OUR SYMPHONY's

Create by A. Azaleea

Pair : Taekook, Vkook

Main Casts : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Other Casts : Member BTS, Grup Idol Lainnya

Rate : M

Genre : Romance, Drama, Hurt

Disclaimer : BTS Diciptakan oleh Tuhan dengan pahatan sempurna disetiap inci tubuh mereka, BTS milik mutlak kedua orangtua dan keluarga mereka, kebanggaan BigHit dan Kesayangan ARMY tentunya ! but I only own the story,Chingu

Warning : Ini hanya cerita, saya meminjam cast dari idol lain yang nanti akan hadir setiap chapter, maaf kalau mereka hadir sebagai karakter jahat, bukan maksud untuk nge-bash atau sebagainya. Jadilah pembaca yang baik. No Bash ya Chingu, jangan Rasis..

Ingat Typo bertebaran !

HAPPY READING

.

.


.

.

" Iya.. dia pasti baik-baik saja " yakin Yoongi. Tak lama setelah Yoongi bicara seperti itu, handphone Jungkook bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Dia buru-buru membaca inbox tersebut.

From : MyAlien Taetae

Jeon Jungkook, mari berpisah dan akhiri hubungan ini.

Pesan singkat tersebut membuat Jungkook melepaskan handphone tersebut dari tangannya. Dan semua orang disana juga membaca pesan menyakitkan dari Taehyung untuk Jungkook tersebut.

.

.


.

Chapter VI :

.

.

At Basecamp of Undergrounders

Terlihat Taehyung yang masih mengenakan seragam sekolah dengan Jaket Hitam yang melekat di tubuhnya. Dia sedang mencari keberadaan Minjae dan adik tirinya, Sae-ron.

" V, disini !" Minjae berteriak kearah Taehyung. Terlihat 2 orang anggota Underground yang sedang membantu mengobati luka lebam di tubuh gadis mungil tersebut.

" Minjae-yah, bagaimana keadaannya ?" ucap Taehyung khawatir. Dia tak menyangkal kalau dia sangat menyanyangi gadis yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri. Entah mengapa saat melihat Sae-ron, Taehyung selalu teringat dengan Ji-eun, adiknya yang sudah berada di surga saat ini.

" Mungkin dia sudah agak baikan. Dia pingsan. Dia tidak berhenti menangis dan terlihat seperti seseorang yang sangat ketakutan " jelas Minjae.

"eeuggghh….." leguh gadis yang masih terbaring di salah satu bangku panjang yang ada disana. Perlahan matanya terbuka dan melihat sekelilingnya.

" Op—pa !" ucap gadis itu ketika mendapati Taehyung dalam pandangannya. Dia minta didudukkan dan langsung memeluk Taehyung.

" Hei kalian ! jangan bilang kepada siapapun tentang kejadian ini dan siapapun yang bertanya kepada kalian, kalian harus bilang tidak tahu, Okay ?" intruksi Minjae kepada dua Undergrounder yang membantu Sae-ron tadi. Mereka menggangguk dan meninggalkan ketiga orang itu.

" Oppa.. tolong selamatkan aku.. aku sudah tidak tahan tinggal dengan mereka.. hiks.. hiks " pelukan Sae-ron semakin erat. Dia mencurahkan isi hatinya kepada Taehyung.

" Iya..kau sudah aman sekarang. Minjae, ayo kita bawa Sae-ron ke rumahku, aku merasa tak aman kalau kita lama-lama disini " ucap Taehyung kepada Minjae yang ada disampingnya.

"Baiklah, Tae, terserah kau saja " jawab Minjae. Mereka berdua memapah Sae-ron menuju mobil Minjae.

" Minjae.. kau pegang dia dulu, aku mau menelepon ibu " Taehyung melepaskan pegangannya dari Sae-ron. Minjae langsung menggendong Sae-ron dengan bridal menuju mobilnya. Meninggalkan Taehyung yang menatap tak percaya.

" Wah.. sepertinya aku akan menjadi kakak ipar laki-laki bangsat itu " gumam Taehyung bermonolog.

"eomma.. dimana ?"

/'dirumah, lagi makan siang, ada apa nak ?'

" eomma tahu Kim Sae-ron ? adik tiriku ?'

/'iya.. eomma tahu'

"dia sekarang ada sama Tae, dia babak belur setelah disiksa oleh keluarganya –

/'-kau bawa saja dia kemari nak. Kasihan dia..'

"Gomawo.. eomma"

/'kau ini ! cepat bawa dia kemari, eomma tunggu ya..'

Sambungan telepon diputus oleh eomma-nya Taehyung. Dia tak menyangka kalau sahabat karib mendiang ibu kandungnya itu memiliki hati yang mulia bak malaikat. Dan dia tak percaya sangat mudah mendapatkan persetujuan dari eomma-nya padahal eomma-nya sangat membenci ibu tirinya namun dia tak mempermasalahkan soal Sae-ron

.

.

Mereka sampai dirumah Taehyung, dan disambut oleh eomma, Baekhyun dan Chanyeol yang sedang duduk di ruang keluarga, mereka selesai makan siang bersama. Taehyung tak mendapati appa-nya karena beliau sedang makan siang bersama client di kantornya.

"eomma.." ujar Taehyung.

" Tae.. kau sudah datang " sang ibu mengacak pelan surai anaknya dan mengajak duduk mereka. Sae-ron menunduk takut.

" Tak usah takut Saeron-ah, aku memang membenci ibumu, tapi tidak denganmu" ucap Byun Soo Kyung ketika melihat wajah ketakutan dan bersalah dari Sae-ron.

" Maafkan aku.. " gumam Sae-ron pelan.

" Hei gadis kecil, kenapa kau menekuk kepalamu terus, tak baik seperti itu " sapa Baekhyun dengan lembut. Sepertinya keluarga mereka akan menambah anggota lagi.

" Nde.. oppa " ujar Sae-ron yang perlahan mengangkat wajahnya.

Mereka berbicara berbagai macam topik untuk mencairkan suasana. Bahkan Minjae sudah terlihat akrab dengan Sae-ron. Pemuda tampan itu menaruh hati kepada gadis yang berbeda dua tahun dari Taehyung tersebut.

" Kenapa bisa ibu dan kedua kakakmu menyiksamu seperti ini ?" Tanya Chanyeol penasaran.

"mereka tidak menyukaiku yang selalu membela Tae-oppa ketika mereka ingin mencari dan akan membunuh Tae-oppa, mereka akan mengurungku dan mencambuk serta menamparku sesuka hati mereka. Saat ini mereka sedang mencari keberadaan Tae-oppa dan mengancam akan membunuh dan melenyapkan siapa saja yang melindungi Tae-oppa" jelas Sae-ron. Taehyung yang mendengar itu, merasa dirinya adalah seseorang yang membuat orang lain menderita seperti Saer-ron. Dia kalut, karena dia orang lain menjadi tersiksa. Lagi-lagi dia tak bisa menyelamatkan dan melindungi orang yang dia sayangi.

" terus bagaimana kau bisa menemukan keberadaan Tae?" kini Baekhyun yang mengungkapkan rasa penasarannya.

" waktu itu aku melihat di salah satu akun SNS temanku. Dia berteman dengan Minjae-oppa, saat itu Minjae-oppa mengupload foto dengan Tae-oppa, dan aku menanyakan dimana Minjae-oppa tinggal dan sekolah. Temanku menjawab, kalau aku mau mencari Minjae-oppa, aku harus pergi ke Basecamp Underground yang ada di Seoul. Dan ketika aku sudah lelah disiksa terus dan mendapat kesempatan keluar dari rumah yang menyerupai neraka itu, aku kabur dan mencari Tae-oppa" jawab Sae-ron panjang. Dia menaiki Bus dari Daegu menuju Seoul hanya bermodalkan uang untuk ongkos saja.

" mereka memang Jahannam.. nanti kita akan ke rumah sakit untuk melakukan visum agar mereka dapat ganjarannya, sudah cukup mereka berbuat jahat" Soo-Kyung mengeluarkan kekesalannya yang sedari tadi dia tahan.

"sudahlah eomma.." Baekhyun mengingatkan eomma-nya agar menahan emosi.

" Yasudah.. sekarang kau akan aman disini, apa kau senang tinggal bersama kami disini ?" Tanya Soo-kyung yang kini melembut. Sae-ron hanya mengangguk, dia merasa keputusannya untuk mencari Taehyung adalah keputusan yang benar.

