For ES21 Awards: Kasih Sayang. Rice Bowl, turnamen dua tahunan tingkat universitas sudah di depan mata. Ini kesempatan pertama dan terakhir bagi Hiruma untuk memenangkan turnamen ini bersama timnya. 'Boleh aku ikut bermain?' / 'Run! Itu bukan passing!'


Disclaimer for Inagaki Riichirō & Murata Yūsuke

Character: Hiruma Youichi, Anezaki Mamori, Anggota Saikyoudai Wizards yang lain

Timeline: Tahun kedua di Universitas Saikyoudai, saat Rice Bowl

~oOo~

Limited Time
by Little Hatake

.

.

Hujan yang sudah menggantikan salju mulai merintik menutup sesi latihan sore ini. Semua anggota Saikyoudai Wizards masuk ke dalam ruang klub untuk mengganti baju dan mendiskusikan hasil pertandingan kemarin. Yamato membuka sesi diskusi dengan menampilkan hasil pertandingan blok A dan B di layar proyektor.

"Inilah tim-tim yang berhasil lolos di putaran pertama Rice Bowl sekaligus lawan kita di pertandingan selanjutnya."

Blok A
Kyoto Gangsters – Takekurako Ibabels
Saikyoudai Wizards – Shuuei Doctor Fishes

Blok B
Enma Fires – Ritsumeikan Panthers
Kansai Gakuin Fighters – Obic Seagulls

'Pertandingan selanjutnya melawan si Kacamata Sialan dan Botak Sialan yang menjadi dokter itu.'

"Pertandingan selanjutnya melawan Shuuei Doctor Fishes, tim veteran yang sempat mengalami kemunduran prestasi beberapa tahun ini. Tapi, semenjak masuknya Takami Ichirou dan Manabu Yukimitsu, mereka menjadi tim yang mulai disegani lagi karena taktik-taktik cerdik dari mereka berdua."

Diskusi pun berlanjut dengan membahas strategi yang akan dipakai untuk melawan Shuuei. Yamato membahas strategi yang telah direvisi oleh Hiruma. Hiruma dengan wajah stoic—lebih tepatnya malas—mengikuti semua penjelasan dari Yamato yang menurutnya sangat membosankan. Penjelasan dengan sabar dan disertai anggukan takzim itu membuatnya hampir mati—untuk kedua kalinya—karena bosan. Kenapa kaptennya itu tidak memakai ancaman: 'Kalau kalian tidak mengikuti strategiku, akan kutembak kepala kalian!' atau 'Bawa bola ini sampai akhir meskipun harus mati!'? Oh iya, si Rambut Sialan itu bukan dirinya, sang akuma penggila senjata.

Akhirnya, ia buang pandangannya menuju kaca jendela yang menimbulkan suara bising terkena pukul air hujan yang kian menderas.

Hujan deras menahan semua anggota Saikyoudai agar tetap berada di dalam ruangan. Masing-masing orang mempunyai cara tersendiri untuk mengusir kebosanan karena tidak dapat pulang. Di pojok ruangan, Taka terlarut dalam imajinasi The Catcher in The Rye, novel karya J.D. Salinger yang sudah puluhan kali ia selesaikan tanpa terganggu oleh suara derasnya hujan. Di pojok lainnya lagi, beberapa orang sedang ramai menyemangati Ikyuu dan Juumonji yang sedang bertanding seru American Football virtual di Play Station 4. PS4? Jangan tanyakan aku bagaimana konsol game terbaru itu bisa ada di sebuah ruang klub olahraga, kau sudah pasti tahu jawabannya. Di meja tengah, tampak Yamato dan Mamori masih membicarakan tentang turnamen.

"Hahaha, Yamato, aku tidak sepintar itu..." Tawa renyah terdengar dari mulut Mamori bersamaan dengan sebuah senyuman terukir dari pria di depannya.

'Tch, apa-apaan si Rambut Sialan itu?! Mencoba menarik perhatian si Manajer Sialan, heh?!' Rasa panas yang pernah Hiruma rasakan memenuhi hatinya lagi. Melihat Mamori dapat tersenyum lagi merupakan hal yang sangat ingin Hiruma lihat. Tapi penyebabnya bukan dirinya. Takeru Yamato, running back bernomor punggung dua puluh satu sekaligus penyandang posisi kapten itu lah yang mampu merekahkan senyuman di wajah manis gadis itu. Posisi kapten bolehlah Yamato ambil, tapi posisinya di samping Mamori? Aku berani bertaruh jika Hiruma dengan senang hati akan memuntahkan seluruh peluru karetnya kepada Yamato jika saja ia masih hidup dengan tubuh lamanya.

Dibandingkan dirinya diliputi rasa cemburu itu, ia mencari kegiatan yang dapat mengalihkan kebosanannya.

"Full House! Yeah, aku menang!"

Gendang telinganya yang masih sensitif mendengar istilah yang tidak asing baginya.

