Last Chapter ^^kkk

kyaaa , gak kerasa :))

mksih buat yg dah mau baca :) *big hug*

mudah"an gak absurd chapt. ini *apahcobah*

okay, langsung aja yahh...

enjoy it ^^ #ngawur#:D

.

.

Chapter 7

.

.

Previous Chapter

.

.

Yunho membalikkan wajahnya ke arah Jaejoong, ketika Jaejoong tiba - tiba memasangkan salah satu headset ke telinga kanannya.

"aku tak tahu apa yang membuat kau muram, Yun... mudah - mudahan ini membuatmu sedikit tenang.", kata Jaejoong sambil tersenyum kecil.

Yunho terdiam dan mencoba kembali fokus pada majalahnya, dengan alunan musik yang mulai terdengar di telinga kanannya.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

"tunggu di sini.", kata Yunho sambil melepas headset di telinganya dan beranjak dari tempatnya duduk.

Jaejoong terdiam, ia hanya memandang Yunho yang menghilang di balik pintu kamar mereka.

Beberapa menit kemudian, Yunho keluar dengan sebuah amplop berwarna putih. Ia berdiri membelakangi televisi sambil menatap Jaejoong.

"kemarilah.", kata Yunho pelan.

Jaejoong melepas headsetnya dan berjalan menuju ke tempat Yunho berdiri.

"ada apa?"

"ini.", kata Yunho sambil menyerahkan amplop putih yang tadi di pegangnya.

Jaejoong menerimanya, memandang Yunho sebentar, lalu tangannya bergerak membuka amplop tersebut.

Dua buah tiket pesawat South Korean Air, terlihat di dalam amplop tersebut. Jaejoong mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti.

"Belanda? Untuk apa?", tanya Jaejoong setelah membaca tujuan penerbangan di tiket itu.

"Di sana, hubungan kita akan dilegalkan. Dan... Abeoji-ku takkan bisa mengganggu kita di sana."

Jaejoong memekik kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang bebas. Ia memandang Yunho dengan mata berkaca - kaca.

Jaejoong bergerak cepat memeluk Yunho dengan sedikit menubruk tubuh namja yang lebih tinggi darinya itu.

"apa... kau akan pergi bersamaku?"

"eumm..."

Jaejoong tak sanggup menjawab. Hanya gumaman kecil dan tak jelas itu saja yang dapat keluar dari bibirnya.

"Jangan menangis lagi.", kata Yunho sambil melepas pelukan Jaejoong. Ia lalu menghapus air mata Jaejoong dengan ibu jarinya.

"mian, aku seharian ini tak banyak bicara. Aku tak tahu bagaimana cara memberitahumu tentang rencanaku. Aku sudah mengatakannya pada keluargamu tadi. Dan, mereka akan menerima semua keputusanmu. Aku juga sudah bertemu eomma tadi siang. Dan dia mendukungku..."

Air mata Jaejoong kembali mendesak keluar.

"ke manapun kau pergi... aku akan mengikutimu.", kata Jaejoong di sela - sela tangisnya.

"gomawo... tapi, berhentilah menangis. Lihat, wajahmu jadi memerah.", kata Yunho sambil mencium kening Jaejoong.

"jja! Uljima..."

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Dua orang namja kecil, berlari keluar dari sebuah halaman sekolah dasar. Itu membuat tas yang tergantung di pundak mereka, bergerak naik turun dan menimbulkan suara - suara dari dalam tas itu.

"eomma!", teriak seorang namja kecil yang terlihat lebih besar dari yang satunya.

"Jun Hongi sudah pulang, Eomma!", teriak namja kecil yang satunya.

Namja cantik yang sedang menunggu di dekat pagar sekolah itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah dua bocah kecil itu. Ia langsung berjongkok, menyambut mereka dengan pelukan.

"Jongi-ya, Hongi-ya! Bagaimana sekolah kalian?", tanya namja cantik itu, sambil memberi kecupan di pipi kedua namja kecilnya.

