Trapped at The Other Dimension
Warning!
Gaje, gila, bahasa gaul, penulisan tidak memenuhi syarat EYD, typo (s), dan masih banyak lagi.
Disclaimer!
Vocaloid, Utauloid, maupun Engloid bukan punya saya, pingin sih, tapi ga bisa...
Me : Yo! Ketemu lagi dengan saya, Cia – chan. Kayaknya ni fanfic bisa updatenya pas malming deh. Sekalian nemenin yang jomblo, kayak saya, hohohoho.
Len : Jomblo bangga? Gw dong dah pacaran.
Me : Iye, iye. PJnya mana hah?!
Len : Berisik, ah. #ngasih pisang
Me : Kok pisang doang?
Len : biarin, yang penting PJ
Julia : *Muncul tiba–tiba* Hai! Perkenalkan nama saya Julia – chan! Saya adalah editor dan temannya Cia – chan! Kali ini saya akan membalas review – review yang Cia – chan dapat!
To : Harada Ayumi – chan
Julia : Kissu - nya ga seru? Hoi! Cia, katanya kissu-nya ga seru tuh!
Me : Eh? Ga seru ya? Ga seru ya? Hiks.. Ga seru.. Hikss #pundung dipojokan kamar mayat (?)
Tudung Merah : Jubah merah ya? Pasti ingat saya dong? Iyakan? Bener ga? #kepedean tingkat dewa.
Kaito : Huwaa! Muncul darimana lo?! Udah balik ke dongeng lo gih!
Tudung Merah : Yah, ngusir deh. Oh, ya! Makanan buat nenek! Pergi dulu ya, byee!
Julia : Iye, shoo shoo, jangan balik lagi ye tudung merah! Ini udah update kok.
To : Shinichi Rukia
Len : Iya dong, gw gitulhoo.
Julia : Mintain PJ? Boleh – boleh, ikutan ahh. Bagi PJ yee!
Rin : Eh? Minta sama Len gih.
Len : Kok gw lagi?! Ya udah dah. Nih #ngasih pisang
Tudung Merah : Yang make jubah gw dong! #muncul secara tiba – tiba
Me : Katanya mau nganterin makanan buat nenek lo?
Tudung Merah : Oh iye! Lupa gw! Harus buruann! #menghilang
Me : Ini udah update kok, hehe.
To : Namikaze Kyoko
Me : Makasih banget dah mau bilang ini cerita keren #nangis bombay
Kaito : Halah, Cia – chan lebay. Mintain PJ? Ayok ayok! Rinny Lenny! Bagi PJ!
Len : Gantian lo, Rin yang ngasih PJ dong. Masa gw mulu, pisang gw habis nih.
Rin : Ye elah. Ya udah deh #ngasih jeruk 1 kg.
Kaito : Kok jeruk?! Ya udah deh, lumayan bisa dijual.
Me : Makasih ya udah di koreksi. Soalnya saya dulu pernah baca dari mana gitu katanya bunga Edelweiss itu lambang cinta abadi, makannya saya kirain itu bener. Gomen...
Julia : Udah update kok.
To : Chalice07
Me : Siapa yang mencegat mereka? Saya juga ga tau. Ehh? Ga lah. Mau tahu? Baca chapter 7 #promo
Miku : De ja vu ya?
Julia : Mo masak ayamnya? Ayo ayo! Kita panggang aja biar seru!
Ayam : Petok! Petok! Petokk! ( Salah gw apaan?! )
Me : Abaikan si ayam sarap itu. Perinya gaul? Iya dong, soalnya peri ga gaul itu sudah terlalu mainstream. Itu dia dihajar gara – gara suaranya dah bisa bikin jendela pecah salah pula #digampar peri.
Julia : Spanduknya beli dimana?! Mau dongg.
Me : Saya juga mauuu #abaikan. Ini udah update kok #nari kecak (?)
To : Chisami Fuka
Me : Makasih mo numpang review lagi #meluk Chisami – san
Miku : Iya nih. Cie cie yang jadiaann
Len : Ehehehe
Rin : Diem lo! #tsundere mode on
Meiko : Kenapa kunci punya gw bukan gambar beruang? Karena beruang sudah terlalu mainstream.
Julia : Hoii! Cia – chan masih ada typo tuh.
