Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kisimoto

.

.

.


Aku berangkat ke rumah Karin. Dalam perjalanan Karin banyak bercerita tentang pengalamannya beberapa waktu belakangan ini. Aku mendengarkannya antara minat dan tidak minat. Tapi karna cara berceritanya itu agak menarik, jadi apa-apa yang keluar dari mulutnya kedengaran menarik. Sekali-sekali ku timpali kecerewetannya itu dengan tertawa dan bertanya. Karna terlalu terhanyut dalam cerita Karin, aku sampai-sampai tak menyadari kami sudah sampai di depan rumahnya.

Rumah Karin bertingkat dua, bercat merah menyala. Ada pohon Mangga dan pohon Belimbing di pekarangan rumahnya. Bagasi mobil di sebelah kanan rumahnya.

Karin berjalan mendahuluiku untuk membuka gerbang rumahnya. Tetapi karna tidak sengaja pandanganku tiba-tiba terpaku pada pantatnya yang bulat itu. Bergoyang secara bergantian kiri ke kanan. Darahku berdesir dan libidoku mulai naik. Dalam khayalanku mulai membayangkan bagaimana rupa bongkahan pantat itu yang masih dibalut celana jeans ketat itu. Napasku turun naik dengan cepat dan sekarang tenggorokanku terasa mengering. Jantungku berdetak lebih cepat dan tubuhku mulai panas dingin. Ingin rasanya aku menerkam dan meremas bongkahan pantat itu.

Semakin dekat diriku dengan Karin, semakin bertambah pula kecepatan detak jantungku. Bongkahan pantatnya kian membuat libido naik sampai ke ubun-ubunku.

Cepat-cepat ku alihkan pandanganku dari pantatnya. Tapi meski sudah begitu benakku tak mau berhenti membayangkan adegan porno bersama sepupuku itu.

Dia berbalik dan dalam hitungan detik pandanganku beralih ke buah dadanya yang dibalut baju ketatnya itu. Dia mendekatiku. Aku mengangkat pandanganku ke wajahnya. Ugh! Sensual sekali wajahnya itu. Terutama bibir merahnya yang menyala dan menggairahkan itu. Aku ingin melumatnya dan menghisapnya dengan mulutku.

Libido sialan ini benar-benar menyiksa batinku. Dan sempat terlintas dalam benakku untuk memperkosanya nanti di dalam rumahnya. Darahku berdesir lagi ketika membayangkan bagaimana dia nanti mendesah-desah erotis ketika mulut dan lidahku mengerjai liang vaginanya dan bagaimana dia nanti menjerit keenakan saat batang kemaluanku menggenjot vaginanya.

Aku terus memandang ke tubuhnya yang mulai mendekat padaku dan mengajakku untuk masuk sembari memegang tanganku dan menarikku. Tubuhku serasa dialiri listrik ketika merasakan tangan Karin menyentuh kulit pergelangan tanganku. Sementara mataku terus memelototi pantat sekalnya seperti seekor serigala lapar yang sedang mengintai mangsanya.

Sebentar lagi Naruto. Bersabarlah sampai kalian masuk rumah, di sana kau bisa sesukamu meremas pantat dan buah dadanya serta menikmati vaginanya. Aku sudah tidak sabaran ingin menghujamkan batang penisku ke vaginanya.

Detik demi detik berlalu dengan lambat, sementara kemaluanku sudah ereksi total dibalik celana dalamku.

Kami sampai di depan pintu. Karin kemudian membuka pintu dan kami pun masuk. Inilah saatnya, aku akan memeluknya sambil meremas selangkangannya serta merayu sambil menyerang lehernya.

Akan tetapi bukannya langsung menyerangnya, aku malah hanya berjalan saja mengikutinya yang sedang menuntunku. Entah datang darimana tiba-tiba saja ada sesuatu dalam diriku yang mengingatkanku dan memberikanku buah pikiran.

Karin itu adalah sepupuku. Jika aku melakukan itu padanya, aku akan menghancurkan hidupnya. Bukankah dulu aku yang tidak menginginkan kehidupannya dihancurkan oleh lelaki lain? Sekarang apakah aku orang yang akan melanggar itu semua?

Disisi lain ada yang menimpali. Aku bisa menikahinya untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku.

Ya, jika aku berjodoh dengannya. Jika tidak, apa yang akan terjadi pada Karin? Sementara aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Hari ini aku bisa berjanji ini dan itu, tapi tidak menutup kemungkinan esok aku akan menjadi seorang pengkhianat yang ingkar janji.

Hanya karna menuruti nafsu yang hanya nikmat sesaat, yang membawa kehancuran bagiku dan daerah sekitarku. Apakah aku memikirkan bagaimana perasaan ke dua orang tuaku dan paman serta bibiku yang sudah percaya padaku. Apakah aku akan tega menusuk mereka dari belakang? Bukankah selama ini aku meyakini bahwa setiap perbuatan itu ada balasannya?

Perang pendapat itu terus berkecamuk dalam benakku. Tapi aku lebih condong pada pendapat yang melarangku melakukan kebejatan ini. Hal ini lebih menenangkanku sehingga nafsuku berangsur-angsur menghilang. Sekarang hanya tinggal rasa bersalah dan jijik dalam diriku, ketika mengingat betapa bejatnya isi pikiranku tadi.

"Karin," kataku sambil melepaskan pegangan tangan Karin. "Kakak ke belakang dulu," aku pun segera berjalan dengan terburu-buru meninggalkan Karin.

