Title : Prince Witch
Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, Others
Genre : Comedy Romance
Chapter : 7/8
- Author Point of View -
" Halo? " Jongin menjawab panggilan ponselnya tanpa melihat siapa penelponnya. Matanya sibuk membaca novel yang kini sedang berada di pangkuannya.
" Jongin."
" P-paman?" Posisi duduk Jongin yang semula bersandar dengan santai di ranjang langsung menjadi tegak saat mendengar suara familiar yang menelponnya. Hal yang konyol, mengingat si penelpon tidak akan mungkin bisa melihat apa yang dia lakukan.
" Ya, ini aku. Bagaimana kabarmu dan putraku yang manis itu? Kalian sehat?"
" Ya paman. Kami baik-baik saja disini." Jawab Jongin pelan.
" Syukurlah kalau begitu. Jongin, kudengar dari Kris kau sudah berhasil menjalankan tugasmu dengan baik."
" Errr, iya paman."
" Baguslah nak. Aku senang sekali kau berhasil mendekati Sehun dan merubah sifatnya. Terimakasih Jongin."
" Tidak paman. Aku tidak melakukan apa-apa."
" Kau tidak usah merendah begitu. Aku tau kau pasti berjuang habis-habisan menahan emosimu demi mengalah dengan anak itu kan? Aku minta maaf karena sudah memintamu untuk pindah ke Seoul dan menemani Sehun sampai dia bisa menjadi anak yang manis. Sehun pasti banyak merepotkanmu dengan sifat egoisnya itu kan?" Ujar Paman Oh dari seberang sana.
" Yah, dia memang sangat egois dan sedikit merepotkan sih tapi sekarang sudah tidak lagi kok Paman. Anda tenang saja." Jawab Jongin sopan.
" Hahahaha. Sudah kuduga aku memang bisa mengandalkanmu Jonginah. Kau memang paling pintar mengambil hati orang tak salah kalau aku memintamu menemani Sehun disana. Kalau begitu karena sekarang kau sudah berhasil mengembalikan Sehun jadi putraku yang dulu berarti tugasmu sudah selesai. Kau bisa pulang ke Amerika secepatnya."
" Huh?" Jongin mengerjap kaget. " Pulang?"
" Ya. Bukankah kau akan langsung pulang begitu tugasmu selesai? Begitu kan katamu waktu itu? Kau tak ingin lama-lama di Seoul dan meninggalkan pujaan hatimu terlalu lama disini tanpamu." Paman Oh mengingatkan perkataan Jongin saat mereka membuat perjanjian ini.
"Ah, ya. Ehmm, ya paman. Aku a-akan segera pulang." Jawab Jongin pelan.
" Baguslah kalau begitu. Aku sudah rindu main catur denganmu. Selama kau pergi tidak ada lagi temanku bermain catur. Lagipula pujaan hatimu yang kau tinggal itu juga sudah sangat merindukanmu Jonginah." Ujar Paman Oh. Jongin terdiam sebentar sebelum menjawab perkataan ayah Sehun.
" Ya paman. Tolong katakan padanya, kalau aku juga merindukannya."
" Tentu akan kusampaikan. Dia pasti senang sekali mendengarnya. Baiklah nak kalau begitu. Paman ada meeting lagi, tolong sampaikan pada Sehun kalau aku merindukannya ya. Sampai jumpa."
" Sampai jumpa paman." Jongin mengakhiri panggilan telponnya dan kembali menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Pemuda tampan itu terdiam memandangi novel dalam pangkuannya. Meskipun matanya tertuju ke situ tapi pikirannya melayang, mengulang kembali percakapannya dengan paman Oh tadi.
' Pulang. Kenapa aku bisa lupa kalau aku hanya sementara tinggal disini? Kenapa aku bisa lupa kalau tujuan ku kesini hanya untuk menjalankan permintaan dari paman Oh? Apa yang kupikirkan? Tidak seharusnya aku punya perasaan ini.'