"Sial, kita semua harus mentraktir dia makan siang selama dua hari!"

Poker.

Taruhan.

Dua hal yang menjadi hobi seorang Hiruma Youichi. Remaja berambut spike oranye itu akhirnya bangkit dari duduk malas-malasannya dan menghampiri sekelompok orang yang sedang duduk di dekat loker.

"Boleh aku ikut bermain?" tanyanya.

"Hei, Hashima! Sini, sini, bergabung bersama kami!" sambut seseorang berwajah campuran Jepang-Perancis, Satoshi Arthur, salah satu lineman bertubuh besar. Ia merangkul akrab anggota baru timnya. "Sekalian kita mengakrabkan diri, kau kan baru seminggu bergabung dengan kami."

Seorang dengan luka melintang di hidungnya, Nakamura Eiji, tight end, menjelaskan kegiatan yang sedang mereka lakukan, "Poker, kau pasti bisa memainkannya. Kau kan sudah tinggal lama di Amerika."

Hiruma sedikit menyeringai.

"Yang kalah harus mentraktir makan siang selama dua hari si pemenang," lanjutnya, "Putaran pertama tadi Heracles yang menang. Sial, porsi makan dia kan tiga kali lebih banyak dari kita!"

Menarik, pikir Hiruma.

"Hahaha, itu kan idemu sendiri, Eiji, dan yang lain pun setuju dengan taruhan itu. Sudahlah, kita mulai lagi permainannya!"

Hiruma pun bergabung dengan keempat orang itu. Seluruh kartu sudah habis dibagikan pada lima orang pemain. Heracles yang mengeluarkan tiga buah kartu berangka tiga menjadi pemain pertama yang memulai permainan.

Permainan kartu itu sudah berjalan tujuh menit. Wajah dari masing-masing orang berbeda-beda, ada yang terlihat senang karena mungkin kali ini keberuntungannya, ada yang terlihat mengerenyit dan menarik napas pasrah karena ia harus menguras uang sakunya kembali untuk mentraktir si pemenang. Hiruma menyisir wajah-wajah itu satu persatu dalam sunyi, poker-face andalannya sangat berguna di saat seperti ini. Tinggal tersisa lima kartu di tangannya. Permainan kartu yang pertama kali ia kenal saat menyelinap ke markas tentara Amerika sewaktu SMP dulu memang sudah bagaikan napasnya. Menang banyak dari tentara-tentara Amerika saat itu saja mudah, apalagi melawan orang-orang ini. Semudah merebut lolipop dari anak kecil.

Kartu King Club yang dikeluarkan oleh Eiji dikalahkan oleh kartu berangka dua Heart dari Heracles.

"Apakah tidak ada yang mau jalan? Sepertinya, jatah makan siangku akan bertambah lagi, hahaha! Straight Flush!" Ia menunjukkan seri kartu Diamond berangka lima, enam, tujuh, delapan, dan sembilan.

Brrr...

Tiba-tiba hawa dingin menyentuh tengkuknya, membuat bulu kuduknya meremang. Ternyata empat orang lainnya merasakan sensasi menyeramkan yang sama, membuat mereka membisu, membeku dalam posisi masing-masing. Ia merasa seperti ada orang yang hendak menikamnya dari belakang. Muncul aura kehitaman dari belakang seseorang yang duduk di sampingnya.

Aura ini...

Aura setan!

Hiruma memperlihatkan seri Spades angka sepuluh, As, Jack, Queen dan King dengan tenang. "Royal Flush."

Hiiii! Mereka semua bergidik ngeri melihat wajah dingin anggota baru dari Amerika ini. Mereka pernah merasakan sensasi ini, sensasi ancaman yang selalu menghantui mereka, sensasi yang hanya dapat diradiasikan oleh kapten setengah setan mereka.

"A-ahahaha, pe-pemenang putaran kali ini adalah Hashima..." Kobayashi Arata, wide receiver, mencoba menetralisir kekakuan yang ada. "Mau dilanjutkan lagi?"

Lineman berambut kuning seulas itu kesal dengan kekalahan yang diterimanya, jatah makan siang gratisnya hilang. "Tentu saja! Ayo, kita mulai lagi!"

Kali ini, Arthur yang memulai putaran.

Tapi, setiap pemain yang sudah yakin akan menang dan mengeluarkan set kartu mereka, aura mencekam itu selalu keluar.

"Three of a Kind."

"Full House."

"Flush."

"Royal Flush."

Orang yang sama mengakhiri lima putaran sebagai pemenang. Siapa lagi selain Hiruma Youichi yang terperangkap dalam tubuh seseorang bernama Hashima Ryouichi?

Keempat orang lainnya harus menghela napas panjang, meringis mengingat nasib dompet mereka yang akan lumayan banyak kehilangan yen demi yen di dalamnya.