"eomma.. aku akan keluar sebentar..Minjae, kau disini saja dulu " Taehyung mengambil suara dan meminta izin keluar rumah.

"mau kemana kau, sudah sore begini ? Tanya Baekhyun kepada adiknya.

" hanya keluar sebentar, hyung " jawab Taehyung yang kini sudah berjalan ke arah pintu luar rumah itu.

" hati-hati Tae " teriak sang ibu.

.

.

.

Disinilah Taehyung, di ruangan gelap yang didominasi bau amis dan karat dari cairan merah yang keluar dari garis-garis yang dia bentuk dengan pisau lipat yang dia ukir di sekujur tubuhnya.

"eom..ma.. mianhe.."

"Mianhe..eomma, Tae tidak bisa melindungi kalian " lirih Taehyung. Air matanya mengalir dari sudut mata tajam itu. Dia tak merasa perih atas luka yang dia toreh di kulit-kulitnya, namun dihatinya dia merasa sangat menyesal tidak menyelamatkan ibu dan adiknya yang dibunuh di depan matanya.

" Kookie.. aku juga tidak akan bisa melindungimu, aku tak ingin membuatmu terluka hanya karena seseorang seperti aku "

Dia mengeluarkan handphone dari sakunya, dan mengetik huruf-huruf pada layar sentuh benda persegi itu dengan tangannya yang berlumurah cairan kental berwarna merah dari tubuhnya sendiri.

.

To : My Bunny Kookie

Jeon Jungkook, mari berpisah dan akhiri hubungan ini

.

Setelah mengirim pesan itu, dia mematikan handphone-nya dan kembali merenung kesalahannya yang menyebabkan orang-orang disekitarnya menderita. Lagi-lagi dia menanbah goresan di lengannya dan tempat-tempat yang dapat di jangkau oleh pisau lipat itu. Dia juga meninju-ninju dinding tempat dia bersandar, membuat tangannya juga mengeluarkan darah segar. Dia benar-benar kalut dan putus asa.

.

.

-our symphony's-

.

.

" apa-apaan Alien ini ?" Jimin membuka suaranya dan membuat semua orang disana sadar dari lamunan mereka.

" Andwe.. andwe ! ini tidak nyata kan, hyung ? Taehyung pasti bercanda kan, hyung ?" Jungkook menggeleng-gelengkan kepalanya seolah menolak kenyataan yang ada dihadapannya sekarang.

" Sabar Kook-ah, semua ini pasti ada penjelasannya " sambung Jin yang sudah merangkul Jungkook. Mereka disana sangat terkejut dengan pesan menyakitkan dari Taehyung. Cairan bening tak berhenti turun dari manik Jungkook yang saat ini tertunduk lemas. Namjoon berinisiatif menelepon nomor Taehyung. Ingin memperjelas kekacauan ini. Dia tak ingin hubungan Taehyung dan Jungkook berakhir tidak jelas dan mendadak begini. Namjoon mengumpat ketika dia mendapati nomor Taehyung sudah tidak aktif. Pemuda tan itu pasti menon-aktifkan handphone-nya setelah mengirim pesan kepada Jungkook tadi.

" Fuck ! sialan, kenapa nomor dia tidak aktif " emosi Namjoon. Yoongi langsung menepuk pundak Namjoon mengisyaratkan sang leader untuk tenang.

" Kook, tadi Taehyung bilang kemana? " Tanya Yoongi yang berdiri dekat mereka.

" Ta—tadi dia bilang hanya pergi sebentar, aku tak tahu dia kemana, dia pergi setelah Min Jae-hyung menghubunginya hiks.. " isak Jungkook yang sudah tak tahan lagi.

" Kurekuna.." gumam Yoongi yang kemudian mengeluarkan Handphone dari sakunya. Dia menjauh dan mencari nomor seseorang untuk dihubungi.

/yeoboseyo ?'

" Neo Eodiga, Minjae ?" Tanya Yoongi kepada orang yang di teleponnya itu.

/Aku ada di rumah Baekhyun-hyung, hyung ! Tadi aku dan Taehyung mengantarkan Sae-ron kemari hyung, ada apa hyung?'

" apa sekarang Taehyung ada bersamamu ?" Tanya Yoongi lagi.

/' tidak hyung, tadi setelah dia mendengar cerita dari Sae-ron dia pergi keluar, dan belum kembali sampai sekarang '

" sudah berapa lama dia pergi ?"

/'sekitar 2 jam yang lalu hyung'

" baiklah, aku dan anggota Bangtan akan kesana, kau jangan kemana-kemana dan tunggu kami,sepertinya ada masalah dengan Taehyung " jelas Yoongi.

/' Nde, hyung '

Kemudian Yoongi mematikan sambungan teleponnya dan mengajak mereka semua untuk ke rumahnya. Dia juga ingin mengetahui kebenaran dari semua ini.

'ada apa dengan Taehyung?'

'kenapa bocah itu seenaknya saja memutuskan Jungkook secara sepihak?'

Semua pertanyaan berputar-putar di dalam kepala pemuda pucat tersebut.

" Kook, kau mau kita ke rumahku ? setidaknya disana kita bisa tahu kemana bocah sialan itu pergi " Yoongi mendekat dan menyamakan posisinya di depan Jungkook. Jungkook mengangguk mengiyakan. Matanya sudah sembab dan hidungnya sudah memerah.

" Kalian juga bersiaplah, kita akan pergi ke rumahku. Namjoon, kita pakai dua mobil, mobilku dan mobilmu, bagaimana ?" Tanya Yoongi lagi. Namjoon juga mengangguk. Mereka semua membubarkan diri untuk bersiap-siap.

.

.

Yoongi satu mobil dengan Jimin, Hoseok dan Woozi yang mereka ajak tadi. Mobil mereka memimpin jalan dan diikuti mobil Namjoon yang di dalamnya sudah ada Jin dan Jungkook.

" Hyung, kalau Taehyung benar-benar memutuskanku bagaimana?" curah Jungkook kepada Namjoon dan Jin yang berada di depannya.

" Berdoa saja agar kalian baik-baik saja Kook-ah, sekarang kita harus mencari Taehyung dulu, dan nanti kau bisa bertanya apapun kepadanya, berhentilah menangis.. " jelas Jin dengan lembut untuk menenangkan Jungkook.

.

.


-our symphony's-

.

.

Sesampainya di rumah keluarga Byun, Yoongi membawa mereka semua masuk dan melihat sudah berkumpul ibu, ayah, pasangan Baekhyun-Chanyeol, Minjae dan seorang gadis dengan lilitan perban di kepalanya yang diyakini Yoongi adalah Sae-ron yang di bicarakan oleh Minjae di telepon tadi.

" Eomma.. " Yoongi menghampiri wanita paruh baya yang duduk disebelah Baekhyun.

" Eh.. kau disini Yoongi.. ada apa, nak ?" Tanya sang ibu yang memeluk Yoongi dan mempersilahkan teman-teman Yoongi untuk duduk. Yoongi memperkenalkan anggota Bangtan terutama Jimin sebagai kekasihnya dan Jungkook kekasih Taehyung. Jungkook menunduk sopan kepada wanita yang sangat keibuan tersebut. Wanita itu juga tersenyum melihat mereka semua.

" Begini Eomma, eomma tahu kemana Taehyung pergi ?" Tanya Yoongi membuka percakapan di antara mereka.

" Dia pergi keluar setelah Sae-ron berbicara tentang penyiksaan yang dilakukan oleh kedua kakaknya " jelas ibu tiga orang anak itu. Yoongi mengambil nafas dan mengeluarkannya dengan kasar.'benar ternyata Taehyung punya masalah, kan ?'

" Eomma, Taehyung memutuskan hubungannya dengan Jungkook, dia mengirim pesan kepada Jungkook secara tiba-tiba. Makanya kami kemari untuk mencarinya " ucap Yoongi lagi. Semua yang ada diruangan itu terkejut mendengar penjelasan Yoongi.

" Maaf, semua gara-gara aku. Aku benar-benar minta maaf, Tae-Oppa, keluarga ini dan teman-teman Tae-oppa jadi repot karena aku. Andai saja aku tak mencari Tae-oppa" Sae-ron menunduk, merasa bahwa dirinya adalah penyebab kekacauan pada situasi ini. Minjae yang ada disamping gadis itu langsung menenangkan dan membawa kepelukannya.

