Gadis suci Dewi Maria tersebut menyaksikan bagaimana semuanya dibantai. Bercak darah berserakan di mana-mana. Menyaksikan bagaimana seorang lelaki jakung menyayat semua yang ada di depan matanya. Menyaksikan bagaimana wajah ketakutan semua orang. Bahkan rajanya pun tak bisa kabur, sang pangeran juga, pengawalnya juga, dan orang yang begitu perhatian padanya juga. Sang ratu disiksa sampai mati. Dia tidak mampu melihat semua ini.
"Se-seorang, tolong aku,"
.
.
The Epic of Sina
Shingeki no Kyojin (c) Isayama Hajime
The Epic of Sina (c) Ai Kazoku
Rated : T
Genre : Fantasy, Adventure
Warning : masih sama seperti di fic sebelumnya.
.
Enjoy
.
.
.
Chapter 5
~ Yume no Uta ~
.
.
Christa perlahan membuka kelopak matanya. Iris matanya yang sebiru laut tersebut menatap langit sore yang sudah mulai menggelap. Tatapannya kosong, semuanya terasa kosong.
"Christa." Panggil Armin.
Didongakkan kepalanya, melihat ekpresi lembut penjaganya sejak kecil ini, "Armin."
Armin tersenyum lembut, "Ayo pulang."
Christa berdiri dan merapikan bajunya, "Ayo"
.
.
Christa Lenz, seorang gadis suci dari Kerajaan Maria. Tidak ada yang tahu kenapa dia bisa menjadi gadis suci. Tetapi semua percaya kalau dia memiliki mukjizat yang tidak dimiliki orang lain, yaitu menghidupkan orang mati tanpa melakukan pengorbanan. Maka dari itu Christa Lenz dianggap suci. Tidak ada yang tahu persis bagaimana Christa Lenz mendapat Mukjizat tersebut. Tidak ada yang pernah tahu.
"Christa, bisakah kau tidak melakukan itu terus." Protes Eren yang berada di rumah Christa, lebih tepatnya rumah kaca.
Christa menatap Eren bingung, "Kenapa?"
Eren membuang muka, "Kebiasaanya menatap orang tanpa alasan itu terkadang membuatku risih."
"Maaf."
"Kalau begitu jangan menatapku seperti itu terus."
"Aku tidak bisa."
Eren menghela napas panjang. Disilangkan kedua tangannya di depan dada, "Jadi ada apa kau memanggilku ke sini?"
"Aku bermimpi." Christa beranjak duduk di kursi yang ada di dekat Eren, "di mimpi itu aku melihat semua orang di Kerajaan Maria mati. Tidak ada satu pun yang selamat. Bahkan dirimu yang menjadi Utusan Dewi Maria pun mati."
Mulai terlukis ekspresi terkejut di wajah Eren, "Maksudmu?"
"Di mimpi itu aku melihat seorang lelaki," lanjut Chrisa, "dia tinggi, rambutnya hitam kelam. Aku tidak melihat bagaimana wajahnya tetapi dia kuat. Aku hanya melihatnya tersenyum dengan membawa senjata yang tidak pernah aku lihat."
"Bagaimana rupa senjata itu?" tanya Eren.
Christa mulai mengingat kembali bagaimana mimpinya, "Senjata itu ada di masing-masing kedua tangannya, itu senjata dual seingatku. Lalu masing-masing memiliki dua mata pedang di kedua sisi sarung, atau mungkin belati, yang jelas itu panjang dan melengkung dan terdapat bundaran di antaranya yang menjadi tumpu. Seperti pegangan yang diberi pisau. Model perisai itu seperti miliki katar* dan juga aura yang dikeluarkan tidak berwarna seperti pedang yang lain."
"Maksudmu?"
"Senjata itu seperti memiliki aura campuran. Seperti senjata itu dan pemiliknya menguasai semua elemen yang ada."
Eren terkejut, "Bagaimana bisa ada orang seperti itu? Pedang milik Erwin memang menguasai semua elemen, tetapi Erwin hanya memiliki satu elemen. Bukankah kalau ada kekuatan seperti itu tubuhnya tidak bisa menampungnya?" protes Eren tanpa henti.
"Jangan tanya aku, aku bukan ahli senjata sepertimu." Sahut Christa cepat. Ditinggalkan Eren menuju taman bunga mawar yang berada cukup jauh dari posisi Eren. Tetapi Eren tidak ingin ditinggalkan begitu saja. Diikuti Christa yang masih berpikir keras.
