Mischievous Kiss
.
MinYoon's FanFiction
Story Jimsnoona, 2016
MinYoon and others Are belongs to God, Themselves.
Rated: T
Length: Chaptered
Warning:
Boyslove, OOC, typo(S)
Summary:
Min Yoongi bukan termasuk siswa pintar, ia jatuh cinta dengan sosok tampan dan jenius bernama Park Jimin. Namun sayang, cintanya tak terbalas karena Park Jimin tidak menyukai orang bodoh sepertinya.
.
Kau hanya memiliki sekali dalam hidupmu; ciuman pertamamu. Hingga saat ini ciuman pertamaku hanyalah sebuah mimpi. Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian—Yoongi
.
1 Hari Menuju Upacara Hari Kelulusan
Ekspresi wajah seluruh murid kelas F terlihat lemas dan sedih begitu wali kelas mereka menjelaskan perihal hari kelulusan yang semakin dekat. Tidak ada lagi keramaian yang tercipta, mereka semua kompak terasa membeku setelah melalui kenangan yang sangat banyak sepanjang masa SMA.
Sementara itu, para siswa kelas A masih tidak mempercayai bahwa Jimin akan berkuliah di Universitas Bangtan. Dari rumor yang berkembang, hal tersebut disebabkan oleh salah seorang siswa kelas F yang sudah pasti diketahui namanya.
Lagi-lagi nama Min Yoongi beredar luas.
Di tangga sekolah, Hoseok dan Woozi menyarankan Yoongi untuk membuat suatu kenangan terindah dan spesial dengan Jimin karena ini adalah akhir dari masa SMA mereka. Woozi memberikan rekomendasi setidaknya hal itu adalah sebuah ciuman.
Yoongi merasa terkejut bukan main. "Untuk kenangan di hari upacara kelulusan, kau harus mendapatkan ciuman pertamamu." Jelas Hoseok menggebu-gebu.
Woozi lalu menjelaskan sebuah kisah legenda sekolah mereka tentang satu pasangan yang berciuman di hari kelulusan, kemungkinan besar mereka akan bersama selamanya.
.
.
.
Yoongi, Hoseok dan Woozi pun sudah memulai menyibukkan diri merancang acara penghormatan untuk guru mereka. Wali kelas merekapun memberitahu bahwa kemungkinan akan ada seorang siswa yang tidak akan hadir di upacara kelulusan. Hal tersebut membuat ketiganya terkejut, terutama begitu mendengar nama dari orang tersebut.
"Kalian belum mendengar tentang Kim Namjoon?" Tanya sang wali kelas.
"Namjoon? Oh, dia tidak masuk hari ini, 'kan?" Yoongi justru bertanya heran.
"Apa maksud seongsaenim dia tidak lulus?" pertanyaan Woozi diangguki oleh Yoongi.
"Itu mungkin saja terjadi padanya." Jawaban polos Hoseok mengundang kedua sahabatnya itu untuk menyikutnya pelan.
"Tidak, bukan begitu. Kim Namjoon lulus. Ia berhasil lulus, tetapi lebih baik kalian tanyakan sendiri." Pernyataan tersebut membuat ketiganya secara inisiatif untuk menemui Namjoon saat itu juga.
.
.
.
Yoongi menghampiri Namjoon yang tengah duduk seorang diri di Café. Kedatangannya sempat membuat sosok lelaki dengan wajah lesunya itu terkejut. Dari luar, Yoongi mengembangkan senyum manisnya yang tanpa disangkal lagi senyumannya justru membuat sosok Namjoon ikut tersenyum.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Yoongi begitu dirinya sampai di hadapan teman satunya itu.
"Seperti yang kau lihat." Namjoon menepuk sebelah bangkunya agar Yoongi turut duduk menemaninya.
"Ceritakan padaku, kenapa?"
"Kau sudah tahu, Yoongi."
"Namjoon, ini adalah pesta upacara kelulusan kelas F, kau harus ikut merayakannya!"
"Aku merasa tidak pantas, Yoongi…"
"Dengarkan aku, Namjoon. Masuk ke Universitas bukanlah jalan yang tepat untuk semua orang. Seperti yang kau tahu, ayahku dan ayah Jimin adalah sahabat baik. Ayah Jimin adalah lulusan Universitas terbaik, beliau memulai bisnisnya dan membuat perusahaannya menjadi besar hanya dengan satu generasi. Sementara ayahku, ayahku bahkan tidak sampai sekolah menengah atas, menjadi juru masak magang tepat setelah lulus dari sekolah menengah pertama."
Namjoon menatap Yoongi yang pada saat itu menceritakan perbedaan kedua orang tersebut.
"Tetapi mereka tetap bersahabat baik. Mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain."
"Jika mereka tidak seperti itu, Tuan Park tidak akan mengajak kau dan ayahmu tinggal di rumahnya."
