Disclaimer: J.K Rowling
Warn: Male x Male, AU
.
.
Part 7 _ Panic Attack
Lari dari kenyataan adalah hal yang yang paling Harry inginkan sekarang.
"Potter, sudah berapa kali kubilang, pegang leherku yang ERAT."
Demi celana dalam Merlin, Harry James Potter ingin lari dari kondisi yang menyebabkan tubuhnya panas dingin disertai dengan ganggungan pendengaran yang berkepanjangan.
Ya, kondisi yang mengharuskannya dalam satu ruangan dengan orang yang paling tak ia ingin temui sejagad raya. Dengan jarak tak lebih dari sepuluh sentimeter, desah nafas yang terasa, hangat tubuh orang yang lebih tinggi darinya, dan tatapan yang membuatnya mati rasa seluruh tubuh.
Bukan, bukan, ia tidak sedang dalam keadaan yang mirip dengan drama siang yang ditonton Sirius, bukan adegan yang mengisahkan kisah romantis antara protagonis dengan kekasihnya yang akan melakukan adegan itu dan anu. Hanya saja, keadaan ini hampir sederajat dengan keadaan adegan itu.
"One, two, three,f─OUCH! Potter! Samakan dengan iramaku, Potty!"
"Siapa yang kau panggil Potty hah! Kau yang tak bisa menyamai iramaku, Ferret!"
Ya, mereka sedang latihan dansa. Tepatnya di ruang keluarga kediaman Malfoy. Mengapa di kediaman Malfoy? Karena libur Natal yang membuatnya coretdipaksa datang ke kediaman Malfoy serta embel-embel "Tunangan Draco Lucius Malfoy yang terhormat" yang mengharuskannya datang ke sana untuk menemui kedua orang tua Malfoy.
Meringis meratapi nasib, Harry pun memperhatikan gerak langkah kaki Draco yang sesuai dengan irama lagu. Kaki panjang yang hampir ia tak bisa ia ikuti itu terus melangkah dengan anggun layaknya seorang angsa. Sialnya, ia merasa ia sebanding dengan bebek jelek yang tak bisa mengikuti gerakan sang Angsa. Hah.
"Oi Potter, jangan lihat kakiku. Perhatikan wajahku!" Dengus Malfoy kesal sambil menarik wajah Harry hingga tepat di depan wajahnya. Sepuluh detik terlewat dengan keadaan awkward, hingga Harry melepaskan diri dari Draco.
"Cukup! Break, break!" Harry melenggang pergi sambil menarik handuk yang tersedia di kursi dekat gramophone yang masih mengalunkan nada lembut.
"Oi, kita baru saja istirahat, kau masih meminta lagi?" sindir Draco sambil mendudukkan dirinya di atas sofa hijau tua. Mendengus kesal, Harry memicingkan matanya ke arah Draco.
'Memangnya ini semua salah siapa, Hah?!' dengus Harry sambil meneguk jus labu.
Padahal ia memiliki segudang rencana yang ia lakukan di saat libur Natal. Menonton televisi, membaca buku, menggoda Kreacher serta petualang dengan Sirius menyusuri jalanan kota London yang asing di matanya.
Oke, itu memang bukan rencana penting. Tapi setidaknya ia ingin istirahat dari segala ocehan Malfoy yang belakangan ini terdengar oleh telinganya. Yang benar saja, ia, Harry James Potter, yang dulu terkenal musuh bebuyutan Malfoy sekarang dirinya tak boleh jauh lebih dari 3 meter dari tunangannya itu. Jika ia jauh sedikit dari Malfoy maka deretan pertanyaan teman kelasnya atau dari Professor-Professor di Hogwarts akan ia hadapi. Entah ini sengaja atau tidak ia tak tahu. Hanya saja di saat ia tak ingin berada dekat dengan Malfoy, justru ia semakin dekat dengannya.
