Baddest Male

Summary:

Park Chanyeol ialah seorang lelaki tampan yang mapan. Mansion, jaguar, dan wanita adalah hidupnya. Ia sangat tahu bagaimana cara bersenang-senang dengan uangnya. Hidupnya baik-baik saja bahkan nyaris sempurna sampai akhirnya Byun Baekhyun mantan kekasihnya datang dan memintanya merawat bayi mereka. Apa kau bercanda?

Rated:

T+ (dianjurkan untuk 15 tahun ke atas)

Cast :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

And other EXO member.

Baekhyun sedang menunggu Chanyeol di halaman rumah. Pagi ini ia sudah membuat janji untuk bertemu ibunya di hotel. Sebenarnya Baekhyun tidak berencana mengajak Chanyeol, karena Chanyeol bukan solusi yang baik untuk diajak bicara dengan ibunya. Tapi apa daya ibunya memaksa ingin bicara dengan Chanyeol. Untungnya Chanyeol tidak keberatan saat Baekhyun menelponnya, hanya saja Baekhyun harus menunggu Chanyeol menyelesaikan rapat devisi yang memakan waktu sekitar dua jam lamanya.

Sebuah mobil audi hitam melewati pagar yang terbuka lalu masuk ke halaman. Chanyeol yang turun dengan stelan kantornya membuat Baekhyun tak bisa berbicara, bernapas, ataupun bergerak. Ia tak seharusnya begitu, tapi begitu melihat penampilannya, bukan hanya Baekhyun, Chanyeol bisa membuat wanita normal manapun menahan napas.

Dia tampak tampan dengan jas kantor hitam dan dasi tak terpasang dengan rapi di lehernya. Rambutnya berantakan sementara mantelnya berkibar. Dia masih mengenakan kacamata—yang mungkin lupa dia lepas karena begitu terburu-buru untuk menyusul Baekhyun—membuatnya jadi tampak lebih cerdas.

"Apa aku terlambat?", tanya Chanyeol terburu-buru.

"Tidak", Baekhyun menggeleng pelan setelah melihat jam perak yang melingkar di tangan kirinya.

"Baguslah, ayo pergi sekarang."

Selama perjalanan tidak ada pembicaraan, hanya ada suara musik yang terdengar di audio. Chanyeol fokus memperhatikan jalan sedangkan Baekhyun hanya bergerak gelisah memainkan jari-jarinya yang ada di atas pahanya. Saat lampu lalu lintas berubah merah, Chanyeol menghentikan mobilnya, ia mencuri pandang ke sebelahnya dan tidak sengaja menangkap gerakan gelisah Baekhyun.

"Apa yang kau pikirkan?"

Baekhyun menoleh kearah Chanyeol sekilas lalu kembali memandang keluar jendela.

"Tidak ada."

"Sayang sekali kau tidak pandai berbohong, bahasa tubuhmu mengatakan semuanya. Kau khawatir ibumu membahas pernikahan?"

"Sebenarnya aku lebih takut kau bicara dengan ibuku."

Chanyeol menarik senyum miring. Ia melihat lampu berubah hijau lalu menekan gasnya dengan hati-hati.

"Aku hanya bicara kenyataan Baekhyun."

"Kau sering mabuk-mabukan, tidur dengan banyak wanita lalu mencampakkan mereka, tapi kenapa berbohong sulit sekali kau lakukan? Lagipula ini demi kebaikan."

"Tidak ada berbohong demi kebaikan. Saat kau berbohong satu kali, maka kau perlu melakukan kebohongan lain untuk menutupi kebohonganmu yang pertama. Bukankah begitu?"

Baekhyun menatap Chanyeol dengan tidak suka lalu memutar bola matanya kearah lain.

"Jika kau tidak bisa bicara pada ibumu, maka aku akan membantumu menjelaskan semuanya."

"Apa yang akan kau jelaskan? Kau akan bilang aku mengandung anakmu dan kita tidak akan menikah karena kita bukanlah pasangan yang saling mencintai. Lalu saat ibuku merasa luka di hatinya kau akan menabur garam dengan mengatakan kenyataan lain yaitu aku hanya perlu berada disisimu selama tujuh bulan hingga anak ini lahir, hak asuhnya ada padamu dan aku pergi, lalu urusan kita selesai. Begitu?"

