Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

.

Demons

.

Hoshikawa Mey

.

.

.

Terkesiap, suara Rukia teredam saat ciuman kuat kembali menelan jeritan kenikmatan dari rongga suara. Kuku-kuku di jari mungkin sudah beberapa kali menggores kulit tan yang mendekap, namun seperti tak perduli, tubuh di atasnya terus bergerak menggila memberikan kenikmatan.

"Kau merasakannya, Rukia?" di antara nafas, suara berat itu terengah di bawah dagu, mengipasi persimpangan leher.

Desahan adalah jawaban paling logis bagi Rukia saat ini. Meskipun isi kepalanya sudah jungkir balik bersama semua kegilaan, setidaknya ada bagian dari dirinya yang bisa merespon atas pelayanan luar biasa yang diberikan pemuda bertubuh tegap yang mendominasi dengan protektif.

Beberapa jam lalu mereka sudah putus asa untuk saling menyentuh, beruntung mereka bisa mengendalikan diri tiba di dalam kamar dengan selamat tanpa harus merobek kimono di pertengahan jalan. Di selimuti kepedihan mereka mengeluarkan kemarahan lewat cumbuan, melampiaskan semua kemarahan dan menggantinya dengan kesenangan.

Kurosaki Ichigo tidak pernah berbohong mengenai 'bakat khusus' yang pernah dibanggakan pemuda itu. Rukia sendiri memang tidak pernah mengakui secara lisan, tapi dari bahasa tubuh yang selalu merespon menggila setiap kali mereka terbakar gairah. Rasanya Ichigo bahkan mengetahui setiap kontak fisik yang mereka lakukan selalu memiliki pengaruh yang luar biasa. Setidaknya Rukia sudah mengantongi satu alasan kenapa mereka belum saling membunuh meski saling membenci di awal pernikahan. Pikiran mereka memang selalu berseteru, tapi fisik mereka selalu menghianati—tak bisa lepas dari saling menyentuh.

"Ichigo!" kembali terkesiap nyaris menjerit, Rukia hanya mampu berpegangan pada lengan kokoh suaminya mengingat futon tidur tempat jemari mencengkram berserakan tergulung kusut entah kemana. Sadar atau tidak setengah punggung Rukia tidak lagi beralaskan futon tidur.

Ichigo menggeram, buku-buku jarinya yang terkepal bertumpu pada tatami mulai memutih. Ceroboh pinggulnya menghentak dengan cepat, semakin memburu dengan nafas mereka yang terputus. Inilah saatnya semua kenikmatan berada di puncak. Semua perasaan melayang di atas langit sudah menghatarkan rangsangan ke seluruh saraf yang bekerja, dan tidak butuh waktu lama menunggu saat perempuan mungil di bawahnya nyaris menjerit yang langsung teredam oleh ciuman kuat dalam geraman kenikmatan milik Ichigo sendiri.

Butuh sedikit waktu lebih lama saat tubuh Ichigo ambruk diatas tubuh istrinya. Kedua nafas mereka bertemu untuk saling berpacu, menunjukkan keduanya baru mengalami sesuatu yang luar biasa. Diantara nafas yang belum stabil tawa rendah Rukia terdengar. Tangan yang sebelumnya mencengkram lengan dengan kuat sudah bergerak mengalungkan keduanya di leher Ichigo.

"Kau tahu ini sungguh sangat berarti untukku, Kurosaki," malu-malu Rukia mengecup sekilas sudut bibir suaminya, sudah merasa kewarasannya kembali setelah nafas lambat laun menjadi teratur.

Tak berbeda dengan Rukia, nafas Ichigo pun telah kembali teratur. Pria bersurai orange itu hanya memutar bola mata bosan, terang-terangan memperlihatkan pada istri mungilnya bahwa dia sedang bersikap seolah tahu betul perkataan yang dilontarkan barusan adalah kalimat penghibur untuk menyanjung. Seperti seorang guru yang memuji ketika muridnya bertindak benar. Ichigo tahu Rukia—yang sebenarnya—tidak akan begitu jujur mengungkapkan isi kepalanya. Mendengus Ichigo menyelipkan kedua tangannya ke bawah punggung Rukia, memperkuat pegangan menarik tubuh perempuan itu bersamaan dengan berubahnya posisi tubuh mungil Rukia menjadi duduk diatas pangkuan.

Mengerutkan dahi Rukia tidak mencoba menghidar saat bibir suaminya menghujani bibir mungilnya dengan kecupan singkat. "Kau mau apa?"

"Lagi."

Rukia terkesiap. Tidak memerlukan persetujuan atau perdebatan lebih panjang, tanpa basa basi pinggul mahkluk bersurai orange yang memangkunya sudah bergerak berirama ke dalam dirinya. Bukan irama menggila seperti beberapa menit lalu, hanya irama teratur namun tetap berhasil membuat nafas Rukia kembali terengah.

"Rukia," Ichigo melepaskan lumatan pada bibir istrinya, suara serak bercampur nafas terputus berhasil mengundang perhatikan iris violet yang berkabut menunduk mengadu pandang dengan kuning keemasan milikinya. Penuh keyakinan kedua pasang matanya ingin menunjukkan bahwa hanya ada istrinya memenuhi memantulkan diri dari tatapan yang diberikan. Entah hal gila apa yang sudah membuat isi kepalanya bermasalah, Ichigo tidak lagi perduli bahwa dengan mudah perempuan itu akan tahu bahwa kini ada bagian yang paling besar di dalam hatinya yang dipenuhi segala hal tentang perempuan itu.

Ichigo sudah jatuh untuk Rukia.

Tentu. Rukia tidak akan begitu bodoh memungkiri pengakuan dari Ichigo. Karena itu dia langsung terkesiap seakan hendak menjauh, ada antisipasi dibalik tatapan violetnya. Sayang hal tersebut tak terlalu lama—tidak begitu tertangkap mata Ichigo, karena pemuda itu kambali merengkuh ketat tubuh Rukia dan memaut ganas bibir mungil istrinya.

Ichigo meluapkan semua gairah, mencurahkan perasaan, dan memberikan hatinya.

Semua untuk Rukia.

Sayang—untuk kali ini Ichigo sedikit gegabah mengambil perhitungan.

.

.

Di balik tembok gudang mansion di bagian timur kedua putri terhormat keluarga Kuchiki duduk bersandar, tidak perduli salju yang diduduki sudah mencair merembes ke kain kimono yang dikenakan, kedua perempuan berwajah dingin itu masih terlihat betah.