Masalahnya, jika ia dekat dengan Malfoy, ia sangat merasa tak nyaman dengan anak cecunguk itu. Nafas yang sesak, dada bergemuruh dan ia merasa suhu badannya semakin naik. Intinya, dekat dengan Malfoy membuat dirimu menjadi penyakitan, begitulah pikir Harry.
Namun, ketidak nyamanan ini semakin terasa aneh. Kadang kala jika Malfoy sedang berbincang dan tertawa penuh kebahagiaan dengan teman seasramanya, baik itu lelaki atau perempuan, dadanya terasa sesak. Sementara jika Malfoy dekat dengannya, remaja bermata abu itu pasti selalu mencibir dan kalaupun tertawa, ia pasti tertawa di atas penderitaan Harry.
Karena itu, belakangan ini, Harry selalu menjaga jarak dari Malfoy. Namun apa daya Aunt Cissa justru mengajaknya untuk menginap di kediaman Malfoy selama liburan Natal. Oh senangnya.
"Oi, kalau kau punya waktu untuk bengong seperti itu, kenapa tidak kau pakai untuk berlatih menggerakkan pantatmu, Potty."
"Oh? Tak kusangka ternyata dari tadi pandanganmu itu ke arah pantatku ya? Perlukah kuhubungi Kementrian Pelecehan Seksual agar menangkap Pelaku Pelecehan Seksual yang berdiri di depanku ini segera, Ferret?"
Adu pandang saling bunuh pun tercipta.
"Aih, kalian sangat mesra ya!"
Eh.
"Mother!"
"A-Aunt Cissa!" Narcissa mendelik pelan ke arah Harry dan menggelengkan kepalanya.
"Sudah kubilang berapa kali, Harry? Panggil aku 'Mom'! Sebentar lagi kan kau menjadi menantuku. Masa kau tetap memanggilku 'Aunt'?"
Harry menahan diri untuk tidak menjedukkan kepalanya ke gramophone.
"E-Eh iya, M-Mom Cissa." Narcissa tersenyum puas.
"Nah, karena kalian sedang break, aku ingin bertanya kepada kalian." Harry dan Draco saling melirik satu sama lain. Mendengar tak ada jawaban, Narcissa pun mendudukkan dirinya di atas sofa hijau tua di sebelah Draco dan melambaikan tangannya ke arah Harry lalu menepuk tangannya di atas sofa, gestur agar duduk di sebelahnya.
Meneguk ludah, Harry pun berjalan dan mendudukkan dirinya di antara Narcissa dan Draco, namun tetap menjauhkan dirinya dari kaki jenjang Pewaris Malfoy itu. Takut ketularan penyakit dari Draco lagi, pikir Harry.
"Di antara kalian, siapa yang akan memakai gaun?"
Hening.
Menelengkan kepalanya, Harry tersenyum bingung. Apakah ia memang semakin tak bisa mendengar atau ia─
"Apakah Harry yang akan memakai gaun? Kalau untuk Harry, gaun warna emerald pasti senada dengan bola matamu ya!"
─menjadi tuli dan mendengar jikalau Narcissa menyuruhnya mengenakan gaun.
Hah?!
"EEEEEHHHH?!" teriak Harry dan Draco bersamaan.
' v '
.
.
"Akan kuperjelas 'Mione, ini bukan ideku."
"Ya, Harry aku tahu. Hei, menurutmu, lebih bagus warna silver ini atau hijau mint ini?"
"Warna mint. Oi, aku serius, Mione. Bisakah kau menanggapiku dengan sama seriusnya?" dengus Harry sambil memperhatikan sahabatnya yang masih asyik menatap deretan kalung warna warni di etalase. Menghela nafas, Hermione pun menatap Harry.
"Ya, perhatianku ada padamu, Mr. Malfoy-wanna-be." Alis Harry berkedut.
"Seingatku, margaku masih Potter, Mrs. Weasley-wanna-be." Hermione tersenyum nakal dan mengalihkan pandangannya ke arah kalung warna mint yang disodorkan oleh pegawai toko.
