Ni Hao, Readers... Apa kalian menunggu chapter ini? Jeongmal gomawo untuk review(s) sebelumnya ne... Sangat memberi semangat buat remaja labil kayak aku.

Note: Chapter ini udah ketahuan hubungannya Tao sama Sehun yang sebenarnya dan bagaimana sebenarnya Tao di mata Luhan... Makasih udah mau mengikuti chapter demi chapter FF ini ya. Chapter depan adalah chapter terakhir ya... Heheheh...

REMEMBER! Kai dan Luhan itu belum punya hubungan apa-apa, ya di ceritanya... Cuma sebatas teman sejauh ini...

GAK PAKE BASA BASI, LANGSUNG CEK THIS OUT!

.

.

.

"Bagaimana ini?", gumam namja berwajah manis dengan surai kecoklatan itu dengan nada bingung dan suara yang sedikit tersekat di tenggorokannya.

Pendaran cahaya lampu menghujam kertas yang ada di hadapannya sekaligus kertas yang membuatnya putus asa. Semua orang pasti menuntutnya untuk menandatangani surat itu tapi jika kau tanya apa alasan mereka yang menuntut Luhan untuk menandatangani surat itu, mereka tak akan bisa menjawabnya. Tidak sepenuhnya tidak bisa menjawab tanpa alasan, bagaimana jika Luhan angkat bicara dan mengatakan, "Untuk apa menandatangani surat ini jika pada akhirnya Tao akan mati? Tidak mungkin hanya dengan 25% kehidupan, bocah itu akan tetap hidup.".

"Tanda tanganilah, Hyung...", ucap namja berkulit tan yang berdiri di sampingnya.

"Kenapa aku harus tanda tangani ini? Untuk apa memberikan peluang 25% persen pada orang yang sebenarnya tak bisa bertahan? Itu hanya menyulitkannya nantinya.", lirih Luhan putus asa bercampur takut, takut untuk kehilangan Tao.

"Kau tahu...", namja tinggi berambut blonde itu, siapa lagi kalau bukan Kris mulai angkat bicara.

"Aku yakin, 25% persen kehidupan akan menjadi 100% kehidupan bagi bocah itu. Jadi, tak ada salahnya kau tanda tangani itu, Luhan. Percayalah...", ucap Kris meyakinkan seraya menepuk pundak Luhan.

"Benarkah bocah kurang ajar itu akan tetap hidup? Benarkah dia akan tetap di sisiku setelah apa yang aku lakukan padanya?", lirih Luhan dengan tetes demi tetes air mata yang berjatuhan bak meteor di langit malam.

"Tentu saja, Hyung. Kenapa tidak? Bahkan untuk memaafkanmu saja, tanpa kau minta, dia pasti sudah memaafkanmu, Hyung. Jadi, tak ada salahnya kau tanda tangani surat ini dan berikan dia kesempatan dia untuk hidup.", ucap Kai seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Luhan.

Ragu-ragu, Luhan membentuk sebuah tulisan bercampur curva-curva dan garis sedikit tak berbentuk di kolom tanda tangan keluarga pasien.

"Aku... setuju dengan operasi ini. Tolong usahakan yang terbaik untuknya. Kumohon...", lirih Luhan pada perawat di hadapannya dengan tangan Kai yang masih melingkar di pinggangnya.

"Baik, Tuan. Kami akan usahakan yang terbaik bagi pasien Zi Tao.", ucap perawat itu lalu menghilang bersamaan dengan pintu ruangan ICU yang menyatu dengan ruangan operasi tertutup dan menimbulkan sedikit suara debaman.

"Bagaimana jika dia mati, Kai? Bagaimana jika aku justru gagal untuk kedua kalinya sebagai seorang kakak, Kai? Bagaimana jika Tao membenciku saat ia sudah di alam sana, Kai? Bagaimana?"

"Sstt... Jangan bicara seperti, Hyung. Kau tahu, entah sudah berapa kali kau menyakitinya sejak dia bersamamu, tapi lihatlah, he never hates you, Hyung. Not even once, Hyung. Stop being like this. Trust me...", bisik Kai pada Luhan yang ada di pelukannya.