"Aku memberitahunya," si Kuchiki yang rambutnya di kepang satu kebelakang memulai lebih dulu, menghisap cerutu dari pipa hisap, lalu menghembuskan ke udara hingga bercampur dengan uap dingin. Kuchiki bertubuh mungil disebelahnya hanya mengerutkan dahi, menyambut pipa cerutu yang terulur tapi tiba-tiba mengurungkan niat dan mengembalikannya pada Kuchiki yang rambutnya di kepang sebelum sempat di hisap.

Kuchiki berambut kepang menaikan alis, ekspresinya jelas sedang bertanya 'kenapa?', tidak biasanya sepupu mungilnya menolak saat menghisap cerutu bersama.

"Aku sedang menjaga kesehatan agar lekas mengandung."

Tawa menghina muncul sebagai respon, perempuan itu hanya menggeleng kembali meneruskan menghisap cerutu. "Kau betul-betul menghormatinya, pantas dia menolak percaya saat kukatakan bahwa kau mungkin akan bermain dengan banyak laki-laki disini."

Kuchiki mungil menatap kosong taman belakang di hadapan, nafasnya berhembus mengepulkan uap dingin yang menyerupai asap cerutu dari perempuan disebelahnya. Kedua tangannya melipat memeluk kaki, mengusir dingin yang semakin menusuk. "Ah, dia juga tidak pernah percaya padaku."

Lagi tawa si kepang memenuhi bersamaan dengan asap cerutu yang mengepul. "Kau membohonginya sepanjang waktu kah? Meskipun menikah sifatmu tidak pernah berubah."

"Kau juga sama denganku, Nemu. Kau juga membohongi dia."

"Dia kan bukan siapa-siapaku."

"Tapi seharusnya kaulah yang menjadi istrinya, bukan aku."

"Jangan mulai membahasnya lagi, Kuchiki Rukia."

"Terimakasih sudah mengingatkan, Kuchiki Nemu. Aku juga tidak pernah lupa seharusnya kau membenciku karena merebut calon suami bangsawan besar sekelas Kurosaki Ichigo."

Si rambut kepang—Nemu—terdiam. Dia sama sekali tidak terlihat terganggu dengan komentar sepupu mungilnya, bukan karena itu dia terdiam. Perempuan itu menahan perdebatan, menyeringai kecil menaikan sebelah alis. "Lalu kau—apakah membenci Hisana? Seharusnya kau juga yang menikah dengan paman Byakuya, mengingat kondisi kesehatan Hisana tidak pernah baik untuk mengandung seorang pewaris. Para tetua malah membuangmu dengan menikahkan dengan keluarga bangsawan luar. Menikahkanmu dengan keluarga Kurosaki rasanya seperti hadiah penghibur karena tidak berhasil memperoleh kebebasan yang kau inginkan lewat paman Byakuya."

Kali ini si mungil—Rukia yang tertawa. Memiliki percakapan penuh sindiran dan nada sinis adalah hal yang biasa. Dulu—sebelum menikah, ada waktu-waktu tertentu mereka tidak sengaja sedang bersembunyi di tempat yang sama. Mereka sepupu, tapi mereka tidak bisa dibiliang akrab. Mereka saling tidak menyukai, tapi ada fakta mengejutkan lagi bahwa mereka selalu berbagi cerita bersama. Mereka rumit, tapi mereka tidak pernah mencoba saling menjaga.

"Aku tidak tahu tahun depan entah bisa berbicara lagi denganmu atau tidak, tapi percaya atau tidak—aku sudah memiliki kunci kebebasan. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mempergunakannya."

"Begitukah? Berarti permainan sudah berubah membosankan, posisimu sudah jauh lebih unggul dari suamimu. Kalau kutebak, kunci kebebasanmu adalah perasaan suamimu yang berhasil kau dapatkan kah?"

Rukia menggeleng, tidak peduli fakta bahwa Nemu tidak akan melihat karena tatapan perempuan berkepang itu sedang menerawang ke depan. "Memang berhubungan dengan suamiku, tapi bukan tentang perasaannya. Aku hanya tanpa sengaja menemukan sesuatu yang bahkan mungkin suamiku atau para tetua Kuchiki ketahui, mungkin saja paman Byakuya tidak mengetahuinya juga."

"Wah—bagaiamana ini," Nemu mendongak ke atas langit kelabu, keluhanya terlihat sedang mengomentari cuaca. "Haruskah aku membocorkan rahasiamu kepada tetua Kurosaki? Itu pasti akan menyenangkan, dan kau—kau mungkin akan membalas dengan membongkar rahasiaku kepada para tetua dan paman Byakuya. Lalu—ada kematian seseorang lagi. Ah, Rukia. Kalau kau ingin mendengar saranku, cepatlah pergi selagi kau belum banyak kehilangan. Sejak awal saja sudah ada yang meninggal ketika berada di sisimu, kau bahkan keguguran. Lalu berikutnya siapa? Aku? Hisana? Paman Byakuya, atau suamimu. Tinggal menunggu waktu juga, karena pada dasarnya kehidupan yang kita miliki adalah milik para tetua."

"Jangan bilang kau takut di bunuh para tetua karena memegang rahasiaku. Kau takut? Ya sudah—bocorkan saja rahasiaku seperti cara yang lainnya menghianatiku."

"Yah—kita lihat saja bagaimana nanti."

.

.

.

"Nemu, kau melihat Rukia?" Kuchiki Nemu mengangkat kepala yang dari tadi menunduk, menggeleng pelan setelah bertemu pandang dengan Kuchiki Byakuya yang duduk di meja makan paling ujung. Sekejap Nemu dapat menerka bahwa pamannya pasti mengetahui sebelum jam makan siang dia sudah bertemu dengan Rukia. Tapi ini sudah beberapa menit berlalu setelah mereka berpisah karena Rukia memutuskan untuk pergi lebih dulu. Nemu yang butuh waktu menghapus jejak aroma cerutu baru menyusul lima menit sesudahnya. Setelah waktu lima menit yang lewat, Nemu sama sekali tidak mengetahui keberadaan Rukia di sisa menit berikutnya.