"Ya Harry. Aku mendengarmu kok. Aku pun tahu persis bahwa ide 'Kejutan Crosdressing Mr. Potter─Sang Menantu Keluarga Malfoy─ di Pesta Pertunangan Penuh Kejutan' bukanlah darimu."
Harry berjengit saat mendengar sebutan headline khusus itu.
"Lalu kenapa kau yang paling semangat saat Aunt Cissa mengajakmu untuk berbelanja?!" Gemeretak gigi yang menahan amarah terdengar dari mulut Harry. Ia menatap jijik saat Hermione mendekatkan kalung hijau mint itu di lehernya. Hermione mendengus.
"Mana mungkin ajakan dari mertua temanku kutolak! Lagipula apa kau mau pergi jalan-jalan dengan keluarga Malfoy sendirian?" Mengerutkan dahinya, Harry mencibir. Menatap Narcissa yang sedang berbincang penuh kebahagiaan dengan Draco yang menanggapinya dengan senyum cemerlang sejuta watt. Bukannya dia memperhatikan senyum Draco itu ya. Dia hanya tak sengaja memandang lebih dari yang seharusnya ke wajah tampan pewaris Malfoy itu.
...Oke, sepertinya ia harus memeriksakan matanya lagi. Rabunnya bertambah, mungkin.
"Nak Harry! Coba gaun ini! Apakah cocok dengan ukuranmu?"
Sang calon Mertuanya itu menyodorkan gaun berwarna hijau lumut selutut yang sepadan dengan mata hijau cemerlangnya. Berjengit menahan jijik, Harry menyunggingkan senyum sambil mencicit, "Co-cocok, Aunt Cis─Narcissa melirik tajam ke arah Harry─ M-Mom."
Tersenyum puas, Narcissa kembali menarik gaun hijau itu dan berjalan dengan langkah - langkah panjang ke arah Madam Malkin yang seperti tersihir Rectusempra juga tertawa lebar menyamakan. Mendengus kecewa karena ia tidak bisa melawan calon mertuanya sama sekali, Harry pun mendudukkan dirinya di kursi terdekat. Memandangi jarum dan benang yang bergerak sendiri membentuk sebuah syal berwarna warni serta beberapa penyihir wanita yang terlihat tertawa senang melihat gaun mereka yang terlihat cantik di tubuh mereka.
"Tak kusangka kau mau memakai gaun, eh Potter? Apa sebenarnya ini memang hobi tersembunyimu?" Dahi Harry berkedut kesal.
"Apa maksudmu, Malfoy?"
Harusnya Harry tahu kalau omongan Malfoy itu hanyalah keisengannya belaka. Tapi salahkan egonya yang terhitung tinggi di saat musuh besarnya menggodanya. Hermione menahan lengannya namun ia abaikan dengan mendekati Draco.
"Bukankah jangan-jangan kau sendiri yang sebenarnya ingin memakai gaun, Malfoy?"
"Oho, tentu tidak, sebab aku tahu pasti karena kau yang paling antusias untuk memakainya, Potter."
Ejekan-ejekan itu pun berlangsung beberapa saat hingga celetukan Narcissa yang menggaung di satu toko Madam Malkin.
"Ah, kalian mesra sekali ya! Tapi untuk ciuman di publik lebih baik jangan lama-lama ya, Draco dan Harry sayang!"
Hening.
Secara perlahan namun pasti, Harry menjauhkan kepalanya yang ternyata sudah berjarak satu inchi dari kepala Draco yang terjulur ke arahnya. Mengabaikan bisik bisik nakal yang membicarakan hubungan panas mereka, Draco dan Harry pun hanya diam sepanjang acara belanja itu selesai.
' _ '
"Dad! Dad akan memakai gaunkah? Uaaahh pasti manis sekali!"
Manis?
"Hei! James! Jangan lupa dengan Father yang pastinya tampan dengan tuxedo hitam itu! Kalau aku sudah besar nanti aku mau memakai baju yang sama dengan Father pokoknya!"
Tampan?
"Pffttt─ ya, Scorpy, James. Father dan Dad kalian nanti pasti akan tampil sangat menawan dan serasi bagaikan mereka telah hidup berumah tangga lebih dari lima puluh tahun."