Jongin mengusap pelan wajahnya. Sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak menyadari Sehun kini sudah berdiri diambang pintu kamar dengan senyum lebar tersungging dibibirnya. Sehun menghampiri ranjang Jongin kemudian duduk disampingnya.
" Memikirkan apa?" Tanya Sehun lembut. Jongin terhenyak dari lamunannya saat mendapati Sehun yang tiba-tiba sudah ada disampingnya.
" Sehun, kapan kau masuk?" Jongin bertanya dengan gugup. Dia tak mau rahasianya terbongkar. Tidak dengan cara seperti ini.
" Baru saja. Kenapa melamun? Apa yang kau lamunkan?" Tanya Sehun lagi.
" Tidak. Aku—hanya memikirkan cerita ini. Ceritanya menyentuh sekali." Jongin menunjuk novel digenggamannya itu dan berusaha bersikap biasa. Sehun menatap novel yang berada dalam pangkuan Jongin sebelum tertawa kecil.
" Kau baca novel percintaan? Seperti wanita saja." Goda Sehun. Jongin mendengus mendengar perkataan Sehun.
" Kalau ceritanya bagus kenapa tidak? Lagipula memangnya kenapa kalau aku baca novel percintaan?" Jongin memberikan hidung mancung Sehun cubitan sayang membuat yang dicubit meringis manja. Sehun mengusap hidungnya yang dicubit pelan oleh Jongin sebelum terkekeh kecil.
" Tidak apa-apa. Hanya saja kau tidak kelihatan seperti tipe yang senang membaca novel percintaan."
" Pernah dengar istilah jangan menilai buku dari sampulnya?"
Sehun hanya menjawab pertanyaan Jongin dengan cengiran lebar yang cantik. Membuat Jongin tidak tahan untuk tidak merengkuh tengkuk Sehun dan mendaratkan ciuman singkat di dahinya. Sehun terkekeh seraya menyandarkan kepalanya di ceruk leher Jongin. Mengambil posisi yang nyaman untuk bersantai.
" Aku tahu. Aku juga pernah baca novel ini. ' Love in the ice ' ceritanya memang bagus sekali. Aku suka sekali dengan karakter Taeyong. Dia benar-benar memperjuangkan cintanya dengan Yuta. Berusaha mendapatkan perhatian Yuta dengan segala cara, menarik Yuta keluar perlahan-lahan dari lubang depresi, mengobati luka hati Yuta dan mengubah sudut pandangnya tentang hidup dan cinta meskipun butuh perjuangan keras. Meski akhirnya Yuta sembuh dari depresinya dan luluh oleh perlakuan Taeyong tapi ternyata Taeyong harus meninggalkannya. Akhir yang tragis tapi entah kenapa aku tidak bisa menyalahkan penulisnya. Aku pikir cerita itu cukup realistis karena takdir memang sangat suka mempermainkan manusia." Sehun tersenyum pahit kemudian menoleh ke Jongin. Sehun menengadahkan kepalanya agar bisa menatap Jongin yang ternyata sedang menatapnya dengan pandangan yang tak bisa dia artikan.
" Jonginie." Sehun menusuk pelan sisi pipi Jongin dengan jari telunjuknya membuat Jongin mengerjap pelan dan tersenyum padanya.
" Memang begitulah nasib. Mudah-mudahan nasib kita tidak seburuk novel ini." Ujar Jongin pelan.
" Itu kan hanya fiktif Jongin." Sehun tertawa lagi.
" Tapi kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kau sendiri yang bilang ceritanya cukup realistis dan takdir sangat suka mempermainkan manusia." Ujar Jongin membuat Sehun terpekur.
" Kau membuatku takut." Ujar Sehun pelan dan entah Sehun sadari atau tidak tangannya meremat pelan ujung kaus Jongin seakan menyuarakan bahwa dia tak ingin Jongin meninggalkannya.
" Maaf. Aku hanya bercanda." Jongin mengecup sekilas puncak kepala Sehun berusaha mengalihkan perhatian pemuda cantik yang akhir-akhir ini senang bermanja-manja dengannya. " Jadi, untuk apa kau datang kesini heh?" Ujar Jongin lembut sambil merapikan poni Sehun yang sedikit berantakan.