'Kekekek, kesalahan fatal sudah mengajakku bermain poker, Anak-anak Sialan! Lumayan, dapat mengirit keuanganku sepuluh hari ke depan. Kekekek!' Hiruma terkekeh dalam hati.

Semasa hidup, seluruh kebutuhan sehari-harinya dapat dipenuhi dengan mudah dengan cara memeras budak-budaknya. Tetapi sejak ia masuk ke dalam tubuh baru, mau tidak mau ia harus menggunakan tabungannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan. Dan taruhan ini membantu menghemat tabungannya yang semakin menipis.

.

Jutaan tetes air yang turun ke bumi sudah mulai mereda, terdengar dari rintikan hujan yang semakin pelan. Jam digital di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Beberapa anggota pun sudah mulai meninggalkan ruangan untuk pulang ke rumah masing-masing. Hanya tersisa dua orang di sana: Hiruma dan Mamori.

Hiruma masih asyik dengan laptop VAIO putihnya, mengetik entah-apa di sana. Mamori sedang sibuk membereskan ruang klub dari sedikit kekacauan yang anggota timnya perbuat. Ia sapu lantai dan sesekali mengelap meja lalu merapikan kertas-kertas berisi strategi.

Ketika mengambil sebuah kertas di dekat Hiruma, manik shappire-nya melihat laptop putih tersebut, menghentikan kegiatannya sejenak.

'Laptop VAIO putih? Seperti milik Hiruma. Hei, laptop seperti itu dijual bebas di pasaran, Mamori!'

Lagi-lagi Mamori terkenang akan kapten berambut kuning jabrik kesayangannya. Sudah delapan hari sejak kecelakaan naas itu. Setetes kristal bening tanpa sadar mengalir dari sudut matanya.

Hiruma yang melihat air mata yang mulai menetes itu segera menutup laptopnya perlahan. Ia tahu apa yang dipikirkan oleh gadis yang dicintainya ini. Ia sangat ingin memberitahukan Mamori bahwa dirinya baik-baik saja, selalu di sampingnya, selalu menyayanginya.

'Tch! Jangan menangis heh, Manajer Sialan! Tersenyum lebarlah seperti saat kau melihat lusinan kue-sus-sialan itu!'

Untuk mengalihkan kesedihan Mamori, Hiruma akhirnya mengeluarkan suara. "Mamori, sudah selesai beres-beresnya? Mau ku antar pu—"

"Anezaki-san, maaf aku terlalu lama pergi! Penjaga kampus kita seperti sudah terlalu tua, ia kesulitan mengingat tempat kunci ruangan kelasku. Untung saja ketemu! Kalau tidak, tugas untuk besok yang harus aku selesaikan malam ini tertinggal di kelas."

'Si Rambut Sialan ini mau apa datang lagi ke sini?!'

"Kau sudah beres merapikan ruang klub? Mau ku antar pulang?"

'Sialan!'

Mamori segera menghapus air matanya dan tersenyum pada Yamato, seolah tidak terjadi apa-apa. "Ah, Yamato-kun, aku sudah beres semuanya. Apa tidak merepotkanmu? Rumahku lumayan jauh loh, dari rumahmu."

"Tidak apa-apa, Anezaki-san. Tidak aman seorang wanita di luar sendirian semalam ini. Ayo, kita pulang!"

Mamori pun mengambil tasnya dari loker lalu melihat masih ada seseorang di ruang klub. "Hashima-kun, kau tidak pulang? Ayo, kita pulang bersama!" ajaknya.

"Aku pulang belakangan saja. Masih banyak tugas kuliah yang ingin aku kerjakan di sini. Di rumahku tidak ada jaringan internet," jawabnya—tentu saja berbohong. Sejak kapan setan jabrik itu rajin mengerjakan tugas?

"Baiklah jika begitu, aku titip kunci ruang klub yah. Hati-hati, Hashima-kun..." Mamori berjalan mendekati Yamato yang sudah menunggu di luar.

"Kami duluan, Hashima!" salam Yamato.

Hiruma hanya mengangkat tangan kanannya tanpa melepas pandangan dari monitor. Setelah kiranya Mamori dan Yamato sudah melewati gerbang kampus, Hiruma dapat mengumpat dengan leluasa.

"Keh, si Rambut Sialan itu mengincar si Manajer Sialan, hah?! Apa maksudnya dia mau mengantar pulang si Manajer Sialan!"

BRAK!

Digebraknya meja dengan sekuat tenaga.

Kesal? Tentu saja! Tapi, apa yang dapat ia lakukan? Tidak ada.

Dibukanya laptop yang tadi ia tutup, Hiruma kembali menonton video-video delapan pertandingan penyisihan pertama. Sekarang, ia dapat mengunyah permen karet mint less-sugar tanpa takut ketahuan. Dengan teliti ia pelajari play setiap tim. Semua tim memiliki peluang yang sama untuk bertemu dengan Saikyoudai Wizards di final.