Sembari berjongkok dan menyandarkan punggung di pintu toilet, aku menangis tanpa suara di dalam kamar mandi. Aku mengutuk dan mencela diriku sendiri atas niat busukku. Tak habis pikir kenapa aku bisa punya pikiran seperti itu. Cukup lama aku dengan keadaan itu sampai tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dibelakangku.

"Kak!" panggil Karin dari luar. Aku pun segera berhenti menangis, lalu mengusap mataku yang berair sambil menenangkan deru napasku yang tak beraturan. Aku bangkit seraya berdehem pelan untuk mengatur suaraku agar tidak terdengar seperti sudah menangis.

"Ya, Karin!"

"Kok lama sekali, kak?"

"Iya, iya, ini kakak sudah selesai."

Aku bangkit, kemudian menghampiri wastafel untuk mencuci muka sedihku. Setelah selesai, aku ke luar dan masuk ke ruang tengah di mana Karin duduk di atas sambil memandang ke arahku.

"Ke sini, kak!" ajaknya sambil menggerak tangannya padaku.

Aku menarik napas panjang, menghindarkan pandanganku dari dirinya, lalu melangkah menghampirinya dan duduk di sofa yang sama dengannya, tapi agak menjaga jarak.

Dia beringsut mendekatiku. Lalu memperlihatkan ponsel Touchscreennya padaku. "Lihat kak. Aku punya game baru."

Aku mengangkat wajahku, memperhatikan ponselnya. Dengan minat yang dipaksakan aku berujar, "Coba lihat."

Dia memberikan ponselnya padaku dan aku mulai memainkannya. Berangsur-angsur rasa bersalah lenyap gara-gara game ini, keasyikan sendiri. Sementara Karin, dia memeluk lenganku sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Tak terasa karna terlalu asyik dengan game ini, waktu sudah menunjuk pukul tujuh kurang. Ketika ku lirik Karin yang ada di sampingku, aku terkesiap ketika melihatnya tertidur dengan kepala dekat dengan leherku dan ke dua tangannya sudah melingkar di pinggangku.

Aku memperhatikan sebentar wajah tenangnya, mulutnya yang setengah terbuka, serta dengkuran halusnya. Lucu sekali wajahnya.

Aku mengangkat tanganku, kemudian mengusap rambut merahnya. "Karin, bangun... Karin..."

Tidurnya terganggu. Dia menarik tangannya, kemudian bangkit dan mengucek-ucek matanya.

"Hoaamm... Sudah jam berapa kak?"

"Jam tujuh kurang... O ya, Karin sudah makan belum?"

Dia menggeleng. "Belum."

"Beli makan di luar yuk." ajakku. Dia diam sejenak, lalu mengangguk.

"Karin mau ikut atau tidak?"

"Ikut..." jawabnya dengan suara manja.

"Cuci muka dulu sana," aku berhenti sambil mengamat-amati pakaiannya. "dan ganti celanamu. Pakai jaket juga."

"Bangunin," dia meminta dengan suara manja lagi.

Aku menurutinya. Ku pegang lengannya dan mengangkat tubuhnya, namun ketika sudah berdiri tegak, dia memeluk lenganku lagi.

"Anterin..." pintanya lagi.

"Karin manja ya. Masak dianterin..." jawabku sambil memandangnya heran.

"Pengennya dianterin..."

"Iya, iya."

Kami ke luar dari rumah itu masih dengan Karin memeluk lenganku. Celananya sudah diganti rok panjang dan dia memakai jaket berwarna merah muda. Sepakat kami akan membeli nasi goreng dari pada Ramen.

"Kak," panggilnya tiba-tiba setelah kami mencapai gerbang.

"Hmm?"

"Beli Nasi Gorengnya satu saja..."

Aku mengernyitkan dahi memandangnya. "Karin tidak makan?" tanyaku.

"Kita makan berdua..."

Hanya pikiranku saja 'kah atau dia memang agak manja setelah bangun tadi? Tapi sudahlah tidak apa-apa. Anggap saja sebagai permintaan maafku karna niat busukku tadi.

Kami berjalan menyusuri jalanan. Sepanjang jalan kami dihiasi canda dan tawa. Karin berganti memeluk tubuhku sembari menyandarkan kepalanya di bahuku. Cuaca sore itu agak dingin, tapi karna pelukan Karin, rasa dingin itu terusir dengan sendirinya.

"Kak," suara Karin mendadak berubah serius.

"Apa?" aku menyahut dengan memandangi dahinya.

"Bagaimana hubungan kakak dengan cewek itu?"

"Cewek?" tanyaku bingung.

"Iya. Hanabi maksudku..."

"Kami sudah putus..." jawabku sedih.

"Benarkah?" nada suara Karin berubah riang.

"Iya, Karin..." aku mencubit hidungnya dengan gemas.

"Aw! Sakit, kak!"

"Eh, maaf, maaf..."

Setibanya kami di rumah. Aku langsung menyiapkan piring dan dua sendok. Kami makan sepiring berdua saling menyuapi. Sesekali mengobrol tentang banyak topik. Mataku tak bosan-bosannya mengamati wajah Karin yang kelihatan begitu gembira. Dia terlihat lebih menarik dari biasanya.

Kami selesai makan dan membagi tugas. Aku yang mencuci piring, sementara dia membersihkan meja makan.

