Sasuke memukul stir mobilnya kesal saat mendapati sekolah Naruto telah sepi dan itu wajar saja karena hari sudah sangat sore. Sial! Pikirnya.
Ini semua gara-gara rapat dewan direksi yang mendadak lalu kedatangan Hinata yang mengatakan kalau Inari adalah putri kandungnya. Yang benar saja dia pikir Sasuke itu bodoh? Heh kau bermain dengan orang yang salah Hinata!
Sasuke memutar mobilnya untuk kembali ke apartemen dan berharap Naruto sudah pulang dengan selamat tapi gadis itu sangat penurut kalau di suruh tunggu pasti di tunggu tanpa peduli dengan waktu tapi melihat sekolah yang kosong, dia yakin Naruto pasti sudah pulang dan kalau benar, Sasuke patut bersyukur karena Naruto tidak sepolos atau katakanlah bodoh karena terlalu mengikuti apa yang orang katakan.
Sasuke menghentikan laju mobilnya saat melihat Naruto tertawa lepas yang sedang di bonceng naik sepeda oleh seorang pemuda berambut merah menyala.
"Arigatou Gaara." ujar Naruto senang dan turun dari atas sepeda Gaara.
"Sama-sama." balas Gaara sambil tersenyum.
"Lihatlah kantung mata mu itu, ckckck tidak akan pernah hilang kalau terus tidur hanya dalam kurun waktu empat jam!" seru Naruto marah sambil berkacak pinggang.
Gaara terkekeh pelan mendengarnya, "Kau tahu kalau aku tidak kerja aku tidak bisa makan dan beasiswa yang ku dapat sangat pas-pasan untuk sekolah, kau tahu sendiri makan itu sangat mahal." sahut Gaara.
"Kalau begitu berhenti latihan Kendo." ujar Naruto memerintah.
"Kalau ada turnamen dan menang kan aku dapat uang." balas Gaara, Naruto memutar kedua bola matanya malas. "Dasar mata duitan." desis Naruto membuat Gaara terkekeh pelan mendengarnya.
"Oh ya ku lihat di dalam tas mu banyak sekali kupon makanan, bisa dong traktir aku terus hahahaha..."
"Hm bayar." ujar Gaara sambil mengadahkan tangan kanannya lalu ikut tertawa renyah.
"Oke oke makasih ya Gaara untuk hari, aku tidak tahu jika kau tidak mengantar dan mentraktir ku mungkin aku masih disana." ujar Naruto mulai serius.
Gaara tersenyum kecil lalu menghela napas, "Aku sahabat mu Naruto dan sampai kapanpun aku adalah sahabat mu yang akan selalu ada untuk membantu mu." jawab Gaara tulus.
Naruto tersenyum haru, "Baru kali ini aku mendengar kalimat itu dari mu Gaara, biasanya kau selalu bilang kalau kita itu teman." balas Naruto terharu.
"Teman dan sahabat itu berbeda dan aku ingin kita sahabat bukan teman." Gaara tersenyum kecil dan Naruto terkekeh pelan melihatnya.
"Okey kita sahabat." Naruto mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Gaara dan Gaara pun mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Naruto.
"Oke sahabat!" keduanya tersenyum dan tertawa ringan.
...
"Kak Sasuke sudah pulang!" seru Naruto heboh saat membuka pintu apartemen dan melihat Sasuke sudah berdiri di hadapan pintu.
Sasuke tersenyum tipis dan mengacak rambut Naruto pelan, "Kau pulang dengan siapa?" tanya Sasuke seraya berjalan masuk ke dalam saat Naruto menyingkir dari depan pintu sambil merapikan rambutnya yang kusut karena ulah Sasuke.
"Sahabat baikku." jawab Naruto tanpa melihat kearah Sasuke karena masih sibuk merapikan rambutnya.
Langkah kaki Sasuke terhenti dan menoleh kebelakang untuk melihat istri kecilnya itu yang sedang sibuk merapikan rambut, "Namanya?" tanya Sasuke.