"Benar, kau tahu sebenarnya kita sama-sama tidak begitu baik dalam hal belajar. Tapi kita harus menemukan sesuatu hal yang dapat kita kuasai dengan baik, seperti ayahku misalnya." Jelas Yoongi panjang lebar.
"Suatu hal yang dapat dikuasai dengan baik?" Yoongi tersenyum begitu melihat Namjoon yang mulai merenungkan kata-katanya barusan.
Dengan tiba-tiba Namjoon bertanya apakah Yoongi akan mencintainya jika ia telah menemukan sesuatu hal yang besar? Akan tetapi dengan halus Yoongi memberikan jawaban jika itu adalah sesuatu yang berbeda.
Sesuatu bukan berdasarkan atas nama cinta…
Tak lama Namjoon teringat kembali dengan perkataan Jimin tempo lalu, kata-katanya akan selalu terngingang dalam ingatannya.
Kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Kau membenci seseorang hari ini, tapi besok mungkin saja kau menyukai seseorang tersebut.
"Aku tidak membencimu, Namjoon. Hanya saja aku tidak dapat menganggapmu lebih dari seorang teman."
Pernyataan Yoongi sontak membuat Namjoon merasakan perih jauh di dalam hatinya. Lelaki berlesung pipi itu melebarkan senyumnya, berusaha untuk tidak keberatan dengan jawaban Yoongi yang sekarang. Namjoon bertekad untuk menemukan sesuatu hal yang dapat ia kuasai, menghasilkan uang dari hal tersebut dan menjadi besar.
Namjoon memutuskan untuk datang ke upacara kelulusan dengan rasa bangganya karena kelas di Sekolahnya bukanlah satu-satunya hal yang menentukan nilai dari kesuksesan seorang pria. Sekali lagi ia bertekad untuk menjadi lebih besar dari seorang Park Jimin.
"Ayo kita rayakan upacara kelulusan yang luar biasa!" seru Yoongi bersemangat.
"Benar, ayo kita buat kenangan yang mengesankan untuk upacara kelulusan!" timpal Namjoon tak kalah semangat.
Keduanya berbagi tawa menikmati masa-masa dimana hari kelulusan akan segera berlangsung. Sesekali mengulang beberapa kejadian di antara murid kelas F yang paling berkesan.
.
.
.
Hari Kelulusan
Pagi itu di Ruang tamu keluarga Park. Heechul dengan langkah tergopoh-gopoh mengacungkan kameranya, siap untuk mengabadikan kenangan di hari kelulusan putra sulungnya dan tentu saja kini ditambah kehadiran sosok Yoongi, si namja manis dengan kulit putih susunya.
"Ah, Yoongi… rapihkan blazermu. Benar, berpose seperti itu."
Ckrek.
Dengan sikap profesionalnya Heechul mulai menyibukkan diri. Wanita cantik itu mengeluarkan seluruh tenaganya kesana kemari demi mengabadikan foto Yoongi dengan pose tubuh yang tegak, kedua tangannya tepat berada di atas pahanya, wajahnya yang ceria terlihat mempesona dengan beberapa senyuman yang ditampilkannya.
"Oh, Yoongi-ya kau manis sekali. Astaga, pertahankan seperti itu ya!" Heechul kembali memfokuskan kameranya untuk memfoto Yoongi lebih banyak.
Kesibukkan Heechul membuat Kangin dan Hankyung menggeleng dengan sarat memaklumi atas kehebohan wanita cantik tersebut. Hal tersebut mendapatkan respon yang berbeda dengan si kecil Taehyung, bocah dengan rambut mangkuk coklatnya itu merengut tak suka. Bibirnya mengerucut untuk sesekali melakukan cibiran yang ia berikan.
"Mungkin saja Yoongi kebetulan lulus karena kesalahan wali kelasnya yang salah mengoreksi nilai ujian."
Perkataan Taehyung membuat sosok Yoongi menghampirinya. Dalam hati Yoongi ingin sekali mencubit bibir Taehyung yang seringkali meremehkan dirinya.
"Bahkan di hari kelulusanpun kau tiada henti mengejekku, Taetae-ya…" ucapnya gemas sembari mencubit kedua pipi Taehyung hingga melebar, setelahnya ia memutuskan untuk mengacak-acak anak rambut bocah tersebut dengan rasa gemasnya.
"Uh, henthikhan—lephas!" titahan sang bocah tetap Yoongi abaikan.
Keempat orang di dalam ruangan itu tertawa atas kejahilan Yoongi yang berhasil memberikan Taehyung sebuah pelajaran. Gelak tawa Yoongi terdengar geli saat wajah Taehyung yang memerah padam.