" Astaga !" gumam . Dia baru teringat tentang perihal Taehyung yang mengidap PTSD. Mungkin saja dia pergi karena teringat dengan ibu kandungnya ketika Sae-ron bercerita tentang sifat psikopat ibu dan kedua kakaknya.

" Ada apa, eomma ?" Tanya Baekhyun yang melihat perubahan ekspresi ibunya.

" Sepertinya kita harus mencari Taehyung, dia mempunyai trauma, PTSD ! aku takut dia akan bertindak yang macam-macam, dia juga memutuskan Jungkook. Yeobo.. ayo kita cari anak kita " menjadi tidak tenang karena hal ini. Dia gelisah dan merengek kepada yang sudah berada di sampingnya.

" PTSD ?" gumam Jungkook. Pemuda itu kembali menitikkan airmata. Jungkook bukan pemuda bodoh yang tidak mengerti apa maksud trauma itu. Pantas saja tubuh Taehyung memiliki bekas luka sayatan. Pasti sangat menyakitkan.

"Kook-ah, jangan menangis, nak !" Ny. Byun memeluk Jungkook. Mereka semua benar-benar terkejut, seorang Taehyung dapat menutup rapi tentang keadaan dirinya. Terutama kepada Minjae, sahabat dekatnya selama ini. Seseorang yang selalu berbagi dengannya beberapa tahun terakhir.

" Eomma dan Appa tunggu saja dirumah, biar aku dan yang lainnya mencari bocah nakal itu. Aku janji akan menemukannya " ujar Baekhyun dan anggukan dari mereka semua.

"Iya eomma. aku, Baekhyun dan mereka akan menemukan Taehyung " lanjut Chanyeol meyakinkan. Kedua orangtua itu hanya mengangguk pasrah agar anak bungsu mereka ditemukan dan berharap keadaannya baik-baik saja. Mereka semua bergegas keluar dari rumah itu. Mereka berkumpul di halaman dan mnegatur tim untuk mencari keberadaan Taehyung.

" hyung, aku akan satu mobil dengan Namjoon-hyung, kami akan mulai mencari dari lokasi Underground tempat kami sering berkumpul " jelas Minjae kepada Chanyeol.

" Baiklah, aku dan Baekhyun akan ke kantor polisi dulu, melacak lokasi Taehyung dari nomor handphone-nya, dan setelah itu kami mulai mencari ke daerah Underground Selatan ? Taehyung pernah beberapa kali berkelahi disana kata Kai, bagaimana ?" ucap Chanyeol meminta pendapat mereka semua. Mereka semua mengangguk. Chanyeol juga cukup terkenal di dunia Underground sebagai petarung handal dan salah satu rapper yang tidak di ragukan lagi.

" hyung, hyung-ku juga bekerja di kepolisian, mungkin dia juga bisa membantu mencari Tae-hyung" usul Woozi yang berada di samping Hoseok dan Jungkook.

" Kalau begitu kau dan Hoseok ikut kami, Yoongi dan Jimin ikut mobil Namjoon, aku rasa cukup dua mobil saja yang pergi, bagaimana Namjoon ?" Tanya Chanyeol lagi.

" Baiklah hyung, biar tak terlalu banyak kita yang berpencar nanti " Namjoon mengiyakan saran dari pemuda yang dua tahun lebih tua darinya itu.

" Tetap selalu berhubungan dan jaga komunikasi, kabari kalau terjadi sesuatu. Dan jaga diri kalian" Baekhyun memperingati mereka dan mereka mulai memasuki mobil masing-masing dan mulai menelusuri daerah yang mereka sebut tadi.

.

.

.

" Dasar bajingan bangsat ! bukan dia kalau tidak merepotkan " umpat Minjae yang duduk di sebelah Jungkook.

" Sudahlah Minjae, kau jangan mengumpat Taehyung terus " ucap Jin yang berada disamping Namjoon yang sedang menyetir.

" Minjae, kau tidak tau dimana tempat Taehyung kalau dia sering menghilang seperti ini ?" Tanya Namjoon kepada pemuda tinggi itu.

" Ntahlah hyung, dia sering menghilang tidak jelas. Dalam sebulan itu kadang dia bisa menghilang dua kali selama tiga atau empat hari. Aku pernah menanyakan kemana dia pergi dan dia hanya memperlihatkan wajah cengengesan bodohnya itu." Jelas Minjae, dia benar-benar merasa menjadi sahabat terburuk untuk seorang Kim Taehyung. Tak mengerti apa yang terjadi kepada Taehyung, bahkan tak tahu tentang trauma yang diderita oleh seseorang yang selalu ada dan mengerti dirinya itu.

" Aku bukan sahabat yang baik untuknya " Minjae merutuki kebodohan dan ketidak-pekaannya terhadap Taehyung yang selalu berlaku tidak terjadi apa-apa ketika mereka bersama.

" Aku juga merasa bukan orang yang pantas untuk dirinya " monolog Jungkook. Dia juga merasa tidak mengenal siapa Taehyung sebenarnya. Tidak tahu dan tidak mengerti tentang seorang Kim Taehyung. Dia benar-benar bukan kekasih yang baik. Selama ini Taehyunglah yang selalu mengerti dirinya bukan dia.

" Yaa! Yaa ! sudahlah.. kalau selalu merasa bersalah, kita semua disini bersalah. Apalagi aku yang merupakan kakaknya. Sekarang kita fokus saja mencari bajingan kecil itu " Yoongi menginterupsi mereka dari belakang. Dia duduk dengan Jimin yang juga khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.

Mereka semua hening. Rasa bersalah menghantui mereka. Taehyung yang berlagak sok bahagia di depan mereka. Seorang pemuda yang merasa hidupnya baik-baik saja. Pada kenyataannya sampai saat ini, diri Taehyung yang sebenarnya terperangkap dalam penjara kegelapan rasa bersalah terhadap kematian ibu dan adiknya.

.

.

Rombongan Namjoon sampai di tempat mereka sering berkumpul. Minjae mulai menghampiri beberapa kenalannya dan bertanya apakah V datang kesana atau tidak. Mereka semua menggeleng dan tidak melihat namja bersurai light-brown tersebut. Mereka mulai berpencar dan mencari di sekitar daerah sana. Mereka lelah mencari, padahal waktu sudah memasuki jam makan malam, tapi pencarian mereka belum membuahkan hasil. Mereka duduk melingkar di salah satu sudut ruangan underground itu. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing kemana Taehyung pergi. Lamunan mereka hilang ketika handphone Namjoon berbunyi. Nama Chanyeol tertera di layar canggih tersebut.

" Ne hyung ?"

/ 'kami sedang menuju tempat kalian'

" apa kalian sudah menemukan dimana keberadaan Taehyung,hyung ?"

/' dari hasil lacakan, Taehyung berada disekitar daerah Underground, Namjoon. Namun handphone Taehyung memiliki proteksi yang sangat susah di tembus. Anak itu pasti memasang sesuatu di handphone-nya agar keberadaannya tidak terlacak detail oleh orang lain. Kami akan menyusul kesana. Kita akan mencarinya bersama'

Sambungan mereka terputus setelah Chanyeol menjelaskan hasil usaha mereka.

" bagaimana, Joonie ?" Tanya kekasih pemuda berotak jenius itu.

" Chanyeol-hyung bilang, Taehyung masih berada disekitar daerah ini,hyung" Jelas Namjoon secara langsung yang menjawab rasa penasaran mereka yang ada disana.

" kita belum makan malam. Bagaimana kita tunggu Chanyeol-hyung dan yang lainnya di kedai Jjajangmyeon di ujung gang sana ? baru setelah itu kita mencari Taehyung " ujar Yoongi yang melihat mereka semua dengan wajah lesu. Dia harus tetap dalam akal sehatnya. Kalau mereka mencari Taehyung dalam keadaan lapar, mereka akan menyusahkan satu sama lain sebelum menemukan keberadaan adiknya.

" iya hyung, kita harus mengisi perut kita dulu" Namjoon melanjutkan. Mereka semua berjalan ke arah tempat yang Namjoon bilang. Namjoon juga sudah mengirim pesan kepada Chanyeol agar mereka bertemu di tempat mereka berada.

.

.

.

Mereka duduk di salah satu meja di kedai Jjajangmyeon itu, 15 menit setelah mereka sampai disana, rombongan Chanyeol datang menyusul. Mereka menunggu pesanan mereka. Saat ini perasaan mereka benar-benar belum tenang. Padahal keberadaan Taehyung ada di jangkauan mereka.

'tapi dimana?'

'dimana Taehyung berada?'

