."

"Ah, ya. Itu." Tao menjentikkan jari. "Kukira hyung paling tidak masih kuliah atau baru lulus kuliah."

Chanyeol terkekeh. "Terima kasih pujiannya."

Tao mau tidak mau ikut terkekeh. Padahal ia tidak tahu apa yang lucu.

"Tapi hyung…" Tao terlihat berpikir. "Kau tidak akan pergi lama-lama, kan? Maksudku, kau tidak akan pergi selama itu hingga kau harus dimaafkan Baekhyun sekarang. Maksudku..."

"Iya, aku mengerti." Chanyeol memotong pertanyaan Tao. "Apakah menurutmu enam bulan itu waktu yang lama?"

"Tergantung, sih…"

"Buatku, itu lama." Chanyeol kembali menerawang. "Aku meninggalkannya tiga jam saja dia sudah terkena masalah. Bagaimana jika aku meninggalkannya enam bulan?"

Tao terdiam. Sepertinya lelaki jangkung ini sangat mencintai Baekhyun. Ia tidak tahu pihak mana yang benar, jadi ia tidak mau memihak siapa-siapa. Dan… Ah, ya! Tao teringat sesuatu.

"Lalu siapa itu Yeri?" akhirnya Tao menyuarakan pikirannya.

"Yeri itu adik bungsu dari suami kakakku." Chanyeol menjawab Tao dengan tenang. "Semacam adik ipar."

Tao memandang Chanyeol dengan tatapan aneh, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja diungkapkannya.

"Tenang saja, aku dan Yeri tidak pernah dan tidak akan berpacaran atau melakukan hal-hal aneh. Dia hanya terlalu menggemaskan." Chanyeol bicara panjang lebar setelah membaca kekhawatiran di wajah Tao. "Kami masih tahu diri untuk keluar batasan seperti itu. Lagipula aku gay."

Tao tertawa garing. "Hahaha benar juga. Hahaha…"

"Aku jadi berpikir…" Chanyeol mempertemukan jemari tangannya. "...mungkin aku harus berhenti memperjuangkan Baekhyun."

Tao menatapnya penuh tanya, meminta penjelasan lebih lanjut.

"Baekhyun menjadi seperti ini karena aku. Mungkin aku tidak layak untuk dimaafkan…"

Kemudian hening lagi. Tao tidak tahu harus menanggapinya seperti apa, sementara Chanyeol malah asyik mengamati ombak kecil yang tersapu angin.

"Jadi, kapan kau berangkat ke Beijing?"

"Jam satu siang nanti."

oOo

"Jadi, kapan kau berangkat ke Beijing?"

"Jam satu siang nanti."

Sebenarnya Baekhyun saat ini sedang meringkuk di balik sofa besar yang menghadap pantai. Percakapan Chanyeol dan Tao bisa cukup terdengar dari posisinya saat ini. Termasuk Chanyeol yang katanya akan pergi ke Beijing.

Baiklah, Beijing bukan tempat yang jauh dari Seoul. Enam bulan juga bukan waktu yang terlalu lama. Tapi masalahnya di sini hanya satu: hubungan Chanyeol dan Baekhyun yang rumit.

Iya, Chanyeol memang memutuskan Baekhyun secara sepihak beberapa waktu yang lalu. Chanyeol saat itu lebih percaya Kyungsoo yang ingin merebutnya dari Baekhyun. Tapi lihatlah apa yang dilakukan lelaki itu sekarang: memohon maaf pada Baekhyun dan bertingkah seolah-olah lelaki itu mengharapnya kembali.

Lelaki macam apa Chanyeol ini?

