Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
Narusaku20 : Salam kenal. Yah, harus bersabar sepertinya. XD
Lala-san : Adegan seperti itu bakal ada, tapi masih nanti, bukan yang ini. XD
Ezly-san : Nggak, Shinichi dan Shiho nikahnya nggak bareng Kaito dan
shihoCool'n : Benarkah? He he he. Saat ini update-nya setiap hari Ahad karena penulis sedang banyak kesibukan. XD
Shiho cute : Mereka benar-benar nggak bisa ingat apa-apa sebelum waktunya. Mereka hanya merasa familiar dengan kontak fisik diantara mereka berdua. Kaito jelas bakal muncul lagi dong. Dia kan bumbu dramanya. XD
Atin-san : Mungkin salahnya Aoko adalah dia melabrak Chizue, sama seperti wanita-wanita lain selalu melabrak sesama wanita, bukan melabrak laki-lakinya padahal mungkin saja yang bersalah adalah laki-lakinya. XD
Elba-san : Iya, kemarin ffn lagi trouble, jadi meskipun sudah update hari Ahad, masih saja ada yang nggak bisa membuka link-nya sampai hari Senin. Lemonnya tunggu sampai ada yang menikah ya? XD
Lillya-san : Adegan Ran menemukan Shinichi bermesraan dengan Chizue bakal ada kok. Jangan khawatir. He he he. Lalu tentang apa yang terjadi dengan Shinichi setelah ciuman, langsung baca aja deh lanjutannya. Shiho baru akan menemui orang-orang terdekatnya setelah dia ingat kembali. XD
Shiho Dragneel : Iya, memang setiap hari Ahad. XD
San-San Ocha: Terima kasih banyak. XD
Misyel : Kaito bakal lihat sesuatu kok di chapter ini. Tenang aja. Tapi Kaito bakalan berkutik. He he he. Heiji nggak bakal keluar tapi Shiho yang bakal keluar mengunjunginya setelah Shiho ingat semuanya. XD
Septi-san : Wah, sekali lagi maaf. Semoga kalau kamu bertanya lagi, aku akan bisa menjawabnya. Tapi gara-gara kritikanmu, aku jadi berusaha membaca komentar dari pembaca dengan lebih seksama daripada sebelumnya. Terima kasih ya! XD
Shu no Tsuki : Sepertinya konflik antara Aoko dan Chizue akan kucukupkan sampai di situ. Di chapter ini, salah satu dari mereka sudah ingat kembali. XD
ArdhyaMouri : Kalau Shinichi jelas tidak akan berakhir dengan Ran, sementara Kaito sepertinya tidak akan berakhir dengan Aoko, karena aku tidak sreg kalau melihat seorang wanita yang sudah dicampakkan oleh seorang laki-laki karena wanita lain, kembali pada laki-laki tersebut. XD
Yukio Hisa : Salam kenal juga. Nasib Ran, yang jelas dia tidak akan dapat Shinichi. Kalau tentang happy ending, jelas Shinichi dan Shiho yang akan mendapatkannya sebagai tokoh utama di fanfic ini. XD
Himetarou Ai : Nggak. Buktinya mulai chapter ini sudah pindah ke M tanpa pemberitahuan karena penulis kelupaan. XD
Hibari C. Reinitta : Salam kenal. Karena theme song fanfic ini judulnya Nothing Happened. He he he. Selain itu, pada akhirnya Shinichi dan Shiho akan kembali bersama jadi tidak terjadi apa-apa pada hubungan mereka meskipun mereka sudah berpisah selama dua tahun. XD
Momo ShinKaI : Maklum, Shinichi kan detektif, jadi hobinya memang mengambil kesempatan dalam kesempitan. XD
Nasumichan Uharu : Salam kenal. Ya iya dong. Kalau Chizue bukan Shiho, terus dia siapa? He he he. Kalau begitu selamat bergabung dengan penderita virus ShinShi yang lain. XD
Mora : Salam kenal. Kalau di chapter ini sih, yang bertambah sepertinya adegan Shiho dengan Kaito. XD
Byzan : Baiklah. Selamat membaca! XD
Waktunya curcol!
