Copyright (Naruto) : Masashi Kishimoto
Copyright (LIFE : Naruto as a Uke) : Sylvan
Chapter VII : And so it begins
AN : Paragraf yang di center alignment adalah flashback.
Tanda petik satu (') : Inner
Senin pagi, di Kota Konoha.
Pagi itu tidak seperti pagi biasanya. Di rumah keluarga Uzumaki pagi itu tidak terdengar suara gaduh seperti biasanya. Tidak terdengar lagi teriakan 10 oktav hanya untuk membangunkan anak semata wayang pasangan Minato Kushina. Anak berambut kuning itu secara ajaib sudah bangun bahkan sebelum ibu nya bangun.
"Naruto ?"
Kushina telah mendapati anaknya berada di dapur, memasak air panas untuk keluarganya. Walaupun wajahnya masih nampak sangat mengantuk, bahkan kepalanya naik turun menahan kantuknya. Namun Naruto tetap "berjuang" untuk tidak tidur dan menunggui air dalam ketel yang ia masak sampai mendidih.
Perasaan hangat menjalar di dada Kushina. Rasanya begitu bahagia melihat anaknya sudah bangun pagi-pagi hanya untuk memasak air untuk mereka bertiga. Padahal biasanya anak itu tidak bisa bangun walaupun ia mengancam dengan ancaman yang paling buruk. Ia begitu frustasi memikirkan cara membangunkan Naruto tepat pada waktunya. Tapi sekarang, keluar dari kebiasaan jeleknya, Naruto berjuang untuk menjadi anak "yang lebih baik" mulai hari itu.
Kushina mendekati anaknya yang sedang berjuang melawab kantuknya. Sesekali matanya terbuka sedikit untuk melihat apakah airnya sudah matang, kemudian matanya menutup lagi dan kepalanya tertunduk. Begitu terus sampai ia merasakan ada sentuhan tangan halus yang menyentuh rambutnya.
"Naruto, kau sudah bangun hmm ?? Anak ibu..."
Kushina memeluk leher Naruto dari belakang. Meradiasikan kehangatan keibuannya kepada sang anak. Membuat Naruto semakin nyaman dalam pelukan sang Ibu.
"Ngggh, Ibu".
"Anak Ibu memang pintar, ini baru anak Ibu. Apa yang membuatmu bangun pagi hari ini hmm ?"
"Tidak, aku hanya ingin saja".
"Jika kau bangun pagi seperti ini setiap hari, kau pasti akan membuat ibumu ini awet muda karena tidak akan marah-marah setiap hari, kau tahu".
"Iya ibu. Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu".
Kushina kaget setengah mati mendengar tujuh kata yang barusan ia dengar meluncur dengan manis dari versi kecil dirinya dan Minato. Setahu dirinya, sesayang-sayang nya Naruto kepada dirinya dan Minato ia tak pernah meminta maaf kepada orang tuanya atas kesalahan yang ia lakukan. Apa yang terjadi pada anaknya hari ini ? Entahlah, Namun Kushina begitu bahagia mendengar kata itu dari bibir tipis sang anak. Sambil berurai sedikit air mata pada mata cantiknya, Kushina mencium kepala anaknya.
"Ibu sayang padamu, sangat sangat sayang kepadamu. Kau tak perlu minta maaf atas semua kesalahanmu pun ibu pasti memaafkan mu. Apapun itu".
"Nggh"
Naruto menyamankan posisinya di dalam pelukan ibunya dan tersenyum lembut.
"Aku sayang ibu".
Sebenarnya yang membuat ia seperti itu adalah...
"Shika ? Kau marah padaku ?"
"Hmm, bagaimana ya ? Itu terlalu merepotkan. Lupakan saja. Yang penting sekarang kau aman dan sekarang kau bersamaku".
"Shika ?"
"Hmm ?"
"Apa perkataanmu kemarin sungguh-sungguh ?"
"Perkataanku yang mana ?"
"Yang kemarin di atap sekolah".
"Oh, itu. Yah... anggap saja jika aku benar, apa yang akan kau lakukan ? Apa kau mau merubahnya ? Atau kau hanya melupakannya dan berlalu tidak peduli ?"
"Mm, aku... aku tidak yakin".
