Disisi lain, Gaara yang baru selesai mengerjakan pekerjaannya segera meninggalkan ruangan kerjanya. Sebelum memasuki kamarnya untuk beristirahat, Gaara berhenti di depan kamar Hinata, 'cklek' tidak terkunci. "benar-benar ceroboh." Gumamnya pelan. Dilihatnya Hinata yang sudah tertidur. Gaara pun meninggalkan kamar Hinata, dan memasuki kamarnya untuk mencoba tidur.

Disclaimer:

Naruto is Masashi Kishimoto

WARNING : Typo, Drama, etc *mohon koreksinya :')

Don't like don't read

Agreement

Chapter 7

"Huh." Keluh Gaara saat dia sudah berusaha untuk menidurkan dirinya, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Sudah berjam-jam Gaara berbaring diatas kasurnya, tapi tidak ada sepersenpun rasa kantuk yang menghampiri matanya.

Tubuhnya tentu saja lelah, hanya saja jika matahari sudah kembali terbit, tubuhnya akan segar kembali. Tidak tahu mengapa hal seperti itu dapat terjadi pada diri Gaara. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan baginya. Dilihatnya jam yang berada di atas nakas samping kanan kasurnya, 'pukul 03.00 dini hari.

'Tidak ada gunanya aku seperti ini terus.' Pikirnya, Gaara segera bangkit dan pergi meninggalkan kamarnya, seperti biasanya, Gaara pergi menuju ruangan kerjanya.

'Kring kring kring' jam weker yang terdapat di atas nakas terus berbunyi, mengganggu tidur nyenyak Hinata, 'sudah pukul 05.00 pagi.' Hinata sengaja membuat alaram sepagi itu, Hinata takut kesiangan lagi seperti kemarin, dan tentu saja dia tidak ingin dianggap sebagai istri yang tidak berguna.

Hinata bangkit dari tidurnya, merapikan tempat tidur, dan bersiap-siap untuk mandi. Selesai mandi Hinata memakai pakaian rumah biasa, dan memoles sedikit make up pada wajahnya, hanya sekedar bedak dan lipgloos tipis pada bibirnya.

Tidak lupa Hinata menyisir surai indigonya. Setelah siap, Hinata keluar kamar dan menuruni tangga, menuju dapur. 'sepertinya Gaara-san belum bangun.' Hinata tersenyum kecil, merasa usahanya untuk bangun pagi tidaklah sia-sia. Hinata memulai ritual dapurnya, Hinata hanya memasak nasi goreng.

Saat sedang menyusun masakannya di atas meja makan, Gaara turun, dan hendak menghampiri dapur. Hinata yang sadar bahwa Gaara berjalan kearahnya sedikit gugup, Hinata tidak berani menatap mata Gaara. "p-pagi Gaara-san."

Ucapan selamat pagi adalah permulaan hari yang baik. Gaara hanya melirik Hinata, itulah balasan ucapan selamat pagi Gaara ke Hinata. Gaara melewati Hinata dan berhenti didepan kulkas, tepat dibelakang Hinata.

Hinata sudah benar-benar gugup, ditambah lagi dengan ingatan semalam, saat Gaara benar-benar dingin dan tidak mengacuhkannya, membuatnya semakin tidak mampu bergerak dari posisinya sekarang.

Gaara membuka kulkas, mengambil sebotol air mineral, menutup kulkas, dan kembali berjalan menuju keluar. Saat sadar bahwa Gaara mulai berjalan lagi, cepat-cepat Hinata mengeluarkan suarnaya. "G-gaara-san, aku sudah memasak sarapan, t-tidakkah lebih baik Gaara-san sarapan dahulu?" ucap Hinata sembil menatap punggung tegap Gaara.

"aku tidak punya waktu." Balas Gaara tetap berjalan. Hinata mengikutinya sampai ke teras. "Hati-hati di jalan G-gaara-san." Ucap Hinata sebelum Gaara memasuki mobilnya. "Hn." Gaarapun memasuki mobilnya dan langsung pergi menuju ke kantornya.

Seperti biasanya, begitu banyak pekerjaan yang sudah menunggu Gaara. Namun sekarang sudah saatnya makan siang. Perutnya sudah berbunyi minta diisi, sedangkan pekerjaannya belum selesai. Gaara jadi teringat tawaran sarapan Hinata tadi.