Sebenarnya penulis sedang bertanya-tanya, kalau fanfic ini tiba-tiba dipindah ke rate M tanpa pengumuman seperti ini, kira-kira para pembaca masih bisa menemukannya nggak ya? Penulis benar-benar lupa membuat pengumuman di chapter yang lalu. Yah, penulis hanya bisa berharap semoga para pembaca fanfic ini, yang belum bergabung di fesbuk penulis, bisa menemukan fanfic ini kembali. XD
Selamat membaca dan berkomentar!
Tidak Ada yang Terjadi
By Enji86
Tears fall without me realising
I wiped my tears because I didn't want you to be washed away
Could have erased you, could have forgotten you
It makes me cry to think about the days without you
You left me without saying anything, I wish it wasn't you, please
It's okay if you return, it's okay if you return
It must be just a dream where we were apart for a short time
Nothing happened, nothing happened
When the night is over, if I wake up, I'm with you again
Repeatedly telling with my heart, telling with my mouth
I remind myself so many times because I don't want to lose you
Could have erased you, could have forgotten you
It makes me cry to think about the days without you
You left me without saying anything, I wish it wasn't you, please
It's okay if you return, it's okay if you return
It must be just a dream where we were apart for a short time
Nothing happened, nothing happened
If I wake up after tonight
It's okay if you return, it's okay if you return
I still love you, please, please
Nothing happened, nothing happened
When the night is over, if I wake up, I'm with you again
(Nothing Happened – Jung Yeop)
Chapter 7 – Apapun yang Terjadi
"Kenapa aku tidak bisa melawannya? Kenapa?" rintih Chizue dalam hati.
Chizue bisa merasakan bahwa seluruh tubuhnya sangat menikmati ciuman Shinichi. Tangannya yang tadi berusaha mendorong Shinichi, sekarang meremas kaos yang dipakai Shinichi. Desahan yang keluar dari tenggorokannya benar-benar berkata bahwa dia sangat menikmatinya.
Shinichi kemudian meminta ijin untuk memasuki mulut Chizue dengan lidahnya dan bibir Chizue langsung mengijinkannya. Shinichi pun segera menelusuri mulut Chizue dengan lidahnya dan dia sangat senang dengan suara yang dihasilkan oleh tenggorokan Chizue.
Ketika Shinichi sedang asyik-asyiknya menelusuri mulut Chizue, tiba-tiba pikirannya menjadi kosong. Lalu ribuan gambar wanita dan seorang anak perempuan berambut pendek berwarna pirang stroberi menghujani pikirannya, membuat kepalanya sakit tak tertahankan dan dia pun tak sadarkan diri.
Chizue tersentak ketika tubuh Shinichi menindih tubuhnya sementara bibir Shinichi tidak lagi menempel dengan bibirnya. Dia pun membuka mata dan melihat Shinichi terbaring tidak bergerak di atas tubuhnya.
"Err, Kudo-tantei, anda baik-baik saja?" tanya Chizue dengan takut-takut.
Shinichi tidak menjawab dan hanya diam saja.
Chizue kemudian mengguncang badan Shinichi tapi Shinichi tetap diam saja. Chizue pun segera melepaskan diri dari tubuh Shinichi dengan hati-hati. Setelah berhasil melepaskan diri, Chizue langsung berdiri dan berniat pergi dari sana secepatnya. Shinichi sudah melecehkannya dan menciumnya dengan paksa, jadi dia tidak akan pernah kembali lagi ke sana. Dia menoleh ke Shinichi yang masih terbaring tidak sadarkan diri sebelum melangkah ke pintu.
Sesampainya di pintu, Chizue kembali menoleh ke dalam rumah. Entah kenapa rintihan Shinichi tadi siang kembali terngiang di telinganya.
"Jangan tinggalkan aku."