"Ya itu kenyataannya", jawab Chanyeol dengan tidak yakin.

"Apa kau ingin membuat ibuku pingsan?"

"Lalu kau punya rencana hebat seperti apa? Merancang kebohongan bahwa kita pasangan bahagia yang akan segera menikah serta mengasuh anak bersama? Bagus jika ibumu percaya lalu kembali ke Jepang, bagaimana jika dia ingin melihat putrinya naik ke altar sebelum ia pergi? Pikirkan ini baik-baik Baekhyun, tidak ada kebohongan yang sempurna. Cepat atau lambat ibumu akan tahu kebenarannya."

Baekhyun menghela nafasnya keras. Kepalanya berputar-putar mencari cara hingga membuatnya pusing, namun ia tidak bisa menemukan titik temu apapun. Apa ia harus percaya lagi pada Chanyeol dan membiarkan pria itu menghancurkan segalanya?

Chanyeol melirik Baekhyun lalu kembali fokus menyetir. "Percaya padaku ini akan baik-baik saja."

Chanyeol dan Baekhyun jalan berdampingan namun dengan jarak yang cukup jauh. Chanyeol segera menarik tangan Baekhyun hingga menempel dengan tubuhnya saat mereka sudah hampir sampai di restoran. Baekhyun terkejut sepersekian detik. Chanyeol bisa melihat ibu Baekhyun duduk di salah satu meja. Ia tidak ingin disangka mempunyai hubungan tidak harmonis dengan Baekhyun walaupun itu memang benar. Ia hanya ingin menghindari pertanyaan.

Mereka duduk di meja yang sama dengan ibu Baekhyun. Nyonya Byun terlihat menawan seperti biasa. Wanita itu mengenakan mantel bulu yang terlihat mahal dan tas kulit yang harganya ratusan juta. Keluarga Baekhyun memang terbilang mampu dalam urusan finansial. Ayah tirinya adalah CEO perusahaan elektronik terkemuka di Jepang dan almarhum ayah kandungnya meninggalkan puluhan penginapan yang kini dikelola oleh ibunya. Karena alasan itulah ibu Baekhyun sering bolak-balik Jepang dan Korea. Baekhyun sendiri menolak tawaran ibunya untuk mewarisi usaha ayahnya, ia lebih suka bekerja dengan hasilnya sendiri. Karena itulah ia mencari pekerjaan di perusahaan Kris. Awalnya ia merintis karirnya dari nol. Pegawai magang, pegawai tetap, hingga naik jabatan menjadi manajer perencanaan. Karirnya sedang cemerlang, namun siapa sangka kehamilannya membuat dunianya jungkir balik seperti sekarang.

"Maaf membuat anda menunggu lama", ujar Chanyeol.

"Tidak apa-apa, aku yakin CEO sepertimu cukup sibuk", jawab ibu Baekhyun. Chanyeol terkejut saat mendengar wanita di depannya tahu pekerjaannya, ia menyangka Baekhyun memberitahukannya. Tapi Baekhyun tidak pernah mengatakan itu. Baekhyun yakin koneksi ibunya bekerja dengan baik hingga mendapat informasi secepat ini.

"Kau tentu tahu alasanku meminta kalian bertemu disini", ujar ibu Baekhyun tenang. "Aku ingin mendengarkan penjelasan."

"Apa yang ingin ibu dengar? Ibu tahu aku sedang mengandung", kata Baekhyun.

"Kau bangga dengan bayi di kandunganmu?"

"Apa?"

"Kau bicara seolah-olah tidak melakukan apapun. Bagaimana jika ayahmu tahu ini?"

Baekhyun menghela nafas berat. Matanya memandang ke bawah.

"Maafkan aku, tapi anda bisa bicara denganku", sela Chanyeol.

Ibu Baekhyun menatap Chanyeol dengan menahan geram. Sebenarnya sejak kemarin ia hanya berusaha tenang karena tidak ingin membuat keributan di malam hari ditambah lagi itu adalah kediaman orang lain.

"Apa orangtuamu tahu ini?"

Chanyeol diam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan ibu Baekhyun.

