-*Flower petals*-

Chapter 6

-Normal POV-

"Ae-chan~~!" panggil Yuffie saat Cloud dan Aerith sedang membereskan barang2. Hari ini Aerith sudah bisa pulang. Seharusnya Zack bisa membantu, tetapi dia sibuk sampai malam.

"Yuffie? ada apa?" tanya Aerith.

"Hari ini kau pulang ya?"

"Ya."

"Nice! Boleh main ke rumah?"

"Eh? Boleh saja."

"Oke! Aku pulang dulu ya! Mau ganti baju!" Yuffie berlari keluar ruangan meninggalkan Cloud dan Aerith yg diam krn heran. Cloud merasakan suatu kejanggalan. Dia mengirim SMS kepada Yuffie.

'Kau mau buat pesta kejutan, kan?'

Tak lama kemudian, Yuffie membalas.

'Dasar peramal jalanan. Tau ajah -_-; jgn bilang2 Aerith, ya :D nanti ku SMS kalu pestanya udah siap.'

Cloud memasukan HPnya ke dalam tas. Artinya, Cloud harus membuat Aerith sibuk sampai mereka selesai dgn persiapannya.

"Aerith. Ada 1 tempat yg ingin ku kunjungi. Bisa mampir sebentar?" tanya Cloud. Aerih hanya mengangguk.

-Cloud POV-

Cih, sebenarnya aku masih ingin menyembunyikan tempat ini sampai hari ulang tahunnya, tapi ya sudahlah. Dia pasti menyukai tempat itu. Tempat itu tdk sengaja kutemukan saat menyusup masuk ke rumah sakit. Cukup dekat dari sini.

"Kemana kita akan pergi, Cloud?" tanya Aerith saat aku menyalakan mesin motor. Aku hanya tersenyum, meninggalkan dia yg bingung.

"Ah! Indahnya!" kata Aerith saat kami sampai di tempat itu. Tempat itu adalah sebuah taman bunga. Semua bunganya berwarna kuning dan putih (bagi yg pusing sama penjelasan saia, settingnya kaya yg di Advent Children. Yg waktu Cloud en Aerith bicara di ancient forest itu loh.). Mereka mekar dengan indahnya.

"Kau suka?" tanyaku.

"Iya. Terima kasih, Cloud."

Cukup lama kami berdiam disana sambil menikmati aroma bunga. Sesekali kutengok HPku. Masih tdk ada SMS dari Yuffie. Lama sekali persiapannya. Kulihat langit yg awalnya cerah menjadi semakin gelap. Sepertinya hujan akan turun.

"Sepertinya hujan akan turun. Ayo kita pergi." Kataku sambil membantunya berdiri. "Ya."

GLUDUK…GLUDUK…DRASHHHHH!

Mendadak hujan turun sangat deras. Dengan cepat, aku mencari tempat berteduh dan berteduh disana. Hampir setengah dari tubuhku basah kuyup. Untung saja dia basahnya nggak terlalu parah. Hanya rambutnya saja.

"Nee Cloud." panggilnya. "Hujan ini mengingatkanku pada saat pertama kali kita bertemu."

"Hujan? Ah, iya. Aku ingat."

That day -7th may 2011-

Hujan deras turun saat aku sedang pergi belanja. Untung saja aku sudah mengantisipasi hal ini, yaitu membawa payung. Aku berjalan agak cepat agar bisa cepat sampai rumah. Saat di tengah jalan, aku melihat seseorang. Seorang perempuat berambut cokelat panjang berjalan tanpa payung. Apa dia sudah gila?

Aku menghampirinya dan memanyunginya "Hei! Apa yg sedang kau lakukan?"

Dia menoleh karena kaget. Seluruh tubuhnya basah dan… ukh, bajunya menjadi sedikit transparan karena basah. Sepertinya mukaku sudah merah sedikit.

"Ya?" tanyanya bingung.

"Kau tdk membawa payung?"

"Aku lupa."

"Seharusnya kau tunggu sampai hujannnya berhenti. Bisa2 kau sakit."

" Aku sedikit terburu2, karena itu aku langsung jalan."