Di tengah suasana tersebut, Jimin datang dari arah tangga untuk menemui ibunya agar lekas pergi menuju Sekolah. Kedatangan anak sulunga itu justru menarik perhatian Heechul dan dengan nada gembiranya ia berkata,
"Nah, karena hari ini adalah hari kelulusan, tidak ada salahnya jika Jimin dan Yoongi berfoto bersama. Benar 'kan, Jiminie?" pertanyaan Heechul dianggap angin lalu, semuanya mendadak terdiam.
Yoongi melayangkan pandangannya untuk memperhatikan gerak-gerik Jimin yang tampak datar dan biasa saja. Sebisa mungkin melempar senyumnya kepada orang yang dicintainya itu dan sedikit terpuruk kala sosok Jimin yang menjauhinya menuju pintu keluar.
'Apa dia sedang menolak?'
Melihat ekspresi Jimin yang seperti itu membuat Yoongi berpikir bahwa Jimin tidak ingin berfoto dengannya. Mendadak wajahnya menjadi lesu, hatinya seperti tertusuk oleh ribuan jarum melihat kepergian Jimin di sana.
"Sepertinya Jimin tidak menginginkannya, Bibi." Jelas Yoongi yang membuat Heechul bungkam begitu saja.
Pintu depan tertutup menelan sosok Jimin. Ada jeda beberapa saat, kemudian pintu terbuka dan kembali menampilkan sosok Jimin dengan wajah gusarnya,
"Kita jadi berfoto atau tidak?!" meskipun ucapan protesnya terdengar begitu kental, akan tetapi ekspresi datar di wajahnya itu tak akan pernah hilang.
Yoongi dan Heechul bersorak dalam kegembiraan. Secara kompak melangkahkan kaki menuju pintu depan dan menghampiri Jimin untuk berfoto tepat di depan rumah kediaman keluarga Park.
Heechul beberapa kali mengambil foto dimana keduanya berdiri secara bersampingan. Dirinya menatap bosan sosok anak sulungnya itu ketika menemukan jarak yang tercipta di antara keduanya.
"Jiminie, apa tidak sekalian saja kau ciptakan jarak antara kalian dari ujung rumah kita sampai ke bagian belakang rumah?" pertanyaan polos Heechul yang berisi sindiran halus itu justru membuat Jimin mengerutkan dahinya bingung.
"Ya! Setidaknya berdiri dengan jarak yang dekat, Yoongi, Jimin! Kalian terlalu kaku, tahu?" Heechul meletakkan kameranya untuk melakukan sebuah fokus, salah satu tangannya memberikan isyarat menyuruh keduanya mendekat satu sama lain.
Jimin mengeluarkan satu tangan dari saku celananya, sedikit menoleh ke arah Yoongi dan menemukan sosoknya yang tengah menatapnya dengan gugup.
Ckrek.
"Eomma, kami belum siap!" Jimin menatap ibunya dengan raut wajah kesalnya.
"Snapshot, Jimin. Ayolah, mencoba berpose lebih intim." Titah Heechum yang tentu saja membuat Jimin dan Yoongi sama-sama memerah menahan malu mendengar perintah wanita cantik itu.
Jimin menatap ibunya dengan wajah ogah-ogahan, kakinya melangkah mendekati Yoongi. Tiba-tiba saja pikirannya melayang dan teringat sesuatu. Otak jeniusnya terpusat dimana kejadian dirinya yang secara tidak sengaja melihat sosok Namjoon yang tengah merangkul Yoongi kemarin sore.
Maka tanpa berpikir panjang, Jimin membawa Yoongi dengan kedua tangannya yang tersampir merangkul pinggang Yoongi secepat yang ia bisa. Membawa namja manis itu menuju dekapan hangatnya. Jimin melakukan sebuah backhug sederhana sembari menempelkan dagunya pada bahu kiri Yoongi.
Yoongi terkesiap, jantungnya berpacu cepat seakan ingin keluar kapan saja. Menelan salivanya gugup dan berusaha fokus untuk tetap melihat ke arah kamera. Heechul memekik senang dengan pose yang Jimin berikan. Hal tersebut langsung diabadikan olehnya dan melakukan jepretan lebih dari satu kali.
"Kau tahu, aku paling anti berdekatan dengan orang bodoh sepertimu."
Bisik Jimin tepat di telinga kiri Yoongi, menatap Yoongi amat dalam melalui sepasang matanya yang membuat Yoongi terbuai kapan saja. Akan tetapi penuturan Jimin seakan menjadi tamparan keras dalam diri Yoongi,
"Apa maksudmu, hah?!"
Yoongi sedikit berbalik dengan ekspresi muka kesalnya, mengungkapkan sikap tak terimanya yang justru terlihat lucu dan malah membuat Jimin terkekeh dalam tawa renyahnya.
