Author's Note : Yeah, update lagi. Agak telat sih, tapi salahkan laptop saya yang akhir-akhir ini jadi lambat.

Maaf, saya tidak bisa menjawab review nya satu per satu dikarenakan keadaan PC saya yang tidak memungkinkan. Tapi di A/N ini, M4dG4rl hanya bisa mengucapkan terimakasih untuk komentar dan support yang sudah kalian berikan (Ciehh ...)

Oh, ya, untuk catatan lagi, kita tahu bahwa kelemahan BoBoiBot adalah air, tapi ... dikarenakan fic ini sudah dipublish duluan sebelum BBB musim 3 episode 18 muncul, maka saya akan berpura-pura untuk tidak tahu dengan kelemahan BoBoiBot (Ingat, pura-pura saja).


"Apa?! Kau jadikan Ochobot dan koko Tok Aba sebagai bahan taruhan?!" suara Fang meninggi di telepon itu. "Ini tidak sesuai rencana!"

"Tak apa lah. Biar tambah seru." Ujar Probe dengan ceria dari seberang telpon. "Aku sering liat di film-film. Pokoknya best lah."

"Kau gila?! Kalau kami kalah bagaimana?"

"Alaah … tak akan kalah lah. Kalau berdasarkan film, tokoh jagoannya menang kok."

"Kau ini …. Benar-benar mau bantu kami atau tidak, sih?!"

"He? Sejak kapan aku bohong?"

Fang memutar bola matanya.

"Jangan khawatir, Incik Fang. Aku jamin seratus persen BoBoiBoy akan menang."

"Terserah kau saja lah. Tapi awas saja kalau hasilnya gagal, aku akan panggil naga bayang buat menghabiskan kau."

.

.

.

Perpisahan yang Pahit

Chapter 7 : Battle

Disclaimer : BoBoiBoy belongs to monsta

Warning : eyd kacau, typos, ooc (maybe), bahasa Indonesia

Don't like, don't read

.

.

.

Setelah menutup telepon, Probe menyembunyikan alat telekomunikasinya dan mulai mengedarkan pandangannya kesekitar kamar majikannya yang rapi, terimakasih pada dirinya untuk telah membersihkannya. Setelah puas dengan hasil kerjanya, robot berbentuk piring terbang itu keluar dan melayang menuju ruangan lain.

Ia berusaha untuk tidak menimbulkan suara saat melewati ruangan yang biasa digunakan BoBoiBot untuk latihan bertarung. Dari dalam sana, terdengar sangat jelas Adu Du sedang melatih robot kesayangannya untuk menghadapi BoBoiBoy.

Perjalanannya sampai di tempat pemberhentian ketika mencapai laboratorium. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan waspada saat memutar kunci pintu. Dengan amat perlahan, ia masuk dan menutup pintu kembali. Bahkan suara pintu yang tertutup pun nyaris tak terdengar.

"Haah… haah …" Probe mendesah lega karena berhasil menyeludup ke ruang pribadi bos nya. Tema music Mission Impossible yang terdengar entah darimana mengiringi aksinya. Dengan bergegas, ia langsung mengacak-acak barang disana, mencari sesuatu. Hampir tak ada satu pun barang yang luput dari pemeriksaannya, mulai dari lemari, buffet, kursi, sampai meja.

"Mana itu? mana itu?" pikirnya dengan panik diantara kertas-kertas yang berhamburan, khawatir seseorang akan masuk kesana sebelum ia sempat mendapatkan apa yang dicarinya.

Matanya menangkap sebuah kotak kayu besar yang diletakkan secara sembarangan di bawah salah satu meja tepat di sudut ruangan. Probe melayang ke sana dan membuka tutupnya. Sulit. Keras sekali. Tak bisa dibuka.

Dimana kuncinya?

Cling

Sebuah benda terbuat stainless stell berkilauan diantara tumpukan kertas. Kebetulan sekali. Itu pasti kuncinya.

Probe meraih kunci itu dan memutarnya di lubang kunci kotak. Clek. Terbuka.

"Haha! Ini dia!" ia berseru dengan keras saat menemukan segulung kertas tebal disana dan membentangkannya di atas lantai.

Kertas itu memiliki gambar BoBoiBot beserta komponen-komponen yang terpasang ditubuhnya, lengkap dengan segala system yang membuatnya bergerak, berpikir dan berbicara. Ya. Itu adalah blueprint BoBoiBot.

Meskipun dirinya tidak jenius dan terkadang tampak bodoh, tapi Probe mengerti banyak hal tentang robot. Harus diakui, saat mempelajari blueprint itu, BoBoiBot lebih kompleks dan jauh lebih maju daripada robot tempur seperti dirinya yang hanya mengandalkan air ledeng sebagai energy utama.