Kami menghempaskan diri sofa. Aku mulai menyalakan televisi. Tapi belum sempat memilih channel tv, Karin malah merebut remotenya, mengganti siaran tv ke acara drama cinta. Padahal aku inginnya nonton Spongebob. Sempat terjadi cekcok antara kami gara-gara berbeda keinginan menonton acara televisi. Tapi karna dia keras kepala akhirnya aku yang mengalah. Tiap kali tiba adegan romantis, Karin memeluk tubuhku erat-erat sembari berandai-andai seandainya kami yang ada dalam adegan itu. Dan aku langsung menyemburkan Fanta yang ku minum tadi seraya tertawa terbahak-terbahak. Dia malah marah-marah dan mencubit-cubit pinggangku.

Ketika adegan berciumannya tiba, ku tutup matanya. Dia malah mengomeliku serta menggigit tanganku dan menertawaiku karna berteriak kesakitan.

Acara drama itu sudah selesai. Aku melirik Karin, dia sudah terlelap lagi dalam dekapanku. Aku menguap sebentar, kemudian bangkit dan menggendongnya menuju kamarnya, tapi tatkala aku sedang menyelimutinya tubuhnya, tiba-tiba saja dia mengigau dengan kata-kata yang langsung membuat pipiku memanas.

"Naruto itu suamiku. Jangan dekat-dekat!"

Bah! Mimpi apa dia tentang aku? Kenapa juga dia menyebutku suaminya? Apa dia bermimpi aku jadi suaminya?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, lalu berbalik, mematikan lampu dan meninggalkannya.

Aku kembali ke ruang tengah. Merapikan tempat itu yang kelihatan sedikit berantakan. Setelah itu mematikan televisi.

Tiba-tiba tanpa permisi dahulu Nagato masuk dan berhenti sambil memandangiku. Wajahnya kelihatan gelisah dan cemas.

"Kau baik-baik saja, Nagato?" tanyaku sambil memandangnya heran.

"Kau ada kerjaan tidak?"

"Tidak. Memangnya kenapa?"

"Bisa kau temani aku sebentar?"

"Ke mana?"

"Ada. Pokoknya ikut saja."

Entah kenapa hatiku merasa agak was-was. Dalam waktu singkat aku sudah memasang sikap waspada.

"Tapi Karin nanti sendirian di rumah. Bagaimana nanti kalau dia bangun?" kataku mencari-cari alasan.

"Cuma sebentar. Nanti kita balik lagi,"

Dia terus memaksaku dan karna aku tidak bisa berkelit ke mana-mana lagi, aku menyetujuinya.

"Tapi janji hanya sebentar." kataku lagi memastikan ketika sudah di atas motornya.

"Iya, iya, ah cerewet."

Kami berangkat dengan kecepatan yang lumayan tinggi, menembus angin yang menghadang. Dalam perjalanan itu rasa was-wasku semakin bertambah. Sudah berpuluh menit berlalu, kami menjauhi daerah perkotaan dan mulai memasuki daerah pinggiran kota yang agak sepi. Jarang-jarang ada rumah di wilayah ini. Dari kejauhan sayup-sayup ku dengar suara musik modern yang menggema di udara.

Jantungku mulai berdebar-debar. Aku menggerakkan mataku ke kanan. Ada selokan, tembok, dan beberapa orang dengan berbagai aktifitas. Semakin ke depan tempat itu menjadi lebih ramai. Bahkan sepasang kekasih sedang berciuman di pinggiran tanpa malu.

Pada sebuah pertigaan di depan kami, Nagato berbelok ke kanan. Dalam hitungan detik kami disuguhkan pemandangan segerombolan orang-orang dalam jumlah yang banyak sedang menghadang laju motor kami.

Perempuan-perempuannya memakai pakaian yang sangat sexy, hotpants, rok mini, dan saudara-saudaranya. Musik-musik hip-hop berputar begitu keras dari arah kiri kami dan mereka berteriak seperti keledai sambil menari-nari dan mengacungkan tangan mereka di udara. Mengenaskan sekali pemandangan ini.

Susah payah Nagato membunyikan klakson motornya dan meneriaki mereka agar orang-orang itu menyingkir dari jalan kami. Setelah dengan lambat-lambat kami bergerak, akhirnya kami bisa ke luar juga dari kerumunan ini.

Sesudah itu oleh karna sorot lampu motor Nagato, diatas semak-semak dua kepala manusia berbeda gender terlihat. Si perempuan berkulit putih yang rambutnya sebahu berwarna biru gelap bergerak-gerak ke depan dan ke belakang berulang kali. Ekspresi wajahnya memperlihatkan ekspresi keenakkan. Dibelakangnya seorang pemuda berambut tidak terlalu rapi berwarna putih sedang mendongakkan wajahnya dengan mulut menganga. Hanya satu hal yang terpikir dalam benakku melihat adegan itu, bahwa mereka sedang beradegan mesum.

Bukannya libido ku naik, aku malah merasa marah dan kasihan dengan gadis itu.

"Nagato, kita mau ke mana sebenarnya?" tanyaku dengan suara meninggi.

"Sudah, diam saja."

Setelah mengucapkan itu, beberapa menit setelahnya, dia memelankan laju motornya dan memasuki sebuah halaman parkir sebuah gedung kumuh. Ada banyak motor yang terparkir di situ dan rata-rata adalah motor-motor spot. Hanya ada beberapa motor yang sekelas dengan motor Nagato. Pada dinding gedung itu sekitar sepuluh lebih manusia laki dan perempuan duduk, ada juga yang berdiri, menyandarkan punggung mereka pada dinding. Ada yang merokok, ada juga yang duduk-duduk saja sambil melamun. Dan semua ekspresi mereka hampir sama, tidak punya gairah hidup, hampa seperti mayat.

"Nagato, sebenarnya kau mengajakku ke tempat apa?!" tanyaku dengan suara agak meninggi.