"Aku tak mau kehilangan orang lebih banyak lagi, Kai... Cukup! Cukup aku kehilangan Sehun. Aku sudah terlalu lelah untuk kehilangan lebih banyak orang lagi. Aku takut."

"Berhenti menyalahkanmu, Hyung. Ambil segala sisi baik dari segala ini. Kalau kau tahu ini salah, kumohon, jangan ulangi ini semua lagi. Jangan mencoba membenci Tao lagi, Hyung!", ucap Kai pelan seraya menghapus jejak-jejak air mata yang tercipta di pipi halus bak bayi itu.

"Percayalah padaku, Hyung. Tak akan terjadi apapun padanya.", ucap Kai meyakinkan Luhan yang sudah ada di ambang batas keyakinannya sendiri.


"Kami tak bisa memberikan kepastian apa dia akan baik-baik saja sampai ia sadar dan melewati koma dan kritisnya ini..."

Kalimat tadi bak sebuah kaset rusak yang terus terputar berulang kali di benak Luhan bahkan ia masih bisa merasakan kalimat sederhana itu terngiang di telinganya hingga saat ini. Tapi ia harus bisa terima apa yang dokter itu katakan karena segalanya sudah ada di hadapannya sekarang. Tao memang sudah sukses dalam operasinya tapi bukan berarti tak ada alasan lain untuk ia tak bertahan hidup, bukan? Mungkin saja kerusakan di otaknya yang sudah menjadi-jadi atau keadaan paru-parunya yang sudah jauh dari kata normal membuat Tao kembali mengalami masa koma yang diperkirakan akan sangat panjang.

Alat kardiograf itu hanya memberikan sedikit bunyi-bunyi tak penting bersamaan dengan curva-curva yang membentuk gundukan kecil. Sejauh ini masih seperti itu, menandakan bahwa detak jantung Tao terlalu lemah untuk membiarkannya keluar dari masa koma untuk membuka matanya.

Luhan tersenyum getir menyadari hal yang terjadi pada Tao. Ia tak bisa dibilang shock sebagai seorang kakak yang melihat adiknya terbaring lemah di bangsal rumah sakit tapi tak juga bisa dibilang biasa-biasa saja. Seakan hal seperti ini sudah biasa untuk dirinya walau sorot matanya menunjukkan ketakutan yang berbaur dalam penyesalan mendalam.

"Tao...", suara itu terdengar sangat lirih.

Tangan bergetar itu terulur dan menggenggam erat tangan lemah nan dingin milik Tao. Kenyataan semakin pahit di mata Luhan ketika ia benar-benar menyadari Tao tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja seperti biasanya, di mana ia selalu menyakitinya dengan kelakuan dinginnya. Kristal cair bening perlahan turun dari pelupuk matanya, turun dan membasahi pipinya.

"Masakkan chinese food untukku lagi, Tao... Walau untuk terakhir kalinya, tidak apa-apa. Kau tahu, di hari terakhir aku bertemu dengan Sehun, dia membuatkanku chinese food dan saat aku mencicipi udang goreng mentega buatanmu, rasanya sama persis seperti udang buatan Sehun.", lirih Luhan yang sudah mulai putus asa dengan keadaan Tao yang tak kunjung membaik.

Entah sudah berapa jam berlalu tapi tetap saja namja bersurai hitam itu tak membuka matanya. Ia seakan terperangkap di waktu yang sama.

"Biarkan aku punya waktu untuk meminta maaf padamu. Kalau kau bertemu Tuhan di mimpimu, beritahukan pada-Nya untuk sedikit mengulur waktu agar aku bisa bertemu denganmu, tak apa walau hanya beberapa detik bahkan hanya beberapa milidetik pun sudah cukup untukku.", lirih Luhan seraya menaruh telapak tangan Tao di pipinya. Hanya dingin yang terasa.