Sudah tiga lembar permen lunak itu ia habiskan. Tapi, sepertinya kebiasannya itu tidak dapat menolongnya untuk berkonsentrasi kali ini. Di otaknya penuh dengan sosok Anezaki Mamori dan Takeru Yamato.

"Sialan! Kenapa dua orang sialan itu yang ada di pikiranku?!" Ia mengacak-acak rambutnya kesal.

Akhirnya, ia bangkit dan berjalan menuju dapur kecil di sisi ruang klub, menyeduh the tripplo espresso, kopi hitam berkafein sangat tinggi—dan pasti sangat pahit—dalam secangkir porselein. Kopi itu yang biasa Mamori buat untuknya setiap habis latihan. Ah, sekarang ia merindukan manajernya itu. Disesapnya sedikit minuman berwarna hitam pekat itu.

"Tidak buruk."

Meskipun tidak seenak buatan Mamori, cukuplah baginya. Uap panas mengepul dari cangkir, mengeluarkan aroma khas biji kopi yang menjadi adiksi keduanya, menemani dirinya yang mencoba fokus untuk mengatur strategi di pertandingan kedua minggu ini.

Satu jam berlalu dan Hiruma memutuskan untuk pulang ke apartemen.

.

Mamori menjatuhkan pilihannya pada kaos hijau muda yang ditutup oleh blazer hijau tua, rok sedikit bergelombang berwarna hitam selutut dan flat shoes berwarna senada dengan strip hijau sebagai setelannya ke kampus. Rambut auburn -nya ia gerai, menambah cantik dan elegan style-nya hari ini.

Pukul enam pagi kurang lima belas menit ia sudah sampai di depan ruang klub. Pintu masih terkunci menandakan ia yang datang pertama pagi ini. Ia masukkan kunci ke dalam lubang kecil di pintu dan didorongnya dengan pelan.

"Aku harus tetap semangat mengurus tim agar kita dapat memenangkan Rice Bowl!" Mamori menyemangati dirinya sendiri. Diletakannya berkas-berkas yang ia pegang di meja tengah. Hei, seingatnya di atas meja ini tidak terdapat apa-apa sebelum ia pulang. Hanya ada laptop putih VAIO yang pasti dibawa pulang oleh Hashima. Tapi, pagi ini ada sebuah cangkir terduduk manis di situ. Terdapat endapan hitam di dasar cangkir.

"Kopi?"

Mamori pun berusaha untuk berpikiran positif, mengenyahkan prasangka aneh-aneh yang menggelayuti otaknya. Ia bawa cangkir itu ke wastafel lalu dicuci. Bertepatan dengan ia menaruh cangkir pada tempatnya lagi, seseorang masuk ke dalam ruang klub.

"Selamat pagi, Taka-kun!" sapanya.

Kedatangan Taka disusul oleh Juumonji, Ikyuu, Yamato, dan seterusnya hingga semua pemain lapis pertama Saikyoudai Wizards lengkap dan siap memulai latihan pagi.

.

Keempat pertandingan penyisihan kedua diselenggarakan di Stadium Yokohama. Pertandingan Saikyoudai Wizards melawan Shuuei Doctor Fishes mendapat giliran pertama. Penonton semakin membludak menyaksikan pertandingan perempat final ini. Awan kelabu yang siap memuntahkan muatannya pun tidak mampu menghalangi eforia penonton untuk menyemangati tim favoritnya.

"Tiga langkah lagi dan kita akan mempertahankan gelar juara kita. Jangan pernah lengah dan selalu bermain yang terbaik!" Yamato menyemangati semua anggotanya.

"Menang!" teriak seluruh anggota tim Saikyoudai Wizards, siap membantai lawan.

Hiruma harus menerima dirinya masih duduk di bench karena peraturan mahasiswa pindahan. Di samping Mamori, ia mengamati pemain-pemain dari Universitas Shuuei.

'Trik licik apa yang akan dilakukan oleh si Kacamata Sialan dan Botak Sialan itu sekarang? Mungkin istilah 'cerdas' lebih cocok untuk mereka berdua karena kata 'licik' lebih cocok jika ditujukkan pada Hiruma.

Kick off dilakukan oleh Shuuei dan bola langsung melambung cukup tinggi. Terjadi pergelutan antar line di tengah lapangan dan bola berhasil di tangkap oleh Taka. Saikyoudai's ball.

Saikyoudai memulai rencana offense. Snap dilakukan dan bola di tangan Karin. Dengan cepat quarterback wanita itu melempar pass ke arah Arata yang sedang berlari tanpa penjagaan.

Brug!

Tepat di yard keenam, Arata berhasil dihentikan. Dua buah passing yang dilakukan Karin dapat membuat Saikyoudai mendapatkan first down. Angka pertama untuk Saikyoudai hasil touchdown oleh Taka. Dan dengan mudah Yamato mengambil dua angka lagi.