Mengingat Hinata, Gaara jadi teringat permintaan Hinata semalam. Gaara segera bangkit dari duduknya dan menghubungi supir pribadinya. "kau dimana ? cepat kerumahku sekarang, dan lihat apakah ada orang atau tidak. Jika ada katakan padanya, kalau aku menyuruhmu untuk mengantarnya kemanapun yang dia butuhkan. Jika tidak ada, langsung beritahu aku." Tuuut. Gaara menutup panggilan sebelum orang yang ditelponnya itu sempat menjawab.

Gaara menunggu pemberitahuan dari supir pribadinya itu sambil melihat profil Hinata sebagai karyawan PERUSAHAAN HYUUGA. Tidak ada nomor ponsel pribadi ataupun nomor ponsel kerja Hinata yang tercantum di profil Hinata. Gaara sedikit kesal karena Hinata tidak mencantumkan nomor ponselnya, hal itu membuatnya tidak dapat menghubungi Hinata. dan disisi lain Gaara senang, artinya tidak semua orang dapat menyimpan nomor ponsel Hinata dan dapat menghubungi Hinata.

Gaara tidak habis akal, tidak menemukan nomor ponsel Hinata, Gaara mencoba mencari nomor kerja asisten pribadi Hinata. Gaara dengan mudah langsung menemukan nomor kerja asisten Hinata, karena di profil Hinata tercantum juga profil asisten pribadi Hinata yang dapat dihubungi mengenai pekerjaan yang penting.

Ponsel Gaara bergetar, menandakan ada pesan masuk. Ternyata pesan dari supir pribadinya. 'tidak ada orang di rumah anda Gaara-sama.' Supir pribadinya melaporkan bahwa Hinata tidak ada di rumah. Gaara berpikir karena Hinata sudah pergi berbelanja dengan Temari kemarin, pasti Hinata sudah mengetahui jalanan di lingkungan barunya.

Gaara segera menghubungi asistan pribadi Hinata, sejak pertama Gaara sudah berpikir bahwa Hinata tidak ada di rumah, dan pasti berada di kantor. "selamat siang, ini dengan PERUSAHAAN HYUUGA, ada yang bisa dibantu." sapa asistan pribadi Hinata. "anda asisten pribadi Hinata?" Tanya Gaara, tanpa menjawab ucapan salam sang asisten. "ya, benar. Maaf anda siapa ? apakah ada perlu dengan Hinata-sama ?" "apa dia ada di kantor ?" kembali Gaara bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari asisten Hinata. "ya, Hinata-sama sedang berada di ruangannya." Tuuut. Merasa apa yang diperlukannya sudah didapat, Gaara langsung memutuskan panggilan.

Gaara meneguk habis segelas kopi hitam yang terletak di meja kerjanya, dan pergi meninggalkan ruangannya. Gaara menuju parkiran yang terletak di basement gedung perusahaan miliknya itu. Dan pergi meninggalkan perusahaannya menuju ke perusahaan Hyuuga dengan mobil mewahnya.

Resepsionis perusahaan Hyuuga tidak dapat menahan rasa kaget saat melihat lelaki tampan bertubuh tinggi atletis dengan kaki yang jenjang memasuki gedung perusahaan Hyuuga. Dengan wibawa dan kharismanya yang begitu kuat tidak mungkin orang yang bekerja di bidang bisnis tidak mengenal Gaara, seorang Direktur muda perusahaan Sabaku yang sangat cerdas dalam berbisnis dan bersikap tenang dikala banyak orang yang ingin menjatuhkannya. Tentu membuat orang yang melihatnya dan mengenalnya tidak akan mungkin untuk tidak mengaguminya.

Gaara melenggang pergi begitu saja, tanpa menghampiri meja resepsionis terlebih dahulu. Mengabaikan semua sapaan dan tatapan memuja dari orang-orang yang dilewatinya. "bukankan itu Sabaku Gaara, direktur baru perusahaan Sabaku. Kurasa dia akan menemui sang istri barunya." Ucap salah seorang resepsionis. "ya benar, yaampun sangat tampan, masih muda sudah memegang perusahaan terbesar di Jepang, bahkan Asia. Kapan aku bisa dekat dengan pria setampan itu." Ucap resepsionis yang lainnya. "sudah jangan mengkhayalkan dia terus, kau tahu dia itu sudah menikah dengan Hinata-sama, jadi berhentilah berharap." Sang pengkhayal tadi diam sejenak. "tapi kurasa mereka menikah bukan atas dasar cinta, bahkan dengar-dengar mereka tidak saling mengenal sebelumnya." Jawabnya lagi. "yaa terserahla, yang jelas dia tidak akan berpaling dari Hinata-sama ke dirimu." "itu benar, sangat menyedihkan. Dan kau sangat tega berkata seperti itu." Mereka berhenti membicarakan Gaara dan kembali bekerja.