Me : M-ma-masih ada? Huweeeeeee #nangis kejer
Julia : *sweatdrop* Biarkan saja dia. Ini udah update kok.
To : Nekonekoyosh
Me : Samaaa! Eh? #abaikan saja
Peri : Nama gw adal-
Len : Udah lah, lo ga penting. Ga muncul lagi kok lo.
Peri : Eh? #pundung
Julia : Ini udah update kok.
Me : Sekian balasan reviewnya. Sekali lagi makasih ya yang udah mau review, lope lope you, muachhh #reviewers muntah - muntah
Chapter 7 : Utau Town, Again.
Normal POV
Tiba - tiba saja, beberapa orang yang menggunakan jubah merah itu dan menyerang Rin, Len, dan Meiko.
"Sebenarnya siapa kalian? Dan mau apa kalian?!" Bentak Meiko
"Kami adalah kelompok pencuri Si Tudung Merah! Dan karena kalian terlihat kaya, kami mau merampok kalian!" Jawab salah satu perampok itu
"Jujur amat jadi pencuri. Jadi kalian kelompok pencuri Si Tudung Merah ya? Baiklah setelah in akan kuserahkan kalian ke polisi terdekat." Ucap Meiko dengan santai.
"Heh, jangan remehkan kekuatan tudung merah ya!" Ujar salah satu dari anggota kelompok pencuri Si Tudung Merah itu.
Sementara itu di suatu hutan, ada seorang anak gadis yang menggunakan Tudung merah..
"Huatchimm! Sepertinya ada yang membicarakanku." Ucap si tudung merah
Kok malah ngawur?! Ehem, kembali ke ceritanya. Pertarungan yang sengit tak dapat dihindari. Setelah beberapa lama akhirnya gerombolan pencuri itu kalah. Meiko pun mengikat mereka.
"Kalian tunggu di sini ya, saya akan menyerahkan mereka ke kepolisian di daerah sini." Ujar Meiko.
"Okee!" Ujar Rin dan Len.
"Dan Len jangan lakukan hal yang aneh - aneh ke Rin!" Teriak Meiko.
Meiko lalu menyeret para pencuri yang sudah diikat itu. Sementara Rin dan Len hanya bisa blushing setelah mendengar perkataannya Meiko. Rin dan Len pun masuk ke dalam penginapan dan memesan 3 kamar, satu untuk Len, satu untuk Rin dan satu untuk Meiko. Saat Rin baru akan masuk ke kamarnya, tiba - tiba Len memeluk Rin dari belakang.
"Emm, Len?" Tanya Rin.
"Biarkan aku begini sebentar Rin." Ujar Len.
"Baiklah." Ucap Rin.
Setelah beberapa lama akhirnya Len melepaskan pelukannya dan mencium keningnya Rin.
"Oyasumi Rin." Ujar Len.
"Oyasumi Len." Balas Rin sambil cekikikan ala mba k*nt* (?)
Setelah itu mereka masuk ke kamar masing - masing, dan beberapa lama kemudian Meiko ke penginapan itu dan masuk ke kamarnya sendiri. Beberapa jam selama mereka tidur ufuk fajar mulai nampak dan ayam fanfic ini siap untuk membangunkan mereka bertiga.
KUKURUYUKKK! KUKURUYUK! KUKU-HUATCHIMMMM!
Ayam fanfic ini sekarang flu ya? Makannya minum prom*g dong! Eh salah lagi, maksud saya ins*na. Kok ngaco lagi sih?!
Maka Rin, Len, dan Meiko segera terbangun karena suara si ayam ga bener itu. Segera mereka sarapan dan check out dari penginapan itu. Setelah bertanya kepada beberapa penduduk tentang arah menuju Gunung Olympus.
Rin POV
Sekarang kami sedang bertanya tentang arah menuju ke Gunung Olympus dan tak ada yang menjawab pertanyaan kami. Oke ORANG - ORANG DI KOTA INI AMAT SOMBONG! Sama saja kayak orang - orang di Utau Town!
"Permisi apakah bapak tahu jalan menuju Gunung Olympus?" Tanya Len, yang spontan membuyarkan lamunanku.
"Oh, kalau mau ke Gunung Olympus jalannya itu ke sebelah tenggara dari kota ini." Jawab lelaki itu.
Saat kudongakan kepalaku ternyata lelaki itu amat mirip dengan yang kami jumpai di Utau Town.