"haengbok!", teriak dua namja kecil itu berbarengan.

Namja cantik itu hanya tertawa.

"jja! Ayo kita ke tempat Appa.", ajak namja cantik itu sambil berdiri.

Beberapa saat kemudian, sebuah taxi kuning sudah berhenti di depan mereka bertiga.

.

.

.

Jung Jong Hoon dan Jung Jun Hong, berlari memasuki sebuah cafe yang terletak di pinggir jalan yang terlihat tidak terlalu ramai. Seiring dengan pintu yang terbuka, suara dering bel yang berbunyi pun terdengar. Namja cantik itu, Kim Jaejoong, menahan pintunya agar tidak menutup kembali. Ia hanya tersenyum kecil melihat kedua putranya yang selalu bersemangat ketika diajak pergi mengunjungi tempat Appa mereka bekerja.

"Appa!", teriak dua namja kecil itu nyaring. Hal ini mengundang tawa pemilik satu - satunya cafe yang menyediakan makanan Korea di daerah itu, yang notabene-nya adalah teman dari Appa mereka.

Seorang namja tinggi dan tampan dengan kemeja putih lengan panjang yang lengannya digulung hingga sikunya, dan celana panjang hitam, berbalik ketika suara nyaring itu menyapa telinganya. Ia tersenyum kecil, lalu berjongkok, menyambut dua namja kecil itu dengan pelukan.

"kalian baru datang?", tanya namja tampan itu sambil tersenyum.

"ne!", jawab mereka serempak.

"mana eomma?", tanya namja itu.

"aku di sini, Yun.", jawab Kim Jaejoong sambil memberikan senyum kecil pada Yunho-nya.

Yunho membalas dengan senyuman juga.

"jja! Apa yang anak - anak tampan Appa inginkan hari ini? Coklat?", tanya Yunho sambil menatap dua namja kecilnya dengan sayang.

"Susu coklat!", teriak Jun Hong, namja yang paling kecil.

"oke! Dan, kau, Jong Hoon?", tanya Yunho pada namja yang lebih besar.

"Appa, Jong Hoon mau ice cream...", rajuk Jong Hoon pada Appa-nya.

"baik, tuan - tuan. Silakan duduk di sana. Pesanan akan segera siap.", jawab Yunho sambil memberi hormat pada kedua namja kecil itu, yang malah mengundang senyum kecil di bibir Jaejoong.

Jong Hoon dan Jun Hong, adalah dua namja kecil yang diadopsi Yunho dan Jaejoong di Belanda. Mereka berdua adalah satu - satunya orang Korea di panti asuhan itu. Jong Hoon lebih dahulu diadopsi oleh Yunho dan Jaejoong, namun hanya selang 2 hari, mereka berdua kembali mengadopsi Jun Hong, namja yang lebih kecil dari Jong Hoon. Ini setelah dua tahun meninggalkan Korea dan juga dua tahun pernikahan mereka.

"bagaimana kemajuan July dan Rianty?", tanya Jaejoong ketika Yunho mengantarkan pesanan kedua anak mereka. Hal ini mengundang ekspresi kesal dari Jun Hong.

"Appa, masih mengajar mereka?", tanya Jun Hong sinis.

"ne, Chagi. Waeyo?", tanya Yunho heran.

"mereka tidak bisa bahasa Korea, tak perlu diajari lagi!", jawab Jun Hong pedas.

"mwoya! Kau tak boleh bicara begitu, Jung Jun Hong.", tegur Yunho.

"Eomma, apa Eomma tidak takut mereka akan merebut Appa. Jun Hong dan Jong Hoon hyung saja takut.", tanya Jun Hong polos.

"tentu saja tidak, sayang. Appa-mu takkan melakukan apapun.", jawab Jaejoong sambil membelai puncak kepala anaknya yang paling kecil.

"Ahhh! Appa! Jun Hong tak mau Appa dekat - dekat dengan mereka!", kata Jun Hong keras kepala.