Heechul tersenyum penuh arti. Tak lupa mengabadikan momen kebersaman Jimin dan Yoongi yang justru terlihat manis. Dalam keadaan tersebut, sosok Heechul bersyukur dalam hati dapat melihat senyum anak sulungnya yang amat tulus dan jarang ditampilkannya untuk siapapun. Akan tetapi untuk hari ini Heechul melihatnya, melihat senyum tulus menawan yang Jimin berikan untuk seseorang yang mungkin saja berarti baginya kini,
Senyum tulus seorang Park Jimin untuk Min Yoongi…
.
.
.
Seperti hari-hari sebelumnya, Yoongi melangkahkan kakinya menyeimbangi langkah Jimin yang berada di depannya. Tetap dengan jarak pemisah dua meter di antara keduanya. Meskipun begitu, sosok Yoongi tersenyum senang. Mengetahui sepanjang masa SMAnya begitu berwarna dengan kehadiran seorang Park Jimin yang menjadi cinta pertamanya.
Secara perlahan Yoongi berjalan mengendap, berusaha mencuri langkah agar sejajar dengan Jimin. Jimin mengetahui gerak-gerik Yoongi yang mencoba berjalan tepat di sampingnya, sehingga dimana keduanya bersisian, Yoongi memulai membuka pembicaraan.
"Karena ini hari terakhir sekolah, tidak masalah bukan jika kita berjalan bersama?" Yoongi mengeluarkan suaranya sementara Jimin memilih untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Diamnya Jimin sudah Yoongi anggap jika lelaki dingin itu mengizinkannya maka dari itu Yoongi kembali mengajaknya berbicara,
"Waktu berlalu begitu cepat ya…?" namun untuk kesekian kalinya Jimin tetap tidak menggubris kata-kata Yoongi.
Sedikit melirik raut wajah datar sosok di sampingnya, hal tersebut membuat Yoongi tak gentar kembali melayangkan pembicaraannya.
"Masa SMA kita berakhir hari ini. Tetapi, selama tiga tahun masa SMA ku, tahun ini adalah yang paling menyenangkan!" jelas Yoongi dengan senyum lima jarinya. Matanya memandang ke depan, mengenang beberapa kilasan memori tentang dirinya dan Jimin.
"Kau sudah selesai bicara? Baiklah, asal kau tahu, Min Yoongi. Dari total delapan belas tahun terakhir ini, aku merasa paling menderita di tahun ini." balas Jimin yang membuat Yoongi tertohok oleh kata-katanya.
Yoongi menghentikan langkahnya, merasa harus menstabilkan napasnya ketika dirinya sedikit terkejut mendengar ucapan Jimin yang baru saja menyindirnya.
"Bahkan aku ragu apakah otak dan hatinya membeku seperti es di kutub?! Astaga kata-katanya mengalahkan Taehyung." Hentakkan kaki Yoongi bergerak teratur menyalurkan kekesalannya terhadap Jimin.
Merasa jika upacara kelulusan akan semakin dekat, Yoongi kembali melangkahkan kakinya menuju Sekolah. Percuma saja menyerap perkataan Jimin karena hal itu justru membuatnya sakit hati.
.
.
.
Di tempat parkir, Namjoon menceritakan rencananya kepada Kyuhyun dan Changmin untuk pesta kelulusan kelas F nanti malam. Niatnya ia ingin memberikan sebuah kejutan romantis untuk Yoongi dan membuat namja manis itu jatuh ke dalam pelukannya dengan sebuah ciuman.
Benar, ciuman…
Namjoon bertekad untuk melancarkan aksinya untuk memberikan sebuah ciuman manis kepada orang yang dicintainya selama ini.
Kedua anak buahnya mengangguk setuju demi menyenangkan hati Namjoon. Meskipun Kyuhyun dan Changmin sendiri justru cemas jika saja Yoongi yang sudah pasti menolak sahabatnya itu.
Di Aula Sekolah, satu persatu murid kelas 3 Bangtan High School secara bergiliran naik menuju podium untuk mendapatkan ijazah kelulusannya. Para murid tanpa sadar menangis haru melewati hari ini. Semuanya tersenyum di tengah rasa haru dan bahagianya sembari menyanyikan lagu Mars Sekolah mereka.
Yoongi, Hoseok dan Woozi tak dapat membendung air matanya saat menyanyikan lagu tersebut, begitu juga dengan Namjoon. Semuanya berekspresi sama halnya. Melepas upacara kelulusan dengan perasaan bahagia.
Di luar gedung Sekolah, setelah acara kelulusan berakhir, Heechul sudah berdiri tegak sembari memasang senyum cantiknya. Tak lupa terdapat sebuah kamera yang tetap melingkari leher jenjangnya.
"Yoongiiiii…" dari jauh suara Heechul membahana, memanggil sosok Yoongi yang berdiri tak jauh darinya bersama Hoseok dan Woozi.
"Bibi Heechul datang!" seru Hoseok dan Woozi bersamaan.