"Chizue, kumohon, tolonglah aku."
Chizue pun menundukkan kepalanya sambil meremas gagang pintu dengan erat.
"Kudo-tantei...," gumam Chizue sambil berbalik lalu dia bergegas kembali ke ruang tengah.
XXX
Setelah Shinichi kembali sadar, dia langsung menderita demam tinggi sehingga Chizue harus menjaganya sambil terus mengganti kompresnya. Chizue akhirnya berhasil memindahkan Shinichi ke tempat tidur dan dia tidak menelepon dokter karena Shinichi tadi siang berkata bahwa dia tidak ingin Chizue memanggil dokter. Dia juga sudah menelepon Pamannya dan berkata bahwa dia tidak pulang malam ini karena bosnya demam tinggi.
"Haibara," rintih Shinichi.
"Haibara? Siapa itu Haibara?" pikir Chizue dengan bingung.
Shinichi terus mengigau nama Haibara selama beberapa lama sebelum Shinichi mulai mengigau nama Shiho.
Chizue benar-benar bingung dengan semua ini. Shinichi berkata padanya bahwa dia tidak mengenal seorang pun yang bernama Shiho, tapi kenapa Shinichi terus menyebut-nyebut nama Shiho. Chizue pun mulai berpikir bahwa Shinichi mungkin sedang diguna-guna oleh orang yang bernama Shiho karena Kaito pernah berkata padanya bahwa penyihir itu ada, jadi guna-guna pasti juga ada.
Chizue menatap wajah Shinichi yang terlihat gelisah dan kesakitan dengan prihatin.
"Kudo-tantei, kenapa saya begitu peduli pada anda? Bukankah anda baru saja melecehkan saya? Tapi kenapa saya tidak bisa meninggalkan anda? Kenapa saya masih ada di sini dan merawat anda? Saya benar-benar tidak mengerti. Tapi saya tidak ingin melihat anda kesakitan seperti ini. Hati saya terasa sakit melihat anda seperti ini. Jadi saya mohon segeralah sembuh, Kudo-tantei," ucap Chizue dalam hati.
XXX
Kaito benar-benar gelisah ketika keesokan paginya dia tahu dari Jii bahwa Chizue tidak pulang semalam karena merawat bosnya yang demam tinggi. Dia tidak bisa tenang memikirkan Chizue menginap berdua bersama seorang laki-laki, meskipun laki-laki itu katanya sedang sakit. Dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Shinichi.
Sementara itu, Shinichi terbangun dengan badan yang terasa sangat lemas. Tapi meskipun begitu, dia memaksa dirinya untuk bangkit dari tempat tidur lalu melangkah keluar dari kamarnya. Dia merasa lega sekaligus senang karena menemukan Chizue tidur di sofa di ruang tengah.
Shinichi berlutut di lantai sambil menatap wajah Chizue yang masih tidur. Dia pun tersenyum dengan mata berkaca-kaca, lalu dia mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Chizue. Beberapa saat kemudian, dia mulai membelai pipi Chizue sehingga tak lama kemudian Chizue terbangun.
Shinichi langsung berhenti membelai pipi Chizue begitu Chizue membuka mata. Chizue menatap sekelilingnya dengan linglung, kemudian matanya terkunci pada Shinichi yang sedang menatapnya. Chizue pun langsung bangkit untuk duduk.
"Kudo-tantei, bagaimana keadaan anda? Apa anda sudah baikan? Kenapa anda ada di sini?" tanya Chizue dengan penuh perhatian.
Shinichi tidak menjawab dan hanya tersenyum aneh sehingga Chizue menjadi agak takut.
"Anda harus kembali ke kamar anda dan istirahat. Saya akan segera membuatkan bubur untuk anda," ucap Chizue kemudian dia bangkit berdiri sambil menarik tangan Shinichi agar Shinichi juga berdiri.
Setelah mereka berdua berdiri, Shinichi langsung memeluk Chizue sehingga Chizue tersentak.