Baekhyun tidak bisa mengelak kenyataan bahwa dirinya masih mencintai Chanyeol. Bagaimanapun juga, Chanyeol telah mengisi hidup Baekhyun dan menemaninya untuk waktu yang cukup lama. Chanyeol itu sosok yang dewasa bagi Baekhyun. Baekhyun bisa bermanja-manja seharian pada Chanyeol dan lelaki itu tidak akan marah-setidaknya jika Baekhyun cukup tahu diri untuk tidak mengganggu pekerjaan Chanyeol. Chanyeol itu lelaki idaman, sungguh.

Tapi hal itulah yang membuat Baekhyun tidak ingin kembali padanya. Setelah melihat ke belakang, Baekhyun sadar bahwa dirinya tidak lebih berharga dari pelacur yang menjajakan diri mereka di pinggir jalan. Baekhyun membiarkan Jongin menikmati tubuhnya untuk waktu yang cukup lama. Baekhyun telah berbohong pada Chanyeol tentang hubungannya dengan Jongin.

Pacar macam apa Baekhyun ini?

Dan di sinilah ia, berusaha menenangkan dirinya untuk melupakan Chanyeol. Well, hal itu berjalan cukup lancar, setidaknya sebelum Chanyeol menunjukkan batang hidungnya di pesta Yeri kemarin malam. Baekhyun sempat berpikir bahwa ia berhalusinasi setelah menenggak terlalu banyak soju.

Tapi, setelah mendapati pria jangkung itu terbangun di sebelahnya tadi pagi, Baekhyun tahu ia tidak boleh goyah lagi. Ia tidak bisa tidak merasa bersalah dan sakit hati ketika melihat Chanyeol. Benar-benar berpisah dengan Chanyeol mungkin merupakan pilihan paling tepat bagi keduanya. Dengan begitu, Chanyeol bisa mencari lelaki yang lebih baik dari Baekhyun dan Baekhyun bisa mencari lelaki yang lebih bisa menerimanya daripada Chanyeol.

Ya, Baekhyun harus melepaskan Chanyeol. Tuhan sudah menolongnya dengan mengirim Chanyeol ke Beijing, jadi Baekhyun seharusnya bersyukur, kan?

Ya, Baekhyun harus bersyukur walau kini hatinya tidak karuan.

oOo

"Kau tidak akan mengantarnya?"

Baekhyun menggeleng. Kedua lututnya masih tertekuk sehingga kepalanya bisa nyaman bersandar di sana. "Tidak usah diantar. Dia bukan anak kecil lagi."

Tao menghembuskan nafas kasar. "Fod God's sake, Byun Baekhyun. Lelaki yang kau cintai akan pergi dan kau tidak memberinya salam perpisahan?"

"Pertama, dia hanya pergi ke Beijing. Kedua, dia bukan lelaki yang aku cintai. Jadi jangan paksa aku, oke?"

Tao mengendikkan bahu. "Ya sudah kalau tidak mau mengaku. Jangan menyesal nantinya."

Dan beginilah jadinya. Baekhyun ditinggal sendirian di ruang tengah sementara Tao menyempatkan diri untuk menyampaikan salam perpisahan pada orang yang baru dikenalnya kemarin malam.

Baekhyun dapat mendengar sayup-sayup suara kendaraan yang baru dinyalakan. Mungkin itu mobil yang akan digunakan oleh Chanyeol. Mungkin Chanyeol akan berangkat sebentar lagi. Lagipula ini sudah jam sebelas dan Chanyeol akan berangkat jam satu.

Dan Baekhyun agak terganggu oleh kenyataan bahwa dirinya ingat akan hal itu.

Setelah merutuki dirinya sendiri untuk alasan yang tidak jelas, Baekhyun bisa merasakan bahwa suara kendaraan itu semakin menjauh. Mungkin Chanyeol yang pergi.

"Dia sudah pergi, Baek."

Benar, kan.

Chanyeol yang pergi.

Chanyeol sudah pergi.

Park Chanyeol benar-benar pergi.

Dan kalimat yang bisa diucapkan Baekhyun tentang hal tersebut adalah, "Ah. Syukurlah."