"Hey, yang kami minta sebagai teman-temanmu hanya sedikit perubahan, kami tidak memintamu untuk tiba-tiba berubah menjadi seorang malaikat atau semacamnya. Yang kami mau hanya kau berhenti selengekan dan seenaknya".
"Hihi, hey Shika, ini adalah kalimat terpanjang mu di satu minggu ini kau tahu". Naruto terkekeh geli.
"Ya, dan itu sangat merepotkan".
Siang itu Shikamaru jadi mengantar Naruto ke rumahnya dari pemberhentian bus di jalan dekat rumah si blonde. Siang itu tidak begitu terik, bahkan bisa terlihat kumpulan mega mega pekat berarak perlahan dari arah selatan. Tanda hujan akan segera turun.
"Shika, kelihatannya sebentar lagi hujan turun, singgah di rumahku yuk..!!"
"Ah, tidak. Terlalu merepotkan".
"Ayolah, sudah lama sekali sejak kau terakhir berkunjung. Pasti ibuku juga senang melihatmu".
Drip drip drip
"See ? Sudah gerimis kan ? Kau yakin mau pulang ?".
"Ck"
"Ya sudah, aku tidak memaksa".
Naruto berlalu mendahului Shikamaru berjalan menuju rumahnya yang tinggal beberapa langkah lagi. Hujan makin terasa deras turun membasahi. Sepertinya tidak ada pilihan bagi si rusa malas itu kecuali singgah di rumah si blonde.
"Hei rusa malas, jika kau lambat begitu kau pasti basah kuyup, ayo segera masuk".
"Ck, mendokusai".
"Aku pulang".
"Hei Naruto selamat datang, eh ada Shikamaru. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kau kesini".
"Iya, bibi Kushina. Terima kasih".
"Aku dan Shika akan langsung ke atas bu".
"Baiklah, jika kalian mau cemilan dan kue langsung ambil saja di dapur, ibu baru beli cemilan tadi pagi".
"Baiklah".
Mereka langsung naik ke kamar Naruto dan menutup pintunya. Naruto langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk nya. Sementata Shikamaru langsung mengambil remote tv dan menyalakan tv di kamar Naruto.
"Hey Shika".
"Hmm ?"
"Bolehkah aku berbicara serius dengan mu ?"
"Apa ?"
"Kau yakin tidak akan merepotkan ?"
Karena Naruto sudah tau akan sifat sahabatnya sejak kecil itu, Naruto ingin mengantisipasi kalimat keramat sang rusa sebelum ia mengeluarkannya.
"Ck, cepatlah bicara saja. Jangan tambah merepotkan".
"Iya, iya... Kau tahu kan Kakashi sensei ?"
Tap... tap... tap... stand... listen.
"Memang kenapa Kakashi sensei ?"
"Ap-apakah ia seorang seme ?"
Shikamaru yang sejak tadi memandangi tv seketika langsung mengarahkan pandangannya ke arah si blonde. Rupanya ia sedikit kaget dengan pertanyaan yang keluar dari mulut teman sejak kecilnya.
"Apa maksud pertanyaanmu ?"
"Hm, itu... a-ano... a-aku..."
'it can't be...'
"Aku sepertinya, menyukai Kakashi-sensei".
Dhuaaaaaaar
Bersamaan dengan kata-kata itu keluar dari mulut Naruto. Sebuah kilatan cahaya putih diikuti suara yang menggelegar menyambar bumi. Shikamaru begitu kaget mendengar apa yang barusan ia dengar. Otak cerdasnya bahkan tak mampu menangani situasi seperti ini. Ia terlalu shock, ia terdiam beberapa saat memikirkan apa yang harus ia katakan kepada sahabat sekaligus cinta pertamanya itu.
'Ternyata Sakura benar, it happened'.
"Shika ?"
'Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Apa sekalian saja aku nyatakan perasaanku sekarang ? Atau berpura-pura menjadi sahabat yang baik dan mendukungnya ? Aku yakin Kakashi-sensei juga adalah orang yang baik. Tapi mengapa, mengapa hati ini tak rela ? Aku tak bisa menjawab'.
"Shika ?"
'Naru, aku disini, dan aku yang mencintaimu bahkan sebelum dia mengenalmu. Aku yang telah menjagamu bahkan sebelum kau mengenal Kakashi-sensei. Hanya aku dan akan selalu aku yang bisa menjagamu seumur hidup, Naru'.
