Chapter 7 END
Didalam stadium Arisa juga bertemu dengan 2 gadis lagi. yang teryata mereka saling kenal, yaitu Imamura Mana dan Fuchida Arisa. Chinatsu mengenal Fuchida. karena pernah satu SMP, sedangkan Mana merupakan teman main Fuchida. mereka berdua juga merupakan pacar dari generation of miracle seperti Fuchida yang merupakan pacar dari Midorima dengan satu sekolah yang sama dan Mana entah pacar atau teman karena Arisa ketika pertama kali bertemu dengannya bersama Kuroko. Kuroko hanya merespon datar seperti mereka berdua hanya teman biasa, namun, ucapan manja waktu itu seperti cemburu.
Setelah pertandingan Rakuzan dan Shutoku selesai dan yang lolos masuk final adalah Rakuzan dengan nilai yang sangat-sangat memukul mental tim Shutoku. Fuchida langsung pergi untuk melihat keadaan kekasihnya yang terlihat sangat syok dan pertandingan selanjutnya adalah pertandingan Seirin melawan Kaijou. Chinatsu terlihat sangat cemas ketika melihat kondisi Kise yang sedang bermain itu terlihat tidak baik. Setelah pertandingan selesai, Chinatsu langsung pergi karena menghawatirkan Kise yang kalah dari Seirin. Di ikuti Mana untuk bertemu dengan Kuroko karena berhasil masuk ke pertandingan final. Tidak dengan Arisa, ia tidak akan pergi menemui Akashi karena mungkin Akashi tidak mau melihat dirinya sekarang.
Besok adalah pertandingan terakhir. Siapa yang akan memenjadi tim basket SMA terkuat? Seirin melawan Rakuzan. Namun sebelum pertandingan yang ditunggu-tunggu itu akan ada pertandingan untuk menentukan juara ketiga antara Kaijou dan Shutoku, sayangnya Kise tidak diturunkan kelapangan karena cedera dikakinya alhasil Shutoku lah yang menjadi juara ketika Winter Cup.
Setelah pertandingan tersebut barulah pertandingan yang di nanti-nantikan tiba. Arisa kembali menonton sendiri. Ia dapat melihat Chinatsu bersama Kise sedang menonton di kursi penonton, begitu juga Fuchida bersama Midorima dan Takao. Sedangkan Mana, ia tidak terlihat sama sekali. Pertandingan pun dimulai. Pertandingan yang sengit dengan level diantara keduanya yang jauh berbeda di setiap quarter. Arisa tidak henti-hentinya berdoa walau ia ingin Akashi merasakan kekalahan walau Cuma sekali, namun ia juga tidak mau melihat tim mereka yang sudah berjuang kalah. Lama kelamaan didalam pertandingan, Arisa merasa ada yang berbeda dengan Akashi yang sekarang. Akashi yang sekarang bermain seperti Akashi yang membuat dia kagum. Arisa tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya didetik-detik terakhir hingga perjuangan Seirin berbuahkan hasil. Untuk pertama kalinaya Rakuzan kalah. Arisa tidak bisa menahan rasa sedihnya, ia menanggis dalam diam melihat Akashi yang telah berjuang habis-habisan harus menerima kekalahan untuk pertama kalinya. ia juga sedih melihat Akashi yang tersenyum dengan mata berkaca-kaca yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Keajaiban memang terjadi. Kemenangan yang tak terduga oleh orang yang tak terduga. Semua perkataan Arisa menjadi nyata. Akashi yang berada masih di lapangan menatap kearah bangku penonton seperti mencari seseorang. Sampai ia menemukannya, Arisa yang sedang menahan tanggisannya dengan menutupi wajahnya. Akashi menatapnya lembut.
Perlombaan Winter Cup pun ditutup dengan First place dari Seirin High dan runner-up, Rakuzan High, barulah third place dari Shutoku dan Kaijou yang masih termasuk tim yang berhasil masuk ke semi-final juga ikut berbaris bersama mereka. Arisa semakin tidak mau bertemu dengan Akashi ia takut Akashi akan marah karena ucapannya ketika itu benar-benar terjadi. Tapi, sepertinya pemikiran negatif Arisa tidak benar. Ketika pertandingan benar-benar selesai dan waktunya dia untuk pulang, Ia melihat tim basket Rakuzan seperti sedang menunggu seseorang.