"Jangan pernah berpikir aku membencimu, Tao. Aku membentakmu malam itu karena aku... aku tak ingin melihatmu menangis karenaku walau kenyataannya, aku justru menjadi penyebab terbesar mengapa kau tersakiti selama ini. Semestinya aku bisa menerimamu sejak awal, bukan malah mengikuti ego kekanakanku untuk membencimu. Aku kekanakan sekali, ya...", Luhan terkekeh kecil di sela-sela lirihannya. Air mata masih membasuh wajahnya bersamaan dengan kekehan penuh dusta yang keluar dari mulutnya.

"Kau tahu segala sesuatu yang aku sukai yah... walau tidak semuanya tapi setidaknya kau sudah tahu banyak tentangku. Tapi bagaimana denganku? Aku bahkan tak tahu apa-apa tentangmu. Yang kutahu, kau itu namja aneh yang masih bisa tersenyum ketika kau disakiti berbulan-bulan olehku, kakakmu sendiri."

"Ketika kau membuka matamu dan merasakan sinar mentari menyapamu, kau sudah siap untuk tersenyum padaku walau aku selalu bersikap dingin padamu. Tak peduli apapun yang terjadi, senyuman itu selalu ada di bibirmu walau itu terkadang membuatku sedikit muak padamu. Maka, berhentilah tersenyum di saat kau tersakiti, Tao."

Suara derit pintu yang terbuka menghancurkan segala kesunyian yang tercipta tapi semua itu tak diperdulikan oleh Luhan dan tentunya juga Tao.

"Hyung..."

"Ada apa, Kai?"

"Hey, kenapa kau menangis, Hyung? Bukankah Tao sudah selesai dengan operasinya?", tanya Kai pelan seraya berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Luhan yang terduduk di samping Tao.

"Tapi dia belum membuka matanya lagi, Kai. Aku takut..."

"Ssst... Untuk apa kau takut, heuh? Dia akan baik-baik saja. Tenang saja...", sela Kai pelan seraya menghapus jejak-jejak air mata yang ada di pipi Luhan.

"Ternyata kau jelek sekali ya, Hyung... Aku baru tahu...", kekeh Kai.

"Kai!", seru Luhan pelan seraya memukul pundak Kai pelan (hanya bermain-main).

"Makanya berhenti menangis atau kau akan semakin jelek. Tersenyumlah! Nanti wajah manismu hilang lagi..."

"Aku tidak manis, Bocah! Aku manly, kok!", kesal Luhan seraya menoyor dahi Kai.

"Ok, sekarang jangan menangis lagi, ya! Tao akan baik-baik saja. Percaya padaku. Mungkin dia terlalu lelah setelah meraung-raung kesakitan saat operasi? Heheh... aku seperti menasehati bocah saja, ya...", Kai justru terkekeh pada ucapan sendiri walau kenyataannya, semua itu mampu membuat Luhan sedikit merasa membaik.

"Gomawo, Kai ah..."

"Untuk apa berterimakasih, eoh? Itu sudah jadi kewajibanku untuk menjagamu tetap tersenyum, Bocah sok manly..", Kai perlahan bangkit dan berdiri seraya menatap lembut pada Luhan.

"Sekali lagi bicara bocah di depanku, kutendang gigi kudamu itu, Kim Jong In! Lagi pula aku kan hyung-mu!", celetuk Luhan seraya tersenyum dan sedikit menendang tungkai kaki Kai.

"Aku akan belikan sesuatu untukmu. Oh ya, kau belum makan malam, ya? Aish... semestinya kau makan di kantin rumah sakit tadi, biar Kris hyung saja yang menjaga...", ucap Kai sedikit kesal.

"Apa Kris masih di luar?"

"Dia tidak pulang sejak kemarin malam sepertinya. Aku yakin itu kaos yang ia pakai saat terakhir kali aku melihatnya kemarin malam."

"Suruh dia pulang dulu. Nanti dia bisa ikut menjaga Tao di sini. Setidaknya dia bisa diandalkan untuk masalah kebutuhanku dan Tao nantinya.", ucap Luhan.

"Aku akan sampaikan itu pada Kris hyung. Kau tunggulah di sini, aku akan bawakan makanan untukmu...", ucap Kai lalu ia sudah menghilang dari pandangan mata Luhan.