"Terim- kok lelaki itu ga ada?!" Teriak Len.
Oke, ini mirip banget dengan de ja vu...
Kamipun melanjutkan perjalanan menuju Gunung Olympus. Ternyata untuk mendaki gunung ini cukup susah karena banyak jalan yang terjal dan ada banyak jurang yang dalam, sepert- Akhhhh!
GW KEPELESET! KOK GW BISA KEPELESET?!
"Rin, pegang tanganku!" Ujar Len.
"Ah, um, eh, baiklah." Jawabku.
Setelah aku memegang tangan Len akupun langsung ditarik oleh Len. Tiba - tiba saja dihadapan kami ada wanita yang cantik dan Len sepertinya tidak bisa berhenti menatapnya dan itu membuatku JEALOUS! Ku ulangi JEALOUS! IRI! CEMBURU!
"Jangan terpengaruh Len, di sini ada banyak jebakan yang akan membuatmu jatuh ke dalam jurang." Ujar Meiko.
"Eh? Hah?! H- hait." Ujar Len.
Nice one Meiko! Muahahaha. Kamipun melanjutkan perjalanan, benar kata Meiko, banyak sekali jebakan yang ada di gunung ini dan kami hampir berkali - kali jatuh ke dalam jurang. Untung saja kami saling tolong menolong sehingga kami akhirnya bisa sampai di puncak Gunung Olympus. Tiba - tiba saja di hadapan kami muncul seseorang yang sepertinya perempuan, atau laki – laki ya? Mungkin yang ada di Taman Lawang sana.
Len POV
Kami akhirnya bisa sampai di puncak Gunung Olympus. Tiba - tiba saja di hadapan kami muncul seorang laki - laki jejadian (?) Karena rambutnya yang berwarna ungu panjang dan diikat pony tail.
"Kalian pasti ingin mengambil api abadi benerkan?" Tanya lelaki itu.
"Eh? Iya benar." Jawab Rin.
"Kalau begitu perkenalkan nama saya Kamui Gakupo dan saya akan memberikan kalian teka - teki, kalau bisa menjawab akan saya berikan benda untuk menampung api abadi dan saya akan antarkan kalian ke tempat api abadi tersebut." Terang Gakupo panjang dan lebar, eh, itu persegi panjang dong.
"Ehh? Teka - teki apa?" Tanyaku.
"Gampang kok, cuman tebak siapa penyanyi dari lagu ini." Jawab Gakupo enteng.
"Ehh!? Ya udah deh." Ujar Rin pasrah.
"Baiklah saya akan nyanyikan suatu lagu, dan kalian harus menebaknya." Ujar Gakupo.
"Banyak bacot loo! Buruan kita udah ga ada waktu niehh!" Teriak Meiko sambil minum sake dan sepertinya dia mabuk, dapat darimana tuh sake? Bahkan sayapun tak tahu. Biarlah itu menjadi misteri abadi.
Gakupo hanya bisa sweatdrop, sementara Rin dan Len hanya ber - cengo - ria.
"Baiklah, saya akan mulai. AKU TERJATUH DAN TAK ISA BANGKIT LAGEEE!
AKU TENGGELEM DAALAM LAUTAN LUKA DALAAAAMMM!
AKU TERSESAT DAN TAK TAHU ARAH JALAN PULANG!
AKU TANPAMU, BUTIRAN DEBUUUU!" Nyanyi si cowo jeja- maksud saya Gakupo dengan suara fales dan teriak - teriak.
Bagaimana dengan Rin, gw, dan Meiko? Tenang saja, kita sudah membawa penutup telinga kok.
"Siapakah yang menyanyikan lagu yang tadi saya nyanyikan?" Tanya Gakupo.
"Emm, siapa yaa? Mo tau atau mau tau bangett?" Tanya si Rin yang sepertinya virus 4l4y nya sedang kumat.
"Woi, serius dong!" Seru Gakupo yang tampaknya rada kesal.
"Itu yang nyanyi Rumor kan? Iya kan? Bener ga?" Jawab gw dengan kepercayaan diri tingkat dewa.
"Sayang sekali... Jawaban andaa... Nantikan hasilnya setelah iklan - iklan berikut ini!" Ujar Gakupo.
"Woi! Buruan elahh! Ga usah pake efek menegangkan gitu! Lagian ini juga bukan acara tipi!" Teriak Rin kesal.