"Gaara." jawab Naruto sambil menatap Sasuke yang memperhatikan dirinya.
Sasuke menganggukkan kepalanya mengerti lalu beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan Naruto menyiapkan air hangat untuk Sasuke serta pakaian ganti.
"Maaf aku tidak menjemput mu." kata Sasuke tiba-tiba saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Tak apa kak, aku tahu kakak pasti sangat sibuk." sahut Naruto sambil tersenyum tulus seolah tanpa masalah dan Sasuke ikut tersenyum tipis melihatnya.
"Bagaimana dengan sekolah mu?" tanya Sasuke seraya melepaskan dasinya beserta kacing baju satu persatu.
"Sangat menyenangkan." jawab Naruto riang sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
Setelah semua pakaiannya terlepas, Sasuke mengambil handuk dari dalam lemari kecil di dekat pintu kamar mandi dan di lilitkannya ke pinggang lalu duduk di pinggir kasur menunggu Naruto selesai.
"Baguslah." sahut Sasuke dan Naruto tersenyum mendengarnya.
Drrrrrt...
Sasuke melihat ponselnya bergetar dan nama soerang wanita yang paling dia kenal tertera disana dan tanpa basa-basi lagi langsung di angkat.
"Tadaima." kata seorang di ujung sebrang sana sambil tersenyum misterius menatap langit kota Tokyo yang mulai perlahan menggelap.
"Kau sudah sampai?" tanya Sasuke seraya beranjak dari duduknya.
"Tentu saja." jawab wanita berambut ungu gelap itu.
"Apakah permainan ini sudah boleh kita mulai sesuai dengan peraturan yang kita buat?" tanya Sasuke lagi sambil perlahan berjalan menuju jendela kamar.
"Tentu saja." wanita itu menyeringai senang.
"Hn. Sampai jumpa besok." kata Sasuke lalu menutup telponnya saat melihat Naruto sudah keluar dari dalam kamar mandi.
"Kak airnya sudah siap." kata Naruto penuh semangat.
"Terima kasih." sahut Sasuke dan meletakkan ponselnya ke atas meja nakas kemudian barulah masuk ke dalam kamar mandi dan Naruto mulai menyiapkan pakaian ganti untuk Sasuke.
Sementara itu wanita yang tadi menelpon Sasuke, sedang berdiri diam di depan pintu masuk bandara Narita. Setelah Sasuke menutup telponnya, wanita itu langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku mantel lalu membuka kaca mata hitam yang sejak tadi bertengker manis di hidung mancungnya dan memperlihatkan kedua manik hitam kecoklatan yang begitu indah, seulas senyum misterius ia tunjukkan.
"Kau akan membayar mahal untuk semua ini Sasuke-kun." katanya seraya menyeringai senang.
.
.
Sasuke hanya diam menyaksikan tayangan di tv tentang beberapa kasus pembunuhan lalu pencurian dan setelah bosan melihatnya ia mengganti channel untuk melihat film action yang sudah beberapa menit yang lalu ia tunggu akhirnya tayang sedangkan Naruto tampak sibuk menyelesaikan tugas sekolahnya.
"Bukankah bulan depan kau ujian kelulusan?" tanya Sasuke seraya melirik ke arah Naruto yang sibuk menghitung menggunakan jari-jarinya. Gadis itu bisa menghitung dan membagi menggunakan jari-jarinya sendiri tanpa bantuan alat hitung.
"Iya." sahut Naruto singkat tanpa melihat kearah Sasuke.
"Jangan terlalu keras belajarnya, santai saja dan jangan di bawa tegang. Mengerti?"
"Mengerti." Naruto mengangguk singkat.
"Berarti hasilnya 750." gumam Naruto lalu menuliskan hasil hitungnya.
"Selesai." serunya senang melihat tugas sekolahnya akhirnya selesai lalu memberekan semua buku-buku dan alat tulisnya yang ada di atas meja dan di bawanya kedalam kamar untuk di taruh di meja belajar kemudian kembali ke ruang tengah untuk menonton bersama Sasuke.