"Hey, Shika. Kau tidak apa-apa kan ? Kau sahabatku jadi aku minta pendapatmu".
'Sahabat ? Cih, tentu saja... aku hanya sahabat baginya, tidak lebih".
Setelah lama ia berfikir, akhirnya Shikamaru membuat keputusan. Keputusan yang mungkin akan menghancurkan hatinya sampai ke keping yang paling kecil, namun sisi lain hatinya mengatakan bahwa ia tidak boleh egois, jika memang Naru menyukai senseinya dan tidak (belum) menyukai dirinya. Ia tidak bisa memaksanya. Tidak ada yang bisa ia lakukan, kecuali mendukung Naru apapun yang terjadi. Dan ketika Naruto membutuhkan tangan dan bahu untuk bersandar, Shikamaru akan selalu disana, untuk Naruto.
'Well, I'm happy for you, Naruto'.
"Kau mau minta pendapatku tentang apa ?".
"Akhirnya kau menjawab, ku kira kau bisu. Tentu aku ingin meminta saranmu, bagaimana aku bisa menarik perhatian Kakashi-sensei".
"Oh, itu mudah".
"Bagaimana caranya ?". Tanya Naruto bersemangat.
"Bersikaplah sebagaimana yang aku dan teman-temanmu minta. Bersikaplah seperti anak normal".
"Well, aku merasa cukup normal, minus suka kepada laki-laki hahahahaha".
"Itu tidak lucu".
"Maaf, lanjutkan".
"Cobalah tunjukan sifat baikmu kepada semua orang. Jangan kau hanya terfokus bersikap baik kepada Kakashi-sensei saja. Tapi kau harus membenahi dirimu kepada semua orang. Jika kau ingin mendapatkan hati seorang seme, berbenahlah luar dalam. Agar ketika kau menjalani hubungan dengan Kakashi-sensei ia tidak akan melihat lagi sisi burukmu itu dari dirimu".
Naruto memegang dagunya kemudian mengangguk perlahan tanda ia mengerti aoa yang barusan dikatakan oleh rusa malas di depannya.
"Wow, Shika aku tidak tahu kau begitu pengalaman dengan masalah ini. Apa kau juga sedang jatuh cinta ?".
"Ck. Jatuh cinta itu merepotkan". 'Seperti sekarang, jatuh cinta kepada mu itu sangat merepotkan ku'.
"Ah, tidak mungkin kalau kau tidak pernah. Ceritakan padaku, ayolah".
'IT'S YOU NARUTO...!!! I'TS ALWAYS BEEN YOU'.
"Tidak, itu terlalu merepotkan".
"Lalu apa yang tidak merepotkan mu, huh ?"
'KAU'.
"Entahlah".
"Baiklah, saranmu ku terima Shika. Terima kasih sudah membantuku".
Hugg.
"Shi-shika ?"
"Jika sesuatu terjadi padamu, apapun itu. Ingatlah aku, Naruto. Ingatlah aku akan selalu ada di belakangmu, menjagamu agar kau tidak jatuh. Aku akan selalu disini agar kau bisa selalu bersandar kepadaku. Ingat lah Naruto, menjagamu adalah tugasku".
"Shika..."
Shikamaru pun melepaskan pelukan nya. Kemudian kembali menatap layar televisi yang sejak tadi ia lupakan. Mereka berdua saling diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka tidak sadar bahwa sejak tadi ada yang menguping pembicaraan mereka dari luar kamar.
"Eh, Minato, apa yang kau lakukan disini ?"
"Anak kita..."
"Ada apa dengan Naru ?".
"Sepertinya, banyak sekali yang menginginkan anak kita untuk dijadikan pasangan". Mintao terkekeh.
"Apa dia setampan itu ? Kupikir malah tidak akan ada yang mau dengannya karena sifatnya yang seperti itu".
"Well, pasti dia menurun bapaknya yang tampan ini". (Mengacungkan jempol ke arah dadanya).
"Terserah kau saja, Minato. Aku akan membawakan ini untuk anak-anak".
Kushina berlalu meninggalkan Minato senyum-senyum sendiri di belakangnya. Ia membawakan kue dan teh hangat sebagai teman mereka melewati hujan yang dingin di siang itu.
"Anak-anak ini kue dan teh untuk kalian".