"Tentu saja, aku kesini untuk memastikan sesuatu. Hihihi…" balas Heechul dengan tawa cengengesannya.
Yoongi dan kedua sahabatnya berpandangan satu sama lain, melemparkan kebingungan masing-masing. Ketiganya memilih untuk bungkam dan menurut saat Heechul menyuruh mereka untuk saling berjejer dan berpose. Heechul akan memfotonya.
"Siap semua, satu… dua… tiga…"
Ckrek.
"Oh lihat, ada yang sedang berciuman!"
Fokus mereka terhenti begitu Woozi memekik saat menemukan sepasang murid yang terlihat berciuman di balik koridor Sekolah. Heechul tak kalah heboh dengan Yoongi dan Hoseok, wanita cantik itu justru dengan cepat membidik kameranya lalu mengabadikan adegan tersebut dengan antusias.
"Memang seperti itulah seharusnya upacara kelulusan." Ungkapnya dengan wajah berseri-seri mengingat memorinya dulu.
Tak lama kemudian Yoongi terkejut ketika salah satu siswa memberikan kancing kedua blazernya kepada seorang siswa yang lain. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat manis. "Astaga… coba lihat siswa manis yang terngah tersipu saat pasangannya memberikan kancing itu."
"Benar, karena seragam blazer kita hanya memiliki dua buah kancing, akan sangat membahagiakan jika dapat menerima kancing dari orang yang disukainya." Penjelasan Hoseok membuat Heechul dan Woozi kompak menatap Yoongi dengan tatapan meyakinkan.
"Yoongi, kau harus melakukannya! Aku percaya padamu, Jimin pasti bahagia jika bersamamu."
"Ya, Yoongi. Kau bahkan sudah mendapatkan restu dari ibunya langsung."
"Semangat, Yoongi. Semangat!" ketiganya mengacungkan lengan mereka di udara, seolah memberikan semangat yang begitu dahsyat.
Yoongi yang ditatap seperti itu justru sedikit meringis, takut jika ketiganya kelewat semangat dan mengundang perhatian orang sekitar.
Dari kejauhan mereka melihat Jimin yang telah dikerubungi oleh para siswa berparas cantik dan manis. Mereka bergerombolan mengekori Jimin dan berusaha meminta kancing kedua blazernya atau sekedar untuk berfoto.
"Tenang, hey kalian mengganggu jalan kami." Dari belakang sosok Chanyeol kewalahan dengan beberapa siswa yang datang untuk mendekati Jimin.
Keadaan yang mulai ricuh membuat Chanyeol semakin frustasi untuk melindungi temannya itu dari keganasan beberapa siswa cantik barusan. Hingga ada saatnya keduanya berjalan dan sempat terhenti begitu Jimin dan Chanyeol berpapasan dengan sosok Heechul, Yoongi dan kedua sahabatnya.
"Jiminie?"
"Eomma di sini rupanya."
"Eomma di sini untuk memastikan sesuatu, sayang…"
Melihat gelagat bingung anak sulungnya membuat Heechul terkikik geli, dan langsung menjawab dengan lugas.
"Eomma hanya ingin memastikan jika kancing kedua blazermu diberikan kepada orang yang tepat." Sindir Heechul kepada seluruh siswa yang tengah mengerubungi Jimin.
"Maksud Eomma?"
"Jimin, maukah kau memberikan kancing kedua blazermu?" cicit Yoongi pelan sembari menundukkan wajahnya yang sedikit menampakkan rona merah samar.
"Tidak ada kancing kedua untuk siapapun!" ungkap Jimin menghela napasnya kasar, kemudian mengambil seribu langkah untuk meninggalkan kerumunan siswa dan mengajak Chanyeol ikut dengannya.
Heechul tiada henti mengeluarkan makiannya melihat anak sulungnya yang justru menolak Yoongi begitu saja.
"Anak nakal itu! Kau tenang saja Yoongi-ya, mungkin saja Jimin akan memberikannya saat di rumah nanti. Percaya pada Bibi."
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul empat sore. Yoongi tengah bersiap untuk menghadiri pesta kelulusan yang akan berlangsung pada pukul lima. Sebentar lagi ia akan berangkat pada tempat yang telah disewa khusus untuk seluruh penghuni kelas F.
Begitu sampai di dalam ruangan tersebut, Yoongi dapat melihat jika beberapa dari anak-anak kelas F yang mulai berdatangan. Acara pesta ini sendiri merupakan sebuah penghormatan untuk wali kelas mereka.
Semuanya terlihat bersemangat dan segera mencicipi berbagai makanan dan camilan yang telah disiapkan Namjoon sendiri. Yoongi melemparkan senyumnya begitu dirinya menemukan dua sosok sahabatnya yang tampil dengan balutan kemeja santai yang membuat keduanya terlihat lucu.
