OUTRAGED
…
Setiap orang pernah punya luka. Tapi pada akhirnya terserah padamu, kau mau berdiri atau tetap mengiba.
…
Ketika anaknya keluar, saat-saat inilah Tetsuya bisa membersihkan rumah. Karena jika Kei disana, bukannya bersih rumah akan semakin berantakan mengingat Kei tipe anak yang gampang penasaran.
Apalagi memang banyak sekali barang-barang masa lalu yang Tetsuya sembunyikan. Ada kala dirinya ingin sekali membuang. Namun, disatu sisi ada sejumput kerinduan yang tak bisa dia enyahkan.
Salah satunya, adalah cincin pernikahan.
Ya, benda yang menjadi bukti janji di hadapan Tuhan, kini tergeletak di salah satu lemari penyimpanan. Ketika Tetsuya menyentuhnya, ada banyak kesan yang tertuang. Tapi yang paling besar, hanyalah luka yang terkoyak dalam.
Dirinya tidak lupa, karena semakin dilupakan, malah wajah itu semakin membayang.
…
Disclaimer :
Kuroko No Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Original Story by Gigi
Warning :
T
Akakuro
OC Kei
Shounen ai
Male pregnant
Family, Hurt, Romance
Out of character
…
Tetsuya masih mengingatnya. Bagaimana sang ayah menyuruhnya menikah dengan seseorang yang baru dia kenal. Parahnya dengan seseorang yang sama-sama bergender pria. Memang, gender bukan sebuah alasan, tapi lebih bahwa Tetsuya punya orang yang dia inginkan.
6 tahun sebelumnya..
Awal pernikahan, belum banyak interaksi antar keduanya. Tetsuya bahkan tidak tahu, apa yang dilakukan istri untuk sang suami. Memasak Tetsuya tak begitu mahir. Bersih-bersih rumah juga dirinya tak paham.
"Kau sedang apa?"
"Aka- Sei-kun?"
"Tidak baik keluar tanpa jaket." Lalu sebuah coat hangat menempel pada pundak, "Ayo masuk." Lalu kedua tangan saling menggenggam, tepatnya Akashi yang inisiatif bergandeng tangan.
"Aku hanya bingung ingin mengerjakan apa."
"Kau cukup diam, ada banyak pelayan yang bisa mengerjakan."
"Tapi tugasku sebagai istrimu-"
"Tetsuya diam saja di ranjang, nanti juga muncul desahan."
"Ap-" Tetsuya megap-megap. Digombali mesum begitu membuatnya malu bukan kepalang, "Mesum."
"Mau main gulat di ranjang seharian juga kita sudah halal."
Dari saling menggoda, atau tepatnya Tetsuya yang digoda, lalu bagaimana Tetsuya secara pelan memahami perannya, akhirnya tumbuh rasa suka. Dan meski berstatus resmi, bukan berarti Akashi langsung menjamahi.
Mereka banyak berbagi. Dari curhatan tentang asmara masa lalu, hingga kehidupan pribadi. Tentu saja, orang yang dulunya Tetsuya cintai, juga termasuk cerita yang dia ungkapkan pada Akashi.
Keduanya masih saling menjaga bahkan setelah satu tahun mereka bersama. Terutama Akashi yang ingin membuat Tetsuya benar-benar melihatnya. Dan puncaknya, saat mereka melakukan bulan madu yang kedua, mereka melakukannya. Tentu saja dengan kesadaran berdua. Untuk membagi seutuhnya. Dari cerita, hidup, mimpi, jiwa dan raga.
Namun seperti kata pepatah. Hubungan tak selamanya tenang dan tetap pada tujuan, tetapi akan ada kala dia kehilangan arah. Sama seperti Tetsuya yang kini tak mengerti, mengapa Akashi tiba-tiba berubah.
Tiga bulan semenjak bulan madu mereka, Akashi tiba-tiba saja mendiamkannya.
Tak ada interaksi kala dirumah. Bahkan, ucapan selamat datang atau pergi ketika akan beraktifitas. Mereka berdua, atau tepatnya Akashi berubah layaknya orang yang tak saling mengenal.
