Disclaimer : Persona, SMT © ATLUS.

WARNING!

OOC's, Typo(s),Persona AU. Semua berlatar belakang Indonesia (karakter, tempat, etc.), adanya perkataan kasar dan kotor, Keterbatasan bahasa, pengunaan kalimat yang terkesan berulang, abal, dan masih banyak lagi kecacatan yang berbentuk ketidak-sempurnaan yang saya lakukan sebagai Author.

.

.

— PERSONA : Ethereal Innocence—

— Chapter VII : His Normal School Day—

.

.

Gak suka?

.

Gak usah baca.

.

.


Wednesday, August 2.

Early Morning.

Fadil bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena dia besemangat ke sekolah, tapi dia tidak bisa tidur semalaman masih memikirkan perkataan Geral. Dia masih tidak yakin dengan keputusannya. Dia menghela nafas, Fadil memutuskan untuk bersiap-siap ke sekolah. Sebelum dia sempat keluar dari kamarnya, Fadil merasa ada yang memegang kakinya. Fadil menoleh, mendapati Natt memeluk kakinya.

" Ada apa Natt?" tanyanya.

" Um, boleh Natt ikut?"

Fadil terkejut, dia menghela nafas. " Natt, kamu tidak bisa ikut denganku.. Itu.. sangat berbahaya."—terlebih yang dia hadapi saat ini adalah boneka yang bisa bicara. Sekali lagi. BICARA. Mana mungkin membawanya, bisa-bisa dia dibilang gila.

" T-Tapi Natt tidak suka disini sendiri! Ya, Fadil? Kumohon!" Natt merengek. Boneka itu saat ini bertingkah seperti adiknya saat merengek kepadanya dulu. Dia menghela nafas, dia tidak punya waktu banyak untuk bertengkar dengannya.

" Okay, Okay! Kamu bisa ikut, tapi dengan satu syarat. Jangan bicara saat kita ada di luar, deal?"

Bonekanya itu tampak sangat senang, dia menganguk dengan semangat. Fadil hanya menghela nafas panjang menatap tingkah boneka itu, dia pun menyuruh bonekanya itu masuk kedalam ranselnya dan segera turun untuk sarapan, disana dia melihat Chris disana. Pria itu duduk sambil meminum kopi di meja.

"Oh, kamu bangun lebih awal."

"Ya, aku tidak bisa tidur semalaman.." kata Fadil datar.

"Oh? Itu kelihatan tidak bagus." Chris menyeringai, "Tidak sabar ke sekolah bersama teman-temanmu, eh?"

Fadil terdiam." Mungkin, aku tidak yakin." ucapnya. Berbohong. Dia duduk disebelah Chris yang tertawa kecil saat ini.

" Okay, kurasa aku akan memasak sarapan sekarang. Kurasa nasi goreng dan telur untuk pagi hari ini terdengar bagus bukan?"

"Ya, kedengarannya bagus." Fadil melihat kearahnya. "Kalau dipikir-pikir ... kamu memasak cukup banyak setiap hari?"

"Huh? Ya, aku suka memasak," kata Chris. "Terlebih aku tinggal sendiri disini, yah.. Tidak sendiri juga sih, aku tinggal bersama kalian. Jadi ku pikir tidak apa memasak lebih banyak.." dia tersenyum kearahnya, sebelum akhirnya berjalan kedapur. Fadil diam disana, menatap sekelilingnya yang kosong.

"Fadil, Fadil! Kamu habis bicara dengan siapa?" suara Natt dari dalam tasnya, berhasil membangunkan dirinya dari lamunannya.

"Pemilik rumah ini—hey, bukan sudah kubilang jangan bicara apapun jika kita diluar?"

"Um, maaf. Natt sedang bosan, terlebih Fadil sekarang sedang sendirian kan?" jawab Natt,

Fadil menghela nafas, belum dia sempat menjawabnya, Fadil mendengar suara dari tangga. "Di mana sih—HEY! Kamu tahu siapa yang mencuci baju kemarin ?!"

Itu Annisa. Hanya menggunakan kaos putih yang hampir basah dan celana—yang sangat-sangat pendek. Fadil hanya menggelengkan kepalanya kaku, melihat jawaban pemuda itu, dia mengeram kesal dan naik keatas lagi.

Fadil mendengar Annisa menggedor pintu. "Geral! HEI, GERAL! Bangunlah!"

Dia mendengar pintu terbuka. "Ugh, Annisa ... Ini masih setengah lima pagi! Apa masalahmu?"

"Aku tidak dapat menemukan handukku!"

"Kau membangunkanku sepagi ini hanya untuk menanyakan handuk?!"