"Terima kasih bibi Kushina".
"Waaaaah asiiik".
"Kakashi, semoga kau bisa menepati janjimu dahulu untuk menjaga anakku. Aku percaya padamu".
."Aku berangkat dulu... jaaaaa".
"Hati-hati di jalan Naru... Uang jajan sudah ibu masukkan di tas mu ya".
"Baik, arigatou...".
Cklek, Slam.
"Anak itu berubah drastis hari ini".
Sluuuurp.
Minato yang sudah siap dengan kemeja kerjanya menyeruput kopi pagi yang sudah disiapkan oleh Kushina dengan sangat tenang atau lebih tepatnya tidak terlalu peduli dengan perubahan sifat Naruto yang dianggap sesuatu yang besar oleh istrinya.
"Heiiii... sepertinya kau tidak begitu peduli ?!!"
"Huh ? Apa ?"
"Kau ini...!!!"
"Oh, Naruto ? Ah, haha aku sudah tau ini akan terjadi".
"Huh ?". Kushina penasaran apa maksud Minato.
"Iya, kemarin sebelum kau datang mengantarkan kue dan cemilan ke kamar nya. Aku sudah berdiri di sana dan mendengar semua percakapan yang mereka lakukan. Hahah, tipikal anak kelas 3 SMA yang masih belum stabil emosinya. Mereka begitu cepat mengambil keputusan".
"Memangnya apa yang mereka bicarakan ?".
"Jadi begini..." (Skip)
"Kakashi ?"
"Iya ? Kenapa ?"
"Ah, tidak. Dia anak yang baik. Tapi bukankah sedikit terlalu tua untuk Naru ? Yang ada dipikiran ku adalah pacar yang seusia dengan dia agar mereka bisa bermain bersama. Aku tidak tahu apakah Naru yang seperti itu bisa menjalin hubungan yang bersifat 'serius' dengan orang yang umurnya jauh lebih dewasa diatas dirinya".
"Bukankah dia sudah berubah hari ini ? Kurasa itu tujuannya ia berubah".
"Mungkin kau benar. Sebagai Ibu aku tentu akan mendukung apapun pilihan yang di ambil oleh Naru. Itu tadi hanya bayanganku saja. Di pikiranku ia lebih cocok dengan si Shikamaru, atau mungkin dengan Sasuke".
"Sasuke anaknya Mikoto dan Fugaku ?"
"Iya, kenapa ?"
"Tidak, aku juga tentu akan mendukung apapun pilihan yang ia ambil. Tapi kalau aku pribadi, aku sudah cocok jika ia dengan Kakashi. Ia tipikal pria yang penyayang, dan juga cerdas, sangat cocok melengkapi kebodohan Naruto".
"Kau ada benarnya juga, Minato".
"Sudahlah, biar dia sendiri yang menentukan bagaimana jalan hidupnya, dia sudah besar. Sudah bukan waktunya lagi kita mengatur dia".
Di sekolah.
Suasana pagi yang tenang di sekolah itu mendadak di kejutkan dengan kemunculan sesosok anak baru. Anak baru itu begitu tampan dan manis. Banyak siswi-siswi yang menjerit - ala fangirl - ketika si anak baru ini berjalan melewati mereka. Pakaiannya begitu rapi dan bersih, wajahnya berbahaya memancarkan aura semangat pagi yang begitu cerah, wangi jeruk tercium samar-samar ketika ia lewat. Rambutnya yang kuning dan matanya yang biru. Tunggu dulu ? Naruto ?
Hampir semua murid tidak ada yang mengenali anak itu. Naruto yang biasanya tampil seadanya bahkan terkesan acak-acakan, jarang sekali mandi ketika akan berangkat sekolah, juga rambutnya yang selalu kusut tak terawat sekarang berubah 180 derajat. Bajunya begitu rapi sesuai dengan seharusnya pakaian itu di pakai. Seragam hari senin membuatnya terlihat lebih maskulin dari biasanya. Rambutnya masih spiky namun terlihat terawat dan tentunya wangi. Dan aroma jeruk yang sangat menyegarkan membuat orang betah dekat lama-lama dengan Naruto. Penampilan yang sangat normal bagi pelajar yang lain adalah suatu hal yang luar biasa bagi Naruto.
"Told yaaaa.!!!!"