"Tidak."

Nyonya Byun tersenyum sinis. "Pantas saja kalian hidup dengan bebas. Haruskah aku bicarakan ini dengan orangtuamu?"

Chanyeol mengeraskan rahangnya. Jika ayahnya tahu ini, maka Chanyeol akan kehilangan semuanya. Hak waris, mobil, rumahnya.

"Mengapa kau tidak menjawabku?"

"Ibu", ucap Baekhyun pelan.

Ibu Baekhyun melirik putrinya lalu kembali menatap Chanyeol tajam.

"Mari kita bicarakan tanggung jawab yang kau katakan kemarin. Bagaimana caramu bertanggung jawab atas situasi ini?"

"Aku akan menjaga Baekhyun dan bayiku."

"Dengan cara apa? Menyembunyikan putriku di rumahmu?", sindir ibu Baekhyun. "Atau pernikahan?"

Chanyeol sudah menduga akan mendapat pertanyaan semacam ini. Baekhyun menatap Chanyeol cemas, ia bisa melihat keraguan pada raut wajah Chanyeol.

"Ibu, aku tidak akan menikah dengan Chanyeol."

Ibu Baekhyun terkejut mendengar perkataan putrinya begitu juga Chanyeol. Ia pikir Baekhyun akan terus menunduk hingga kembali ke rumah.

"Kau bilang apa?", suara Nyonya Byun terdengar bergetar.

"Tidak akan ada pernikahan, bu"

"Baekhyun, cukup karena kau mengandung seorang anak, tapi apa maksudmu tidak akan ada pernikahan?"

"Kami tidak saling mencintai, bu"

Ibu Baekhyun yang geram segera berdiri, meraih gelas air dan menumpahkan isinya tepat ke wajah Baekhyun. Seisi restoran langsung memberi perhatian kepada meja Baekhyun, ibunya serta Chanyeol. Beberapa orang terlihat berbisik-bisik membicarakan tiga orang yang mungkin saja sedang berselisih. Dan sisanya terlihat tidak peduli dan melanjutkan makannya.

Baekhyun terkejut saat sadar wajah hingga pakaiannya basah begitu juga Chanyeol. Pria itu segera berdiri mensejajarkan tingginya dengan ibu Baekhyun.

"Nyonya—"

"Kenapa? Apa kau sama sepertinya? Kau mau bilang tidak akan menikah dengan putriku?"

Chanyeol melirik seisi restoran yang sedang menonton mereka. Ini benar-benar memalukan.

"Lalu apa anda ingin putri anda menikah tanpa cinta?", tanya Chanyeol dengan suara rendah agar orang lain tidak mendengar suaranya.

"Mengapa kau membuat putriku seperti ini jika kau tidak mencintainya?"

"Maafkan aku. Ini salahku."

"Maaf? Kau pikir kata maaf akan mengembalikan semuanya?!", ibu Baekhyun membentak Chanyeol hingga semua orang bisa mendengar suaranya.

"Sekarang aku tanya padamu, apa kau benar-benar tidak akan menikah dengan Baekhyun?"

"Tidak."

"Kau tidak mencintai putriku?"

Chanyeol diam cukup lama. Baekhyun hanya menunduk di tempatnya duduk. Ia terlalu malu untuk mengangkat kepalanya.

"Tidak", jawab Chanyeol pelan. Suaranya tidak setegas sebelumnya.

Ibu Baekhyun langsung melayangkan tamparannya di wajah Chanyeol dengan cukup keras. Pengunjung restoran mengeluarkan suara terkejut yang berusaha diredam. Baekhyun segera berdiri dan melotot kaget melihat pipi Chanyeol yang memerah.

"IBU!"

"Baekhyun, terserah padamu. Kau mau bersenang-senang dan hidup dengan pria brengsek yang tidak mencintaimu atau ikut dengan ibu ke Jepang."

Baekhyun dan Chanyeol terkejut mendengar Baekhyun yang akan ke Jepang.

"Ibu—"

"Pastikan besok kau ke bandara atau ibu tidak akan peduli lagi padamu", Nyonya Byun mengambil tasnya di kursi lalu pergi meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol tanpa menoleh. Chanyeol bertukar pandangan dengan Baekhyun.