"Kau cerewet sekali! Dasar bodoh. Diam dan ikuti saja."

Aku diam mendengar dia membentakku. Hanya bisa mengikuti ia melangkah memasuki gedung itu dengan perasaan marah dan was-was.

Sewaktu memasuki gedung itu, kondisinya agak kumuh. Sampah-sampah seperti botol-botol minuman berserakan di lantai tempat ini. Kondisi penerangannya hanya ada sebuah lampu, jadi aku melihat dengan jelas kondisi ruangan ini.

Kami terus berjalan, ada satu dua orang yang kadang berpapasan dengan kami. Nagato tiba-tiba berhenti tepat di depan sebuah pintu lusuh yang sudah memudar warnanya. Dia membuka pintu itu, lalu masuk ke dalamnya. Aku merasa penasaran dan mengikutinya, namun langkahku berhenti saat menyaksikan sekitar selusin manusia tanpa gairah hidup memenuhi ruangan berasap itu. Nagato duduk dan berbicara pada seorang gadis berparas cantik berambut biru gelap sebahu yang sedang merokok di sampingnya.

Selang sesaat setelah itu tiba-tiba Nagato merebut rokok yang dipegang perempuan itu, lalu menghisapnya. Ekspresi wajahnya yang tadinya gelisah langsung berubah tenang.

Aku menatapnya dengan marah, sedih, dan kecewa. Dia memanggilku, tapi aku segera berbalik dan bergegas meninggalkannya dengan terburu-buru. Aku ingin menegurnya tapi ku urungkan niatku karna sudah tahu watak keras kepalanya.

Aku ke luar dari gedung itu dan sempat berhenti sebentar di tempat parkir, bingung pulang dengan apa aku ini. Sempat terlintas di kepalaku untuk membawa kabur motor Nagato, tapi lagi-lagi aku urungkan niatku, karna tidak mau bertengkar dengannya nanti.

Akhirnya, dengan nekat aku melangkah meninggal tempat terkutuk ini untuk pulang. Menyusuri lagi tepi jalanan gelap yang tadi ku lalui dengan Nagato. Dalam pikiranku berkecamuk pertanyaan-pertanyaan tentang perilaku Nagato yang selama ini tak ku ketahui. Dan sekarang aku bingung mau melakukan apa? Melaporkannya pada orang tuanya? Ataukah mendiamkannya? Aku tidak tahu...

Di tengah pikiranku yang sedang berkecamuk, tanpa sadar aku sudah berada sepuluh meter dari kerumunan yang tadi ku lewati dengan Nagato. Tetapi bedanya sekarang kerumunan itu sudah berkurang. Jadi dengan mudahnya aku bisa melewati mereka, meski beberapa kali aku sempat bersenggolan dengan beberapa gadis dan laki-laki yang sedang berdansa.

Setelah melewati mereka, aku terus melangkah sendirian sampai di pertigaan dan berbelok ke kiri, melanjutkan berjalan lagi.

Di depan sebuah bangku kecil tiga puluh meter dari pertigaan tadi, aku berhenti dan menghempaskan diri pada sebuah bangku kecil yang ada di pinggiran jalan. Lima meter di samping kananku ada sebuah tiang lampu yang menjadi penerangan tempat ini. Aku merenung dengan menunduk dan memegang kepalaku dengan ke dua tanganku. Berpikir lama tindakan apa yang akan ku lakukan atas perilaku Nagato ini. Beberapa orang melewatiku, namun aku sama sekali tak mempedulikan mereka. Cukup lama aku dengan keadaan seperti itu sampai tiba-tiba aku terkesiap tatkala pikiranku tertuju pada Karin.

Aku mengeluarkan ponselku, memandangi jam yang sudah menunjuk pukul setengah sebelas malam. Aku agak khawatir memikirkan Karin yang nantinya akan terbangun. Jadi, aku bergegas bangkit, tetapi kebingungan melandaku sejenak. Pulang mau mau naik apa aku?

Aku mengedarkan pandanganku pada tempat ini. Di depanku ada semak belukar, di belakang ada got dan tembok. Mendadak pandanganku tertuju pada seorang gadis lima belas meter dari tempatku berada yang sedang berjalan dengan sempoyongan sambil memegangi kepalanya.

Aku menajamkan mataku mengamat-amatinya. Dan dia ku kenali sebagai gadis berambut indigo yang tadi ada di semak belukar. Penampilannya benar-benar vulgar dengan hotpants abu-abu dan tanktop putih bergaris-garis hitam yang membalut tubuhnya. Aku menurunkan pandanganku dan sedikit heran dengan selangkangannya yang basah kuyup sampai ke betisnya. Semakin dekat semakin jelas kelihatan kancing celananya yang tidak terkait, sehingga celananya agak turun memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna merah muda. Tapi dia berhenti sebentar, lalu menaikkan celananya tanpa mengaitkan kancing celananya. Ketika aku menaikkan pandanganku dan bertemu pandang dengan tiga orang laki-laki yang di belakangnya. Entah karna apa tiba-tiba saja mereka berbalik pergi dan kelakuan mereka cukup mengherankan ku.

Aku memandang gadis itu lagi. Belahan dadanya terlihat jelas dan ukuran dadanya terbilang montok. Dari yang ku saksikan dengan mata kepala ku sendiri, ku pikir dia tidak mengenakan beha sama sekali, karna kelihatan jelas ke dua puting payudaranya agak menonjol pada pakaiannya. Seharusnya libidoku naik dengan pemandangan menggairahkan ini, tapi aku malah merasa kasihan melihat keadaan mengenaskan gadis itu.