" Memanggilmu untuk makan siang. Ayo kita makan aku sudah lapar." Sehun tersenyum manis seraya menggamit tangan Jongin dan berjalan keluar kamar.
Namun langkah Sehun terhenti tepat didepan pintu kamar saat tiba-tiba dia merasakan sepasang lengan kokoh Jongin mendekap pundaknya dari belakang. Jongin menyandarkan kepalanya di tengkuk Sehun membuat pemuda cantik itu mematung karena perlakuannya yang tiba-tiba.
" Jongin kau kenapa?" Tanya Sehun saat dia sudah tersadar dari kagetnya. Jongin masih terdiam dan tetap pada posisinya.
" Jonginie." Sehun menyentuh tangan Jongin dengan lembut dan Jongin langsung menggenggam jemarinya kuat-kuat.
" Sehunie, kumohon jangan pernah membenciku. Jangan pernah kembali jadi Sehun yang dingin lagi."
" Kenapa kau berkata seperti itu?" Sehun berbalik dan menatap Jongin heran.
Jongin hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Sehun artikan membuat pemuda cantik itu bingung dengan sikapnya. Entahlah, tapi sejak tadi Sehun merasakan ada sesuatu yang aneh dengan sikap Jongin. Sehun balas menatap Jongin dalam-dalam seakan ingin menelisik arti dibalik tatapannya namun sebelum Sehun mendapatkan jawaban yang dia cari Jongin kembali tersenyum ceria.
" Karena aku sangat suka senyummu." Jawab Jongin ringan sambil menarik Sehun keluar kamarnya mengabaikan tatapan kebingungan Sehun yang di arahkan padanya begitu saja.
####################################################################################################################################################
" Sehun." Chanhee menyeruak masuk ke kamar Sehun. Pemuda imut itu kontan terkejut saat dilihatnya Sehun tengah terduduk lemas dilantai kamarnya dengan air mata berlinang. Chanhee segera berlari menghampiri sahabatnya dan memeluknya.
" Ada apa Sehunie? Kenapa menangis begini?" Tanya Chanhee panik sambil tetap memeluknya. Sehun tak menjawab. Dia hanya menangis kencang di pelukan Chanhee membuat pemuda itu semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Flashback
" Halo.."
" Halo, tuan muda Chanhee bisakah anda segera kemari? Tolong kami tuan, tuan muda Sehun sejak kemarin siang mengurung diri di kamar dan terus menangis. Dia tidak mau keluar dan tidak mau bicara dengan kami. K-kami sangat khawatir." Suara Joy terdengar panik dan terburu-buru membuat Chanhee yang sedang berbaring di ranjangnya langsung terduduk begitu mendengar perkataan Joy.
" Kenapa bisa begitu? Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Chanhee khawatir.
" Saya tidak tahu tuan muda. Yang saya tahu hanya, kemarin tuan muda Sehun berlari keluar dari kamar tuan Jongin sambil menangis setelah itu dia mengunci dirinya dikamar dan tidak membiarkan siapapun masuk sampai sekarang." Jawab Joy membuat Chanhee semakin khawatir dan bingung.
" Apa Jongin sudah membujuknya?"
" Itu dia tuan, tuan muda Jongin tidak ada dirumah."
" Kemana dia?"
" Tuan muda Jongin sudah pulang ke Amerika."
" APA?"
End of flashback
" Sehun, ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi ceritakanlah padaku." Chanhee mengelus punggung Sehun lembut, berusaha menenangkannya.
" apa yang terjadi Sehunie?" Chanhee hampir putus asa karena Sehun tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Sehun hanya terus terisak kencang dipelukan sahabatnya namun beberapa saat kemudian tangannya terjulur memberikan sepucuk surat yang berada dalam genggamannya pada Chanhee. Chanhee meraih perlahan kertas itu dan menatap Sehun dengan bingung. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun meski demikian Chanhee memutuskan untuk membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya.