"Eren, aku takut kalau semua yang ada di mimpiku itu terjadi." Ucap Christa, "Aku selalu bermimpi tentang kehancuran Maria selama satu bulan ini. Dan itu dilakukan oleh orang yang sama. Aku takut."
"Tenang saja Christa." Eren mencabut pedangnya dari sarungnya dan menegakkannya di depan wajahnya, layaknya seorang kesatria yang berjanji pada rajanya, "Aku pasti akan melindungi semua yang ada di kerajaan Maria, rakyat, keluarga, harta, kejayaan, kehormatan, semuanya akan aku lindungi. Karena aku adalah utusan yang dipilih oleh Dewi Maria, Eren Jaeger."
Sejenak Christa merasa tindakan Eren cukup keren,"Eren,"
Sedetik kemudian suara kepingan kaca pecah terdengar membahana di rumah kaca milik Christa. Tepat di atas Christa kepingan kaca tersebut jatuh dan siap menimpa gadis suci Kerajaan Maria tersebut. Reflek Eren cukup cepat sehingga bisa membopong gadis itu menjauhi runtuhan kaca yang berjalan melintang mengikuti ke mana arah Eren kabur.
Di rasa runtuhan kaca sudah berhenti Eren pun menurunkan Christa yang sejenak mengalami syok, "Apa yang terjadi barusan?" gumamnya entah pada siapa.
"Mungkin musuh." Jawab Eren, ditodongkannya pedang bermata dua miliknya, bersiap-siap jika ada seseorang yang mau menyerangnya.
Secepat kilat seseorang menyerang Eren tepat di depannya, pisau tajam melengkung yang siap menyayat Eren terhempas oleh bagaimana Eren melawan sayatan tadi. Berulah kali orang itu berusaha menyerang Eren dengan senjatanya namun Eren berhasil menangkisnya. Cukup cekatan namun Eren mengakui tidak bisa mengimbangi kecepatan lawannya ini.
"Eren!" Christa merampalkan sihir dan menggumamkan kata 'Haste' sehingga kecepatan yang dimiliki Eren meningkat.
"Terima kasih Christa." Dengan penuh percaya diri Eren maju dan mengayunkan senjatanya pada lawannya. Dan tak lupa juga Christa menggunakan 'slow' sehingga kecepatannya yang dimiliki lawannya menurun dan menyebabkan pergerakan lawannya mudah dibaca oleh Eren.
Musuh tadi melompat mundur sejauh 10 meter sementara Eren mundur melindungi Christa. "Kau siapa?" teriak Eren pada seseorang yang ada di depannya dengan masih waspada.
Orang itu yang menjadi lawannya memandang Christa seksama, "Jadi kau gadis suci Kerajaan Maria?"
Sejenak tubuh Christa terasa disihir sehingga seluruh tubuhnya terasa menjadi batu saat bertatapan mata dengan orang yang ada di hadapannya, "Dia orangnya," kata Christa, "dia orang yang ada di mimpiku."
Eren terhentak sesaat, ditelitinya musuhnya. Dia mimiliki rambut hitam kelam dengan postur tubuh tinggi. Kulitnya sedikit gelap dengan beberapa jerawat di wajahnya. Lekuk matanya telihat lembut tetapi kilatan matanya tajam, lebih tajam dari Mikasa. Dialihkan pandangannya pada senjatanya yang ada di masing-masing tangannya, "Dia seorang katar?"
"Sepertinya begitu."
"Aku bukan seorang katar." Sahut orang tadi. Diperlihatkan senjatanya sehingga Eren dan Christa bisa dengan seksama meneliti senjata miliknya, "hanya mirip tetapi bukan."
"Kau siapa? Kenapa kau menyerang kami? Apa kau mengincar Christa?" teriak Eren.
"Tenang pangeran, aku ke sini hanya ingin melihat-lihat." Kata orang itu seraya tersenyum, "Perkenalkan, namaku Marco Bodt. Pemimpin dari para pemberontak."
"Para pemberontak?" ulang Eren menginginkan penjelasan.
"Anda benar pangeran. Anda mungkin tidak tahu karena ayah anda menyembunyikannya. Dan aku dengar dari salah satu mata-mataku di Rose kalau Kerajaan Rose dan Maria akan bekerja sama untuk membasmi kami." Ujar orang yang bernama Marco itu.
"Kenapa aku tidak tahu akan hal itu?" gumam Eren. Christa yang ada di sampingnya juga mengangguk, dia tidak tahu kalau sang raja juga menyembunyikan darinya.