Kuchiki Byakuya mendengus. Dia tahu terkadang ada sifat pemberontak Rukia yang tidak ingin berbaur bersama anggota keluarga lainnya di meja makan, hal itu terjadi bila sesuatu masalah sedang muncul di antara Rukia dengan sepupu-sepupunya. Memang tidak ada satupun berita aneh yang sampai hingga ketelinga Byakuya sebagai perwakilan para tetua, tapi Byakuya tidak buta untuk tidak tahu ada perselisihan terselubung antara adik iparnya dengan anggota keluarga lain. Dan berita buruknya, sampai mati pun Rukia tampaknya tetap akan bungkam. Selalu bertindak keras kepala mengambil keputusan sendiri. Bahkan perempuan keras kepala itu masih saja bersikap egois mengucilkan diri meski suaminya sudah duduk patuh di meja makan.

"Mungkin Rukia sedang tidak enak badan," Hisana mengusap pundak suaminya, bersikap bijak meredakan emosi di balik wajah tenang Kuchiki Byakuya. "Aku yakin ada alasan—"

"Aku disini, Kak." Rukia muncul, sedikit mempercepat langkah perempuan bertubuh mungil itu mengambil posisi duduk disebelah Ichigo.

Hisana bernafas lega. Kemunculan Rukia sudah jauh membuat suasana tidak begitu tegang. Sebagai seorang kakak, Hisana mengerti banyak kesulitan yang harus Rukia hadapi semenjak mereka pindah ke rumah inti karena pernikahan Hisana. Adik kesayangannya itu memang tidak pernah berbicara apapun, tapi sikap Rukia yang kian mendingin membuat Hisana tahu bahwa adiknya semakin kuat membangun pertahanan. Kalau tidak sedang melindungi diri, memangnya untuk apa lagi Rukia melakukannya.

"Sekarang—" suara dingin Byakuya masih menusuk dan kaku, mata kelabu pemuda bersurai hitam itu melirik ke salah satu kursi kosong di sudut lain meja makan. "—dimana Tsukishima?"

"Maaf, maaf, aku terlambat."

Yah, tidak dibutuhkan Riruka mengarang cerita agar pamannya tidak murka. Bahkan sebelum perempuan itu membuka mulut, suaminya sudah muncul mengisi kekosongan di meja makan. Riruka yang pemarah mendengus sinis pada suaminya, namun tampaknya yang lain tidak terlalu memperhatikan karena terlalu hikmat memulai kegiatan makan. Tidak ada yang perduli bahwa putri Kuchiki berambut merah itu mati-matian menahan jengkel karena keterlambatan suaminya, dan—tidak ada pula yang memperhatikan Kurosaki Ichigo yang memasang tampang mengerikan karena tidak mampu mengusir perasaan curiga di dalam benaknya.

Isi kepala Kurosaki bersurai orange itu tengah berputar-putar. Seribu pertanyaan disertai rasa cemburu terus menyeruak menyempitkan rongga pernafasan. Bagaimana bisa Rukia menghilang sejak tadi pagi meninggalkannya sendirian tidur di futon, lalu—kenapa istrinya bisa datang terlambat ke meja makan, dan yang semakin memperparah adalah kenapa Tsukishima juga muncul terlambat? Apa sudah terjadi sesuatu di antara mereka sebelum ke ruang makan? Rukia mengkhianatinya kah? Atau—

"Pamanku memelotimu dari tadi, kenapa kau tidak mulai makan dan menghilangkan wajah mengerikan itu?" suara pelan Rukia berbisik membuyarkan semua prasangka yang tengah bermain di dalam kepala. Perlahan leher Ichigo bergerak menoleh memandang iris violet istrinya.

Pertanyaan Rukia sama sekali tidak memperbaiki suasana hati Ichigo, sedikit terbersit dalam hati bahwa sejenak istri mungilnya mungkin dapat membaca situasi dan hendak memberi penjelasan atas segala imajinasi liar yang sedang bermain di kepala Ichigo. Demi Kami-sama, Ichigo tahu Rukia sangatlah cerdas untuk seorang istri yang peka bahwa suaminya sedang menahan cemburu. Tapi perempuan itu acuh, memakai topengnya yang dingin—lagi?

Ichigo benci Rukia yang rumit.

.

.

.

Dengusan nafas Rukia berhembus keras. Kedua tangannya masih terkulai disamping, tidak melakukan apapun, hanya waspada memantau segala pergerakan yang mungkin memiliki indikasi buruk. Wajahnya sendiri masih terlihat datar dan tampak tidak berminat pada objek di depannya. Terus mengabaikan meskipun objek itu kian mendekat menyemburkan aroma sake ke indra penciumannya. Boleh dibilang Rukia sendiri sedang menahan agar tidak refleks muntah, pertahanan diri yang besarlah yang menyelamatkan agar tetap terlihat anggun meskipun objek berbau alkohol kuat itu semakin memojokkannya di sudut dinding.

"Tampaknya kau masih bersikap sok jual mahal, Rukia. Kau belum belajar apapun dari kejadian kemarin."

Rukia menatap tanpa ekspresi, menahan nafas tanpa terlihat ketara ketika bau sake kian menyengat karena jarak radiusnya mendekat. "Kaulah yang tidak belajar, Tsukishima. Kau tidak berarti apapun bagiku."

Orang itu tertawa rendah, semakin menyeruakan aroma sake yang etah sudah berapa botol yang ditegaknya. "Tunggulah sampai suamimu tidak mempercayaimu lagi, dan apabila saat itu tiba—aku yakin kau akan menyesali semua perkataanmu saat ini."

Tidak ingin kalah, kali ini giliran Rukia yang mengeluarkan tawa sinis. Mulai mengeluarkan bakat pertahanan ala Kuchiki dengan memandang mencela. "Tidak ada yang akan pernah kusesali. Lakukan sesukamu untuk menghasut suamiku. Aku tidak perduli dia ataupun kau yang akan menang. Yang perlu kau ketahui sekarang—aku adalah milik Kurosaki Ichigo. Kau tidak punya hak—"

"Aku punya hak!"

Rukia meringis. Tsukishima menarik sebelah kerah kimononya, cukup kuat hingga sebelah leher Rukia yang tertekan oleh kain sedikit sakit. Dalam hati merasa bersyukur orang kasar itu bukanlah orang yang berhasil menjadi suaminya, tak terbayangkan kekasaran seperti apa yang diterima bila lamaran pria itu diterima oleh keluarga Kuchiki dulu.

"Setiap anggota tubuhmu, di tiap jengkalnya—" Tsukishima semakin menarik turun kerah kimono milik perempuan mungil di hadapannya, semakin berani karena perempuan itu sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda perlawanan. Senyumnya semakin terkembang seiring dengan terungkapnya kulit putih Rukia di balik kimono, semakin bersemangat, semakin tergiur—ohh.