'tok tok tok' suara ketukan di pintu ruangan Hinata membuatnya teralih dari pekerjaanya. Hinata belum bisa meninggalkan kantornya untuk makan siang, karena pekerjaan yang masih harus diselesaikannya. kemarin Hinata tidak bekerja, hal itu membuatnya harus mengerjakan pekerjaan kemarin juga. "masuk." Ucapnya lembut. Sekretaris/asisten pribadi Hinata memasuki ruangan Hinata. "maaf mengganggu pekerjaan anda Hinata-sama, tapi ada tamu yang ingin menemui anda." Hinata mengernyitkan alisnya, seingatnya tidak ada tamu yang membuat janji dengannya. "siapa ? apakah penting? Saya masih memiliki banyak pekerjaan." Jawab Hinata. "B-beliau Gaara-sama." Jawab asisten Hinata, dengan sedikit gugup dan juga bingung. Mengingat yang datang adalah orang penting.

Hinata membulatkan matanya "A-apa?, untuk apa Gaara-san datang kesini? Silahkan disuruh masuk." Ucap Hinata. "baik Hinata-sama." Sekeretaris Hinata pergi meninggalkan ruangan Hinata, digantikan oleh Gaara yang memasuki ruangannya.

Hinata segera berdiri dan terkesiap, melihat Gaara yang sudah berdiri di hadapannya. "s-selamat siang Gaara-san, ada perlu apa kemari?" Tanya Hinata tanpa berani menatap mata Gaara. 'untuk apa Gaara-san kemari, yaampun keadaanku pasti sangat berantakan, dan ruanganku benar-benar kacau.' "bukankah kau ingin kerumahmu untuk mengambil mobilmu?" jawab Gaara.

Hinata jadi teringat permintaannya semalam. 'yaampun, jadi semalam Gaara-san mendengarnya, dan Gaara-san mau repot-repot kesini untuk menanyakan hal itu saja?' "i-iya Gaara-san, tapi kalau Gaara-san sibuk, aku pergi sendiri saja. A-aku sudah mengetahui jalan." Ucap Hinata tertunduk. "cepatlah, aku tidak punya banyak waktu. Aku tidak ingin waktuku menuju ke tempat ini jadi sia-sia." Hinata membulatkan matanya dan mendongakkan kepalanya untuk menatap Gaara. 'a-apa aku tidak salah dengar, yaampun Kami-sama kumohon kuatkan aku, dan bantu aku untuk bergerak. Gaara-san mau repot-repot membantuku. Aku benar-benar bersyukur.' Ucap Hinata dalam hati. "b-baik." Jawab Hinata mengalihkan pandangannya dari mata Gaara.

Hinata tahu rambutnya sedikit berantakan dan bajunya sedikit tidak rapi, dan make up tipisnya sudah memudar, tetapi tentu saja itu semua tidak memudarkan kecantikannya. Hinata tidak sanggup melakukan banyak pergerakan, karena tahu bahwa Gaara masih ada di ruangannya. Jadi Hinata membiarkan semua penampilan berantakannya itu. Memasuki ponsel kedalam tasnya dan mulai melangkah kecil.

Gaara yang melihat sudah ada pergerekan dari Hinata, segera mengalihkan tatapanya kearah Hinata. Gaara yang ingin segera melangkah, mengurungkan niatnya dan menatap intens ke arah Hinata. Hinata yang merasa diperhatikann hanya mampu menundukan kepalanya. "kau siap?" Tanya Gaara ragu dengan penampilan Hinata. "a-apa?" Tanya Hinata, tidak mengerti. "aku tidak ingin orang mengiraku melakukan hal yang tidak-tidak terhadapmu." Ucap Gaara sambil memasukkan kedua tangannya di saku, dan bersender di dinding dekat tempatnya berdiri.