Kali ini giliran Shueei di posisi offense. Takami yang menjadi quarterback melempar bola ke arah wide receiver-nya. Semua defense Saikyoudai berpusat pada atlet bernomor punggung delapan puluh dua itu. Hiruma dari pinggir lapangan melihat gerakan aneh dari Takami.

"Run! Itu bukan passing!"

Terlambat.

Pemain Shueei bernomor punggung tiga puluh tujuh sudah mencapai lima belas yard pertama dan dijatuhkan oleh Yamato.

"First down untuk Shuuei!"

Snap dilakukan dari jarak tiga puluh lima yard dari end zone Saikyoudai. Kali ini quarterback bernomor punggung tiga itu menyerahkan bolanya pada running back. Tidak ingin kecolongan lagi, Ikyuu dengan rapat menjaga receiver. Tiba-tiba...

"First down!"

Ternyata, Takami melakukan rushing, membawa bolanya sendiri di tepi lapangan dan dihentikan—lagi-lagi—oleh Yamato yang menyadari Takami berlari.

Tinggal sepuluh yard lagi jarak menuju end zone. Takami memutuskan untuk mengambil angka menggunakan kick. Tapi lagi-lagi itu hanya trik dari pria berkacamata ini. Shuuei berhasil merebut enam angka lewat running. Dan dua angka lagi berhasil diperoleh oleh Shuuei lewat passing.

Baru kali ini Saikyoudai Wizards kecolongan angka. Shuuei Doctor Fishes berkembang melampaui prediksi Hiruma.

Quarter ketiga berakhir dengan skor 54 - 55, Saikyoudai Wizards - Shuuei Doctor Fishes.

"Shuuei berkembang melebihi dugaan kita!" Yamato menggeram kesal.

"Sial! Back-run terbaikku dicampakkan begitu saja! Ketika aku kira Takami akan melakukan passing, ternyata run, dan sebaliknya! Sialan!" Ikyuu merasa harga dirinya diinjak-injak.

Baik pemain offense maupun defense dari Saikyoudai sudah tampak kelelahan. Napas mereka memburu, keringat mengucur deras dari pelipis. Mereka ketinggalan satu angka.

Karin yang seharusnya sebagai menara kontrol merasa bersalah. "Maafkan aku, semuanya..."

"Tenang saja, Karin. Kita pasti bisa memenangkan pertandingan ini," hibur Banba.

"Lalu, strategi apa lagi yang akan kita lakukan, Yamato-kun?" Mamori dapat merasakan kelelahan dan kefrustasian timnya. Yamato hanya terdiam, berpikir taktik apa lagi untuk quarter keempat—sekaligus terakhir. Tidak mungkin ia biarkan skor ini bertahan lebih lama, atau—lebih buruk jaraknya—semakin melebar.

Hening.

Semua sibuk dalam pikiran masing-masing.

"Aku punya strategi." Keheningan itu pecah oleh suara husky dari anggota bernomor punggung tiga.

"Strategi apa, Hashima-san?" Ikyuu tampak tertarik.

"Karena aku selama pertandingan berada di bench, aku dapat melihat dengan jelas gaya offense maupun defense dari Shuuei. Secara garis besar, posisi pemain-pemain mereka..." Hiruma menjelaskan tentang pola play tim lawan dengan menggambar garis-garis di selembar kertas. Seluruh pemain Saikyoudai mengelilingi Hiruma dan memperhatikan dengan serius penjelasannya.

Gaya menunjuk dengan pensil itu...

Gaya bicara serius itu...

Suara husky itu...

Sorot mata itu...

Apakah hanya Mamori saja yang menyadari semuanya mirip dengan gaya seseorang? Samar-samar ia melihat sosok Hiruma Youichi di dalam tubuh lelaki berambut spike oranye itu. Mamori menggelengkan pelan kepalanya dan bayangan itu hilang. Sepertinya tidak ada yang tidak fokus dengan quarterback baru ini. Semuanya memiliki tujuan yang sama: menang, apapun resikonya. Dan hanya Mamori yang larut dalam nostalgia.

Hei, tampaknya ada satu orang yang menyadari hal yang sama dengan Mamori. Atlet berambut hitam yang bertindak sebagai kapten itu pun menatap Hashima dengan tatapan agak menyelidik, mengingat seseorang yang hampir sama dengan orang yang sedang menjelaskan strateginya itu.

"...jadi Yamato yang akan membawa bolanya. Kau mengerti, Yamato?"

"Eh? Apa?" Yamato tergagap menyadari namanya dipanggil, pikirannya sedang tidak fokus rupanya. "Aku? Membawa bola?"

"Kau tidak mendengarku, Rambut Liar Si—Yamato?" Hiruma sedikit kesal running back itu tidak memperhatikan kata-katanya. "Jadi, rebut bola saat kick off dan gunakan play ini sebagai pembuka. Kau bersama Hidung Luka Si—ah, Eiji dan Karin akan menjadi quarter back. Golden Dragon Fly!"

"Aku mengerti."