Tsukishima mendengus. Gairahnya mendadak lenyap mendapat hadiah pemandangan tanda-tanda merah pada persimpangan leher Rukia, mata tajamnya mendongak dengan kesal dan mendapati perempuan itu menyeringai penuh kemenangan.

Ahh—Tsukishima mulai membaca situasi.

Kebungkaman perempuan itu ternyata memiliki maksud tersembunyi, sikap diam tanpa perlawanan yang diperlihatkan hanya cara sederhana untuk menyombongkan bahwa sebelum sempat Tsukishima menjamah sang putri Kuchiki, perempuan licik itu sudah lebih dulu ditandai oleh pemiliknya. Tanda merah di persimpangan lehernya yang terlihat tersebar jelas menunjukkan sudah banyak kali perempuan itu dijamah oleh pemiliknya.

"Sekarang kau mengerti bukan, tidak ada lagi tempat untukmu. Kau—tidak layak."

Kata-kata indah Rukia beresonansi perlahan, menggema-gema di gendang telinga, membuat dua pasang daun telinga yang menampung suara itu memerah, langsung merambat ke wajah. Penuh kemarahan Tsukishima mendekatkan wajah hingga hidung mereka bersentuhan. Tidak ingin menimbang apapun selain mulai melancarkan serangan. Kata-kata penuh sindirian Rukia, emosi dan gairah yang memuncak di saat bersamaan, serta sake yang sudah di tegak. Tidak ada alasan lain yang bisa menahannya untuk tidak menjamah tubuh si putri es bukan?

"Kau salah, Rukia." Nafas beraroma sake bercampur dengan nafas Rukia. Tsukishima tersenyum kejam, mengangkat tangannya hendak menyapukan permukaan tangan pada persimpangan leher Rukia. "Kalau seandainya tidak ada tempat untukku, setidaknya aku bisa memberikan tanda di tempat yang sama."

Sedingin es Rukia menepis tangan Tsukishima, balas mencengkram kerah yukata pemuda itu dengan kedua tangan mungil tapi bertenaga. "Jaga tanganmu, Tsukishima." Suara Rukia tak kalah dingin dengan sikapnya. Setiap kata sengaja diberikan penekanan sebagai racun tajam. "Kau pikir aku sudi—"

"Apa-apaan ini!"

Belum sempat Rukia membalas, belum pula racun mematikan Kuchiki Rukia dilontarkan, seseorang telah muncul menyela. Ahh—coba tebak siapa itu.

.

.

.

Kuchiki Nemu berdiri melipat kedua tangan, memutar mata bosan—malas menghadapi sepupu kasar yang memiliki surai merah. Tampaknya hari ini Kuchiki Rukia menjadi sangat populer, terlalu banyak yang mencoba mengorek informasi darinya, meski dengan cara kasar atau memaksa.

"Kau tahu mereka dimana bukan?" Kuchiki bersurai merah—Riruka tak ingin kalah angkuh, turut melipat kedua tangan di depan dada.

"Kalau kau penasaran, kenapa kau tidak mencarinya sendiri. Bisa saja saat kau membuang-buang waktumu disini, disaat yang sama di tempat yang lain dalam mansion ini suamimu sedang meniduri sepupu kita yang satu itu."

"Berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku!" Riruka menggeram menahan intonasi suara, meminimalisir perhatian karena mereka berdua masih berada di ruang santai. Kedua tangan perempuan itu terkepal kuat, meluapkan emosi pada buku-buku jari yang memerah. "Tsukishima bukan orang seperti itu!"

"Oh—kau selalu saja berpura-pura tidak tahu bahwa suamimu sendiri terobsesi pada Rukia."

"Itu artinya kau tidak keberatan memperlihatkan tontonan itu pada kami bukan, Kuchiki—Nemu?"

.

.

.

Ichigo membatu di tempat. Tubuhnya kaku lumpuh bergerak dengan pikiran kosong, tatapannya menerawang ke depan.

Beberapa menit lalu tidak ada sedikitpun rasa penasaran saat mendengar dua anggota keluarga Kuchiki berdebat di sudut ruangan. Toh dia bukan bagian sesungguhnya dari anggota keluarga, dia hanya seorang menantu yang tak punya hak untuk ikut campur. Jadi dia memutuskan dengan bijak berlalu melewati tanpa perlu tahu apapun. Sayang belum terlalu jauh langkah, telinganya terusik mendengar nama istrinya disebut. Mereka sedang memperdebatkan istrinya. Karena itu tanpa pikir panjang Ichigo membaur, mengabaikan tatapan mengerikan tertuju padanya. Tak masalah. Dia pun tidak lupa bahwa masih ada rasa cemburu pada istrinya sejak tadi pagi yang belum mendapat konfirmasi apapun.

Apa salahnya dia mencari penjelasan dari tempat lain bukan?

Tapi—

Kenyataan tampaknya lebih pahit bila kita mendapatkannya dari orang lain.

Mungkin Ichigo menyesal sudah mendesak Nemu menunjukkan keberadaan Rukia, mungkin seharusnya dia tetap menutup telinga, mungkin—ah, apakah benar ini rasanya dihianati istri sendiri?

Di depan matanya—setelah membuka ruang di ujung koridor tersepi di mansion Kuchiki, Ichigo melihat tampilan tak mengenakan Rukia yang sedang terjepit antara dinding dan tubuh pria yang dikenalnya sebagai Tsukishima tempo hari. Keduanya amat dekat dengan jarak yang intim. Bila situasinya berbeda dan orang itu adalah dirinya—bukan Tsukishima, mungkin saja Ichigo sudah mengartikannya sebagai adegan dimana Rukia siap disentuh.

"Apa yang sedang kalian lakukan disini!" Riruka tampaknya jauh lebih dikuasai emosi, perempuan itu maju menyalak marah.

Tsukishima cepat menepis cengkraman Rukia pada kerah kimononya, pemuda itu tampak tenang menghampiri sebelum perempuan berambut merah itu melangkah lebih jauh. Jemari panjangnya menyelipkan helaian rambut kelam ke belakang telinga. Tersenyum tanpa ada jejak dosa di wajah.

"Aku tidak melakukan apapun, Riruka."

"Kau pikir aku buta?"