"Uh... Bocah itu. Selalu saja bersikap... aneh.", gumam Luhan pelan.


Hari sudah terlalu larut untuk tetap membuka mata. Semestinya semua orang tertidur di saat seperti ini ya... walau di luar sana, pasti banyak orang-orang yang melolong tak jelas di bawah alam sadar mereka (mabuk). Entah mereka sadar tengah berjalan di darat atau mereka justru membayangkan berjalan di awan.

Luhan, namja bersurai kecoklatan itu masih terduduk di samping ranjang 1x2 meter bernuansa putih itu, di mana sesosok namja bersurai hitam tengah terkulai lemah. Ia tak bisa dibilang tidur tapi tak juga bisa dikatakan tak sadarkan diri. Semuanya lebih dari itu.

"Kau suka cerita apa, Tao? Dulu, biasanya aku selalu membacakan cerita untuk Sehun sebelum tidur. Sekarang kau sudah terlanjur tidur, apa kau mau mendengar cerita juga?", tanya Luhan pelan seraya tersenyum. Tak ada lagi tangisan. Ia yakin dirinya duduk di sana bukan untuk menangis tapi untuk tersenyum dan menguatkan Tao agar dapat kembali membuka matanya.

Luhan tersenyum. "Kau tak menjawab, maka aku anggap kau mau. Oke, ini sebenarnya cerita yang sangat sederhana, konyol tapi bersamaan dengan itu, juga menyakitkan. Hahah... tidak, aku hanya bercanda.", kekeh Luhan sendiri dan tentu saja tak ada reaksi apapun dari Tao.

"Namja berwajah manis yang menganggap dirinya cool itu terus berdiam diri di kamarnya. Kau tahu, sebenarnya ia kesepian tapi ia hanya tak ingin mengakuinya. Memalukan sekali jika ia mengatakan kalau ia kesepian, bukan? Tak lama, namja bersurai hitam datang dan menepuk pundaknya tapi namja berparas manis itu menepis tangan itu kasar...", kisah yang terdengar fiksi itu terus berlanjut bahkan hingga bermenit-menit lamanya. Luhan tak lelah untuk menceritakan semua itu karena di dalamnya, secara tidak langsung, ia mengakui kenapa ia membenci Tao dan kenapa dia menjadi namja yang sedingin es di kutub utara selama ini.


Namja bersurai hitam itu perlahan membuka matanya. Sinar mentari atau entah sinar apa itu menghujam matanya hingga ia butuh waktu untuk menyesuaikan matanya dengan keadaan saat itu. Ia tak yakin berbaring di mana. Ini bukan kasur, bukan juga lantai apalagi karpet. Perlahan, ia mendudukan dirinya, menatap ke segala arah. Sejauh mata memandang, hanya hamparan rumput serta semak-semak berbunga yang ada di sana. Ia baru tersadar jika ia terbaring di rerumputan hijau dan segar di sana.

"Nyasar ke mana aku?", gumam Tao polos seraya mengerutkan dahinya.

Ia menyentuh rerumputan hijau itu. Ia bahkan masih bisa merasakan bagaimana embun yang ada di rerumputan itu menyapa kulitnya. Ia tersenyum kecil, merasakan tangannya berubah menjadi lebih lembab karena embun-embun itu.

Suara kicauan burung saling bersahutan, menyadarkan Tao bahwa ia tak sendiri di sana. Semilir angin sejuk menyentuh kulit Tao, menimbulkan rasa agak dingin. Ia berdiri perlahan, mencoba menyusuri taman aneh ini. Ia tak yakin pernah ke sini sebelumnya atau justru ini memang pertama kalinya ia ke sini?

"Hai, Tao...", suara itu, membuat Tao terkejut. Berarti, bukan hanya dirinya saja yang ada di sana sebagai seorang manusia, kan?