"Hari ini kau manis sekali dengan sweater ungu-mu, Yoongi." komentar Hoseok yang diberikan anggukan setuju oleh Woozi.
"Yoongi, ini untukmu." Tiba-tiba saja sosok Namjoon datang menghampiri Yoongi dengan membawakan camilannya.
"Terima kasih Namjoon-ah." Yoongi tersenyum senang dan langsung menikmati camilan yang Namjoon berikan.
Namjoon ikut tersenyum melihat senyuman Yoongi yang terlihat bersinar, tangannya tanpa sadar menghampiri sudut bibir Yoongi untuk membersihkan sisa camilan yang mengganggu penglihatannya.
"Lho, Jimin?!" Yoongi melongo saat matanya menangkap sosok Jimin yang berdiri tepat di belakang Namjoon.
Ternyata seluruh siswa kelas A telah memesan ruangan di sebelah ruangan yang digunakan oleh kelas F. Baik Yoongi dan seluruh siswa kelas F sama terkejutnya. Mereka dengan kompak memandang takjub beberapa makanan yang dihidangkan untuk murid-murid kelas A, terlihat begitu berkelas.
Kedua kubu itu sempat terjadi suasana ricuh. Di saat seperti ini mengapa harus kelas A yang justru berbagi ruangan dengan kelas F?
Dan ternyata perseteruan tidak hanya terjadi di antara murid, namun juga terjadi pada wali kelas F dan wali kelas A. Saat menyampaikan pidatonya, kedua wali kelas tersebut saling menyindir satu sama lain.
Keadaan bising itu semakin menjadi kala siswa kelas A yang menyebut kelas F sebagai murid kelas bawah. Mendengar ejekan tersebut membuat Namjoon unjuk diri dan menghampiri ruangan kelas A yang hanya dibatasi oleh sebuah tirai pembatas.
Kehadiran Namjoon membuat Jimin ambil suara, "Bagi murid kelas F, satu-satunya cara untuk melawan murid kelas A hanya menggunakan ototnya, bukan dengan otaknya." Seru Jimin sambil menatap sinis ke arah Namjoon.
Perkataan Jimin sungguh membuat Namjoon tersulut emosi. Tak lama Yoongi ikut datang, menghampiri Namjoon dan mengatakan jika tidak ada gunanya berbicara dengan orang-orang berpendidikan tinggi tetapi tidak memiki simpati.
Kedatangan Yoongi yang menggandeng Namjoon itu membuat Jimin menyipitkan matanya, merasa terganggu dengan adegan barusan.
Yoongi membawa Namjoon keluar dari ruangan. Seolah-olah menurunkan emosi yang tersisa dalam diri Namjoon dan menenangkannya.
"Bukankah kita sudah berjanji untuk menemukan sesuatu hal yang dapat kita kuasai dengan baik? Maka dari itu, kita tidak perlu mendengarkan apa yang kelas A katakan tentang kita, 'kan?" Mendengar perkataan Yoongi, emosi Namjoonpun mulai mereda.
Begitu melihat wajah Yoongi, Namjoon teringat kembali akan serpihan camilan di sudut bibir Yoongi. Dengan gerakan hati-hati Namjoon membantu Yoongi untuk membersihkannya, kedekatan mereka yang sedikit berada di pojok koridor akan membuat siapapun menjadi salah sangka.
Untuk kedua kalinya Yoongi menatap Jimin yang dengan tiba-tiba keluar dan berjalan hendak menghampirinya. Yoongi mengalihkan pandangannya dan meminta izin kepada Namjoon untuk kembali ke dalam ruangan.
"Kau menggangguku dengan Yoongi. Ada apa, Tuan jenius?" Tanya Namjoon dengan sinis.
"Kau kemari untuk mencari tahu apa yang Yoongi dan aku lakukan, ya?" lanjut Namjoon. Jimin tidak menjawab sindiran Namjoon tersebut, ia memilih berlalu melewati sosok tegap Namjoon.
"Apa kau cemburu? Hei, jangan diam saja." Olokan Namjoon membuat Jimin membalikkan badannya.
"Sementara kau menghabiskan waktumu dengan berkuliah, aku akan menjadi orang sukses dan melakukan sesuatu yang tidak dapat kau lakukan. Aku sudah berjanji kepada Yoongi." ungkap Namjoon panjang lebar.
"Kata-kata tersebut terdengar sangat hebat jika dikatakan oleh seseorang yang telah masuk ke Universitas. Tapi mendengarnya dari seseorang yang tidak diterima di Universitas sepertimu… kata-kata tersebut jadi terdengar pahit." Balas Jimin tak kalah sinis.
"Bukan hanya itu yang aku janjikan pada Yoongi. Malam ini, untuk malam ini aku dan Yoongi akan berciuman…"
"Seharusnya kau bermimpi di saat kau mengatakan itu, Kim Namjoon." Jimin kembali membalas kata-kata Namjoon dan memilih untuk menghilang di ujung koridor.