Marco tersenyum dan menjawab, "Itu karena kalian berdua adalah untusan Dewi Maria dan kami mengincar kalian."
Eren dan Christa tersentak, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Marco barusan.
"Tapi tenang saja, kami masih belum ingin menculik kalian." Lanjut Marco seraya berbalik meninggalkan Eren dan Christa.
"Tunggu!" teriak Christa, "Apa kau akan menghancurkan Kerajaan Maria? Sama seperti di mimpiku?"
Langkah Marco terhenti, ditatapnya langit malam yang sudah menampakkan bulan dan bintang, "Mimpi itu ya?" dibalikkan lagi tubuhnya dan berjalan mendekati Christa.
Eren siap siaga mencondongkan tubuhnya dan sudah menyiapkan pedang dan kuda-kudanya, bersiap-siap jika Marco melakukan penyerangan mendadak.
Tetapi apa yang disangkan, Marco melepas senjatanya dan menyampirkannya pada punggungnya, "Tenang, aku tidak akan menyerang. Anda bisa memegang kata-kataku, pangeran"
Eren tak mengacuhkan kata-kata Marco, masih ditodongkan pedangnya dan was-was.
"Mengenai itu," Marco sudah berdiri tepat di depan Eren sementara Christa sudah akan merampalkan sihir jika Marco menyerang, "aku tidak yakin jika akan menghancurkan kerajaan Maria dan Rose, aku juga tidak yakin untuk membunuh kalian semua. Seseorang akan lebih membenciku jika aku melakukannya."
"Tujuanku hanya satu dan aku tidak ingin kalian para utusan ikut campur. Lawan kalian yang sesungguhnya bukanlah aku. Tetapi jika kalian masih ingin mengibarkan bendera perang pada kami maka kami akan menerimanya dengan tangan terbuka."
"Kau bilang kau memiliki tujuan dan tidak ingin kami ikut campur. Lalu kenapa kau menyebut dirimu adalah pemimpin pemberontak?" tanya Eren.
"Itu karena kalian menyebut kami seperti itu. Maka kami menyebut diri kami sesuai julukan yang kalian berikan pada kami." Jawab Marco enteng.
"Jadi, kau tidak akan menghancurkan kerajaan ini bukan?" tanya Christa memperjelas pertanyaannya tadi.
Marco mengangkat pundak ragu, "Entahlah itu tergantung dari tindakan raja kalian."
Seketika suara derap langkah lari tentara terdengar, tanda bahwa para prajurit sedang berlari ke arah rumah kaca.
"Sepertinya waktuku di sini sudah habis. Lagipula aku di sini hanya melihat-lihat." Kata Marco yang membuer Eren dan Christa kebingungan.
"Kalau begitu sampai jumpa lagi, Pangeran Eren dan Nona Christa." Marco membungkukkan badannya dan tiba-tiba sebuah aura hitam yang membentuk telur yang sedikit lonjong dengan pangkal bunga teratai hitam menyelimuti tubuh Marco dan menghilang secara tiba-tiba.
"Tunggu!" Eren berusaha meraih aura hitam tadi namun terlambat, aura itu sudah menghilang dengan cepat.
"Sihir teleportasi itu tidak pernah aku lihat." Kata Christa.
Eren mengalihkan wajahnya, "Sama denganku."
Sedetik kemudian pasukan prajurit Kerajaan Maria datang dan mengamankan pangeran dan gadis suci. Mereka berdua dibawa ke ruangan sang raja.
.
.
Eren dan Christa mendapat titah untuk tidur di kamar milik sang raja. Sementara sang raja dan sang ratu pergi ke Kerajaan Rose untuk melakukan perjanjian dan genjatan senjata sementara. Menurut yang Eren dengar kedua orang tuanya mereka akan kembali kurang lebih satu minggu lagi.
"Apa yang dipikirkan Ayahanda sampai seperti ini?" gumam Eren seraya mengepalkan tangannya, menatap lukisan Dewi Maria yang ada di langit-langit kamar milik orang tuanya.
Christa menggeleng, "Aku tidak tahu, Tuan Grisha pasti memiliki sebuah tujuan untuk menyelamatkan kita."
"Tetapi," Eren menghempaskan tubuhnya pada kasur dan menutup matanya dengan pergelangan tangan kanannya. "kita adalah utusan Dewi Maria, kita yang harus menyelamatkan, bukan diselamatkan."
Christa terdiam sejenak, "Kau ingat apa yang dikatakan orang bernama Marco tadi?"