"Hmm … " matanya menjelajahi tiap goresan, gambar, skema dan tulisan yang ada diatas kertas tersebut. "Aha!" tangannya tiba-tiba menunjuk ke salah satu titik, tepat di topi BoBoiBot. "Ini pasti kelemahannya." Ia bergumam pada dirinya sendiri. "Sampel kuasa BoBoiBoy ada disini. Jadi, kalau bagian ini dirusak, pasti semua kuasa BoBoiBot akan lenyap. Muahaha …" ia meniru tawa jahat khas milik Adu Du. "Tunggulah kau BoBoiBot! BoBoiBoy akan segera menghabisimu. Tunggulaaahhh!"

"Woi. Apa-apaan kau?!"

"Eh?" Probe dengan cepat menggulung blueprint itu dan menyembunyikkannya dibalik punggung, menoleh kepada orang yang menginterupsinya.

Adu Du berdiri di ambang pintu bersama BoBoiBot dengan tatapan marah, kesal karena salah satu anak buahnya telah berani memasuki ruang pribadinya tanpa ijin.

"Eh, Incik Bos." Probe berusaha tidak terlihat tegang. "Kenapa incik Bos datang kemari?"

"Hei, ini kan ruangan aku, seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau datang kemari?!"

"Lah. Aku datang kan untuk membersihkan ruangan ini." Probe berbohong. "Lihat," tunjuknya pada langit-langit. "Banyak sarang laba-laba dan debu Dimana-mana. Incik Bos tak boleh ada disini lama-lama. Nanti bersin." Ia baru saja akan mendorong tubuh tuannya keluar.

"Eh, eh, tunggu dulu." Cegah BoBoiBot. Ia memutari Probe dan merampas kertas yang sedang disembunyikkannya. "Incik Adu Du. Lihat. Sepertinya Probe mengambil ini."

"Apa?!" Mata si alien hijau berkilat marah. "Kau mau mencuri blueprint BoBoiBot?!"

"He … mana ada aku main mencuri. Ish, ish, ish, tak baik Incik Bos berprasangka buruk dengan orang lain."

"Habis tuh, kenapa ini bisa ada di kau, pakai disembunyikan lagi." Ia menggoyang-goyangkan gulungan itu.

"Oh … aku kira itu sampah. Jadi harus dibuang lah."

"Enak saja kau bilang ini sampah." Bos nya mengomel. "Ini benda berharga. Tak ada satupun ilmuwan di dunia ini yang bisa merancang robot hebat seperti yang sudah aku buat." Ia mengisyaratkan BoBoiBot. Si android hanya membungkuk hormat, layaknya memberi hormat diatas panggung kepada audience.

"Sudah, keluar lah sana." Adu Du melangkah masuk ke laboratorium pribadi miliknya dan duduk diatas kursi kerja. "Pergi buatkan aku air."

"Tapi … aku kan harus membereskan ruangan ini."

"Tak usah!" tolak Adu Du, setengah membentak. "Aku tak mau kau sentuh barang-barang aku seenaknya. Sekarang cepat pergi!"

Si robot ungu langsung menurut dengan sebuah umpatan kecil. "Apalah Incik Bos nih. Marah-marah terus. Cepat tua baru tahu rasa."

BoBoiBot mengawasi Probe dalam-dalam, tahu bawah robot tempur kuno itu telah berbohong. Untuk apa? Ia sendiri tidak yakin.


~Perpisahan yang Pahit~


Fang mengantongi walkie talkie nya setelah memutus percakapannya dengan Probe. Matanya memandang kearah tiga -bukan- dua orang dan satu robot yang sedang memandanginya tanpa berkedip dengan mulut terbuka.

"Apa?" tanyanya setelah beberapa detik kemudian.

BoBoiBoy melirik Ochobot, robot itu nampak shock berat.

"Apa?!" Tanya Fang lagi dengan suara yang agak lebih keras.

"Apanya yang apa. Kau setuju dengan tawaran taruhan dari Probe." Tukas BoBoiBoy. "kau tahu kan kalau aku kalah, kita harus menyerahkan koko Tok Aba dan Ochobot ke Adu Du."

"Lantas aku harus bagaimana? Probe sendiri yang sudah seenaknya merancang rencana ini."

"Ihh…" bocah bertopi oranye itu mengepalkan tangan dengan geram. "Sudah kuduga bakalan begini jadinya. Ini juga salah kau, Fang. Mau saja bekerja sama dengan Probe."

"Eh? Aku yang salah?" Fang menunjuk dirinya sendiri dengan jempol. "Enak saja. Ini salah kau lah."

"Aku?"

"Iyalah. Kau yang tidak bertanggung jawab. Gara-gara lari ke KL, kawan-kawan kita jadi ditangkap. Masih untung ada aku disini yang bisa diandalkan. Kalau tidak—"

"Hei, sudah-sudah," Tok Aba langsung melerai kedua anak lelaki yang hampir bertengkar itu. "jangan diteruskan. Nanti malah bergaduh."