Jadi di sinilah aku. Berdiri mematung sambil memperhatikannya, barangkali nanti dia butuh bantuanku.

Dia berjalan agak ke kiri, sehingga sekarang hanya tinggal menghitung kurang dari sejengkal saja sampai dia akan nyemplung ke dalam selokan. Aku menjadi sedikit khawatir melihat cara berjalan gadis itu.

Sebelum dia menjatuhkan dirinya, dengan sigap aku langsung melompat dan menariknya tatkala dia hampir saja jatuh ke dalam selokan itu. Dan karna terlalu keras menariknya, tubuhnya pun menubruk tubuhku. Untunglah aku bisa menahannya.

Dia mengangkat wajahnya dan tampaklah dua pasang bola mata lavender yang sayu sedang memandang ke arah mataku. Bau napasnya menyengat sekali. Kurasa dia sedang teler.

Dia mendadak menarik diri dariku dan lagi-lagi tubuhnya malah oleng ke kiri.

"Hati-hati!" seruku sambil memegangi ke dua bahunya.

"Kau baik-baik saja 'kan?" tanyaku lagi.

Dia membetulkan tas kecil bertali panjang yang ada di bahu kirinya, lalu memegang baju kaos hitamku sambil mengangguk.

Dia melepaskan pegangannya pada bajuku. Lalu kataku, "Owh..." Sebenarnya aku ingin menolongnya, tapi aku malu dan tidak ingin dikatakan sok-sok jadi pahlawan.

"Mas," panggilnya tanpa memandangku.

Mataku mengerjap. "Ya?"

"Bisa antarkan saya pulang?"

Dengan ringan hati aku menjawab permintaannya, yang sebenarnya ingin ku lakukan. "Tentu... Temanmu yang tadi mana?"

"Tidak tahu." jawabnya pelan.

"Terus rumahmu di mana?"

"Di Distrik 4, jalan Sarutobi no. 5, komplek perumahan H no. 9."

Aku sedikit terkejut. Jauh sekali rumahnya, dan yang ku tahu letak rumahnya berada di sebelah barat, letak tepatnya aku tidak tahu persis.

Aku mengamatinya dan merenung. Bagaimana cara mengantarnya pulang? Sementara aku sendiri tidak tahu letak di mana komplek perumahan H itu. Dan sekarang aku mau mengantarnya dengan apa? Mungkin dititipkan saja kali di taksi-taksi yang lewat nanti. Biasanya mereka tahu tempat-tempat yang begitu.

"Baiklah," kataku akhirnya. Hanya sampai menemukan taksi saja. "silahkan jalan dulu."

Aku membiarkannya berjalan dulu. Kemudian mengiringinya di samping kanannya. Pada saat berjalan, berulang kali dia menepi dan berkali-kali pula aku menahannya agar tidak menjauh dari sisiku. Lama-kelamaan aku merasa kesal juga dengan tingkah menjengkelkannya itu. Akhirnya aku memindahkannya ke kananku supaya dia tidak menepi lagi ke selokan. Dan sekarang dia malah berjalan ke tengah jalan dan hampir saja ditabrak motor kalau aku tidak segera menariknya.

Tanpa meminta persetujuannya, aku merangkul bahu kanannya supaya dia tidak bisa ke mana-mana lagi. Akan tetapi gara-gara ini, aku harus menahan bau napasnya yang sangat menyengat di hidungku.

"Ugh!" dia melenguh dan hampir saja jatuh tadi. Tapi reflek ke dua tanganku pun langsung memeluknya, kemudian menariknya ke dalam dekapanku sambil merangkul erat pinggangnya.

Deru napasnya terdengar memburu dan panas, sampai-sampai leherku jadi panas sekali gara-gara suhu panas yang dihembuskan mulutnya. Ku gerakkan bola mataku melirik wajahnya. Ekspresinya tampak seperti orang yang sedang kesakitan, seperti menahan suatu beban dalam dirinya. Lemah dan tak berdaya.

Dia kelihatan memilukan. Dan agak mirip dengan seorang gadis yang sangat ku cintai, yaitu Hanabi.

Ku eratkan peganganku, lalu ku angkat tanganku mengelus-elus surai indigonya dengan segala
perasaanku. Setelah dia puas digauli, sekarang dia malah ditinggalkan seperti layaknya sampah.

Dadaku mendidih. Mataku mulai panas, air mataku timbul dan dengan cepat mengaliri wajahku.

Di atas jembatan yang sedang kami lintasi ini, kami berjalan dalam hening. Aku mengangkat wajahku, memandang langit malam dengan hati sedih.

"Nghh..." lenguhnya sambil menegakkan kepalanya. Kami berhenti tepat di tengah-tengah jembatan sepanjang dua puluh meter ini dan aku melonggarkan pelukan tanganku pada pinggangnya.

"Hei! mau ke mana kau?!" aku meneriakinya ketika dia tiba-tiba saja berlari dengan langkah terseok-seok ke arah tepi jembatan. Firasatku agak buruk melihat dia berusaha menaiki pembatas jembatan itu. Tapi dengan gerakan cepat aku dapat meraih tangannya dan dengan sekuat tenaga ku tarik dia supaya menjauh dari pembatas jembatan ini.

"Apa kau sudah gila?!" seruku sambil ke dua tanganku mencengkram erat ke dua tangannya. Dia mencoba memberontak, namun tenaganya terlalu lemah untuk bisa lepas dari cengkraman tanganku.