Sosok namja berkaos putih dengan celana panjang putih berdiri tak jauh di belakang Tao. Ia tersenyum manis melihat sosok Tao ada di sana walau sejauh ini ia hanya melihat punggung Tao. Entah sudah berapa lama ia tak bertemu sosok itu. 5 tahun mungkin? Ia masih terlalu muda saat ia ingat terakhir kali bertemu dengan Tao.

Tao berbalik perlahan dan ragu-ragu. Ia yakin kenal betul suara itu. Matanya terbelalak tak percaya ketika ia mendapati sosok itu berdiri tak jauh darinya dan menatap lembut ke arahnya.

"Shixun?"

"Lama tidak berjumpa ya, Taozi...", ucap sosok itu seraya tersenyum padanya.

Tao masih tak percaya dan berdiri membatu di tempatnya. Ya! Sosok itu! Sosok itulah cinta pertama seorang Tao sekaligus orang yang masih ia cintai hingga detik ini. Ia tak percaya, sosok itu kini ada di hadapannya bahkan lebih tampan dari terakhir ia bertemu dengannya.

Tao mulai mengambil langkah dan lama kelamaan langkah itu berubah menjadi berlari menuju ke arah sosok namja berkulit putih bersih itu. Sosok itu hanya berjalan kecil menuju ke arah Tao seraya tersenyum merekah pada Tao.

Tao langsung memeluk sosok itu dengan sangat erat, seakan melampiaskan segala rasa rindu yang ia pendam sejak 5 tahun yang lalu, di mana mereka bertemu untuk pertama kalinya. Sosok itu membalas pelukan erat Tao seraya mengelus surai hitam Tao.

"Shixun...", lirih Tao setelah ia sampai di pelukan sosok yang ia panggil Shixun itu.

"Kau sudah tumbuh ternyata. Kukira kau masih sekecil dulu. Kau bahkan sedikit lebih tinggi dariku sekarang.", kekeh sosok bernama Shixun itu.

"Ke mana saja kau selama ini, huh? Aku menunggumu di pantai setiap hari tapi kau tak datang, saat aku tunggu di taman dekat rumahmu, kau juga tak datang ke sana. Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan pindah, huh?!", tanya Tao kesal seraya memukuli punggung sosok itu.

"Hehehe, kau merindukanku, ya? Aku bukannya tidak ingin memberitahu tapi waktu tak memberikanku untuk memberitahumu, Bocah...", kekeh namja berkulit bersih itu.

"Hiks..."

"Hey! Kenapa kau malah menangis, huh? Cengeng sekali. Kau benar-benar seperti bocah...", bukannya mencoba untuk menenangkan, namja itu justru terus terkekeh ketika mengucapkan kata bocah untuk Tao.

"Hiks... Hiks..."

"Eh? Aku tidak perlu jasa layanan cuci baju sekarang. Kenapa kau malah membasahi bajuku dengan tangisanmu, eoh? Hehehe, sudahlah, jangan menangis lagi! Aku sudah di sini. Kau tenang saja..."

"Bagaimana jika kau pergi lagi dan aku tak bisa menemukanmu, huh? Kau harus berjanji untuk tak meninggalkanku lalu aku akan berhenti menangis..."

"Hey! Siapa bilang aku meninggalkanmu selama ini? Aku selalu di sisimu bahkan aku mencoba melindungimu dan memberi semangat untukmu. Sudahlah, berhenti berpikir aku sudah meninggalkanmu selama ini! Aku tak pernah meninggalkanmu. Aku janji."

"Kau bohong, Shixun! Kau tak pernah di sisiku selama ini!", isak Tao bercampur kekesalan.

"Kau hanya tak sadar, Bocah!"

Tao mulai merenggangkan pelukannya pada tubuh namja yang ia panggil Shixun itu. Menatap sosok itu lekat tepat di kontak mata mereka. Sementara sosok itu hanya tersenyum kecil padanya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu, huh? Aku bukan orang yang perlu kau tatapi seperti itu. Aku bukan tersangka utama pembunuhan terbesar di dunia.", kekeh sosok itu.