"Ah…oujo-chan!" panggil Hayama melihat kearah Arisa yang baru saja sampai di aula utama stadium.
"Kalian sedang menunggu siapa?" tanya Arisa kepada tim regular Rakuzan.
"Sei-chan, ia tidak terlihat dari tadi." Jawab Reo.
"Oh, begitunya…tadi itu pertandingan yang hebat. Kalian semua keren. Aku berharap tahun depan bisa melihat kalian menang."ucap Arisa tersenyum bermaksud untuk menyemangati mereka semua. Tapi, walau Reo, Hayama dan Eikichi bisa bermain lagi tahun depan, tidak bagi Mayuzumi Chihiro yang sudah kelas 3, setelah ini pun ia akan segera berhenti dari tim.
"Kami pasti menang…"tiba-tiba terdengar seseorang dari belakang. Arisa pun langsung terkejut mendengar orang itu. pemuda bersurai merah itu entah kemana perginya sampai baru sekarang munculnya.
"Sei-chan, kemana saja kamu. Kita sudah harus pulang."
"Kalian masih menungguku, walau aku memberikan kekalahan kepada kalian?"
"Sei-chan, apa yang kamu katakan. Kau kan tadi bilang kita pasti menang dalam perlombaan-perlombaan tahun depan." Akashi hanya membalasnya dengan senyuman.
"Ayo pergi…!" pintah Akashi kepada anggota timnya.
Akashi lalu berjalan meninggalkan Arisa, Arisa berpikir kalau Akashi masih marah kepadanya, tapi teryata sebaliknya.
"Arisa…" Untuk pertama kalinya dari sekian lama Akashi tak pernah memanggilnya kini kembali memanggil dengan namanya. "Kamu mau tinggal disini atau ikut denganku?" ucapnya. Arisa agak terkejut mendengar perkataan Akashi namun itu membuatnya cukup senang.
"Hai…" ia lalu berlari menuju Akashi. Arisa merasa sangat senang teryata Akashi tidaklah membencinya.
"Nee…Seijurou-kun, kenapa kita tidak ke parkiran tempat bus Rakuzan…" tanya Arisa heran ketika Akashi tiba-tiba menyimpangkan jalannya ke jalan untuk keluar dari stadium yang lebih sepi.
"Sudah ku bilangkan, kamu mau tinggal atau ikut denganku." Arisa baru tersadar dengan kata-kata 'ikut denganku'. Yang teryata memang mengikuti Akashi. "Sudah selalu ku bilang padamu. Tak ku biarkan laki-laki lain mendekatimu."
Arisa hanya bisa terdiam, Akashi teryata tidak mau Arisa naik bus Rakuzan bersama yang lain, karena yang menjadi pemumpangnya kebanyakan adalah laki-laki. Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba berhenti didepan Akashi.
"Arisa, aku ingin kamu berjanji."
"Janji?"
Akashi membalikan badanya berhadapan dengan Arisa.
"Pertama jangan pernah meninggalkaku. Kedua jangan membuat laki-laki lain dekat denganmu cukup aku seorang dan ketiga jangan pernah mengatakan kau ingin memutuskan hubungan kita, aku tidak akan membiarkannya." Ucapnya dengan tatapan yang serius.
"Kalau begitu aku juga ingin kamu berjanji."
"Apa itu?"
"Jangan pernah mengabaikanku, perasaan orang yang diabaikan itu rasanya cukup sakit." Arisa tersenyum lembut kearah Akashi. Begitu juga sebaliknya Akashi tersenyum mendengar satu permintaan yang aneh tersebut. Karena setelah ini mana mungkin Akashi mengabaikan Arisa kembali.
"Aku berjanji." Jawab Akashi. Ia lalu menyentuh wajah Arisa dengan perlahan sebuah ciuman mendarat dibibir Arisa dan dilanjutkan dengan sebuah pelukan hangat dari Akashi. Arisa benar-benar senang bisa merasakan kehangatan dari seorang yang berhati beku seperti Akashi.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu…"
Beberapa hari setelah Winter Cup. Arisa diajak Akashi untuk menemaninya bermain Street Ball bersama anggota generation of miracle yang lain.