Chanyeol menunduk saat menyadari keadaan sekitar dan sedang menjadi tontotan. Ia berbisik pelan ke telinga Baekhyun. "Kau tidak apa-apa?", Chanyeol menarik pelan tangan Baekhyun dan membawakan tasnya hingga mereka meninggalkan restoran.

Chanyeol mengeluarkan sapu tangannya saat mereka berdiri di tempat yang jauh dari keramaian. Ia menjulurkan sapu tangannya pada Baekhyun, namun wanita itu hanya membatu seakan tidak melihatnya, pandangannya kosong dan menerawang ke depan.

Chanyeol menghela nafasnya berat lalu mendekatkan sapu tangannya hingga menyentuh permukaan wajah Baekhyun. Ia membantu mengeringkan wajah Baekhyun yang basah. Lalu ke lehernya dan menepuk-nepuk sapu tangannya pelan.

"Apa kau tidak pernah mencintaiku?"

Chanyeol sontak menghentikan kegiatannya.

"Kau bicara apa?"

"Selama kita pacaran, selain untuk bersenang-senang apa kau tidak pernah memiliki perasaan apapun padaku?"

Chanyeol membawa tangannya mundur lalu menyimpan kembali sapu tangannya.

"Mengapa kau tiba-tiba bertanya soal ini?"

"Kau pasti sedang merasa senang sekarang."

"Aku?", Chanyeol mengernyit heran. Kenapa ia harus senang setelah mendapat tamparan di depan banyak orang?

"Jika kau tidak mencintaiku, kau harusnya senang."

"Huh?"

"Ibuku mengajakku ke Jepang, itu artinya kau tidak akan memiliki tanggung jawab apapun padaku. Kau tidak perlu merawat anak ini. Kau tidak kehilangan apapun dan kau tidak akan mendapat kerugian apapun."

Chanyeol terdiam. Ia mencerna kata-kata Baekhyun cukup lama. Otaknya tiba-tiba terasa lambat untuk bekerja. Ia sedang menelisik perasaannya sendiri. Apakah ia sedang senang seperti yang Baekhyun katakan? Awalnya ia memang menolak anak itu, tapi ia merasa aneh mendengar Baekhyun yang akan pergi dan itu artinya ia tidak akan merawat bayi manapun.

"Kau akan ke Jepang?", Chanyeol bisa mendengar ada nada aneh di dalam suaranya.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan ekspresi datar. "Aku rasa begitu, lagipula apa yang bisa aku lakukan disini? Aku tidak punya pekerjaan ataupun tempat tinggal."

Chanyeol tiba-tiba merasa bersalah membuat Baekhyun kehilangan pekerjaan dan apartemennya. Ia tidak pernah bermaksud membuatnya sesulit ini.

"Bagaimana bisa kau mengambil keputusan secepat itu? Aku sudah katakan padamu aku akan merawat anak itu. Kau tidak bisa pergi kemanapun."

"Itu jika aku tidak ingin merawatnya, tapi sekarang ibuku sudah mengetahui kondisiku. Apa kau pikir ibuku akan memberikan cucunya padamu?"

Chanyeol merasa seperti ada lubang besar di perutnya dan perasaannya terasa hampa. Sebenarnya perasaan macam apa ini.

"Kau mau minum?", Baekhyun tersenyum simpul. Chanyeol tahu Baekhyun terlalu memaksakan dirinya.

"Minum?"

"Ya, kau mau mengajakku ke club kan?"

"Kau mau minum? Apa kau gila? Kau sedang hamil."

"Ayolah, aku berjanji hanya akan minum satu sloki."

"Aku tidak ingin ambil resiko."

"Ini pesta perpisahan, kita bahkan belum tentu akan bertemu lagi."

Chanyeol menatap Baekhyun. Perasaannya terasa aneh mendengar kata perpisahan.

"Kau bisa ajak Jongin dan yang lain. Aku akan membayarnya."

"Kau serius?"

Baekhyun mengangguk. "Ini pertemuan terakhir kita, anggap saja hari kebebasanmu. Kita bisa merayakannya bersama."

"Yang benar saja!"

