"Apa menurutmu Megumi-san akan baik-baik saja, Seto?", tanya Mary khawatir sambil menaruh lap di dahi Megumi. Mereka semua sudah sampai ke apartemen, dan setelah sampai, Seto langsung menaruh Megumi ke salah satu kamar disana, dan Mary mengambil lap dan baskom.
"Aku... tidak tau, Mary..", Seto mengatakan yang sejujurnya, dia tidak tau apakah Megumi akan baik-baik saja. Sejak tadi, nafas Megumi masih tidak teratur, seperti dia berusaha belajar bernafas untuk pertama kali. Mereka semua bahkan tidak tau apa yang menyebabkan ini. Yah, kecuali satu orang.
"Dia akan baik-baik saja. Karna dia Megumi", kata Shintaro yang berdiri di pintu. Dia melihat Megumi dengan khawatir. Kulitnya berubah pucat, dan poninya menempel di dahinya karna keringat dingin yang tidak berhenti mengucur. Tapi Shintaro telah mengenal Megumi sejak lama, dan dia tau kalau perempuan berambut coklat itu tidak suka membuat orang lain khawatir.
"..."
"Ene-chan, kenapa kamu diam terus?", tanya Momo. Mungkin ini bukan waktu yang bagus, tapi Momo memang benar. Ene pasti berkata sesuatu, walaupun itu sebuah ejekan yang ditujukan oleh masternya, atau omongannya dengan Momo. Tapi tidak, dari tadi Ene tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"M-Megu-chan bilang.. kalau ini disebabkan karna kekuatan matanya", kata Ene. Semuanya mulai mendengarkan ini dengan tertarik. Memang, Megumi bilang kalau dia bisa melihat masa depan. Tapi hanya itu.
"Apa yang kamu maksud, Ene?", tanya Kido penasaran.
"Yah, Megu-chan menjelaskan kalau kekuatannya itu membuatnya bisa mengamati gerakan, kebiasaan, dan keinginan seseorang, sehingga dia bisa memprediksi apa yang akan terjadi", Ene hanya menjelaskan sebatas ini. Dia tidak yakin kalau Megumi ingin memberitau semuanya tentang kekuatannya..
Flashback
"Megu-chan, kamu punya kekuatan mata?! Kenapa kamu tidak pernah memberitauku?!", teriak Ene bingung. Kenapa Megumi tidak memberitaunya apa-apa? Apa karna dia tidak percaya kepadaku?
"Karna aku tidak suka kekuatanku", jawab Megumi tanpa melihat ke arah Ene.
"Eh?", Ene kaget saat mendengar ini. Kenapa Megumi tidak suka dengan kekuatan matanya?
"Aku bisa mengamati gerakan, kebiasaan, dan keinginan seseorang, sehingga aku bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Bukankah itu tidak menarik? Apa kamu mau menjalani kehidupanmu dengan terus mengikuti apa yang kekuatanmu katakan? Lagipula, aku jarang memakai kekuatan ini, bahkan aku tidak mengingat kapan terakhir kali aku memakai kekuatan ini. Bagaimana kalau aku tidak sengaja mengaktifkan kekuatanku saat memilih sesuatu? Bukankah itu berarti aku menjalankan hidupku sesuai dengan apa yang kekuatanku katakan? Kenapa menurutmu aku mendapatkan kekuatan ini, Takane-san?", kata-kata Megumi membuat Ene terkejut.
Apa yang dikatakan Megumi memang benar. Itu sama saja dengan menjalani kehidupan dengan menyusuri jalan lurus, sudah tau kalau jalan itu akan terus lurus dan tidak akan berbelok. Ene hanya memahami ini setelah dia mencerna kata-kata Megumi dengan baik.
Flashback End
"Yah, sekarang kita hanya bisa menunggu..", kata Kano yang sedang duduk di sofa. Dia memegang majalah di tangannya.