.

.

.

"Jun Hong terlalu keras kepala.", kata Jaejoong, ketika menemui Yunho di dekat dapur cafe.

"sudahlah. Dia hanya tak suka." jawab Yunho sambil mengusap puncak kepala Jaejoong.

"aku akan membawa mereka pulang. Aku akan menunggumu di rumah.", kata Jaejoong sambil mencium pipi kanan Yunho.

"hati - hati.", kata Yunho sambil membalas ciuman Jaejoong.

.

.

.

"Jun Hong, kau tak boleh bicara seperti itu pada Appa-mu.", tegur Jaejoong ketika mereka sudah masuk ke dalam apartemen yang lima tahun ini sudah mereka tempati.

"Jun Hong tak suka, Eomma.", jawab Jun Hong sambil mengerucutkan bibirnya.

"Hongi tetap tak boleh seperti itu. Itu kasar, sayang."

Yunho mengajar bahasa Korea pada dua orang Belanda yang sangat terobsesi dengan negara yang terkenal karena boyband dan girlband-nya itu. Tentunya selain menjadi pelayan di restoran Korea itu. Ia sudah melakukannya sejak delapan bulan lalu. Itu sangat mengundang ketidaksukaan dari Jun Hong, anak terkecil mereka. Ia sepertinya sangat takut kehilangan Appa-nya.

"Jong Hoon, Jun Hong! jangan berlari di dalam rumah.", teriak Jaejoong dari dapur, ketika ia mulai mendengar suara hentakan - hentakan kaki dari ruang tengah.

"eomma! Ada yang menekan bel!", terdengar suara Jong Hoon yang berteriak.

"tolong bukakan, sayang. Mungkin itu paket. Changmin ahjussi mengirim sesuatu untuk Appa-mu beberapa hari lalu."

Beberapa saat kemudian hening.

"Jong Hoon, siapa yang datang?", teriak Jaejoong lagi. Ia masih sibuk dengan masakannya untuk kedua namja kecilnyaitu.

"eomma!", terdengar teriakan Jong Hoon dan Jun Hong bersamaan.

Jaejoong berjalan cepat menuju ke ruang tamunya. Namun, sebelum sampai di ruangan itu, Jong Hoon dan Jun Hong sudah menghadangnya.

"siapa yang datang?", tanya Jaejoong.

"molla, wanita itu mirip dengan Appa."

"mirip Appa?", tanya Jaejoong keheranan, ia berjalan pelan menuju ruang tamunya.

Jaejoong menatap seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik dengan sebuah dress selutut berwarna coklat tua, yang senada dengan syal yang sedang digunakannya.

"Nyonya Jung-"

.

.

.

"apa ini cucuku?", tanya nyonya Jung sambil tersenyum senang, menatap dua namja kecil yang balik menatapnya dengan polos.

"ne, Eomma. Kami mengadopsi Jong Hoon ketika ia berumur 3 tahun, dan Jun Hong ketika berumur setahun.", jawab Jaejoong sambil tersenyum kecil.

"kalian sangat hebat.", komentar nyonya Jung sambil memandang Jaejoong dengan sayang.

"terima kasih."

.

.

.

"Appa!", sambut Jong Hoon dan Jun Hong ketika Yunho baru selangkah masuk ke dalam rumahnya.

"omoo! Anak - anak Appa yang tampan! Kalian sudah makan?", tanya Yunho sambil menggendong kedua anaknya.

"Jongi, Hongi, Appa kalian baru datang."

"gwaenchanha.", kata Yunho sambil memberikan ciuman singkat di bibir Jaejoong.

"Yun, ada yang ingin bertemu denganmu."

"nuguya?"

"lihat saja di ruang tengah."

Yunho berjalan menuju ruang tengah apartemennya. Ia terbelalak ketika melihat Eomma-nya, nyonya Jung, sedang berdiri sambil menatapnya.

"Eomma...", kata Yunho pelan, sambil menurunkan Jong Hoon dan Jun Hong dari gendongannya.