Lima puluh tahun?!
"Aih, aku penasaran Harry seperti apa nanti. Siapa tahu lebih cantik darimu, Mione?"
Buku '1000 Ramuan Penawar Sihir Unik' tebal itu terlempar ke kepala berambut merah.
"Semoga acara kejutan itu bisa berjalan lancar! Setidaknya aku mau melihat raut muka para lelaki yang memandang Harry dengan pandangan mesum!"
"Oi, 'Mione."
"Eh? Apa aku salah bicara, Harriet?!" seru Hermione kaget sambil menutup mulutnya. Tentunya itu akting belaka.
Helaan nafas panjang dikeluarkan Harry sambil membetulkan posisi duduk James yang ada di pangkuannya. James langsung membalikkan tubuhnya dan menyentuh kedua pipi Harry.
"Dad, jangan menghela nafas begitu. Nanti jadi kayak kakek-kakek lo."
'Sejak kalian ada di sini, tubuhku rasanya memang menua,' gerutunya kesal.
"Kalian, nanti akan ikut juga kan di pesta pertunangan Harry dan Draco?" tanya Hermione sambil menepuk kepala James.
Di luar dugaan, James dan Scorpius menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kami akan mengikuti pelajaran tambahan dari Professor Dumbledore!" ujar mereka hampir bersamaan.
"He? Tak kukira? Kupikir karena ini acara penting ayah kalian, kalian pasti akan datang ke acara mereka! Ini acara pertunangan lo! Acara sebelum pernikahan akan berlangsung!" tutur Hermione. Beberapa kata-kata Hermione mengakibatkan Harry ingin menulikan pendengarannya.
Keduanya terdiam dan saling melirik satu sama lain.
Pintu ruangan pribadi milik Harry di kediaman Malfoy itu pun terbuka lebar menampakkan pewaris Malfoy yang berjalan penuh wibawa.
"Ah? Kalian semua di sini? Hei, Blaise, jangan melempar-lempar gelas piala itu, itu favoritku, kau tahu? Dan─ Harry, ikut aku. Ada yang mau disampaikan Mother di ruang keluarga." Draco mengedikkan bahunya dan menunggu Harry mengikuti dirinya.
"Ah, oke. 'Mione, aku titipkan anak-anak denganmu ya, dan Ron jangan menyentuh Fireboltku terlalu kencang. Kalau patah, kuminta ganti dua kali lipat."
Setelah melambaikan tangan ke arah James dan Scorpius yang membalasnya dengan lambaian tangan lebih cepat, Harry pun berjalan mengikuti Draco dan bertanya mengenai acara yang berlangsung dua hari lagi itu.
Ketiga orang remaja yang ditinggalkan saling menatap satu sama lain dan tertawa tertahan.
Siapa sangka dua orang yang biasa merapal mantra satu sama lain, bisa berbincang layaknya teman sedari kecil dan bisa memarahi temannya yang bertandang layaknya ayah dan ibu yang memarahi tamu yang seenak udel di kediaman mereka.
' v '
Acara pertunangan itu berlangsung meriah.
Berbagai tamu dari seluruh kalangan─yang kebanyakan adalah kalangan atas─ hadir dengan gaun ataupun jubah terbaiknya. Mempertontonkan kekayaan keluarga mereka dan saling bersaing satu sama lain walaupun tak terucap dengan kata.
Dan disanalah, Harry Potter, remaja lelaki tulen, berdiri di dekat tiang─ruang keluarga yang disihir menjadi ballroom megah─ kediaman keluarga Malfoy dengan memakai dress hijau lumut selutut dengan perhiasan kalung berwarna hijau mint yang menghiasi lehernya. Ditambah dengan make-up natural yang membingkai wajahnya serta rambut panjang palsu sepunggung yg disasak rapi membungkus penampilannya yang sangat elok.