"Itu ada benarnya..", kata Kido sambil menghela nafas. Dia kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam, dan Seto bersama dengan Mary keluar dari kamar untuk membantu Kido. Shintaro dan Momo masih terdiam di kamar yang ditempati Megumi. Shintaro memegang ponselnya, tempat dimana Ene berada sekarang.
"Megumi-san.. Tolong cepatlah sembuh..", gumam Momo sambil melihat Megumi. Sejak 2 tahun yang lalu, Megumi menjadi lebih sering datang ke rumah Shintaro, dan dia bertemu dengan Momo. Mereka menjadi teman dengan lumayan cepat, karna memiliki selera yang 'hampir' sama.
Shintaro tidak tau apa yang dia rasakan. Dia ingin Megumi cepat sembuh, dan kembali ceria lagi. Mungkin Shintaro tidak ingin mengakui ini, tapi dia menikmati 2 tahun saat Megumi selalu menemaninya. Awalnya Megumi hanya duduk disitu, dan pulang saat sore, tapi lama kelamaan dia mulai bicara dengan Shintaro, dan Shintaro juga tidak terlalu sedih lagi. Dia juga menikmati waktu yang dia habiskan bersama Mekakushi-dan ini. Walaupun baru sebentar, Shintaro pikir—bukan, Shintaro yakin kalau ini adalah tempat yang tepat baginya.
Saat sekolah, Shintaro tidak pernah menikmatinya, karna dia sudah mengerti semua pelajaran itu. Teman sekelasnya tidak ada yang berani mendekatinya, karna tampangnya yang agak mengintimidasi. Yah, itu sampai Kisaragi Shintaro bertemu Tateyama Ayano, dan Ishikawa Megumi.
"O-Oto-san..", suara Megumi membuat Shintaro sadar dari pikirannya. Dia duduk di kursi di sebelah kasur Megumi, dan Momo sudah keluar dan juga menutup pintunya.
"Megumi?", Shintaro bertanya sedikit khawatir. Apa yang dia maksud barusan? Dia berhenti berpikir saat melihat air mata mengalir dari mata Megumi yang masih tertutup.
"Shintaro, Ayano-chan.. T-Tolong aku. Kumohon..", mata Shintaro terbelak mendengar ini, dan dia menjadi kaku saat mendengar nama Ayano. Apa hal yang dikatakan Megumi sekarang ada hubungannya dengan masa lalunya?
Seingat Shintaro, Megumi tidak pernah memberitau apa-apa tentang orangtuanya, dan saat penerimaan rapor juga, yang mengambilnya adalah Megumi. Dulu, itu terlihat biasa saja, tapi sekarang, setelah mendengar perkataan Megumi, semuanya menjadi mencurigakan. Apa yang dilakukan ayahnya kepada Megumi?
"Kuro..", Shintaro memasang wajah bingung. Hitam? Apa yang Megumi maksud dengan hitam? Shintaro menarik nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya. Dia lalu menggenggam tangan Megumi dengan sedikit erat. Paling tidak, apa yang bisa dilakukan Shintaro sekarang adalah memberitau Megumi kalau Shintaro ada disebelahnya. Shintaro melepaskan jaketnya untuk menghapus air mata Megumi, dan menaruh jaketnya di atas Megumi, sebagai selimut.
"Jangan khawatir Megumi. Aku dan.. Ayano akan melindungimu. Itu janji kami", bagi Shintaro, masih sulit untuk mengatakan nama Ayano tanpa memikirkan hari itu. Dia lalu keluar dari kamar dan segera bergabung dengan yang lainnya di meja makan, dengan homemade food milik Kido.
Ada yang dilupakan oleh Shintaro. Ene masih ada di ponselnya, dan Shintaro memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Perempuan berambut biru itu bisa mendengar semua yang Megumi katakan.