"Kau bahkan masih bisa tertawa atas segala ini? Kau tak tahu bagaimana aku merindukanmu setiap hari! Kau tak tahu seberapa banyak aku menangis di kehidupanku yang sekarang! Kau tak tahu tentangku, Shixun!", seru Tao dengan lelehan air mata yang masih membasahi pipinya.

"Aku tahu. Aku tahu segalanya, Tao. Aku tahu kau pernah dilempari tepung dan telur saat di sekolah, aku tahu kakakmu yang sekarang sering bersikap dingin padamu dan aku tahu kau akan selalu merindukanku.", sosok itu mengakhiri kalimat panjangnya dengan sedikit kekehan tak penting.

"Kau menyewa mata-mata?"

"Aku masih punya mata kenapa harus menyewa mata-mata?"

Tao mengerjapkan matanya lucu seakan tak bisa mencerna baik-baik kalimat yang terlontar dari sosok berkulit putih itu.

"Ikut aku! Aku ingin punya waktu bersama denganmu. Huh... walau aku sudah setiap hari melihatmu, tetap saja aku merindukanmu.", ajak sosok itu seraya menarik pergelangan Tao menuju ke sebuah kolam kecil dengan teratai dan ikan-ikan berwarna-warni di sana.

Tao mendudukan dirinya di pinggir kolam indah itu bersamaan dengan sosok berkulit putih itu juga duduk di sampingnya. Beberapa saat, keheningan menyeruak di antara kedua namja itu. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

"Aku masih ingat, kau selalu heboh ketika melihat banyak ikan seperti ini. Kenapa sekarang tidak?", ucap sosok itu membuka pembicaraan.

"Aku sudah bukan bocah lagi, Shixun. Haruskah aku tetap bersikap heboh di depanmu untuk hal seperti ini?", jawab Tao seraya tersenyum kecil.

Sosok itu kembali terkekeh pelan diikuti dengan kekehan kecil Tao.

"Heuh... Tidak terasa, ternyata kita sudah semakin dewasa. Mungkin aku tidak sadar karena aku terlalu sibuk mengikutimu."

"Kau mengikutiku? Aku tak pernah melihatmu mengikutiku? Maksudnya, kenapa tak kau katakan kalau kau selalu ada di sisiku? Kenapa kau seakan bersembunyi dariku?"

"Sudah tidak ada waktu bagiku untuk mengatakan kalau aku selalu ada di sisimu. Eh, bukankah aku sudah katakan itu padamu?", ucap sosok itu.

"Sebenarnya apa sih maksudmu?", tanya Tao mulai bingung sekaligus gusar dengan ucapan sosok yang ia panggil Shixun itu. Ia merasa seperti ada arti yang terpendam di setiap kalimat yang terlontar dari sosok itu.

Sosok itu menggenggam telapak tangan Tao sementara Tao hanya bisa membalasnya.

"Kau tahu... Aku bukanlah Shixun dalam artian yang sebenarnya...", lirih sosok itu.

"Huh? Lalu kau apa? Sebenarnya kau ini bicara apa sih? Aku tidak mengerti..."

"Berjanjilah padaku, setelah aku mengatakan ini, lupakan aku. Mulailah hidup yang lebih baik."

"Kenapa aku harus melupakanmu? Katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi, huh? Kenapa kau seperti menghindariku? Apa kau membenciku?"

"Jangan bicara seperti itu! Aku tidak pernah membencimu, tidak sekalipun! Dengarkan aku baik-baik, Tao...", bantah sosok itu cepat seraya mempererat genggamannya pada tangan Tao.

"Aku..aku bukanlah Shixun dalam artian aku memang terlahir dengan nama Shixun. Sebenarnya aku adalah... Sehun, adik kandung kakakmu yang sekarang.", ungkap sosok itu akhirnya pada Tao.

"APA?"

"Dengar, Tao. Jangan panik dulu, ok... Kalau kau panik, aku juga akan panik. Berjanjilah padaku, kau boleh mengingatku tapi jangan tetap cintai aku. Lupakan segala cintamu padaku. Mungkin ini sulit tapi ini hanya masalah waktu, ok. Maka percayalah padaku, cepat atau lambat, kau pasti bisa berhenti mencintaiku.", pinta Sehun.