Seorang siswi berambut pink menunjuk ke arah wajah Naruto sambil menyunggingkan senyum bangga. Yap karena ia benar soal merubah penampilan.
"A-aku tidak tau efeknya akan sebesar itu, padahal aku tidak dandan. Aku hanya rapi, sama sekali tidak berdandan".
"Dan lihatlah efeknya. Bayangkan apa yang terjadi jika kau memutuskan untuk berdandan hari ini ?"
"Mungkin sekolah ini akan meledak. Hahaha". Sahut Kiba.
"Eh, dimana Shikamaru ? dari tadi aku tidak melihatnya. Bukannya ia paling tidak suka telat ?"
"Entahlah Naruto, aku juga baru sampai. Baru saja Neji meninggalkan sekolah ini".
"Hei teman-teman...".
"Hei Sai, apa kabar ?" (Sakura)
"Oi, Sai. Biar kutebak, pasti kau kesini dengan Yahiko-senpai kan ? Enaknya punya seme yang lebih tua".
"Ah, kau ini. Sudahlah jangan terus menggerutu karena ke-single-an mu. Aku bosan mendengarnya". Protes Sakura.
"Aku setuju dengan Sakura, kau berisik". (Gaara)
"Eek ? Kau tega sekali Gaara, hiks hiks".
"Oi Naruto sudahlah kau semakin terlihat bodoh jika seperti itu, kau merusak citra baru mu yang baru kau buat, ayo masuk kelas. Pelajaran Kurenai-sensei akan segera di mulai". Kiba menarik (menyeret) tangan Naruto agar segera menuju kelas mereka.
Sementara itu di tempat lain...
"Memangnya kenapa, aku suka Naruto. Apakah salah jika aku menjemputnya ketika tidak ada orang disana ?".
Wajah datar itu terus saja memandangi lawan bicaranya. Ekspresi wajahnya tak berganti walaupun ia mengucapkan kata yang syarat akan emosi.
"Jadi kau juga suka Naruto, huh ?"
Kali ini lawan bicaranya bertanya dengan nada meremehkan. Terkembang wajah senyum nan sinis yang begitu menusuk. Tangannya ia silangkan di dadanya, sambil memasang pose percaya diri.
"Iya, memangnya kenapa".
Wajah datar itu tetap tak berubah. Seakan ia tembok yang sangat susah untuk dihancurkan, namun sekeras apapun tembok, pasti ada yang bisa menghancurkannya.
"Kau terlambat, Naru suka kepada Kakashi-sensei. Bukan kepadamu".
Jleb.
Seketika itu hancurlah pertahanan sang Uchiha muda. Wajah datarnya yang kokoh sejak tadi terpasang bagai tembok beton yang kuat, hancur ketika mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh pemuda di depannya.
"Aku tidak percaya padamu".
Dengan segenap harga diri seorang Uchiha yang masih ia miliki ia berusaha tetap memasang ekspresi datar jagoannya, walaupun tadi sempat runtuh.
"Terserah kau saja. Membuatmu percaya padaku juga terlalu merepotkan. Kau bisa menanyakan hal ini langsung kepadanya. Aku pergi dulu, kelasku sudah akan dimulai, jaa".
Pagi yang sama, apartemen Kakashi.
Sepasang mata berwarna tak sama terbuka karena silaunya matahari pagi. Seseorang sengaja membukanya agar kedua mata itu terbangun dari tidurnya. Dilihat olehnya sesosok pria yang tubuhnya kebih pendek dari dirinya. Rambutnya begitu rapi terikat ke atas. Dia sudah rapi dan lengkap memakai pakaiannya.
"Kakashi, bangun. Matahari pagi sangat menyehatkan. Apa kau masih sakit ?".
"Nggh, sudah tidak. Tapi mungkin hari ini aku tidak masuk dulu. Badanku masih terasa lemas".
"Baiklah, kalau begitu aku akan disini sampai kau pulih".
"Kau tidak perlu repot-repot, Iruka. Aku bisa dan sudah biasa mengurus diriku sendiri".
"Tidak apa, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja".
"Iru ?"
"Hmm ?"
"Boleh aku tanya sesuatu ?"
"Tentu, silahkan".
"Kenapa kau melakukan semua ini padaku ? Maksudku, kita bahkan baru kenal kemarin siang. Tapi mengapa kau melakukan hal yang bahkan terlewat baik untuk seorang yang baru kenal ?".