"Megu-chan.. Apa yang terjadi denganmu di masa lalu?", gumam Ene dari ponsel yang ada di dalam jaket merah milik Shintaro. Dia harus mengingatkan dirinya sendiri untuk menanyakan itu pada Megumi nanti saat dia bangun, itu kalau Megumi sendiri bisa menjawab pertanyaan itu.
Di Haze
"Azami..", aku melihat medusa berpakaian serba hitam itu dengan bingung.
"Ah, kamu kembali, manusia", katanya dengan santai tanpa melihatku.
"Apa maksudnya ini?", tanyaku curiga. Kenapa dia membawaku kembali kesini?
Aku melihat sekeliling, dan tempat ini memang tidak pernah berubah. Tunggu dulu, Ayano-chan menjalankan misinya untuk mendapatkan mata merah. Kalau berhasil, dia akan dibawa kesini, iya kan?
"Sepertinya kamu telah menyadari sesuatu", kata Azami sambil tersenyum. Apa dia sudah tau dari dulu?!
"Dimana dia? Dimana Ayano-chan?!", kataku sedikit berteriak.
"Kamu memikirkan kalau manusia itu berhasil, dia akan kesini. Tapi bagaimana kalau tidak?", pertanyaan Azami membuatku terdiam. Memang benar, kalau Ayano tidak berhasil, dia akan benar-benar mati.
"..."
"Sepertinya pemikiranmu terlalu dangkal, manusia"
"Diamlah..", aku bergumam kesal. Azami hanya tersenyum melihatku, dan meninggalkanku sendiri, entah kemana.
Hah, sudah lumayan lama aku tidak berpikir seperti ini. Tapi aku masih penasaran dengan Haruka-san. Dimana dia pergi? Kalau sesuai dengan apa yang dikatakan Ene, Haruka-san di eksperimen oleh Kenjiro-sensei. Eksperimen itu adalah eksperimen untuk mendapatkan kekuatan mata, jadi Haruka-san akan hidup. Tapi dimana dia sekarang?
"Meguumi~", aku berbalik ke belakang, untuk melihat karakter game milik Haruka-san, Konoha.
"K-Konoha..?", dia tersenyum licik. Seingatku, warna tema milik Konoha itu putih, bukan hitam, jadi kenapa?
"Kamu benar-benar naif, Megumi-chan. Apa kamu pikir kalau kamu bisa melindungi semua orang? Membuat mereka semua senang? Pemikiranmu sama dengan perempuan itu", katanya mengejek.
"Diamlah.."
"Ayahmu bahkan berkata sendiri kalau dia—"
"Diamlah! Kamu tidak punya hak untuk membicarakan Ayano-chan seperti itu, dan jangan pernah membicarakan masa laluku dengan mudah!", aku berteriak tanpa sadar. Konoha tersenyum puas, karna berhasil membuatku marah.
"Hmm.. Benarkah begitu~?", tanya Konoha menggoda. Saat itu juga, aku sadar akan sesuatu.
"Kalau Takane-san berubah menjadi Ene, karakter game miliknya, pasti Haruka-san juga berubah menjadi Konoha. Tapi kamu bukan Haruka-san.. Siapa kamu?"
"Kamu kejam, Megumi-chan. Tentu saja ini Kokonose Haruka, kakak kelasmu itu~!", kata Konoha sambil tersenyum.
"Bukan, bukan.. Kamu bukan Haruka-san..", aku melihatnya dengan seksama. Mata yang dia punya, itu bukan mata Haruka-san. Bukan mata Haruka-san yang menunjukkan kebahagian. Mata ini menunjukkan kebencian, keserakahan..
Tanpa sadar, aku menggigil ketakutan. Siapa dia? Dia bukan Haruka-san.. Iya kan?
"Yah, kamu bisa bilang kalau aku adalah sisi gelapnya. Semua orang punya sisi gelap, bahkan kamu, Megumi-chan..", dia berjalan maju, dan memegang daguku agar aku menatap matanya.