-Baddest Male-

"Wah, Park Chanyeol hidup kembali!", Sehun bersorak dengan riang. Ia menepuk-nepuk punggung Chanyeol.

Kris hanya tersenyum miring lalu meneguk minumannya.

Jongin mendecih melihat ekspresi Chanyeol yang malas-malasan. Biasanya orang itu akan berpesta seperti orang gila.

Saat ini mereka tengah berada di sebuah club malam. Chanyeol tiba-tiba menelpon teman-temannya dan mengatakan ingin berpesta. Mereka menyambut ajakan Chanyeol dengan semangat karena itu artinya minum sepuasnya dengan gratis.

Chanyeol tidak merespon Sehun dan memilih meminum habis vodkanya.

"Oh ya siapa gadis itu?", Sehun menunjuk Baekhyun yang berdiri jauh dari mereka. Sehun sudah penasaran saat melihat Chanyeol datang dengan wanita itu. "Apa kekasih barumu?"

Chanyeol melirik Baekhyun yang sedang berada di lantai dansa dengan beberapa orang asing. Baekhyun memang tengah hamil, namun kandungannya yang baru beberapa minggu membuat tubuhnya masih terlihat ramping dan menarik dengan balutan gaun ketat diatas lutut.

Chanyeol kembali meneguk minumannya untuk menghindari pertanyaan Sehun.

"Kenapa kau membawa Baekhyun kemari?", Kris menggoyangkan gelasnya hingga minuman dan es di dalamnya berputar.

"Bukan aku yang membawanya, dia yang memaksaku kemari."

"Kris, kau mengenalnya?", tanya Sehun heran. Sepertinya hanya ia satu-satunya orang disini yang tidak mengenal Baekhyun. Jongin tadi sempat menyapa Baekhyun saat baru saja tiba.

"Kenapa kau penasaran sekali? Urus saja urusanmu yang lain", ujar Kris. Sehun memasang wajah cemberutnya lalu pergi meninggalkan teman-temannya dengan membawa sebotol minuman ke lantai dansa.

Kris merasa ponselnya bergetar. Ia mengisyaratkan Chanyeol kalau ia harus mengangkat telepon. Pria tinggi itu kemudian menghilang dibalik kerumunan. Mungkin saja telepati Tao sedang bekerja seperti biasa. Wanita Cina itu selalu menelpon disaat yang tepat—mengganggu disaat Kris bersenang-senang.

Jongin menepuk punggung Chanyeol hingga temannya itu menoleh padanya. Jongin menuangkan minuman ke gelas Chanyeol yang disambut Chanyeol dengan tangan terbuka.

"Kau ada masalah?", Jongin mengeraskan suaranya agar Chanyeol bisa mendengarnya. Suara musik beat yang berisik membuat suaranya tidak akan kedengaran jika berbisik.

"Perusahaanku baik-baik saja, ayahku tidak menelpon yang artinya baik-baik saja, dan Luhan untungnya tidak membuat masalah."

"Bukan itu."

"Lalu?"

Jongin menunjuk Baekhyun dengan dagunya. Chanyeol mengikuti arah pandang Jongin.

"Mengapa Baekhyun bisa berada disini?"

"Dia bilang untuk pesta perpisahan."

"Perpisahan apa?"

"Baekhyun akan ke Jepang."

"Benarkah?"

Chanyeol mengangguk malas. "Ibunya tahu bayi di dalam kandungannya adalah anakku."

"Kau serius?"

"Ya, ibunya bertanya apa kami akan menikah dan aku jawab tidak. Lalu ibunya menamparku dan menyiram Baekhyun dengan air. Ibunya bertanya apa Baekhyun akan tinggal dengan lelaki brengsek sepertiku atau ikut ibunya ke Jepang."

"Dan pilihan Baekhyun adalah ke Jepang?"

"Sangat mudah ditebak."

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

Chanyeol mengernyit lalu melirik Jongin. "Memangnya apa yang harus kulakukan? Dia bilang dia akan pergi, apa yang bisa kulakukan?"

"Kau bisa mencegahnya."

"Untuk apa?"

"Entahlah, mungkin kau memiliki perasaan semacam itu, Tidak ingin dia pergi."

"Omong kosong."