Well… Bukankah seharusnya memang seperti itu? Baekhyun tidak mengharapkan Chanyeol ada di sini, jadi Baekhyun seharusnya bersyukur ketika Chanyeol pergi.

Lelaki imut itu kemudian memaksakan seulas senyum sebelum kembali berkata, "Ayo kita beli es krim!"

Benar. Satu-satunya hal yang mungkin bisa membuat Baekhyun senyum sekarang adalah es krim.

oOo

"Kau tidak biasanya memesan topping selain strawberry."

Baekhyun terkekeh kecil. "Sepertinya kau menikmati topping kit kat dan mochi-mu saat terakhir kali kau makan es krim, jadi aku penasaran."

"Well, kedai es krim itu harus menyewaku sebagai bintang iklan mereka. Pasti laku."

Keduanya lalu terkekeh bersamaan. Rasa percaya diri Tao terlampau tinggi sampai Baekhyun tidak habis pikir karenanya.

Hari ini sama saja seperti hari-hari kemarin. Angin pantai yang mengacaukan rambut Baekhyun dan Tao, ombak-ombak kecil yang saling berlarian, dan matahari yang dengan sukarela memberikan penerangan secara gratis.

Oh, ada yang berbeda. Perempuan-perempuan centil di samping villa mereka tidak terlihat. Mungkin terlalu lelah karena pesta kemarin.

"Ngomong-ngomong, aku rindu Kris."

Baekhyun menoleh pada Tao. "Kau bisa bertemu Kris-mu di sini, kan?"

"Kau mengizinkannya berkunjung ke sini? Benarkah?" Tao melebarkan mata. "Sungguh?"

"Ng…"

Sebenarnya bukan itu maksud Baekhyun. Kris-Wu Yifan-kekasih Tao itu tinggal di Korea, kan? Jadi Tao bisa dengan mudah bertemu dengan kekasihnya di negeri kelahiran Baekhyun ini.

Bukan di villa.

"Terima kasih Baek!"

"Yak, Tao!"

Tao memeluk Baekhyun terlampau erat hingga lelaki mungil itu kesulitan bernafas. Ingatkan panda China ini untuk mengontrol emosinya lain kali.

"Aku akan menghubungi Kris sekarang."

Dan dengan begitu Tao langsung beranjak dari sisi Baekhyun dan masuk ke dalam villa. Tentu saja untuk mengambil telepon genggamnya, tapi…

"Baekhyun! Kemarilah!"

Baekhyun yang sedang menggigit sendok plastik es krim itu secara refleks menoleh. "Ada apa?"

"H-Headline beritanya…"

"Berita?"

Baekhyun mengernyit heran. Ini masih jam tiga dan setahunya acara berita harian baru dimulai jam empat sore nanti.

"Berita apa?"

"P-Pesawat…"

Mata Baekhyun melebar. Tidak...

"...jatuh…"

Tidak mungkin

"...berangkat dari Incheon…"

Tidak mungkin itu pesawat Chanyeol

"...jam satu siang tadi…"

"Tidak!"

Baekhyun berteriak cukup keras hingga Tao tersentak. Lelaki itu tiba-tiba bangkit dari duduknya, mengabaikan es krimnya yang jatuh di atas pasir pantai hanya untuk menghampiri Tao yang masih terpaku di depan televisi.

"Katakan itu bukan pesawat Chanyeol, Tao!"

Tao diam. Bibirnya kelu. Tanpa ia berkata sepatah kata pun, Baekhyun sudah tahu jawabannya.

"Katakan Chanyeol tidak naik pesawat itu!"