Sehuna, maaf. Aku harus pergi dengan cara seperti ini.
Maaf aku harus pergi tanpa sempat pamit padamu. Sebenarnya sejak beberapa waktu lalu aku sudah berusaha mencari cara yang layak untuk berpamitan denganmu, tapi ternyata aku tidak bisa melakukannya.
Aku benar-benar minta maaf.
Sehun, kau selalu bertanya padaku, apa sebenarnya hubunganku dengan ayahmu dan apa alasanku kembali ke Seoul tapi aku tidak pernah menghiraukan pertanyaanmu itu dengan serius. Aku bukan tidak ingin menjawab pertanyaanmu Sehunie, tapi aku belum menemukan waktu yang tepat untuk menjelaskannya padamu. Tapi sekarang, aku akan memberitahu yang sebenarnya.
Aku, adalah anak pungut ayahmu.
Kau ingat aku pernah bercerita kalau ayahku dan ayahmu adalah sahabat masa kecil? Singkat cerita mereka terus bersahabat selama ini meski ayahku bukanlah pengusaha sukses atau milyader. Beliau hanya pemilik bengkel kecil-kecilan di Kansas namun ayahmu tidak pernah membedakan ayahku dan selalu menganggap kalau ayah adalah sahabat terbaiknya. Dan saat kecelakaan maut itu terjadi, aku sebatang kara. Ayahmu mengangkatku menjadi anaknya dan meski aku tidak mau bergantung padanya, beliau sudah banyak membantuku di masa-masa tersulitku. Aku banyak berhutang budi pada ayahmu.
Lalu, alasan sebenarnya aku kembali ke Seoul adalah karena ayahmu sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Beliau sadar ada sesuatu yang terjadi padamu hingga membuatmu tak bahagia. Ayahmu selalu berusaha mencari tahu, tapi sikapmu yang tertutup dan keterbatasan waktu yang dimilikinya malah membuat kalian semakin menjauh. Beliau tidak ingin memberondongmu dengan pertanyaan dan mendesakmu karena dia tahu itu hanya akan membuatmu semakin menjauhinya. Beliau ingin menyuruh orang untuk memata-mataimu tapi dia takut kau menganggapnya tidak percaya padamu dan akan membencinya. Beliau sangat mengkhawatirkan mu Sehunie. Dia hanya tidak mengerti bagaimana cara menunjukannya. Karena itulah, dia memintaku untuk kembali ke Seoul dan menemanimu untuk sementara waktu. Mendekatimu, mencaritahu alasan kenapa kau berubah, dan mengembalikanmu menjadi Sehun putra semata wayangnya yang dulu.
Sekarang kau sudah berubah dan itu artinya tugasku sudah selesai. Aku harus pulang ke Amerika tapi meski begitu kau harus tahu Sehun, bahwa aku selama ini menemanimu bukanlah semata-mata karena ayahmu memintaku. Itu semua kulakukan karena aku sepenuhnya peduli padamu. Aku sepenuhnya ingin berada disampingmu dan menjagamu.
Aku akan selalu mengenangmu Sehunie. Senyummu, marahmu, tangismu. Aku akan bawa semua kenangan itu bersamaku.
Maafkan aku tidak bisa lagi menemanimu disana tapi kau harus ingat selalu ada yang datang dan pergi dalam hidup ini Sehuna. Kau juga harus ingat, masih banyak orang yang menyayangimu. Berikan dirimu dan mereka kesempatan.
Kumohon, jangan membenciku dan jangan kembali menjadi Sehun yang dulu. Kita masih berteman kan Sehunie? Aku harap setelah ini kau masih sudi menyapaku jika kita bertemu lagi nanti.
Jaga dirimu baik-baik.
Salam sayang.
Jongin
Chanhee terpaku begitu selesai membaca isi surat itu. Dia tak menyangka ini akan terjadi. Sejujurnya, Chanhee tak tahu harus berkata apa untuk menghibur Sehun. Dia sama sekali tidak mengira hal seperti ini akan terjadi. Pemuda manis itu meremas surat Jongin dalam genggamannya dan memperkuat pelukannya pada Sehun, tangannya tak berhenti mengusap punggung sahabatnya, berusaha memberikan ketenangan batin yang sangat Sehun butuhkan.