"Lepaskan aku. Biarkan aku mati..." ujarnya dengan suara bergetar.

Aku tersentak. Kata-katanya tadi langsung menyulut emosi dalam dadaku. Mati katanya?

"Tidak!" tolakku. Aku menatap marah dirinya atas ucapannya.

"Biarkan aku mati! Kyaaa!" dia mulai berteriak dengan suara nyaring. Kedengarannya bagai lolongan anjing.

"Biarkan aku mati! Hidupku sudah hancur... Bajingan itu telah menghancurkan hidupkuu. Tidak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini! Lepaskan aku!"

"Tidak! Jangan lakukan hal bodoh seperti itu!"

"Kau tidak berhak mengaturku! Kalian para laki-laki semua bajingan! Mempermainkan kami dengan rayuan-rayuan kalian, kemudian mencampakkan kami seenak kalian, brengsek! Lepaskan aku!"

Mendengar kata-katanya mengingatkanku pada niat bejatku pada sepupuku. Dadaku menjadi sangat sesak betapa memalukannya aku ini. Didalam benakku sudah berputar-putar bayangan Karin yang tadi hampir saja ku nistai. Dan kalau saja aku sampai melakukan itu, mungkin ku pikir keadaan Karin akan menjadi seperti gadis ini.

Aku melepaskan cengkramanku pada tangannya. Membiarkannya mundur beberapa langkah. Aku sibuk menyesali segala nafsu bejatku yang memandang Karin seperti pelacur.

Napasku mendidih dan pandanganku mulai mengabur. Aku menjerit dengan keras dalam dadaku. Dan mulai membayangkan diriku seperti makhluk paling rendah di muka bumi ini. Makhluk yang lebih rendah kedudukannya dari para binatang.

Aku ingin berteriak sekuat-kuatnya, mengeluarkan rasa muakku melihat betapa memalukannya aku ini, tetapi suaraku tertahan di tenggorokanku. Air mata dan napasku berhamburan semakin tak beraturan.

Namun semua itu buyar ketika aku menyadari bahwa ada seseorang yang mesti ku selamatkan dari penyesalan. "Berhenti!" perintahku pada gadis itu yang sudah hampir menaiki pembatas itu lagi. Aku melompat dan menariknya lagi dengan kasar. Sehingga dia menabrakku keras. Dia berusaha mendorongku, namun segera ku genggam ke dua lengannya.

Dengan nanar ku tatap wajahnya yang sedang meringis. "Aku tidak tahu apakah yang sudah terjadi padamu atau apakah yang sudah menimpamu. Tapi tidakkah kau pikir dengan mati seperti ini, artinya kau menyakiti orang tuamu dua kali... Dengan membunuh dirimu sendiri berarti kau akan menghancurkan hati dan cinta ke dua orang tuamu, sesudah kau hancurkan harapan dan kepercayaan mereka. Tidakkah cukup sekali saja bagimu untuk berbuat kesalahan. Aku tahu tidak mudah untuk bangkit dari keterpurukanmu. Tapi setidaknya kau bisa mencoba dan berusaha untuk bangkit lagi... Kau mengira manusia ketika dilahirkan akan langsung bisa berjalan tanpa terjatuh? Tidak! Berkali-kali dia akan terjatuh, tapi apakah dia akan menyerah? Juga tidak. Berkali-kali juga dia bangkit lagi. Sampai pada akhirnya ia bisa berlari setelah berulang kali terjatuh..." aku berhenti, kemudian tiba-tiba dia langsung berteriak histeris yang terdengar bagaikan seekor binatang yang sedang terluka. Dia menjatuhkan dirinya sambil menjambak rambutnya sambil terisak dengan bahu terguncang-guncang di trotoar. Mataku tak pernah berhenti memperhatikan puncak kepalanya.

"Hik, hiiks, aku bodoh, aku orang bodoh! Begitu bodohnya aku dulu bisa mengikuti bajingan itu dan rela meninggalkan orang tuaku hanya demi bersamanya... Hiks..."

"Semua orang yang jatuh dalam kesalahan juga orang bodoh? Pasti semua orang pernah jatuh dalam dalam sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Akan tetapi bunuh diri bukanlah solusi atas masalah-masalahmu. Hari ini pun ku kira aku telah berbuat kesalahan dan sangat menyesalinya, tapi bukan berarti aku harus kehilangan harapan untuk memperbaikinya. Perjalanan hidup masih panjang. Selama napas masih berhembus maka tidak akan ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Keputusasaan hanyalah untuk mereka-mereka yang gagal." sesudahnya aku diam seraya memandangnya yang terus sesenggukan.

"T-tapi... aku tidak tahu apakah nanti orang tuaku akan mau menerimaku lagi..."

"Kenapa kau tidak mencobanya? Aku yakin orang tuamu masih memiliki hati nurani. Sama seperti orang tuaku..." aku tidak bicara lagi. Mataku terus memperhatikan dia terisak-isak dengan suara yang memilukan.

Setelah tangisnya agak reda, aku berjongkok sambil memegangi bahunya. "Bangun," perintahku.

Dia mengangkat wajahnya, memandangku bingung. "Ayo bangun. Kita pulang." dia tidak bergerak untuk beberapa saat. Baru kemudian dia bangkit sambil ku bantu. Aku mengambilkan tas miliknya yang tadi terlempar, kemudian memberikannya.

"Betulkan celanamu dulu sebelum kita berangkat." kataku setelah dia sudah berdiri meski tidak tegak. Dia menunduk, dan cepat-cepat dibetulkannya celananya sampai ke kancingnya.