"Kak boleh ganti channel gak?" pinta Naruto yang sudah duduk disamping Sasuke.
Sasuke melirik sekilas, "Memangnya kamu mau nonton apa?" tanya Sasuke.
"Korea drama." jawab Naruto dengan mata berbinar.
"Tidak." tolak Sasuke tak suka.
"Ayolah kak." pinta Naruto dengan manja.
Sasuke menghela napas pasrah lalu di gantinya channel ke channel khusus drama Korea. Kasihan juga istrinya itu kalau tidak punya hiburan selain melihat buku.
"Yes!" seru Naruto girang saat Sasuke mengganti channelnya dan beruntungnya iklannya baru saja selesai dan ini adalah drama terbaru yang sudah Naruto tonton beberapa episode sebelumnya. Biasanya ia menonton film ini sendirian untuk menunggu kepulangan Sasuke dan sekarang dia menontonya bersama Sasuke.
"Moon Lovers." gumam Sasuke melihat judul film tersebut dan kedua mata Naruto terlihat berbinar menontonnya.
Sasuke menghela napas pasrah dan ikut menonton drama tersebut untuk memastikan adegannya aman karena drama Korea itu sering ada bagian ciumannya dan Naruto itu masih polos pemikirannya.
Dua puluh menit kemudian. Sasuke jengah melihat tokoh Wang So dan Hae Soo yang sudah di tebak adalah tokoh utama. Naruto hampir menangis di beberapa bagian lalu tersenyum jika adegannya bagus sesuai yang dia harapkan. Apa bagusnya drama Korea?! pikirnya kalut karena tidak mengerti dengan jalan pikir seorang wanita.
"Soo ya."
"Lepaskan aku."
Sasuke memutar kedua bola matanya malas.
"Sebentar saja."
"Tinggal lah sebentar saja."
"Aku butuh istirahat."
"Aku tidak mau!"
"Aku takut padamu yang mulia."
Naruto hampir menangis melihatnya sedangkan Sasuke ingin rasanya mengganti channel atau mengetuk pemainnya.
"Kau tidak boleh melalukan ini padaku, kau adalah milikku."
"Aku bukan milik mu yang mulia."
"Kau milikku."
"Kau milikku.
"Kau tidak boleh meninggalkan ku tanpa seizinku."
"Kau juga tidak boleh mati."
"Kau sepunuhnya milikku."
Naruto menangis melihatnya bahkan beberapa kali mengahapus air matanya dengan tisu yang ada di atas meja lalu adegannya berlanjut dengan ciuman dan Sasuke langsung menggantinya cepat sebelum Naruto melihatnya.
"Hiks kenapa di ganti kak? Aku akan mau lihat ciumannya!" seru Naruto kesal dengan mata berair.
"Kau masih–"
Naruto merampas remot tv dan mengganti channelnya cepat dan ternyata sudah lanjut ke episode selanjutnya dan episode sebelumnya di tayangkan sekilas.
Kedua manik Sasuke terbelalak melihat adegan ciuman itu di ikut sertakan.
Gadis nakal, batin Sasuke lalu menarik tubuh Naruto untuk berhadapan dengannya.
"Kenapa kau mau melihat adegan ciuman itu?" tanya Sasuke seraya memperhatikan wajah istrinya dengan seksama.
"Karena romantis." jawab Naruto polos.
Sasuke menyeringai tipis mendengarnya lalu melepaskan tangannya dari kedua pundak Naruto dan mengambil remot tv dari tangan Naruto lalu mematian tv yang sedang memperlihatkan Wang So membawa Hae Soo pergi.
"Kak." seru Naruto protes.
"Nanti kau tonton lagi streming di Internet, sekarang kau tidur sana." kata Sasuke sambil melihat jam yang menempel di dinding telah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Tapi kak sat–"
"Tidak ada tapi." potong Sasuke cepat.