Pria China berwajah sangar itu malah meneteskan setitik air mata dari mata kirinya. "Dengarkan aku, Baekhyun… Kau-"

"Tolong katakan bahwa Chanyeol tidak naik pesawat itu!" Baekhyun kemudian jatuh terduduk di bawah kaki Tao. "Chanyeol tidak mungkin naik pesawat itu… Tidak mungkin…"

"B-Baekhyun…"

"Chanyeol… Tidak mungkin…"

"Baek…"

Tao kemudian jongkok untuk menyamai tingginya dengan Baekhyun. Ia memeluk Baekhyun yang menangis sesenggukan, berusaha menyalurkan kekuatan. Baekhyun yang masih shock hanya bisa menggumamkan kata 'tidak mungkin' dan nama Chanyeol berkali-kali.

Seharusnya Baekhyun mengucapkan kata 'selamat tinggal' pada Chanyeol sebelum lelaki itu benar-benar pergi… Seharusnya Baekhyun mengungkapkan perasaannya pada Chanyeol sebelum lelaki itu menyerah dalam memperjuangkannya… Seharusnya tidak perlu ada kata 'seharusnya' yang bisa membuat Baekhyun menyesal hari ini…

"Chanyeol… Tidak mungkin… Dia pasti sudah sampai Beijing… Chanyeol…"

"Baek…" Tao mengelus rambut Baekhyun dengan lembut. "Tenangkan dirimu…"

Baekhyun menutup telinganya, merasa hampa setelah kenyataan menghampirinya dengan kejam. Chanyeol tidak pantas mati, sungguh. Baekhyun merasa Tuhan tidak adil karena ini. Mengapa bukan Baekhyun saja yang mati duluan? Hidup Chanyeol akan lebih berharga daripada hidupnya.

"Baek… Aku harus ke Incheon." Tao kemudian berkata setelah Baekhyun dirasa lebih tenang. "Mereka butuh informasi Chanyeol untuk keperluan identifikasi."

Dan Baekhyun menangis lagi. Tao agak menyesal telah mengatakannya.

.

.

.

.

.

.

"Baekhyun…"

Baekhyun terbangun dari tidurnya saat Tao menepuk-nepuk pipinya. "Ng?"

"Kita sudah sampai." Tao kemudian membukakan pintu bagi dirinya sendiri dan Baekhyun. "Ayo."

Kepala Baekhyun masih pusing akibat terlalu lama menangis dan tertidur sepanjang perjalanan. Tao yang mengerti keadaan temannya itu kemudian membantu Baekhyun untuk berdiri dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada supir taksi yang mereka tumpangi.

"A-Aku bisa j-jalan sendiri." Baekhyun bicara sesenggukan.

"Tidak, aku akan menuntunmu." Tao mencegah Baekhyun yang hendak melepaskan rangkulannya.

"T-Tapi…"

"Sssh…" Tao mengelus pundak Baekhyun yang ada di rangkulannya. "Kali ini saja, menurutlah padaku."

Baekhyun yang kehabisan tenaga itu akhirnya menurut juga pada Tao. Lagipula, sepertinya ia terlihat jelek saat ini. Rambut acak-acakan, mata sipitnya yang sembab, hidung merah. Baekhyun lebih terlihat seperti pasien rumah sakit yang melarikan diri.

Tao kemudian menghampiri pos yang disediakan oleh pihak bandara untuk proses identifikasi. Baekhyun hanya mengikutinya, siapa tahu saja ia berguna memberikan informasi seperti data tinggi badan atau berat badan.

"Siapa nama kerabat Anda?"

"Park Chanyeol."

Petugas berpakaian oranye tersebut kemudian mengetikkan tiga suku kata ke dalam laptop-nya. Park. Chan. Yeol.

"Maaf, tapi nama tersebut tidak ada di daftar penumpang yang ada di pesawat yang dimaksud."

Tao dan Baekhyun sama-sama bengong. Jelas-jelas Chanyeol yang memberitahu Tao dan Baekhyun tentang kepergiannya ke Beijing. Seharusnya ia ada di pesawat itu, kan?

Kecuali kalau…

"Baekhyun?"

Lelaki yang namanya dipanggil refleks memalingkan wajah. Astaga! Itu kan...