"Kau tidak lihat dialah yang mencengkram kerah kimonoku?" tangan Tsukishima teracung, mengarah pada sosok Rukia yang tidak sedikitpun bergerak dalam posisinya, hanya diam membatu tanpa ekspresi.

Riruka mengikuti arah acungan tangan suaminya, tampak seperti sedang mengkilas balik adegan yang tertanam dalam ingatan beberapa saat lalu. Kalau diingat lebih jelas, saat dia masuk memang terlihat Rukia lah yang sedang menaruhkan tangannya pada tubuh suaminya. Pantaskah dia melontarkan tuduhan tanpa adanya bukti?

Tsukishima sadar ada jejak keraguan di wajah Riruka, menghela nafas ringan tangannya menyentuh pundak istrinya. "Ini bukan sepenuhnya kesalahanku. Kau tidak lihat aku baru saja minum sake dan sedikit mabuk? Perempuan itu yang memanfaatkan keadaanku, merayu menarikku ke ruangan ini."

Banyak penjelasan terlontar dari mulut Tsukishima, sepatah-patah kalimat yang lama kelamaan menjadikannya terdengar logis. Masih dalam perasaan mengambang Ichigo kembali menatap istrinya. Perempuan itu tetap diam tak berkata apapun. Nafasnya terlihat mendengus menonton adegan penuh drama dari dua orang di tengah ruangan yang sedang berdebat, lalu semakin tampak tidak perduli memalingkan wajah menatap pemandangan bersalju di luar jendela. Kini tatapan kuning madu Ichigo beralih pada anggota tubuh Rukia yang lain, kimono perempuan itu nampak tersingkap turun di persimpangan leher, dan sisi lainnya ada garis lecet di bagian leher seperti tergores kain.

Tsukishima berkata bahwa Rukia yang merayunya. Tapi kenapa Ichigo merasa kepalanya mulai terbakar tersulut amarah?

Bukan.

Bukan untuk istrinya.

Semua memang tampak istrinya yang bersalah, namun melihat Rukia yang sekarang—Ichigo seperti melihat tampilan Rukia yang sama saat diserang oleh Sung-sun sebelumnya. Perempuan itu tampak diam meski nyawa terancam, terlihat muak seakan tidak perduli apapun lagi pada dunia. Apakah istrinya itu masih waras atau memang tidak memiliki emosi lagi kah?

Mati-matian Ichigo memutar otak, mencari logika terbaik sebagai penjelasan semua kejadian yang sudah berlangsung. Sayang sekuat apapun berusaha, perasaan panas itu semakin membuat isi kepala Ichigo mendidih, meledakkan suasana dingin hingga mencekik rongga. Tanpa pernah bisa terkendali lagi, tanpa sadar Ichigo sudah maju menerjang Tuskishima, melayangkan tinju berulang meski istri pemuda itu terus menjerit histeris berusaha menghentikan.

Ichigo tidak perduli apapun lagi. Yang perlu diketahuinya adalah kenyataan bahwa Ichigo ingin membunuh pemuda yang sudah menaruh tangan pada istrinya, bila perlu pemuda itu tidak akan mampu melihat matahari lagi.

Cukup itu saja.

.

.

.

"Aku tahu sejak awal ada yang tidak beres diantara kalian."

Kuchiki Byakuya duduk di bantal duduk sembari melipat kedua tangan, mata kelabunya bergantian melirik sisi kanan dan kiri, dimana kedua keponakannya duduk terpisah dengan pasangan mereka masing-masing. Di sebelah kiri duduk Kurosaki Ichigo dengan wajah berkerut dengan keberadaan Rukia yang duduk tak jauh di belakangnya, sedangkan di sisi kanan ada Riruka duduk dengan telaten mengopres wajah lebam Tsukishima. Suami Riruka yang biasanya tampak mengesankan berubah menjadi menyedihkan di mata Byakuya, meskipun sebenarnya penyebab semua itu Byakuya ketahui dengan amat baik. Karena beberapa saat lalu kepala keluarga Kuchiki itu menemukan suami Rukia menghajar habis-habisan Tsukishima. Hal tersebut terjadi tanpa rencana, Byakuya hanya tanpa sengaja mengikuti Nemu yang menatap penuh arti sebelum meninggalkan ruang santai bersama dengan Riruka dan Kurosaki Ichigo.

Kuchiki Byakuya bukanlah orang bodoh.

Semua orang sedang menutupi sesuatu darinya. Karena itu dirinya langsung mengerti ada yang hendak disampaikan Nemu saat gadis yang biasa menghindar itu melakukan kontak mata dengannya. Dan hasilnya—mempercayai Nemu benar-benar membuahkan hasil.

"Aku tidak melakukan kesalahan apapun," Tsukishima meringis sakit saat kompresan di wajahnya ditekan terlalu kuat, malas pemuda berkulit putih itu menepis tangan istrinya lalu kembali menatap Byakuya. "Aku hanya sedang mencoba menenangkan Riruka yang marah, aku pun tidak mengerti kenapa Kurosaki menyerangku tiba-tiba."

"Benarkah itu—Rukia?"

Byakuya menanti, menunggu Rukia memberikan jawaban sembari meneliti apakah ada yang tidak beres pada gerak tubuh adik iparnya, berharap untuk kali ini—adiknya akan mencoba jujur. Meskipun sejak tujuh tahun lalu perempuan itu tidak pernah membuka diri, tapi setidaknya—

"Semua yang paman lihat," Rukia menarik nafas, bersiap membuka mulut melanjutkan kalimat. Ada keheningan yang memberikan waktu untuk perempuan itu memilih kata untuk melontarkan semua isi kepalanya. "Semuanya—adalah kesalahanku, Paman."

Ahh—Byakuya tahu Hisana pasti akan kecewa pada dirinya.

"Rukia, kau sadar dengan ucapanmu sekarang? Kau tahu aku tidak suka kebohongan."

Rukia mengatakan semuanya, terlihat jelas tanpa gemetar. Bila seandainya Byakuya tidak mengenal perempuan itu sebaik mengenal Hisana, mungkin saja dia akan percaya dan tak perlu menimbang apapun ia akan menghukum adik iparnya itu. Tapi dia sudah terlanjur mengenal dengan baik Rukia saat para tetua membatalkan perempuan mungil itu menjadi calon istrinya dan menukarnya dengan sang kakak—Hisana—sebagai gantinya. Ya—terlanjur mencari tahu tentang Kuchiki Rukia, dan sudah menyimpan erar-erat dalam memori apa-apa saja yang sudah terjadi pada perempuan itu. Banyak hal yang membuat Rukia menjadi tangguh seperti sekarang, menjadi arogan menghadapi semua dan tidak mempercayai siapapun. Bahkan hal paling menyakitkan juga sudah terjadi.