"Hmph." BoBoiBoy dan Fang melipat kedua lengan di dada, saling membelakangi dengan sebal.

Tok Aba memijit-mijit dahinya, bingung dengan sikap kedua bocah itu yang malah jadi tidak akur di saat-saat genting seperti ini.

"Pokoknya sekarang kau ikuti saja lah apa kata Probe."

"Tapi, Atok. Kalau BoBoiBoy kalah bagaimana?"

"Tenang saja lah. Kau pasti menang." Si kakek berkata dengan ringan, tanpa beban.

"Tenang apanya Tok. Aku yang jadi bahan taruhannya." Ochobot ikut menimpali, kepala menunduk lemas. "Habis lah aku kalau BoBoiBoy kalah."

"Kita kan ada orang dalam."

"Tapi Probe itu bukannya bisa diandalkan. Atok liat sendiri keadaannya sekarang. Semaunya saja dia buat taruhan."

Fang menggigit bibirnya dengan kesal dan berjalan menjauhi BoBoiBoy. Jujur saja, ia pun tidak setuju dengan rancangan dari Probe. Tapi mereka bisa apa? Sudah untung robot itu mau bekerja sama membantu untuk menghadapi BoBoiBot. Justru BoBoiBoy tidak punya hak untuk protes. Dia tidak melakukan apapun sejak kemarin ketika Fang dan yang lainnya pergi ke markas kotak untuk menyelamatkan Ochobot.

Langkah Fang terhenti. Bicara tentang rancangan, ia berpikir apakah Probe sudah berhasil menemukan cara buat mereka mengalahkan BoBoiBot.

Baru saja ia memikirkannya, jam tangan digitalnya berbunyi.

Fang menaikkan sebelah alis. Ia tahu siapa yang sedang memanggilnya. Tapi, tumben-tumbennya Probe menggunakan media komunikasi audio visual untuk menghubunginya.

Anak lelaki itu menekan tombol. Hologram si robot tempur ungu muncul di permukaan alrojinya.

"Nah, Probe. Ada apa lagi?" Fang langsung melontarkan pertanyaan.

"Fang. Aku sudah tahu bagaimana cara menglahkan BoBoiBot."


~Perpisahan yang Pahit~


.

.

4 jam kemudian.

.

.

BoBoiBoy melangkahkan kakinya dengan mantap menuju markas kotak. Sorot matanya menunjukkan kesan serius dan tekad kuat akan pertarungan yang sudah direncanakan ini. Fang dan Ochobot mengiringi langkahnya dari belakang.

Harus menang.

Hanya itu yang ada dipikiran bocah bernuansa oranye itu.

Ia tidak berharap untuk mengalahkan Adu Du untuk selamanya karena memang tidak mungkin membuat alien itu menyerah. Ia hanya berharap bisa menyelamatkan semua teman-temannya dan menghancurkan BoBoiBot, kalau bisa.

Matanya terpejam, mencoba mengingat strategi apa yang akan digunakan. Probe sudah memberitahunya cara tercepat untuk melumpuhkan android peniru itu. Tenang saja, kemenangan sudah ada di depan mata. Tinggal mencari cara untuk meraihnya saja.

Oke, dia sudah memikirkan caranya. Pertandingan ini hanya antara dirinya dan robot replika itu kan. Jadi dia bisa menggunakan kuasa terkuatnya, berpecah menjadi tiga. Tiga lawan satu, sudah tentu dirinya akan menang.

Alunan musik ala koboi mulai terdengar ketika kakinya menginjak halaman markas kotak. Disana, Adu Du sudah menunggunya dengan sebuah seringaian lebar beserta Probe dan BoBoiBot. Hanya si Kambing S8000 dan Computer yang tak terlihat.

Untuk menambah suasana bertambah serius, beberapa burung gagak yang beterbangan diatas saling memekik mengitari area itu, seolah-olah mengawasi dari udara. Probe tampak antusias sekali, mengharapkan akan terjadinya beberapa adegan mendebarkan seperti yang ia lihat di film favoritnya.

.

Adu Du mengambil satu langkah kedepan. BoBoiBoy melakukan hal yang sama.

.

"BoBoiBoy." Ucap si alien tanpa melepas seringainya, menekankan nada pada tiap penggalan kata.

BoBoiBoy menajamkan tatapannya. "Adu Du."

.

Kedua pasang mata itu saling mengunci pandangan satu sama lain.

.

Probe maju ke depan, berdiri di tengah-tengah dua kubu berlainan itu. Berdehem sebentar, ia langsung mengeluarkan sebuah mikrofon kecil dan mulai mengoceh.