"Kudo-tantei, apa yang sedang anda lakukan? Lepaskan saya," ucap Chizue sambil meronta. Tapi entah mendapat kekuatan dari mana, Shinichi tetap mampu mengikat Chizue dalam pelukannya meskipun tubuhnya tadi terasa lemas.
"Tidak. Aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun, Shiho," ucap Shinichi sehingga mata Chizue membesar.
"Apa Kudo-tantei sedang kerasukan lagi?" pikir Chizue sambil tetap meronta.
Lalu tiba-tiba terdengar suara seruan seorang laki-laki yang bernada marah. Laki-laki itu segera melepaskan Chizue dari pelukan Shinichi, lalu menghajar Shinichi. Chizue terpaku di tempatnya selama beberapa saat sebelum dia sadar apa yang sudah terjadi dan dia langsung menghalangi laki-laki itu menghajar Shinichi.
"Kaito-kun, sudah hentikan, aku mohon," ucap Chizue sambil memegang lengan Kaito.
"Biarkan aku menghajarnya, Chizue. Dia sudah memelukmu dengan paksa dan melecehkanmu. Dia benar-benar pantas dihajar," seru Kaito dengan marah.
"Tapi dia sedang sakit," ucap Chizue. Kemudian dia segera menghampiri Shinichi yang terbaring kesakitan di lantai dengan wajah lebam, membuat Kaito bertambah marah.
Kaito kemudian mencengkeram pergelangan tangan Chizue dan menariknya pergi dari situ dengan paksa.
"Kaito-kun, lepaskan aku. Aku harus melihat kondisi Kudo-tantei," ucap Chizue. Tapi Kaito tidak peduli dan terus menyeretnya pergi.
Sementara itu, Shinichi yang melihat Kaito membawa Chizue pergi mengulurkan tangannya dengan putus asa. Ketika Chizue dan Kaito sudah menghilang dari pandangannya, dia pun mengumpulkan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk bangkit berdiri. Lalu dia berjalan dengan sempoyongan untuk mengejar Kaito dan Chizue. Dia tidak boleh membiarkan Shiho-nya pergi lagi dari sisinya.
"Kaito-kun, lepaskan aku. Apa yang sedang kau lakukan? Aku tidak bisa membiarkan Kudo-tantei sendirian di sana. Dia sedang sakit," ucap Chizue setelah mereka sudah agak jauh dari rumah Shinichi.
Kaito pun berhenti lalu berbalik dan menatap Chizue dengan tajam.
"Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang sedang kau lakukan? Dia sudah melecehkanmu, tapi kau malah tetap ingin pergi ke sisinya. Atau jangan-jangan kau suka dilecehkan olehnya?" ucap Kaito dengan marah.
"Apa? Apa kau bilang?" tanya Chizue dengan nada tidak percaya. Lalu dia kembali teringat dengan ucapan Aoko dan adegan berciuman antara Kaito dan Aoko sehingga amarah mulai muncul dalam hatinya. Dia pun menyentakkan tangannya dari cengkeraman Kaito.
"Memangnya kenapa kalau aku suka dilecehkan olehnya? Itu juga bukan urusanmu," seru Chizue dengan marah.
"Apa kau bilang? Tentu saja itu urusanku. Kau kan sudah seperti...," seruan Kaito langsung dipotong oleh Chizue.
"Aku bukan kakak perempuanmu dan aku tidak akan pernah jadi kakak perempuanmu. Jadi berhentilah mengatakan hal itu karena aku benar-benar muak mendengarnya. Dan berhentilah mencampuri urusanku," seru Chizue.
Kaito pun tertegun.
"Apa jangan-jangan Chizue benar-benar menyukai Kudo-tantei?" tanya Kaito dalam hati, sementara rasa sakit yang tidak ia pahami menyerbu hatinya.
Kaito kemudian memegang bahu Chizue dan menggoncangnya.