"Apa kau tidak kecewa? Baekhyun akan pergi, begitu juga bayimu. Kau bahkan belum pernah melihat bagaimana wajah bayimu. Apa kau tidak penasaran bagaimana rupa anak itu, bagaimana dia berkembang, bagaimana dia berjalan, dan—"

"Mengapa kau bicara seperti ini padaku?"

"Aku hanya tidak ingin kau menyesal nantinya. Apa kau tidak memiliki perasaan apapun pada Baekhyun?"

"Mengapa pertanyaanmu sama seperti ibu Baekhyun? Apa kau dibayar?"

Jongin terkikik lalu menggeleng pelan. "Kurasa itu pertanyaan wajar. Kau tinggal dengannya, dan dia mengandung anakmu. Kalau tidak ada cinta, seharusnya kau memiliki rasa simpati walaupun sedikit."

Chanyeol kembali menelan minumnya dengan sekali teguk. Matanya tidak sengaja kembali melihat Baekhyun. Dia sedang bicara dengan seorang pria. Baekhyun telihat menggeleng dengan senyum sungkan lalu mundur selangkah. Namun pria itu justru semakin agresif mendekati Baekhyun lalu memegang tangannya. Baekhyun berusaha melepaskannya. Chanyeol menebak situasinya kalau pria itu ingin megajak Baekhyun berdansa, pergi, atau ke hotel mungkin. Tapi Baekhyun menolak dan lelaki itu terus memaksanya.

Chanyeol meletakkan gelasnya di meja bar dengan cukup keras hingga membuat Jongin menoleh heran. "Kau ini kenapa?"

Namun Chanyeol tidak menjawabnya. Chanyeol melangkah dengan langkah besar-besar menerobos kerumunan. Tubuhnya beberapa kali bertabrakan dengan orang lain, namun Chanyeol tidak peduli. Ia terus berjalan lurus hingga akhirnya menarik tangan Baekhyun mendekat ke arahnya. Baekhyun terkejut melihat Chanyeol tiba-tiba berada di sebelahnya.

"Kau siapa?", tanya pria asing yang masih memegang sebelah tangan Baekhyun.

"Harusnya aku yang tanya. Kau ini siapa?", tantang Chanyeol.

Pria itu tersenyum remeh ke arah Chanyeol lalu kembali menarik Baekhyun namun Chanyeol yang tidak mau kalah bersikukuh menahan sebelah tangan Baekhyun.

"Hei, aku tidak punya urusan denganmu", ujar pria asing itu dengan nada tidak suka.

"Tapi aku punya. Mengapa kau mengganggu Baekhyun?"

"Siapa? Wanita ini?", pria itu menunjuk Baekhyun. "Aku hanya mengajaknya berdansa."

"Dari yang kulihat sepertinya dia tidak mau tapi kau terus memaksanya."

"Baekhyun, jadi kau menerima ajakannya atau tidak?", Chanyeol menatap Baekhyun menuntut jawaban. Baekhyun menggeleng lalu menunduk.

"Kau dengar kan? Dia tidak mau."

Pria asing itu tertawa sinis. "Mengapa kau begitu ikut campur? Memangnya kau ini siapanya?"

"Aku?", Chanyeol mematung. Dia sendiri tidak tahu hubungan macam apa yang ia miliki dengan Baekhyun. Chanyeol menatap mata Baekhyun yang dalam. Entah apa dan siapa yang menggerakkan sensor tubuhnya. Chanyeol menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Baekhyun lalu menempelkan bibir mereka. Baekhyun membulatkan matanya dan berkedip beberapa kali.

Baekhyun baru sadar Chanyeol sedang menciumnya saat bibir pria itu bergerak lembut diatas permukaan bibirnya. Baekhyun menarik tangannya hingga terlepas dari pria asing yang terus mengganggunya lalu berusaha mendorong dada Chanyeol untuk mundur tapi kedua tangan Chanyeol segera menangkap tangan Baekhyun dan menahannya di depan dada. Begitu merasa Baekhyun tidak lagi melawan, Chanyeol justru memperdalam ciumannya.

Ini salah. Baekhyun kembali berusaha melawan. Chanyeol melepas salah satu tangan Baekhyun, memegang kedua pipinya dengan paksa. Mulut Baekhyun terbuka dengan sendirinya karena terkejut dan Chanyeol memaksa lidahnya masuk dan menciumnya sekali lagi.