PRIIIT! PRIIIT!

Peluit tanda permainan akan segera dimulai pun sudah ditiup. Kedua tim kembali memasuki lapangan. Kick off dilakukan oleh Saikyoudai.

"Ambil bolanyaaa!" teriak Taka.

Yamato segera menerobos pertahanan Shuuei dan berusaha mengambil bola tersebut meskipun nyawa taruhannya. Sayangnya, karena ia sedang sedikit tidak fokus, ia tidak menyadari line lawan yang bertubuh cukup besar menghantamnya dari samping.

"Arrgghhh!" Yamato tersungkur ke pinggir lapangan.

Bola itu menyentuh tanah dan memantul tak tentu arah.

Set!

"Saikyoudai's ball!"

Ikyuu berhasil menangkap bola tersebut. "Kau tidak apa-apa, Yamato-san? Sepertinya kau sedang tidak fokus kali ini," tanya Ikyuu melihat permainan Yamato yang tidak seperti biasanya.

"Aku tidak apa-apa, Ikyuu. Ayo, cepat menuju posisi!" Yamato berusaha kembali fokus pada pertandingan. Mereka harus memenangkan pertandingan ini. Disingkirkannya pikirannya yang terasa mengganjal dan segera menuju posisinya di samping kanan Karin. Eiji sudah bersiap di sisi satunya lagi.

Golden Dragon Fly siap terbang merobek defense Shuuei Doctor Fishes.

Trick play cerdik itu membuat lawan tidak mengetahui siapa yang sebenarnya akan membawa bola. Dan ternyata, bola ditangkap oleh Eiji yang langsung menuju center. Lalu bola, diserahkan kepada Karin dan ia dengan lemparannya, melakukan passing yang sangat tinggi ke arah end zone sebelah kiri lawan. Taka yang bebas dapat menangkap bola itu. Melihat dirinya akan disergap oleh lawan, ia dengan cepat melempar bola ke arah tengah lapangan dan di sana sudah ada Yamato yang langsung melesat dan mencetak touchdown!

"Touchdown!"

Angka pertama untuk Saikyoudai Wizards di quarter terakhir ini.

Pertandingan terus berlanjut, namun tidak sesengit tiga quarter sebelumnya karena stamina kedua tim sudah menurun.

Akhirnya, dua belas menit berlalu dan skor akhir adalah 69 - 64, kemenangan untuk Saikyoudai Wizards. Mereka berhasil mencetak dua touchdown dan satu kick sedangkan Shuuei hanya mendapatkan satu touchdown dan satu kick.

Selepas pertandingan yang sangat menguras tenaga, mereka menonton pertandingan-pertandingan selanjutnya. Hasilnya:

Blok A
Kyoto Gangsters – Takekurako Ibabels (21 — 39)
Saikyoudai Wizards – Shuuei Doctor Fishes (69 — 64)

Blok B
Enma Fires – Ritsumeikan Panthers (63 — 20)
Kansai Gakuin Fighters – Obic Seagulls (72 — 71)

Berarti, secara otomatis lawan selanjutnya untuk semifinal adalah Takekurako Ibabels.

.

Hari ini hari Kamis pukul setengah enam sore. Yamato duduk di bangku pinggir lapangan dengan kedua lututnya menopang tangannya yang sedang terkepal di depan mulut, memperhatikan anggota timnya sedang sparing dengan tim lapis dua. Kali ini yang menjadi quarter back adalah Hashima, ia sudah diizinkan untuk bermain pada pertandingan selanjutnya. Tapi, Yamato belum tahu kapan waktu yang cocok untuk menurunkannya.

"SET! HUT! HUT!"

Suara serak itu memberikan kode untuk memulai snap. Yamato mengamati pemain bernomor punggung tiga itu dengan seksama. Beberapa kali ia merasa de ja vu, entah kenapa. Mau tidak mau ia memikirkan perasaan yang mengganjal sejak pertandingan terakhir mereka. Mereka lolos ke semifinal meskipun dengan perebutan angka yang sengit, jadi itu bukan hal yang membuat atlet tampan ini kehilangan sebagian besar konsentrasinya beberapa hari ke belakang.

Alasan mereka dapat menang, itu lah yang menyita pikirannya.

'Terlalu mirip!' Yamato mengingat cara Hashima ketika menjelaskan strategi counter-attack kemarin.

'Ah, mungkin cuma kebetulan.'

Tapi, dugaan itu kembali membayangi otaknya ketika ingat ia pernah tidak sengaja melihat bungkusan hitam beraroma mint tergeletak di meja saat mendapati Hashima datang lebih pagi darinya. Siapa lagi yang menyukai permen karet tidak manis itu? Pertama kali ia sangka, seorang anggota tim yang terakhir di dalam ruang klub malam sebelumnya yang membuang dengan sembarang kertas hitam tersebut. Tapi seingatnya, anggota tim mereka tidak ada suka mengunyah permen lunak itu—kecuali satu orang. Tapi saat itu ia melupakan keheranannya karena teralihkan oleh strategi-strategi jenius yang dibuat oleh quarter back barunya itu.