"hai, sayang. Bagaimana kabarmu?", tanya nyonya Jung, yang mencoba menahan tangisnya.

.

.

.

Yunho hanya duduk menatap eomma-nya tanpa berkata apa - apa. Jaejoong pun tak berani berkomentar. Sedangkan Jong Hoon dan Jun Hong, sudah berada di kamar mereka beberapa saat yang lalu, setelah Jaejoong menyuruh mereka untuk tidur.

"Ji Hae bisa menggantikanku.", jawab Yunho pelan.

"Ji Hae lari ke Paris, beberapa bulan setelah kalian pergi ke Belanda."

Yunho terdiam.

"Abeoji-mu membutuhkanmu, Yun. Ia tak bisa meninggalkan perusahaannya tanpa ahli waris yang benar - benar ia percayai."

"aku akan memikirkannya lagi.", jawab Yunho sambil beranjak dari duduknya, menuju ke kamar, meninggalkan Jaejoong dan Eomma-nya yang terdiam.

.

~~~ Love In The Ice ~~~

.

.

Jaejoong sedikit terlonjak ketika sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Sedari tadi ia sedang melamun, memikirkan permintaan nyonya Jung, yang menginginkan mereka kembali ke Korea.

"kau mengagetkan saja, Yun!", kata Jaejoong kesal, sambil mencubit tangan Yunho yang melingkar di pinggangnya.

"apa yang membuatmu melamun, eoh? Kau kelihatan banyak pikiran.", tanya Yunho sambil menghirup aroma tubuh Jaejoong, melalui ceruk leher namja cantik itu.

"Eomma-mu akan kembali besok. Apa kau sudah memikirkan keputusanmu?"

"apa yang kauinginkan untuk kupilih?"

"aku akan mengikutimu ke mana saja.", jawab Jaejoong sambil menggerakkan tangan Yunho agar mengeratkan pelukannya.

"kau benar - benar tak ingin memilih?"

"aniyo, semua keputusan ada di tanganmu.", jawab Jaejoong sekali lagi, mencoba lebih meyakinkan Yunho.

.

.

.

"Eomma akan kembali hari ini?", tanya Jaejoong sedih.

"ne, Chagi. Eomma tak bisa lama - lama.", jawab nyonya Jung sambil menahan tangisnya.

"halmeoni! Tinggal di sini saja.", kata Jong Hoon sambil sedikit terisak.

"omo! Cucu halmeoni tidak boleh menangis. Kapan - kapan kita akan bertemu lagi. Jangan khawatir.", jawab nyonya Jung sambil mengecup puncak kepala Jong Hoon.

Yunho keluar dari dalam kamar dengan wajah datar. Ia menatap Jaejoong sebentar, lalu menatap Eomma-nya, yang masih menampakkan wajah harapan, agar putranya mau kembali bersamanya.

"eomma akan pulang hari ini? Apa aku harus mengantar?", tanya Yunho sambil meminum seteguk kopi yang dibuatkan Jaejoong. Suasana mendadak sunyi.

"eumm. Eomma akan pulang, 15 menit lagi, mungkin taxi akan menjemput Eomma."

Suasana di dapur kecil itu kembali sunyi. Bahkan, Jong Hoon dan Jun Hong pun terdiam, memakan sarapan mereka dengan damai. Mereka juga tak berani menatap Appa mereka, bahkan Jaejoong pun tak sanggup menatap Yunho, yang memasang wajah datarnya sejak memasuki dapur.

"sebentar lagi taxi eomma akan datang. Yun, jadi... apa kau akan kembali?", tanya nyonya Jung dengan suara lirih.

Yunho meletakkan sebuah amplop putih di atas meja makan mereka.

"aku tidak akan pergi ke manapun. Eomma bisa membawa ini kembali."

Nyonya Jung sedikit tersentak. Matanya berkaca - kaca ketika memandang amplop putih yang Yunho letakkan di atas meja makan.

"kau-"