" Kenapa ini terjadi lagi?" Bisik Sehun.
" Kenapa ini harus terjadi lagi? Padahal dia janji tidak akan meninggalkanku." Isak Sehun perlahan.
" Kenapa aku harus ditinggalkan lagi? Kenapa harus aku Chanhee? Kenapa selalu aku?"
Chanhee merasa kerongkangannya tercekat, demi Tuhan, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada sahabatnya ini. Dia tak tahu harus bagaimana menghibur Sehun. Sejujurnya saat ini pun dia ingin menangis melihat Sehun yang tampak begitu terpuruk. Ingin rasanya dia menghibur Sehun tapi saat ini tak ada satu katapun yang bisa dia ucapkan. Yang bisa dia lakukan hanya terus memeluk Sehun dan berharap kalau kali ini Sehunnya sudah lebih kuat dari sebelumnya dalam menerima kenyataan.
- Chanhee Point of View -
Sehun lagi-lagi melamun. Kusodorkan secangkir teh hangat padanya tapi dia hanya menatap kosong kedepan dan tidak menghiraukan kehadiranku. Aku menghela napas perlahan dan beranjak duduk disebelahnya.
" Sehun, setidaknya minumlah dulu kau pasti haus kan." Ku usap bahunya perlahan dan gerakanku membuatnya tersadar dari lamunan.
Perlahan, Sehun meraih cangkir yang kusodorkan padanya dan untungnya dia mau meminumnya walau hanya sedikit. Sehun menurunkan cangkir teh dari bibirnya dan dalam beberapa saat dia kembali larut dalam lamunannya.
Kuhela napasku sekali lagi. Aku tidak tahu bagaimana cara menghiburnya. Apapun yang kukatakan padanya saat ini pasti hanya akan terdengar klise. Aku tahu dia pasti sangat sedih setelah ibu, ayah, Chanyeol dan Kris, sekarang giliran Jongin yang meninggalkannya. Aku juga tidak tahu kenapa Sehun terus-menerus ditinggal orang-orang yang dia sayang. Kenapa takdir begitu jahat padanya?
" Chanhee.." Panggil Sehun pelan. Aku langsung menoleh begitu mendengar suaranya. Setelah berjam-jam akhirnya Sehun mau membuka mulutnya juga.
" Ya?"
" Apa yang salah denganku? Kenapa aku terus ditinggalkan orang-orang yang aku sayangi?" Tanya Sehun dengan suara bergetar. Mata beningnya sudah berkaca-kaca lagi. Aku segera menggenggam tangannya.
" Tidak ada yang salah denganmu. Jangan berpikir seperti itu." Kugelengkan kepalaku kuat-kuat dan dapat kulihat air mata mulai menetes lagi di wajah cantiknya.
" Padahal aku sangat mencintainya sama seperti aku mencintai Chanyeol, tapi kenapa—" Sehun tak mampu melanjutkan perkataanya lagi dan langsung menghambur kepelukanku.
" Kau mencintainya?" Bisikku pelan. Aku dapat merasakan Sehun mengganguk pelan di bahuku.
" Dia yang membuatku punya alasan untuk tersenyum lagi." Bisik Sehun
" Kalau kau memang mencintainya, lalu kenapa kau tidak mengejarnya?"
Sehun perlahan melepaskan pelukannya padaku dan menatapku lekat-lekat seakan aku baru saja mengatakan hal yang rumit padanya.
" Apa maksudmu?"
" Kenapa kau tidak menyusulnya dan buktikan kalau kau memang mencintainya?" Ujarku tenang.
" Kau gila? Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku?" Sehun mengernyit menatapku.
" Orang bodoh pun pasti tahu kalau Jongin mencintaimu Sehun?"