"Tolong anggap semua tidak pernah terjadi, Paman. Ichigo menyerang Tsukishima karena kesalahanku. Aku tidak ingin suamiku di cap buruk karena kesalahanku."

Sungguh, mungkin Byakuya tidak bisa menepati janjinya pada Hisana untuk melindungi Rukia bila adik iparnya itu terus mengurung diri dalam gulungan kepompong.

"Ah, jadi kau merayu Tsukishima bukan?"

Byakuya menaikkan sebelah alis. Angkuh dan tidak memiliki sopan santun. Fakta Kurosaki Ichigo melontarkan kalimat sinis ditengah percakapannya dengan Rukia mengingatkan kepala keluarga Kuchiki itu bahwa dirinya tidak pernah menyukai suami adik iparnya tersebut. Namun kali ini sindirian penuh cemooh itu tampak menarik minat Byakuya. Ya, tentu saja. Bukan tanpa alasan Kurosaki Ichigo menyalak melakukan penyerangan kan?

"Maaf saja, Byakuya. Kau harus tahu, aku bersama Riruka dan Nemu menemukan Rukia sedang menyentuh suami Riruka, karena itu aku menghajar habis-habisan pemuda memuakan itu."

Byakuya?

Wajah Byakuya berkerut jengkel, alisnya semakin terangkat keatas. Kurosaki Ichigo benar-benar ingin mati sudah memanggil namanya tanpa memandang dimana posisi pemuda itu.

"Lihat, Kuchiki-sama." Senyum tersungging dari bibir Tsukishima, sudut matanya melirik sinis pada bangsawan Kurosaki. "Dia sendiri mengaku kalau menghajarku karena cemburu."

"Kau bermimpi, Tsukishima. Aku tidak akan pernah cemburu padamu, kaulah yang cemburu. Aku pemilik Rukia, dan kau tidak. Aku mungkin meminta maaf denga Byakuya karena sudah membuat keributan hingga memperburuk nama Rukia. Tapi aku tidak akan pernah meminta maaf padamu. Aku akan memberikan pengobatan terbaik untukmu kalau kau merasa tidak terima, tapi kau harus tahu aku tidak menyesal mematahkan tulang rahangmu."

Kepala Tsukishima pening bukan main. Mungkin dia akan pingsan bila seandainya dia memiliki riwayat darah tinggi. Sikap bebal si Kurosaki munda, sungguh terlalu. "Kau—bukankah kau tidak menyangkal bahwa Rukia yang merayuku? Jangan terlalu besar kepala, Kurosaki."

"Ah—begitu,"

Rukia bergidik ngeri mendengar tawa rendah dari suaminya. Berapa lama sudah dia berbagi ruang dengan pemuda bersurai ornge itu, waktu singkat yang pernah dilalui sudah membuatnya paham pemuda itu tertawa sebagai ungkapan amarahnya yang meluap.

Apakah mungkin akan ada penyerangan lagi?

Semoga saja—jangan terjadi.

"Kau keliru Tsukishima," Rukia terkesiap, tangan kiri Ichigo menjulur kebelakang, meraih tangan mungilnya sampai terseret mendekat ke posisi sejajar duduknya dengan si Kurosaki muda. "Kulihat kau sudah berhasil menarik turun kimono Rukia tadi." Sekilas iris kuning madu Ichigo melirik Rukia dengan cara berbeda, tampak sengaja menatap tubuh Rukia seperti tatapan menelanjangi. "Kau tidak melihat tanda yang sudah kutinggalkan di tubuh Rukia, atau—kau masih berpura-pura buta? Tidak mungkin Rukia merayumu, Rukia hanya menyukaiku. Itu yang kau katakan padaku kemarin bukan, Rukia?"

Kurosaki Ichigo itu adalah orang yang sombong, angkuh, dan arogan. Dari semua serangkaian kata yang menggambarkan sifat-sifat pemuda bersurai orange tersebut, hanya kata-kata yang menunjukkkan begitu besar harga diri yang dimiliki lah yang selalu berotasi menggambarkan sifatnya. Dia tak pernah ragu dalam mengambil tindakan, dan tidak pernah tergoyah meski keputusannya tak masuk di akal. Rukia tidak pernah ragu akan hal tersebut. Namun—melihat Kurosaki Ichigo yang sekarang, Rukia menjadi terdiam tak bisa berkata.

Untuk pertama kalinya, dibalik senyum keangkuhan yang dipamerkan, tampak ada kegusaran dari balik iris kuning madu tertangkap oleh mata Rukia. Pemuda itu baru saja melontarkan pertanyaan padanya, dan kepala Rukia mendadak kosong seketika.

Menolak atau membenarkan, melindungi atau menjauh.

Rukia berdiri diantara dua keputusan. Karena itu, diselimuti perasaan hambar Rukia bergerak tanpa memikirkan lagi apa itu norma sopan santun. Di depan banyak pasang mata penghuni ruangan, perempuan bersurai raven itu mengecup bibir suaminya sebagai jawaban yang tak terucap dari bibir mungilnya.

Riruka terkesiap, Tsukishima mendengus, dan Byakuya menggeleng pening.

.

.

.

Langkah Ichigo terlihat sedikit sempoyongan saat memasuki kamar, tangan yang sendari tadi menggenggam Rukia bahkan mendingin sudah. Tanpa berbalik atau memandang istrinya, tubuh pemuda itu terus melangkah maju, melepaskan genggaman membuka pintu yang menghubungkan ke beranda. Membuka sedikit untuk membiarkan udara dingin masuk meski menambah dingin suasana.

Perdebatan antara Ichigo dan Tsukishima berakhir dengan tanpa penyelesaian selain tindakan Ichigo membawa keluar istrinya tanpa berpamitan pada Kuchiki Byakuya. Belum ada pembuktian kongkrit siapa yang paling bersalah diantara pertikaian yang sudah lewat, namun setidaknya tindakan spontan Rukia sudah mampu membungkam perdebatan.

Ichigo menghela nafas, memijit pelipisnya dengan ujung jari. "Berikan aku jawaban."