Kacamata bundarnya ditinggalkan berkat ramuan mujarab yang dibuat khusus oleh Snape. Perawakan tubuhnya yang memang langsing namun berisi itu pun berubah menjadi lebih curvy layaknya tubuh wanita. Dadanya tetaplah bidang (yang mati-matian Harry meminta kepada Narcissa agar ia tidak diberikan ramuan penumbuh dada) namun Narcissa meminta agar Harry memakai sport bra sehingga walaupun bidang, tetap terlihat dua punuk kecil yang menghiasi dadanya.
Brilliant.
Berkat keinginan absurd calon mertuanya, ia diharuskan memakai baju perempuan dan berbagai asesorisnya. Semata-mata hanya karena Narcissa ingin memberikan kejutan kepada para tamu undangan yang terhormat. Entah berapa kali, Harry menghela nafas panjang dan mulai mengetuk-etukkan kakinya yang memakai sepatu hak pendek berwarna hijau lumut senada dengan gaunnya.
"Hai, mau minum jus labu ini?"
Alis hitam itu berkedut pelan.
Menengadah, Harry melihat sesosok pemuda tinggi besar berdarah Jerman yang setahunya bermarga Krum─ia melihatnya di tahun keempat tepat saat Turnamen Triwizard berlangsung di Hogwarts. Ia menahan untuk tidak berjengit menjauh saat pemuda kekar itu mendekatinya dan menyodorkan gelas jus labu di depan wajahnya.
"Te-terima kasih..." jawabnya pelan. Pemuda itu tersenyum puas lalu menyamankan posisinya yang berdiri di sebelah Harry. Dalam hati, Harry merutuk betapa tidak beruntungnya ia di malam ini.
"Kau sendiri?" tanyanya sambil mengedikkan bahunya.
"Err, ya?" Harry menjawab tak yakin. Ia memang sedang sendiri dan meratapi nasibnya. Kecuali kalau mata pemuda Jerman ini sedikit rabun dan melihatnya bersama dengan seseorang.
Ia seketika menyesali jawabannya ketika ia melihat mata hitam itu berkilat.
"Kalau begitu, mau berdansa denganku─ Putri Hijau Manis?" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya di depan dada Harry. Melongo mendengar ajakan gombal itu, Harry menatap pemuda itu seakan ada asap hitam keluar dari hidungnya. Di saat itulah ia baru menyadari, maksud 'sendiri' itu bukanlah keberadaannya tapi hubungan cintanya.
Panik menyusuri pikirannya, Harry langsung menggelengkan kepalanya dan berteriak melengking, "A-aku tidak bisa!"
Raut wajah pemuda Jerman itu mengerut kesal.
"Kenapa?" geramnya.
"Tentu saja karena aku laki-la─ah bukan─maksudku walaupun aku sendiri tapi a-aku sudah tidak sendiri!" jawabnya panik. Alis pemuda itu semakin berkerut. Kesal karena sudah dipermalukan dan bingung menjadi satu.
"Bukankah kau bilang kau sendiri? Apa kau bermaksud mempermalukanku?" Pemuda kekar itu memasuki teritorialnya dan semakin memojokkan tubuh langsing Harry ke tiang di dekat mereka. Harry berniat lari dari tubuh pemuda itu namun tangannya yang besar menutupi pandangannya. Harry bersumpah, ia tidak akan berurusan lagi dengan orang Jerman yang mendudukkan harga dirinya di atas segalanya.
Kumohon, Merlin atau siapapun itu tolong turunkan Malaikatmu dan bantulah anak dombamu yang sedang menderita i─
"Harriet, ternyata kau di sini! Aku mencarimu ke mana-mana, lo?"
─ni. OH MERLIN TERNYATA KAU MEMANG PENYELAMAT DOMBA KECILM─Harry langsung berbalik menatap penyelamatnya yang berdiri di sebelah mereka.
Namun darah seketika berkumpul di perutnya ketika ia melihat sesosok pria yang paling tidak ingin ia temui. "Bisakah kau melepaskan tanganmu dari gadisku, Tuan Victor Krum?" ujarnya sambil tersenyum keji.