"Aku agak membutuhkannya sekarang, okay?! "

Fadil dengar suara Geral geram, "Kenapa kamu bangun sepagi ini?"

"Kamarku panas dan lengket, oke? Aku tidak bisa tidur! Sekarang di mana handuk ku?!"

"Mana aku tahu, dodol... Cari di keranjang cucian sono.."

"Wah, mereka berdua ramai sekali.."

Chris tiba-tiba masuk, dia menghela nafas sambil memberikan segelas teh hangat dan sepiring nasi goreng dan telur. "Makanlah duluan, aku akan siapkan untuk yang lain.." katanya sebelum kembali ke dapur.

Annisa berjalan melewatinya, dia terus menggerutu dan bergumam. Fadil mendengar gerutuhannya sampai ruang cuci, dan semakin menggerutu saat berjalan ke ruang makan. "Hei, pak Chris, boleh aku minta nasi goreng ku lebih banyak? "

" Tentu, setelah kamu mandi.." tak lama, Annisa muncul dengan terbungkus handuk dan didorong oleh Chris dari belakang, keluar dari ruang makan. Setelah itu kembali ke dapur untuk membuat sarapan.

Fadil hanya diam, menatap kejadian pagi hari ini yang baru dia alami. Apa Annisa selalu seperti itu setiap pagi?

Semenit kemudian, Eli yang masih terlihat mengantuk datang ke ruang makan, mengenakan piyama biru dan menggosok matanya. "Hah…kenapa Annisa ribut sekali.." Dia menatap Fadil dengan mengantuk. "Hei, oh, kamu sudah siap-siap sepagi ini?"

"Hei, umm.. Ya, begitu lah," katanya, "Oh, Chris sedang menyiapkan sarapan..."

Annisa masuk ke ruang makan, mengenakan kaos hitam dan celana pendek selutut dengan handuk yang menutupi rambutnya. At least, this more comfortable to watch. Ucapnya dalam hati.

Dia duduk disebelah Eli dengan tersenyum, "Hah.. Segarnya.." dia melihat keduanya, "Hey, Eli, Fadil."

"My, Ann, apa kamu keluar menggunakan pakaian basah lagi?" tanya Eli,

Lagi. Kata-kata itu membuat Fadil menatap gadis berambut cokelat muda itu tidak percaya, gadis itu tampak biasa saja saat Eli mengomentarinya. Dia malah menghela nafas panjang, "Oh, come on! Aku kepanasan oke? Lagipula handuknya gak ada, untung aja pak Chris ada.." jawabnya dengan santai.

Eli menghela nafas panjang mendengar jawabannya, sementara Fadil hanya diam. Dia tidak menyangka bahwa Annisa tidak sebegitu peduli memakai pakaian seperti itu diluar—ya, tidak diluar rumah, tapi tetap saja. Dia perempuan, bukan?

Fadil memilih untuk tidak memikirkan hal itu dan kembali makan. Menunggu sampai yang lain turun untuk sarapan. Saat ini di ruang makan sangatlah ramai, Annisa sekarang sedang bertengkar hebat dengan Geral, lalu Eli dan Chris yang melerai keduanya—dan Iwang. Ya, pemuda itu ada disana, namun hanya diam. Dia terlihat tidak peduli dengan sekitarnya, bahkan setelah dia selesai makan, pemuda itu langsung meninggalkan mereka semua. Membuat semuanya disana terdiam sejenak.

"Jangan khawatir tentang itu." Fadil terkejut, dapat dia lihat Chris sudah ada disebelahnya, " Dia selalu begitu.."

Fadil hanya diam, menganggukkan kepalanya pelan. Pemuda itu hanya diam melihat kearah Iwang yang sekarang telah pergi.


Morning

Hari pertama masuk sekolahnya saat ini kelihatan.. Tegang.

Itu dimulai di pelajaran pertamanya. Banyak anak menatap pemuda itu. Fadil melirik ke sekeliling ruangan dan dia lihat hanya beberapa teman sekelasnya yang tidak mempedulikannya.

Pak Aris masuk ke kelasnya, masih mengenakan pakaian olahraga. "Baiklah, masukkan hp kalian sebentar, bapak mau mengabsen kalian." katanya. Dia memperhatikan Fadil. "Selamat datang kembali, Fadil. Apa kamu sudah membaik?"

"…Ya, pak." Fadil menjawabnya datar.

Pak Aris mengangguk. "Syukurlah kalau begitu.." setelah itu pria itu pun mengabsen murid-muridnya.