"Kalau aku mengatakannya 'benar', bagaimana?"m ungkin Rukia cukup lelah untuk mencari alasan, karena itu putri Kuchiki itu tidak mengelak dengan berpura-pura tidak tahu arah pembicaraan yang dicoba dibahas. "Ahh—kau mungkin tidak akan perduli. Sudahlah, lupakan saja."

"Aku tidak berduli kau sedang berbohong atau tidak, Rukia." Tangan terkepal memukul kuat kayu pintu, Ichigo memberi penekan pada kalimat, namun berusaha untuk membuatnya tidak terlihat marah. Dia juga lelah. "Aku hanya membutuhkan jawaban darimu, apakah kau—merayu Tsukishima? Ya, atau—tidak?"

Rukia tak urung menjawab.

Beberapa detik diisi keheningan.

Bila seandainya dia tidak mendengar deru nafas Rukia, mungkin Ichigo sudah beranggapan dia ditinggalkan oleh istri mungilnya.

Ichigo semakin merasa dingin. Sebagian isi kepalanya sedikit takut Rukia akan melontarkan jawaban yang sama sekali jauh dari keinginan, namun bagian lainnya masih terus menjerit bahwa dia harus mendengar penjelasan.

Dia butuh pegangan, setidaknya sebagai pertahanan untuk membenarkan semua keputusan yang telah diambil hingga sejauh ini. Dia butuh jawaban, dan Rukia harus memberikannya. Sepahit apapun itu. Meskipun Rukia mungkin akan mulai berbohong, Ichigo tetap membutuhkan alasan untuk tetap mempertahankan perempuan mungil itu sebagai istrinya.

Tak urung mendapat jawaban, membulatkan tekad Ichigo hendak mebalikkan badan, namun mendadak tertahan saat merasakan kedua tangan mungil Rukia melingkar memeluknya dari belakang. Pipi perempuan itu menempel nyaman pada punggungnya, membuat nafas Ichigo tertahan untuk sejenak. Banyak hal yang berkelebat dalam pikiran hingga Ichigo memutuskan hanya diam tak bergerak.

"Dia ingin menyentuhku," nafas hangat Rukia mengipasi, mengirimkan sensasi menggigil di tulang punggung Ichigo. Perempuan itu bernafas teratur, semakin mengeratkan pelukan. Ada keingingan kecil untuk berbalik membalas pelukan si perempuan mungil, sayang Ichigo masih membutuhkan penjelasan lebih banyak, "kalau kukatakan begitu—apakah kau mau membunuhnya untukku? Aku belum ingin disentuh orang lain selain dirimu."

Wajah Ichigo tertunduk. Iris kuning madunya menatap langsung jari-jari mungil yang terjalin didepan dada. Perasaan itu terus berkecamuk dalam benak, namun meskipun begitu, isi kepalanya masih terus kosong mengambang. "Apakah benar-benar akan cukup kalau hanya membunuhnya dengan tanganku sendiri?"

Amat ketara bibir Rukia tertarik dalam bentuk senyum di punggung Ichigo. Perempan mungil itu menghela nafas, membenarkan posisi nyaman kepala. "Tentu tidak. Setelahnya aku akan memintamu membunuh Kenryuu suami Rurichiyo, lalu mungkin pada akhirnya aku akan menyalahkanmu dihadapan para tetua, dan yang terakhir—aku memintamu bunuh diri untukku. Kau mau?"

"Kalau kukatakan aku sanggup, kau bersedia melakukan hal serupa untukku? Bunuh kakek tua yang selalu meneror pernikahan kita, lalu para tetua di keluargaku. Kau bersedia?"

"Tidak."

Haruskah Ichigo bangga?

Rukia tidak pernah ragu membangun benteng pertahanan. Perempuan itu ahlinya. Lugas dan tegas, bahkan tanpa berpikir lebih dulu apakah jawabannya menyakiti atau tidak. Sungguh terlalu, perempuan itu selalu saja menjawab lebih cepat dari waktu semestinya.

"Aku tidak bersedia mati untukmu. Tubuhku memang milikmu, tapi kehidupanku milikku. Dan sejujurnya—aku hanya ingin kau tidak melakukan apapun untukku. Aku masih memanfaatkan perlindunganmu."

"Kalau begitu, jangan lari ke pelukan orang lain."

"Sekarang—aku masih milikmu, Ichigo. Dan—jangan pernah bersedia mati untukku."

"Apakah artinya—kau bersedia hidup untukku?"

"Mungkin."

Mungkin?

Isi kepala Ichigo masih tidak menerima, namun setidaknya hatinya sudah lebih lega. Karena itu pemuda itu berbalik menghadapi sosok Rukia, menyapukan telapak tangan pada permukaan pipi istrinya sebelum merebahkan tubuh mungil tersebut pada futon tidur. Membiarkan waktu berputar menenggelamkan mereka dalam buaian memabukkan.

"Berusahalah bertahan disisiku, Rukia." Suara Ichigo berbisik lembut, mendesah rendah pada penyatuan tubuh mereka.

Tak ada jawaban selain rintihan kecil sebagai respon. Bulir-bulir keringat tampak mulai terbentuk membasahi surai hitam kelam si perempuan mungil. Tempo nafasnya semakin meningkat seiring dengan kenikmatan yang mebangun, situasi yang tak jauh berbeda dengan Ichigo.

Nafas Ichigo tampak terputus-putus, menghentakkan pinggul kian ceroboh dengan tempo yang meningkat kecepatannya.

Rukia terkesiap, mencengkram lengan Ichigo sembari menutup mata penuh kenikmatan.

"Jangan," suara Ichigo kembali berbisik serak, menghentikan semua pergerakan yang direspon erangan penuh keluhan dari tubuh mungil dibawahnya. Perempuan itu tampak keras kepala meminta Ichigo untuk melanjutkan.

Ichigo menggeleng kuat, tidak perduli mata Rukia masih tertutup tidak melihat. Pemuda itu hanya meraih wajah istrinya dengan kedua tangan. Memaksa sosok mungil itu tertawan pada pengawasan. "Jangan tutup matamu, Rukia. Tatap mataku."

Iris violet Rukia menampakkan diri. Mengadu kilau pada iris kuning madu yang begitu intents memandang. Rukia terkesiap, pemuda itu kembali melakukan pergerakan tanpa melepas kontak mata. Tampak keinginan bergelora ingin mencapai kenikmatan di balik tatapan kuning madu tersebut.

"I,Ichigo."