"Yang bagian mana?"
"Kalau mereka bukan musuh kita yang sesungguhnya." Kata Christa.
"Aku dari tadi juga kepikiran. Apa maksudnya?"
"Kalau bukan para pemberontak, siapa lagi musuh utama dari kerjaan?" ujar Christa. Diposisikan tubuhnya senyaman mungkin untuk tidur. Sementara disampingnya Eren masih memakai baju zirah santai dan pedang yang tersampirkan di pinggul kanannya.
Keheningan menyerang Eren dan Christa. Masing-masing bergelut dengan pikirannya tersendiri. Christa mempikirkan siapa musuh mereka yang sebenarnya sementara Eren mempikirkan tentang ayahnya yang menyembunyikan kasus pemberontakan.
"Aku mau mandi dulu, kau tidurlah dulu." Eren menegakkan tubuhnya dan berjalan keluar ruangan, "Selamat tidur."
"Selamat tidur."
.
.
Perlahan Christa membuka kelopak matanya. Sesekali dia mengerjapkan matanya, membiasakan pupilnya dengan terangnya cahaya bersinar. Hembusan angin terasa sejuk menyapu permukaan kulit Christa. Sementara rerumputan terasa menggelikan namun juga nyaman.
Tungguh, di mana aku? Christa menegakkan tubuhnya dan terduduk di padang rerumputan. Diperhatian sekelilingnya, yang dapat Christa dapat hanya rumput manari dan dandelion yang berterbangan. Tempat yang sejuk.
"Christa."
Dibalikkan tubuh Christa mencari dari mana sumber suara tadi. Namun nihil, Christa tidak menemukan siapa pun.
"Christa."
Lagi, suara seseorang memanggilnya. Ini suara siapa? Kenapa aku mengenalnya?
"Christa!"
Lagi, suara itu kembali memanggil nama Christa dengan nada yang lebih tinggi. Christa tidak dapat mencari tahu asal suara itu. Yang Christa lakukan hanyalah melihat sekeliling tanpa berpijak mencari ke mana asal suara tersebut.
"Siapa?" tanya Christa, "Kau siapa?"
"Christa! Tolong!"
Suara itu semakin keras dan jelas. Namun semakin lama semakin serak.
"Sia–?" seseorang tiba-tiba menutup telinganya dan mencium kening Christa.
"Jangan dengarkan." Ucap seseorang yang ada di hadapannya. Christa juga dapat merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Mereka berdua menggunakan tudung yang menutupi wajah mereka.
"Jangan dengarkan seseorang yang memanggilmu barusan." Kata seseorang yang memeluknya.
"Dan jangan biarkan dia mendekatimu." Lanjut orang yang menutupi telinganya.
"Yang mendengar bukan telingamu." Orang dibelakangnya mulai menyesap harum Christa yang memabukkan.
"Tetapi hatimu selalu mendengar semuanya." Orang di depannya menurungkan tangannya dan membelai lembut rambut Christa.
"Kau adalah salah satu utusan yang suci." Orang dibelakangnya mulai mencium lembut leher jenjang Christa, sementara pelukannya pada Christa semakin kuat namun masih tetap lembut.
"Jangan menodai orang lain atau dirimu." Orang di depannya juga ikut mencium telinga Christa dan beralih mencium dan melumat bibir Christa.
"Jangan pernah takut akan apa yang ada di dalam mimpimu." Kali ini kedua orang tersebut bicara bersamaan dan mulai menggerayai tubuh Christa yang terdiam kaku.
.
.
"HENTIKAN!" Christa terlonjak dari tidurnya, keringatnya yang sebesar biji jagung mengalir deras melewati pelipisnya. Iris matanya membesar ketakutan, tidak percaya dengan apa yang barusan dia mimpikan.
"Mereka siapa? Kenapa mereka menyentuhku? Apa yang mereka katakan? Aku tidak mengerti?" Christa memeluk dirinya sendiri. Jujur dia ketakutan, siapa mereka yang ada di dalam mimpinya? Dan siapa yang memanggilnya? Christa tidak mengerti dengan apa yang barusan dimimpikannya.
Eren berjalan mendekati Christa yang sudah terbangun. Ditawarkannya teh herbal kesukaan Christa, "Ini."
Dengan tangan gemetar Christa menerima teh herbal yang ditawarkan Eren. Diminumnya sedikit dan menaruhnya pada meja kecil yang ada di dekat tempat tidur.