Jungkook yang berhadapan langsung dengan kaca yang mengarah keluar kedai itu, menatap ke seberang. Dia merasa familiar dengan daerah ini, rasa-rasanya ia pernah datang kesini. Jungkook mencoba berpikir keras tentang tempat ini.

'ayolah Jungkook.. berpikirlah' ucap pemuda itu dalam hati.

Pesanan mereka datang. Mereka memakan makanan mereka masing-masing. Mereka benar-benar lapar saat ini. Tenaga mereka terkuras karena seorang Kim Taehyung. 'merepotkan, bukan ?'

Mereka bertukar pikiran di sela makan mereka, kemana akan mencari Taehyung setelah ini. Jungkook juga berpikir keras di tengah acara mengunyah makanannya. Tiba-tiba kejadian waktu akan berkencan dengan Taehyung melintas di pikirannya.


-000-

Taehyung mengajaknya menyebrang dan mereka berakhir di depan bangunan bertingkat yang tak terurus. Jungkook langsung mengeratkan pegangan tangannya kepada Taehyung.

" Wae ? kau takut? " Tanya Taehyung membuyarkan ketakutan namja imut tersebut. Jungkook hanya diam dan mengikuti langkah Taehyung yang menuju ke samping bangunan itu. Taehyung membuka garasi dan indra Jungkook menangkap sebuah Mobil Sport mewah.'bagaimana bisa mobil mewah ada di tempat seperti ini ?' pikir Jungkook.

"Hi ! kenapa melamun ? ayo kesini Bunny .. " Panggil Taehyung yang sudah duduk di belakang stir.

" Sebenarnya kau ini siapa Tae? Apa ini milikmu ?" ungkap Jungkook tak percaya, yang kini sudah duduk di samping Taehyung.

" Hahaha, kau tak tahu saja, aku juga memiliki simpanan gadis-gadis seksi " acuh Taehyung mulai menyalakan mobil berwarna hitam metallic tersebut.

-0000—


"Matta.. " gumam pemuda bergigi kelinci itu.

Iyaa.. dia ingat yang di seberang kedai ini adalah gedung tak terurus tempat Taehyung memarkirkannya mobilnya tempo hari. Dia menyudahi acara makannya. Makanan tersebut tidak habis, dia benar-benar tidak berselera sekarang ini.

" hyung, kau tahu bangunan apa di depan itu?" Tanya Jungkook kepada para hyung-nya yang ada disana. Mereka melihat ke arah tunjuk Jungkook. Mereka semua menggeleng tidak tahu.

" kenapa Kook ? kau tahu bangunan itu ?" Tanya Hoseok kepada Jungkook.

" Iya hyung, waktu kami akan double date dengan pasangan Namjoon dan Jin-hyung, Taetae mengambil mobilnya dari garasi yang ada di samping bangunan itu" Jelas Jungkook.

" Hyung aku akan memeriksa ke seberang sana " ujarnya lagi. Jungkook benar-benar penasaran dengan tempat itu.

" Aku akan menemaninya, kalian selesaikanlah makan kalian. Setelah itu baru susul kami " titah Baekhyun yang juga telah mengakhiri acara makannya.

Jungkook dan Baekhyun keluar dari kedai itu. Mereka menyebrang dan menatap ke arah bangunan yang benar-benar tua itu. Kesan seram patut menjadi deskripsi utama bangunan yang ada di depan mereka sekarang ini.

" Kook, kau yakin ini tempatnya ?" Tanya Baekhyun yang sekarang mengamit tangan Jungkook.

" Nde hyung, waktu itu Taehyung mengambil mobil dari samping sana " tunjuk Jungkook ke samping kiri bangunan tinggi itu. Hari yang sudah malam, membuat suasana di sekitar mereka benar-benar gelap, apalagi bangunan itu tidak memiliki penerangan sama sekali.

Jungkook mengajak Baekhyun yang memegang senter di tangannya menuju samping kiri bangunan itu, dia menuju garasi yang dulu tertutup kini dalam keadaan terbuka. dia menyingkap kain abu-abu yang menutupi benda dibawahnya. Baekhyun takjub dengan apa yang dilihatnya. Sebuah mobil sport hitam metallic.

" Daebak.. kau benar Kook ! tapi bagaimana bisa mobil semewah ini ada disini?" Tanya Baekhyun kepada Jungkook. Jungkook menggeleng karena dia sendiri juga tidak tahu kenapa alasannya mobil mewah itu ada disini dan bagaimana Taehyung bisa memakainya saat itu. Baekhyun menelepon Chanyeol dan menyuruh mereka semua ke tempat dia dan Jungkook berada.

" Ada apa, Honey ?" Tanya Chanyeol yang langsung melingkarkan tangannya di pinggal Baekhyun. Dibelakang Chanyeol berdiri anggota pun mengarahkan cahaya bulat dari senter yang di tangannya menuju mobil yang dia dan Jungkook temukan itu.

"Waaaah.. " seru mereka serentak.

" aku rasa Taehyung memang berada di sekitar sini " ujar Minjae optimis.

Mereka berjalan ke depan gedung itu. Jungkook melihat sepasang anak-anak yang berjalan ke arah mereka. Dia ingin menanyakan apakah mereka melihat Taehyung-nya. Dia menghampiri kedua anak itu.

" adik kecil, apa kalian melihat pemuda setinggiku kesini, warna rambutnya cokelat, apa kalian melihatnya ?" Tanya Jungkook dengan lembut. Minjae menghampiri Jungkook yang sedang bertanya kepada bocah-bocah itu, Dia kenal dengan pasangan kakak beradik itu.

" Hwa-young ! Hyun Joong !" seru Minjae kepada anak-anak itu. Seruan Minjae mengundang anggota lainnya menghampiri mereka.

" Minjae-oppa.. " ujar anak perempuan yang lebih tua dari anak laki-laki yang di sebelahnya.

" Kenapa kalian ada disini ? bukankah kalian ada di Busan ?" Minjae bertanya pada kedua bocah itu. Dia memang mengenal bocah-bocah itu, mereka anak yatim piatu yang tinggal di salah satu panti asuhan di Busan. Orangtua Minjae sering memberikan bantuan kesana. Dan Taehyung sangat menyayangi mereka berdua. Pasti karena Taehyung mereka ada disini.

" Kami sudah enam bulan disini Oppa, kami tidak mau tinggal dipanti asuhan lagi. Lagian Hyun Joong selalu mengeluh di bully oleh teman-temannya di sekolah lamanya. Waktu itu Taetae-oppa datang dan mengajak kami tinggal di Seoul, kami di suruh tinggal di tempat bibi Nam. Taetae-oppa selalu menjenguk kami dan membelikan semua kebutuhan kami. Bibi Nam juga menyayangi kami " jelas gadis kecil nan manis itu. Bibi Nam adalah orang yang menjual Jjajangmyeom tempat mereka makan tadi, seorang janda yang tidak memiliki anak. 'Bukankah Taehyung baik ?'

" Hmm begitu..Jadi, apa kalian melihat Taehyung ?" Tanya Minjae lagi setelah dia mengerti dengan semua yang di ceritakan oleh Hwa-young.

" Taetae-hyung?" gumam anak laki-laki yang berumur sekitar 7 tahun. Mereka menunduk seakan ragu mau menjawab pertanyaan Minjae atau mengabaikannya.

" Tolong hyung, ne ? Taetae-hyung menghilang dan kami takut terjadi apa-apa kepadanya " kini Jin berjongkok dan menatap kedua anak-anak polos tersebut.

" Taetae-oppa ada disana.. " jawab si kakak yang berumur 10 tahun. Mereka memang melihat Taehyung menuju bangunan itu tadi sore. Mereka memang sering melihat Taehyung kesana. Mereka akan datang kesana untuk melihat Taehyung ketika Taehyung menghubungi Bibi Nam untuk menyuruh kedua bocah itu datang kepadanya. Mereka akan menghampiri Taehyung dengan membawa obat merah dan obat-obatan lainnya untuk Taehyung. Mereka akan merawat Taehyung yang terluka. Mereka diam dan tidak berani bertanya kenapa dan bagaimana bisa luka-luka itu hadir di sekujur orang yang menyelamatkan mereka.

" Mwo ? " Jimin hampir berteriak tak percaya dengan apa yang dituturkan gadis cilik itu.

" Taehyung disana ? bagaimana bisa ? tempat ini bahkan sudah mau runtuh dan tak berpenghuni " Hoseok menambahkan.