" Apa kau tidak baca suratnya dengan baik Chanhee? Dia kesini hanya karena permintaan ayahku—"
" Tapi dia juga mengatakan kalau dia ingin berada disampingmu dan menjagamu dengan sepenuh hatinya!"
" Dia bisa saja berbohong."
" Sehun, dia tidak punya alasan untuk berbohong. Kalau dia berbohong, dia tidak akan repot-repot menulis surat sebelum pergi meninggalkanmu."
" Kau sendiri yang mengatakannya Chanhee. Dia yang pergi meninggalkanku." Sehun tetap keras kepala membuatku mendesah gusar.
" Sehun, ayahmu memintanya kembali. Menurutmu apa yang bisa dia lakukan?"
Aku mencoba memaksanya berpikir rasional dan bukan berprasangka buruk. Aku yakin kalau sebenarnya Jongin terpaksa meninggalkan Sehun. Aku yakin Jongin juga mencintai Sehun. Sehun terdiam lama menatapku tanpa mengatakan apapun. Aku rasa, aku perlu mendorongnya sekali lagi. Agar Sehun mau membuka mata untuk kemungkinan baik dan mengambil keputusan yang benar untuk kali ini.
" Apa menurutmu dia punya pilihan? Kau harus mengejarnya Sehun." Ujarku.
" Tapi—"
" Oh Sehun—"
" Dia anak angkat ayah. Mungkin dia hanya menganggapku sebagai adiknya. Mungkin dia hanya menyayangiku sebagai saudaranya." Sehun kembali beralasan.
Aku menyipitkan mataku dan menatap sahabat kecilku ini baik-baik. Aku dapat melihat sesuatu mendominasi dalam sorot matanya. Ketakutan. Ya, aku bisa melihat rasa takut terpancar dari matanya.
" Sehun, sebenarnya apa yang kau takutkan? Kau takut Jongin tidak mencintaimu, atau kau hanya takut untuk kembali memulai suatu hubungan baru?" Tanyaku perlahan. Sehun menghindari tatapanku dan semuanya kini terasa jelas bagiku.
" Sehun, kau tidak bisa terus menghindari masalahmu. Dulu kau meninggalkan Chanyeol begitu saja saat dia direbut temanmu. Kau tidak pernah sekalipun meminta ayahmu untuk tinggal menemanimu. Kau melepaskan Kris saat dia ingin menikah. Kau tidak pernah berusaha mempertahankan apa yang kau punya. Kau selalu menghindar dari masalahmu dan bersembunyi dalam rasa takutmu." Aku tahu mungkin perkataanku terdengar kejam tapi Sehun tidak bisa seperti ini terus.
" Kau tidak bisa terus larut dalam ketakutanmu Sehun. Setelah semua yang Jongin lakukan, kau tidak boleh begini." Aku berusaha menasihatinya. Air mata kembali menetes perlahan di pipi mulus Sehun.
" Susul dia Sehun. Kau harus cari sendiri sendiri kebahagiaanmu."
Sehun hanya terdiam memandangku dengan tatapan tak yakin. Dalam hati aku berharap agar kali ini Sehun menyetujui perkataanku. Kali ini dia perlu bertindak untuk kebahagiannya sendiri. Sehun membuka mulutnya perlahan, aku dapat merasakan keraguan dan ketakutan yang tersirat jelas di wajahnya. Kugenggam tanganya berusaha memberikan semangat dan dukungan agar dia berani mengambil keputusan yang dibutuhkannya. Namun sesaat kemudian hatiku terenyuh saat dia mengalihkan tatapannya dariku seraya menggeleng pelan.
" Aku tidak bisa."
To Be Continue...
A/N : Hi babies, Fi is back. Just one last chapter and this would be done. Anyway, dont be shy to ask me s'thing through the PM box, and if u by anychance stumbling upon a Goolhara account di Sosmed manapun dont be shy to say hello bcos that would be me. The one and only.
Thx so much for keep coming back and i say welcome to new subscribers and followers.
Reviews, subscribes and followers are love. Till next time babies, paipai ^^