"Apa yang kau mimpikan, ceritakan padaku?" tanya Eren tenang, walau sebenarnya mendesak.
"Aku, mendengar suara." Ucap Christa, "Aku merasa pernah mendengar suara itu, tetapi aku tidak ingat pernah mendengarnya di mana."
"Lalu?"
"Aku juga bertemu dengan dua orang yang mengenakan tudung."
"Mengenakan tudung?"
Christa mengangguk, "Mereka menyentuhku dan, menciumku, seperti itu, dan mengatakan kata-kata aneh yang aku tidak mengerti."
"Maksudmu, me–mereka memperkosamu?" ucap Eren penuh emosi.
"Aku tidak tahu," Christa menggeleng keras, "aku hanya ingat kalau mereka hanya, hanya, hanya menggerayai tubuhku dan aku terbangun."
Eren menopang dagunya dengan kedua tangannya yang bertautan, "Tidak salah lagi, itu mereka."
"Kau tahu Eren?"
"Mungkin." Jawab Eren, "Mungkin mereka berdua adalah seseorang yang mengujiku sebagai utusan Dewi Maria. Nama Mereka Kris dan Shadow. Orang yang memakai jubah lebih gelap dan bentuk tubuh lebih tinggi adalah Shadow, sementara orang yang memakai jubah lebih terang dan sedikit lebih pendek dari Shadow bernama Kris. Mereka sepertinya utusan dari Kerajaan Sina."
"Kerajaan Sina? Bukankah kerajaan itu hanyalah legenda."
"Tetapi mereka ada," sangkal Eren cepat, "mungkin Kerajaan Sina itu ada."
"Yang benar Kekaisaran Sina Pangeran." Sahut seseorang cepat.
Eren dengan cepat meraih pedangnya dan mengacungkan pada seseorang yang sedang santai meminum teh milik Christa dan terduduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Biar aku koreksi lagi Pangeran Eren, yang benar adalah Kekaisaran Sina. Bukan Kerajaan Sina, anda mengerti." Kata Marco, yang entah sudah sejak kapan berada di sana.
"Keparat, sejak kapan kau ada di sini." Didekatinya Marco yang masih santai meminum teh milik Christa.
"Aku ke sini ingin menyampaikan sesuatu, bukan untuk mencari masalah pangeran." Kata Marco, "kau ingat di mimpimu tentang orang bernama Shadow kan?"
Eren mengangguk, "Memang kenapa?"
Marco terkekeh pelan, "Bagaimana kalau aku bilang kalau Shadow itu adalah aku."
"Ha?"
"Apa maksudmu kalau kau adalah Shadow?" Christa yang masih di tempat tidur menginginkan penjelasan lebih lanjut.
"Perkenalkan," Marco tersenyum penuh arti, "Utusan dari Kekaisaran Sina yang seharusnya sudah mati semenjak ratusan tahun lalu, Marco Bodt."
.
.
TBC . . .
.
.
Katar : sebenarnya katar adalah nama senjata yang berasal dari Asia selatan (atau lebih tepatnya mungkin India) itu adalah sebuah dagger (belati). Katar adalah dagger yang menggunakan daya dorong (atau semacam seperti menggunakan kekuatan pukulan)yang memiliki bentuk H yang horizontal dengan pegangan yang ada pada tangan, sementara dagger berada di atas pegangannya, eh, ya seperti itu mungkin. Dan biasanya dalam game RPG atau MMO-RPG ditambahkan perisai pada punggung tangan yang terbuat dari kayu, besi, atau semacamnya. Dagger bisa dimodifikasi seperti pisau, kapak, atau semacamnya. Dan Katar juga bisa menjadi nama pengguna pemakainya.
Bagaimana ya? Ceritanya semakin rumit dan mungkin akan semakin panjang. Dan maafkan saya membuat Marco yang baik menjadi penjahat. Benar-benar maafkan saya. Tetapi kalau orang baik tetap menjadi baik itu rasanya tidak seru bukan? Ya anggap saja saya mencari alasan. Seperti itulah. Dan terima kasih yang sudah mampir membaca fanfic aneh dengan alur berantakan ini. Dan saya mohon kalau bisa masukannya karena pengetahuan saya tentang senjata dan armor masih cukup minim. Kalau bisa item seperti elixer, berry, potion, atau semacamnya. Karena saya membutuhkan mereka. Dan kalau ada masukan sihir atau sihir campuran saya akan menerimanya dengan senang hati. Akhir kata
.
.
.
Mind to Review, Please?