Awalnya, Tetsuya mengira, bahwa Akashi sedang sibuk-sibuknya bekerja. Namun, tanpa sadar keterdiaman mereka melebihi batasnya. Dari jam menjadi hari, kemudian minggu, lalu sekarang sudah genap sebulan begitu saja.
Bahkan, sekarang mereka tidak tidur di kamar yang sama.
"Sei-kun, makanannya sudah siap."
"…"
"Sei-kun?" Pintu kamar diketuk lagi, namun tak ada sahutan,
"Sei-"
"Berisik!"
Tetsuya tersentak. Selama mereka bersama, baru kali ini dirinya dibentak kasar. Apa salahnya?
Setelahnya, Tetsuya tetap menyiapkan makanan. Bahkan, Tetsuya menaruhnya di depan meja kamar. Berharap Akashi mau memakannya, tapi sia-sia. Makanan itu tak pernah disentuh dan diabaikan.
Besoknya, Tetsuya merasakan badannya lemas. Mual dan berbagai hal yang mengganggu aktifitas. Namun, meski begitu, Tetsuya tetap menjalankan tugas. Memasak dan menyiapkan segela perlengkapan suaminya, baru kemudian ke rumah sakit untuk periksa.
…
Rumah sakit sedikit ramai kala pagi. Meski baru memasuki awal hari, sudah banyak yang mengantri. Dan setelah menunggu sekitar 2 jam, Tetsuya mendapat panggilannya kini.
"Akashi Tetsuya-sama."
"Hai."
Seorang perawat mengantarnya ke dalam ruang, dimana sang dokter siap melakukan pemeriksaan.
"Silahkan duduk." Setelah melihat Tetsuya berada di posisi yang nyaman, dokter kembali melanjutkan, "Apa yang dikeluhkan?"
Semua keluhan Tetsuya keluarkan. Tentu saja minus kelakuan sang suami yang akhir-akhir ini tidak menyenangkan.
"Baik, kita lakukan pemeriksaan terlebih dahulu."
Setelah menjalani beberapa tahap, kini hasilnya telah keluar. Tetsuya begitu gembira. Ya, dirinya kini telah mengandung benih Akashi, tepatnya sudah memasuki bulan kedua.
Dan Tetsuya berharap dengan ini, Akashi tak mendiamkannya lagi.
…
Namun yang didapat malah sebaliknya. Baru masuk rumah saja, Tetsuya sudah merasa kecewa. Masakan yang dia buat dengan susah payah bahkan sama sekali tidak disentuhnya. Baju kantor yang juga membuat Tetsuya harus bangun dini hari hanya untuk memastikan bahwa kemeja tersebut siap, kini juga masih tergeletak disana.
Sungguh, dia salah apa?
Atau, memang benarkah sebuah pesan yang dikirim padanya?
Ya, seminggu yang lalu, Tetsuya mendapatkan pesan dari seseorang yang tidak dia kenal. Intinya, Akashi menginginkan perceraian karena ingin kembali dengan mantan kekasihnya yang kini kembali datang.
Tapi Tetsuya memilih tidak percaya. Bagaimanapun, dalam sebuah hubungan, Tetsuya memilih percaya pada suaminya saja.
"Kau darimana?"
"Sei-kun? Kau sudah pulang?"
"Apa matamu buta?"
Apa harus setajam itu menjawab pertanyaan darinya?
"Aku dari rumah sakit."
"Lalu?"
Tetsuya mengeluarkan berkas hasil pemeriksaan, dengan tersenyum, dirinya mendekat pada Akashi yang memandangnya dengan tajam, "Sei-kun, aku hamil." Ujar Tetsuya menyerahkan berkas kehamilan.
"Oh."
Dan Akashi berbalik, membanting pintu kamar. Meninggalkan Tetsuya yang shock karena kelakuan sang suami yang keterlaluan.
Bahkan, setelah tahu bahwa Tetsuya hamil, sikap Akashi sama sekali tak ada perubahan, bahkan cenderung kasar meski tak main tangan.
…
Bau parfum lagi. Kemeja Akashi bau parfum yang entah milik siapa akhir-akhir ini. Dan tentu saja membuat Tetsuya semakin sakit hati.