Ia juga pernah memergoki remaja berambut oranye itu beberapa kali memandang Mamori dengan tatapan yang menyendu, tatapan yang tidak pernah Hashima tunjukkan ketika bersama orang lain. Beberapa kali ia lihat dari lapangan, pemain cadangan itu melihat manajernya dengan sebuah senyuman yang jarang terukir di wajah dinginnya. Mamori tentu tidak sadar, gadis ini berkonsentrasi pada jalannya pertandingan. Yamato memang tidak bisa membaca pikiran seseorang, tapi dapat ia rasakan perasaan rindu yang tersirat dari keping emerald Hashima.

Dugaannya semakin kuat ketika ia melihat pose hand-off dan passing-nyasekarang. Ada berapa orang di dunia ini yang memiliki style yang sama hampir di segala-galanya? Lagi pula, kedatangan pemain baru dari Amerika di saat posisi quarter back kosong terlalu mulus jika dibilang sebuah kebetulan, sebuah ketidaksengajaan.

'Skenario, eh? Tapi skenario siapa?'

"Yamato! Giliranmu di defense!" Teriakan Juumonji membuyarkan hipotesisnya.

"Ya, aku datang!"

Dan latihan pun berakhir di dua puluh menit selanjutnya.

.

"Heh, Manajer Sialan! Cepat bangun! Sudah malam dan kau harus segera pulang!"

"Ngngng, tunggu sebentar Hiruma... Aku sangat lelah..." Mamori mengubah posisi kepalanya menjadi menghadap kanan.

"Cepatlah pulang! Aku tidak mau manajer sialanku kenapa-kenapa karena pulang larut begini!"

"Tidak akan terjadi apa-apa padaku, Hiruma. Karena kau kan selalu menjagaku..." ucap Mamori masih dengan mata yang terpejam.

"Heh, Manajer Sialan! Dengarkan perintahku! Cepat pulang atau ku ledakkan toko Kue Sus Kariya sialan itu! Kekekek!"

"Mou! Kau menyebalkan, Hiruma!"

Kosong.

Ketika mata birunya itu membuka, tidak terdapat seseorang pun di dalam ruang klub.

Ia hanya sendiri.

Tanpa Hiruma.

Lalu, siapa yang tadi menyuruhnya pulang dan mengancam akan meledakkan toko favoritnya itu? Ia yakin, ia mendengar jelas suara husky tapi menawan itu di telinganya. Ia mendengar kekehan menyebalkan tapi ia rindukan itu tepat di sampingnya. Ia yakin. Tapi apakah itu hanyalah delusinya semata? Sebuah proyeksi akan rindu yang semakin menggerus hatinya?

Mimpi.

Ya, Mamori hanya bermimpi.

Ia tertidur karena terlalu lelah merapikan ruang klub. Akhir-akhir ini, kondisi tubuhnya drop karena kesibukannya sebagai manajer tim dan anggota badan mahasiswa di kampusnya. Ditambah ia selalu datang pagi-pagi buta ke ruang klub untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk latihan dan pulang larut malam untuk membereskannya lagi.

Rindu.

Ya, Mamori sangat rindu akan sosok setan menyebalkan berambut spike blonde yang selalu mengejeknya itu. Hatinya merasa teriris mengetahui suara itu hanya mimpi, hanya sebuah ilusi. Ia memang sudah berjanji agar tidak menangis lagi. Tapi itu di depan Yamato, kan? Berarti ia bebas menangis selama apapun di ruangan ini dengan leluasa.

Gadis cantik itu terisak cukup keras. Digigitnya bibir bawah agar dapat meredam tangisan sarat kerinduan pada Hiruma. Percuma, air matanya terus mengalir tanpa permisi membasahi pipinya yang putih. Terucap nama kapten kesayangannya itu dari bibir merahnya dan cairan bening terus menganak hingga menetes ke meja.

Tangisannya mereda. Diliriknya jam dinding yang menempel pada dinding. Sudah pukul setengah sembilan! Gawat! Ibunya pasti khawatir Mamori belum tiba di rumah semalam ini.

Ia menghapus air matanya dengan tissue yang ia ambil dari dapur kecil. Ia mengambil tasnya dari loker dan segera memakai jaket dan syal hangatnya. Ia harus pulang sendiri malam ini. Yamato atau Juumonji yang biasa pulang bersamanya sudah pulang lebih dulu. Ia ingat Yamato ada urusan dengan Taka sepulang latihan dan Juumonji ada janji dengan Kuroki dan Togano, sehingga mereka berdua tidak dapat mengantarnya hari ini.