"Chizue, sadarlah, dia akan menikah tidak lama lagi. Dia sudah ada yang punya jadi kau tidak boleh menyukainya. Kau bukan wanita seperti itu. Aku tahu itu," ucap Kaito.
Chizue melepaskan tangan Kaito dari bahunya lalu menatap Kaito dengan sinis.
"Kau pikir aku bukan wanita seperti itu, huh?" ucap Chizue dengan sinis. "Kalau begitu aku akan memberitahumu. Aku memang wanita seperti itu. Aku bahkan tetap menyukaimu sampai sekarang meskipun dari dulu aku sudah tahu kalau kau sudah ada yang punya, kau puas?" seru Chizue dengan marah.
"Eh?" ucap Kaito dengan kaget dan wajah memerah setelah dia berhasil mencerna kata-kata Chizue barusan.
Chizue pun juga kaget setelah dia sadar pada apa yang baru saja diucapkannya. Wajahnya langsung memerah dan dia langsung salah tingkah. Kemudian suasana di antara mereka berdua menjadi hening dan canggung.
"Aku harus melihat Kudo-tantei," gumam Chizue setelah hening selama beberapa lama. Kemudian dia berbalik dan bergegas pergi.
Namun baru tiga langkah Chizue berjalan, Kaito meraih tangannya lalu menariknya ke pelukannya dan tanpa basa-basi mencium bibirnya. Tubuh Chizue langsung membeku di tempat, tapi hanya sesaat, karena dia akhirnya menutup matanya dan membalas ciuman Kaito.
Saat itu juga, Kaito tahu bahwa Chizue benar-benar bukan kakak perempuannya.
Sementara itu, Shinichi yang akhirnya berhasil mengejar Kaito dan Chizue terpaku di tempatnya berdiri karena dia melihat Kaito dan Chizue berciuman tak jauh di depannya. Dia menggenggam tinjunya dengan erat sambil menatap dua orang yang sedang berciuman itu dengan marah.
"Shiho, tega sekali kau meninggalkanku dan bersama dengan laki-laki lain. Aku tidak akan pernah membiarkanmu. Tidak akan," ucap Shinichi dalam hati dengan marah.
XXX
Chizue sedang menyisir rambutnya dan bersiap untuk tidur ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dia pun mengijinkan orang itu masuk, yang ternyata adalah Kaito. Chizue tetap duduk di depan cermin, menyisir rambutnya yang panjang, sementara Kaito duduk di tempat tidurnya dan memandanginya.
"Dia benar-benar cantik, tapi aku begitu buta sehingga tidak bisa melihatnya dan terus menganggapnya seperti kakak perempuanku. Padahal aku tidak akan pernah rela kalau dia dimiliki oleh laki-laki lain, tapi aku tetap tidak menyadari perasaanku sampai dia terlalu dekat dengan Kudo-tantei," pikir Kaito sambil tersenyum.
Setelah selesai menyisir rambut, Chizue berbalik untuk menatap Kaito.
"Terima kasih ya, Kaito-kun," ucap Chizue sambil tersenyum.
"Huh? Untuk apa?" tanya Kaito dengan bingung.
"Terima kasih karena kau sudah mau mengajakku kencan tadi. Dan terima kasih karena kau sudah menciumku. Aku sangat senang meskipun kencan dan ciuman yang tadi itu adalah kencan dan ciuman pertama dan terakhir kita. Aku sudah cukup puas dengan itu dan sekarang aku sudah benar-benar ikhlas melihatmu bersama Nakamori-san. Aku dan Paman juga akan segera pindah dari sini setelah aku mendapatkan tempat tinggal, jadi kau dan Nakamori-san tidak perlu khawatir," jawab Chizue.
Kaito pun menaikkan alisnya pada Chizue karena dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Chizue. Kemudian dia berdiri dan menghampiri Chizue lalu berlutut di depan Chizue. Kemudian dia menggenggam tangan Chizue dan meremasnya dengan lembut.