"Dsr bodoh. Biar kuantar sampai rumah. Pimpin jalannya." Kataku. Dia menunjukan jalan menuju rumahnya. Sepertinya rumah ini sangat tdk asing bagiku.

"Aku pulang." Kata perempuan itu sambil membuka pintu. "Ayo masuk dulu."

"Eh? I-iya." Aku masuk ke rumah itu. Kulihat sekeliling. Sepertinya aku pernah kesini.

"Aerith! Tadi kau… Cloud?" Zack muncul dari sisi kanan. Oh iya! Pantas saja aku mengenal tempat ini! Ini rumah Zack. Kalau begitu,siapa perempuan ini?

"Aku sudah membelikannya. Ini!" Dia menyerahkan kantung belanjaannya kepada Zack lalu pergi ke atas. Aku jalan mendekati Zack. "Sejak kapan punya pacar?"

Dia menjitak kepalaku. "Itu adikku, bodoh!"

"Adik?! Kau tidak pernah cerita tuh?!"

"Pernah dulu! Dsr pikun!"

"… Oh iya pernah. Tapi, adikmu itu bodoh ya…"

Zack menjitak kepalaku lagi. "Apa maksudnya?"

"Dia tetap nekat jalan walau hujan."

Zack mengangguk pelan. "Yah, memang dia begitu. Cloud, masuklah dulu."

Aku masuk ke rumah itu. Agak sedikit berubah. Kali ini ada foto2 mereka berdua saat mereka masih kecil. Zack kecil lbh imut daripada Zack besar. Di pipinya belum ada coreng. Katanya sih dia mendapatkan coreng itu karena nggak sengaja kena pisau waktu pelajaran masak…

"I-ini ada teh…" tiba2 adiknya Zack datang sambil membawa secangkir teh. Dia sudah mengganti pakaiannya. Baju terusan berwarna pink itu terlihat sangat cocok dengannya.

Aku mengambil cangkir teh itu. "Terima kasih."

"Hujan masih turun. Kau disini saja sampai hujannya berhenti." Zack keluar dari kamarnya dan duduk di sofa yg ada di depanku. Dia memegang sebuah bungkusan berwarna hitam agak besar.

"Aerith!" panggilnya. Adiknya langsung menghampirinya. "Ini seragam barumu. Mulai besok kau sudah sekolah."

Aerith mengambil bungkusan itu dan melihat isinya yg merupakan seragam sekolahku. Mulai dari seragam musim panas, seragam biasa, seragam olahraga, dan celemek untuk masak.

"Besok dia akan sekolah di sekolah kita. Moga2 sekelas dgnmu, ya!" kata Zack.

"Mohon bantuannya." Sambung Aerith sambil tersenyum.

"Ya. Mohon bantuannya juga."

"Cloud? Kau mau kopi?" suara Aerith membuyarkan lamunanku. Dia memegang sekaleng kopi hangat di tgn kanannya.

Aku mengambil kaleng kopi itu. "Yeah. Trims."

-Normal POV-

DRRRRRT… DRRRRT…

Hp Cloud bergetar. Dia mengambil Hpnya lalu membaca isi pesannya.

'All clear! Eh, tapi ujan yak? Teduh aja dulu. Kalo udah kecilan baru jalan lagi'

Cloud menutup HPnya dan memasukannya kempali ke dlm tas. Cukup makan waktu juga persiapan itu.

"Cloud, hujannya sudah reda. Mau jalan lagi?" tanya Aerith. Cloud mengangguk dan langsung menyalakan mesin motornya.

~Kediaman Fair~

"SELAMAT!"

Aerith kaget saat dia masuk ke rumahnya. Yuffie dan yg lainnya ada disana. Sedangkan Cloud biasa saja krn dia sudah tahu ttg pesta kejutan ini.

"Selamat, Aerith! akhirnya kau bisa pulang ke rumah!" kata Tifa sambil menggandeng tgn Aerith dan mengajaknya masuk. Aerith masih agak bingung dan kaget.

"Yo, Ae-chan! Kenapa mukamu kusut begitu? Senyum dong!" Reno menarik ke-2 pipi Aerith.

Dlm sekejap, Cloud menjitak kepala Reno sekeras2nya. Yg bersangkutan hanya memegangi kepalanya.