Naruto mendengus sebal dan mengikuti apa yang Sasuke katakan. Gadis itu berjalan menuju kamarnya dan Sasuke dengan lesu sedangkan Sasuke sendiri sedang membereskan beberapa kertas di atas meja dan menyusul Naruto setelah semuanya rapi.
Naruto mengucek kedua matanya pelan dan menguap kecil, di sibakkannya selimut dan bersiap untuk tidur tapi sebelum tubuhnya menyentuh kasur, Sasuke telah lebih dulu menarik tubuhnya dari belakang sehingga ia menabrak tubuh bagian depan Sasuke dan kedua tangan kekar itu langsung saja memeluk tubuhnya erat.
"Kau milikku, kau tidak boleh pergi meninggalkan ku tanpa seizinku karena sepunuhnya kau adalah milikku." kata Sasuke sambil menatap kedua sapphire di depannya yang tampak tidak berkedip memandangi wajahnya.
"Kak." panggilnya pelan.
Sasuke memiringkan kepalanya dan mencium bibir Naruto cepat membuat gadis itu terkejut dan terdiam tidak mengerti. Sasuke memejamkan kedua matanya untuk menikmati ciumannya dengan Naruto, tak puas hanya menempel saja, Sasuke mulai melumat bibir Naruto dan tanpa sadar Naruto ikut menikmatinya dan membuka mulutnya untuk mempersilahkan lidah Sasuke masuk dan bermain di rongga mulutnya.
.
.
.
.
"Hi sayang." sapa Hinata mesra dan menghampiri Sasuke yang tampak sibuk dengan perkerjaannya.
"Hn." sahut Sasuke seperti biasanya.
Hinata tersenyum nakal lalu duduk dipangkuan Sasuke membuat kerja pria itu terabaikan, "Ada apa?" tanya Sasuke lembut seraya mengelus pipi Hinata.
"Aku merindukan mu." jawab Hinata manja dan memeluk leher Sasuke erat dan dengan senang hati Sasuke membalas pelukkan Hinata.
"Dimana Inari?" tanya Sasuke tepat di telinga Hinata.
Wanita itu melepaskan pelukkannya dan menyentuh rahang tegas Sasuke, "Dia di playgroup." jawab Hinata sambil tersenyum lalu mencium rahang Sasuke.
"Bukankah Inari bisu?" tanya Sasuke dan membiarkan Hinata terus menciumi rahangnya dan lehernya.
"Dia juga butuh teman bermain Sasuke." Hinata menyudahi ciumannya dan hendak mencium bibir Sasuke tapi Sasuke membuang mukanya dan Hinata tidak berhasil mencium bibirnya.
Hinata tersenyum kecil, "Ada apa?" tanyanya setengah mendesah.
"Tidak ada." Sasuke menggelengkan kepalanya pelan.
Hinata menyentuh dada Sasuke lembut dan di usapnya pelan membuat Sasuke harus menahan napas untuk beberapa saat dan tangan-tangan mungil dan lentik itu turun hingga ke bawah.
"Hn." Sasuke menahan desahannya agar tidak keluar. Sialan! batinnya kesal.
Hinata tersenyum puas melihatnya dan terus melakukannya agar Sasuke tergoda kepadanya.
'Kau harus menjadi milikku Sasuke.' batinnya.
Dan selanjutnya apa yang ia harapkan terjadi, Sasuke menyentuhnya dan mencumbunya dengan penuh nafsu. Ia tidak peduli apakah Sasuke mencintainya atau tidak karena saat ini ia harus berusaha agar Sasuke benar-benar menjadi miliknya seperti dulu.
Cklek.
Sasuke menatap kesal melihat pintu ruang kerjanya terbuka padahal dia sudah menyuruh Sakura untuk tidak membiarkan siapapun masuk. Dengan terpaksa Sasuke mengeluarkan dirinya dari tubuh Hinata dan membereskan pakaiannya dan membiarkan Hinata masih duduk di atas meja kerjanya dengan kaki mengangkang.
"Wah wah wah." seorang wanita berambut ungu gelap masuk ke dalam ruangan di ikuti Sakura di belakang.