"Aku tidak mengetahuinya. Yoongi adalah satu-satunya orang yang memintaku untuk memiliki hari kelulusan bersamanya. Di akhir masa SMA, akhirnya ia menyadari siapa orang yang paling peduli padanya. Terlambat untuk cemburu, Park Jimin…"
Jimin menghentikan langkahnya untuk sesaat. Tak lama langkah kaki Namjoon berbalik untuk menjauhinya dan kembali memasuki ruangan.
.
.
.
Saat kembali ke ruangan, Yoongi berusaha untuk mengembalikan semangat teman-temannya. Dengan cerianya ia mengajak anak kelas A dan kelas F untuk berbahagia bersama-sama di malam terakhir masa SMA mereka.
Ide Yoongi itu didukung oleh Chanyeol dengan antusias. Chanyeol menyarankan agar makanan mereka juga ikut digabungkan. Tak lama kedua kubu itu menjadi sedikit lebih akur apalagi dengan mereka yang menyingkirkan tirai pemisah ruangan dan berkumpul bersama.
Yoongi dan kedua sahabatnya dengan beringas mengambil sebuah piring besar dan langsung mengisinya dengan makanan milik kelas A. Tetapi sebuah celetukan salah seorang siswa cantik dari kelas A mulai mengeluarkan komentarnya perihal Jimin yang tidak masuk ke Universitas Seoul dan menyalahkan Yoongi sebagai biang keladinya.
"Kau sudah menghancurkan masa depan Jimin, Min Yoongi."
"Itu bukan salahnya, bukan karena dia aku tidak masuk Universitas Seoul." Jimin yang kembali memasuki ruangan pun langsung berkata jika itu bukanlah kesalahan Yoongi.
Yoongi terkejut, tidak menyangka dengan kebaikan Jimin yang membelanya di hadapan semua orang. Entah mengapa hatinya senang bukan main…
"Kenapa aku harus melepaskan masuk Universitas Seoul hanya untuk orang sepayah dia?" lanjut Jimin yang kali ini membuat Yoongi terhenyak dalam keterpurukan.
"Payah, katanya…?" monolog Yoongi dengan terbata-bata.
"Benar sekali. Tidak mungkin orang sepintar Jimin dibodohi oleh orang seperti dia." Kata wali kelas A.
"Bodoh…" Yoongi kembali mengulang poin yang menjatuhkan dirinya.
"Iya, mana mungkin Jimin menyukai orang menyedihkan seperti dia. Astaga, untung saja aku tidak termakan gosip murahan semacam itu." Komentar siswa kelas A yang lain.
"Baiklah, aku sudah mendengar semuanya! Payah, bodoh, menyedihkan…? Kalian terdengar sangat kasar. Memang benar jika aku banyak dibantu oleh Jimin. Mungkin aku juga pernah sedikit menyusahkannya—"
"Sedikit?!" potong Jimin dengan sinis.
"Ba..nyak… maksudku." Yoongi langsung meralat kata-katanya.
"Tapi tetap saja dari cara kalian mengatakannya…" Yoongi tertunduk lesu setelah membalas beberapa tatapan sinis dari siswa kelas A.
"Kau, Park Jimin si lelaki berdarah dingin!" Yoongi yang berhadapan dengan Jimin langsung mengacungkan telunjuknya di depan wajah sosok yang dicintainya.
"Perlu diingat, kau menyukai lelaki berdarah dingin ini. Iya, 'kan?" balas Jimin enteng. Kata-katanya membuat Yoongi malu dan terdiam.
Suasana kembari riuh dengan sorakan heboh dari kedua kubu yang berlawanan. Chanyeol ikut bergabung dengan membeberkan beberapa rahasia yang ia sebut dengan Keajaiban Cinta Min Yoongi Kepada Park Jimin.
Memulainya dari berbagai peristiwa kesialan dalam sehari penuh yang melanda Jimin sampai mengingat kembali pemberian surat dari Yoongi kepada Jimin saat pertama kali yang dilanjutkan dengan rumah Yoongi yang hancur akibat cintanya yang diitolak Jimin.
Chanyeol merasa dirinya seperti sedang melakukan kontes membuka rahasia di hari kelulusan. Kemudian ia bertanya tentang rahasia siapa lagi yang akan dibuka? Semuanya kembali bersorak, dan suasanya menjadi semakin riuh.
Yoongi menerbitkan senyum liciknya, tanpa ragu ia berdiri di tengah semuanya dan berkata misterius,
"Menyenangkan ya, mengenangkan sekali rasanya mengungkap rahasia orang lain." Yoongi menatap Jimin dengan senyum meremehkan.
"Kau sudah berani melakukannya sejauh ini, maka kau harus siap dengan resikonya, Park Jimin."