"Ehem, baik lah tuan-tuan dan para hadirin sekalian." Ia membuka acara dengan resmi. "Bersama saya, Incik Probe selaku MC sekaligus juri akan memulai membuka sesi pertarungan ini. Bersama saya disini sudah hadir …"

BoBoiBoy menggaruk kepalanya dengan heran. "Sejak kapan Probe jadi pembawa acara, hah?!"

Probe mengabaikan pertanyaan itu. "… disebelah kiri saya sudah ada sang penantang. Inilah dia ; BoBoiBoy. Yay! Mari beri tepuk tangan semuanya!"

Krik, krik, krik,

Adu Du, BoBoiBoy maupun semua yang ada disana hanya memandangi robot ungu itu dengan lesu terhadap sikap Probe yang sok seru sendiri.

"Dan di kanan saya, mari arahkan kameranya kesini. Yak Bagus. Beri tepuk tangan yang meriah untuk BoBoiBot! Hore..."

Adu Du menghentakkan kaki. "Woi, cepat lah selesaikan pidato kau itu!"

"Uhm, baiklah. Pada hari ini, akan dimulai pertarungan antara BoBoiBoy dan BoBoiBot dengan taruhan masing-masing dari kedua pihak." Ia berhenti sebentar. "Pertama, taruhan dari pihak BoBoiBoy, saya persembahkan ; Bola Kuasa dan Koko Tok Aba! Nah, nah, ayo mari kesini."

Fang melingkarkan kedua lengannya pada Ochobot. Seperti tidak rela untuk menyerahkan robot kuning itu. Ia mengawasi sekitarnya dengan gugup.

"Kau mau bawa bola kuasa itu kesini atau tidak?!" tuntut Adu Du. "Kalau tidak, pertarungan ini batal."

Anak berkacamata itu mendesah pelan, merasa tak punya pilihan lain. Perlahan, ia menggerakkan kakinya untuk berjalan kearah Probe. Ia tahu, saat ini, robot tempur itu masih di pihak mereka. Tapi, walau bagaimanapun, robot itu masih juga pelayan setia dari pihak musuh. Sempat terbesit di pikiran tentang kemungkinan Probe yang sebenarnya sudah menjebak mereka.

Fang melepaskan Ochobot dari rangkulannya setelah mencapai beberapa centi dari Probe. Tangan kanannya merogoh sesuatu dari saku dan meletakkannya di atas tanah. Objek itu memantulkan cahaya matahari sore saat menyentuh tanah.

Sekaleng cokelat bubuk Tok Aba.

Fang kembali ke tempat nya semula.

"Sekarang," lanjut Probe. "Mari kita lihat bersama-sama, taruhan dari pihak BoBoiBot. Saya persembahkan ..."

Adu Du menekan sebuah tombol remote yang ia pegang. Tiga detik kemudian, tanah yang ia injak bergetar sebentar, menghasilkan sebuah retakan sepanjang 3 meter di depan. Retakan itu memisah dan membelah ke samping, memperlihatkan sebuah ruang bawah tanah.

Tombol yang lain di tekan. Kali ini, sesuatu perlahan bergerak ke atas dari dalam lubang itu. Seperti sebuah lift, satu penjara kecil berupa kapsul bewarna hijau transparan dengan tiga orang anak di dalam di angkat ke permukaan.

"Gopal! Ying! Yaya!" panggil BoBoiBoy dengan gembira, lega dengan keadaan mereka yang baik-baik saja.

Ketiga sandera itu menoleh kearah asal suara. Mata ketiganya langsung membulat, mulut mengaga. Takjub dengan apa yang ada di depan mereka.

"Bo … Bo … BoBoiBoy!"

Gopal langsung berlutut, masih takjub. "Wuaahh…" ia mengucek kedua matanya, memastikan orang yang berdiri disana benar-benar apa yang ia harapkan.

Itu benar BoBoiBoy, kan? Teman yang sudah pergi kembali ke kampung halamannya. Pertanyaan bagaimana ia bisa ada di Pulau Rintis tidak terpikir oleh Gopal. Ia hanya terlalu senang kawan baiknya sudah berada disini lagi.

"Hah! Sudah kuduga!" anak keturunan india itu berseru sambil menempelkan telapak tangannya di dinding penjaranya dengan heboh. "BoBoiBoy pasti kembali!"

"Kita akan selamat." Yaya merasa sangat tenang sekarang.

"Hihi… rasakan kau, Kepala Kotak." Ying melompat senang.

"Huh! Menyerah saja lah kau, Adu Du. Kau akan kalah."

Adu Du menyilangkan lengannya ke depan. "Belum tentu." Katanya dengan dramatis pada para tawanannya. "BoBoiBoy harus mengalahkan robot aku dulu untuk membebaskan kalian. Kalau kalah, robot kuasa akan jadi milik ku dan kalian semua akan jadi anak buah ku buat selamanya!"