Selama pelajaran berikutnya, pemuda itu terlihat diam. Dia masih berfikir tentang kejadian yang menimpanya, beberapa hari yang lalu, membuat dirinya sulit berkonsentrasi pada kelas. Pada saat bel berbunyi untuk makan siang, Fadil tampak lelah dan frustrasi.


Lunch

Hal pertama yang dia perhatikan ketika Fadil tiba di kantin hanya Annisa yang duduk sendiri di meja makan dengan murung, tidak ada Eli ataupun Geral. Fadil berjaaln menuju gadis itu dan duduk. Mata hijau itu menatapnya terkejut.

"Oh, hai Fadil," kata Annisa tersenyum kecut, tanpa sadar mengetuk makan siangnya dengan garpu. Fadil bahkan tidak bisa mengidentifikasi apa yang ada di piringnya.

"Kamu sendirian?" kata Fadil.

"Tidak juga, ada kamu disini.." jawabnya sambil menyeringai kecil, "Haha.. Ya, aku sendirian, Eli sedang ada urusan dengan anggota extra tarinya, sementara Geral di kelasnya saat ini, katanya makan bareng temen sekelasnya.."

Fadil hanya mengangguk kecil, dapat dia lihat gadis itu kembali murung. "Apa kamu punya masalah?" dapat dia lihat gadis disebelahnya terkejut, "H-Huh? M-Masalah?"

"….Well, kamu terlihat murung," kata Fadil. "Jadi aku pikir kamu punya masalah, tidak ya?"

Annisa menggelengkan kepala. "Tidak.. Aku tidak apa, hanya saja.. " dia menghela nafas, "Ini soal sahabatku.."

" Ada apa dengannya? Kalian bertengkar?" Tanyanya,

Annisa mengelengkan kepalanya, "Tidak, kami baik-baik saja. Hanya saja.. Dia berbeda.. " dia terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan perkataannya, "….akhir-akhir ini dia terlihat pucat.. Seperti tidak bernyawa. Hari ini bahkan dia tidak masuk sekolah, aku khawatir jika rumor-rumor mengenai Ridwan dan tim desain grafis itu benar-benar terjadi.."

Fadil diam, " Annisa, siapa yang pertama kali memberi rumor seperti itu disekolah ini?"

"Huh?" Annisa menatapnya bingung, gadis itu berfikir, " Setelah dipikir-pikir, tidak ada yang tahu soal siapa yang memberikan rumor seperti itu.. Rumor itu tiba-tiba muncul begitu saja setelah kematian siswi beberapa tahun yang lalu.."

Fadil semakin terdiam setelah mendengar jawaban dari Annisa, dia tidak menyangka bahwa tidak ada yang tahu tentang siapa yang memberi rumor itu kepada seluruh murid disekolah ini. Pemuda itu berfikir, dia merasa ada yang aneh. Sangat aneh.

Tak lama, terdengar suara bel masuk berbunyi. Keduanya terkejut, "Ahhh, udah bel masuk juga! Makanan belum abis! " gadis disebelahnya bangkit berdiri, "Tante, ini nasinya titip ya! Buat istirahat kedua!" ucapnya kepada ibu paru baya yang sedang duduk didepan dagangannya. Ibu itu tersenyum, mengiyakan Annisa.

Annisa langsung berbalik kearahnya, "Kamu enggak titip juga? Makanan belum abis itu.." ucapnya, menunjuk kearah piring yang berisi lauk pauk. Fadil mengangguk, dia berdiri dan menaruh piring itu di sebelah piring milik Annisa. Setelah itu mereka pun berjalan ke kelas.

" Hey, Fadil." Annisa memanggilnya, " Soal tadi.. Terima kasih."

Fadil menatapnya bingung, "…Tadi?"

Annisa menghela nafas, "Hah.. Kamu ternyata orangnya gak pekaan ya?" Annisa tersenyum kecil, " Ya, tadi. Terima kasih udah mau dengerin aku curhat.. Rasanya lega setelah ngomong begini hehe.. "

Thou art I, and I am thou...

Thou hast established a new bond...

It brings thee closer to the truth...

Thou shalt be blessed when creating

Personas of the Lovers arcana..

The Lovers RANK 1

Fadil diam, wajahnya sedikit terkejut. Perlahan dia menganggukkan kepalanya, "Ya.. Tidak masalah."


After school

Bel pulang telah berbunyi, Fadil menerima pesan dari Geral untuk menemuinya ke halaman belakang, Fadil pun segera berangkat dan mendapati pemuda itu berdiri sambil memainkan ponselnya.

"Hey,"

Geral menoleh kearahnya, "Oh, Hei. Kamu sudah datang rupanya.."