"Maafkan aku Sasuke-sama, aku sudah menghalanginya agar tidak masuk." ujar Sakura takut-takut dan tanpa sengaja melihat penampilan Sasuke dan Hinata. Hatinya terasa sakit melihat pemandangan yang tersaji. Sasuke belum berubah dan masih sama seperti dulu, suka bermain dengan wanita dan itulah yang membuat Sakura selalu mengulur waktu agar Sasuke tidak cepat menikahinya karena dia ingin memastikan bahwa Sasuke benar-benar bisa mengubah sikapnya tapi saat ini Sasuke sudah menikah bukan? Lalu kenapa masih bermain wanita? Sasuke benar-benar keteraluan lalu siapa pula wanita asing yang sejak tadi berusaha untuk menerobos masuk?
"Keluar Sakura!" titah Sasuke tegas dan gadis musim semi itu dengan patuh menuruti apa yang Sasuke katakan.
Hinata membereskan pakaiannya dengan cepat lalu turun dari atas meja kerja Sasuke dan melihat siapa wanita yang sudah menganggu dirinya dan kedua matanya sukses membulat seketika melihat wanita itu yang tempak menyeringai senang melihatnya.
"Hi Hinata lama kita tidak berjumpa." sapanya dengan nada suara seramah mungkin tapi bagi Hinata suara wanita itu lebih mirip suara malaikat kematian.
"Aku harus menjemput Inari." ujar Hinata tiba-tiba lalu mengambil tasnya dari atas meja dan pergi begitu saja meninggalkan ruang kerja Sasuke.
"Kau terlambat dan karena keterlambatan mu aku tergoda olehnya." ujar Sasuke kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil memijit pelipisnya pelan.
Wanita itu tersenyum tipis dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Sasuke. "Kau benar-benar brengsek dan bersihkan ruangan ini karena aku tidak suka aroma menjijikan dari mu dan wanita itu." ujarnya pedas tapi Sasuke hanya menganggapnya angin lalu karena bibir gadis itu memang selalu berkata pedas dan mungkin karena hal itulah kakaknya selalu tergoda untuk mencium bibir wanita itu dan karena wanita berambut ungu tua inilah kakaknya masih setia menjomblo.
"Aku senang kau datang di saat aku benar-benar butuh." ujar Sasuke tanpa menanggapi apa yang tadi wanita itu katakan padanya.
"Aku pulang karena aku bosan di Amerika." sahutnya malas.
"Hn." Sasuke mendengus pelan.
"Dan aku akan meminta bayaran mahal untuk semua yang aku kerjakan." ujarnya dengan seringai.
"Terserah yang penting masalah ini cepat selesai." sahut Sasuke tak peduli.
"Baiklah." wanita itu kembali memasang senyum misterius lalu berdiri dari duduknya, "Aku pergi." ujarnya pamit dan berbalik untuk meninggalkan ruang kerja Sasuke.
"Kau benar-benar berhenti dari CIA?" tanya Sasuke mengintrupsinya.
"Tentu saja." jawabnya.
"Kau akan berkerja dimana setelah ini?" tanya Sasuke lagi. "Kau tahu Itachi hampir gila mendengar kau berkerja di CIA dan bahkan seribu satu cara dia lakukan untuk memberhentikan mu dari CIA." tambahnya membuat seringai wanita itu terlihat manis.
"National Police Agency." jawabnya lalu pergi meninggalkan ruang kerja Sasuke.
Sasuke mengdengus geli mendengarnya lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar yang berada disamping meja kerjanya. "Kau jatuh cinta dengan wanita yang menyusahkan aniki." gumamnya.
Braaak...
Sasuke menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang telah berhasil membuatnya terkejut dan membuat pintunya rusak. Perempatan muncul di kepalanya melihat Itachi yang ngos-ngosan habis berlari.
"Aku dengar Yugao sudah pulang dan baru saja menemui mu?" tanyanya dengan susah payah karena harus mengatur oksigen yang keluar masuk ke dalam tubuhnya.