Sepertinya Akashi dan Arisa lah yang datang terlalu cepat, belum ada satupun yang datang. Arisa dan Akashi duduk berdua dikursi panjang yang berada dipinggir lapangan basket seraya Arisa memainkan bola basket yang dibawa Akashi.
"Arisa…"
"Nani?"
"Gomenasai…" ucap Akashi, Arisa agak heran mendengar Akashi meminta maaf kepadanya.
"Untuk Apa?"
"Sepertinya selama ini aku selalu menyakitimu."
"Daijoubu…selama Seijurou-kun masih memengang janji itu. bagiku Seijurou-kun tidak melakukan kesalahan apa-apa."
"Honto ni?" Arisa mengangguk mantap.
"Aku senang dengan Seijurou-kun yang sekarang. Itu menginggatkanku ketika masih di Teikou dulu ketika pertama kali aku menganggumimu."
Akashi tertawa kecil mendengar perkataan itu. "Kamu menganggumiku?"
"Apa yang lucu Seijurou-kun. Aku memang menganggumimu setelah itu mencintaimu." Kata Arisa yang mulai memperkecil nada bicaranya karena malu.
"Aku juga mencintaimu…" balas Akashi.
"Aku senang, aku bertemu denganmu. Kamu berbeda dari gadis yang lain. Aku tertarik denganmu karena kamu bisa menentang perkataanku. Walau pun di tentang kamu masih berusaha mencari perhatianku. Kamu gadis pertama yang mengatakan aku akan kalah." Ucap Akashi terlihat bangga bisa bertemu dengan Arisa. "Tapi, memang keyataannya seperti itu 'kamu pasti kalah oleh orang yang tidak terduga' " Arisa tidak menyangka teryata Akashi masih menginggat perkataanya ketika itu. Akashi lalu menatap Arisa dan lalu mengenggam erat tangan Arisa yang sendari tadi terus memutar-mutar kan bola basket tersebut dengan kedua tangannya.
"Selama masih ada aku didunia ini. Aku tak akan melepaskanmu."
"Aku berharap itu…" Arisa lalu menurunkan tangan yang dingenggam Akashi, ia mengenggam balik tangan Akahi yang dingin karena mulai memasuki musim dingin. Hingga mereka ketahuan oleh anggota generation of miracle yang baru saja datang, mereka menyoraki Akashi, terutama Kise dan Aomine dengan suara keras dan siulan dari Aomine hingga mereka berdua mendapat hukuman dari mantan kaptenya. Bukan hanya Momoi seorang gadis yang datang, Pacar Kise, Kaminaga Chinatsu; pacar Midorima, Fuchida Arisa dan entah pacar atau fans yang selalu ada bersama Kuroko, Imamura Mana. Kuroko datang dengan nafas yang tersengal-sengal. Momoi yang kebetulan membawa kamera ingin berfoto dengan mantan satu timnya. Momoi meminta tolong Arisa untuk memotokannya. Setelah itu mereka bermain basket bersama. Momoi mengajak Arisa, Chinatsu, Fuchida dan Mana untuk bermain dua lawan dua dan dirinya ada wasitnya.
Mereka semua antusias termasuk Arisa yang memang sangat menyukai permainan basket ini.
"Shiganori Arisa-san, Kochi-kochi…kita main." Ajak Imamura Mana bersemangat.
"Chinatsucchi, Kamu harus menang-ssu!" teriak Kise semangat.
"Berisik! Jangan buat aku malu…"
"Fuchida-san, jangan sampai kamu terluka karena itu merepotkan-nanodayo." Ucap Midorima seraya ia membetulkan letak Kacamatanya.
"Setidaknya kau menyemangati aku, dasar tsundere megane!" teriak Fuchida kesal mendengar dukungan yang sama sekali tidak membuatnya semangat.
"Mana-san, Ganbarekudasai." Ucap Kuroko dengan nada yang datar tak bersemangat. Tetapi teryata cukup membuat Mana bersemangat.
"Okay, Kuroko-kun!"
"Tetsu-kun semangati aku juga!" Momoi tiba-tiba mendorong Mana yang dari tadi melambaikan tangannya kearah Kuroko. Teryata antara Momoi dan Mana terjadi perang dingin karena Kuroko.