Chanyeol melepas ciumannya, ia bisa melihat Baekhyun yang terengah-engah dengan pipi merona. Tiba-tiba ia merasa jantungnya berdebar. Chanyeol segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain asal bukan Baekhyun.

Pria asing di depannya belum menyerah, Chanyeol pikir pria itu akan pergi setelah melihat ciumannya dengan Baekhyun, namun pria itu justru kembali menarik tangan Baekhyun agar ikut bersamanya. Baekhyun yang terkejut menolehkan kepalanya kearah Chanyeol seakan meminta pertolongan. Sehun datang dan menendang pria itu hingga tersungkur. Beberapa pengunjung wanita berteriak kaget.

Pria itu segera bangun untuk membalas Sehun, tapi Kris dan Jongin sudah menahan pria itu lalu memiting tangannya ke belakang hingga orang asing itu kesakitan dan memohon untuk dilepaskan.

"Hei bung, lebih baik kau pulang saja dan minum susu buatan ibumu", ujar Sehun sambil mengibaskan tangannya seakan mengusir orang itu pergi.

Pria itu menatap Chanyeol dengan sinis. "Jadi kau membawa bodyguard?"

"Siapa yang kau sebut bodyguard?", suara Kris meninggi.

"Kau mau cari mati ya? Pergi saja sana", Jongin melayangkan tangannya seakan ingin meninju pria itu. Dengan takut ia langsung mundur dan pergi meninggalkan Baekhyun.

"Kau tidak apa-apa?", tanya Chanyeol khawatir. Baekhyun menggeleng pelan lalu menjauhkan tangannya saat Chanyeol ingin menyentuhnya. Chanyeol hanya menghembuskan nafas kasar saat menyadari penolakan yang diberikan Baekhyun.

"Lebih baik kau bawa Baekhyun pulang", ucap Jongin memberi saran.

"Kalau begitu aku kembali lebih dulu."

"Hm", Jongin mengangguk.

"Sampai jumpa besok Chanyeol!", seru Sehun saat Chanyeol dan Baekhyun berjalan pergi. Chanyeol mengangkat sebelah tangannya tanpa manoleh. Ia mengikuti langkah Baekhyun dari belakang.

Saat memastikan Chanyeol dan Baekhyun sudah keluar dari club, Sehun segera menarik Jongin dan Kris mendekat kearahnya dan membentuk lingkaran yang tentu saja mendapat protes dari dua temannya.

"Ada apa?", tanya Jongin malas. Sedangkan Kris hanya memasang ekspresi kesalnya.

"Apa kalian lihat cara mereka berciuman tadi? Kupikir ada sesuatu di antara mereka", ujar Sehun dengan hati-hati seakan sedang membagi rahasia.

Jongin dan Kris bergerak mundur karena merasa informasi Sehun tidak penting. Kris membetulkan letak jaketnya yang dirasa berantakan karena Sehun.

"Kau ini seperti komputer pentium lambat sekali mendapat informasi", ujar Jongin.

"Apa?"

"Mereka bahkan tinggal serumah", tambah Kris.

"Apa?"

"Berhentilah bertanya apa dan apa. Tutup saja mulutmu rapat-rapat. Jika ada orang lain yang tahu, kau bisa mati di tangan Chanyeol."

Sehun menutup rapat mulutnya lalu menggerakkan tangannya seakan sedang mengunci mulutnya.

Di luar bar, Chanyeol melepas jaketnya lalu memasangkannya di pundak Baekhyun. Baekhyun menoleh kearah Chanyeol lalu berusaha melepasnya namun Chanyeol segera menahannya.

"Pakai saja, pakaianmu terlalu terbuka."

Baekhyun tahu Chanyeol ada benarnya. Jadi ia memilih diam. Chanyeol membuka pintu mobil dan membiarkan Baekhyun masuk.

"Besok jam berapa penerbanganmu?", Chanyeol mengendarai mobilnya kecepatan stabil.

Baekhyun menatap keluar jendela. "Jam tiga sore", jawab Baekhyun dengan suara datar.