"Eh, Jadi anak buah?! Bukan seperti itu perjanjiannya." Bantah BoBoiBoy. "Sejak kapan aturannya jadi berubah."

"Sejak tiga detik yang lalu. Kenapa?"

"Grr …" bocah pengendali elemen itu mengeram. "Kau ini … seenaknya saja mengganti persetujuan."

"Tak setuju? Oh, silahkan saja. Kau boleh ambil kembali kawan-kawan kau tanpa bertarung kalau mau."

"Hah?! Serius?" BoBoiBoy ragu. "Betul nih?"

"Betul. Tapi …" alien itu tersenyum. Tangan kanannya menekan tombol remote dengan cepat dan secara tiba-tiba, sebuah penjara kecil yang tersembunyi dibawah tanah muncul dan –tanpa peringatan- mengurung Ochobot di dalamnya beserta kaleng cokelat bubuk Tok Aba.

"Eh, apa jadi ni?" robot bola kuning itu mencoba memegang jerujinya, hanya untuk mendapatkan kejutan listrik yang sudah teraliri disekitar penjara itu. "Wuuaahhh!" ia menjerit kesakitan, refleks melepas peganganya pada jeruji besi.

"Bola kuasa ini langsung jadi tawananku."

"Ugh!" BoBoiBoy dapat merasakan kobaran api kecil yang mulai terbentuk di sekitar jarinya. Sial, alien ini masih saja suka bermain kotor.

"BoBoiBoy." Fang memanggilnya dari belakang, setengah berbisik. Ia juga menyadari adanya api yang mulai terbentuk di tangan anak itu. "Tahan emosi."

.

Tidak. Ia tidak boleh bertransformasi menjadi BoBoiboy api sekarang. Salah sedikit saja, ia bisa melukai teman-temannya.

.

Perlahan kobaran api itu padam. BoBoiBoy mengatur pernapasannya agar tenang.

.

"Bagaimana?" Adu Du bersuara lagi. "Kau terima atau tidak?"

BoBoiBoy memandangi Ochobot, lalu ketiga temannya, dan terakhir menoleh kebelakang, kearah Fang.

Fang tidak mengatakan apapun, namun tatapannya seperti menyuruhnya untuk menuruti pilihan pertama dari Adu Du.

"Baik lah." Kata BoBoiBoy akhirnya. "Aku terima perjanjian baru tadi."

"Bagus," Adu Du menyeringai. "Probe!" ia memerintah. "Beritahu mereka peraturan pertarungannya."

"Oke, baik Incik Bos." robot itu berdehem lagi. "Sebelum pertarungan dimulai, sudah seharusnya saya memberitahukan beberapa peraturan-peraturan yang harus dipatuhi. Barang siapa yang melanggar, akan langsung di diskualifikasi dan menjadi pihak yang kalah."

Fang memutar bola matanya dengan malas. Semoga saja peraturannya tidak aneh.

"Aturan pertama ; dilarang mendapat bantuan dari pihak kawan."

BoBoiBoy mengangguk. Oke, tak masalah dengan peraturan pertama.

"Aturan kedua ; pihak yang nantinya dinyatakan kalah tidak boleh menyerang pihak yang menang."

Masih bukan masalah, pikir BoBoiBoy.

"Dan aturan ketiga adalah ; BoBoiBoy dilarang menggunakan kuasa terkuatnya."

"Hah?!" BoBoiBoy kaget. Itu berarti ia tidak boleh berpecah menjadi tiga?! "Probe!" desisnya.

Probe langsung terburu-buru mendekati BoBoiBoy dan berbisik. "Maaf, BoBoiBoy. Incik bos yang buat peraturan ini. Bukan aku."

"Oi, Probe! Kenapa kau ada disana?!" Adu Du memanggilnya, marah. "Cepat kembali kesini."

"Uh, baik Incik Bos." robot itu kembali ke tengah-tengah. "Baiklah, setelah setuju dengan semua peraturan yang berlaku, dengan ini, pertarungan antara BoBoiBoy dan BoBoiBot ... DIMULAI!" Probe meniup terompet tahun baru yang ia dapat entah darimana.

Teet ..

BoBoiBoy dan BoBoiBot bergerak ke depan, ke tengah-tengan arena dengan pandangan bermusuhan. Mencapai beberapa centi, mereka mengitari satu sama lain dengan terus mengunci tatapan.

"Kau akan kalah, BoBoiBoy." Si android langsung berkomentar dengan suara robotnya.

"Huh? Belum tentu. Aku sudah tahu kelemahan kau." Balas BoboiBoy.

"Kelemahan Aku? Hah! Aku tak ada kelemahan."

BoBoiBoy tersenyum percaya diri. "Kau salah besar. Aku akan buat kau membayar kejahatan yang sudah kau dan Adu Du lakukan."