"Jadi, ada apa?" tanyanya,

"Look," katanya. "Tentang ... apa yang kita bicarakan kemarin ... Aku tidak ingin kamu berpikir aku mencoba menekanmu. Aku—"

"Tidak apa-apa," Kata Fadil. Dia menghela nafas panjang. "Aku sudah berpikir... aku memiliki kekuatan ini karena suatu alasan." Fadil melihat ke arah ponselnya, yang menampilkan ikon Mײ. "Jika.. Jika benar Shadow ini memburu orang.. membunuh orang.. dan kita memiliki kekuatan untuk menghentikannya.. " Fadil menatap Geral. "Aku harus melakukan apa yang aku bisa."

Geral terbelalak kaget, sebelum akhirnya menyeringai, "I see, well then," katanya. "Let's work together for now, Leader. "

Thou art I, and I am thou...

Thou hast established a new bond...

It brings thee closer to the truth...

Thou shalt be blessed when creating

Personas of the Fool arcana..

The Fool RANK 1

Fadil terkejut, "L-Leader? Tapi aku—"

"Baiklah, sabtu setelah makan siang, kita harus pergi ke Mnemonic. Lebih cepat lebih baik bukan? Terlebih kamu perlu mendapatkan pengalaman menggunakan Persona mu. Sekarang ayo kita kembali ke kos-kosan, ku sudah capek nih" pemuda itu meninggalkan Fadil yang masih diam disana membisu, dia masih belum bisa mencerna semua perkataan Geral.

Dia menghela nafas panjang, tak lama, terdengar suara tawa kecil Natt dari ranselnya, "Hehe.. Perkataan Fadil mirip peran utama di film-film.."

"H-Huh?"


Evening

Setelah kembali ke Kost, Fadil langsung makan malam bersama dengan yang lainnya. Kali ini hanya ada Eli, Geral, Chris dan Annisa. Huh, iwang tidak ada kali ini. Dia duduk, matanya melirik. Kearah Annisa yang sekarang tengah berbincang dengan Eli. Gadis itu sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.

Tak lama Annisa melihat kearahnya, "Hey, Fadil. Apa kamu sudah memikirkan extra mana yang kamu mau masuki?"

Fadil sedikit terkejut, dia mengelengkan kepadanya pelan, "Belum, aku belum memikirkan hal itu," katanya, "Apa kamu punya saran?"

"Kenapa kamu tidak coba masuk extra basket," kata Annisa. "Badanmu tinggi, kamu pasti bakal dimasukin kedalam tim."

Basket, huh.

"Akan kupikirkan, terima kasih."

Mereka semua menghabiskan sisa malam itu mengobrol, setelah selesai makan malam, Fadil membantu membersihkan piring kotor dan pergi ke kamarnya.


Didalam kamarnya, dia langsung berbaring ke kasurnya, dia menatap kearah langit-langit diatasnya. Tanpa sadar, Natt sudah ada disampingnya, tepat di samping wajahnya.

"Fadil?"

Terkejut, dia langsung bangun, membuat boneka itu terlempar jatuh kebawah.

"Huwee! Fadil jahat! Masa Natt di jatuhin sih!" rengek boneka itu,

Fadil menghela nafas. "Hei, itu salahmu sendiri, ngapain juga kamu muncul tiba-tiba kayak gitu.."

Dia mengeram kesal. "Huh! Dasar Fadil Jahaatt!" dia sedikit berteriak.

"Kamu tidak perlu berteriak," Fadil menghela nafas. "Aku tidak ingin orang terkejut melihat mu bicara, ok?"

"Ah, Maaf. " Boneka itu menutup mulutnya, "Tapi, Fadil terlihat lebih tenang ya.. Natt senang."

"Tenang?"

Boneka itu mengangguk, "Ya, tenang." ia tersenyum, " Soalnya setelah Fadil bangun di rumah sakit itu, wajah Fadil kelihatan seram sekali! Sekarang, setelah bicara dengan Geral, Fadil kelihatan tenang! Natt bahagia hehe! "

Thou art I, and I am thou...

Thou hast established a new bond...

It brings thee closer to the truth...

Thou shalt be blessed when creating

Personas of the Star arcana..

The Star RANK 1

Fadil hanya diam, dia tidak menyangka bonekanya itu bisa bicara seperti itu. Mungkin bonekanya benar, dirinya terlalu banyak berfikir beberapa hari ini karena masalah Shadows itu. Dia menghela nafas dan tersenyum kecil kearahnya. Selama beberapa jam, keduanya mengobrol bersama dan setelah itu pergi tidur.