"Apa kau perlu tumpangan ke bandara? Aku akan mengantarmu jika kau mau."

"Tidak, terimakasih. Aku tahu kau sibuk."

"Aku tidak sesibuk itu."

Baekhyun tidak menjawab lagi. Ia tidak henti memandang keluar jendela. Chanyeol mengetukkan jarinya di stir mobil dengan gelisah. Entah apa yang ada di pikirannya.

"Baekhyun."

"Hm?"

"Sebenarnya ciuman yang tadi—"

"Aku mengerti, kau hanya ingin mengusir pria itu kan?"

"Huh? Hm—ya", jawab Chanyeol tidak yakin.

"Lupakan saja, kau bisa menganggapnya tidak pernah terjadi."

Chanyeol merasa ada yang aneh dengan perasaannya saat Baekhyun dengan mudahnya menyuruh agar ia melupakan ciumannya. Entah itu perasaan marah, kesal, atau kecewa. Bagaimana bisa Chanyeol lupa? Ciuman itu bahkan yang pertama kali membuat jantungnya berdebar kencang.

"CHANYEOL!"

Chanyeol yang baru sadar, segera menginjak remnya. Chanyeol dengan sigap merentangkan tangannya menahan tubuh Baekhyun. Tubuh mereka terdorong ke depan. Untungnya mereka sudah mengenakan sabuk pengaman.

Chanyeol melihat seorang pria yang merupakan pejalan kaki berdiri di depan mobilnya. Ia hampir saja menabrak orang.

"Kau ini bisa menyetir tidak?", teriak orang itu jengkel.

Chanyeol merutuki dirinya sendiri saat melihat lampu lalu lintas berwarna merah. Bagaimana bisa ia melamun selama menyetir dan tidak melihatnya?

Chanyeol membuka kacanya dan menyembulkan kepalanya.

"Maafkan aku."

Si pejalan kaki itu masih mengomel lalu berjalan menyusuri penyebrangan. Chanyeol bersandar pada kursinya lalu menutup kaca.

"Kau baik-baik saja?", suara Baekhyun terdengar jelas di telinganya.

Chanyeol mengangguk lemas. Ia menatap Baekhyun dengan perasaan menyesal. "Bagaimana denganmu?"

"Aku tidak apa-apa.", jawab Baekhyun. Kemudian Baekhyun mengacungkan tiga jarinya di depan wajah Chanyeol. "Kau bisa lihat ada berapa jari?"

Chanyeol mengernyit heran lalu menjawabnya. "Ada tiga."

"Baguslah, kupikir kau mabuk. Apa kau bisa menyetir? Aku akan menggantikanmu."

"Aku tidak apa-apa, aku hanya berpikir sebentar tadi lalu kehilangan fokus."

"Memangnya apa yang kau pikirkan hingga nyaris menabrak pejalan kaki?"

"Apakah aku menyukaimu?"

"Apa?"

"Aku memikirkan itu tadi. Byun Baekhyun, apa aku menyukaimu?"

-000-

-000-

-000-

TO BE CONTINUED

-000-

-000-

-000-

Hola! Chapter 7 selesai.

Wah, terimakasih atas limpahan dukungan buat saya serta review yang sangat membantu saya dalam berkarya. Masukan kalian sangat saya hargai. Terimakasih banyak.

Ngomong-ngomong selamat buat fans EXO. Yippie. Akhirnya kita punya nama fanclub official. No exotics anymore. We are EXO-L!

Ada yang sudah punya member card?

Saya sempat putus asa karena gagal terus waktu daftar, web SMTOWN error terus, udah gitu email confirmationnya benar-benar lama sampai bikin jamuran.

Dan adakah yang menonton TLP? Selamat ya, kalian beruntung huhuhu T-T

Saya gak bisa nonton karena gak ada uang pesawat. Sedih deh. Udah gitu masih awal masuk kuliah, masak udah meliburkan diri aja? Nanti dikira jadi mahasiswa tidak berbakti lagi.

Mungkin belum jodoh saya, doakan suatu hari nanti saya ketemu EXO ya, siapa tahu ketemu di pasar pas beli ikan atau ketemu di kedai bubble tea *author ngaco*

Jangan lupa review ya ^^