"Kau ini bicara apa? Siapa bilang itu kencan dan ciuman pertama dan terakhir kita?" tanya Kaito sambil menatap wajah Chizue.
"Eh?" ucap Chizue dengan agak terkejut.
Kaito kemudian melepaskan tangan Chizue dan berdiri. Lalu dia mengangkat tubuh Chizue dari tempat duduknya kemudian membawanya dan membaringkannya di tempat tidur. Kaito lalu memposisikan dirinya di atas tubuh Chizue dan menatap mata Chizue lekat-lekat.
"Aku akan terus bersamamu untuk selamanya," ucap Kaito.
"Eh?" ucap Chizue dan wajahnya langsung memerah.
Kaito pun tersenyum sekilas sebelum mengunci mulut Chizue dengan ciuman. Tak lama kemudian, Chizue sudah melingkarkan lengannya di leher Kaito untuk memperdalam ciuman mereka. Desahan dan erangan pelan dari dua orang itu muncul untuk menghiasi kamar yang biasanya hening itu.
Kaito lalu menyelipkan tangannya ke dalam piyama Chizue sehingga Chizue tersentak. Sebuah erangan pun segera dihasilkan oleh tenggorokan Chizue ketika dia merasakan tangan Kaito membelai perutnya. Lalu Kaito mengakhiri ciumannya dan mulai menciumi leher Chizue sementara tangannya membelai kedua sisi tubuh Chizue. Dia pun sangat puas ketika dia mendengar erangan dan desahan Chizue keluar dengan bebas dari mulut Chizue karena itulah tujuannya mengakhiri ciumannya di bibir Chizue.
"Kau menyukainya?" tanya Kaito sambil menatap wajah Chizue.
Chizue yang wajahnya sudah semerah tomat mengangguk dengan malu-malu, membuat jantung Kaito seolah berhenti berdetak.
Kaito spontan kembali mencium bibir Chizue dengan agresif.
"Sial! Dia benar-benar manis. Sial!" ucap Kaito berulang-ulang dalam hati.
Ciuman Kaito pun semakin berapi-api dan tanpa sadar tubuhnya mulai mengeras sedikit demi sedikit, sampai akhirnya dia menggesekkan pinggulnya ke pinggul Chizue sehingga membuat Chizue tersentak. Chizue bisa merasakan bahwa Kaito sudah sangat keras.
Kaito pun tersadar dan menghentikan ciumannya.
"Aku pikir kita harus berhenti," ucap Kaito dengan gugup.
"I-iya," sahut Chizue yang ikut gugup.
Kaito mencium kening Chizue lalu segera bangkit dari tubuh Chizue dan melangkah keluar dari kamar Chizue. Setelah Kaito menutup pintu kamar Chizue, dia pun mendesis kesakitan dan berjalan pelan-pelan ke kamarnya. Selangkangannya terasa berdenyut-denyut menyakitkan karena tidak mendapat pelepasan. Dia memang tidak mau meniduri Chizue di malam pertama mereka mulai berkencan karena dia ingin berhubungan serius dengan Chizue. Dia tidak ingin Chizue menganggap ini hanya sebuah one night stand. Dia ingin menikah dengan Chizue dan dia akan bertahan sampai saat itu tiba.
XXX
"Apa Kaito-kun baik-baik saja ya? Tapi aku juga belum siap melakukannya dengan Kaito-kun. Yah, tadi dia kelihatan biasa-biasa saja waktu keluar dari kamarku jadi aku rasa aku tidak perlu khawatir," ucap Chizue dalam hati sambil duduk di tempat tidurnya.
Chizue menarik selimutnya kemudian berbaring kembali di tempat tidurnya. Dia sangat senang hari ini. Tadi setelah Kaito menciumnya, Kaito mengajaknya berjalan-jalan dan bersenang-senang seharian. Lalu barusan, dia kembali bermesraan dengan Kaito. Lalu kata-kata Kaito tadi, apakah itu artinya dia adalah kekasih Kaito? Memikirkannya saja sudah membuat hatinya seolah meledak dalam kegembiraan.