" Aniya ! di atas sana ada kamar Taetae-hyung, dan kamarnya sangat bagus " jelas Hyun Joong.

" Jinjja ?" Tanya Jin yang masih berlutut di depan mereka. Si kecil mengangguk antusias.

" Hyung, ayo kita kesana dan lihat keadaan Tae " Jungkook mengisyaratkan agar mereka masuk ke dalam gedung itu.

" Nah, Hwa-young dan Hyun Joong kalian pulang saja ke rumah dulu yaa.. nanti kami akan mengabari kalian tentang Taetae. Terimakasih sudah membantu kami " Namjoon mengusak rambut kedua bocah tersebut. Mereka tersenyum dan mengangguk. Namjoon mengiringi mereka untuk menyebrang jalan menuju kedai Bibi Nam. Sebelum mereka benar-benar akan menyebrang, Hwa-young menghampiri Jungkook dan mengisyaratkan pemuda itu menyamakan posisi dengannya

"one-two-three-zero, oppa !" bisik Hwa-young yang kemudian baru berbalik dan menyusul adiknya. Jungkook mengernyitkan keningnya tak mengerti.

" Ada apa Kook ?" Tanya Woozi di sampingnya. Jungkook hanya mengidikkan bahunya. Benar-benar tak mengerti dengan bisikan gadis kecil itu tadi.

" bocah sialan itu benar-benar " gerutu Baekhyun yang sudah jalan di samping Chanyeol.

Mereka berjalan dan menaiki tangga dalam gedung itu. Debu dan sarang laba-laba menjadi objek dominan disana, tak lupa batu-batu reruntuhan juga menghambat jalan rombongan itu.

" Bagaimana bisa dia tinggal disini?" monolog Jimin yang memegang tangan kekasihnya. Sementara Jungkook sudah tak sabar melihat bagaimana keadaan kekasih atau mantan kekasihnya itu.

'semoga dia baik-baik saja, Tuhan ' Jungkook merapalkan kalimat itu berulang kali dalam hatinya.

Mereka menaiki tangga menuju lantai teratas gedung itu, lantai lima. Tepat di sebelah kanan dari tangga mereka melihat sebuah pintu yang mungkin adalah sebuah ruangan yang digunakan Taehyung. Mereka menuju kesana. Chanyeol yang berada di depan pintu, mencoba membuka pintu dan nihil, pintu itu terkunci. Mereka melihat keypad di samping itu. 'astaga itu adalah pintu dengan penguncian password'. Mereka tidak mengetahui password untuk membuka pintu ini.

" Bagaimana ini ? Namjoon, kau ada ide?" Tanya Chanyeol kepada Namjoon.

" Hm, ulangtahun Taehyung ?" ucap Namjoon. Baekhyun mencoba mendikte tanggal dan bulan kelahiran Taehyung dan menekan angka-angka di keypad tersebut. Salah !

" Astaga ! salah.. Eotteokhe Yeol-ie ?" Tanya Baekhyun gusar. Jungkook mengingat apa yang dibisikkan oleh Hwa-young tadi kepadanya.

" Hyung, coba kau tekan 1-2-3-0 " dikte Jungkook dan Baekhyun menekan angka tersebut. Klik! Berhasil, pintu besi itu terbuka secara otomatis.

Mereka tak menyangka angka yang disebutkan Jungkook berhasil membuat pintu itu terbuka.

" bagaimana bisa ?" Tanya Jimin tak percaya.

" tadi Hwa-young yang bilang hyung " jelas Jungkook. Mereka memasuki ruangan gelap itu. Baekhyun mencari saklar lampu dengan senternya. Dia menekan tuas lampu dari balik pintu mereka masuk tadi. Di sudut ruangan di dekat ranjang, Yoongi melihat Taehyung bersandar ke dinding dengan nafas tersengal-sengal dan hampir tak sadarkan diri. Dia langsung berlari kea rah adik kesayangannya itu.

"Tae.. " karena gerakan Yoongi yang cepat membuat anggota yang lain mengarah ke arah pemuda yang berlari tersebut. Dia memangku kepala Taehyung yang kini sudah lemas dengan darah di sekujur tubuhnya.

" hyuung.. eom..ma..eommaga.." lirih Taehyung sebelum kehilangan kesadarannya.

" Tae…Taehyung" Jungkook melemas kala melihat pemandangan kekasihnya yang tak berdaya dan penuh dengan luka. Dia benar-benar tak menyangka Taehyung segila ini menghadapi penderitaan yang diembannya. Jimin yang di sampingnya langsung memeluk Jungkook. Dia juga merasakan bagaimana rasanya melihat Taehyung seperti saat ini.

Minjae ikut bergabung dengan Yoongi. Dia berinisiatif mengangkat tubuh Taehyung dari pangkuan Yoongi yang kini sudah menitikkan air mata. Minjae membaringkan Taehyung di ranjang yang ada di dalam ruangan itu. Baekhyun dan Chanyeol juga menghampiri ke arah sana.

"Wae ? Wae ? kenapa kau melakukan semua ini ? kau benar-benar ingin mati, eoh ? kau benar-benar ingin membuat kami gila ?" Baekhyun mengusap lembut surai adiknya itu. Dia sudah tak tahan untuk menitikkan air matanya. Chanyeol mencoba menenangkan tunangannya itu.

"Geumanhe Baekki-yah.. Jin, bisakah kau pergi membeli obat dan apapun untuk perawatan Taehyung ? kita tidak mungkin membawa Taehyung kerumah sakit saat ini, itu sama saja kita melemparkannya langsung pada kematian " ungkap Chanyeol.' iya, Taehyung tidak boleh di ketahui keberadaannya oleh ibu dan saudara-saudara tirinya yang psiko itu'.

" Ba-baiklah, Namjoon-ah temani aku ke klinik dekat sini, Ppalli. Stetoskopku ada di mobilmu, kan? " Jin berjalan ke arah Namjoon yang berdiri dekat pintu. Namjoon mengangguk mengiyakan.

Mereka berdua pergi, secepat mungkin yang mereka bisa. Mereka bergegas, karena Jin setidaknya bisa menyelamatkan Taehyung dari luka-luka mengenaskan di tubuhnya itu. Ya karena Jin telah mempelajari semua itu untuk menjadi dokter yang baik dan siap siaga.

Minjae duduk di sebelah Jungkook yang duduk di sofa tidak jauh dari ranjang Taehyung. Jungkook menahan diri untuk tidak lepas kendali memeluk Taehyung, dia tidak boleh egois. Baekhyun dan Hoseok sibuk membersihkan luka yang ada di tubuh Taehyung. Dan yang lainnya menatap Taehyung dengan iba.

" Kook-ah, sudah.. jangan menangis terus. Aku yakin Taehyung hanya terbawa emosi untuk memutuskan hubungan kalian. Bicaralah baik-baik ketika dia sudah sadar nanti, Okay ?" Minjae membawa Jungkook ke dalam pelukannya. Dari tadi dia melihat namja kelinci itu menangis tanpa henti. Dia juga melihat Jungkook ingin menghampiri Taehyung tapi terbesit ketakutan dalam tindakannya.

" Hyung… aku takut " Jungkook mencicit dalam pelukan Minjae. Dia benar-benar takut apabila Taehyung tak mau berjuang bersamanya. Sungguh dia ingin membantu Taehyung dan dia ingin melewati semuanya dengan Taehyung, orang yang dia cintai dengan segenap jiwanya itu.

Dua puluh menit nenanti, Namjoon dan Jin datang dengan membawa obat-obatan dan semua peralatan untuk mengobati Taehyung. Baekhyun dan Hoseok beranjak, Namjoon membantu Jin dalam perkerjaannya. Mulai dari membersihkan kembali luka-luka sayatan itu sampai kepada memasang infus pada pembuluh darah di tangan Taehyung. Jangan tanya kenapa Namjoon sangat cekatan. Kejeniusannya dalam melihat sang kekasih yang bekerja sebagai Volunteer dalam ruangan kesehatan kampusnya sangat berguna seperti saat ini. Setengah jam setelah membereskan pekerjaannya, Jin menghembuskan nafas lega.

" Bagaimana keadaan Tae, Hyung?" tanya Jungkook yang kini sudah berada di samping ranjang king size milik Taehyung itu.

"Gwenchana.., keadaannya baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggu dia sadar " Jin bersandar ke pundak Namjoon tanpa melepaskan tatapannya kepada Taehyung yang berbaring lemah itu.