"Kau bisa jalan?" dia mengangguk.

"Silahkan duluan." dìa berjalan lagi, tapi jalannya masih agak sempoyongan. Aku pun segera merangkul pinggangnya dan menariknya lagi dalam dekapanku.

Dia memandangku dengan bingung. Aku tersenyum ke arahnya sambil menjawab, "Jalanmu masih tidak benar. Biar ku bantu sampai rumah." dia menurunkan wajahnya, menyandarkan kepalanya di bahu kiriku.

"Sebentar." aku berhenti, lalu melepaskan jaket hitam yang ku kenakan. Memakaikannya ke tubuh gadis ini. "nah. Begini lebih baik." aku merangkul pundaknya, tidak lagi pinggangnya.

Bintang-bintang bersinar bagaikan intan-intan berlian berlatar langit hitam. Angin-angin malam berhembus sepoi-sepoi menyapu tubuh kami. Dalam kesunyian itu kami terus berjalan dalam diam menyusuri jalanan.

Dari kejauhan ku lihat sebuah taxi terparkir di tepi jalanan. Dan aku sangat bahagia melihat taxi itu.

Aku berhenti sehingga gadis itu bertanya padaku, "Kenapa berhenti?"

"Kau punya uang tidak?"

Dia mengangguk sambil mengangkat tasnya ke arahku. Aku mengambilnya, membukanya, dan mengorek-orek isinya. Ada ponsel, selembar lima puluh ribu, dan aku agak terkejut melihat pil-pil mencurigakan dalam sebuah plastik kecil yang ku tebak bahwa itu adalah ekstasi.

Aku ingin menyingkirkan benda itu dari tasnya. Kepalaku sibuk mencari-cari alasan-alasan yang tepat untuk membenarkan tindakanku.

Aku sudah mengantarnya sampai sejauh ini dan semua yang ku lakukan ini harus ada bayarannya. Dan ku pikir pil ini adalah hal yang tepat. Sambil meliriknya, dengan cepat dan singkat ku ambil pil-pil itu beserta selembar uang lima puluh ribuan yang ada di tasnya.

Tapi sekarang hanya ada satu kendala lagi. Uang ini cukup tidak untuk mengantarnya sampai ke tempat tujuannya? Sementara aku sendiri tidak tahu berapa tarif taxi itu sampai ke tujuan gadis ini. dan aku kira ongkosnya akan mahal sekali.

Aku berpikir keras. Banyak hal yang mungkin akan terjadi nanti. Sopir itu bisa saja berniat jahat padanya nanti, lalu dia akan menyuruh gadis ini membayar dengan tubuhnya. Sial! Pikiran buruk ini membuatku akhirnya membuatku sempat ingin mengurungkan niatku. Namun setelah mengingat-ingat malam sudah larut dan aku harus segera pulang untuk melihat keadaan Karin. Jadi aku tak punya pilihan lain selain menyewa taxi ini dan memastikan dia tidak diapa-apakan nanti.

"Taxi, pak." kataku setelah sampai di samping kanan taxi ini. Sopir taxi ini berumur seperti ayahku. Wajahnya sudah berkerut tapi kelihatan segar walau pun tampak ada kelelahan pada wajahnya, tetapi tidak menghilangkan kesegaran dalam wajahnya. Kulitnya putih dan ada janggut pendek yang menghiasi dagunya. Rambutnya pendek di sisir ke samping.

Dia menatap kami, mengamat-amati kami beberapa lamanya. Kemudian mendesah, dan menampilkan suatu kesan merendahkan pada wajahnya.

"Ya sudah, masuk." katanya dengan nada suara yang tidak ramah.

Aku membuka pintu, lalu menangkup puncak kepala gadis ini dan masuk.

"Ke mana dek?" tanyanya dengan suara yang tidak minat.

Aku menyebutkan alamatnya dan dia segera menjalankan taxi ini. Hatiku tak pernah berhenti berdebar-debar memikirkan ongkos taxi ini.

Mendadak bapak itu mengajak ku ngobrol. Melalui pantulan cermin kecil yang tergantung di langit-langit mobil taxi ini pandangan kami bertemu.

"Pacarnya ya dek?" dia bertanya.

"Bukan," jawabku dengan malu-malu.

"Temannya?"

"Bukan juga,"

"Terus siapa?" kepo sekali pak sopir ini.

Dengan gugup aku menjawab, "Tidak tahu. Tadi ketemu di jalan udah kayak gini. Karna kasihan akhirnya saya anterin. G-gak tega melihatnya pulang sendirian..." aku menyisir-nyisir rambut gadis ini.

"Ooo..." jawabnya singkat. Setelah itu kami diam.

Jantungku semakin berdebar-debar. Aku mengeluarkan uang ku dari saku celanaku dan menyatukan uang kami.

Kira-kira cukup tidak uang ini buat bayar ongkos taksi. Semakin jauh taksi ini bergerak memasuki kota, aku semakin panik dan cemas. Akhirnya aku beranikan mengutarakan masalahku ini.

"Pak―" tapi belum sempat melanjutkan kata-kataku, bapak ini sudah memotong kalimatku duluan.

"Adek bayar saja uang bensinnya. Tidak perlu bayar ongkos taksinya."

Huh, aku agak lega setelah mendengar ucapan bapak itu.

"Berapa pak kira-kira?"

"20.000 saja." jawabnya singkat.