"Mereka semua menyenangkan ya Mine-chin. Aku jadi ingin memiliki pacar juga…"ucap Murasakibara yang terus makan cemilan yang ia bawa tadi kesini.
"Hah…mendokusai, aku ingin pulang saja."
Arisa melihat lawan didepannya yaitu Chinatsu dan Fuchida yang mulai fokus karena akan segera dimulai permainannya.
"Arisa…" Arisa lalu menoleh kearah sumber suara itu berasal. Akashi tersenyum menatap Arisa. "Kalahkan mereka…"
Arisa ikut senang teryata ia juga disemangati oleh Akashi. "Hai…"
Permainan pun dimulai Momoi mulai melempar bola tersebut Arisa dan Fuchida. pun menjadi jumper yang merebut bola tersebut. Permainan pun mulai menyenangkan. Tetapi ternyata wasitnya tidak memperhatikan jalanya permainan ia malah sibuk menarik kembali Aomine yang mau pergi.
"Ryouta! Shintarou! Tetsuya!" panggil Akashi tiba-tiba kepada ketiganya membuat mereka merasakan aura yang mengerikan keluar dari Akashi. Perasaan mereka bertiga mulai tak enak ketika Akashi memanggilnya tiba-tiba.
"Jika terjadi apa-apa pada Arisa, Kalian tau akibatnyakan?" ketiganya meneguk ludah masing-masing, "…akan ku gunting-gunting kalian…" dengan tatapan bagai seorang pembunuh hanya dengan meliriknya membuat ketiganya merinding ketakutan.
"HIIII! Kenapa kami yang jadi sasarannya?" regek Kise ketakutan, "Chinatsucchi, pelan-pelan saja mainnya." Nada Kise seperti ingin menanggis karena saking takutnya pada sang pemilik mata emperor eyes.
"Hah? Tadi kamu menyuruhku supaya menang, kenapa jadi pelan-pelan?" ucap Chinatsu yang mulai kesal seperti tidak menginginkan Chinatsu menang. Chinatsu sendiri tidak tau kalau nyawa pacarnya sedang dipertaruhkan. Begitu juga dengan Midorima,
"Fuchida-san, berhati-hatilah…kata ramalan Oha-Asa hari ini, bintang Cancer berada diurutan terakhir."
"Seharusnya kamu menyemangatiku Baka Megane!"
"Akashi-chin, Kuroko tidak ada…" panggil Murasakibara yang menoleh kiri kanan untuk mencari pemuda bersurai baby blue tersebut yang ternyata menghilang dengan misdirection-nya.
"Apa Kuroko-kun menghilang!" Mana terlihat sangat panik karena begitu saja ditinggal oleh Kuroko yang pergi entah kemana. Arisa yang terhenti permainanya hanya tertawa melihat mereka sibuk sendiri, Akashi yang melihat Arisa tersenyum bahkan tertawa membuatnya bahagia. Akashi lalu berlari kearah Arisa dan merebut bola yang ada ditangan Arisa dan langsung melempar kearah ring lawan.
"Akashicchi curang!" teriak Kise yang tidak terima Akashi membantu Arisa memasukan bola ke ring yang dijaga Chinatsu.
"Salah sendiri kenapa tidak dijaga."
"Kalau begitu aku akan merebut kembali satu angka itu, Ayo Chinatsu."
"Hai-hai…" akhirnya Kise dan Akashi ikut bermain dengan pasangannya masing-masing, sedangkan Fuchida sedang menceramahi Midorima dan Mana sedang sibuk sendiri mencari Kuroko yang jelas-jelas sepertinya sudah tidak ada disekitar lapangan basket itu. Hari ini benar-benar hari yang sangat membuat Arisa bahagia ia dapat bermain bersama Akashi, dan dapat melihatnya bersemangat ketika bersamanya. Arisa sangat beruntung bisa mengenalnya, ia sangat beruntung ketika itu ia berpapasan dengannya, ia juga sangat beruntung ia bertatap muka untuk pertama kalinya dihari kelulusannya. Jika tidak, mungkin takdir ini tidak akan pernah ada. Arisa senang ketika itu mengangguminya, karena perasaan kagum itu berkembang menjadi perasaan cinta. Bersama Akashi disamping Arisa sangat membuatnya bahagia.
THE END