"Oh, berani juga kau rupanya," robot replica itu tertawa. "Nah, mari lah. Silahkan kau mulai dulu." Ia mempersilahkan BoBoiBoy untuk menyerang duluan.

"Huh, kau meremehkan aku rupanya." bocah bertopi itu tersenyum. "BoBoiBoy Halillintar!" ia berseru, kemudian melompat ke arah musuh. "Pedang Halilintar. Retakan Halilintar! Kyaahh!"

BoBoiBot langsung menganalisis pergerakan lawannya dengan cepat. "BoBoiBot Halilintar. Pedang Halilintar 2.0! Kiyaah!" android itu menggunakan pedang halilintarnya untuk menahan serangan BoBoiBoy.

Adu kekuatan pedang pun diuji. Milik siapa yang paling kuat, tidak ada yang tahu. BoBoiBoy dengan sekuat tenaga mendorong senjatanya ke depan, berusaha menggores badan besi itu dengan mata pedang miliknya.

Si robot tak mau kalah, ia tidak membiarkan pedang miliknya mundur se senti pun mendekati wajahnya.

Lima detik kemudian, kedua pedang yang sama kerasnya itu patah dengan pecahannya beterbangan di udara.

Gopal merasakan jantungnya menjadi deg-deg an. "Aduh, bagaimana nih? Mereka berdua sama kuat."

Si bocah dan si robot sama-sama terdorong kebelakang ketika senjata mereka hancur. BoBoiBoy menggertakkan geliginya dengan marah, merasa robot itu lebih kuat daripada sebelumnya.

"BoBoiBoy Taufan!" anak itu bertransformasi. "Cakera Udara! Kiayh! Kiyah! Kiyaahhh!" beberapa bumerang tajam terbuat dari angin dilempar ke arah BoBoiBot Halilintar. Dengan lihainya, BoBoiBot menghindari hantaman-hantaman cakera udara itu dengan gerakan kilat. "Tumbukan gerudi Taufan." BoBoiBoy lanjut menyerang sambil terbang dengan hoverboard ke arah si robot, mengarahkan gerudi nya tepat ke arah si musuh.

"BoBoiBot Taufan 2.0!" si robot menghindar ke samping. Serangan BoBoiBoy melewatinya dengan sia-sia. "Bola taufan, 2.0!" bola angin seukuran bola tenis yang terbentuk di tangan robotnya itu menghantam BoBoiBoy tepat di dada, membuat si korban terlempar ke belakang sambil berputar-putar.

Sulit dipercaya. Tapi BoBoiBot baru saja menggunakan teknik penyerangan yang mirip digunakan Taufan saat bertarung dengan Halilintar dulu.

Tubuh kecilnya jatuh diantara tumpukan-tumpukan mobil rongsokan yang ada di area itu.

"Ha,ha,ha. Sakit, ya?" Ejek BoBoiBot. Ia tidak dapat melihat BoBoiBoy karena terhalang oleh banyaknya tumpukan besi rongsokan yang sudah menggunung di sana.

Fang mengawasi dengan khawatir. Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari BoBoiBoy. Jangan-jangan anak itu mengalami patah tulang sehingga tidak bisa bangkit lagi.

"Tanah Jerakah!"

"Hah?!" si robot musuh belum mempersiapkan dirinya untuk serangan mendadak. Badannya segera terlempar ke atas, mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari tanah yang tiba-tiba meninggi.

BoBoiBoy, sekarang dengan wujud Gempa, memukul permukaan tanah menggunakan tangan tanah dan siap mengeluarkan jurus yang lain. "Bukaan Tanah!"

Sebuah lubang besar langsung terbentuk, menelan BoBoiBot yang jatuh ke dalam.

Belum cukup sampai disana, BoBoiBoy mengisi lubang itu dengan tanah ... dengan robot replika yang masih terperangkap di dalam. "Tutupan Tanah!" Lubang itu segera menutup kembali.

"Wuaah! Keren!" Probe tambah antusias menyaksikan BoBoiBot yang terkubur di lubang itu.

Belum sampai pada detik ketiga, robot yang tadinya terkubur itu tiba-tiba melompat keluar dengan wujud BoBoiBot Gempa, mendesak tanah yang menimbunnya bersama dengan makhluk raksasa. "Golem Tanah 2.0! Kiyaah!" mengikuti gerakan masternya, si golem mengarahkan tinjuan super kuatnya ke BoBoiBoy.

"Awas BoBoiBoy!" Teriak teman-temannya.

Terlambat. Tinjuan itu sudah mendarat di perutnya sebelum BoBoiBoy sempat menghindar. Punggungnya menghantam tanah dengan keras. Anak itu meringis menahan rasa sakit luar biasa pada tubuhnya.

"BoBoiBoy!" Fang berlari ke arah nya.