"aku takkan ke mana - mana."

"kau tidak-"

"tidak", jawab Yunho tegas.

Air mata nyonya Jung lolos mendesak keluar dan turun perlahan ke pipinya. Ia langsung menunduk dalam. Tak berani menatap putranya itu. Ia takkan menyalahkan Yunho jika ia tak ingin kembali. Ia tak pernah mengunjungi putranya sejak lima tahun yang lalu, bahkan ia tak tahu jika putranya itu mengadopsi dua orang anak.

"baiklah. Jika itu keputusanmu. Eomma akan menerimanya."

"Eomma harus pergi. Jaga diri kalian. Jaejoong jangan sampai sakit. Jong Hoon dan Jun Hong, jadilah anak yang

penurut. Jangan nakal. Dan kau Yun, jaga dirimu. Sampai jumpa lagi."

Nyonya Jung berjalan pelan meninggalkan dapur kecil itu. Ia mencoba untuk tidak menangis, namun air matanya tak mau berhenti mengalir.

Ia memandang untuk terakhir kalinya, apartemen kecil tempat keluarga kecil putranya tinggal. Ia terisak pelan. Ia harus mengikuti keputusan putranya, putranya sudah sangat dewasa untuk mengambil keputusan yang tepat.

Hingga taxi berwarna kuning itu berjalan menjauhi apartemen kecil itu, nyonya Jung masih berbalik ke belakang sambil terus meremas amplop putih yang digenggamnya. Terus memandangi bangunan yang semakin lama semakin mengecil, dan hilang dari pandangannya.

.

.

.

Suasana canggung sangat terasa di dapur kecil itu. Jaejoong mengusap matanya agar tidak meninggalkan jejak air mata di sana. Ia mencoba tersenyum pada Yunho, yang hanya memandangnya dengan wajah datar. Jong Hoon dan Jun Hong juga hanya menunduk sambil menyembunyikan tangis mereka. Jaejoong mengambil langkah dan berdiri di hadapan Yunho

"aku sudah bilang, kan? Aku akan mengikutimu. Semua keputusan ada di tanganmu.", mencoba memberikan senyum terbaik yang bisa ia lakukan. Tapi, isakan - isakan kecil itu tidak mau berhenti

"kita tidak akan kembali ke Korea..."

"tidak sekarang."

Jaejoong memandang Yunho sambil mengernyitkan dahinya.

"Yun, kau-"

"kita tidak akan kembali. Tidak sekarang...", kata Yunho sambil tersenyum.

Jaejoong langsung memeluk Yunho. Menangis sejadi - jadinya di pundak namja yang lebih tinggi darinya itu. Jaejoong merindukan kedua orang tuanya sendiri ketika melihat nyonya Jung. Dan Yunho tau itu. Selama ini, mereka hanya berkomunikasi lewat telepon.

"aku sudah menyiapkan uang untuk kita berempat. Eomma tak perlu repot - repot mencarikan kita tiket untuk kembali. Banyak yang harus kita urus di sini sebelum pergi.", kata Yunho sambil membalas pelukan Jaejoong.

"kita tidak akan kembali, kan? Tidak sekarang.", kata Yunho sambil tertawa kecil.

"Jongi-ya, Hongi-ya, kenapa menangis? kemarilah. Kita akan bertemu halmeoni lagi…"

.

~~~ Love In The Ice ~~~

~~~ END ~~~

.

.

okay! Finish :)

gamsahamnida buat yang udah mau baca :)

gamsahamnida buat yang udah mau comment :)

gamsahamnida buat yang udah mau baca & comment :)

*big hug buat semuanya*

last chapt, tapi kayak gak maximal yaa? ^^v mian

kalok ngebosenin, mian lagi ^^v

nama anak"nya, Zelo sama nama karangan XDmuehehehe

mudah"an bisa nge'share FF YJ lain lagii yaa,

gamsahamnida :)

*bow 90 derajat* XD