"Hehehe, maaf, itukan biar seru." Ujar Gakupo dengan senyuman ala penghuni Taman Lawang (?)
"Jadi gimana hasilnya?!" Ujar Meiko.
"Jawaban anda betull! Silahkan mengambil hadiah di counter terdekat!" Teriak Gakupo.
BRAKKK! BRUKKK! BRAKK! BRUKK!
Apa yang terjadi? Yak, tepat sekali si Gakupo spontan dikeroyok oleh Rin dan gw, sementara Meiko dia sudah ketiduran di bawah pohon.
"Haha, maaf saya hanya bercanda." Ujar Gakupo yang sudah babak belur.
"Mana hadiah kami?!" Teriak Rin dengan suara nyaring. Maklum mantan preman. Eh? Kok jadi ngawur.
"Ah, itu! Ada di sini." Ujar Gakupo sambil merogoh sakunya.
Lalu Gakupo pun memberikan benda untuk menyimpan api abadi tersebut kepadaku. Lalu kami semua mengikuti Gakupo ke tempat api abadi itu. Apakah kalian tahu tempat api abadi itu disimpan kayak gimana? Pasti ga taukan? Gw kasih tahu dah. Tempatnya tuh kayak lautan api, wiuhhh keren banget. Setelah kami mengambil api abadi itu, kami berterimakasih pada Gakupo. Kamipun menuruni Gunung Olympus dan melanjutkan perjalanan kami ke Utau Town.
Normal POV
Maka, sampailah mereka bertiga di Utau Town dan dengan segera mereka pergi ke tenda yang ada plang nama bertuliskan "SORCERER OF UTAU TOWN IS HERE". Yap itu adalah tempat kerja Miku, tanpa babibubebo lagi mereka masuk ke dalam tenda itu.
"MIKUUUUU! We miss you soo mucchhh!" Teriak Meiko, Rin, dan Len secara bersamaan.
Sedangkan di dalam tenda itu nampaknya ada makhluk berambut biru yang maniak es krim a.k.a Kaito dan Miku yang sedang mengobrol.
"Hoii! Jangan ribut! Dan jangan kayak anak kecil napa?!" Ujar Miku kesal.
"Kok gw ga di sapaa?! Huweeee Rin dan Len jaa'aatt!" Tangis Kaito.
BRAK! BRUK! BRAK! BRUKK! TOENG?! MEOWW! GUGUK!
Apakah yang terjadi? Yak betul sekali, si Miku menghajar si Kaito yang malang itu. Sementara yang lain hanya sweatdrop melihat perang dunia ke 100 itu (?).
"Jadi kalian sudah bisa menemukan benda – benda yang kalian harus cari itu?" Tanya Miku.
"Udah dongg." Ujar Rin.
"Lo dah jadian ma Len?" Tanya Miku dengan nada menggoda.
"Eh? Hah?! U-udah." Jawab Rin sambil blushing.
Sementara itu Kaito dan Len sedang membahas sesuatu di pojokan tenda.
"Psst Len lo udah psst psst psst sama Rin psst psstpsttt." Bisik Kaito ke Len.
"Psst psst psst pstt." Bisik Len.
Tiba – tiba saja ada aura yang mencekam di belakang mereka. Saat Kaito dan Len menengok ke belakang tampak Rin dan Miku yang mengeluarkan aura gelap itu sambil membawa spatula dan pentungan (?)
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Miku.
"Eh? Emm, kami.. Kami sedang me- Akhhhhhh!" Jelas Kaito, sayangnya ucapannya terhenti karena Miku memukul kepala Kaito dengan pentungannya.
BRAK! BRUK! KYAAA! HUWAA! AMPUNN! BRAK! BRUKK!
Ya permirsa, penyiksaan Len dan Kaito sudah dimulai. Rin memukul kepala Len dengan spatulanya, Len menghindar tapi sayang sekali pukulan Miku yang meleset menghantam kepala si shota itu. Sementara Meiko memutuskan untuk ikut bergabung, dan dia pun mulai memukul Kaito, yak, yak, oh sayang sekali pukulannya meleset dan mengenai Len lagi. Rin akan melancarkan pukulan mautnya ke Len tapi sayang sekali bung, pukulannya meleset dan mengenai Kaito Shion.