"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau berhenti mencintaimu! Biarpun kau sudah berbohong padaku tentang namamu tapi itu hanya masalah nama! Aku tidak akan pernah berhenti mencintamu, Sehun! Tidak sekalipun!", tolak Tao langsung dengan air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipinya.

"Hey! Ini bukan masalah kebohongan atau apapun itu tentang jati diriku yang sudah aku sembunyikan darimu tapi ini masalah bagaimana kehidupanku yang sekarang.", ucap Sehun seraya menyeka air mata Tao dengan ibu jarinya.

"Lalu apa? Apa yang membuatku harus melupakanmu?"

"Ingatlah apa yang ada di kalender meja itu dan kau akan tahu alasannya...", ucap Sehun pelan berusaha memberi pengertian pada Tao.

"12 April, ulang tahun Sehun..."

"13 April, Sehun menghilang entah ke mana, semua orang khawatir..."

"17 April, Sehun kembali dengan baju yang diberikan seseorang (ia bilang seseorang yang ia sukai)..."

"20 April, ulang tahun Xi Luhan & Sehun isn't here anymore... Goodbye, Sehun ah.."

"Ja..jadi kau... tidak mungkin... kau bercanda kan, Sehun? Kau bercanda, kan?! Yang ada di kalender itu bukan kau kan?!"

"Itu aku, Tao. Aku Sehun, adik kandung kakakmu yang sekarang. Maafkan aku, Tao. Maaf... Itu sebabnya aku katakan kalau waktu sudah tak memberikanku kesempatan untuk mengatakan kalau aku selalu ada di sisimu, Tao. Kau harus melupakanku, Tao...", perlahan, Sehun menarik Tao ke dalam pelukannya.

"Kau bercanda, kan? Kau tidak mati, kan? Buktinya aku masih bisa menyentuhmu."

"Hey, siapa yang bilang aku mati? Aku masih hidup di hati orang-orang yang mengenalku. Hanya saja, aku tanpa raga sekarang. Semenjak tanggal 20 April itu, aku sudah tak terhubung dengan ragaku tapi aku selalu hidup di hatimu, Tao.", kekeh Sehun pelan.

Sehun tidak sepenuhnya terkekeh dalam keadaan bahagia. Ia memang terkekeh namun tak bisa dipungkiri, lelehan air mata juga turut membasahi pipinya. Ia tak mampu melihat Tao yang terlalu rapuh karenanya, tidak juga mampu membiarkan Tao melupakannya tapi apa daya, dia hanya bisa berharap sekarang.

"Kenapa kau bodoh sekali? Kenapa kau tak bertahan untuk bisa menemuiku lagi? Kenapa kau meninggalkan Luhan hyung? Dia pasti sangat terpukul karena kau meninggalkannya secepat itu.", tanya Tao.

"Itu sudah masuk dalam diary hidupku, Tao. Kau pasti tak mengerti tentang hal itu. Maka dari itu, berhentilah mencintaiku... Aku menyuruhmu untuk melakukan ini bukan karena aku membencimu tapi karena aku juga mencintaimu, Tao..."

"Lalu sekarang bagaimana? Apa kau akan tetap di sini? Aku membutuhkanmu, Sehun. Aku tak bisa... Aku tidak bisa melupakanmu...", ucap Tao.

"Oh ayolah, itu hanya masalah waktu. Percaya padaku... Aku selalu di sisimu. Aku tak pernah pergi dari sisimu sedikitpun. Tidak walau hanya sekali. Kalau kau merindukanku, kau bisa pegang kalung yang kau kenakan itu dan kau bisa melepas rindumu padaku."

Sehun perlahan melepas pelukannya pada Tao. Ia menatap lekat sosok Tao dengan mata sembabnya.

"Ke mana kalungmu? Ke mana separuhnya?", tanya Tao.

"Setengah dari kalung yang ada di lehermu itu sudah ada di orang yang tepat jadi kau tenang saja. Oh ya, sepertinya kau sudah terlalu lama ada di sini. Kau tak merindukan Luhan hyung?", tanya Sehun walau air matanya masih mengalir dari pelupuk matanya.