"C-Cha-Chan-"

Ya Tuhan!

"Chanyeol!"

Baekhyun kemudian berlari menuju Chanyeol yang masih bingung dengan keadaan yang menyergapinya saat ini.

"B-Baek…"

Baekhyun secara refleks memeluk lelaki jangkung itu sambil meneteskan air mata bahagia. "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih."

"Ada apa, Baekhyun? Mengapa kau bisa ada di sini?"

"Kukira kau mati, bodoh!" Baekhyun malah menangis di dada Chanyeol. "Kukira kau… K-Kau…"

"Ssst, hajima." Chanyeol mengelus pelan rambut Baekhyun, tapi tangisan lelaki mungil itu malah semakin deras. "Aku di sini, Baek."

"J-Jangan pergi… Jangan pergi…"

Chanyeol tersenyum dalam hati. Entah Tuhan merencanakan apa dengan kejadian ini, tapi Chanyeol bersyukur berkas kantornya tertinggal barusan akibat sekretaris barunya yang ceroboh.

"Dengar, anak manis." Chanyeol menangkup pipi Baekhyun yang masih basah oleh air mata, memaksanya untuk melihat ke dalam matanya. "Aku harus pergi hari ini, oke? Kita bisa bertemu lagi saat aku kembali ke Korea."

"Tidak mau!" Baekhyun mengeratkan genggamannya pada lengan kekar Chanyeol. "B-Bagaimana kalau… P-Pesawatnya…"

"Baek…" Chanyeol mengelus pipi Baekhyun dengan lembut. "Aku berjanji akan kembali minggu depan. Tunggu aku, oke?"

"Chanyeol…"

Baekhyun kembali menyembunyikan wajahnya di dada pria jangkung bermarga Park itu. Dadanya membuat Baekhyun merasa hangat, sungguh.

"Baek, apa ini berarti…" Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun. "...kita balikan?"

Pipi Baekhyun tiba-tiba bersemu merah. Demi apapun, pertanyaan Chanyeol terlalu on point!

"M-Menurutmu?"

"Menurutku iya." Chanyeol menyeringai tipis. "Menurutmu?"

Bukannya menjawab pertanyaan Chanyeol, Baekhyun lagi-lagi menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol. Dada Chanyeol memang terbaik. Jjang, kalau orang Korea bilang.

"Hey, Baek-"

"Iya, Channie sayang."

Chanyeol hampir melompat kegirangan jika saja ia tidak sadar bahwa ini di tempat umum. Tuhan memang baik, Chanyeol dan Baekhyun masih memiliki satu kesempatan lagi untuk saling introspeksi diri dalam hubungan mereka. Baekhyun tahu ia harus sabar dalam menghadapi Chanyeol yang keras dan Chanyeol tahu ia harus bisa mengendalikan sifatnya itu. Masih banyak hari-hari yang menanti Chanyeol dan Baekhyun ke depannya. Hari-hari mereka tidak akan selamanya cerah, namun mereka bisa belajar bagaimana cara berlindung dari hujan dan badai.

Because they know that deep down in their heart, they won't ever lose faith in each other.

"Aku akan menemuimu Sabtu depan. Tunggu aku ya, Baek!"

.

.

.

END

.

.

.

AKHIRNYA SELESAI JUGA.

Endingnya… Aku bingung harus mengakhiri ini kaya gimana. Rencananya sih mau bikin bonus chapter gitu… Biar ada adegan NC-nya lagi aja gitu HAHAHA. Tanganku gatel pengen nulis bagian enaenanya ChanBaek setelah balikan (eh)

Semoga tidak terlalu mengecewakan yaa. Maaf kalau ini tidak sesuai ekspektasi kalian. :)

.

MAKASIH UDAH NGIKUTIN CERITA INI SAMPAI HABIS! I'm nothing without your support! Love you guys so damn much! (insert kiss emoticons here)