"Baka." komentar Sasuke membuat Itachi mendengus kesal.
"Yak!" seru Itachi kesal.
"Jangan bilang kalau kau jauh-jauh dari Korea hanya untuk melihatnya." kata Sasuke datar membuat Itachi mendengus kesal.
"Kau tidak bertemu dengannya? Dia baru saja keluar." kata Sasuke sebelum Itachi mengumpat dan beberapa detik kemudian Itachi telah menghilang dari dalam ruang kerjanya.
"Sial! Ruang ku bau dan pintu ku rusak!" makinya kesal.
.
.
.
.
.
.
Naruto tersenyum lebar melihat Gaara yang berhasil membawa pulang piala. Pemuda berambut merah itu melambaikan tangannya dari area pertandingan setelah juri menyerahkan piala dan uang tunai kepadanya.
"Selamat!" seru Naruto senang saat Gaara sudah berdiri didepan matanya.
"Aku traktir ramen bagaimana?" tawar Gaara membuat Naruto tertawa pelan mendengarnya.
"Hari ini aku mau makan shusi!" seru Naruto.
"Boleh-boleh." Gaara mengangguk setuju dan Naruto melompat-lompat seperti anak kecil yang keinginannya di kabulkan.
"Ayo!" seru Gaara dan menarik lengan Naruto dengan kuat membuat gadis itu terpaksa mengikuti kemana Gaara membawanya.
Naruto duduk di bangku penumpang sambil membawa piala yang Gaara dapatkan dan terus mengoceh tentang sekolahnya atau kegiatannya bersama Sasuke dan Gaara akan menyahuti membuat tawa Naruto terdengar beberapa kali.
Mereka sampai di sebuah resto tradisional tak jauh dari tempat pertandingan, Naruto turun dan menunggu Gaara untuk memarkirkan sepeda bututnya lalu mereka masuk bersama dan duduk di dekat jendela yang menghadap kolam ikan yang indah. Resto ini benar-benar sejuk dan menenangkan bahkan mereka duduk lesehan.
Senyum yang tadi tersemat di bibir Gaara mulai menghilang saat melihat keluarga besar Sabaku berjalan masuk ke dalam resto bahkan duduk tepat di belakang Naruto.
Naruto yang menyadarinya langsung menoleh kebelakang mengikuti arah pandang Gaara dan gadis itu terdiam dan kembali melihat kearah Gaara yang tersenyum miris melihat kedua kakaknya dan juga ayahnya.
Mereka tidak akan menengal siapa dirinya karena mereka sudah lama tidak bertemu tapi Gaara selalu melihat wajah mereka di majalah bisnis dan internet.
"Sasuke-kun!"
Deg!
Naruto menoleh kearah pintu masuk karena mendengar nama suaminya di sebutkan.
Sasuke berjalan masuk ke dalam resto sambil menggendong seorang anak kecil yang pernah dia temui dan wanita itu terlihat mengamit lengan Sasuke dengan mesra mereka duduk di meja dekat pintu yang mengarah ke taman resto dan kelang lima meja dari tempat Naruto duduk.
"Ayo sayang sini, papa pasti lelah kalau terus menggendong mu." ujar Hinata lembut kepada Inari dan gadis kecil itu menuruti apa yang ibunya katakan.
"Papa?" gumam Naruto pelan dan langsung melihat kearah Sasuke yang tersenyum sambil mengelus pipi Inari dan kepala Inari.
"Sayang kamu pesan apa?" tanya Hinata kepada Sasuke.
"Sama seperti kau saja." jawab Sasuke.
"Sayang?" gumam Naruto dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya apalagi saat Hinata dengan terang-terangan melihat kearahnya sekilas dan mencium Sasuke tepat di bibir.
"Ayo kita pulang." ujar Naruto dan Gaara bersamaan bahkan mereka saling menatap dengan berurain air mata.