Mendengar perkataan ambigu Gaara, mebuat Hinata kembali mendongakkan kepalanya, berusaha menatap mata Gaara. Gaara yang menatapnya dari atas kebawah, membuat Hinata mengerti apa maksud dari perkataan Gaara. Menyadarinya membuat Hinata jadi salah tingkah akibat malu, karena Gaara menyadari penampilan berantakannya. "i-iya, aku akan be-berbenah. di toilet saja." Jawabnya. "aku tunggu di mobil." Ucapnya datar sedatar ekspresinya dan pergi meninggalkan Hinata.

Melihat pintu ruangannya sudah tertutup, Hinata segera menghembuskan nafasnya, tanpa sadar Hinata menahan nafasnya selama Gaara ada di hadapannya.

Dengan cepat Hinata merapikan rambut dan pakaiannya, tidak lupa memakai bedak dan sedikit lipstick. Sebenarnya Hinata adalah orang yang pandai berdandan, hanya saja dia berpikir tidak perlu menggunakan make up berat untuk pergi ke kantor. Tanpa make up pun Hinata sudah sangat cantik dan bersinar.

Setelah yakin penampilannya sudah rapi, Hinata mengambil tasnya dan pergi meninggalkan ruangannya. Saat keluar dari ruangan, Hinata segera berkata kepada sekretarisnya bahwa dia akan keluar sebentar. "saya akan kembali ke rumah sebentar." Hinata berkata sopan pada sekretarisnya. "baiklah Hinata-sama, jika ada hal penting, saya akan segera menghubungi anda." Jawab sekretarisnya tak kalah sopan. Setelah membalas dengan senyuman kecil, Hinata melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan sekretarisnya.

Hinata melihat mobil Gaara sudah menunggu tepat didepan pintu utama Perusahaan Hyuuga. Dengan langkah yang sedikit gugup Hinata mendekati mobil Gaara. Karena kaca jendela mobil Gaara yang gelap, Hinata jadi tidak bisa melihat ke dalam. Hinata berpikir mungkin Gaara tidak ada di dalam, dan Hinata tidak mau membuka pintu mobil Gaara dan masuk tanpa dipersilahkan. Jadi Hinata hanya berdiri dan berharap Gaara akan datang dan mempersilahkannya masuk ke dalam mobil.

'apa lagi yang dia tunggu?' Gaara pikir Hinata masih menunggu seseorang, jadi Gaara hanya diam di dalam mobil dan menunggu Hinata memasuki mobilnya.

Setelah 8 menit berlalu, Gaara tak juga melihat orang yang ditunggu Hinata, Hinata pun tak juga melihat Gaara, dan tetap tidak memiliki keberanian untuk membuka pintu mobil Gaara dengan lancang.

'sebenarnya apa yang dia tunggu?' batin Gaara sambil memperhatikan Hinata yang hanya berdiri di dekat mobilnya. Tidak ingin berlama-lama, Gaara menurunkan kaca jendela mobilnya. Hinata yang melihat bahwa kaca jendela mobil Gaara terbuka, segera menolehkan kepalanya ke arah Gaara. "apa yang kau tunggu?" Tanya Gaara, "mm t-tidak ada. Kupikir Gaara-san tidak ada di dalam mobil."

WHAT THE …. 'gadis keras kepala ini benar-benar bodoh. Astaga aku menghabiskan waktuku hanya karena pikiran bodohnya.' Batin Gaara. Dengan wajah yang menahan emosi Gaara menatap tajam Hinata "cepat masuk." Ucapnya seperti ingin membunuh Hinata.

Hinata yang melihat ekspresi mengerikan Gaara, cepat-cepat memasuki mobil Gaara. Setelah Hinata selesai memakai safetybelt nya, Gaara melajukan mobilnya. Dengan kecepatan penuh Gaara mengendarai mobilnya.

'yaampun, apa Gaara-san marah, aku harus berbuat apa, Gaara-san mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tidak wajar' batin Hinata dengan tubuh yang sduah keringat dingin.

Selama diperjalanan Gaara tetap berekspresi mengerikan dan Hinata tidak berani mengeluarkan sepatah katapun.

Dengan keadaan yang mencekam seperti itu, perjalanan dari PERUSAHAAN HYUUGA ke kediaman Hyuuga yang hanya memakan waktu 11 menit, jadi terasa begitu lama.

Setelah Gaara dengan mantap sudah memarkirkan mobilnya di halaman kediaman Hyuuga, Hinata melepaskan safetybelt nya dan keluar dari mobil Gaara. Hinata menunggu Gaara keluar. "apa Gaara-san a-akan ikut masuk?" ucap Hinata saat Gaara sudah keluar dari mobilnya dan mulai berjalan mendekati Hinata.