" Kau benar-benar membuat repot semua orang,Tae " gumam Namjoon yang juga menatap aggota bengalnya itu sebelum menarik dan mengajak Jin duduk di salah satu sofa yang diduduki anggota lainnya.

Mereka semua duduk di ruangan itu. Yoongi dan Jimin duduk di lantai di ikuti pasangan Hoseok dan Woozi yang tak jauh dari mereka. Namjoon dan Jin mengambil tempat di sofa yang berhadapan dengan Baekhyun - Chanyeol dan Minjae yang terhalang meja.

" Kook, jangan disana, disini duduk bersama kami, Taehyung tidak akan kemana-mana " Hoseok mengeluarkan suara, sebenarnya mereka semua yang ada disana kasihan melihat Jungkook yang dari tadi tak berhenti menangis dan selalu saja memasang tampang sedih.

" Semua akan baik-baik saja, Jungkook " Minjae berdiri dan menariknya agar duduk di sebelahnya. Jungkook yang memang tidak memiliki tenaga lebih hanya menuruti keinginan para hyung-nya yang ada disana.

Mereka benar-benar lelah saat ini. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan angka 11. Namjoon yang bosan mengambil sebuah remote yang terletak dimeja depannya. Dia menekan-nekan tombol yang berjejer itu.

" Joon-ie berhenti memainkan benda itu, kau tidak tahu kalau kau itu God of Destruction, eoh ?" keluh Jin yang bersandar di pundak namja berlesung pipi itu. Dia berusaha menahan kantuknya, percayalah sebentar lagi dia akan benar-benar memasuki alam mimpinya.

Seeeet… sebuah home theater muncul di sudut sebelah kanan ruangan itu. Mereka semua takjub bagaimana bisa tadi yang ruangannya kosong kini turun ruangan dengan televisi flat beserta perangkat lainnya.

" Waaaah daebak.. " takjub Jimin yang kini sudah hilang rasa kantuknya. Namjoon menekan tombol lain.

Seeeeettt…. Kini perpustakaan pribadi yang didominasi komik terbuka dari balik dinding ruangan itu. Dekat dengan ruangan home theater tadi. Namjoon kembali menekan remote itu.

Seett.. perpustakaan mini itu berputar dan berbalik sehingga menampilkan lemari besar yang mereka yakini adalah tempat baju-baju Taehyung dan sebuah kulkas di sampingnya. Minjae berjalan ke arah sana. Membuka lemari besar itu, mencari dan mengambil beberapa selimut. Dia juga membuka lemari es, yang di dalamnya berisi berbagai macam soda. Dia mengambil beberapa kaleng dan membagikan kepada mereka yang berada disana

'aku benar-benar belum mengenalmu terlalu dalam eoh? Dasar Kim Bastard' rutuk Minjae dalam hatinya.

" Taehyung benar-benar bangsat.. " Minjae berujar demikian. Mereka yang disana benar-benar tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ruangan yang awalnya kosong melompong, hanya di isi dengan ranjang king size dengan 2 buah sofa kini berubah menjadi ruangan mewah.

" Well, mari kita coba tombol yang ini " Namjoon kembali menekan tombol yang berada disebelah tombol yang dia pencet tadi.

Seeeetttt… Tiga buah ranjang berlipat turun dari arah langit-langit ruangan itu. Hoseok langsung berdiri dan menghampiri ranjang itu dan tiduran di atasnya.

" Ini sungguh nyata, Woozi-yah kemari " Hoseok mengajak namjachingu-nya itu untuk menghampirinya. Setidaknya menunggu Taehyung sambil tidur tak masalah.

Tinggal satu tombol lagi. Namjoon kembali menekannya, dia penasaran dengan teknologi dalam ruangan Taehyung ini.

Seeeeettt.. Sebuah sekat turun dari langit-langit di depan mereka. Ranjang Taehyung tertutupi oleh sekat itu. Seperti membuat sebuah kamar dalam ruangan tersebut.

" Joon-ie, cepat kau kembalikan seperti semula, bagaimana cara kita melihat Taehyung seperti ini, eoh ?" Jin berbicara kepada kekasihnya itu.

" Iya,.. iya " Namjoon menekan tombol itukembali, membuat sekat itu naik dan memperlihatkan Taehyung yang masih berbaring di ranjangnya.

Baekhyun yang sudah hampir tertidur langsung di gendong oleh Chanyeol menuju ranjang bertingkat dimana Hoseok dan Woozie tiduran.

"Hoseok, bisakah kalian naik ke atas ? "Tutur Chanyeol. Mereka pun beralih ke ranjang paling atas. Mereka duduk disana sambil melirik ke arah Taehyung yang belum sadar juga. Yoongi yang biasanya adalah maniak tidur, kali ini benar-benar menahan hasratnya demi sang adik.

" Hyuuung.. " regek Jimin pelan disampingnya.

" apa Chim ? Kalau kau mengantuk, tidurlah !" Ujar Yoongi yang mengelus tangan pemuda sipit itu. Yoongi mengajak Jimin duduk di depan Perangkat home theater yang beralaskan karpet sambil membawa sebuah selimut yang diambil Minjae tadi. Dia bersandar ke dinding, sementara Jimin tidur dipahanya. Dia menyelimuti Jimin dengan lembut.

" Tidurlah, ketika Taehyung sadar, aku akan membangunkanmu " Yoongi mengelus pelan surai namja yang dia cintai itu.

Chanyeol dan Hoseok mengambil tempat dekat Yoongi, kekasih mereka sudah terlelap karena lelah. Jungkook masih menatap kosong ke arah Taehyung. Jin juga sudah tertidur di pundak Namjoon.

" Kita benar-benar tidak mengenal bagaimana Taehyung sebenarnya, kan ?" buka Namjoon kepada mereka yang masih terjaga. Mereka semakin merasa tak mengenal Taehyung.

" Iyaa.. aku tak menyangka dia seperti ini. Dia begitu hangat diluar, meski dia kadang terlihat kasar. Tapi di dalamnya, dia benar-benar rapuh " tukas Minjae menimpali.

" Haaaah !" Yoongi hanya bisa mengeluarkan nafas beratnya sebelum meneguk soda yang dia punya.

" Tapi habis ini, dia benar-benar akan perang melawan ibu tirinya itu. Namjoon, aku dengar Jin akan di tunangkan dengan saudara tiri Taehyung, bukan?" Chanyeol bertanya kepada Namjoon.

" Iyaa hyung. Aku tak habis pikir mengapa semua ini bisa terjadi. Taehyung adalah harapanku satu-satunya. Menurut prediksiku, Taehyung adalah kunci untuk membuka kejahatan yang mereka perbuat 4 tahun yang lalu. Kasus pembunuhan eomma Taehyung " jelas Namjoon seadanya.

" Kook, tidurlah. Hyung akan membangunkanmu kalau Taehyung sudah sadar " Minjae bersuara lembut disamping Jungkook. Sungguh dia benar-benar kasihan dengan kekasih sahabatnya ini. Kejelasan hubungannya dengan Taehyung benar-benar kabur.

" Mungkin Taehyung tidak akan mau bersuara di pengadilan, kita lihat PTSD yang dia idap bagaimana. Baru mendengar adiknya yang di pukuli saja dia sudah merasa gagal melindunginya, kita juga lihat Jungkook diputuskan olehnya " Hoseok kini bersuara. Mereka membenarkan apa yang Hoseok ucapkan.

" Bukankah pertunangan mereka hanya karena perusahaan orangtua mereka akan bekerja sama ? aku pernah membaca kabar itu di salah satu surat kabar " Minjae ikut dalam perbincangan. Jungkook yang bersandar di pundaknya sudah mengeluarkan suara dengkuran halus. Ternyata kelinci manis itu sudah tertidur tanpa sadar.

" Iya, orangtuaku juga berusaha untuk memisahkanku dengan Jin-hyung. Orangtuaku juga terlibat kerja sama dengan perusahaan Kim Byung Joo, ayah Taehyung. Mereka ikut andil dalam permasalahan ini. Makanya mereka menentang hubungan kami. Aku juga berencana untuk keluar dari keluargaku dan keluar dari perusahaan mereka " Jelas Namjoon lagi. Dia memperhatikan wajah letih kekasihnya yang saat ini jelas terlihat sangat manis di sampingnya. Dia benar-benar mencintai namja yang sangat lembut ini. Jin sudah tertidur saat lelah melarang Namjoon memainkan remote yang ada di tangannya.