"Iya ya ? Kenapa ya ?"
"Iru, seriously".
"Aku juga tidak tahu, yang jelas begitu melihatmu duduk sendirian di trotoar kemarin, aku langsung tergerak untuk memayungimu. Karena aku tahu, sendiri itu..."
"Apa ?"
"Sendiri itu, menyakitkan".
'Orang ini'.
"Sama sepertimu, aku juga hidup sendirian, bahkan sejak aku berumur 13 tahun. Aku anak tunggal dan orang tuaku meninggal dunia di bunuh oleh kawanan perampok, jadi..."
"Iru, gomen".
"Jadi aku tahu rasanya sendirian itu seperti apa".
Iruka tersenyum penuh arti ke arah Kakashi. Yang disenyumi hanya bisa tertegun melihat kepolosan dan kelembutan hati pria yang baru dikenalnya kemarin.
"Lalu bagaimana jika aku orang jahat ?"
"Hmm, itu pertanyaan sulit... ya tinggal membela diri saja, lalu lapor polisi, selesai, hahaha".
'Ia begitu tulus'.
"Iruka ?"
"Apa... Apa kau suka lelaki ?"
Blush..
"Mengapa kau tiba-tiba bertanya hal yang sangat pribadi seperti itu...!!!???"
"Well, aku hanya penasaran, karena aku juga..."
"...". Iruka menunggu lanjutan kalimat itu.
"Suka lelaki".
Di sekolah. Jam Istirahat.
"Hhhahhhhhhhh... akhirnya pelajaran matematika Kurenai-sensei selesai juga. Kepalaku terasa panas".
Seorang murid berambut coklat dan memiliki tattoo segitiga di kedua pipinya meletakkan kepalanya di meja sesaat setelah pelajaran pertana selesai.
"Aku juga".
Sebelas-duabelas dalam masalah pelajaran, teman sebangkunya juga mengeluh hal yang sama. Dan mereka berdua menaruh kepala mereka di meja. Kumpulan orang-orang bodoh.
"Oi, Kiba. Ayo kita keatas saja sekarang".
"Sebentar lagi Naruto, kepalaku masih pening".
"Kau benar, aku juga. Tapi kau enak ada Shino yang bisa mengajari mu".
"Ah, bicara apa kau ini. Kau kan juga ada Shikamaru".
"Eh, iya juga ya haha".
"Oi, Naruto".
"Hmm ??"
"Aku pikir, sepertinya Shikamaru menyukaimu".
"Wh-what...!!!!!"
"Tunggu dulu, jangan kaget dulu, dengar dulu penjelasanku".
"Baiklah".
"Apa kau tidak sadar sama sekali Naruto ? Selama ini Shika selalu menjagamu, membantumu, dan mengawasimu. Bahkan ketika ia tidak ada, dia akan menitipkanmu kepada orang lain agar orang lain itu mengawasimu untuknya".
"B-benarkah ?"
"Dan, aku pikir kau harus mendengar ini langsung darinya tapi..."
"Tapi apa ? Mendengar apa ? Kiba jangan bikin aku penasaran".
"Aku tidak tahan lagi melihat Shikamaru menderita, after all dia juga sahabatku. Aku benci melihat ia bersedih".
'Shika ? Bersedih ? Terdengar bukan seperti Shikamaru yang ku kenal. Shikamaru tak pernah menunjukkan kesedihannua padaku. Walaupun ia kelihatan tidak perduli. Ia anak yang baik'.
"Shikamaru bilang padaku, ia..."
"..." (menunggu)
"Menyukaimu".
TBC
HAI... Sylvan is here with the new update. Sylvan sedang sibuk tapi tetap berusaha semaksimal mungkin untuk update.
Maaf kalo ada typo ya minna san... maaaaaaaf *deepbow
Maaf juga ga bisa jawab ripiw minna-san. Sylvan udah capek ngetik... pake hp soalnya damn it..!! Hehe
Pokokna mah, makasih yanh udah ripiw, ngikutin, baca atau bahkan sekedar mampir ke fic Syl ini. Syl liat trafficnya ternyata byk bgt silen readers LOL haha.
Well that's it for now
Sekian dan terimakasih
Sylvan out.