Gaara hanya diam, merasa tidak ada penolakan, Hinata memasuki rumahnya dan mempersilahkan Gaara masuk. "S-silahkan duduk Gaara-san." Ucap Hinata saat mereka sudah berada di ruang tamu. "cepat selesaikan urusanmu." Setelah mengucapkan kalimat itu, Gaara mendudukkan dirinya di atas sofa empuk ruang tamu kediaman Hyuuga.

Hinata melihat ada seorang pelayan yang sedang memasak di dapur. "bibi, ada siapa di rumah?" Tanya Hinata. "eh Hinata-sama, selamat datang. Kapan anda sampai?" Tanya pelayan berbasa-basi. "baru saja, aku hanya ingin mengambil beberapa barang-barangku, dan juga mobilku." Jawab Hinata. "ohh baiklah, saya akan menanyakan kunci mobil anda pada supir pribadi anda. Tidak ada siapa-siapa di rumah. Hiashi-sama sedang pergi bekerja, dan Hanabi-chan masih di sekolah." Jawab pelayan itu.

"baiklah, aku tunggu kunci mobilnya di kamarku ya bi. Dan juga tolong tanyakan pada Gaara-san dia ingin minum apa." Hinata pergi meninggalkan dapur. "baiklah Hinata-sama." Jawab sang pelayan.

Saat sedang mengemasi barang-barangnya di kamar, Hinata menolehkan kepalanya ke arah pintu kamarnya, saat mendengar suara ketukan. "masuk." Jawab Hinata.

"ini kunci mobilnya Hinata-sama, dan mobilnya sudah dipanasi tadi pagi." Pelayan tadi mendekati Hinata dan meyerahkan kunci mobil kepada Hinata. "trimakasih bi." Ucap Hinata dengan senyumnya. "mm Hinata-sama, tadi saya sudah menanyakan pada Gaara-sama, dan beliau berkata tidak perlu membuatkan minuman." Kata pelayan sambil menatap Hinata yang sedang menata barang-barangnya ke dalam koper kecil. "kalau begitu tidak perlu dibuatkan bi. Kami juga hanya sebentar." Jawab Hinata. "baiklah Hinata-sama, saya pamit dulu." Kata sang pelayan.

Sebenarnya semua pelayan di Kediaman Hyuuga sudah sangat dekat dengan seluruh anggota keluarga Hyuuga. Hanya saja semua pelayan dituntut harus tetap sopan dan formal kepada seluruh keluarga Hyuuga, agar tidak melunturkan kewibawa keluarga Hyuuga yang sudah terpandang. Dan semua pelayan tidak keberatan dengan keformalan keluarga Hyuuga, biarpun seperti itu keluarga Hyuuga selalu menghargai orang lain, dan sangat mempercayai seluruh pelayan.

Selesai mengemasi semua barang pentingnya, Hinata turun ke lantai bawah dengan membawa koper kecil berisi barangnya. Dilihatnya Gaara yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah bisnis yang diambilnya di rak majalah dekat sofa.

"Gaara-san aku sudah selelai, a-apakah kita akan langsung kembali?" Tanya Hinata. "dimana ayahmu?" bukannya menjawab Gaara malah balik bertanya. "tou-san sedang tidak di rumah, s-sedang bekerja." Jawab Hinata. Sebenarnya Gaara berniat ingin menyapa ayah Hinata.

Biarpun tidak didasari rasa cinta, Gaara tidak ingin bermain-main dengan pernikahan. Baginya menikah cukup sekali dalam seumur hidup. Gaara tidak ingin gagal dalam membangun rumah tangga dan gagal untuk menjadi kepala keluarga. Gaara belajar banyak dari hal yang sudah dialaminya. Untuk itu Gaara ingin Hiashi mempercayakan Hinata padanya sepenuhnya.

"baiklah, kita kembali saja." Gaara berdiri dari duduknya, dan melangkahkan kakinya untuk keluar.

Sesampainya di depan mobil Gaara, Hinata berkata "t-trimakasih sudah mengantarkanku Gaara-san, aku akan kembali ke kantor dengan mobilku sendiri. Gaara-san d-duluan saja."

"hn." Jawab Gaara. Gaara memasuki mobilnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Hyuuga.

Hinata pun segera menyusul meninggalkan kediaman Hyuuga.

Agreement

TBC