"Apa maksudmu?" Tanya Jimin keheranan.
"Kau pikir selama ini kau tidak memiliki rahasia?!"
"Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang memalukan seumur hidupku." Jawabnya percaya diri.
"Bahkan orang jeniuspun memiliki kelemahan… Kau ingat itu?" Tanya Yoongi dengan senyum menggoda.
"Tidak… mungkin…"
Jimin menatap Yoongi tak percaya, yang dibalas dengan tatapan menggoda oleh Yoongi sendiri.
"Semuanya harus lihat ini!" seru Yoongi sembari mengeluarkan sebuah foto perempuan mungil dengan gaun merah jambu dan sebuah bando di kepalanya.
"Ini adalah rahasia seorang Park Jimin. Tentu saja! Tentu saja perempuan mungil itu adalah Park Jimin di masa kecil." Seluruh orang di dalam ruangan tersebut secara bergantian menatap selembar foto tersebut yang berhasil dibeberkan oleh Yoongi.
"Bagaimana kau mendapatkannya?!" Tanya Jimin marah.
"Ibumu memberikaku dua foto sekaligus. Aku menyimpannya baik-baik di tempat yang paling aman. Foto masa kecil dari orang yang kucintai, tetapi sepertinya aku kecewa karena di foto tersebut kau terlihat seperti anak perempuan." Jawab Yoongi dengan ekspresi puas dalam mengejek Jimin habis-habisan.
"Sekarang kau tahu 'kan bagaimana rasanya ditertawakan?" senyum licik itu kian mengembang menghiasi bibir Yoongi, gerak-geriknya sambil mengibaskan foto tersebut tepat di hadapan Jimin.
"Ikut denganku!" dengan marah, Jimin langsung meraih lengan Yoongi dan menariknya keluar dari ruangan tersebut.
Tak lama dari itu Namjoon datang kembali ke Ruangan dan menaiki panggung. Malam itu ia berkata akan menyanyikan sebuah lagu spesial untuk orang yang dicintainya dan akan diiringi oleh Kyuhyun dan Changmin. Akan tetapi sepanjang Namjoon bernyanyi, ia sama sekali tidak melihat kehadiran Yoongi di sana.
.
.
.
"Mau apa kau?!"
"Kau sudah mempermalukanku."
"Aku tidak takut denganmu. Kau juga sudah mengolok-olok perasaanku padamu." Balas Yoongi tidak terima.
Jimin menatap Yoongi, berusaha menyelami sepasang mata jernih yang mulai meredup itu. Keduanya bertatapan saling menyalurkan emosi masing-masing.
"Aku akan berhenti… Aku akan melupakanmu dan berhenti dengan perasaanku." Lanjut Yoongi menatap Jimin dengan matanya yang sayu.
"Oooh, jadi kau akan melupakanku, begitu?" Tanya Jimin dengan nada menantang.
"Ya, untuk apa aku menahan rasa sakit ini lebih lama? Kau selalu mempermainkan perasaanku, kau bertingkah sesukamu. Kau—"
Saat itu juga ucapan Yoongi harus terhenti begitu Jimin mendekatkan bibirnya hingga kedua belahan kenyal itu bersatu dalam suatu pagutan manis yang terjadi di ujung koridor gelap.
Yoongi merasakan jantungnya seperti ingin meloncat keluar. Matanya menatap Jimin kaget yang justru mendapati lelaki yang dicintainya itu tengah menutup kedua matanya sembari menangkup kedua sisi pipinya, membawanya dalam ciuman panjang yang menggebu-gebu.
Sedetik setelah Jimin melepaskan tautan bibirnya, Yoongi merasa jika tubuhnya seakan kaku mendadak. Begitu sulit menggambarkan perasaannya untuk saat ini. Ada rasa ketidakpercayaan akan suatu kemungkinan di dalam hatinya.
"Coba saja kau lupakan aku." Seru Jimin dingin dan sinis.
Malam itu menjadi sebuah pesta kelulusan yang paling mengesankan untuk Yoongi dan Jimin. Hal tersebut terjadi secara spontan, tak ada suatu hal yang direncanakan. Api cemburu membawa Jimin untuk melakukan hal tersebut dan untuk kesekian kalinya kejadian tak terduga tersebut membawa suatu keyakinan pada Jimin untuk menetapkan isi hatinya.
.
.
.
Tbc.
4K words lho ini. Susah payah ngetik di waktu sempit. Hahaha. Makasih yang selama ini mau ikutin kelanjutan FF abal penuh keanehan ini. Yang meskipun jarang nongol, semoga diberi kesadaran buat nongol yah. Hihihi.
Sampai ketemu di next chapter. Semoga kalian gak bosen. Dan terima kasih untuk yang udah nyempetin waktu buat baca. Jangan lupa feedbacknya. Lol.
Jimsnoona.