"Dsr iseng! Lihat pipi Aerith sampai merah begini." Kata Cloud sambil mengelus pipi Aerith yg sedikit merah.

"Kami sudah siapkan pesta untukmu! Tifa yg masak loh!" kata Yuffie.

Aerith tersenyum. "Terima kasih, semuanya! Aku sgt senang!"

Mereka menikmati pestanya. Tak lama pesta dimulai, Zack pulang dan ikutan bergabung. Reno dan Rude diam2 menyeludupkan sesuatu dalam tasnya yaitu 2 botol besar sake.' Nggak pesta namanya kalo nggak ada sake' itulah alasan mereka. Cewek2 tdk ada yg mau ikutan minum, jadi mereka hanya minum cola sambil melihat para cowok minum sake. Menurut pendapat Yuffie, kelakuan mereka saat mabuk itu seru banget.

"Lain kali biar gue hajar si Sephiroth von der mak lampier von der koloer boloek itu!"kata Reno sudah yg sudah mabuk.

"Betul tuh! Cuih prêt! Punya rambut kaya sumbu pel-an!" sambung Rude yg nggak kalah mabuk.

"Mari kita hajar dia~~~!" Zack pun ikut2an. Demi menghindari kerusuhan, para pemabuk itu digebuk pakai bantal biar diem. Bgmn dgn Cloud dan Vincent? Vincent nggak mabuk krn dia orgnya kuat sama alkohol sedangkan Cloud mabuknya tidak segila teman2nya. Dia hanya duduk sambil menegak sakenya. Mendadak dia berdiri.

"Sudah kuputuskan!" katanya dgn suara lantang. Yuffie dan yg lainnya kaget. Cloud menoleh ke arah Aerith sehingga membuat yg bersangkutan kaget.

"Aku… aku akan…" kata Cloud menggantung di udara.

"AKU AKAN MENIKAHI AERITH SETELAH LULUS KULIAH!"

-Aerith POV-

Aku sangat kaget mendengar pernyataannya. Apakah ini karena dia mabuk? Atau dia akan benar2 melakukannya? Mukaku panas, jantungku berdetak cepat. Yuffie, Tifa dan Vincent hanya bisa diam sambil melihat Cloud. Apa yg harus kulakukan sekarang?

"Aku… tidak bo…" belum sempat menyelesaikan kata2nya, Cloud sudah tertidur sampai jatuh ke lantai.

"Zzzzzz…"

Yuffie mendekati Cloud dan menoel pipinya. "Tidur dia."

"Sepertinya pesta berakhir. Aku akan mengangkut Reno ke mobil." Kata Vincent sambil mengangkat Reno.

Tifa memapah Rude. "Aku akan membantu mengangkat Rude."

"Ae-Chan, sebaiknya kau bantu Cloud. Aku akan mengantar Zack ke kamarnya." Yuffie memapah kakak dan mengantarnya ke kamarnya. Kurasa aku akan mengantar Cloud ke kamarku dan membiarkannya tidur disana untuk sementara sampai dia sadar.

"Aerith." Aku mendengar suara Cloud saat aku membuka pintu kamar.

"Kau sudah bangun, Cloud?"

"Aku tdk sepenuhnya mabuk tadi. Cuma untuk mengelabui."

"Untuk apa?"

"… aku serius dgn kata2ku." Cloud berdiri di depanku. Sepertinya dia benar2 tdk terlalu mabuk. Tiba2 saja dia melepas kalungnya yg selalu dia pakai. Kalung itu berbentuk seperti pisau kecil dgn hiasan batu Aquamarine di tengahnya.

Dia memakaikan kalung itu padaku. "Aku titip ini."

"Titip? Bukankah ini merupakan kalung yg berharga bagimu?" tanyaku.

"Aku akan mengambilnya setelah aku memberikan cincin nanti." Jawabnya sambil memelukku. "Aku akan melamarmu setelah aku lulus kuliah."

Mataku terbuka lebar saat mendengar kata2nya. Tanpa sadar air mataku menetes. Kupikir kata2 itu tidak akan pernah kudengar dari mulutnya.

"Ya. Aku akan menunggumu sampai hari itu."

…..…..End of chapter 06…