Professor Riddle.
Krum terlihat kaget dengan kehadiran pria yang memiliki sorot mata yang tidak berbeda dengan psikopat di jalanan. Ia pun berdecih dan tanpa berkata apapun, segera pergi dari Harry dan Riddle.
"Ah, ternyata feromonmu sangat kuat sekali ya, Mrs. Harriet."
"Panggil aku dengan nama itu sekali lagi, akan kumasukkan ramuan bisul di jus labumu besok pagi, Professor Mesum."
"Oh, apa kau lupa, nona, kalau sekarang juga bisa saja aku akan menyibak rokmu dan memperlihatkan gajah kecil yang melambai kepada seluruh tamu undangan yang nantinya akan berpikir kau adalah remaja ber-fetish crossdress."
Harry terdiam. Adalah salah langkah jika ia berani melawan Professor yang terkenal dengan keras kepala dan kemesumannya tak jauh berbeda.
"Tapi tak kusangka, kalau kau ternyata mau berpakaian seperti ini hanya karena permintaan Narcissa." Senyum liciknya membuat Harry tak nyaman. Mendengus kesal, Harry mencoba mengabaikan cemooh pria paruh baya yang membahas permintaan egois calon mert─eh tunggu sebentar─
Dari mana Riddle tahu bahwa ini adalah ide Aunt Cissa─
Ah.
Tentu dia tahu.
TENTU DIA TAHU SEGALANYA. TENTU DIA TAHU KALAU DIA YANG─
"...jangan bilang kalau ide ini adalah idemu, Professor?"
Bola mata hitam itu bergulir ke arah ballroom dan bibirnya tertarik pelan ke atas. Harry seketika mencelos dan merasakan darahnya mengalir turun ke perutnya.
"Ah, instingmu tajam juga ya, Potter?"
Melemparkan gelas jus labu yang dipegangnya sedari tadi─ namun ditangkap dengan mudah oleh Riddle, menendang kaki Riddle dengan hak sepatunya─yang berhasil dihindar, dan merapal mantra bisul ke arah Riddle─yang sayangnya malah terkena pemuda bermuka mesum yang ada di sudut ballroom.
Ia seharusnya tahu, bahwa tak mungkin Aunt Cissa memiliki ide yang jumawa seperti ini. Tak mungkin kalau keluarga aristokrat yang memiliki tata krama dan sederetan peraturan keras tak tertulis di sikap dan perilakunya, tak ada hujan ataupun badai memintanya untuk berpakaian wanita dan diperkenalkan ke seluruh tamu undangan.
Dammit.
Ia sepenuhnya masuk ke dalam perangkap menjijikkan Riddle. Menggeram marah, Harry tak sadar dengan kehadiran orang di belakangnya yang memanggil namanya. Di saat Harry akan merapal mantra penumbuh jerawat─mantra ajaran si Kembar Weasley─ di pantat Riddle yang telah berjalan setengah berlari ke arah kerumunan, tubuhnya ditarik ke belakang secara tiba-tiba.
"Aku memanggilmu dari tadi, Potter Idiot," gerutu Malfoy yang sekarang ada tepat di sebelah wajahnya.
Nafas hangat yang menguar di dekat telinganya dan aroma tubuh khas Malfoy yang memasuki teritorial Harry mulai membuat hawa panas di sekitar mukanya. Dalam sekejap, Harry langsung menjauhkan diri dari kehangatan yang memabukkan itu dan berkata dengan gagap, "A-ada apa, Malfoy?!".
Mengerutkan alisnya, Draco mengedikkan bahunya ke arah ballroom. "Mother menyuruh kita untuk segera ke tengah-tengah ballroom. Ia menginginkan kita yang memulai acara dansa ini, Potty." Draco pun mengulurkan tangan kirinya ke arah Harry. Mendesah pasrah, Harry pun meraih tangan Draco dan berjalan mengikuti Draco yang mengangkat wajahnya dan menegapkan tubuhnya layaknya seorang bangsawan.