"Are? Apa kamu takut, Megumi-chan? Ah, tentu saja kamu takut~"
"S-Siapa sebenarnya kamu?", aku bertanya dengan nada berbisik. Tapi tentu saja, Konoha yang berada tepat di depan wajahku bisa mendengarnya. Dia tersenyum, dan melepaskan tangannya. Dia berjalan ke belakangku, dan meletakkan kepalanya di bahuku.
"Kamu bisa memanggilku Kuroha. Kita akan bertemu lagi, Megumi-chan.. Lebih cepat dari yang akan kamu bayangkan, atau bahkan sangat lama. Untuk sekarang.. Selamat tidur~", bisik Konoha, dan aku bisa merasakan sesuatu berbentuk silinder besi yang dingin di belakang kepalaku—Ah, aku mengerti..
*BANG!
"Hah.. Hah..", aku bangun dan melihat sekeliling. Ini kamar yang dipakai Shintaro saat dia pingsan. Aku mengusap dahiku yang berkeringat, dan melihat jaket Shintaro yang menutupi tubuhku.
"Megu-chan? Apa kamu sudah bangun?", terdengar suara Ene, tapi aku tidak bisa menemukan ponsel. Saat aku merogoh saku jaket Shintaro, aku menemukan ponsel miliknya, dan disana, Ene melihatku dengan wajah khawatir.
"Ah.. Aku tidak apa-apa..", aku masih berusaha menyesuaikan nafasku yang terengah-engah.
"Megu-chan.. Apa yang kamu maksud dengan kuro?", saat Ene mengatakan ini, nafasku terhenti. Aku mengingat apa yang terjadi di haze.
"Megu..chan?", tanya Ene bingung. Tanganku gemetaran dan keringat dingin mengucur dari dahiku. Ene melihatku dengan panik.
"Megu-chan?! Megu-chan?!", aku tidak bisa bernafas. Mendengar kata "kuro" membuatku takut, tapi aku tidak mau menerima ini. Aku menutup telingaku dan mendekatkan kakiku ke tubuhku. Jangan—
Kita akan bertemu lagi, Megumi-chan.. Lebih cepat dari yang akan kamu bayangkan, atau bahkan sangat lama.
Mungkin ini hanya karna rasa takutku, tapi aku bisa mendengar suara Kuroha di kepalaku. Tidak.. Aku tidak mau mendengar suaranya lagi. Shintaro, Ayano-chan.. Aku bisa mendengar suara pintu dibuka, dan langkah orang banyak bisa terdengar. Suara itu masih berulang seperti kaset rusak di telingaku.
"Oi, Megumi! Megumi!", aku bisa mendengar suara Shintaro.
"Megumi-san?!", aku mendengar suara Kido yang khawatir.
Kamu benar-benar naif, Megumi-chan.
Aku bisa merasa kalau ada yang mengangkat wajahku, dan aku melihat Shintaro. Tidak, tidak, tidak.. Ini mengingatkanku dengan apa yang dilakukan Kuroha.. Aku menyingkirkan tangan Shintaro dan mundur sampai punggungku bersender di tembok.
Aku melihat ke atas, dan terlihat wajah khawatir semuanya. Gerakan tangan, arah mata, pikiran semuanya.. Aku bisa membaca semua hal disini. Ah—
"K-Kido, aku mohon j-jangan sentuh aku sekarang. Dan juga, bisakah k-kalian keluar dulu?", Kido yang sedang mengulurkan tangannya terlihat terkejut, tapi sepertinya dia sadar tentang kekuatanku. Dia mengangguk, dan keluar dari ruangan. Setelah beberapa saat, yang lainnya mengikuti Kido keluar kamar. Momo-chan menutup pintu, tapi dia mengintip sebentar dan ingin mengatakan sesuatu. Aku bisa melihat semuanya..