Kenapa mereka berdua tidak membangunkannya, sih?! Ah iya, Mamori kan sulit dibangunkan jika sudah tertidur. Mungkin mereka merasa kasihan melihat ia sangat lelah dan memutuskan untuk membiarkannya tertidur sebentar di ruang klub. Lagi pula jarak rumahnya dengan Universitas Saikyoudai tidak terlalu jauh dan selalu aman ketika ia beberapa kali harus pulang malam.

Cklek. Cklek.

Mamori memastikan pintu ruang klub sudah terkunci rapat. Ia langkahkan kedua kakinya mendekati gerbang kampus.

"Aku pulang dulu yah, Minami -san!" salamnya kepada penjaga kampus yang sudah uzur ketika melewati pos keamanan.

"Hati-hati, Mamo-chan!"

Rumahnya hanya berjarak tiga puluh menit dengan berjalan kaki. Ia pandangi sekeliling, sepi. Hanya beberapa lampu yang bersinar putih di sepanjang jalan ruko pertokoan. Memang sudah malam dan tidak ada orang-orang yang berlalu lalang seperti dirinya. hanya terdengar derap langkah kakinya saja memecah kesunyian malam. Ia tidak merasakan apapun ketika ada seseorang berjalan pelan mengikutinya dari lima meter di belakangnya. Langkah orang itu sangat perlahan membuat Mamori tidak merasa curiga.

"Hei, manis..." Tiba-tiba keluar seorang pria bertubuh tambun dengan tato di lengannya dari ujung gang yang gelap sampingnya.

Deg! Jantung Mamori seperti meloncat keluar.

"Kenapa baru pulang larut malam begini?" suara menggoda terdengar dari arah belakangnya.

"Mau bermain sebentar bersama kami?"

Satu..

Dua..

Tidak, enam orang preman sudah mengelilinginya. Tatapan mata penuh napsu seolah menelanjangi tubuhnya. Mereka perlahan mendekati Mamori yang terpaku di tengah jalan, terkekeh senang mendapatkan 'mangsa segar' di malam sedingin ini.

Tubuh Mamori bergetar hebat. Ia hampir menangis.

"TIDAAAKKK!"

.

Hanya hitam yang ia lihat.

.

TBC

.

~oOo~

rgrds, LH

.


Kotak Balasan Review:

Mayou Fietry: "saia nangis waktu bagian agon.. hiks T.T semoga yamato ga ambil kesempatan sama mamo ya... awas...#plak aku menunggu endingnya XD"
Aaaaa, jangan nangis dooong... ntar saya dimusuhin karena nangisin anak orang , *emangnya anak SD?* Marahin aja Yamato di chap ini, berani-beraninya ngedeketin Mamo, huh! *lah, kan saya authornya, hehehe* Mayou yang sabar yah nunggunya :p

vita: "duh gomen yah saya sering ngetik hashima jadi hishima abis keinget Hiruma mulu *kan deket tuh *Hi-shi-ma sama Hi-ru-ma* si agon so sweet deh! so sweet banget! ga sekalian aja nyium tuh makam hehehe *dibunuh agon* lagi lagi fic ini bikin saya makin jatuh cinta"
Vita-chan sukar ketuker yah soalnya namanya mirip? Nanti di last chap akan saya jelasin kenapa pake nama itu, jadi stay tune terus di sini yaah XD Se-so-sweet-nya Agon, tetep aja manggil 'sampah' -_-a Uuuu~ ga sekalian aja jatuh cinta sama author-nya? Eh, jangan deh, kan kita sesama cewe, masa jadi yuri? tidaaaak!

Guest: "ayoo semangat hirumaa, ternyata agon bisa galau juga"
"Sudah pasti aku semangat untuk memenangkan turnamen sialan itu! Kekekek! Kelakuan si Dread Sialan di atas bisa aku masukan dalam daftar baru buku ancamanku, kekekek!"
Hirumaaa, pergiiii! Hush! Hush!

Aika Licht Youichi: "maaf klu telat baca ya, chapter ini juga bagus. . . Aq tunggu next chap-nya (org yg ng' bisa koment banyak)"
Ga papa ko ga bisa komen banyak, yang penting doanya aja yaah supaya saya bisa menyelesaikan fic ini dengan baik :')

.

.

Pertama-tama, maafkan saya yang ga bisa mendeskripsikan jalannya pertandingan, hontou ni gomen nasai T.T Susah yah emang ngegambarinnya, ga semudah kalo kita baca di komik, hiks... hiks... *nangis di pojokkan*

Di awal cerita, ada beberapa istilah dalam poker kan, yah? Silakan mampir ke www. pokerlistings poker- hand- ranking (hilangkan spasi) untuk tau kartu apa aja yang dikeluarin Hiruma sehingga dia bisa dapet makan siang gratis selama sepuluh hari.

Oh iya, makasih banyak yaah yang udah baca, review, follow atau fav cerita ini. Saya mah apah atuh tanpa kalian :')

Akhir kata, jangan lupa review, minna-san~ *menghilang di tengah bom asap*