Yang entah kenapa─ia curiga matanya terkena kutukan sihir hitam─, di mata Harry, Draco terlihat gagah dan tampan.
o v o
Segalanya seperti berjalan cepat.
Setelah ia memasuki ballroom dan memulai gerakan dansa waltz, Harry merasa panik dan mual yang sempat ia rasakan sebelumnya hilang seketika. Menikmati gerakan dansa yang pelan namun mengikuti iringan lagu dan langkah kaki yang seperti sudah menghafal gerakan selanjutnya, membuatnya rileks dan tertawa kecil.
Draco yang sangat berbeda sekali di saat mereka latihan pun menjadi salah satu alasan Harry sangat menikmati dansa itu. Ia tak menyangka bahwa Draco bersikap sangat gentleman dengan mengarahkannya ke gerakan selanjutnya sambil tersenyum sombong namun menenangkan. Ia pun tak berkomentar apa-apa di saat Harry tak sengaja menginjak kakinya di langkah ke tujuh. Ia hanya mengeratkan pelukannya di sekitar pinggang Harry dan mengayunkan tubuhnya─hampir mengangkat tubuhnya ke atas─ lalu memutar tubuhnya.
Harry hampir berteriak kecil saat Draco benar-benar mengangkat tubuhnya. Keinginan untuk memukul rambutnya yang klimis segera hilang di saat ia melihat tawa Draco yang sangat berbeda dengan tawa yang biasanya. Biasanya, tawa yang ia lihat kalau bukan tawa licik pasti tawa merendahkan.
Tawanya yang sekarang adalah tawa yang benar-benar dari hatinya dan ia terlihat lebih menawan.
Oke.
Mungkin Harry benar-benar dikutuk sihir hitam. Harry merutuk sambil menundukkan wajahnya yang lagi-lagi terasa panas ke tengkuk leher Draco. Ia terkejut saat kepalanya terasa berat yang ia sadari setelahnya bahwa Draco menaruh dagunya di atas kepala Harry dan mengeratkan pelukannya. Lagu yang mengiringi dansa berubah menjadi lebih slow seakan mengiringi gerakan dansa mereka─yang tak terlihat seperti dansa lagi karena mereka hanya menggerakkan badannya pelan sambil tak merubah posisinya.
Ia tahu harusnya ia segera menjauhkan tubuh Draco darinya. Tapi kehangatan yang lagi-lagi terasa memabukkan ini membuatnya hanya diam dan mengikuti gerakan Draco.
"Harry."
Harry pun mendongak pelan, menyusuri leher yang jenjang hingga bibir tipis yang terbuka sedikit dan berakhir di bola mata abu-abu yang bagaikan badai yang menatap lurus ke arahnya. Wajah itu semakin mendekat ke arahnya. Mengabaikan posisi mereka yang berada di tengah-tengah ballroom. Mengabaikan jeritan tertahan ataupun bisik-bisik yang terdengar olehnya. Ia pun menutup matanya dan menunggu─
"YAK! DANSA TELAH USAI! SAATNYA KITA KENALKAN, PASANGAN MESRA DI ABAD INI, DRACO LUCIUS MALFOY DAN UH-OH SIAPA PEREMPUAN MANIS ITUUU?! YEEAAAHHH! KEJUTAN YANG TENTUNYA MEMBUAT CELANA KALIAN MELOROT! PEREMPUAN MANIS ITU ADALAH TAK LAIN TAK BUKAN HARRY JAMES POTTEEERRRR!" Teriak Blaise memecahkan keramaian.
Yang Harry rasakan adalah gigi yang saling terantuk dan rasa sakit yang membuatnya menjerit tertahan.
o w o
Selama sepuluh hari, berita 'Harry Potter sang Crossdresser' tersebar luas di Hogwarts. Dari murid kelas satu hingga kelas tujuh membicarakan betapa cantiknya perawakan Harry ataupun betapa menjijikkannya hobi rahasia Harry. Harry menahan untuk tidak merapal berbagai mantra kepada murid-murid yang menatapnya sambil tertawa ataupun menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
Hermione dan Ron yang berusaha menaikkan moodnya pun sama sekali tak bisa mengubah topik pembicaraan. Scorpius dan James yang menatapnya dengan pandangan bangga serta kagum atas tampilan Harry di saat pertunangan─hasil cerita menggebu-gebu dari Blaise dan Hermione─ pun malah semakin menurunkan mood pemuda itu.