"Tidak. Jangan kesini." BoBoiBoy mengingatkannya.

Fang berhenti, ingat dengan aturan pertama dari pertarungan ini. Tangan kanannya terkepal membentuk sebuah tinjuan tertahan. Ia benci ketika menjadi orang tak berguna, yang tidak bisa melakukan sesuatu yang seharusnya bisa ia lakukan.

BoBoiBoy bangkit perlahan. Pandangannya sudah agak kabur. Ia akui robot itu memang kuat. Tapi satu hal yang ia sadari ; BoBoiBot sejak tadi hanya mengikuti gerakannya saja. Jika ia bertukar menjadi Halilintar, maka robot itu akan memilih bentuk wujud yang sama. Ini sama saja dengan mencoba mengalahkan diri sendiri sementara kau berpikir bahwa dirimu tak dapat dikalahkan.

"Kau menyerah, BoBoiBoy?" si robot menggodanya. "Kau sudah tak ada tenaga lagi buat melawan aku."

"Menyerah?! Huh! Belum." Ia meninju tanah lagi. "Cengkraman Tanah!"

Tumpukan tanah segera muncul dan menjepit BoBoiBot. BoBoiBoy tahu sangat mudah bagi robot itu untuk melepaskan diri dari jeratannya karena si robot itu sendiri pun sedang dalam wujud pengendali tanah. Sia-sia, memang. Tapi ia tidak bisa memikirkan teknik lain yang lebih berguna.

"Kau kira kau bisa menahan aku dengan ini?" BoBoiBot tertawa. "Kiyah!" dengan mudah, ia meninju tanah yang menjepitnya dan melepaskan diri dengan sukses. "Sepertinya kau sudah kehabisan akal buat kalahkan aku."

BoBoiBoy menjadi geram.

Bagaimana? Bagaimana cara mengalahkan robot itu? Padahal Probe sudah memberitahunya untuk menyerang dan merusak topi BoBoiBot untuk mengeluarkan semua sampel kuasanya. Tapi, robot itu sulit sekali bahkan untuk disentuh sekalipun.

"Tanah Pelindung!" Seru BoBoiBoy.

"Huh?"

Sontak semua heran. Tanah Pelindung? Yang benar saja. Apa yang sedang di pikirkan anak itu?

"Kau mau bersembunyi rupanya." tunjuk BoBoiBot pada bongkahan tanah keras yang menutupi BoBoiBoy. "Cih, dasar penakut." dan lanjut menyerang. "Tumbukan Giga 2.0!" Golem milik BoBoiBot mengangkat tangan raksasa batu nya dan menghancurkan tanah pelindung BoBoiBoy, menghasilkan suara dentuman kuat dan serpihan-serpihan batu serta debu yang beterbangan disekitar mereka.

Ying, Yaya, dan Gopal memejamkan mata.

Flash!

Sebuah kilauan cahaya muncul tepat ketika tanah pelindung itu hancur, membutakan semua pandangan mata orang yang ada disana.

"Kilauan Kilat!"

BoBoiBoy meloncat tinggi ke atas dengan wujud Halilintar lagi. Kilauan cahaya merah menyala menyelubungi dirinya. Ia langsung memanfaatkan kelengahan BoBoiBot yang sedang mengalami kebutaan sesaat dengan cara melempar lima bola kilat secara bertubi-tubi ke arahnya. Si robot peniru yang tidak dapat melihat apapun mendapat kejutan sengatan listrik besar disekujur tubuhnya.

"Tidak!" Jerit Adu Du. Disampingnya, Probe bertepuk tangan kegirangan.

Tanpa memberi BoBoiBot kesempatan untuk pulih, BoBoiBoy mengeluarkan pedang halilintar dan melemparkannya ke langit. "Hujan Halilintar!"

Langit menjadi gelap. Awan-awan tebal mulai berakumulasi, menghalangi cahaya matahari. Suara guruh terdengar, dilanjutkan dengan turunnya ribuan halilintar yang menghujani bumi.

Untuk pertama kalinya, teknik itu menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. BoBoiBot Gempa yang belum siap untuk berdiri harus menerima ribuan tusukan pedang halilintar yang melukai tubuh besinya.

BoboiBoy tertawa penuh kemengangan. "Hahaha ... habis lah kau kali ini."

Ochobot berdecak kagum. "Hebat."

"Terbaik kau, BoBoiBoy!" Gopal mengancungkan jempol dengan bangga.

Perlahan, kedua tangan robot yang diselubungi sarung tangan tanah itu bergerak. Ia masih dalam wujud BoBoiBot Gempa sekarang dan itu artinya, ia bisa membuat pertahanan untuk dirinya.

"Tanah Pelindung. 2.0!"