Tiba-tiba senyum lenyap dari bibir Chizue ketika dia ingat pada Aoko.
"Lalu bagaimana dengan Nakamori-san? Aku tidak mungkin menjadi kekasih Kaito-kun sementara Kaito-kun sudah punya kekasih. Sepertinya aku sudah bermimpi terlalu tinggi, padahal aku sudah tahu kalau ini semua hanya terjadi hari ini. Besok, semua pasti akan kembali seperti biasa," ucap Chizue dalam hati dengan muram. Kemudian dia menghela nafas.
"Sudahlah, Chizue. Sekarang kau harus tidur karena besok kau harus bekerja dan mencari tempat tinggal baru untukmu dan pamanmu," ucap Chizue pada dirinya sendiri. Lalu matanya membesar karena kata bekerja mengingatkannya pada Shinichi. Dia benar-benar lupa sama sekali pada Shinichi karena dia terlalu senang.
Chizue langsung bangkit untuk duduk lalu meraih ponselnya yang ada di meja di samping tempat tidur untuk menelepon Shinichi. Dia menghidupkan ponselnya yang dari tadi dia matikan saat dia akan pergi kencan bersama Kaito karena Kaito memintanya sementara Kaito juga mematikan ponselnya sendiri.
Chizue mendengarkan nada sambung dengan gelisah dan merasa sangat lega begitu teleponnya tersambung.
"Halo, Kudo-tantei," ucap Chizue cepat.
"Chizue-san?" ucap Shinichi dengan nada agak terkejut.
"Anda baik-baik saja? Maafkan saya karena saya sudah meninggalkan anda begitu saja. Anda tidak terluka kan? Tidak ada yang sakit kan?" tanya Chizue dengan agak panik.
"Whoa, tenang, tenang, Chizue-san. Aku baik-baik saja kok. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku pikir kau tidak mau melihatku lagi makanya aku kaget karena kau meneleponku sekarang dan aku juga... senang karena kau masih peduli padaku," jawab Shinichi dengan suara yang semakin pelan.
Chizue pun tersenyum.
"Tidak, saya tidak marah pada anda dan tentu saja saya peduli pada anda. Meskipun saya tidak tahu kenapa, tapi saya akan selalu peduli pada anda sampai kapanpun," ucap Chizue.
"Benarkah? Kalau begitu besok kau akan kembali bekerja kan?" tanya Shinichi dengan nada senang.
"Iya, saya akan datang," jawab Chizue.
"Terima kasih, Chizue-san. Terima kasih banyak," ucap Shinichi.
"Tidak. Sayalah yang harus berterima kasih karena anda masih mau menerima saya bekerja pada anda. Baiklah kalau begitu, anda harus istirahat sekarang. Selamat malam, Kudo-tantei," ucap Chizue.
"Selamat malam, Chizue-san," sahut Shinichi.
Chizue kemudian menutup teleponnya dan menghela nafas lega karena Shinichi baik-baik saja.
"Sepertinya Kudo-tantei memang sedang kerasukan kalau dia berbuat aneh padaku. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana harus membantunya. Apa aku ajak ke paranormal saja ya?" pikir Chizue.
Sementara itu, di ujung telepon yang satunya, Shinichi mendengarkan nada telepon yang sudah diputus sambil menyeringai.
"Aku tahu kenapa kau tetap peduli padaku apapun yang terjadi. Itu karena kau mencintaiku. Karena kau adalah kekasihku dan kau akan kembali padaku apapun yang terjadi. Ya kan, Shiho?" ucap Shinichi dalam hati.
Lalu telepon di kantor Shinichi berdering sehingga dia menutup ponselnya dan mengangkat telepon.
"Kami sudah tiba di Hokkaido, Kudo-tantei," ucap orang di ujung lain telepon itu.
"Bagus. Segera mulai penyelidikan kalian," ucap Shinichi sambil menyeringai.
Bersambung...