Tak pelak, Harry pun berjalan seloroh ke arah ruang pribadi milik professor Pertahanan terhadap Ilmu Hitam dan membuka pintu secara kasar lalu berjalan ke arah pria tampan itu.
"Aku. Meminta. Bayaran. Atas. Permintaan. Kurang. Ajarmu. Ke. Mom Cissa. SEKARANG JUGA, PROFESSOR RIDDLE!"
Gebrakan terakhir di meja kayu itu membuat Professor Riddle semakin menaikkan senyumnya. Tak ia sangka, muridnya yang ia kenal selama enam tahun ini bisa membuatnya takjub dengan penampilan wanitanya. Jika saja ia tidak bisa menahan hasratnya, bisa saja ia langsung memojokkannya dan mengajaknya bercinta. Sayang, ia masihlah teguh pada peraturan.
"Kau meminta bayaran apa, Potter? Kupikir kau senang dengan keadaanmu kemarin hingga kau hampir berciuman mesra dengan Malfoy di tengah pesta?"
Seketika Harry melongo dan wajahnya memerah sedikit demi sedikit. Tergagap dan menahan malu atas pernyataan Riddle, Harry berteriak di depan muka professor itu.
"ITU SEMUA KAN SALAHMU! SEKARANG AKU TAK MAU TAHU, KAU HARUS MEMBERIKANKU BALASAN ATAS TINDAKANMU!"
Ruangan itu hanya terdengar suara desahan nafas memburu dari Harry. Berlainan dengan sikap tenang yang Riddle tunjukkan di depannya. Kesal karena diabaikan, Harry pun siap berteriak lagi sebelum Riddle membuka mulutnya.
"Kalau kau memang sebegitunya ingin hadiah dariku─ maka kupikir hadiah ini adalah hadiah yang paling pas untukmu."
"Eh?"
"Hadiah dariku adalah sebuah petunjuk yang bisa membuka beberapa puzzle kosong yang ada di pikiranmu, Potter."
Bibir itu menyunggingkan senyum dan secara perlahan membuka kembali. Seakan terhipnotis, Harry hanya terdiam dan menunggu petunjuk apa yang akan ia katakan─
"James dan Scorpius bukanlah anak yang lahir dari jaman ini."
.
TBC
- James Hyperion Malfoy -
Perkembangan Father dan Dad menunjukkan perkembangan yang baik! Aku tak sabar dengan apa yang akan terjadi nanti! Semoga Father dan Dad jangan mengetahui rahasiaku dan Scorpy dulu.
Sebab kalau tidak begitu, rencana kami akan hancur! Gawat!
.
A/N :
Hai semua. /dirajam
Iya maafkan saya kok jadi apdetnya tiap setaun sekali. Udah kayak uang THR aja. /yha Mau beralasan "iya sana kena WB, kerjaan banyak dll dsb" juga ga bisa, toh fic ini jadinya ga bisa keluar brapa kali dalam setahun ( : 3
Baiklah. Saya ga bisa janji bisa keluarin kapan. Tapi sangat sangat berterima kasih buat kalian yang masih nungguin bahkan ada yg baru baca juga! Salam kenal semuanya! /lambaikan tangan /dirajam lagi
Kalau kalau ada yang suka datang ke event semacam Comifuro, ayo datang! Mari beli doujin saya! /dsepak /OOTwoy
Ah, makasih juga buat AR Keynes, Aristy, The Greatest Archer, Simbarella, dan Lia and Leo yang menyempatkan ngePM saya. Terima kasih banyak buat semuanya yg ngereview! /pelokerat