Chanyeol dan Minjae cukup mengenal nama Namjoon. Mereka itu pewaris perusahaan terkenal dan besar di Korea Selatan. Namjoon juga sering keluar sebagai salah satu eksekutif muda idaman berbagai versi majalah bisnis. Kalau Yoongi dan Hoseok tentu saja tau karena mereka adalah teman satu dorm.

" Kau mau keluar dari keluargamu ?" Kejut Hoseok. Yoongi juga tak kalah terkejutnya dengan penuturan sang leader di dorm mereka itu.

" iya. Kalian tau sendiri kalau aku ini hanya di jadikan pencetak uang di keluarga laknat itu. Mereka tak menyayangiku dengan tulus. Mereka hanya memanfaatkan bagaimana cara berfikirku dalam meraup keuntungan dan mencapai target mereka dengan menyusun strategi yang bagus " Namjoon membocorkan rencananya kepada orang-orang yang ada disana.

" Terus nanti bagaimana dengan pekerjaan yang kau kelola? Saham mungkin? Kau sudah lelah bekerja, kalau kau keluar dari rumahmu dan keluargamu, tentu kau tak mendapatkan apa-apa " Yoongi memberi tanggapan terhadap penjelasan namja tan itu.

" Aku dan Soo Hyun Samchon sudah membicarakan hal ini jauh hari. Yayasan HGI mutlak milik kami berdua. Kami juga memiliki saham pada perusahaan lain tanpa sepengetahuan kedua orangtuaku. Aku sudah lama ingin keluar dari jeratan mereka. Aku benar-benar muak dengan mereka yang sebenarnya menganggapku sebagai budak uang mereka " curah Namjoon mengeluarkan semua keluh kesahnya. Kim Soo Hyun, Profesor muda yang menjabat sebagai kepala sekolah dan Rektor di yayasan HGI.

" Kau benar-benar briliant Joon-ah " takjub Chanyeol kepada junior di kampusnya itu.

" Briliant dengan tak ada pilihan, aku rasa tipis perbedaannya hyung " jawab Namjoon sekenanya.

" Jadi kau yang mempunyai yayasan HGI ? kenapa aku baru tahu ? Ah, jangan bilang kalau kau yang memberikan beasiswa kepada Taehyung, hyung ?" kini Minjae terkejut karena dia baru tahu bahwa Namjoon adalah pemilik yayasan tempat Taehyung sekolah.

" Aniya! aku memang pemiliknya. Tapi yang merekrut Taehyung adalah Soo Hyun Samchon. Aku saja baru tahu sehari sebelum dia masuk asrama. Aku bahkan memastikan bahwa Kim Taehyung akan masuk yayasan adalah Kim Taehyung yang aku kenal " jawab Namjoon

" kau memastikan Taehyung yang kau kenal? dari Underground ?" kali ini Yoongi yang berbicara.

" Aku sudah kenal Taehyung dari lama sebenarnya. Kau ingat hyung, ketika Taehyung yang di titipkan disalah satu panti asuhan setelah ibunya dibunuh ? Aku juga ada di panti yang sama dengan Taehyung, Jungkook juga " jelas Namjoon kepada Yoongi.

"—jadi sebenarnya Jungkook dan Taehyung itu memang sudah kenal dari lama. Ya menurutku sih ketika mereka bertemu, mereka sebenarnya sudah saling merasa nyaman. Dulu mereka sangat dekat. Mungkin mereka hanya tidak ingat karena sudah lama " lanjut Namjoon.

" Jadi kau bukan anak dari keluarga Kim ?" tanya Minjae lagi.

" Bukan. Aku adalah anak yang mereka adopsi. Mereka memiliki tiga anak kandung. Mereka bilang mereka menyayangiku, makanya mereka mengadopsiku. Ya mereka memang menyayangiku, menyayangi otak dan kerja kerasku " Namjoon benar-benar kesal mengingat semua itu. Ingin rasanya dia dulu tetap tinggal di panti asuhan bersama Jungkook. Jungkook yang menangis karena Taehyung yang pergi dengan keluarga Minjae, setelah itu Namjoon juga pergi dari sana.

" Kalau begitu, bagaimana kalau kita merintis sebuah perusahaan saham ? Aku pikir itu sangat berguna, apalagi kau harus memperjuangkan Jin " Chanyeol kembali bersuara.

" Benar Joon, aku rasa itu usul yang bagus. Aku akan ikut dalam mendirikannya. Aku juga memiliki saham yang cukup besar pada sebuah perusahaan terkemuka di Korea Selatan ini, bagaimana ? aku rasa ini adalah salah satu cara untuk mempertahankan Jin-hyung disampingmu selain kesaksian Taehyung di pengadilan " Hoseok berbicara menanggapi usul kekasih Baekhyun tersebut.

" Baiklah hyung, kita akan mendirikan perusahaan yang kau katakan tadi " putus Namjoon setelah memikirkan tawaran Chanyeol. Bersama lebih baik daripada sendiri membangun perusahaan dan mencari penanam saham yang sangat merepotkan.

" Oke, aku juga akan meminta bantuan Suho dan Kai. Mereka juga memiliki saham tersembunyi pada perusahaan lain " Chanyeol ingin membantu Namjoon, hitung-hitung mengimplementasikan apa yang sudah dia pelajari dari kecil sampai dia kuliah. Dia memang sudah belajar bisnis dan management-nya dari dia kecil.

Mereka sibuk membicarakan tentang bisnis dan yang lainnya. Tanpa mereka sadari Taehyung sudah membuka matanya. Dia memandang ke arah mereka. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangannya. Dia melihat home theater-nya yang sudah ada, lemari es, ranjang tingkatnya. 'Well, mereka semua sudah menyentuh remote ajaibmu, Tae'. Dia mendengar percakapan yang sangat serius itu.

" Aku juga akan ikut dalam mendirikan perusahaan itu " tiba-tiba Taehyung bersuara.

" Astaga ! Sialan kau Tae, mengejutkanku saja " Minjae mengumpat kepada Taehyung yang membuatnya berjangkit kaget sementara Taehyung hanya menampilkan senyuman kotak konyolnya kepada mereka.

" Bagaimana keadaanmu Tae ?" Hoseok menghampiri Taehyung yang ada diranjangnya itu.

" Seperti yang kau lihat hyung " kata Taehyung.

" Hyung, aku – " ucapan Taehyung terpotong ketika Namjoon melanjutkan bicaranya.

" – sudahlah kami sudah tahu perihal PTSD-mu itu, jadi jangan merasa bersalah kepada kami. Kau lihat bocah yang tertidur lelah di samping Minjae itu ? dia yang menjadi urusanmu sekarang " Namjoon benar-benar mengerti bagaimana rasa bersalah Taehyung kepada mereka. Dia juga mengerti sekarang mengapa Taehyung hanya diam saja ketika Namjoon mengungkit masalah ibu dan kakak tirinya ketika mereka makan bersama tempo hari.

Taehyung melirik ke arah kekasih yang dia putuskan beberapa jam yang lalu. Dia melihat mata yang tertutup itu cukup sembab dan wajah lelah pada bocah kelinci yang dia sayang itu. Betapa dia sangat brengsek saat ini, lagi-lagi menyakiti Jungkook, pemuda yang sangat mencintai dirinya.

" eeuugghh.. " leguh Jungkook sambil membuka matanya perlahan. Mata bulatnya langsung menyambut manik hazel Taehyung yang menatapnya.

"Tae… " gumam Jungkook. Dia meremas pahanya sendiri. Rasa gugup ketika melihat manik itu langsung membuatnya gelagapan.

" Well, sepertinya kalian harus membicarakan masalah kalian—" Minjae mendorong Jungkook sehingga dia refleks hampir menabrak tubuh Taehyung yang berada di ujung ranjang di depannya.

"—Hoseok-hyung ayo kita cari makanan, sekalian untuk bocah merepotkan ini " Minjae berdiri dan melangkah keluar di ikuti oleh Hoseok di belakangnya.

" Okay, nikmati waktu kalian bersama " Namjoon menekan tombol yang ada di remote yang dia pegang. Sekat yang tadi kembali turun memberi ruang kepada Jungkook dan Taehyung.

" Haaah.. semoga masalah mereka cepat selesai " Namjoon mengambil tempat di samping Chanyeol. Mereka menyalakan televisi dan menonton acara yang dapat menghibur mereka.

" Kookie – " Taehyung menatap Jungkook yang sudut matanya sudah berair.