BoBoiBoy tersenyum simpul. Robot itu sedang berlindung dan tidak akan mampu mengontrol pergerakan golem tanahnya hingga ia keluar dari tempat persembunyiannya.

BoBoiBot tidak tahu apa yang terjadi di luar tanah pelindungnya. Setelah yakin bahwa hujan halilintar sudah berhenti, robot itu menghancurkan dinding sekitarnya, bersiap untuk melanjutkan pertarungan yang belum selesai. Tapi ia terkejut ketika melihat Golem tanah miliknya sudah hancur menjadi pecahan-pecahan batu biasa di bawah kaki Golem tanah milik BoBoiBoy yang sekarang sudah kembali ke wujud Gempa.

BoBoiBoy memanfaatkan kesempatan dari BoBoiBot yang masih terkejut itu untuk mengirim serangan lagi. Ia melayangkan sebuah tinjuan, yang kemudian diikuti oleh gerakan si Golem. Sambil terus memusatkan perhatiannya pada kepala BoBoiBot, BoBoiBoy menghantam kepala besi itu dengan pukulan penghancur.

"Tumbukan Pemenyek!"

DUM!

Pukulan itu berhasil mengenai targetnya. Fang berani bersumpah ia melihat retakan serta beberepa kabel yang terekspos di kepala robot itu sesaat ketika si Golem tanah menghantam tinjuannya.

"Hore!" Gopal, Ying dan Yaya bersorak. "Kita menang."

Probe menari-nari. "Wuhuu ... gila cool."

Sekarang, Adu Du yang langsung shock, hampir tak mampu berkata-kata lagi. "Tak ... Tak mungkin."

"He,he,he." BoBoiBoy tersenyum puas.

.

Tubuh si robot bergerak.

.

"Apa?!"

.

Kepalanya naik, memperlihatkan sebagian kepalanya yang hancur. Empat tabung kecil berisi sampel kuasa BoBoiBoy keluar dan jatuh dari sana.

"Wuah, kuat nya robot itu," komentar Gopal, sedikit kagum. "Kepala sudah hancur tapi masih bisa bergerak?"

BoBoiBoy mundur perlahan. Kepala robot itu mengeluarkan percikan api dari kabel-kabel yang mulai putus. Langkahnya terseok-seok memburu BoBoiBoy seperti seorang zombie. Wujud nya kembali menjadi normal setelah semua kuasa nya lenyap. Untuk saat ini, android itu tak lebih dari sekadar robot mainan canggih yang rusak. Satu tusukan keris petir mungkin sudah lebih dari cukup untuk mematikannya.

Tapi BoBoiBoy tidak melakukannya. Merasa dirinya terlalu baik untuk memusnahkan robot yang sudah lumpuh itu.

BoBoiBot ambruk ke tanah, tidak mampu melanjutkan perjalanannya.

BoBoiBoy berubah menjadi normal, senyuman muncul lagi di bibirnya. "Kau sudah kalah, Adu Du. Sekarang, bebaskan semua teman-teman aku."

Si alien hijau menampakkan ekspresi ketakutan, badannya gemetar dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Namun perlahan, ketakutannya hilang digantikan dengan seringaian jahat yang biasa menghiasi wajahnya. "Kalau tidak apa?" tantangnya.

"Oh, tidak sadar diri rupanya."

"Huh. Kau yang tidak sadar diri." Alien itu menunjuk ke belakang BoBoiBoy. "BoBoiBot. Tembak!"

"Eh?"

BoBoiboy menoleh kebelakang. Matanya langsung membesar melihat BoBoiBot, dengan kepala yang masih hancur, berdiri kokoh sambil menempelkan meriam tangan nya ke wajah BoBoiBoy.

Bagaimana bisa? Pikir BoBoiBoy dengan tak percaya. Bukankah seharusnya dia sudah mati?

Si robot tersenyum licik, menekan arm canon lebih keras ke kening si anak. "Habis kau kali ini."

BOOM ...

Tembakan plasma besar dilepaskan dari meriam itu.

BoBoiBoy merasakan tubuhnya mengalami rasa sakit dan panas yang luar biasa. Ia menjerit kesakitan.

Pandangannya kembali kabur. Samar-sama, ia mendengar suara teman-temannya memanggil namanya dengan panik dari kejauhan.

Tubuhnya lemas. Pikirannya melayang. Ia tidak bisa melihat maupun mendengar apapun lagi. Semuanya sudah menjadi gelap.

.

.

.

TBC


Author's Note : Nah, bagi yang sudah membaca A/N di awal, mohon dimengerti kenapa saya tidak mengeluarkan BoBoiBoy Air di fic ini untuk mengalahkan BoBoiBot.

Apakah BoBoiBoy mati terkena tembakan meriam? Nantikan di update berikutnya yang saya tak yakin kapan bisa di post. Oh, tapi saya rasa readers sudah bisa menebak, yah.