"Em kita pulang yuk lain kali saja, aku janji akan traktir kamu lebih banyak. Hari ini aku benar-benar lelah." ujar Gaara sambil menundukkan kepalanya agar tidak melihat ke belakang Naruto.
"Aku juga lelah." sahut Naruto sambil membuang muka dari arah Sasuke duduk bersama Hinata dan Inari.
Gaara mengangguk dan mereka pulang bersama.
"Tadi mirip Gaara?" kata Temari sambil memperhatikan punggung Gaara yang mulai menghilang dari penglihatannya.
"Perasaan kau saja." sahut Kankuro sambil memasukkan sushi ke dalam mulutnya sedangkan Rasa tidak peduli sama sekali dengan apa yang Temari katakan.
"Ayah." panggil Temari pelan.
"Habiskan makan mu karena sebentar lagi kita akan mengadakan rapat bersama Nara Group." kata Rasa tanpa peduli dengan apa yang Temari rasakanya.
"Baiklah ayah." sahutnya lirih.
Gaara mengayuh sepedanya pelan setelah mengantar Naruto pulang. Di tatapnya kosong jalanan yang ada di hadapannya dan sesekali ia hapus air matanya yang mengalir membasahi pipinya karena pandangannya menjadi kabur saat menangis.
"Aku senang bisa melihat kalian walaupun hanya sekilas." ucapnya pelan dan tersenyum kecil sambil terus mengayuh sepeda menyusuri jalan lalu berhenti saat melihat lampu merah dan menunggu lampu berubah warna menjadi hijau dan di saat itulah dia berusaha menghampus air matanya.
Tiiiiiiiiiiin...
Gaara tersadar kalau lampu sudah berubah warna dan cepat-cepat ia kembali mengayuh sepedanya tanpa melihat kalau ada motor ninja yang hendak meneros lampu merah.
Braaak...
Tubuh Gaara terlempar dan menghantam trotoar dengan cukup keras dan pialanya hancur seketika dan orang yang menambraknya juga ikut terlempar dan menghantam mobilnya yang lewat.
"Ayah." ucap Gaara pelan sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
.
.
Naruto menangis histeris di dalam kamarnya sejak beberapa menit yang lalu, gadis itu menangis sambil memukul dadanya yang terasa sesak. Sasuke. Pria yang sudah ia percayai telah mengkhinatinya! Tidak adakah orang yang tulus mencintainya?
Apa karena dia masih kecil dan polos jadi mudah di bohongi? Kenapa semua orang suka sekali menyakitinya?
Naruto meraung keras dan melepaskan foto pernikahan dirinya dan Sasuke dari dinding kamar dan di pecahkannya, di injaknya tanpa peduli kalau kakinya akan terluka tertusuk kaca.
"AAAAAAAKKHHH..." Naruto berteriak keras dan menjatuhkan dirinya kelantai.
Wanita itu memiliki hubungan dengan Sasuke dan gadis kecil tadi adalah putri Sasuke. Kenapa Sasuke tidak jujur padanya! Apa karena wanita itu Sasuke terlambat menjemputnya?!
Naruto menangis dan terus menangis tanpa peduli kalau kamarnya dan Sasuke sudah seperti kapal pecah.
Satu jam terlewati dan ia masih menangis. Semua hanya palsu, kasih dan cinta yang palsu. Sasuke hanya merasa kasihan maka dari itu Sasuke menikahinya dan berbuat baik, bukankah Sasuke bersikap kejam padanya lalu tiba-tiba bersikap baik saat tahu tentang dirinya.
Sasuke hanya kasihan padanya tidak lebih! Kenapa?! Kenapa semua orang selalu memandangnya kasihan dan benci?! Apa salahnya hingga di perlakukan seperti ini? Kenapa dan apa?
"Aku membenci mu Sasuke." gumam Naruto pelan dan kesadarannya pun menghilang karena sudah banyak darahnya yang mengalir dari telapak kakinya yang tertusuk pecahan kaca.
Bersambung~
Baturaja, 14 November 2016 Sumatera Selatan.