"Jangan khawatir, Momo-chan. A-Aku baik-baik saja..", Momo-chan terlihat ragu-ragu, tapi akhirnya dia menutup pintu, meninggalkanku sendiri di kamar. Mataku berubah menjadi ungu terang lagi, tapi masih ada sedikit warna merah di sekitarnya.
"Hah.. Bukankah aku orang yang payah? Menerima serangan panik hanya saat mendengar kata itu..", aku berkata sendiri sambil tersenyum kecil. Air mata mengalir melewati pipiku, dan aku mengelapnya dengan lengan jaketku. Aku harus menjadi kuat, demi mereka semua.
Semua anggota Mekakushi-dan keluar dari kamar, tapi itu bukan berarti mereka berhenti khawatir. Mereka semua masih berdiri di depan pintu kamar dimana Megumi berada.
"Hah.. Bukankah aku orang yang payah? Menerima serangan panik hanya saat mendengar kata itu..", mereka semua bisa mendengar apa yang dikatakan Megumi, dan Shintaro mengepalkan kedua tangannya.
"Ene, kamu ada di kamar tadi, iya kan? Apa yang kamu lakukan?", tanya Shintaro kepada Ene yang terlihat bersalah dan juga khawatir.
"Aku mendengar Megu-chan bangun, dan aku memanggilnya. Tapi saat aku bertanya apa yang dia maksud dengan kuro, tiba-tiba dia kena serangan panik seperti itu.."
"Kuro yang dia ucapkan saat tidur tadi?", tanya Shintaro, dan Ene mengangguk.
"Dia juga menyebutkan ayahnya saat dia tidur", lanjut Shintaro. Anggota Mekakushi-dan yang lain mulai mendengarkan dengan tertarik. Benar saja, sebagian besar dari mereka mengenal Megumi. Tapi setelah dipikir lagi, tidak banyak hal yang mereka ketahui tentang Megumi.
"Apa itu ada hubungannya dengan masa lalunya?", tanya Kano penasaran.
"A-Apa Megumi-san akan baik-baik saja?", tanya Momo kepada semuanya. Tidak ada yang menjawab, karna mereka tidak tau apa-apa. Mereka sadar kalau mereka tidak tau banyak tentang Megumi.
"Aku akan membuat makan malam untuk Megumi-san", Kido berjalan menuju dapur tanpa melihat semuanya, tapi Kano tau kalau Kido sedang menahan air matanya untuk jatuh, dan laki-laki berambut pirang itu mengikutinya.
Seto terdiam di tempat, dengan Mary yang melihat Seto dengan khawatir.
"Seto, apa kamu baik-baik saja?", tanya Mary. Seto terlihat sedikit kaget, tapi dia tersenyum senang seperti biasanya.
"Ya, aku baik-baik saja, Mary", ini adalah sebuah kebohongan. Sama seperti Ayano, Megumi adalah sosok kakak perempuan yang baik bagi Seto, Kano, dan Kido. Jadi wajar kalau mereka bertiga terlihat khawatir. Tapi..
"GAHH!", terdengar teriakan Kano dari dapur. Sepertinya, dia menggunakan kekuatan matanya kepada Kido lagi.
"Megumi-san..", Seto bergumam khawatir. Saat di kamar, karna khawatir, Seto menggunakan kekuatannya pada Megumi. Dan dia melihat semuanya yang Megumi pikirkan.
Ayame : Hah, selesai sudah chapter ini.. Semoga menarik bagi kalian semua! *smile*
Konoha : ... *munch, munch*
Ayame : Konoha-kun, tolong lakukan disclaimer!
Konoha : ... Kagerou Project milik Jin (Shizen no Teki-P), Ayame-san hanya punya OC dan beberapa jalan cerita.
Ayame : Terima kasih, Konoha-kun..
Konoha : Mm.. *munch, munch*
Ayame : Yah, tidak banyak yang bisa diceritakan disini, jadi sampai jumpa! *lambaikan tangan*
Konoha : Sampai bertemu *munch, munch* di chapter selanjutnya...