TENG TENG TENG TENG! ROUND TWO!
Kok jadi komentator sepak bola dan pertandingan tinju ya? Ga tahu deh, yang jelas Len dan Kaito sudah babak belur dihajar Rin, Miku, dan Meiko.
"Len dan Rin kalian cukup beruntung, karena besok malam adalah bulan purnama, jadi besok saya sudah bisa membuat ramuannya. Jika kalian mau jalan – jalan mengelilingi kota ini juga boleh, sekalian kalian kencan lah." Ujar Miku dengan nada menggoda.
"Eh?! Hah?! Emm, boleh deh." Ujar Rin malu – malu.
"Nah, karena sudah malam kalian menginap di rumahku saja." Ujar Kaito.
"Eh? Boleh?! Yakin?! Makasih Kaitooo." Ujar Len yang tanpa sengaja memeluk Kaito.
"YAOII!" Teriak Rin dan Miku histeris.
Dan Meiko, tenang saja dia sudah memfoto mereka berdua.
"Ehem, ayo ke rumahku. Rumahku ada di dekat sini kok." Ujar Kaito.
"Oke!" Ujar Rin dengan semangat.
Maka Rin, Len, dan Kaito berjalan ke rumahnya Kaito. Rumah Kaito tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Saat mereka tiba ada seorang gadis yang mirip dengan Kaito dan kira – kira umurnya sama dengan Rin dan Len.
"Onii-chan!" Teriak gadis itu seraya memeluk Kaito.
"Kaiko, nii-chan pulang." Ujar Kaito sambil memeluk gadis itu.
"Eh? Nii – chan bawa teman ya?" Tanya gadis itu.
"Oh, mereka, iya mereka yang menemani nii-chan mencari obat untukmu." Ujar Kaito.
"Halo, nama saya Rin Kagamine." Ujar Rin memeperkenalkan dirinya.
"Dan nama saya Len Kagami." Ucap Len.
"Salam kenal nama saya Kaiko Shion dan terimakasih karena menemani nii-chan saya mencari obat untuk saya." Ujar gadis yang bernama Kaiko itu.
"Silahkan masuk dan anggaplah ini rumah sendiri." Ujar Kaito.
"Terimakasih Kaito." Ujar Rin dan Len.
Maka merekapun masuk ke dalam rumah Kaito dan Kaiko.
"Rin dan Len, maaf ya. Kamar di sini cuman ada dua yaitu kamarku dan kamar Kaiko." Ujar Kaito dengan wajah menyesal.
"Oh ga apa kok, Len bisa tidur denganmu dan aku bisa tidur dengan Kaiko." Ujar Rin memberi solusi.
"Ide bagus tuh! Ayo Rin ke kamarku!" Ujar Kaiko bersemangat.
"Eh, oke. Oyasumi Len." Ujar Rin.
"Oyasumi Rinny~" Balas Len.
Sementara itu di kamar Kaiko.
"Nee, Rin-chan, kamu pacaran sama Len-kun ya?" Tanya Kaiko yang telah memakai piyamanya.
"Eh? Kok kamu bisa tahu?!" Tanya Rin yang meminjam piyama milik Kaiko.
"Hehehe, nebak aja. Udah ngapain aja?" Tanya Kaiko lagi.
"Baru sampai ciuman saja kok." Jawab Rin sambil blushing.
"Oh, begitu. Udah malam nih tidur yok." Ucap Kaiko.
"Oke, oyasumi Kaiko-chan." Ucap Rin.
"Oyasumi Rin-chan." Balas Kaiko.
Beberapa saat kemudian tampak lampu di kamar itu mati.
To Be Continued
Me : Chapter 7 kelar! Huwahh, akhirnya. Moga – moga readers suka ya dengan chapter ini.
Miku : Akhirnya gw muncul lagi.
Kaito : Iye, gw juga.
Len : ... HUWEEEE! PISANG GW HABISS!
Rin : JERUK GW JUGAAAA!
Me : Gara – gara PJ ye? Kasihan deh lu berdua.
Rin : CIA-CHAN JAA'ATTT!
Julia : Karena Cia-chan lagi sibuk ngurusin Rin dan Len, saya yang bakal mintain review ya! Cia-chan menerima berbagai macam review, mau kritikan, saran, pujian, pengoreksian, dan lain-lain. Thank you for reading this chapter!