" -Diamlah hyung, kalau kau ingin menyakitiku terus, berhen- henti bicara.. hiks " Jungkook terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sungguh dia sudah tidak kuat dengan semua hal ini. Diputuskan oleh Taehyung membuatnya benar-benar terpuruk.

" Hei.. Uljima.. berhenti menangis..Kookie " Taehyung memposisikan dirinya duduk bersandar ke kepala ranjangnya. Dia menarik tangan Jungkook dan mendekap pemuda bersurai hitam itu dalam pelukannya.

" Nappeun.. kenapa kau jahat sekali Tae , aku benci kau! " Jungkook memukul dada Taehyung yang berperban itu.

" aaah.. appo Kookie.. " Taenyung mengaduh sambil memegangi tangan Jungkook yang tak berhenti memukul-mukul dada Taehyung. Taehyung mengangkat wajah Jungkook yang menunduk itu.

" Hei, jangan menangis lagi, kau terlihat jelek " ujar Taehyung sambil mengusap pelan pipi berisi Jungkook.

" Apa pedulimu ? kita kan sudah tidak apa-apa, kau memutuskanku " sifat tsundere Jungkook kembali membuat bibir Taehyung melengkung indah. Dia benar-benar menyayangi makhluk imut yang ada di depannya ini.

Mereka lama terdiam tanpa bersuara dengan dua pasang mata berbeda warna yang saling memandang lama satu sama lain.

" Wae ? " tanya Jungkook kesal.

" Keunyang ! Kookie Mianhe.. kau harus mengerti kenapa hyung memutuskanmu. Kau lihat bagaimana keadaanku sekarang Kookie-ya " jujur Taehyung. Rasa sayangnya harus dia kesampingkan demi bocah imut di depannya ini. Dia tak mau menyakiti Jungkook lebih dalam lagi.

" Ani hyung ! bukan itu jawaban yang aku mau. Kau tahu aku sangat mencintaimu, kan ? ini bukan masalah bagiku hyung. Kita bisa berusaha bersama-sama. Kalau kau mengkhawatirkan keselamatanku, kau lupa kalau aku pemegang sabuk hitam beladiri, hah ? hubungan kita putus itu dalam khayalan bodohmu dan itu tak akan pernah terjadi" Jungkook menyelami mata Taehyung.

"Tapi Kookie—" ucapannya terpotong lagi.

"- Andwe hyungie ! kau lupa akulah yang berhak memutuskan hubungan kita. Itu yang kau bilang, eoh? hiks " Jungkook menerjang Taehyung, dia menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Taehyung.

Taehyung benar-benar kalah sekarang, Dia benar-benar tak memiliki pernyataan dan alasan lain untuk menyanggah dan memutuskan hubungannya secara sepihak dengan Jungkook. Dia benar-benar menyayangi pemuda rapuh dalam dekapannya itu.

" Mian… mianhe Kookie.. aku menyakitimu lagi " Taehyung mengelus pelan punggung yang bergetar karena tangisan itu. Sementara Jungkook hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terisak disana.

" Hei.. kau tidak lelah menangis terus ? sudah jangan menangis lagi Kookie, Hei Baby Bunny! " Taehyung melepaskan pelukannya. Menangkup wajah Jungkook dan mengecup singkat bibir merah muda yang kini sedang pucat itu.

" Hiks.. kau benar-benar jahat hyung.. " Kesal Jungkook karena Taehyung berhasil membolak-balikkan perasaannya.

" hahahaha.. jangan menangis lagi yaaa, lihat air liur dan air matamu bercampur " hibur Taehyung menyeka bibir pemuda kelinci itu seakan tak bersalah. Jungkook mendorong tubuh Taehyung yang ada di depannya.

" Aaaagh.. aw.. appo Kookie " keluh Taehyung dengan sakit yang dibuat-buat.

" Eh ? Gwenchana hyung ? dimana yang sakit ?" khawatir Jungkook. Dia langsung memegang bahu Taehyung. Melihat kondisi kekasihnya itu, meringis menahan sakit. Memang dorongan Jungkook tadi membuat luka Taehyung bergesekan dengan tangan pemuda itu. Sakit memang.

" Disini " Taehyung menunjuk bibirnya.

" Hisss… mati saja kau sana ! Taehyung sialan !" teriak Jungkook. Membuat Namjoon menaikkan sekat pembatas mereka.

" Wae ? ada apa ? apa Taehyung baik-baik saja ?" tanya Jin yang sudah berdiri di sebelah Namjoon.

" Dia baik-baik saja hyung, baik-baik saja dengan kemesumannya " Jungkook memajukan bibirnya. Merajuk.

" sepertinya mereka sudah baikan, iya kan hyung ?" Jimin yang bersandar di pundak Yoongi.

"Hmm " gumam Yoongi mengiyakan sambil melihat ke arah kekasihnya itu.

CUP. Sebuah kecupan mendarat di bibir Yoongi yang di lakukan oleh Jimin.

" Dasar bocah !" umpat Yoongi. Meski mengumpat dia tetap menggenggam tangan mungil Jimin.

" Hehehe " tawa renyah Jimin dengan muka bersemu.

" Wah, kau benar-benar terlihat baik-baik saja dengan wajah idiotmu itu Tae, ingin aku membenamkanmu ke sungai Han dan memutilasi tubuh sialanmu itu.. sudah membuat eomma dan Jungkook menangis, merepotkan semua orang saja kau bisanya, Oh ya-" umpat Baekhyun.

"- Tae, tadi eomma menelepon, dia akan mengurus surat adopsi untuk Sae-ron, eomma juga menanyakan keadaanmu " Baekhyun berbicara di samping Chanyeol.

" Terus hyung bilang apa ?" tanya Taehyung yang menggenggap tangan Jungkook yang duduk di dekatnya.

" Tentu saja aku berbicara kalau badanmu banyak sekali hiasannya. Tapi aku bilang agar eomma dan appa tidak usah khawatir " Baekhyun kesal dengan adik bungsunya itu.

" Gomawo hyung.. " senyum Taehyung.

Kruuyuuk… Perut Taehyung yang belum di isi dari tadi siang membuat dia kelaparan sekarang.

" Nah benar kan ? si bodoh ini merepotkan " ujar Minjae yang langsung menyerahkan semangkuk bubur yang dia beli dengan Hoseok tadi. Dia memberikan kepada Jungkook agar Jungkook dapat menyuapi kekasih aliennya itu.

" Terimakasih Minjae sayang, aku tahu kau sangat perhatian kepadaku " Taehyung berbicara dengan nada manja di buat-buat. Membuat semua orang disana tertawa.

" Najis. Mati saja kau sana " Minjae bergidik ngeri melihat aegyo dadakan Taehyung.

.

.

.

To be continued.

.

.


.

Hi Chingu-deul ! maaf telat update.

2 minggu kemaren selain dateline tugas yang menumpuk, Lappy aku juga butuh install ulang. Terus aku juga di serang sama penyakit malas nulis.

Hehehe sekali lagi maaf ya Chingu. Alur ceritanya juga lambat. Tapi mohon di maklumi yaaa…

JK : Heh Noona, kau berkoar terus.. kapan cerita ini akan tamat. Apa aku nanti happy ending dengan Taetae-ku ?

Zee : astaga Kookie, tak sabaran sekali . kau pernah dengar pepatah " kalau bukan happy ending, berarti itu belum akhir ". Kalian akan happy ending. Untuk kapan tamat nya tergantung moodku menulis eh mengetik deng.

Tae : Jangan malas menulis dong Noona..

JK : Heh Hyungie, kau mengapa menggoda Noona itu #modecemburu

Zee : astaga Kook, pencemburu amat.

JK : Biarin Taetae Cuma milik Kookie *menarik Tae dan disembunyikan di belakangnya.

Namjoon : Zee, apa aku akan bahagia dengan Jin-ie ku ? Terus apa ada adegan intim lagi ? aku rindu

Zee : Tenang saja Joon, aku akan memberikan script kepadamu sampai akhir, tapi jangan kau bocori kepada reader bagaimana ending kalian,Okay ?

Namjoon : hehehe Gomawo Zee-ya

Jin : Yak Joon-ie.. kau ini.. tidak mau dengan reader apa. Kau juga belum puas ? kau membuat ku mati-matian terliat baik-baik saja. Sialan kau memang ya !

Zee : Mian reader sepertinya para pemain sudah mulai rusuh.. sampai disini dulu yaaaa.. tetap stay menunggu OS.

Bye…

Salam Hangat

.

.

A. Azaleea*