"Aku tidak mau kembali, Sehun... Aku mau di sini, bersamamu selamanya."

"Kembalilah ke tempatmu yang semestinya. Ingat, kata-kataku ini baik-baik, ne. Aku tak pernah meninggalkanmu sekalipun. Mengerti?", jelas Sehun.

Tao mengangguk pelan walau rasanya ia masih tak bisa menerima kenyataan ini.

Sehun perlahan mendekatkan wajahnya pada Tao. Semakin dekat walau tetes demi tetes air mata terus mengalir dari kedua mata Sehun maupun Tao. Sudah tak ada jarak di antara mereka. Mereka tenggelam dalam ciuman pertama dan terakhir mereka. Mencoba melupakan betapa pahit kenyataan jika mencintai orang yang berbeda dunia adalah sesuatu yang salah tapi apa daya, cinta itu buta.


Tao terlalu tenggelam dalam ciuman manisnya bersama Sehun. Perlahan, ia membuka matanya dan menemukan dirinya berada di sebuah ruangan bernuansa putih dengan bau obat-obatan yang menusuk indra penciumannya. Kepalanya terasa sangat pening. Ia yakin dirinya terkulai di bangsal rumah sakit.

Tao perlahan mendudukan dirinya, menemukan kenyataan bahwa dirinya sendirian di bangsal rumah sakit itu. Ia tersenyum getir. Wajar saja jika ia sendirian di sana, Luhan tak mungkin akan mengkhawatirkannya sedikitpun, pikirnya. Perlahan, setetes kristal bening keluar dari pelupuk matanya ketika ia mendapat 2 kenyataan pahit sekaligus di mana ia tak lagi bisa bertemu dengan Sehun dan di dunia yang sebenarnya, tak ada yang peduli padanya.

Suara decit pintu yang terbuka sedikit mengagetkan Tao. Terlihat jelas seorang namja bersurai kecoklatan tengah berdiri di ambang pintu seraya menatap nanar ke arahnya.

"Tao..."

Sosok itu berlari ke arah Tao yang masih kaget melihat sosok itu ada di sini. Sosok itu langsung memeluk Tao erat bahkan hingga membuat Tao kaget bukan kepalang.

"Luhan hyung..."

"Tao... Maafkan aku... Maafkan aku telah menyakitimu selama ini. Maafkan aku... Aku menyesal Tao. Tak apa kau membenciku. Kau boleh balas dendam padaku asal kau senang, Tao...", lirih Luhan diselingi sedikit isakan.

Tatapan Tao tertuju pada 2 orang namja yang ada di luar bangsal. Kris dan Chanyeol hanya bisa tersenyum dan menatap ke arah Tao. Oh bukan, Chanyeol bahkan berjingkrak-jingkrak kekanakan dan melambai-lambaikan tangannya pada Tao sementara Kris hanya tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Tao.

Tao tersenyum kecil seraya membalas pelukan Luhan.

"Aku tidak apa-apa, Hyung... Percayalah padaku. Kau tak pernah menyakitiku. Untuk apa aku membalas dendam padamu? Kau sudah banyak membantu selama ini justru aku yang berhutang nyawa padamu, Hyung..."

"Sudah jadi kewajibanku untuk melindungimu, Tao. Aku kakakmu. Aku menyayangimu, Tao. Sangat...", lirih Luhan pelan.

"Aku juga, Hyung. Aku sangat-sangat menyayangimu... Terima kasih untuk segalanya, Hyung..."

.

.

.

TBC

HHHHHYYYYAAAA! GAK KERASA UDAH MAU 'THE END' AJA NIH FF. Ok, peringatan untuk yang terakhir kalinya ya... Chapter depan adalah chapter terakhir sekaligus pengungkapan semua peristiwa yang tersembunyi dari Tao selama ini. Jangan lupa review ya... Walau hanya 1 kata aja gak apa-apa kok. See U next chapter, Guys! Maaf klo feel'a gak dapet.