Ku berikan lembaran dua puluh ribuan yang diberikan ibuku ini pada pak sopir itu. Kemudian memasukkan uang gadis ini ke dompetnya. Sekarang aku bisa bernapas dengan sangat lega. Setelah taksi ini tikung sana, tikung sini, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Sebelum turun aku mengucapkan terima kasih dulu dan mendoakannya supaya dapat rezeki yang banyak.

"Rumahmu di mana?" tanyaku ketika menyaksikan deretan rumah kembar berwarna-warni di kiri kanan jalan ini.

"No. 9." lirihnya.

Aku mengamati rumah-rumah ini. Mulai menghitung nomor yang tertera satu-persatu. Dan menemukan rumah yang kami tuju. Rumah yang sederhana berwarna putih. Kami memasuki halamannya, lalu berhenti.

"Sudah sampai." kataku. Dia mengangkat kepalanya dari bahuku, merogoh tas ungunya dan mengeluarkan kunci.

"Bukakan aku." pintanya sambil menyerahkan kunci di tangannya. Aku pun menerimanya, kemudian merangkulnya dan menghampiri rumah itu.

Setibanya kami di depan pintu, aku melepaskannya, lalu berkutat dengan pintu ini. Setelah terbuka aku menyuruhnya masuk.

"Masuklah."

"Kau tidak masuk dulu?" tanyanya.

"Aku harus segera pulang."

Dia diam beberapa lamanya dulu. Lalu berkata, "Terima kasih,"

"Tidak masalah... Aku pulang dulu ya?" pamitku sembari membalik tubuhku.

"Ku harap," dia berhenti berucap.

Aku meliriknya tanpa berbalik. "Ya?" sahutku.

"Ku harap kita bisa bertemu lagi..."

Aku tersenyum. "Ya ku harap juga begitu... Dah!" aku berjalan sambil mengangkat tanganku dan melambaikannya.

Menit demi menit berlalu. Aku terus berjalan tanpa henti memikirkan gadis itu. Kadang berbelok ke kiri, kadang belok kanan. Tapi ketika pikiranku beralih ke Karin, aku langsung tersentak dan menyadari bahwa tempat ini sama sekali tak ku kenali.

Setan! Di mana ini? Pikirku. Aku mencoba kembali ke rumah gadis itu, namun saat aku bertemu pertigaan jalan aku jadi bingung.
Aku lewat mana tadi? Yang kiri atau yang kanan? Sial! Aku tidak ingat. Kenapa aku bisa seceroboh ini sih!

Aku mulai memilih-milih, yang kanan atau kiri. Akhirnya aku tetapkan pilihan ke kiri. Aku berbelok dan berjalan sambil mengamati rumah-rumah ini. Barang kali nanti ada yang ku kenali. Sudah berpuluh menit berjalan aku malah semakin tak mengenali jalan-jalan ini yang sekarang jadi agak padat dengan banyak rumah-rumah dan toko-toko yang berjejer di sepanjang sisi jalanan ini.

Apa aku harus menggedor-gedor rumah-rumah ini dan bertanya di mana rumahku? Tidak, tidak. Aku tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Tapi gara-gara pikiran konyol itu, aku bisa sedikit tertawa dan merasa terhibur di sela-sela kebingunganku.

Aku memberhentikan langkahku di sebuah perempatan jalan. Berpikir-pikir sebentar apa yang harus ku lakukan. 'Oh ya, tentu saja... Ponsel.' batinku sambil tersenyum. Aku berterima kasih pada pencipta benda persegi panjang ini. Karna dengannya sekarang ini aku bisa menghubungi orang tuaku dan menyuruhnya menjemputku.

Kesialan lain mendatangiku. Di saat-saat genting seperti ini malah pulsaku zonk. Pikiranku jadi tambah runyam dan aku tambah bingung.
Ah! Ada ide yang terlintas dalam benakku. Kali ini aku bisa bernapas dengan lega. Aku hanya tinggal mencari orang untuk ditanya di mana halte bis terdekat agar aku bisa pulang.

Ku rogoh saku celanaku, tapi kosong. Di mana uangku?! Aku mulai panik, lalu ku korek-korek semua saku celanaku, tak ketemu juga. Tapi...

"Sial!"

Aku lupa bahwa uang tadi sudah ku berikan pada pak sopir taksi. Sekarang aku benar-benar pusing bercampur bingung. Hari ini aku sial sekali. Berturut-turut selama seharian ini aku ditimpa sial terus. Mimpi apa aku semalam?

Aku berjalan dengan lemah. Berbelok ke kiri sambil menggerutu dalam perjalananku.

Tiba-tiba...

"Naruto."

Huh? Siapa yang memanggilku? Apakah itu jin? Wah asyik! Nanti minta diantarkan saja jin itu.

Aku mengangkat wajahku dan melihat orang yang ku kenali sedang berdiri di tepi jalan bersama motornya.

"Shhiiinnooo!" aku berhamburan memeluknya sambil menangis haru. Tuhan memang baik.

"Lepaskan aku! Woi kau ini maho ya! Lepaskan aku!" teriaknya sambil mendorong-dorongku.

Aku pun melepaskannya dan menghapus air mata haruku.

"Apa yang kau lakukan di tempat jauh seperti ini?"

"Aku sedang tersesat di jalan yang bernama kehidupan..." jawabku sambil memasang ekspresi sesedih mungkin.

"Shino! Antarkan aku pulang!"

"Hah... Baik-baik. Ayo naik." dia menaiki motornya dan aku juga.

"Kau sedang apa sih di sini?"

"Kepo banget sih..."

"Gak gitu juga klezz..."

"Tadi... Aku lagi maling ayam. Tapi aku tersesat ketika negara Api menyerang..."


Tebece