"Sei-kun darimana?"
"Bukan urusanmu!"
"Kata dokter, kandunganku lemah dan aku-"
"Bukan urusanku!"
"Sei-kun," Mata Tetsuya membias, "Kenapa?"
"Kenapa? Jangan sok melas, Tetsuya. Dasar murahan."
"Apa maksudmu?!"
"Anak itu, bukan anakku, kan?"
Tetsuya masih diam. Bukan karena membenarkan, namun Tetsuya mengalami shock akibat mendengar kalimat Akashi yang tak pernah Tetsuya duga.
"Apa ayahnya tak mau bertanggung jawab hingga kau mengemis padaku?"
"…"
"Apa kau tidak mau dia berakhir menjadi anak hara-"
PLAK!
Tangan Tetsuya bergerak cepat, menampar Akashi yang baru saja membuatnya kehilangan rasa sabar.
"Kau- Kau boleh menghinaku! Kau boleh menyebutku apapun yang kau mau. Tapi jangan sebut anakku dengan mulutmu!" Tangan Tetsuya bergetar, antara marah yang sudah tidak dapat dia tahan, dan air mata yang tak dapat dia pendam, "Kau ingin perceraian? Aku akan mengurus secepatnya!"
Pintu kamar dia banting, dan dibaliknya Tetsuya benar-benar menangis penuh rasa pedih. Sakit hati yang dia tahan, kesabaran yang dia keluarkan, marah yang berusaha dia abaikan, kini telah menjadi bom waktu yang telah siap diledakkan. Dengan gemetar, dia menelpon sahabatnya agar segera dibawa keluar.
"Ogiwara-kun? Iya- Tidak aku baik-baik saja. Bawa aku keluar. Ya, tolong lakukan secepatnya."
Dan malamnya, Tetsuya merasa perutnya merasakan kontraksi yang entah karena apa. Rasanya sungguh sakit luar biasa.
"Tenang, nak." Tetsuya menangis lagi, saat ingat bagaimana hinaan Akashi yang begitu keji. "Kau memilikiku, meski dia tak mengakuimu."
Dengan tertatih, Tetsuya mencoba keluar, setidaknya jika memang Akashi tak mengakui ini darah dagingnya, dirinya hanya ingin meminta tolong untuk memanggilkan dokter untuk datang.
"Akashi-kun?"
Ya, Tetsuya memilih memanggil nama marga daripada nama kecil sang suami. Cepat atau lambat, dirinya akan menjadi Kuroko lagi.
Namun apa yang dia dapat? Disana, sebuah desahan tengah menggelora entah milik siapa. Bunyi decitan ranjang lalu suara yang membuat Tetsuya sakit dan jijik disaat yang sama. Lalu tak berapa lama, muncul seseorang yang tidak Tetsuya kenal dengan penampilan acak-acakan.
"Sei bilang, kalau ingin pergi, pergi saja. Dia tak peduli."
Habis sudah. Kini timeout sudah tiba.
"Bilang pada Akashi-kun, terimakasih atas segalanya. Dan surat cerai, akan aku berikan secepat yang aku bisa."
Tetsuya kembali masuk kamar. Dengan menangis dan menahan rasa sakit, dia membereskan barang. Dia akan pergi sekarang. Tak peduli diluar tengah hujan, tak peduli waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Yang ada dipikirannya adalah pergi sejauh yang dia bisa. Untuk dirinya, dan untuk anaknya.
To be continue.
AN :
Sesungguhnya, saya bener-bener nggak tega up FF kayak gini di ultahnya Tetsuya :'(
Namun, karena dalam poling kemarin, banyak yang meminta side Tetsuya duluan, maka yaa terbitlah ini, hehe.
Semoga suka ya dan Selamat ulang tahun untuk best adorable character Kuroko Tetsuya! Langgeng terus ya sama babang Sei :*
Saya tunggu jejaknya dan terimakasih sudah membaca!
Sign,
Gigi.
Ps : Chapter depan gantian side-nya Akashi, so tetep stay on ya^^