Mencapai kenikmatan, Rukia menginginkannya juga. Karena itu, Rukia menguatkan cengkraman pada lengan suaminya, membiarkan pemilik tubuh bidang itu mendominasi dengan irama menggila.

Ichigo menggeram, pergerakkannya berubah menjadi cepat dan kasar. "Kau millikku."

Rukia merasa bagian dalam tubuhnya berkontraksi, iris violetnya memaksakan diri agar tidak bergulir kebelakang karena terseret arus kenikmatan. Dia hanya mampu terengah dan merintih lebih kencang saat Ichigo bergerak lebih cepat. Keringat terus membanjiri, menetes dari wajah dan tubuh mereka, membuat pergerakan antara mereka semakin lincin dan memanas.

Kenikmatan serasa kian mendekat. Membuat isi kepala semakin jungkir balik penuh kegilaan.

Tersentak Rukia membungkus tangannya di bahu berkeringat suaminya, membiarkan Ichigo membenamkan wajahnya di persimpangan leher Rukia, menekan tubuhnya sedekat mungkin menciptakan kontak. Ada geraman kuat menyusul kala Rukia terengah dengan jeritan bisu.

Mereka sampai pada kenikmatan.

Ichigo masih bergerak beberapa kali sampai akhirnya benar-benar berhenti. Hanya suara nafas terputus yang mengisi hingga perlahan semua kembali teratur. Ichigo mengangkat wajah, mengadu pandang sejenak lalu kemudian mencari bibir mungil istrinya untuk dikecup pelan. Menahan diri agar tidak ada percakapan sebelum mereka benar-benar jatuh tertidur.

Ada satu kata yang kala itu ditahan di ujung lidah.

Aku mencintaimu.

.

.

.

Rukia tersenyum kecil membenarkan posisi selimut yang bentuknya sudah menggulung di atas tubuh telanjang suaminya. Meski tata letaknya sudah cukup menutupi bagian pribadi, tapi tidaklah nyaman bagi Rukia membiarkan suaminya tidur dengan merasakan banyak hawa dingin.

Setelah menecup sekilas puncak kepala bersurai orange, Rukia bersinggut memungut yukata tidur yang terlipat di sudut ruangan. Mengenakan dengan baik untuk menutupi ketelanjangan tubuh. Sekarang memang sudah jam malam, tapi bukan bearti dia tidak membutuhkan penampilan tertutup untuk keluar ruangan kamar tidurnya.

Langkahnya diatur sepelan mungkin agar tidak menimbulkan bunyi saat perlahan bergerak keluar dari kamar. Bahkan Rukia cukup baik memastikan langkahnya tidak terdengar walau pintu sudah kamar cukup jauh.

Tujuannya adalah dapur yang terletak beberapa baris ruangan dari kamarnya. Rukia butuh air—untuk Ichigo. Bila sewaktu-waktu suaminya terbangun di tengah malam, setidaknya perempuan bersurai hitam kelam tersebut sudah memiliki persiapan untuk meringankan dahaga sang suami.

"Lucu sekali, penampilanmu kacau. Kuchiki Rukia yang terbiasa rapi sekarang berkeliaran tengah malam seperti seorang wanita penghibur di rumah bordir."

Rukia tersenyum kecil, sebelah tangannya berpindah dari nampan membenarkan letak kerah yukata. "Ahh—ini hanya ulah suamiku. Kau sendiri—terlihat seperti wanita kesepian, Riruka."

"Kulihat kau berhasil memperdaya suamimu."

Rukia menaikkan kedua bahu, meperlihatkan gerak tubuh ambigu memberi izin Riruka menciptakan asumsi sendiri. Bagi perempuan bersurai raven, setiap opini tidak akan pernah mempengaruhi apa-apa dalam kehidupannya. Tampaknya akan ada perdebatan lagi, semoga saja tidak akan lama hingga membuat suaminya sudah terbangun saat dia kembali ke kamar nanti.

"Kau tidak perduli? Sungguhkah."

Lagi—si mungil Kuchiki menaikan bahu. Membuat Riruka tertawa mendengus, bahkan tampak jelas mencemooh. Perempuan yang terpaut dua tahun lebih tua dari Rukia itu tampak muak dan jijik atas respon dari sepupunya. Langkah kakinya maju beberapa langkah, mempermainkan jari telunjuk pada sisi cangkir keramik di atas nampan. "Jangan berbangga hati, Rukia. Kau tidak lupa bukan, apa yang terjadi terakhir kali ketika kau memperdaya seseorang demi kebebasanmu?" jelas sengaja, jari telunjuk Riruka mendorong gelas hingga tergelinding ke lantai—untungnya tidak pecah. Wajah Rukia yang semula masih bisa menyunggingkan senyum berubah drastis menjadi datar. Tindakan Riruka tampaknya tidak bisa di anggap sebagai candaan. Perempuan berambut merah itu jelas sedang mencoba menyerang.

Ini benar-benar akan memakan waktu lebih lama.

Tahu sepupunya sudah membangun pertahanan, Riruka menggeleng-gelengkan kepala, menyilangkan kedua tanggan di bawah dada. "Ckckck... lihat dirimu, Rukia. Aku heran bagaimana mungkin kau bisa sebahagia ini setelah membuat nyawa seseorang menghilang atas mimpi konyolmu itu. Kalau kau ingin kebebasan, kenapa kau tidak mati saja. Itu jauh lebih baik daripada kau membuat orang lain rela mati demi dirimu."

Senyum dingin andalan Rukia akhirnya muncul, tubuh mungil perempuan itu berjongkok anggun memungut cangkir yang terjatuh, meletakan kembali pada nampan lalu berdiri tanpa repot membalas tatapan Riruka. "Aku bukannya menolak mati—" senyum Rukia tersungging, masih fokus pada cangkir, ada retakan kecil bekas terjatuh. Sungguh membuatnya teringat pada diri sendiri. Sangat indah di pandang, namun memiliki sisi cacat. "—aku hanya masih penasaran, sejauh apa kalian membiarkanku hidup."

.

.

.

To be continued...


Tidak perduli apapun yang sudah terjadi di akhir cerita manga Bleach, tidak akan merubah apapun dari imajinasi saya tentang hubungan Kurosaki Ichigo dan Kuchiki Rukia.

Bleach memang milik Tite Kubo, tapi imajinasi dan semua ide-ide dari cerita fanfic yang sudah saya publish adalah milik saya.

Jadi, maaf saja. Ending manga Bleach tidak akan pernah saya anggap nyata.